Memasuki jajaran kepengurusan yang baru, Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) telah memprogramkan sejumlah kegiatan selama periode kepengurusannya. Salah satunya adalah program dari Departemen Pendidikan Himatika. Setelah pekan lalu mengadakan bursa buku, masih dalam rangkaian acara tersebut hari Kamis (18/9) kemarin mereka mengadakan acara bedah buku di ruang seminar perpustakaan pusat lantai 2.
Buku yang dibedah kali ini berjudul ARMAGEDDON (Peperangan Akhir Zaman) hasil karya Ir Wisnu Sasongko,MT yang juga hadir saat itu sebagai pembicara utama. Selain itu hadir pula sebagai pembicara, DR Ir Abdullah Shahab,MSc.
Bedah buku kali ini mampu menghipnotis pengunjung perpustakaan untuk mengikutinya. Pasalnya, judul buku yang dibedah (ARMAGEDDON), yang juga pernah menjadi judul film yang cukup sukses dikalangan masyarakat, sudah tidak asing lagi ditelinga mahasiswa. Dan tentunya hal itu cukup untuk membuat mereka tertarik untuk menyimak bedah buku tersebut. Meskipun ada perbedaan antara 'ARMAGEDDON' menurut sepengetahuan mereka dengan 'ARMAGEDDON' dalam buku yang akan dibedah itu.
Menurut penulis, Armageddon yang ada daalm film itu berkisah tentang bongkahan meteor sebesar gunung yang bergerak cepat menuju bumi. Untuk mencegah jatuhnya meteor itu, maka dikirimlah pesawat angkasa luar untuk menghancurkan meteor tersebut sehingga tidak sampai ke bumi. "Sedangkan Armageddon yang dikisahkan dalam buku ini adalah sebuah peristiwa besar di akhir zaman, yaitu perang dunia terbesar di akhir zaman yang dimulai dari Magiddo, sebuah kota di Israel. Beberapa ahli tafsir bahkan menafsirkannya sebagai awal dari peristiwa hari akhir," kata Sasongko memulai paparannya.
Acara semakin menarik ketika DR Ir Abdullah Shahab,MSc menyatakan buku ARMAGEDDON tersebut merupakan hasil riset penulis. "Sebagaimana tema bedah buku hari ini 'ARMAGEDDON (Peperangan Akhir Zaman berdasarkan Al Qur'an, Injil, Taurat dan Hadits)'. Bahwa pernyataan adanya hari akhir itu tidak hanya didalam Al Qur'an saja dan dasar pembuatan buku ini juga tidak hanya diambil dari Al Qur'an tapi juga dari kitab-kitab yang lain," ungkap Dosen Teknik Mesin ini.
"Telah diterangkan dalam Al Qur'an bahwa nantinya akan datang suatu peristiwa besar yang tak seorangpun tahu waktunya yaitu hari akhir dan dihari itu semua umat manusia dibumi ini akan mencari pertolongan. Dan menjelang hari akhir itu nabi Isa datang sebagai juru penyelamat untuk menyelamatkan orang-orang beriman dan terbiasa terjaga diwaktu malam karena Nabi Isa datang diwaktu sepertiga malam terakhir menjelang waktu Shubuh," jelas Sasongko.
Sasongko juga menambahkan, pernyataan itu tidak hanya ada dalam Al Qur'an tapi juga dalam kitab Injil. "Jika di dalam Injil diterangkan dalam sebuah surat(Matius) 'Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Apa yang kukatakan kepadamu kukatakan kepada semua orang. Berjaga-jagalah!'," ujar Sasongko.
"Untuk itu sebagai umat muslim sepatutnya kita bersyukur karena Nabi Muhammad saw telah mengajarkan kepada kita untuk terjaga ditengah melalui Sholat Lail(sholat malam)," tutur alumni S2 Arsitektur ITS ini menutup acara.(sept/bch)
Membaca karya tersebut setidaknya memberikan kita pandangan tentang dua hal. Pertama, autentisitas sejarah, sejak Islam berkembang hingga mencapai puncak kejayaan di Granada, Spanyol. Dalam konteks ini, pembaca ditarik secara subjektif. Bisa jadi ia beranggapan, sistem politik Islam yang mengantarkan pada kejayaan tersebut baik bila diterapkan sekarang. Atau, ia beranggapan bahwa Muslim harus melek politik, bila ingin kembali peroleh kejayaan seperti di masa lalu.
Apakah yang dimaksud khilafah, seperti diteriakkan para pengusung khilafah, adalah seperti yang terjadi di masa lalu? Jika iya, betapa mengerikan. Apakah khilafah itu basis perangnya memakai pedang, sehingga terealisasinya khilafah harus akhir zaman, pasca Perang Dunia 3, dan teknologi musnah?
Berbicara tentang Armageddon, memori kita diingatkan terhadap peristiwa mengerikan yang akan terjadi. Buku sudah ditulis dan film sudah ditayangkan, untuk menggambarkan tragedi tersebut. Wisnu Sasongko, seorang peneliti dari Universitas Brawijaya menulis dwilogi Armageddon. Armageddon; Peperangan Akhir Zaman (Bagian 1) dan Armageddon; Antara Petaka dan Rahmat (Bagian 2). Armageddon dalam buku ini, kata Sasangko, tak sama dengan yang di film Hollywood.
Pernyataan Sasangko itu hendak menciptakan narasi berbeda dengan yang digambarkan dalam film Armageddon, yang tayang perdana 1 Juli 1998 lalu. Film yang disutradarai Michael Bay, dan ditulis J.J. Abrams, Jonathan Hensleigh, dkk itu diproduksi Buena Vista. Harry Stemper (Bruce Willis), pemeran utama, ditugaskan untuk mengebor asteroid seukuran kota yang tengah menuju bumi, lalu meledakkannya dengan nuklir. Asteroid raksasa itu, konon, yang akan mengundang Armageddon.
Baik Armageddon sebagai jatuhnya asteroid raksasa ke bumi, atau Al-Malhamah al-Kubra sebagai perang nulir, sama-sama mengerikan sekali. Lalu kenapa hari-hari beberapa orang ramai bicara soal Perang Dunia 3, yang konon akan melibatkan nuklir, dan menyebabkan kemusnahan massal?
Lalu mari kita bicarakan apa yang terjadi pasca peristiwa mengerikan tersebut? Kembali seperti masa lalu? Mungkin kita tidak akan sanggup. Ketergantungan kita terhadap teknologi hari ini berada di titik nadir, hingga mungkin tanpa teknologi, tak akan bisa bertahan hidup. Tetapi bagaimanapun, teknologi akan sampai di titik maksimal, ujung kecanggihan. Beberapa cendekiawan menyebut, ketika teknologi mencapai segalanya, hari kiamat akan terjadi.
Kalau pun nanti teknologi akan musnah, bukan berarti khilafah wajib ditegakkan sebagai ganti sistem demokrasi, umpamanya. Kalau pun nuklir akan menjadikan kita kembali seperti masa lalu, bersenjatakan pedang, bahkan hidup primitif, apa kita pikir sanggup melewati penderitaan lantaran radiasi nuklir Perang Dunia 3? Sungguh para pengusung khilafah tidak berpikir tentang itu. Mereka melampaui empati kengerian, lantaran silau oleh keinginan menjadi superior dalam berkuasa.
Sungguhpun demikian, tidak ada yang tahu kapan akhir zaman akan tiba. Kapan kiamat akan terjadi, kapan asteroid raksasa menabrak bumi, kapan perang besar akan memusnahkan teknologi dan ekosistem bumi ini. Harusnya nafsu untuk menguasai, artinya hasrat untuk mendirikan khilafah itu belakangan.
Kita juga tidak mesti phobia khilafah, andai itu tidak digaung-gaungkan di negeri Indonesia yang plural ini. Tak perlu menunggu momen dibentuknya khilafah, apalagi menanti terjadinya Perang Dunia 3. Khilafah adalah sistem politik, ingin menguasai tidak berarti harus menanti datangnya Armageddon dan Al-Malhamah al-Kubra. Menegakkan khilafah juga bukan kewajiban teologis.
Jadi, apakah khilafah akan tegak dengan terlebih dahulu terjadi Perang Dunia 3? Jawabannya tidak. Term tentang peristiwa akhir zaman beragam, dan seringkali spekulasi belaka. Banyak intelektual membahas akhir zaman. Armageddon dan Al-Malhamah al-Kubra hanya satu di antara dua term paling terkenal tentang sebab kemusnahan teknologi, manusia, dan bumi.
Sedangkan khilafah itu murni produk dinamika politik. Bahkan hari ini pun, ia bisa terjadi. Bisa tegak. Tetapi bagaimanapun caranya, di tanah air tercinta ini, khilafah harus kita lawan. Sekali lagi, yang telah dinubuatkan akan tetap terjadi, sekalipun tanpa bantuan kita. Tidak perlu mempolitisir Perang Dunia 3 hanya karena ingin menegakkan khilafah.
Di dalam buku Al Ifadaah: Aqidah Dasar Salafiyah karya Abu Fawwaz Nasrul Mas'udi, dijelaskan bahwa Imam Mahdi akan memiliki nama yang sama seperti Nabi SAW. Dan dia kelak akan menguasai bangsa Arab. Seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits yang berbunyi,
Menurut Rachmat Morado Sugiarto dalam buku Fikih Akhir Zaman, Imam Mahdi lahir ke bumi untuk memakmurkan dan menyejahterakan umat manusia. Pada masa itu, tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan subur dan tidak ada kekeringan.
Dari Abu Sa'id al-Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda, "Akan keluar di akhir umatku seorang bernama Mahdi. Allah kirimkan kepadanya hujan. Tanah mengeluarkan tumbuhan-tumbuhannya, uang diberikan secara merata hewan ternak membanyak, umat diagungkan, ia hidup tujuh atau delapan (tahun)."
Menurut buku Armageddon Peperangan Akhir Zaman: Menurut Al-Qur'an, Hadits, Taurat, dan Injil oleh Wisnu Sasongko, tanda kemunculan Imam Mahdi dikelompokkan menjadi tiga bagian yakni, tanda sebelum kemunculan, tanda ketika kemunculan, dan tanda setelah kemunculannya.
Salah satu tanda telah dekatnya kemunculan Imam Mahdi adalah ketika Irak dan Syam (Suriah) diboikot oleh Romawi (Amerika Serikat dan Eropa). Setelah pemboikotan Irak dan Syam maka Imam Mahdi akan muncul.
Kemudian Jabir diam sejenak dan mengutip sabda Rasulullah SAW, "Pada akhir umatku akan ada seorang khalifah yang melimpahkan harta selimpah-limpahnya dan ia sama sekali tidak akan menghitung-hitungnya."
Dengan begitu, ada alasan bagi Amerika untuk mendatangkan bantuan militer kepada Israel, untuk sebuah kepentingan besar di masa depan, merealisasikan impian bagi Eretz Israel (Israel Raya), yang akan mencaplok Lebanon, Sinai, Suriah, dan Yordania.
Nabi SAW memberikan tanda-tanda yang mengisyaratkan kemunculan Imam Mahdi sudah dekat seperti yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, istri Nabi SAW yaitu adanya kematian seorang khalifah yang disusul dengan timbulnya perselisihan di Jazirah Arab.
"Akan terjadi perselisihan saat wafatnya seorang khalifah maka keluarlah seorang laki-laki penduduk Madinah melarikan diri ke Makkah... Kemudian dikirim lagi pasukan dari Syam dan dibinasakan oleh Allah di antara Makkah dan Madinah. Ketika manusia melihat hal itu maka ia didatangi oleh pemuka-pemuka negeri Syam dan Irak untuk membaiatnya. Tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki dari kaum Quraisy yang didukung oleh paman-pamannya yang gigih...." (HR Abu Dawud)
Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah, "Aku sampaikan kabar gembira kepada kalian dengan datangnya Al-Mahdi yang akan diutus (ke tengah-tengah manusia) ketika manusia sedang dilanda perselisihan dan kegoncangan-kegoncangan. Dia akan memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi dengan penganiayaan dan kezaliman. Seluruh penduduk langit dan bumi menyukainya, dan dia akan membagi-bagikan kekayaan secara tepat (merata)...." (HR Ahmad dan Tirmidzi)
795a8134c1