>Inilah Rahasia Sukses Bos-bos Jepang!
>*
>*
><http://1.bp.blogspot.com/_Pb9extyohCI/S2JYn6RdpAI/AAAAAAAACn4/S7x17T9Je-g/s1600-h/manajemen-organisasi-management-pic4.gif>
>
>Dahulu kala, orang Jepang sering dijuluki dengan “les marchands des
>transistors” (pedagang transistor) oleh De Gaulle. Tapi sekarang lain lagi
>ceritanya, “seloroh” itu tidak berlaku lagi karena kini mereka bukan hanya
>juara dunia dalam teknologi hi-fi, tetapi juga dalam teknologi
>microprocessor, mobil, bio-industri dan teknologi tinggi lain. Bukan itu
>saja, dalam sepuluh tahun terakhir produksi Jepang meningkat jauh dua kali
>lebih cepat dibandingkan Amerika Serikat.
>
>Tentu kita ingin tahu apa rahasia para pendekar bisnis Jepang ini meraih
>sukses. Berikut rahasia meraka:
>
>*Akio Morita*
>
>Adalah Akio Morita, pendiri perusahaan Sony. Seorang penggemar olahraga
>golf. Walkman lahir lewat tangan dinginnya karena dia pernah berpikir,
>“Sebaiknya ada sebuah alat kecil yang bisa mengeluarkan suara.
>
>Kini dia berumur sekitar enampuluhan tahun, berambut putih dengan mata
>hampir kuning dan berbagan kurus. Namun semangatnya seperti remaja berusia
>dua puluh lima tahun.
>
>Rumahnya terletak di daerah kedutaan di pinggir Tokyo. Rumah tersebut
>bertingkat, lengkap dengan kebun dengan sebuah kolam renang. Walaupun dia
>seorang boss Jepang yang berpikiran Barat, namun ia tetap menjalani hidup
>sederhana dan memegang teguh tradisi keluarga Jepang pada umumnya.
>
>Yang hebatnya, Akio Morita selalu tiba di kantornya tepat setiap pagi pukul
>delapan. Ia juga selalu memakai seragam yang sama dengan seragam anak
>buahnya, walaupun jas luarnya made in Inggris. Ini sekedar ingin
>menunjukkan semangat demokratis, ciri-ciri dan harga diri setiap perusahaan
>Jepang.
>
>Akio Morita mendirikan perusahaan Sony pada tahun 1947. Dia memasarkan
>transistor pertama, televisi berwarna pertama, dan tidak ketinggalan
>walkman pertamanya. Saat ini perusahaan sudah sangat maju dan mengekspor
>70% dari setiap produknya. “Tujuan utama ekspor kami adalah ke seluruh
>dunia,” katanya bersemangat. Inilah kunci majunya teknologi Jepang. Selalu
>didorong oleh semangat dengan penuh kesadaran dan rasa kebanggaan.
>
>Awalnya, orang Barat mengejek bahwa orang Jepang hanya bisa membuat sepeda
>dengan roda tak bisa berputar. Juga setiap arloji buatan Jepang tidak bisa
>dipercaya. Namun, tidak sampai dua generasi semua bualan barat itu sirna.
>sebagai buktinya, sebuah karikatur pada tahun tigapuluhan pernah
>menunjukkan gambar seorang pemburu tengah menyandang sepucuk senapan, yang
>ketika picunya ditarik maka larasnya tergambar menggembung dan muncul
>cap-nya: made in Japan (buatanJepang).
>
>Tetapi beberapa puluh tahun kemudian, tiba-tiba orang Jepang menjadi bangsa
>yang tergila-gila pada perlombaan matematika dan fisika. Ujian-ujian di
>berbagai universitas penuh dengan persaingan yang menghasilkan cikal bakal
>orang-orang berpikiran maju. Ini ditunjukkan oleh jejak kaki para direktur
>yang sukses Di Pusat Penelitian Sony dicetakkan di atas tanah, layaknya
>jejak kaki para bintang Hollywood di studio MGM.
>
>*Makoto Kikuchi*
>
>Sama halnya dengan si majikan, adalah Makoto Kikuchi, direktur baru pada
>Pusat Penelitian Sony ini berusaha bisa berbahasa Inggris, dengan maksud
>agar dapat berbicara dengan robotnya sendiri, yakni sebuah “Apple” buatan
>Amerika.
>
>“Memang, ini masih yang terbaik untuk saat ini,” ujarnya jujur. Laki-laki
>45 tahun ini sudah sangat terkenal di Jepang sebagai ilmuwan yang
>dibanggakan dari Pusat Penelitian Negara Jepang. Ia adalah ahli dalam
>bidang microprocessor dan baru saja pindah ke Sony sekitar enam tahun yang
>lalu. Motto hidupnya adalah “Research Makes The Difference”. Motto ini
>ditulis pada setiap truk-truk di perusahaannya dengan tetap dalam bahasa
>Inggris agar tetap menimbulkan kesan eksotis.
>
>Rumahnya amat kecil berbentuk bujur sangkar. Yang aneynya rumah itu terbuat
>dari kertas minyak. Di sanalah ia tinggal bersama istrinya dalam kehidupan
>yang sederhana. Menggunakan kimono dan berlutut di atas tikar Jepang, sang
>istri dengan setia menemani Makoto berbicara dengan komputernya.
>
>Ambisinya untuk beberapa tahun mendatang adalah membuat sebuah komputer
>yang bisa menguraikan bahasa percakapan orang Jepang agar setiap orang
>Jepang dapat berbicara dengan komputer. Untuk mewujudkan hal itu, Makoto
>mengundang 190 peneliti untuk bekerja di pusat penelitiannya. Hal ini wajar
>karena Sony memberikan 3,5 sampai 5% penghasilannya untuk penelitian.
>“Waktu di Amerika, saya bekerja di sebuah laboratorium juga. Namun di Sony,
>dalam waktu satu jam saja sudah cukup bagi saya untuk memperoleh sebuah
>alat yang harganya setengah juta dolar.” ujarnya semangat. Namun begitu,
>Ia tetaplah seorang Jepang tulen walalupun sudah begitu lama tinggal di
>Amerika Serikat.
>
>Di Sony, penelitian produksi harus berhubungan dengan pemasaran. dan itu
>merupakan satu keharusan yang permanen. Ini terlihat setiap Minggu pagi
>Makoto selalu sarapan bersama Akio Morita, seorang direktur Marketingnya.
>Dan ini merupakan hal yang tabu di perusahaan Amerika dimana hubungan yang
>begitu wajar dan akrab antara peneliti dan pemimpinnya.
>
>Sama dengan pemimpinnya, sang direktur marketing Morita yang kalau bermain
>golf selalu memakai kemeja dan topi Amerika ini, namun setiap berjumpa
>dengan kawan nya tetap membungkukkan badan sampai ke tanah. Meskipun di
>dalam mobilnya penuh dengan perlengkapan teknologi tinggi seperti telepon,
>televisi dan magnetoskop, namun ia tetap mengenakan seragam yang juga
>dipakai oleh 35.000 para pekerja di Sony.
>
>*Soichiro*
>
>Ada juga Soichiro, seorang kakek 78 tahun. Dia lah pendiri Honda Motor.
>Sebelum perang dunia meletus, ia pernah menjadi montir biasa di negaranya.
>Namun kini, sebagai pendiri sebuah perusahaan besar, namun ia tetap
>mengenakan seragam karyawan biasa bila sedang bekerja. Ia adalah pendiri
>sekaligus yang turut meletakkan dasar perusahaan besar itu. Sekarang ia
>membawahi 23.000 buruh pada 43 perusahaan di 28 negara yang enam
>diantaranya ada di Jepang sendiri.
>
>Ia memperlakukan anak buahnya dengan penuh penghormatan. Setiap karyawannya
>diberi kepercayaan total dan tanggung jawab pribadi atas apa yang
>dihasilkannya. Dan inilah kunci sukses perusahaan besar Jepang ini. Lain
>halnya dengan perusahaan Indonesia, yang malah berupaya agar karyawan dan
>buruhnya tetap miskin dan tidak boleh maju.
>
>Sebagai seorang pemimpin, Soichiro tidak memiliki harta pribadi, apalagi
>warisan tujuh turunan. Lihat saja, ia tinggal di sebuah rumah sederhana.
>Kegemarannya hanya melukis di atas kain sutra dan berolahraga golf. Bila
>dihitung, barangnya yang berharga hnaya sebuah helikopter dan mobil biasa
>untuk membawanya kemana-mana. Kemanakah penghasilannya itu disimpan?
>Penghasilannya tidak disimpan tapi dipakai untuk penelitian dan beasiswa
>bagi orang muda di negaranya. Lalu bagaimana dengan warisan untuk
>anak-anaknya?
>
>“Saya tidak mewariskan harta apapun untuk mereka,” ujar Soichiro. “Warisan
>yang paling berharga yang saya berikan untuk mereka adalah dengan
>membiarkan mereka untuk sanggup berusaha sendiri,” ujarnya lagi.
>
>*Inamori *
>
>Kyoto Ceramics adalah salah satu pabrik pembuat microchips (elemen-elemen
>kecil komputer) yang paling kuat di dunia. Omset Kyoto Ceramics 400 juta
>dolar dan menghasilkan keuntungan luar biasa, 12% setelah dipotong pajak.
>
>Ada tujuh buah perusahaan di Amerika Serikat dan tiga di Jepang. Inamori
>sang pemimpin, seperti juga Soichiro Honda dan Kaku pemimpin Canon,
>menganggap dirinya sebagai karyawan biasa. Selisih gaji direktur dan buruh
>baru di Jepang lebih kecil bila dibandingkan dengan di Eropa dan Amerika
>Serikat. Cara hidup pemimpin Jepang sangat sederhana dibanding dengan
>rekan-rekan di Barat. Rasanya mereka memandang rendah kemewahan. Suatu
>barang harus ada fungsinya. Bagaimana mereka bisa memegang prinsip sebaik
>itu?
>
>Mari kita menengok ke Gamo, salah satu pabrik keramik di Kyoto. Kurang
>lebih 50 kilometer dari Kyoto. Di sini pada pukul delapan pagi seluruh
>karyawan Gamo berkumpul dalam ruang-ruang besar. Dari tiap ruang, di atas
>sebuah panggung seorang laki-laki meneriakkan: berdiri, bersiap, luruskan
>kaki dan istirahat. Ratusan laki-laki dan perempuan dalam seragam biru
>berdiri siap. Laki-laki lalu melaporkan hasil pekerjaan bulan lalu dan
>menambahkan delapan pesan produksi, tentang mutu, penurunan ongkos dan
>sebagainya.
>
>Selesai laporan, dia memanggil lima orang maju ke depan. Mereka diberi
>hadiah, karena telah menyumbangkan gagasan yang paling baik, pada bulan
>sebelumnya. Di semua perusahaan Jepang, para insinyur dan buruh diundang
>menyumbangkan gagasan untuk lebih memajukan produktivitas, keamanan dan
>semua bidang yang berkaitan dengan kehidupan perusahaan.
>
>Di Canon, setahun yang lalu, masuk sekitar 146.242 gagasan yang ternyata
>dapat menghemat lebih dari tujuh juta yen! Sebulan sekali mereka berkumpul,
>memberi laporan pekerjaan selama ini, bertukar pengalaman dan mutu
>pekerjaan mereka. Hadiah bagi gagasan mereka yang terpilih antara lain
>medali, jam tangan, tiket kereta atau pesawat terbang. Yang kurang
>berinisiatif tak akan mendapat apa-apa. Tak pernah terjadi seseorang
>mendapat sanksi negatif.
>
>Setiap pekerja memiliki saham dan dividen dari perusahaan. Benar-benar
>merupakan perwujudan demokrasi yang didasarkan pada penghargaan hasil kerja
>dan atas hierarkinya. Di Jepang, persaingan ditumbuhkan sejak kanak-kanak.
>Keluaran sekolah bereputasi tinggi lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang
>baik.
>
>Di tiap perusahaan ada serikat buruh, yang setiap tahunnya mengorganisir
>pemogokan untuk memperoleh kenaikan gaji yang disebut Shunto. Tetapi Shunto
>ini cuma suatu upacara tradisi, bukan pemogokan seperti layaknya di Barat.
>
>*Robot membuat robot*
>
>Di kaki Gunung Fuji ada robot membuat robot. Robot-robot itu bekerja dengan
>diam-diam. Beberapa manusia membaca lembaran kertas besar yang keluar dari
>terminal robot.
>
>Di Honda Motor Cie, di sebuah dusun dekat Tokyo, kita bisa melihat mobil
>yang di-assembling oleh robot, yang mematri 160 kali setiap detiknya.
>Grup-grup yang terdiri dari lima atau enam buruh memeriksa hasil kerja
>robot. Setiap buruh diizinkan menghentikan pekerjaan dengan cara menekan
>tombol merah, bila ada yang kurang beres.
>
>Hasilnya: pada produksi akhir hanya ada 0,1% yang apkir, dibanding dengan
>20% di Eropa. Di Sony, semua karyawannya teliti. Para majikan di Eropa
>memimpikan pabrik mereka bisa menyamai Jepang, dan mendambakan buruh-buruh
>yang serupa pula.
>
>Di perusahaan Canon, Tuan Kaku yang adalah presiden direkturnya itu dan
>para buruhnya, saling menundukkan kepala mereka sama dalamnya. Percakapan
>antara mereka bisa membuat heran telinga-telinga Perancis.
>
>Tuan Kaku menjelaskan secara mendetil target keuangan dan tehnik yang ingin
>dicapai perusahaan. Kepala serikat buruh Canon meyakinkan majikannya,
>keberhasilan Canon merupakan satu kepuasan bagi seluruh karyawan dan mereka
>ingin bekerja sama sepenuhnya bersama direksi.
>
>Majikan-majikan Eropa sangat kagum melihat modernisasi Jepang. Kagum bukan
>hanya karena melihat sindikat-sindikat buruh dapat bekerja sama begitu baik
>dangan majikannya, tetapi juga melihat para majikan yang tak pernah memecat
>buruhnya itu.
>
>Mereka melihat suatu industri di mana otomatisasi tidak menciptakan
>pengangguran, dan setiap buruh mau dan dapat memahami apa pun yang mereka
>lakukan. Mereka juga mendapat penjelasan mengenai jalannya perusahaan. Yang
>nampak di depan mereka adalah sebuah dunia, di mana disiplin yang mirip
>disiplin militer itu dapat berjalan berdampingan dengan rasa hormat pada
>setiap individu. Inilah rahasia kemajuan Jepang.
>
>
>http://www.lintasberita.com/Dunia/Berita-Dunia/inilah-rahasia-sukses-bos-bos-jepang
>
>
>*Best Regard's*
>
>
>*Muhammad Ricky
>081263043378*
>
>--
>You received this message because you are subscribed to the Google Groups "SATURASAA" group.
>To post to this group, send email to satu...@googlegroups.com
>To unsubscribe from this group, send email to saturasaa-...@googlegroups.com
>untuk lebih detail silahkan buka http://groups.google.com/group/saturasaa?hl=en
>bergabunglah di facebook saturasaa milista http://www.facebook.com/group.php?gid=51170604238