Menit ke-46:00 Isi kitab ini adalah pembahasan-pembahasan yang penting dan bermancam-macam, untuk mengajak kaum muslimin kepada aqidah tauhid yang murni serta menjauhkan diri dari perbuatan syirik yang fenomena ini telah tersebar di mayoritas negeri-negeri kaum muslimin. Padahal perbuatan syirik ini adalah sebab binasanya umat-umat yang terdahulu. Sekaligus ini merupakan sebab keburukan yang menimpa dunia saat ini. Terutama negeri-ngeri kaum muslimin dengan berbagai macam hal yang menimpa mereka, baik itu musibah, penderitaan-penderitaan, peperangan, fitnah dan berbagai macam hal yang lainnya.
Minhajul Abidin (secara harfiah berarti Pedoman Dasar bagi para Ahli Ibadah) adalah kitab tasawuf karangan Imam Al-Ghazali. Kitab ini ditulis menjelang wafatnya Imam Al-Ghazali. Dengan kata lain, ditulis setelah Kitab Ihya Ulumuddin.
Dalam kitab ini Imam Al-Ghazali menggunakan istilah 'aqobah yang artinya jalan mendaki yang sukar ditempuh.[1] Menurut Imam Al-Ghazali ada tujuh 'aqobah yang dapat menghambat kualitas ibadah serta faktor-faktor yang menghambat komunikasi personal seorang hamba dengan Tuhan. Dalam teks indonesia 'abobah diterjemahkan sebagai tanjakan. Namun, ada juga yang menafsirkan kata 'aqobah dalam kitab ini sebagai metode atau juga rintangan. Tujuh tanjakan tersebut harus ditempuh oleh setiap hamba untuk meningkatkan kualitas ibadahnya kepada Allah.
"ilmu itu ibarat permata dan lebih utama dari ibadah. Namun, kita tidak boleh meninggalkan ibadah dengan disertai ilmu. Misalnya sebuah pohon, ilmu ibarat pohonnya dan ibadah buahnya. Maka, jika kita beribadah tanpa dibekali ilmu, ilmu tersebut akan lenyap bagaikan debu ditiup angin"(Halaman 18.)
c80f0f1006