Free Download Video Pementasan Teater Koma 1

0 views
Skip to first unread message

Gaetan Boren

unread,
Aug 19, 2024, 12:53:42 AM8/19/24
to sahrocalka

Teater Koma merupakan kelompok seni teater asal Jakarta, berdiri pada l 1977, yang punya reputasi cukup bagus di jagad kesenian di Indonesia. Sebagai kelompok teater yang sudah cukup tua, kehadiran Teater Koma dimaksudkan dapat menaikkan nilai FKY menuju skala nasional sekaligus membuka peluang internasional di masa mendatang.

" Terimakasih atas partisipasi Teater Koma yang jauh-jauh datang ke DIY ikut menyemarakan FKY 2023. Setelah 34 tahun hingga saat ini, FKY telah melahirkan seniman-seniman unggulan, komunitas-komunitas progresif dan festival-festival baru yang menjadikan kehidupan presentasi capaian kebudayaan DIY yang bermetamorfosis secara bertahap," ujar Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Lakshmi Pratiwi.

free download video pementasan teater koma 1


DOWNLOAD https://mciun.com/2A36Xt



Dian menyampaikan pihaknya bersama Tim Steering Committe memiliki gambaran merebranding FKY menjadi hilir dari berbagai kerja budaya di DIY. Dengan mengusung tema Ketahanan Pangan yang dikemas dalam tajuk Kembul Mumbul, lahir banyak program yang menangkap aktivitas aktivitas pangan di masyarakat. Salah satunya pementasan Teater Koma dengan lakon Bisul Semar yang seirama dengan giat FKY akan menarasikan pada kita suatu fenomena krisis kesadaran pangan berwujud pertunjukan teater.

" Suatu kehormatan besar bagi kami dan kesempatan hari ini merupakan suatu peristiwa yang istimewa, seistimewa Yogyakarta. Dengan menyaksikan sajian Teater Koma, kita akaan bersama-sana turut belajar dari hasil pertunjukan sosok sosok maestro tentang pembacaan keadaan sosial melalui cermin karya seni," tandasnya.

Teater Koma tetap bangkit dan melanjutkan dedikasinya pada seni pertunjukan yang merupakan adat kebudayaan. Bukan hanya sekedar bentuk tetapi spirit yang akan diperlukan sebagai teladan dan cambuk semangat bagi diri kedepan.Lebih jauh, pihaknya berharap momen ini mampu menjadi jembatan pertunjukan dan komitmen kolaborasi serta sinergi kerja budaya baik lintas sektor maupun antar masyarakat.

"Tidak lupa kami sampaikan terimakasih kepada tim pelaksana dan steering committee yang dikoordinatori Butet Kartaredjasa yang telah memberikan dedikasi dan kreativitasnya sehingga peristiwa ini dapat terjadi. Dengan ini kami sampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya, teriring harapan semoga FKY senantiasa berdampak baik, terus mengaktivasi seni budaya yang ada di masyarakat, turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjadi hilir kerja budaya yang berkarakter masyarakat DIY," ungkap Dian

Setelah diperiksa dengan seksama, dokter kemudian memberikan diagnosis yang mengejutkan. Ternyata apa yang disebut bisul oleh Semar sebenarnya tidak ada, Dokter menganggap Semar hanya mencari sensasi dan kegaduhan. Mendengar apa yang dikatakan dokter, Semar dan keluarga tentu tak terima.

Semua program pertunjukan FKY berlangsung dari 29 September hingga 13 Oktober 2023. Beberapa sesi pertunjukan bertempat di lokasi yang berbeda sesuai venue acara, Gedung Kesenian Wates, Kompleks Makam Astana Girigondo, hingga Taman Budaya Kulonprogo dan TBY. (Fn/Im)

Awalnya, Agus Noor menceritakan lakon Opera Kecoa yang disutradarai Nano Riantiarno pada 1985 membekas dalam ingatannya. Lakon yang mendapat respons positif dari penonton dan media itu sukses memunculkan 'basis penonton' sampai sekarang.

"N. Riantiarno dan Teater Koma, meretas jalan sepi pentas-pentas teater, dan mampu meyakinkan publik untuk "kembali datang" ke gedung pertunjukan. Peristiwa teater adalah katalis sekaligus katarsis sosial, ruang yang memang dibutuhkan dan tak bisa dilepaskan dari masyarakat penonton. Tata kelola yang baik, membuat pementasan teater menarik dinikmati. Tata kelola yang baik itu pula yang membuat Teater Koma terus produktif, dan terus mampu memikat penonton," tulis Agus Noor seperti dilihat detikcom, Sabtu (21/1/2023).

Ketika Nano Riantiarno sakit awal Desember lalu, Agus Noor sudah terpikir ingin menggarap lakon yang terinspirasi Opera Kecoa. Sebuah naskah berjudul Julini Tak Pernah Mati merupakan hasil elaborasinya atas naskah Opera Kecoa.

Agus Noor pun menyampaikan ide tersebut kepada Butet Kartaredjasa dan sempat diizinkan kepada Nano Riantiarno. Gayung bersambut, ketika menjenguk Nano di RS Kanker Dharmais, Ratna Riantiarno mengiyakannya.

"Bahkan ia bilang, "Kalau kamu mau ajak anak anak Koma, silakan lho ya..." Lakon "Julini Tak Pernah Mati", rencana untuk pementasan Indonesia Kita bulan Maret, yang juga merupakan bulan ulang tahun Teater Koma," ungkap Agus Noor.

Dalam proses kreatifnya, Teater Koma berupaya mendekatkan diri dengan masyarakat. Ide-ide yang tampak sepele diwujudkan dengan dasar pijakan yang kuat. Teaternya adalah gabungan dari teater masa lalu dan berbagai pemikiran masa kini. Mereka juga percaya bahwa hasil pementasan yang baik memerlukan proses yang panjang, sehingga tak perlu tergesa-gesa.

Pertunjukan Teater Koma selalu dinanti penonton setianya, bahkan kini telah mengalami regenerasi. Berdasarkan survei, penonton Teater Koma yang setia menonton sejak 1977 hingga 2010 mencapai 50% dari seluruh jumlah penonton. Tak hanya penonton, mereka juga meregenerasi ke segala bidang, seperti aktor, dramaturgi, sutradara, kritikus, pemikir, penulis, pekerja panggung, manajemen pengelolaan, dan sebagainya.

Sobat Wisata jangan sampai tidak tahu dengan lima grup teater terbaik Tanah Air di bawah ini. Antara lain lewat kekaryaan, lama waktu berdiri, ketokohan, intensitas, serta kreativitasnya. Nah, mari kita mengenal grup-grup teater legendaris Indonesia seperti berikut ini: 1. Bengkel Teater Rendra Bengkel Teater Rendra sempat dua kali "berdiri", yakni di Yogyakarta pada tahun 1961 dan Depok 1986. Sebagai seorang tokoh teater dan sastra yang disegani serta dihormati di Indonesia, WS Rendra menjadi barometer pertunjukan teater modern di Indonesia. Itulah mengapa semua pertunjukan teater oleh grupnya juga ikut menjadi barometer pertunjukan teater modern. 2. Teater Populer Teguh Karya mendirikan grup Teater Populer dengan anggota antara lain Nano Riantiarno, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, El Malik, Hengki Sulaiman dan beberapa nama beken lainnya. Ketika Teguh Karya meninggal dunia, anggota Teater Populer hijrah ke industri film, sedangkan Nano Riantiarno mendirikan Teater Koma. Namun, beberapa waktu terakhir, sebagaimana wasiat Teguh Karya sebelum meninggal, Slamet Rahardjo menghidupkan kembali grup teater legendaris Indonesia ini. 3. Teater Koma Nama grup ini disebut-sebut sebagai grup teater paling produktif di Indonesia. Baik di atas panggung maupun di layar kaca. Pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno menjadi salah satu seniman teater, sutradara, aktor serta penulis naskah yang dihormati di Indonesia. Grup ini membawakan banyak naskah buatan sang pendiri. Istri Nano, Ratna Riantiarno juga dikenal sebagai tokoh teater wanita yang dihormati di Indonesia. 4. Teater Kecil Bicara tentang penulis naskah produktif asal Indonesia, maka nama Arifin C. Noer harus disebut. Ada banyak naskah dramanya yang begitu fenomenal bahkan sulit untuk dipentaskan oleh grup teater amatir. Arifin C. Noer mendirikan grup teater bernama Teater Kecil dan kerap menggelar pementasan yang mendapatkan penilaian positif dari para kritikus. 5. Teater Mandiri Siapa yang tidak kenal dengan Putu Wijaya? Seniman asal Bali ini merupakan mantan anggota Bengkel Teater Rendra yang kemudian mendirikan serta memimpin Teater Mandiri. Naskah-naskah yang dikarang Putu Wijaya juga sedemikian kuat sehingga menjadikan pementasan Teater Mandiri semakin banyak penontonnya serta dikagumi. Dari 5 grup teater legendaris di atas, pertunjukkan dari grup teater yang mana saja pernah Sobat Wisata nikmati? Foto: Shutterstock/Pratanda N Respati

Awalnya semua berjalan lancar. Kaisar Li Si Bin sedang melontarkan dialognya dan, seharusnya, musik akan masuk mengiringi sesaat kemudian. Para musisi, termasuk salah satunya Fero Aldiansya Stefanus (26), segera bersiap diri. Tiba-tiba kondisi berubah gelap, pekat. Hening sesaat menyelimuti sebelum seluruh penonton menyadari bahwa listrik gedung pertunjukan mati. Fero panik luar biasa.

Saat itu adalah malam ke-24 pentas Sie Jin Kwie di Negeri Sihir yang dibawakan Teater Koma di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sepanjang Maret 2012. Sudah 23 malam terlewati tanpa kendala berarti, maka wajar bila para pemain dan musisi kaget dengan apa yang terjadi. Berkeringat dingin, mereka tak tahu harus berbuat apa.

Untung saja beberapa penonton berinisiatif untuk memberikan sedikit penerangan lewat cahaya dari telepon genggamnya. Li Si Bin pun melanjutkan kembali dialognya. Sementara para musisi langsung berdiskusi dengan suara berbisik soal apa yang harus dilakukan untuk mengakali situasi.

Untungnya, sang kaisar berhasil mencairkan suasana dengan beberapa improvisasi dialognya. Jatah bicaranya pun jadi molor hingga kira-kira 15 menit. Di tengah dialog, lampu sontak menyala kembali. Rasa lega langsung menyergap Fero dan kawan-kawan.

Itulah perbedaan mendasar musisi teater dengan musisi lainnya. Mereka terikat dengan jalan cerita dan harus bisa masuk di saat yang tepat, entah untuk memberi ilustrasi atau menggarisbawahi sebuah adegan.

Selain itu, musik yang ada dalam pementasan teater bisa berbentuk dialog yang dinyanyikan. Maksudnya, para musisi berperan sebagai pengiring dialog yang dilontarkan dengan nada oleh pemain di atas panggung.

Fero sendiri telah bergabung dengan Teater Koma sejak pertengahan 2006. Kebetulan, saat itu Teater Koma membutuhkan seorang pemain trompet untuk bermain dalam pentas Kunjungan Cinta di awal 2007. Beberapa anggota teater tersebut pernah melatih sekolah Fero, Kolese Kanisius, untuk persiapan sebuah drama musikal sehingga telah mengetahui kemampuan musiknya.

Alhasil, Fero kecanduan bermain sebagai musisi teater hingga saat ini. Bahkan, pada November 2010 ia mendapat kepercayaan untuk pertama kalinya sebagai music director pentas Rumah Pasir di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta.

Menurut Fero, secara umum proses produksi musik teater berlangsung selama kurang lebih enam bulan lamanya. Sebelum mulai mencipta lagu, seluruh tim produksi, termasuk musisi, diminta untuk mempelajari naskah yang akan dibawakan dalam pentas. Kemudian, masing-masing koordinator divisi akan mencari referensi dan mendiskusikan konsep besar pementasan selama satu bulan.

b37509886e
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages