Lisa, dalam cerita agak panjang...
Rencana 1 Mei itu dirancang sebagai semacam kick off program darurat SS. Darurat, karena disiapkan dengan cepat dan dieksekusi dengan cepat juga, mendahului program2 SS lain yang sudah direncanakan pengurus.
Pemicunya film Anak Sabiran. Setelah ditayangkan beberapa kali, film itu membangkitkan emosi hampir semua penonton. Ada yang sedih dan cuma bisa nangis seperti Bu Nani Wijaya. Tapi lebih banyak yang marah melihat kondisi SI. Deddy Mizwar (DM) di depan wartawan bilang, "Film horor paling mengerikan yang pernah saya tonton. Pembiaran terhadap itu adalah kejahatan."
Usai acara Akademi Film indonesia di Grand Kemang kami berkumpul dan membicarakan soal itu. Ada Mas Kris, saya, DM, Zairin, Didi Petet, Tino, Abduh, Hafiz, Fuad, dan Yuki. Alex dan Agus menyusul, tapi mereka sudah paham isi pembicaraan karena sebelumnya sudah bebeberapa kali kami bahas. Sebelumnya saya juga sudah membahasnya dengan DM dan Zairin. Jadi malam itu cuma menyambungkan dua obrolan terpisah itu.
Intinya, SI harus secepatnya diselamatkan. Mereka yang tahu bahwa semua keadaan ini berpangkal dari keberengsekan Yayasan paham artinya: SI harus direbut dari tangan yayasan. Tapi semua juga tahu hal itu tak mungkin dilakukan secara legal, karena dalam UU baru 2009 yayasan sudah menjadi badan hukum privat dan tertutup seperti PT. Orang2 yang tadinya duduk di yayasan mewakili organisasi kini sudah tidak begitu. Bahkan pemprov DKI tidak punya perwakilan lagi di dalam yayasan.
Jadi malam itu semua sepakat cuma tersedia dua pilihan: cara baik-baik atau pakai banting-bantingan asbak (kasar). Semua setuju kita mulai dengan cara baik2 dulu. Dan film Hafiz akan kita gunakan sebagai tool buat membangun dan memelihara momentum.
Rencananya 1 Mei akan dibuat pemutaran Anak Sabiran dan diskusi soal nasib sinematek. Kita akan undang semua pejabat, akademisi, public figure dll yang bersangkut paut dan concern dengan film dan pengarsipan. Tentu juga media. Tujuannya memprovokasi mereka supaya marah dan menuntut SI dilepas dari yayasan. Agus juga bakal menyiapkan petisi di
change.org.
Setelah itu bakal dilanjutkan ngamen keliling pemutaran Anak Sabiran dan diskusi provokatif itu di kelompok2 masyarakat, terutama yang aktif di media sosial. Tujuannya buat mengamplifikasi kemarahan dan tuntutan itu.
Target dari penggalanggan tekanan publik itu adalah memaksa yayasan mau melepaskan SI menjadi lembaga independen. Nanti akan dicarikan cara dan bentuk agar SI bisa berada di bawah pemerintah (provinsi atau pusat) sehingga bisa rutin dapat anggaran APBD atau APBN.
Sebelum 1 Mei kita akan ketemu dulu dengan kepala SI baru dan Jokowi buat mengajak mereka mendukung dan bergabung dengan gerakan kita. Pertemuan dengan Adi Surya Abdi akan dilakukan Jumat depan. Jokowi belum dapat waktu.
Mungkin sudah jadi lebih jelas? :)
Salam,
Totot