Kemuliaan wanita, antara pandangan kaum feminisme dan Islam berbeda. Kedudukan wanita dan pria dalam Islam sama, tetapi keduanya tetap beda
Feminisme justru melahirkan kerusakan dan kebodohan. Lalu, mengapa justru dipropagandakan? Bagaimana Islam memuliakan wanita?
Permasalahan kaum wanita (bahkan permasalahan seluruh manusia) hanya bisa dipecahkan dengan sebuah aturan kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia. Dan bukan buatan manusia, melainkan buatan Sang Pencipta yang telah menciptakan manusia, alam, dan kehidupan ini. Aturan ini adalah Islam.
Peran Pria-Wanita
Menurut Islam, wanita mempunyai kedudukan yang sama dengan pria, yaitu sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di hadapan Allah, yang membedakan manusia satu dengan yang lain adalah ketaqwaannya.
Sekecil apapun kebaikan yang dilakukan oleh wanita atau pria, akan mendapat pahala yang sama. Demikian juga dengan dosa. Oleh karena itu, baik pria atau wanita bebas berlomba-lomba dalam kebaikan. Mereka memiliki tanggung jawab yang sama dalam menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran.
Hanya saja, pada tataran praktis selanjutnya, Islam membedakan peran wanita dengan pria berkaitan dengan sifat kodrati masing-masing. Salah satunya adalah wanita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, sedang pria sebagai pemimpin dan pelindung keluarga.
Peran sebagai ibu dijalankan sejak wanita hamil, melahirkan, menyusui, hingga masa pengasuhan dan pendidikan anak. Ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Bagaimana kepribadian anak yang kelak terbentuk ketika dewasa, itulah hasil pendidikan ibu. Bahkan ibulah yang menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada pihak lain, karena sang ibu yang memilih pihak tersebut.
Peran sebagai pengatur rumah tangga dijalankan sejak wanita menikah. Sebagai pengatur di sini tidak sekadar mengatur keadaan fisik rumah tangganya, tetapi lebih besar lagi, yaitu mengatur agar siapapun dan aktivitas apapun yang ada dalam rumah tangganya senantiasa berjalan di atas jalan ketaqwaan.
Ringankah tanggung jawab itu? Tidak, tugas ini sangat berat. Karenanya Allah membebankan tugas kepemimpinan, pencarian nafkah, dan perlindungan kepada pria. Dari sini terlihat, pembedaan peran wanita dan pria dalam keluarga tidak bisa dianggap sebagai bentuk penindasan atas kaum wanita sebagaimana anggapan kaum feminis. Jika ada anggapan seperti itu, maka laki-laki pun bisa protes, “Kenapa saya harus memberi nafkah? Saya yang capek kerja, berarti apa yang saya dapat adalah milik saya dan saya bebas menggunakannya sesuai keinginan saya.”
Apabila ini terjadi, maka hancurlah keluarga. Jangan heran, di negara-negara yang kaum wanitanya telah mengadopsi ide-ide feminisme, akan dijumpai banyak pasangan pria-wanita tanpa ikatan pernikahan alias “kumpul kebo”.
Dengan “kumpul kebo”, baik pria atau wanita tidak terikat oleh ikatan apapun. Jika masih saling suka berkumpul, jika sudah bosan tinggal berpisah, layaknya (maaf) binatang. Jika ternyata dari hubungan itu terjadi kehamilan yang tidak diinginkan, maka aborsi akan dipilih sebagai solusi (ini bahkan tidak terjadi pada binatang).
Untuk itu, kaum feminis sekarang juga sedang gencar menuntut adanya Undang-undang Kesehatan Reproduksi Wanita yang salah satu poinnya menuntut legalisasi aborsi.
Jalan Islam
Islam sebagai “aturan main” kehidupan dari Allah bagi manusia telah memberi aturan rinci berkenaan dengan peran dan fungsi pria dan wanita dalam menjalani kehidupan, yang memang adakalanya sama dan adakalanya berbeda. Hanya saja, persamaan dan perbedaan ini tidak bisa dipandang sebagai adanya kesetaraan atau ketidaksetaraan gender, melainkan semata-mata merupakan pembagian tugas yang sama-sama penting dalam upaya mewujudkan tujuan tertinggi kehidupan masyarakat, yaitu kebahagiaan hakiki di bawah keridhaan Allah.
Pengkhususan hukum Islam bagi pria dan wanita tidak bermakna adanya penghinaan atau dominasi salah satu pihak oleh pihak yang lain. Baik pria atau wanita mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih kemuliaan, yaitu dengan jalan taqwa kepada Allah semata.
Allah berfirman;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (Al-Hujuraat: 13)
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيراً وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan Muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)
Ini berbeda dengan pandangan kaum feminis. Mereka menganggap bahwa kemuliaan wanita atau pria ditentukan oleh kesetaraan hak dan kewajiban, yang berarti tolok ukurnya adalah kuantitas aktivitas, bukan kualitas. Sehingga seorang wanita yang hanya berperan sebagai ibu rumah tangga dipandang kurang mulia dibandingkan dengan yang merangkap bekerja di luar rumah, tanpa kemudian membandingkan kualitas pelaksanaan masing-masing aktivitas.
Itu tidak berarti Islam melarang Muslimah beraktivitas di luar rumah, tetapi mengaturnya agar kehormatan wanita tetap terjaga. Ada bidang-bidang tertentu yang justru wajib dipegang oleh Muslimah, misalnya dokter spesialis kandungan dan kebidanan, perawat, bidan, atau guru.
Ide feminisme merupakan salah satu alat kontrol neo-imperialisme negara-negara kapitalis sekuler. Sehingga walaupun rusak, ide ini tetap dipropagandakan dengan “bungkusan-bungkusan indah”, misalnya dengan jargon “memperjuangkan hak asasi perempuan dan ingin mengembalikan perempuan pada kursi yang mulia, memerdekakan perempuan dari ketertindasan dan pengebirian potensi”, dan semacamnya.
Bahkan, untuk menggoda para Muslimah, saat ini muncul feminis-feminis beragama Islam. Dalam propagandanya, mereka sering memanfaatkan kekuatan dalil Al-Qur`an dan hadits-hadits untuk menarik simpati. Mereka berusaha membenarkan ide-ide feminis dengan dalil-dalil yang tampaknya syar’i, tetapi sebenarnya mereka tidak benar-benar menjadikan dalil-dalil sebagai dasar ide feminis. Mereka sekadar mencari-cari dalil untuk membenarkan asumsi-asumsi feminisme dan kesetaraan gender.
Ide-ide feminisme adalah racun-racun yang berbahaya dan mematikan. Memang benar, wanita harus ditempatkan pada kursi yang mulia. Dan agar kursi kemuliaan yang diraih adalah kemuliaan hakiki, maka cara yang digunakan untuk meraihnya harus benar. Bukan cara-cara batil yang pada akhirnya hanya akan merusak wanita. Kerusakan wanita akan menyebabkan kerusakan generasi selanjutnya.
Sekali lagi, satu-satunya jalan yang benar untuk meraih kemuliaan, baik untuk wanita atau pria, adalah Islam. Lembaran-lembaran sejarah menjadi bukti nyata keberhasilan Islam mengangkat manusia dari kebodohan kepada kursi kemuliaan dan kebahagiaan hakiki. Wallahu a’lam.
FASE PERTAMA DALAM KEHIDUPAN RA KARTINI
Kebanyakan orang yang menjadikan Kartini sebagai ikon perjuangan perempuan Indonesia, tak melihat sisi lain dari pemikirannya yang sangat berbau Theosofi dan kebatinan. Padahal, banyak tokoh wanita lain yang hidup semasa dengannya, yang berjuang secara nyata dalam dunia pendidikan, bukan dalam wacana surat menyurat seperti yang dilakukan Kartini.
Tanggal 21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Hampir semua perempuan di
Indonesia, termasuk kaum muslimah, yang ikut-ikutan memperingati hari tersebut
tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya yang jelas. Siapa sesungguhnya
Kartini? Siapa orang-orang yang mempengaruhinya? Bagaimana corak pemikirannya?Peringatan Hari Kartini sering diikuti beragam
acara yang mengedepankan emansipasi perempuan, kesetaraan gender, perjuangan
feminisme, dan lain-lain. Kartini, dianggap sebagai ikon bagi perjuangan perempuan dalam persoalan tersebut.
Kartini sering
disebut sebagai ikon pendobrak bagi kemajuan perempuan Indonesia dan
diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 108 tahun 1964. Kartini lahir di desa
Mayong, sebelah barat Kota Kudus, Kabupaten Jepara. Sebagai anak seorang
bupati, Kartini hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Saat kecil, Kartini
dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa, Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah ini,
Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa. Sebagai keluarga priyayi Jawa,
kultur mistis dan kebatinan begitu melekat di lingkungan tempat tinggalnya.
Namun bagi Kartini, ikatan adat istiadat yang telah berurat akar dalam itu, dianggap mengekangnya sebagai perempuan.
Setelah tamat dari sekolah ELS Kartini memasuki masa pingitan.
Sementara itu, Kartini merasakan betul betapa
haknya mendapatkan pendidikan secara utuh dibatasi. Di luar, ia melihat
pendidikan Barat-Eropa begitu maju. Kartini banyak bergaul dan melakukan
korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H
Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan
oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah
seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi. …Kartini banyak bergaul dan melakukan
korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi yang ditugaskan oleh
Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini… Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang
berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad
Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F Holle
(Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang juga menjabat sebagai Penasihat
Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering
dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita
Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam. Selain
sebagaipejuang feminisme, Estella juga aktif sebagai anggota Social
Democratische Arbeiders Partij (SDAP). Kartini berkorespondensi dengan Stella
sejak 25 Mei 1899. Dengan perantara iklan yang di tempatkan dalam sebuah
majalah di Belanda, Kartini berkenalan dengan Stella. Kemudian melalui surat
menyurat, Stella memperkenalkan Kartini dengan berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan
wanita dan sosialisme. Dalam sebuah suratnya kepada Ny Nellie Van Koll pada 28
Juni 1902, Stella mengakui sebagai seorang Yahudi dan mengatakan antara dirinya
dan Kartini mempunyai kesamaan pemikiran tentang Tuhan. Stella mengatakan,”Kartini dilahirkan sebagai
seorang Muslim, dan saya dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Meskipun demikian,
kami mempunyai pikiran yang sama tentang Tuhan. ” Dr Th Sumarna dalam bukunya
”Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini” menyatakan ada surat-surat Kartini yang tak diterbitkan
oleh Ny. Abendanon Mandri, terutama surat-surat yang berkaitan dengan
pengalaman batin Kartini dalam dunia okultisme (kebatinan dan mistis). Entah
dengan alasan apa, surat-surat tersebut tak diterbitkan. Ny Abendanon hanya
menerbitkan kumpulan surat Kartini yang diberi
judul ”Door Duisternis tot Licht" (Habis Gelap Terbitlah Terang).
Keterangan mengenai kepercayaan Kartini terhadap
okultisme hanya didapat dari surat-suratnya yang ditujukan kepada Stella dan
keluarga Van Kol. Seperti diketahui, okultisme banyak diajarkan oleh jaringan
Freemasonry dan Theosofi, sebagai bagian dari ritual perkumpulan mereka.
Nama-nama lain yang menjadi teman berkorespondensi Kartini adalah Tuan H. H Van
Kol, Ny Nellie Van Kol, Ny M. C. E Ovink
Soer, E. C Abendanon (anak J. H Abendanon), dan Dr N Adriani (orang Jerman yang
diduga kuat sebagai evangelis di Sulawesi Utara).
Kepada Kartini, Ny Van Kol banyak mengajarkan tentang
Bibel, sedangkan kepada Dr N Adriani, Kartini banyak mengeritik soal zending
Kristen, meskipun dalam pandangan Kartini semua agama sama saja. Apakah korespondensi Kartini
dengan para keturunan Yahudi penganut humanisme, yang juga diduga kuat sebagai
aktivis jaringan Theosofi-Freemasonry, berperang penting dalam memengaruhi
pemikiran Kartini? Ridwan Saidi dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia
menyebutkan, sebagai orang yang
berasal dari keturunan priayi atau elit Jawa dan mempunyai bakat yang besar
dalam pendidikan, maka Kartini menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok
yang juga banyak digerakkan oleh orang-orang Belanda saat itu. …maka Kartini
menjadi bidikan kelompok Theosofi, sebuah kelompok yang juga banyak digerakkan
oleh orang-orang Belanda saat itu...
Dalam catatan Ridwan Saidi, orang-orang Belanda gagal mengajak Kartini berangkat studi ke negeri Belanda. Karena gagal, maka mereka menyusupkan ke dalam kehidupan Kartini seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartseen. Hartseen, menurut Ridwan adalah nama keluarga Yahudi.Siapa yang berperan penting merekatkan hubungan Kartini dengan para elit Belanda? Adalah Christian Snouck Hurgronje orang yang mendorong J.H Abendanon agar memberikan perhatian lebih kepada Kartini bersaudara. Hurgronje adalah sahabat Abendanon yang dianggap oleh Kartini mengerti soal-soal hukum agama Islam. Atas saran Hurgronje agar Abendanon memperhatikan Kartini bersaudara, sampailah pertemuan antara Abendanon dan Kartini di Jepara. Sebagai seorang orientalis, aktivis Gerakan Politik Etis, dan penasihat pemerintah Hindia Belanda, Snouck Hurgronje juga menaruh perhatian kepada kepada anak-anak dari keluarga priyayi Jawa lainnya. Hurgronje berperan mencari anak-anak dari keluarga terkemuka untuk mengikuti sistem pendidikan Eropa agar proses asimilasi berjalan lancar. Langkah ini persis seperti yang dilakukan sebelumnya oleh gerakan Freemasonry lewat lembaga ”Dienaren van Indie” (Abdi Hindia) di Batavia yang menjaring anak-anak muda yang mempunyai bakat dan minat untuk memperoleh beasiswa. Kader-kader dari ”Dienaren van Indie” kemudian banyak yang menjadi anggota Theosofi dan Freemasonry. Pengaruh Theosofi dalam Pemikiran Kartini Surat-surat Kartini kepada Ny. Abendanon, orang yang dianggap satu-satunya sosok yang boleh tahu soal kehidupan batinnya, dan surat-surat Kartini lainya para humanis Eropa keturunan Yahudi di era 1900-an sangat kental nuansa Theosofinya. Seperti ditulis dalam surat-suratnya, Kartini mengakui ada orang yang mengatakan bahwa dirinya tanpa sadar sudah masuk kedalam alam pemikiran Theosofi. Bahkan, Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi. Selain itu, semangat pemikiran dan perjuangan Kartini juga sama sebangun dengan apa yang menjadi pemikiran kelompok Theosofi. Inilah yang kemudian, banyak para humanis yang menjadi sahabat karib Kartini begitu tertarik kepada sosok perempuan ini. …Kartini mengaku diperkenalkan kepada kepercayaan dengan ritual-ritual memanggil roh, seperti yang dilakukan oleh kelompok Theosofi…
‘Kartini juga kerap mendapat kiriman buku-buku
dari Ny Abendanon, yang di antaranya buku tentang humanisme, paham yang juga
lekat dengan Theosofi dan Freemasonry. Diantara buku-buku yang dibaca Kartini
adalah, Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier,
Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme
(Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang
sosialis bernama Cornelie Huygens.Berikut surat-surat Kartini yang sangat
kental dengan doktrin-doktrin Theosofi: ”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah
dan
paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur
ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi,
Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni. ”
(Surat kepada Ny Abendanon, 14 Desember 1902).
”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang
Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak
lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa
makna..." (Surat Kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).
”Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang
Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha
Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi,
dan lain-lain.” (Surat kepada E. C Abendanon, 31 Januari 1903).
”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak
mengapa, Tuhannya, Tuhan kita. Tuhan kita semua.” (Surat Kepada H. H Van Kol 10
Agustus 1902).
”Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda,
tetapi kesemuanya menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita
juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri
menyebutnya Allah.” (Surat kepada Dr N Adriani, 24 September 1902).
…Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak
pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah
kebatinan dan pluralisme…Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran
Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti
ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme. Mengenai keterkaitan dan
hubungannya dengan Theosofi, Kartini mengatakan: ”Orang yang tidak kami kenal
secara pribadi hendak membuat kami mutlak penganut Theosofi, dia bersedia untuk memberi kami
keterangan mengenai segala macam kegelapan di dalam pengetahuan itu. Orang lain
yang juga tidak kami kenal menyatakan bahwa tanpa kami sadari sendiri, kami
adalah penganut Theosofi." (Surat Kepada Ny Abendanon, 24 Agustus 1902).
Hari berikutnya kami berbicara dengan Presiden Perkumpulan
Theosofi, yang bersedia memberi penerangan kepada kami, lagi-lagi kami
mendengar banyak yang membuat kami berpikir.”(Surat Kepada Nyonya Abendanon, 15
September 1902).
Sebagai orang Jawa yang hidup di dalam lingkungan kebatinan, gambaran Kartini tentang hubungan manusia dengan Tuhan juga sama: manunggaling kawula gusti. Karena itu, dalam surat-suratnya, Kartini menulis Tuhan dengan sebutan ”Bapak”.
Selain itu, Kartini juga menyebut Tuhan dengan istilah ”Kebenaran”, ”Kebaikan”, ”Hati Nurani”, dan ”Cahaya”, seperti tercermin dalam surat-suratnya berikut ini: ”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami.
Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang
memberi kurnia.” (Surat kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).
”Kebaikan dan Tuhan adalah satu.” (Surat kepada Ny Nellie Van Kol, 20 Agustus 1902).
…Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat… Alam spiritual Kartini tak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat. Inilah yang oleh kelompok Theosofi disebut sebagai upaya menyatukan antara ”Timur dan Barat”.
Sebuah upaya yang banyak memikat para elit Jawa,
terutama mereka yang sudah terbaratkan secara pemikiran. Siti Soemandari,
penulis biografi Kartini mengatakan, dalam beragama, Kartini kembali kepada
akar-akar kejawennya atau apa yang disebut dengan ngelmu kejawen. Soemandari
mempertegas, kepercayaan Kartini adalah gabungan antara iman Islam dan Kejawen.
Atau dalam bahasa lain, keyakinan agama atau kepercayaan Kartini adalah sinkretisme yang berlandaskan pada
pluralisme agama. …Belakangan, jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan
Kartini School (Sekolah Kartini) yang mulanya didirikan di Bandung…Belakangan,
jaringan Theosofi di Indonesia juga mendirikan Kartini School (Sekolah Kartini)
yang mulanya didirikan di Bandung oleh seorang Teosof bernama R. Musa dan
kemudian menyebar di berabagai daerah di Jawa. Tercatat ada beberapa daerah
yang berdiri Sekolah Kartini, yaitu Jatinegara (Jakarta), Semarang, Bogor,
Madiun (1914), Cirebon, Malang (1916), dan Indramayu (1918).
Sebagai sekolah yang dikelola oleh para Teosof, ajaran tentang kebatinan, sinkretisme--atau sekarang lebih populer dengan istilah pluralisme-- juga tentang pembentukan watak dan kepribadian, lebih menonjol dalam pelajaran di sekolah-sekolah tersebut. Sekolah lain yang didirikan di berbagai daerah oleh kelompok Theosofi adalah Arjuna School, dengan muatan nilai-nilai pendidikan yang sama dengan Kartini School. Tepatkah jika Kartini, berpikiran Barat dan berpaham Theosofi, dijadikan ikon bagi perjuangan kaum wanita pribumi ?
Sejarah mencatat, ada banyak perempuan yang hidup sezaman dengan Kartini yang
namanya begitu saja dilupakan dalam perannya memajukan pendidikan kaum hawa di
negeri ini. Di antara nama itu adalah Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung yang
juga berkiprah memajukan pendidikan kaum perempuan. Dewi Sartika tak hanya
berwacana, tapi juga mendirikan lembaga pendidikan yang belakangan bernama
Sakolah Kautamaan Istri (1910). Selain Dewi Sartika, ada Rohana Kudus, kakak
perempuan Sutan Sjahrir, di Padang, Sumatera Barat, yang berhasil mendirikan Sekolah
Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana
School (1916).
Kartini, seperti yang tersirat dalam tulisan Prof
Harsja W Bachtiar, adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan
bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia. Atau setidaknya, bahwa proses
asimiliasi yang dilakukan kelompok humanis Belanda yang mengusung Gerakan Politik
Etis pada masa kolonial, telah sukses melahirkan sosok yang Kartini yang
”tercerahkan” dengan pemikiran Barat…Kartini adalah sosok yang diciptakan oleh Belanda
untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan
di Indonesia Karena itu, Harsja menilai, sejarah harus jujur dan secara terbuka
melihat jika memang ada orang-orang yang juga mempunyai peran penting seperti
Kartini, maka orang-orang tersebut juga layak mendapat penghargaan serupa,
tanpa menihilkan peran yang dilakukan oleh Kartini. Soal sosok Kartini yang diduga
menjadi ”mitosdan rekayasa” yang diciptakan oleh kolonialis juga menjadi perhatian
sejarawan senior Taufik Abdullah.
Ia menulis: ”Tak banyak memang ”pahlawan” kita
resmi atau tidak resmi yang dapat menggugah keluarnya sejarah dari selimut
mitos yang mengitari dirinya. Sebagian besar dibiarkan aman tenteram berdiam di
alam mitos— mereka adalah ”pahlawan” dan selesai masalahnya. R.A Kartini adalah
pahlawan tanpa henti membiarkan dirinya menjadi medan laga antara mitos dan
sejarah. Pertanyaan selalu dilontarkan kepada selimut makna yang menutupinya.Siapakah ia sesungguhnya? Apakah ia hanya sekadar
hasil rekayasa politik etis pemerintah kolonial yang ingin menjalankan politik
asosiasi?” Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan
pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional. Ny Eleanor Roosevelt, istri Presiden AS Franklin
D Roosevelt memberikan pernyataan tentang perjuangan Kartini: ”Saya senang
sekali memperoleh pandangan-pandangan yang tajam yang diberikan oleh
surat-surat ini. Satu catatan kecil dalam surat itu, menurut saya merupakan
sesuatu yang patut kita semua ingat.
Kartini katakan: Kami merasa bahwa inti dari
semua agama sama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua agama itu baik dan
indah. Akan tetapi, wahai umat manusia, apa yang kalian perbuat dengan dia? Daripada
mempersatukan kita, agama seringkali memaksa kita terpisah, dan sedangkan gadis
yang muda ini, menyadari bahwa ia harus menjadi kekuatan
pemersatu”. …Perjuangan dan pemikiran Kartini, terutama yang berhubungan dengan
pluralisme, memang mendapat perhatian dunia internasional…
Siapa Ny. Eleanor Roosevelt? Dalam buku Decoding the Lost Symbol, Simon Cox menyebut Eleanor Roosevelt adalah aktivis organisasi the Star of East, sebuah organisasi yang berada di bawah kendali Freemasonry, yang menerima perempuan sebagai anggotanya. Di Batavia, organisasi the Star of East (Bintang Timur), pada masa lalu sangat mengakar dengan berdirinya loge Freemasonry, De Ster in het Oosten (Bintang Timur) di kawasan Weltevreden, yang sekarang berada di jalan Boedi Oetomo. Jadi, masih mengidolakan Kartini?
[Artawijaya/voa-islam.com] Eiiit, tunggu dulu..!!, jangan di jawab dulu, pembahasannya belum selesai .. ...[Disarikan dari buku Gerakan Theosofi di Indonesia, Artawijaya, Pustaka Al-kautsar Jakarta]
http://www.voa-islam.com/counter/liberalism/2010/04/20/5268/ra-kartini-dan-pengaruh-pemikiran-yahudi-theosofi-pluralisme/
FASE KEDUA DALAM KEHIDUPAN RA. KARTINI
Beberapa perkara dimasa akhir hidup kartini, yang hampir tidak di ketahui
oleh banyak kalangan.
BERTEMU KYAI SHALEH DARAT
Selain faktor teman buruk, kaum muslim di sekeliling Kartini juga punya pemahaman yang salah terhadap Islam. Mereka mengajarkan Islam tanpa memahamkan apa yang diajarkan. Coba kita simak surat Kartini kepada Stella ...berikut ini:
“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang di sini belajar membaca Al Qur’an tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yg dibacanya.” [Surat kepada Stella, 6 Nov 1899]
Perlu diketahui, pada waktu pemerintahan Hindia Belanda, umat muslim memang
dibolehkan mengajarkan Al-Qur’an dengan syarat tidak diterjemahkan alias hanya belajar
baca huruf arab saja (pengaruh ini masih dapat kita jumpai saat ini, di mana belajar
Al-Quran dianggap selesai ketika telah mampu membaca Al-Quran dengan lancar
sampai akhir, walaupun tidak paham maknanya –khataman-). Dan ini memang taktik
Belanda agar orang-orang Indonesia tidak paham terhadap Al-quran dan akhirnya mereka tidak akan angkat senjata
kepada penjajah kafir belanda.Suatu ketika, Kartini berkunjung ke rumah
pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan
khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama
wanita lain dari balik tabir. Kartini tertarik kepada materi yg sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh
Kyai Shaleh Darat. Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya agar
bersedia untuk menemaninya menemui Kyai Shaleh Darat. “Kyai, perkenankanlah
saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?“...
Pertanyaan ini diajukan Kartini kepada Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar, atau
lebih dikenal dengan Kyai Sholeh Darat, ketika berkunjung ke rumah pamannya
Pangeran Ario Hadiningrat, Bupati Demak. Waktu itu sedang berlangsung pengajian
bulanan khusus untuk anggota keluarga dan Kartini ikut mendengarkan bersama
para raden ayu lainnya dari balik tabir. Karena tertarik pada materi pengajian tentang tafsir Al-Fatihah,
setelah selesai Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui
Kyai tersebut. Tertegun mendengar pertanyaan Kartini, Kyai balik bertanya, “Mengapa Raden
Ajeng bertanya demikian?“ “Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti
makna dan arti surat pertama (Al-Fatihah), dan induk Al-Quran yang isinya
begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah,
namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang
keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran
itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?“Ibu Kartini muda yang di kala itu belajar Islam
dari seorang guru mengaji, memang telah lama merasa tidak puas dengan cara
mengajar guru itu karena bersifat dogmatis dan indoktrinatif. Walaupun kakeknya
Kyai Haji Madirono dan neneknya Nyai Haji Aminah dari garis ibunya, M.A. Ngasirah
adalah pasangan guruagama, Kartini merasa belum bisa mencintai agamanya. Betapa
tidak? Beliau hanya diajar bagaimana membaca dan menghapal Al-Qurâ’an dan cara melakukan shalat, tapi
tidak diajarkan terjemahan, apalagi tafsirnya. Pada waktu itu penjajah Belanda memang
memperbolehkan orang mempelajari Al- Qurâ’an asal jangan diterjemahkan.Kartini menceritakan bahwa selama hidupnya baru
kali itulah dia sempat mengerti makna dan arti surat Al- Fatihah, yang isinya
begitu indah menggetarkan hati. Kemudian atas permintaan Kartini, Kyai Shaleh
diminta menerjemahkan Al Qur’an dalam bahasa Jawa di dalam sebuah buku berjudul Faidhur Rahman Fit Tafsiril Quran jilid pertama yang
terdiri dari 13 juz, mulai surat Al Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu
dihadiahkan kepada Kartini saat dia
(Kartini) menikah dengan R. M. Joyodiningrat, Bupati Rembang. Kyai Shaleh
meninggal saat baru menerjemahkan jilid pertama tersebut. Namun, hal ini sudah
cukup membuka pikiran Kartini dalam mengenal Islam. Tahu tidak? Sebenarnya
ungkapan " Habis Gelap Terbitlah Terang " itu sebenarnya ditemukan Kartini dalam surat Al Baqarah
ayat 257, yaitu firman Allah“ …minazh-zhulumaati ilan-nuur” yang artinya “dari kegelapan-kegelapan
(kekufuran) menuju cahaya (Islam)”. Oleh Kartini diungkapkan dalam bahasa
Belanda "Door Duisternis Tot Licht". Dan kemudian, oleh Armien pane yang menerjemahkan
kumpulan surat-surat Kartini diungkapkan menjadi "Habis Gelap Terbitlah
Terang".
KARTINI KEMUDIAN
Kartini yang mulai mengenal Islam pun berubah. Pandangannya terhadap Islam menjadi positif. “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” [Surat kepada Ny. Van Ko...l, 21 Juli 1902].
Kartini kemudian merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan
untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh pejuang feminisme dan
emansipasi saat ini (sebenarnya lebih cocok disebut sebagai westernisasi),
namun agar para wanita lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai Ibu. Kartini
menulis dalam suratnya: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan
anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam
perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum
wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang
diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Kepada
Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902]
Dan tidak hanya itu, pandangannya terhadap Barat pun berubah. Kartini menulis: “Dan saya menjawab, "Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya, tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah.” [Kepada Ny. Abendanon, 12 Okt 1902]
“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu
benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi
apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu
menyangkal bahwa di balik
hal yang indah dalam masyarakat Ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali
tidak patut disebut sebagai peradaban?” [Surat kepada Ny. Abendanon, 27 Okt 1902]
Kartini meninggal dalam usia muda, 25 tahun, empat hari setelah melahirkan putranya.
Ia tak sempat belajar Islam lebih dalam. Namun yang patut disayangkan, kebanyakan
orang mengetahui Ibu Kartini hanyalah sekedar sebagai pejuang emansipasi
wanita. Banyak orang yang tidak tahu perjalanan Kartini menemukan Islam dan perubahan pola pikirnya. Semoga tulisan ini dapat menggugah kita untuk tahu lebih dalam tentang
"IBU KITA KARTINI" (dalam upayanya mempelajari Islam), daripada
sekedar peringatan tahunan tanpa makna.
[Dari Majalah Elfata dengan sedikit penyesuaian pada beberapa kata] Catatan Al Akh Abu Muhammad Herman http://www.facebook.com/note.php?saved&¬e_id=342475750174
KESIMPULAN DARI FASE KEDUA KEHIDUPAN RA KARTINI
Dalam fase kedua, yaitu selama dan pasca mendapatkan hidayah, beliau mendapat
pencerahan tentang agama yang dianutnya, yaitu Islam. Bahwa Islam, jika
ajaran-ajarannya diikuti dengan benar sesuai dengan Al-Qur'an, ternyata membawa
kehidupan yang
lebih baik dan memiliki citra baik di mata umat agama lain. Ibu Kartini menulis
dalam surat-suratnya, bahwa beliau mengajak segenap perempuan bumiputra untuk kembali
ke jalan Islam. Tidak hanya itu, Kartini bertekad berjuang untuk mendapatkan
rahmat Allah, agar mampu meyakinkan umat lain memandang agama Islam sebagai
agama yang patut dihormati.
“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain
memandang agama Islam patut disukai” [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli
1902].
Klimaksnya, nur hidayah itu membuatnya bisa merumuskan
arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki
seperti yang diyakini oleh kebanyakan pejuang feminisme dan emansipasi, namun
untuk lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai ibu. Ibu Kartini menulis:
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan,
bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan
laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya
yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan
kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya:
menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Surat Kartini kepada Prof.
Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].
Pikiran beliau ini mengalami perubahan bila dibandingkan
dengan pada waktu fase sebelum hidayah, yang lebih mengedepankan keinginan akan
bebas, merdeka, dan berdiri sendiri. Ibu Kartini menulis: “Jika saja masih
anak-anak ketika kata-kata “Emansipasi” belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi
pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih
jauh dari angan-angan saja, tetapi dikala itu telah hidup di dalam hati sanubarai
saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas,
merdeka, berdiri sendiri.” [Surat Kartini kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei
1899].
Tidak hanya itu, nur hidayah itu juga bisa
menyebabkan perubahan sikap beliau terhadap Barat yang tadinya dianggap sebagai
masyarakat yang paling baik dan dapat dijadikan contoh. Ibu Kartini menulis, “Sudah lewat masanya, tadinya kami
mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik,
tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat
Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam
masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut
sebagai peradaban?” [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902].
Dan yang lebih penting lagi, beliau menjadi sadar terhadap upaya kristenisasi secara terselubung yang dilakukan oleh teman-temannya. Ibu Kartini menulis, “Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi?…
Bagi orang
Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosayang
sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan
mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” [Surat Kartini kepada E. E. Abendanon,
31 Januari 1903].
Allah Subhanahu wa Ta`ala Maha Berkehendak dengan menggariskan hidup Ibu Kartini yang terbilang cukup pendek, 25 tahun, yaitu empat hari setelah melahirkan putranya, R. M. Soesalit. Dia juga mentakdirkan hidup Kyai Sholeh Darat tidak cukup panjang untuk menuntaskan buku tafsir Al-Qurâ’an dalam bahasa Jawanya, sehingga informasi mengenai Al-Qurâ’an yang diterima oleh Ibu Kartini masih terbatas. “Manusia itu berusaha, Allah-lah yang menentukan” [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900].
Namun sebenarnya itu sudah cukup untuk memberikan gambaran bagaimana sebenarnya
visi Ibu Kartini sebagai sosok muslimah, terutama pada masa-masa akhir
hidupnya, yaitu fase selama dan pasca hidayah. Itu pun juga cukup bagi kita
untuk bisa memahami mengapa beliau pada akhirnya merasa ikhlas menjadi isteri
keempat Bupati Rembang, yang kemudian justru mendukung semua cita-cita
perjuangannya dalam pendidikan terhadap kaum wanita, yaitu dengan mendirikan
sekolah wanita di Kabupaten Rembang. Kartini menulis mengenai suaminya, “Akan
lebih banyak lagi yang saya kerjakan untuk bangsa ini bila saya ada di samping seseorang laki-laki yang cakap, yang saya hormati, yang mencintai
rakyat rendah sebagai saya juga. Lebih banyak, kata saya, daripada yang dapat kami
usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri. “ ? [Habis Gelap Terbitlah
Terang, hlm. 187].
Dan itu juga cukup untuk dapat kita bayangkan, bahwa (semoga) Ibu Kartini wafat
dalam keadaan husnul khotimah, setelah sebelumnya diombang-ambingkan oleh
berbagai pemikiran teman-temannya, dan walaupun banyak orang mengulas kumpulan
tulisannya dari berbagai sudut pandang dan agama.Namun yang juga sangat penting
buat kita muslimah generasi penerusnya adalah pesan-pesan beliau secara tersirat
agar kembali kepada fitrahnya dan selalu berpegang pada Al-Qur'an (dan Hadits).
Al-Qur'an harus selalu dibaca, dipelajari, dihapalkan, dimengerti maknanya, dan
diamalkan, agar benar-benar meninggalkan kegelapan menuju cahaya. Ajakan beliau
ini lebih mendasar dan tentu lebih bermanfaat daripada mengedepankan isu-isu tentang feminisme dan kesetaraan gender, misalnya yang
pada dasarnya merupakan konsep Barat. Lagipula, sikap yang mempercayai bahwa
sesuatu yang berasal dari Barat itu paling baik, justru digugat oleh Ibu
Kartini sendiri. Allah Yang Maha Bijaksana menurunkan Al-Qur'an, dimana salah
satu kehendak-Nya adalah justru untuk mengangkat harkat dan martabat wanita. Pada dasarnya, gerakan emansipasi
perempuan dalam sejarah peradaban
manusia sebenarnya dipelopori oleh risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad
Shalallaahu Alaihi wa Sallam tersebut.