Lebih lanjut dijelaskan bahwa terminator adalah teknologi rekayasa genetika yang berusaha untuk mengendalikan kesuburan tanaman. Generasi pertama terminator (disebut juga benih bunuh diri) dikembangkan melalui kerjasama Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS) dan perusahaan Delta and Pine Land pada 1990-an untuk melindungi kekayaan intelektual dari bioteknologi pertanian perusahaan-perusahaan transnasional milik Amerika Serikat. Selanjutnya dengan menggunakan DNA yang dipatenkan, tanaman hasil rekayasa genetik ini memproduksi benih steril untuk mencegah petani menanam kembali benih yang baru saja dipanen.
Karena protes masyarakat sipil dan petani di seluruh dunia, terminator belum pernah dikomersialkan di mana pun. Negara-negara seperti Brasil dan India telah memiliki moratorium nasional untuk melarang penerapan teknologi ini.
Pada tahun 2000, CBD merekomendasikan moratorium secara de facto pada uji coba lapangan dan penjualan ko- mersial benih terminator. Pada tahun 2006, tekanan dari La Via Campesina dan aliansinya membantu untuk memperkuat moratorium ini di Curitiba, Brasil.
Tepat pada tahun itu juga, Monsanto selaku perusahaan benih terbesar di dunia mengakuisisi Delta and Pine Land, bersama dengan hak kekayaan intelektual untuk terminator. Sejak saat itulah para kapitalis industri pertanian ini semakin menggenjot retorika mereka tentang perlunya terminator bagi pertanian.
Henry Saragih, Koordinator Umum La Via Campesina menyampaikan bahwa walaupun aplikasi dan komersialisasi teknologi terminator sudah gagal dan terbantahkan. Teknologi ini akan semakin mengontrol akses petani akan bibit dan plasma nutfah.
Oleh karena itu, Henry menghimbau agar seluruh organisasi petani yang tergabung dalam La Via Campesina, para petani kecil, para anggota LSM hingga para konsumen di seluruh dunia untuk bersama menolak kembalinya terminator.
Dari sisi teknologi untuk menjawab tantangan zaman monsanto dan benih terminatornya adalah yang paling baik, namun tak sedikit pula kontroversi atas lahirnya benih transgenik terminator ini. Pro dan kontra akan tanaman transgenik memang sudah sejak lama bergulir, begitu pula penyebaran dan konsumsi hasil tanaman transgenik ini sudah akrab di dalam siklus dan daur energi yang berawal dari mulut. Kapan terakhir kita makan tempe, coba telisik dari mana tempe kebanggan masyarakat Indonesia itu berasal? Tak sedikit kedelai impor dari Amerika lah yang menjadi bahan baku pembuatan tempe di Indonesia, tak sedikit pula itu adalah hasil dari tanaman transgenik. Oleh karena itu, tidak ada salahnya kita mencoba sedikit berpendapat tentang persoalan ini.
3). Benih terminator transgenik akan menjadikan ketergantungan hebat bagi petani. Perusahaan multinasional bioteknologi Monsanto yang mengembangkan benih Terminator. Demikian juga Novartis Swiss dengan Traitor dan Zeneca dengan Verminator yang intinya sama. Benih tanaman tersebut akan membunuh turunannya, kecuali diberi pemicu bahan kimia yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Benih-benih tanaman itu telah disusupi dengan gen suicide seed sehingga petani tidak akan dapat lagi menyisihkan hasil panennya untuk dijadikan benih kembali, karena turunan pertamanya tidak dapat tumbuh. Kenyataan yang harus dihadapi adalah setiap kali menanam, petani harus membeli benih kembali dari perusahaan/agen, sehingga ketergantungan petani terhadap benih tersebut makin besar.
df19127ead