Kontrasepsi Pdf Bkkbn

0 views
Skip to first unread message

Shawna Erholm

unread,
Aug 3, 2024, 3:32:16 PM8/3/24
to rubthewheelwmo

Ketentuan Umum; Seleksi Alat dan Obat Kontrasepsi; Perencanaan kebutuhan alat dan obat kontrasepsi; Penyediaan dan pengadaan; Penyaluran; Monitoring dan evaluasi; ketentuan peralihan dan ketentuan penutup

Tiap tanggal 26 September, ada yang dinamakan Hari Kontrasepsi Sedunia atau World Contraception Day. Sejatinya hal ini perlu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perencanaan keluarga dengan berbagai pilihan metode kontrasepsi yang ada.

Perencanaan keluarga adalah poin penting yang harus dipersiapkan setelah menikah. Dengan perencanaan keluarga yang matang, pasangan bisa mengembangkan diri dan karier. Kemampuan untuk merencanakan kehamilan termasuk memilih kontrasepsi juga dipercaya dapat meningkatkan kesehatan mental dan kebahagiaan bagi perempuan. Di sisi lain, kasih sayang dan kebutuhan finansial untuk anak bisa dimaksimalkan.

Terdapat tiga jenis pilihan metode kontrasepsi bagi pasangan usia subur yang sudah menikah. Pertama adalah kontrasepsi hormonal yang terdiri dari IUD hormonal, implan, pil KB, kontrasepsi darurat, dan suntikan KB.

Terakhir kontrasepsi alami berdasar metode kalender, senggama terputus, dan metode menyusui yang dikenal dengan MAL atau Metode Amenorea Laktasi. Metode MAL ini dapat digunakan bagi Ibu yang baru saja melahirkan dan menyusui bayinya.

Di Indonesia peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia dijalankan sebagai momentum meningkatkan komitmen & dukungan stakeholder, provider medis, mitra kerja dan masyarakat untuk percepatan pencapaian program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) secara menyeluruh.

Selain dari segi dukungan, Hari Kontrasepsi Sedunia juga akan menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan seluruh masyarakat Indonesia, di semua lini, terkait seperti apa pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi yang berkualitas.

Sementara oleh @BKKBNofficial, Hari Kontrasepsi Sedunia akan dirayakan melalui berbagai kegiatan. Mulai dari pelayanan kesehatan gratis, penyuluhan KB & kesehatan reproduksi di sejumlah RPTRA, hingga potongan harga menarik bagi peserta KB di merchant tertentu.

Investasi untuk peningkatan kesehatan reproduksi di negara yang sedang berkembang melalui penggunaan alat kontrasepsi akan menyelamatkan ibu, bayi baru lahir dan keluarga. Pada tahun 2014 terdapat 225 juta perempuan di dunia tidak mendapatkan pelayanan kontrasepsi modern, sedangkan di Indonesia hampir 50 % (40,3%) kasus unmeet-need masih ditemukan. Data peserta KB aktif di DIY cukup tinggi (89.90%), yang sebagian besar dilaksanakan oleh bidan yang telah bermitra dengan BKKBN dalam pelayanan kontrasepsi melalui pendekatan selama antenatal care dan post natal care. Namun, apakah model kemitraan antara bidan dan BKKBN dapat ditingkatkan sehingga mampu mengatasi masalah unmeet-need terhadap kontrasepsi?. Ini menjadi kajian yang menarik untuk peningkatan strategic plan antara bidan dan BKKBN untuk meningkatkan pelayanan kontrasepsi. Tujuan: Menganalisis hasil kegiatan kemitraan bidan dan BKKBN serta menunjukkan manfaat, kendala, tantangan dan peluang peningkatan kemitraan bidan dan BKKBN dalam peningkatan pelayanan kontrasepsi di DIY. Metode: Studi deskriptif dengan pendekatann kualitatif terhadap kegiatan kemitraan bidan dan BKKBN dalam pelayanan kontrasepsi oleh bidan di DIY dilanjutkan eksplorasi berbagai aspek dan peluang model kemitraan yang dapat dikembangkan. Focus group discussion dan indepth interview akan dilakukan pada informan baik dari pihak pengurus IBI dan BKKBN maupun bidan yang terlibat langsung dalam pelayanan kontrasepsi. Hasil : Bentuk dukungan BKKBN kepada bidan untuk meningkatkan pelayanan kontrasepsi di Daerah Istimewa Yogyakarta berupa kegiatan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan, dukungan sarana dan prasarana serta peningkatan jejaring bagi organisasi bidan pada program Keluarga Berencana. Dukungan yang diberikan dalam kerjasama tersebut saling menguntungkan bagi bidan dan BKKBN, namun pengaruh program BPJS dan otonomi daerah menyebabkan penurunan pelayanan KB khususnya MKJP dan masih ditemukan kondisi unmetneed 7,70%.

The non-commercial use of the article will be governed by the Creative Commons Attribution license as currently displayed on Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

The author warrants that the article is original, written by stated author(s), has not been published before, contains no unlawful statements, does not infringe the rights of others, is subject to copyright that is vested exclusively in the author and free of any third party rights, and that any necessary written permissions to quote from other sources have been obtained by the author(s).

JIB's spirit is to disseminate articles published are as free as possible. Under the Creative Commons license, JIB permits users to copy, distribute, display, and perform the work for non-commercial purposes only. Users will also need to attribute authors and JIB on distributing works in the journal and other media of publications. Unless otherwise stated, the authors are public entities as soon as their articles got published.

If the article was jointly prepared by more than one author, any authors submitting the manuscript warrants that he/she has been authorized by all co-authors to be agreed on this copyright and license notice (agreement) on their behalf, and agrees to inform his/her co-authors of the terms of this policy. JIB will not be held liable for anything that may arise due to the author(s) internal dispute. JIB will only communicate with the corresponding author.

Keluarga Berencana (KB) telah menjadi bagian penting dari kebijakan pembangunan di Indonesia. Meskipun ada peningkatan akses dan kesadaran tentang kontrasepsi, tantangan seperti putus pakai kontrasepsi tetap signifikan. Ini merujuk pada penghentian penggunaan kontrasepsi, dapat disebabkan oleh berbagai alasan seperti keinginan untuk memiliki anak atau perubahan keadaan hidup. Tantangan ini kompleks, meliputi kurangnya informasi, perubahan preferensi, dan stigma budaya. Dampaknya sangat luas, termasuk risiko kehamilan tidak diinginkan, kematian ibu dan bayi, serta peningkatan stres psikologis dan beban ekonomi keluarga.

Solusi membutuhkan upaya lintas sektoral. Peningkatan akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi adalah kunci. Kampanye agresif melalui berbagai media dan kegiatan langsung di komunitas, serta peran petugas KB dan kader KB dalam pendampingan peserta KB, penting untuk meningkatkan pemahaman dan ketersediaan kontrasepsi. Pemerintah juga harus memastikan akses yang lebih baik ke layanan keluarga berencana dan memperkuat pelayanan kesehatan reproduksi.

Dengan pendekatan terkoordinasi, pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif, dan penguatan sistem layanan kesehatan, tantangan putus pakai kontrasepsi dapat diatasi. Ini merupakan langkah penting menuju pembangunan berkelanjutan di bidang kesehatan reproduksi dan keluarga berencana di Indonesia.

Samosir, Omas B., Ayke S. Kiting, and Flora Aninditya. 2019. Determinants of Contraceptive Discontinuation in Indonesia: Further Analysis of the 2017 Demographic and Health Survey. DHS Working Paper No. 159. Rockville, Maryland, USA: ICF.

Setiap tanggal 26 September diperingati sebagai Hari Kontrasepsi Dunia atau World Contraception Day. Pada Hari Kontrasepsi Dunia 2022, BKKBN melakukan kolaborasi pelayanan KB terpadu dengan beberapa mitra kerja guna meningkatkan keikutsertaan ber-KB dan percepatan penurunan stunting serta kesehatan kaum perempuan. Peringatan ini diadakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penggunaan kontrasepsi untuk kesehatan reproduksi. Peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia atau World Contraception Day (WCD) ini juga akan menekan angka kelahiran dan untuk membantu keputusan yang bijak mengenai kehamilan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPPAPPKB) Kabupaten Kotawaringin Timur, H. Suparmadi, SE., MM mengatakan, Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) merupakan kontrasepsi yang dapat dipakai dalam jangka waktu lama lebih dari dua tahun, efektif dan efisiensi untuk tujuan pemakaian menjarangkan kelahiran lebih dari tiga tahun atau mengakhiri kehamilan atau sudah tidak ingin menambah anak lagi. Menurutnya, Penggunaan kontrasepsi tidak hanya bertujuan untuk mengendalikan kelahiran, tetapi juga untuk memperkuat hak-hak perempuan. Mereka berhak dalam menentukan sendiri kapan mereka siap hamil, bagaimana mempersiapkan kehamilan dan menjaga kesehatan selama kehamilan, sehingga dapat melahirkan generasi baru yang berkualitas.

Angka kematian bayi di Indonesia sudah menurun dari 145 per 1.000 kelahiran hidup pada Sensus Penduduk (SP) tahun 1971 menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup pada SP tahun 2010. Saat ini angka kematian bayi menjadi 16,85 per 1.000 kelahiran hidup hasil Long Form SP 2020.

Acara peringatan yang digelar di auditorium kantor BKKBN pusat di Jakarta itu sekaligus kick off Pekan Pelayanan KB berkolaborasi dengan jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) di seluruh Indonesia yang dimulai 26 September hingga 4 Oktober 2023.

Direktur Bina Kualitas Pelayanan KB BKKBN Martin Suanta mengatakan bahwa kegiatan Peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia ini bertujuan untuk mensosialisasikan pada masyarakat terkait pentingnya kontrasepsi bagi perencanaan keluarga dalam rangka percepatan penurunan stunting.

Wakil Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Darat (Aster TNI AD) Bidang Tahwil Komsos dan Bhakti TNI Brigjen TNI Taufik Shobri dalam kegiatan itu menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Kepala BKKBN yang menginisiasi gerakan pelayanan KB dalam momentum ini.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

c80f0f1006
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages