Gaya nyanyian Teng yang disampaikan kesederhanaan dan keikhlasan. Yeh Yueh-Yu, seorang profesor Teori Kebudayaan di Universiti California Selatan berkata, "Kemanisan dalam suaranya yang menjadikannya terkenal. Beliau mempunyai suara yang sesuai untuk lagu-lagu rakyat dan balada, dan Beliau berkata penggayaan lagu tradisional rakyat ke dalam komposisi bergaya barat." Suaranya juga digambarkan sebagai "seperti menangis dan merayu, namun mempunyai kekuatan, mampu menarik dalam-dalam serta memukau pendengar." Penulis lagu yang bekerja bersamanya iaitu Tsuo Hung-yun turut berkata suara Teng adalah "tujuh bahagian kemanisan, tiga bahagian air mata."
Populariti Teng meledak pada tahun 1970 selepas kejayaan beliau di Jepun dengan lagu-lagunya dalam bahasa Mandarin, Kantonis, Jepun dan Inggeris. Pengaruh Teng merebak ke Malaysia dan Indonesia. Di Taiwan beliau dikenali bukan sahaja sebagai eksport yang paling popular di pulau ini, tetapi sebagai "kekasih askar" kerana persembahan beliau yang kerap untuk kerahan. Konsert-konsert beliau untuk pasukan tentera tersebut menampilkan lagu-lagu rakyat Taiwan kepada penduduk asal pulau itu dan juga lagu-lagu rakyat Cina yang mengubat rindu golongan yang melarikan diri dari tanah besar Cina sewaktu perang saudara China.
Pada awal tahun 1980, ketegangan politik antara China dan Taiwan membawa kepada muzik beliau bersama-sama dengan penyanyi lain dari Taiwan dan Hong Kong diharamkan selama beberapa tahun di China kerana ia dianggap terlalu "borjuis". Populariti beliau di China terus berkembang kerana pasaran gela di sanap. Populairiti lagu-lagu Teng yang terus dimainkan di mana-mana dari kelab malam ke bangunan pemerintah menyebabkan pengharaman terhadap muzik beliau ditarik balik tidak lama kemudian. Peminat beliau menggelarnya "Little Deng" kerana beliau mempunyai nama keluarga yang sama seperti Deng Xiaopeng; ada yang mengatakan bahawa "Deng si pemimpin Komunis yang memerintah oleh hari, tetapi Deng si penyanyi memerintah sebelah malam.
Gunther Mende, Mary Susan Applegate dan Candy de Rouge menulis lagu "The Power of Love" untuk Jennifer Rush. Teng menyanyikannya semula lalu mempopularkannya di kawasan-kawasan Asia. Beliau asalnya menyanyikan dalam konsert terakhir beliau di Tokyo - lapan tahun sebelum dinyanyikan dan dikeluarkan oleh Celine Dion.
Teresa merekam beberapa lagu terkenal, termasuk "Kapankah Kau Akan Kembali (pinyin: Hé Rì Jūn Zài Lái). Selain lagu-lagunya yang berbahasa Mandarin, ia juga pernah merekam lagu-lagu dalam Bahasa Indonesia, Hokkien, Kanton, Jepang, dan Inggris.
Pada saat muda, Teresa Teng memenangkan penghargaan untuk bernyanyi di kompetisi bakat. Pada tahun 1964, hadiah besar pertama diraihnya ketika menyanyikan lagu 'Visiting Yintai' dari Shaw Brothers Hwangmei film opera, The Love Eterne, dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Broadcasting Corporation of China. Tidak lama setelah itu, Teresa mampu mendukung keluarganya dengan bernyanyi. Berkembangnya ekonomi manufaktur Taiwan di tahun 1960an membuat pembelian rekaman lebih mudah untuk banyak keluarga. Teresa Teng berhenti dari sekolah tinggi dengan persetujuan ayahnya karena ingin mengejar cita-citanya sebagai penyanyi.
Gunther Mende, Mary Susan Applegate dan Candy de Rouge menulis lagu "The Power of Love" untuk Jennifer Rush. Teresa Teng menyanyikannya dan membuat lagu itu terkenal di kawasan Asia. Dia awalnya menyanyikannya di sebuah Konser di Tokyo - delapan tahun sebelum dinyanyikan dan dirilis oleh Celine Dion.
Teresa merekam beberapa lagu terkenal, termasuk "Kapankah Kau Akan Kembali (pinyin: Hé Rì Jūn Zài Lái). Selain lagu-lagunya yang berbahasa Mandarin, ia juga pernah merekam lagu-lagu dalam Bahasa Indonesia, Hokkien, Kanton, Jepang dan Inggris. Seringkali Teresa disandingkan dengan aktris Leily Sagita kerana dinilai memiliki wajah yang hampir mirip.
Pada Februari 1982, Teresa Teng yang berusia 29 tahun mengumumkan pertunangannya dengan Beau Kuok bin Robert Kuok, anak pertama dari miliarder asal Malaysia, yang dijuluki dengan "Raja Gula", yang juga Pemilik Shagri-La hotel. Pernikahan telah dibahas dan direncanakan, namun Teresa Teng sangat keberatan dengan persyaratan dari keluarganya yang mengharuskan ia untuk memberikan rincian informasi tertulis tentang semua hubungan masa lalunya dengan mantan-mantannya. Dia juga harus menghentikan semua hubungan dari dunia hiburan.
Teresa dimakamkan di sebuah kaki gunung di Chin Pao San (Jinbaoshan, arti harafiahnya Gunung Harta Karun Emas sedangkan Chin Pao San adalah sebutan dari bahasa hokkien), dalam sebuah kompleks pemakaman dekat Jinshan, dekat Taipei, Taiwan. Sebuah patung dirinya dalam pakaian pertunjukan dipajang, diiringi dengan musik lagu-lagunya sebagai latar belakangnya, didirikan sebagai tugu peringatan di tempat pemakamannya tersebut. Disana juga terdapat sebuah piano elektronik raksasa di mana para pelayat dapat memainkannya dengan menginjak balok-balok piano tersebut. Makamnya ini sering dikunjungi oleh para penggemarnya --- sebuah kebiasaan yang sangat berbeda dengan tradisi Tionghoa untuk mengunjungi pemakaman pada umumnya.
Pada awal 1980an, ketegangan politik antara Taiwan dan Tiongkok mengakibatkan lagu Teresa bersama penyanyi lain dari Taiwan dan Hongkong dicekal selama beberapa tahun di Tiongkok kerana dianggap terlalu "borjuis". Meskipun demikian, popularitas Teresa Teng terus meningkat berkat pasar gelap. Lagu musiknya terus diputar dimana-mana, dari kelab malam sampai ke gedung-gedung pemerintah, sehingga larangan lagunya pun akhirnya dicabut.
Sebuah rumah yang dibeli Teresa pada tahun 1986 di Hong Kong beralamatkan Jalan Carmel Street nomor 18 juga menjadi tempat tujuan kunjungan para penggemarnya terutama begitu ketika berita kematiannya tersebar. Rencana penjualan rumah tersebut untuk membiayai sebuah museum di Shanghai diberitakan pada tahun 2002, dan kemudian menjadikannya terjual sebesar 32 juta dollar Hong Kong. Rumah itu ditutup untuk umum semenjak tanggal 29 Januari 2004, hari di mana Teresa seharusnya berulang tahun ke-51.
TITLE
The Moon Represents My Heart - Teresa Teng , Sweet Honey - Teresa Teng , Teresa Teng - I only care about you , Teresa Ten - AIJIN , a Small Town story - Teresa Teng , teresa teng - memories in the rain , Goodbye My Love - Teresa Teng , He Ri jun zai lai - Teresa Teng , How Do You Say - Teresa Teng , Teresa Teng Gao Shan Qing , Qian Yan Wan Yu - Teresa Teng , I only care about you - Teresa Teng , Teresa Teng - deng li jun , Tango of Drunkenness - Teresa Teng , I LOVE YOU - Teresa Teng , Teresa Teng "How can I leave you" , Teresa Teng If A Wish Could Be Made , "See also smoke" Teresa Teng , kuukou - Teresa Teng , I do not lie to you (Teresa Teng) , Rainy Night Flower - Teresa Teng , Teresa Teng - like your gentle , Roadside wildflowers do not adopt - Teresa Teng , "KITAGUNI NO HARU" - Teresa Teng , Teresa Teng Classic "Cloud River" , An Unforgettable First Love Lover - Teresa Teng , I do not lie to you (Teresa Teng) , Teresa Teng - Boat song , teresa teng - love without end , Ji Duo Chou - Teresa Teng , On the Water Side - Teresa Teng , The First Love Place - Teresa Teng , Teresa Teng (who will love me) , Small village of love - Teresa Teng , Rainy Night Flower - Teresa Teng , Teresa Teng "Gao Shanqing" , Teresa Teng & Yu-Na Kim - KONNA ONNA (A Woman Like Me) , teresa teng + yu-na kim - tsugunai , tian mi mi - teresa teng , teresa teng death case , ni zen me shuo - teresa teng , teresa teng - xin nian hao , wo zhi zai hu ni - teresa teng , teresa teng-thousands of words , tian mi mi - teresa teng , teresa teng - mei hua , teenage boy sang like teresa teng , teresa teng + julia lipnitskaia - toki no nagare ni mi wo makase , teresa teng - love without end , ni zen me shuo - teresa teng
Dikenal sebagai salah satu dari Lima Diva Agung Asia, popularitas Terese Tang dipengaruhi kemampuannya menyanyikan beragam lagu romatis dalam beberapa bahasa, seperti Mandarin, Inggris, Jepang, Vietnam, Kanton, Hokkien, bahkan Indonesia.
Wanita berparas cantik ini memang nyatanya pernah membawakan sejumlah lagu dalam bahasa Indonesia, mulai dari "Dayung Sampan", "Cinta Suci", "Sekuntum Mawar Merah", dan "Selamat Jalan Kekasih" atau "Good Bye My Love".
Teresa Teng populer berkat lagu-lagunya yang merakyat dan bernada balada romantis. Salah satu lagunya yang sangat terkenal berjudul "Hé Rì Jūn Zài Lái" atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti "Kapankah Kau Akan Kembali".
Teresa Teng dimakamkan di kaki gunung di Chin Pao San, sebuah kompleks pemakaman dekat Jinshan, Taipei, Taiwan. Di tempat pemakamannya berdiri sebuah patung dirinya (sebagai tugu peringatan), diiringi dengan musik lagu-lagunya sebagai latar belakang.
TEMPO.CO, Jakarta - Teresa Teng menjadi doodle Google untuk merayakan ulang tahunnya ke-65 pada Senin, 29 Januari 2018. Penyanyi asal Taiwan itu meninggal pada usia 42 tahun karena serangan asma di Chiang Mai, Thailand, pada 1995. Penyanyi yang membawakan lagu dalam berbagai bahasa itu dikenal dengan musik bergenre folk. Berikut ini lima lagu Teresa Teng yang paling populer pada masa kejayaannya.
Teresia Teng pertama kali meluncurkan lagu I Only Care About You dalam versi Jepang. Lagu ini ditulis Miki Takashi dan Araki Toyohisa pada 1986 di Jepang. Lagu I Only Care About You masuk enam besar tangga lagu Oricon, Jepang. Pada 1987, Teresa memproduksi lagu ini dalam versi Mandarin dan menjadi kesuksesan besar.
Diambil dari puisi karya penulis dinasti Songg, Su Shi , lagu May We be Together Forever diaransemen musisi Taiwan, Vincent Liang, yang diluncurkan pada 1983. Penyanyi Faye Wong meng-cover lagu ini dan dimasukkan ke albumnya, Decadent Sound of Faye, untuk memberikan penghormatan terhadap Teresa Teng, yang merupakan penyanyi favoritnya pada 1995.
e2b47a7662