Ketidak sadaran diri ini disebut dalam teori Maslow sebagai self-awareness (kesadaran diri). Teori ini menyebutkan bahwa seseorang hendaknya memahami, mengerti siapa diri kita, bagaimana menjadi diri sendiri, apa potensi yang kita miliki, gaya apa yang dimiliki, apa langkah-langkah yang diambil, apa yang dirasakan, nilai-nilai apa yang dimiliki.
Umar bin Khatab mengajarkan kesadaran diri ini dengan selalu bermuhasabah, atau mengevaluasi diri kita. Apakah yang kita lakukan sudah ikhlas, sesuai perintah Allah dan Rasul, memberi manfaat kepada manusia dan alam semesta?
Self-awareness akan menghidupkan rasa malu kepada diri sendiri, sehingga dia akan menjadi manusia yang tawadhu, tidak merasa berjasa, merasa berbuat tetapi dia akan selalu optimal dan berbuat dan berkarya.
Sifat insan profetis yang hendaknya selalu dibangun adalah self-awareness, cerdas emosi dan spiritual nya, dengan selalu ber muhasabah diri agar melahirkan percikan cahaya hidayah Allah SWT dalam setiap fikiran, hatinya dan amalnya.
Mereka bukan orang yang vokal menyebutkan prestisenya, tetapi mereka orang yang selalu menghadirkan prestasi nyata, mereka orang yang selalu menyadari diri sebagai hamba dan Khalifah Allah SWT di muka bumi.
Pentingkah mengenal diri sendiri? Mengapa? Pertanyaan ini mungkin muncul dalam diri. Tidak semua orang merasa perlu mengenal dirinya sendiri. Dalam ilmu psikologi, proses mengenal diri sendiri dikenal dengan istilah self-awareness (kesadaran diri). Dalam banyak riset, self-awareness berkaitan dengan kepercayaan diri dan pengendalian diri yang lebih baik. Mereka yang memiliki self-awareness juga lebih jarang berbohong, curang, atau mencuri. Ujungnya mereka yang punya self-awareness cenderung mendapatkan promosi yang lebih baik dan menjadi leader yang lebih efektif. Maka, benar apa yang dikatakan oleh Aristoteles:
Namun demikian, bahasan dan definisi self-awareness sangatlah beragam. Selama 50 tahun ke belakang, istilah self-awareness marak digunakan, namun tidak banyak yang memahami esensi di baliknya. Sampai kemudian Tasha Eurich, PhD dan timnya pada tahun 2018 melakukan riset besar-besaran terkait self-awareness ini. Ia dan timnya:
Semua ini dilakukan untuk mempelajari apa yang dimaksud dengan self-awareness, mengapa kita memerlukannya, dan bagaimana kita dapat meningkatkannya. Dari riset tersebut, dihasilkan tiga kesimpulan utama sebagai berikut:
Internal self-awareness adalah seberapa jernih kita memahami nilai, hasrat, aspirasi, serta reaksi kita (termasuk pikiran, perasaan, perilaku, kekuatan, dan kelemahan), dan dampaknya pada orang lain. Dari riset disimpulkan bahwa internal self-awareness terasosiasi dengan kepuasan dalam bekerja dan membangun hubungan, kendali diri dan sosial, serta kebahagiaan. Ia juga berbanding terbalik dengan kecemasan, stress, dan depresi.
Sementara External self-awareness adalah memahami bagaimana orang lain melihat kita, dalam konteks yang sama dengan poin-poin sebelumnya. Berdasar riset, self-awareness tipe ini berkaitan dengan kemampuan menunjukkan empati dan melihat dari sudut pandang orang lain. Ini sangat bermanfaat dalam efektivitas kita sebagai seorang leader.
Riset menunjukkan, banyak orang yang menaksir terlalu tinggi (overestimate) terhadap kemampuannya. Hal ini bahkan lebih banyak terjadi di kalangan leader yang lebih tinggi. Mengapa demikian? Karena semakin tinggi posisi seseorang, semakin sedikit orang yang mau dan berani memberikan umpan balik kepadanya.
Salah satu bagian dari proses mengenal diri adalah mengenal syakilah kita. Syakilah itu adalah pembawaan, karakter, sifat, dan bakat kita. Setiap orang memiliki syakilah yang berbeda-beda. Beda syakilah, beda jalan yang dilaluinya. Mengenal diri memudahkan kita mengenali jalan hidup terbaik kita. Saya sempat menulis artikel khusus tentang ini di artikel berikut:
Salah satu bagian dari mengenal diri adalah mengenali syakilah kita. Ini akan memudahkan kita mengenali jalan hidup yang kita ambil. Tentu saja dengan tetap meminta petunjuk dari Allah, karena Allah lebih tahu tentang siapa yang lebih benar jalannya.
الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
فَالْخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِي النَّفْسِ رَاسِخَةٍ عَنْهَا تَصْدُرُ الْأَفْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرِوَايَةٍ فَإِنْ كَانَتْ الْهَيْئَةُ بِحَيْثُ تَصْدُرُ عَنْهَا الْأَفْعَالُ الْجَمِيْلَةُ الْمَحْمُوْدَةُ عَقْلًا وَشَرْعًا سُمِيَتْ تِلْكَ الْهَيْئَةُ خُلُقًا حَسَنًا. (إحياء علوم الدين ج 3 ص 49)
Ungkapan ini sering disebut sebagai hadits nabi, namun Imam Nawawi dan dan Imam Suyuthi mengatakan bahwa ungkapan ini bukanlah hadits. Kemungkinan besar, ini adalah ucapan ulama terkenal Yahya bin Muadz Ar Razi.
Salah satu tujuan manusia diciptakan dimuka bumi adalah untuk beribadah kepadanya. Ketika tujuan ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka atas rahmat Allah kita akan mendapatkan reward atau penghargaan berupa surganya. Tetapi ketika kita gagal mewujudkannya maka kita akan mendapatkan punishment atau hukuman berupa siksa nerakanya yang sangat pedih. Pemahaman akan sebuah hakikat ibadah haruslah dimengerti dengan baik oleh umat Islam. Karena jika hal tersebut tidak dipahami dengan baik maka akan menimbulkan kemalasan, keterpaksaan dan ketidakmauan untuk beribadah kepada Allah. Banyak umat Islam yang masih mengganggap bahwa ibadah merupakan beban atau hanya melahirkan hukum wajib atau sunat saja. Padahal jika kita memahami lebih dalam maka kita akan mengerti akan tatanan tersebut. Bahwa ibadah bukan hanya melahirkan hukum wajib atau sunat saja tetapi juga merupakan kebutuhan manusia yang harus ditunaikan. Ibu-Ibu PWBI (Persatuan Wirid Batak Islam) adalah merupakan perkumpulan perwidan yang berasal dari ibu-ibu mualaf (baru masuk Islam). Sebagai perkumpulan mualaf mereka sangat minim sekali akan pengetahuan ilmu agama Islam. Oleh karena itu mereka sangat membutuhkan akan bimbingan dan penguatan tentang agama Islam. Agar mereka benar-benar dapat memahami dan semakin yakin dengan agama Islam yang mereka pilih. Melihat hal ini tim pengabdian menganggap perlu mengadakan bimbingan berupa sosialisasi kesadaran beribadah dalam Islam. Diharapka kegiatan ini akan meningkatkan dan mengautkan keimanan mereka sehingga tidak tergoyahkan lagi. Karena sebenarnya fitrah seorang hamba dalam Islam adalah beribadah, hanya saja butuh penjelasan yang kongkrit tentang ibadah tersebut apa sebenarnya yang menjadi hakikat sebuah ibadah. Karena tak jarang banyak orang beragama Islam tetapi tindak tanduknya tak menunjukkan keislamnnya sehingga dia tak mau beribadah dan menjalankan syariat Allah SWT.
Masa remaja merupakan masa transisi yaitu masa perubahan dari anak-anak menuju dewasa. Masa remaja identik dengan masa yang penuh masalah, karena remaja berupaya mencari identitas diri. Remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga kadang kala melakukan tindakan yang tidak wajar, pergaulan yang tidak terbatas, sehingga dapat mengakibatkan kepribadian yang labil. Dengan adanya gejolak batin tersebut akan tampak dalam kehidupan beragama yang labil, bimbang dan mengalami kerisauan. Di samping itu jiwanya yang labil dan mengalami kegoncangan, kemampuan berpikir yang abstrak, daya kritis yang berkembang dan emosi yang meluap-luap. Hal ini mengakibatkan kesadaran dalam melaksanakan semua perintah agama menjadi terhalang. Melaksanakan perintah agama hanya ikut-ikutan teman, tanpa menghayati makna dari setiap ibadah yang dilakukan. Menyikapi perkembangan dan tantangan yang dihadapi oleh remaja khsususnya remaja Islam, maka perlu suatu pendekatan dalam membimbing, mengarahkan dan membantu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi remaja mengenai penanaman kesadaran beragama untuk mencapai pribadi yang berakhlakul karimah melalui pendekatan konseling Islami. Penerapan Konseling Islami akan membantu remaja mencapai kepribadian yang diharapkan sebagai generasi penerus bangsa dengan kepribadian yang berakhlakul karimah.
Islamic Education Teaching and Learning Strategy Curriculum Learning Method Instructional Technology strengthening education science Learning Environment Teacher Education Educational technology Learning Assessment and Education Development
This study aims to determine the literacy behavior in development to own tradition for students as a form of shifting thinking about the meaning of studying at Nurul Jadid University. The method used is the type of field research approach (field research) with a descriptive interpretative approach with observation and interview data collection techniques. The analysis technique uses content analysis. The results of the study show that through raising students' critical awareness and responsibility to be able to understand the meaning of lectures and dedication to agencies school, community and family, so that it can become a bastion of students not to behave in literacy such as Copy Paste, Over Presenting (flashy appearance); Libidinal Bazaar (quasi-project activities); laziness Study; laziness to study; just sit, come, and go home; Reluctant to go to college; Rarely do assignments; Misuse of lecture hours; prioritize UKM (Student Activity Unit) rather than going to college, besides also, through the concept of critical awareness by Paulo Freire, education from various literatures, and awareness of student responsibilities such as 1). moral responsibility, 2). social responsibility, 3). academic responsibility, 4). political responsibility. and can act as an Agent of Change, Social Control, Guardian of Value, and Iron Stock. Can give an indication to students to be serious in attending lectures. Similarly, empirically students can be responsible for playing a role in the order of life. So that's when the literacy behavior in a student's soul will be pushed aside and the creation of intellectuals and civilized people.
c80f0f1006