Gerakan 30 September 1965

0 views
Skip to first unread message

Victorio Galindo

unread,
Aug 3, 2024, 3:38:44 PM8/3/24
to ringbaleafe

Peristiwa pengkhianatan PKI tahun 1965, merupakan bentuk pengkhianatan yang dilakukan oleh oknum pemimpin negara terhadap bangsa dan rakyatnya sendiri. Sebab, negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, ternyata ada niat jahat dari kelompok tertentu untuk berkhianat dari dasar NKR yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 direncanakan diubah dengan ajaran faham komunis melalui poros Bejing, Republik Rakyat China (RRC).

Adanya upaya kelompok tertentu yang ingin mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila menjadi Nasional, Agama dan Komunis (Nasakom), mendapatkan tantangan dan perlawanan dari sebagian tokoh nasionalis, kaum agama, Adat untuk memberikan perlawnan terhada ide Nasakom yang dikembangkan oleh Ir. Soekarno, dan kawan-kawan. Ide tersebut, mendapat perlawan dari kelompok agama, dan tokoh-tokoh adat. Puncak dari pergerakan PKI di Indonesia ditandai dengan meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau yang lebih dikenal dengan peristiwa G30-SPKI, adalah sebuah peristiwa yang terjadi di tengah malam pada tanggal 30 September 1965 sampai pada awal bulan selanjutnya (1 Oktober) tahun 1965. Ketika terjadi peristiwa G-30-SPKI itu, sejumlah tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang yang lain dibunuh dalam suatu usaha kudeta militer. Dalam dokumen pemerintah, gerakan ini disebut sebagai Gerakan 30 September/PKI (G30S/PKI). Istilah lainnya yang juga digunakan untuk peristiwa itu, adalah Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu), atau Gerakan Satu Oktober (Gestok), .

Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan Partai Komunis terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Sampai pada tahun 1965 anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan para petani anggota Barisan Tani Indonesia yang berjumlah 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis serta pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.

Pada saat kunjungan Mentri Luar Negeri Indonesia, ketika dibajat oleh Subandrio ketika ke Tiongkok, maka Perdana Tiongkok (China) pada saat itu, Menteri Zhou Enlai menjanjikan, 100.000 pucuk senjata jenis chung, penawaran ini gratis tanpa syarat dan kemudian dilaporkan ke Bung Karno, tetapi pihak Mentri Zhou Enlai, belum juga menetapkan waktunya sampai meletusnya peristiwa G30S. Pada awal tahun 1965, Bung Karno atas saran dari PKI, berdasarkan tawaran perdana menteri RRC, mempunyai ide tentang Angkatan Kelima yang berdiri sendiri dan terlepas dari ABRI. Akan tetapi, petinggi Angkatan Darat tidak setuju dan hal itu akan menimbulkan nuansa curiga-mencurigai antara militer dan pihak yang berfaham PKI.

Sejak tahun 1964 sampai menjelang meletusnya G-30-S PKI, telah beredar isu sakit parahnya Bung Karno. Hal ini meningkatkan kasak-kusuk dan isu perebutan kekuasaan apabila Bung Karno meninggal dunia. Namun menurut Subandrio, Aidit tahu persis bahwa Bung Karno hanya sakit ringan saja, jadi hal ini bukan merupakan alasan PKI melakukan tindakan tersebut.

Negara Federasi Malaysia yang baru terbentuk pada tanggal 16 September 1963 adalah salah satu faktor penting dalam insiden ini. Konfrontasi Indonesia-Malaysia merupakan salah satu penyebab kedekatan Presiden Soekarno dengan PKI, dan menjelaskan motivasi para tentara yang menggabungkan diri dalam gerakan G30S/Gestok (Gerakan Satu Oktober), dan pada akhirnya menyebabkan PKI melakukan penculikan petinggi Angkatan Darat.

Posisi Angkatan Darat pada saat itu serba salah karena di satu pihak mereka tidak yakin mereka dapat mengalahkan Inggris, dan di lain pihak mereka akan menghadapi Soekarno yang mengamuk jika mereka tidak berperang. Akhirnya para pemimpin Angkatan Darat memilih untuk berperang setengah hati di Kalimantan. Tak heran, Brigadir Jenderal Suparjo, komandan pasukan di Kalimantan Barat, mengeluh, konfrontasi tak dilakukan sepenuh hati dan ia merasa operasinya disabotase dari belakang. Hal ini juga dapat dilihat dari kegagalan operasi gerilya di Malaysia, padahal tentara Indonesia sebenarnya sangat mahir dalam peperangan gerilya.

Di pihak Angkatan Darat, telah terjadi perpecahan internal yang mulai mencuat ketika banyak tentara yang kebanyakan dari Divisi Diponegoro yang kesal dan kecewa kepada sikap petinggi Angkatan Darat yang takut kepada Malaysia, berperang hanya dengan setengah hati, dan berkhianat terhadap misi yang diberikan Soekarno. Mereka memutuskan untuk berhubungan dengan orang-orang dari PKI untuk membersihkan tubuh Angkatan Darat dari para jenderal ini. Amerika Serikat, pada waktu itu sedang terlibat dalam perang Vietnam dan berusaha sekuat tenaga agar Indonesia tidak jatuh ke tangan komunisme. Peranan badan intelejen Amerika Serikat (CIA) pada peristiwa ini sebatas memberikan 50 juta rupiah (uang saat itu) kepada Adam Malik dan walkie-talkie serta obat-obatan kepada tentara Indonesia. Politisi Amerika pada bulan-bulan yang menentukan ini dihadapkan pada masalah yang membingungkan karena mereka merasa ditarik oleh Sukarno ke dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia ini.

Salah satu pandangan mengatakan bahwa peranan Amerika Serikat dalam hal ini tidak besar, hal ini dapat dilihat dari telegram Duta Besar Green ke Washington pada tanggal 8 Agustus 1965 yang mengeluhkan bahwa usahanya untuk melawan propaganda anti-Amerika di Indonesia tidak memberikan hasil bahkan tidak berguna sama sekali. Dalam telegram kepada Presiden Johnson tanggal 6 Oktober, agen CIA menyatakan ketidakpercayaan kepada tindakan PKI yang dirasa tidak masuk akal karena situasi politis Indonesia yang sangat menguntungkan mereka, dan hingga akhir Oktober masih terjadi kebingungan atas pembantaian di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali dilakukan oleh PKI atau NU/PNI.

Pandangan lain, terutama dari kalangan korban dari insiden ini, menyebutkan bahwa Amerika menjadi aktor di balik layar dan setelah dekret Supersemar Amerika memberikan daftar nama-nama anggota PKI kepada militer untuk dibunuh. Namun hingga saat ini kedua pandangan tersebut tidak memiliki banyak bukti-bukti fisik. (Artikel ini dikutip dari berbagai sumber). ***

Pada jam 3:15 pagi, 1 Oktober 1965, tujuh kumpulan tentera dalam trak dan bas-bas yang terdiri daripada askar dari Rejimen Tjakrabirawa (tugas sebagai Pengawal Presiden) dan pasukan Divisyen Diponegoro (Jawa Tengah) dan Brawijaya (Jawa Timur) meninggalkan Pangkalan Tentera Udara Halim Perdanakusuma di selatan Jakarta untuk menculik tujuh jeneral - semuanya Ketua Turus Tentera. Tiga mangsa sasaran ialah Menteri / Panglima Angkatan Darat Leftenan Jeneral Ahmad Yani, Mejar Jeneral MT Haryono dan Brigadier Jeneral D. I. Panjaitan telah dibunuh di rumah mereka. Manakala tiga lagi (Mejar Jeneral Soeprapto, Mejar Jeneral S. Parman dan Brigadier Jeneral Sutoyo) telah ditangkap hidup-hidup. Sementara itu, sasaran utama, Menteri Pertahanan dan Keselamatan Dalam Negeri dan Ketua Turus Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Jeneral Abdul Harris Nasution berjaya melarikan diri dari cubaan dengan melompat dari dinding ke dalam taman Kedutaan Iraq. Tetapi pembantu peribadi beliau, Leftenan Pierre Tandean, telah ditangkap dengan tidak sengaja selepas disangkakan sebagai Nasution dalam gelap pagi itu. Anak Nasution, Ade Irma Suryani Nasution (5 tahun), ditembak dan meninggal dunia pada 6 Oktober. Di samping itu seorang pegawai polis yang menjaga jiran Nasution, Inspektor Percubaan Polis Karel Sadsuitubun, ditembak dan dibunuh oleh kumpulan penculikan itu. Jeneral dan badan-badan rakan-rakan mati mereka dibawa ke Lubang Buaya berhampiran Lapangan Terbang Halim di mana mereka yang masih hidup telah ditembak, dan tubuh mereka dibuang ke dalam 'lubang buaya'.

Kemudian pagi itu, seramai 2,000 tentera dari Batalion 454 dari Divisyen Diponegoro dan Batalion 530 Divisyen Brawijaya menduduki dan menguasai 'Lapangan Merdeka (kini Monumen Nasional di Jakarta Pusat), dan bangunan Radio Republik Indonesia. Mereka tidak menguasai ibu pejabat Mejar Jeneral Suharto.Pada malamnya, DN Aidit selaku ketua PKI dan Timbalan Marsekal Udara Omar Dhani pergi ke lapangan terbang Halim.

Berita jam 07:00 malam menyiarkan ucapan Leftenan Kolonel Untung Syamsuri , komander rejimen Cakrabirawa , pengawal Presiden telah mengambil kawalan lokasi strategik di Jakarta, dengan bantuan unit tentera yang lain. Tujuannya adalah untuk mencegah satu cubaan rampasan kuasa oleh satu 'Ketua Majlis' dibantu oleh CIA - CIA berniat membuang Sukarno pada 5 Oktober pada hari ulang tahun ke-20 "Tentera Nasional Indonesia".Dia juga meyatakan bahawa Presiden Sukarno sedang dilindungi.Untung bergerak ke Halim . Kemudian Sukarno mendakwa dia berhampiran pesawat dan hendak meninggalkan Jakarta. Selanjutnya Radio Indonesia menyenaraikan 45 ahli Gerakan G30S dan semua tentera berpangkat dihapuskan.

Pada jam 5:30 pagi, Suharto bangun dari tidur oleh jirannya dan memberitahu kehilangan jeneral dan bunyi tembakan di rumah masing-masing. Beliau telah pergi ke ibu pejabat KOSTRAD dan cuba menghubungi pegawai-pegawai kanan yang lain. Dia berjaya menghubungi komander Tentera Laut dan Polis, tetapi gagal menghubungi Komander Tentera Udara. Beliau kemudiannya mengambil perintah Tentera Darat dan mengeluarkan perintah agar mengurung semua tentera ke berek.

Akibat perancangan yang buruk, pemimpin-pemimpin rampasan kuasa gagal menghantar tentera ke Lapangan Merdeka yang panas dan dahaga. Mereka beranggapan bahawa mereka menjaga presiden di dalam istana. Sepanjang petang, Suharto memujuk batalion Brawijaya datang segera ke Kostrad. Tentera Diponegoro bergerak Lapangan Terbang Halim. Pada 7:00 Suharto mengawal semua peralata yang sebelum ini dipegang oleh kuasa-kuasa Gerakan 30 September. Pada jam 9.00, Nasution memerintah Tentera Darat dan menghapuskan kuasa-kuasa revolusioner dan mengurung Sukarno. Beliau mengeluarkan kata dua kepada tentera di Lapangan Terbang Halim. Pada petang itu, Sukarno meninggalkan Halim dan tiba di Bogor , di mana terdapat sebuah lagi istana presiden .

c80f0f1006
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages