Kemampuantanah melewatkan air disebut permeabilitas dan nilai numeriknya dinyatakan sebagai konduktivitas hidrolika. Konduktivitas hidrolika jenuh dapat diukur dengan metode sampel tanah utuh dan metode tekstur tanah. Hasil pengukuran dari dua metode tersebut dibandingkan besarnya secara statistik dengan Uji-t Student pada tingkat kepercayaan 95%.
Pada tanah sawah beririgasi, struktur dan tekstur tanah serta bidang batas antara horizon-horizon termasuk kemungkinan adanya lapisan tapak bajak secara keseluruhannya berhubungan dengan kemampuan tanah untuk melewatkan air. Porositas berpengaruh pada bobot isi dan secara langsung mempengaruhi konduktivitas hidrolika jenuhnya. Hasilnya menunjukkan konduktivitas hidrolika jenuh yang diukut dengan metode sample tanah utuh nilainya lebih besar dibandingkan dengan hasil pengukuran metode tekstur tanah dan secara statistik berbeda nyata.
Sampel tanah utuh menggambarkan kondisi tanah yang alami, tetapi sulit sampel tanahnya terhindarkan dari getaran-getaran, adanya batu/kerikil, akar/sisa tanaman dan bahan-bahan kasar lainnya serta lubang-lubang kecil bekas jalan serangga/hewan kecil yang ikut terambil dalam sampel tanahnya. Sedangkan pengukuran dengan metode tekstur tanah pendekatannya hanya berdasarkan fraksi liat, debu dan pasir, tetapi pengambilan sampel tanahnya mudah dilakukan.
Pemboran yang efektif dan efisien merupakan pemboran yang mampu mencapai kedalaman target dalam waktu singkat tanpa menimbulkan banyak permasalahan pemboran. Salah satu faktor yang menentukan keefisienan kegiatan pemboran adalah performa dari pahat bor, antara lain Specific Energy dan hidrolika dari pahat bor. Pahat bor mengeluarkan sejumlah energi dalam upaya menghancurkan batuan formasi, yang biasa disebut dengan Specific Energy. Hidrolika merupakan peran pahat bor lainnya yang berfungsi membantu menghancurkan batuan serta menjauhkan potongan-potongannya dari dasar lubang bor dan permukaan pahat bor. Peran menghancurkan batuan formasi dimiliki baik oleh hidrolika maupun Specific Energy, untuk itu dilakukan penelitian pengaruh hidrolika terhadap energi pahat bor.
A drilling activity which can be finished on time or even shorter than planned without causing many drilling problems is called an effective and efficient drilling operation. In the process, many factors affect the efficiency of a drilling operation and one of them is drilling bit performance such as Specific Energy and its hydraulics. A drilling bit needs some amount of energy to destroy a unit volume of rock formation, and this energy is called Specific Energy. Drill bit hydraulics helps destroy the rock formation then remove the cuttings from the bottom of the hole and also cleans the bit face. This stated that when a drilling bit destroys a rock formation, it needs both some energy and hydraulics. In this paper, the hydraulics effect on Specific energy was analyzed.
Bendung Cipamingkis merupakan bendung yang terletak di Sungai Cipamingkis. Sungai ini memiliki panjang kurang lebih 59.31 Km. Adanya bangunan air menyebabkan perubahan karakteristik aliran sungai sehingga mengakibatkan terjadinya degradasi dasar sungai yang ditandai dengan hilangnya lapisan dasar sungai yang berupa butiran kasar. Oleh karena itu perlu adanya pembangunan Groundsill pada sungai Cipamingkis sehingga dapat mengatasi permasalahan degradasi morfologi sungai di bagian hilirnya. Adapun analisis yang akan dilakukan meliputi analisa hidrologi menggunakan software HEC-HMS dan analisa muka air menggunakan software HEC-RAS. Berdasarkan hasil analisa perhitungan debit banjir di jadikan persentase dari 100% diperoleh debit banjir (Q) dengan metode HSS Nakayasu kala ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, 50 tahun berturut-turut adalah 19,7%, 15,8%, 14,6%, 13,8%, dan 13,4. Pemodelan HEC-HMS kala ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun dan 50 tahun berturut-turut adalah 16%, 13,1%, 12%, 104%, dan 9%. Penampang hidrolika aliran dengan bantuan HEC-RAS diperoleh luapan banjir pada beberapa titik yaitu pada Sta. 18, 17, 16, 15, dan 14. Luapan banjir teparah terjadi pada Sta.18 yang mengalami limpasan dikedua sisi tebingnya dengan tebing kiri setinggi 2,62 m dan tebing kanan 3,62 m.
Sungai Tallo memiliki Daerah Aliran Sungai atau DAS sekitar 432.21 km. Apabila kapasitas tampungan sungai tidak mampu mengalirkan debit air maka akan terjadi luapan yang menyebabkan genangan pada daerah bantaran banjir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui debit maksimum yang melewati Sungai Tallo di Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar dan mengetahui hasil analisis hidrolika alirannya menggunakan aplikasi HEC-RAS 6.0. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan hasil yaitu nilai debit maksimum yang diperoleh sebesar 1861,75 m3/detik pada kala ulang 200 tahun. Analisis hidrolika aliran menggunakan software HEC-RAS 6.0 pada aliran sungai menunjukkan bahwa STA 0 sampai dengan 1000 merupakan jenis aliran subkritis dimana Fr Krueng Teunom merupakan salah satu sungai di Provinsi Aceh dan pernah terjadi peritiwa banjir yang dialami oleh masyarakat Teunom. Kasus terakhir banjir di kawasan teunom terjadi pada bulan Juni tahun 2021. Banjir yang terjadi pada daerah ini disebabkan oleh curah hujan tinggi dengan durasi yang lama sehingga air sungai meluap dan menggenangi daerah sekitarnya. Maka diperlukan analisa hidrologi terhadap debit banjir yang terjadi di wilayah DAS tersebut serta perlu dianalisis hidrolika Krueng Teunom dengan program HEC-RAS sebagai upaya untuk mengetahui kapasitas alur dan profil muka air sungai terhadap banjir dan untuk mendapatkan alternatif pengendalian banjir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kapasitas penampang sungai krueng Teunom mampu atau tidak mampu menampung debit banjir rencana dengan beberapa periode ulang tertentu. Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan, dengan menggunakan metode hidograf satuan sintetik Nakayasu dapat diketahui debit banjir krueng Teunom, Periode Q2 tahun = 1370,87 m3/detik, Q5 tahun = 1865,07 m3/detik, Q10 tahun = 2429,751 m3/detik, Q25 tahun = 2956,67 m3/detik, Q50 tahun = 3085,17 m3/detik, dan Q100 tahun = 3546,95 m3/detik. Berdasarkan simulasi yang telah dilakukan menggunakan software HEC-RAS dengan nilai debit banjir tertinggi terjadi pada periode ulang 100 tahun dengan ketinggian limpasan banjir pada tebing sisi kiri 3,95 m dan tebing sisi kanan 3,65 m pada STA 17+000 di daerah Alue Krueng. Alue Krueng merupakan sebuah gampong yang terletak di kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya. Untuk Mencegah Terjadinya Luapan banjir, maka sebaiknya dibuatkan dinding penahan atau tanggul di sepanjang pinggiran sungai dengan ketinggian di atas muka air banjir.
Saluran Kalidami berada di kawasan Surabaya bagian timur. Saluran ini memiliki panjang 4270 meter dengan lebar bervariasi antara 11-33 meter. Saluran Kalidami membentang dari Kelurahan Airlangga, Gubeng dan berakhir di Selat Madura. Berdasarkan Peta Genangan Kota Surabaya Tahun 2013 terdapat beberapa daerah genangan di sekitar saluran Kalidami, diantaranya pada kawasan Kertajaya, Pucang anom, Dharmawangsa, Gubeng, Mojo, dan Airlangga. Genangan yang terjadi memiliki tinggi yang bervariasi antara 10-50 cm. Pada saluran primer kalidami terdapat buzem yang dilengkapi dengan pintu air dan rumah pompa untuk pengendalian banjir. Namun, saat pompa air dihidupkan pada saat hujan, daerah hilir saluran tidak mampu mengalirkan debit buangan pompa sehingga air pada saluran meluber.
Dalam Tugas Akhir ini dilakukan perencanaan drainase pada sub sistem Kalidami dengan meninjau kondisi saluran eksisting dan menggunakan program bantu HEC-HMS dalam analisa hidrologinya. Kemudian debit hasil dari HEC-HMS digunakan sebagai input debit banjir rencana pada analisa hidrolika. Dilakukan dua kali analisa hidrolika, yang pertama dengan kondisi eksising dan yang kedua dengan dengan saluran hasil rencana. Analisa hidrolika untuk saluran tersier menggunakan perhitungan analitik sedangkan untuk saluran sekunder dan primer menggunakan program bantu HEC-RAS.
Berdasarkan hasil analisa kondisi eksisting diperoleh bahwa genangan air yang terjadi pada DAS Kalidami terjadi karena kapasitas saluran yang tidak mampu mengalirkan debit banjir, baik akibat dimensi saluran yang kurang lebar, adanya sedimentasi maupun banyaknya sampah di saluran. Kapasitas saluran primer Kalidami saat ini tidak dapat mengalirkan debit banjir rencana, sehingga dibutuhkan perencanaan baru. Lebar saluran sekunder yang diperlukan berkisar antara 2 meter sampai 7 meter dengan kedalaman 2,5 meter. Sedangkan lebar saluran primer yang diperlukan adalah 12 meter pada bagian hulu kemudian melebar hingga 40 meter pada bagian hilir yang berbatasan dengan laut dengan kedalaman 2,5 meter. Kapasitas boezem dengan 5 buah pompa berkapasitas 1,5 m3/dt serta 2 buah pompa berkapasitas 3 m3/dt yang ada saat ini dapat berfungsi mengalirkan debit banjir rencana.
Ansori, M. B., Carlier, E. Sediment Transport in Meandering River (Application to Hydraulics River Management and Contribution to an Albert Einstein's Theory Validation), Proceeding Seminar Nasional Pascasarjana XI, 2012.
ABSTRAK
Sebagian wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas memiliki tipologi akuifer sedimen terlipat yang tersusun atas
batuan berumur Tersier Formasi Halang, Kumbang, dan Tapak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik
hidrolika dan potensi air tanah batuan tersebut berdasarkan analisis uji pemompaan sumur bor air tanah. Hasil analisis
menunjukkan batuan tersebut memiliki karakter akuifer semitertekan hingga tertekan. Nilai konduktivitas hidrolika
dan permebilitas intrinsik menunjukkan batuan tersebut relatif bersifat sebagai akuifer dengan karakter hidrolika sama
dengan lanau, lanau pasiran, dan pasir lempungan. Kuantitas air tanah berdasarkan transmisivitas akuifer menunjukkan
potensi jelek hingga sedang untuk kebutuhan domestik, dan potensi sangat jelek untuk kebutuhan irigasi. Nilai
kapasitas jenis sumur bor menunjukkan pemompaan dengan debit 1 hingga 2 l/det. masih bisa diharapkan.
Kata kunci: karakteristik hidrolika, air tanah, sedimen tersier, uji pemompaan
ABSTRACT
Parts of the Cilacap and Banyumas Regencies have folded sedimentary aquifer typology that consist of Tertiary
Sediment of Halang, Kumbang, and Tapak Formations. This study was conducted to determine the hydraulic
characteristics and groundwater potential of these rocks based on a pumping test analysis. The analysis shows the
rocks have confined and semiconfined aquifer characters. Based on rock hydraulic conductivity and permeability
values, the aquifer has similar character to silt, sandy silt, and silty sand. Groundwater quantity, based on aquifer
transmissivity, indicates poor to moderate for domestic need and insufficient for irrigation purpose. The specific
capacity value shows that pumping rate of 1 to 2 l/sec. can be expected.
Keywords: hydraulic characteristics, groundwater, tertiary sediment, pumping test
3a8082e126