Perkembanganindustri kelapa sawit di Indonesia tidak terlepas dari peran bahan tanam yang digunakan oleh para pelaku usaha perkebunan kelapa sawit. Bahan tanam unggul kelapa sawit merupakan modal dasar untuk mencapai produktivitas dan mutu minyak sawit yang tinggi. Kontribusi biaya bahan tanam terhadap total biaya produksi sampai dengan menghasilkan umumnya relatif kecil yaitu sekitar 5 % (Pardamean, 2017), tetapi apabila salah dalam memilih benih maka dampaknya sangat besar terhadap keberhasilan budidaya kelapa sawit dalam jangka panjang sebab penggunaan benih tidak bermutu dapat mengakibatkan penurunan produktivitas sampai 50 %. Pemilihan bahan tanam kelapa sawit dengan kualitas unggul dapat menjamin tingkat produksi yang stabil untuk masa ekonomi selama 25 tahun. Penggunaan benih unggul kelapa sawit akan menghasilkan tanaman kelapa sawit yang mampu memproduksi TBS dan minyak yang tinggi sehingga industri kelapa sawit menjadi lebih efektif dan efisien.
Varietas unggul kelapa sawit diperoleh dari hasil persilangan tetua Dura dan Pisifera yang akan menghasilkan varietas D x P hibrida atau yang dikenal dengan Tenera. Karakter unggul varietas kelapa sawit dapat dilihat dari mutu genetis (potensi hasil tinggi), mutu fisiologis (daya tumbuh), dan mutu morfologis (keseragaman dan higienitas benih). Proses mendapatkan varietas unggul kelapa sawit membutuhkan waktu yang cukup lama melalui proses yang sangat panjang untuk menjamin kualitas benih yang dihasilkan. Oleh sebab itu, benih kelapa sawit unggul tidak bisa didapatkan dari benih asalan melainkan harus berasal dari sumber benih kelapa sawit resmi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Produsen benih kelapa sawit PT. Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi yang merupakan anak perusahaan PT. Astra Agro Lestari Tbk baru saja merilis 3 (tiga) varietas unggul kelapa sawit. Tiga varietas kelapa sawit PT. Astra Agro Lestari yang baru saja dilepas oleh Tim Pelepasan Varietas (TPV) Tanaman Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian RI, antara lain:
1. Varietas D x P AAL Sejahtera yang merupakan hasil dari persilangan antara tetua dura Dabou terpilih dengan tetua pisifera Yangambi dan telah dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor : 16/Kpts/KB.020/01/2021 pada tanggal 29 Januari 2021.
2. Varietas D x P AAL Nirmala yang merupakan hasil dari persilangan antara tetua dura Dabou terpilih dengan tetua pisifera La M x SP 540 dan telah dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor : 15/Kpts/KB.020/01/2021 pada tanggal 29 Januari 2021.
3. Varietas D x P AAL Lestari yang merupakan hasil dari persilangan antara tetua dura Dabou terpilih dengan tetua pisifera La M dan telah dilepas berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor : 13/Kpts/KB.020/01/2021 pada tanggal 29 Januari 2021.
Berdasarkan aspek mutu genetis, mutu fisiologis, dan mutu morfologis, ketiga varietas kelapa sawit tersebut memiliki banyak keunggulan. Berikut ini adalah keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh ketiga varietas kelapa sawit milik PT. Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi - Astra Agro Lestari :
Ketiga varietas unggul kelapa sawit milik PT. Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi memiliki keunggulan dalam hal pertumbuhan meninggi yang lambat. Jika dilihat dari rata-rata pertumbuhan batang yang hanya 40 cm per tahun, maka diperkirakan pada saat umur tanaman 25 tahun tinggi maksimal tanaman hanya 10 meter. Pertumbuhan tersebut jauh lebih pendek dibandingkan varietas yang saat ini telah beredar. PT. Astra Agro Lestari mengklaim bahwa varietas unggul kelapa sawit miliknya dapat memperpanjang umur ekonomis tanaman hingga berumur 30 tahun dengan produktivitas yang masih cukup baik sebab mayoritas varietas kelapa sawit yang saat ini beredar harus direplanting pada umur 25 tahun. Selain itu, dengan sex rasio atau perbandingan bunga betina dengan total yang ada dinilai cukup ideal sehingga mampu melakukan penyerbukan secara alamiah di lapangan tanpa dibantu secara manual.
Ketiga varietas unggul kelapa sawit milik PT. Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi juga memiliki keunggulan dalam hal produksi dan produktivitas. Ketiga varietas tersebut mampu menghasilkan Tandan Buah Segar (TBS) rata-rata mencapai 30 ton per hektar per tahun dengan produksi minyak (CPO) diatas 7 ton per hektar per tahun. Hal tersebut sesuai dengan tujuan utama dari pemuliaan tanaman kelapa sawit yaitu menghasilkan produktivitas TBS ton per hektar dan/atau produktivitas CPO ton per hektar yang tinggi.
Ketiga varietas unggul kelapa sawit milik PT. Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi memiliki cangkang/tempurung yang tipis yaitu kurang dari 2 mm, daging buahnya (mesocarp) sangat tebal diatas 80 %, tandan buah lebih banyak, dan rendemen minyaknya yang tinggi yaitu diatas 23 %.
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium bahwa minyak (CPO) yang dihasilkan oleh ketiga varietas unggul kelapa sawit milik PT. Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi memiliki kandungan asam lemak jenuh dan tidak jenuh yang berimbang.
Sifat bahan tanam juga dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam budidaya kelapa sawit. Sumbernya harus berasal dari produsen benih yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan disesuaikan dengan karakteristik lingkungan serta jenis tanahnya. Ketiga varietas unggul kelapa sawit milik PT. Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi memiliki adaptasi yang sangat baik di lahan gambut dengan tipe lahan datar dan bergelombang sehingga cocok dikembangkan di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Jarak tanam yang dianjurkan yaitu segitiga sama sisi 9 m x 9 m x 9 m sehingga dalam satu hektar terdapat populasi tanaman sebanyak 143 pohon.
Media Indonesia. (2021). Astra Agro Lestari Luncurkan 3 Varietas Bibit Unggul Kelapa Sawit. [Daring]. Tersedia : -agro-lestari-luncurkan-3-varietas-bibit-unggul-kelapa-sawit Diakses tanggal 30 Oktober 2021.
Berada di lingkungan di kampus Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi tak ubahnya seperti kembali ke kampung halaman. Suasananya sepi dan tenang, lingkungannya yang hijau dan bersih, sangat ...
Industri kelapa sawit di dunia, terutama CPO (crude palm oil) terus menunjukkan tren positif. Permintaan minyak kelapa sawit kian meningkat dari tahun ke tahun. Posisi strategis ini semakin terasa sejak tahun 2005. Di ...
Kehadiran Politeknik Kelapa Sawit CWE yang memiliki tujuan dan orientasi yang jelas serta terfokus pada industri kelapa sawit merupakan kebutuhan yang amat mendesak untuk menyediakan sumber daya manusia kelapa sawit ya ...
Kelapa sawit adalah jenis tumbuhan yang termasuk dalam genus Elaeis dan ordo Arecaceae. Tumbuhan ini digunakan dalam usaha pertanian komersial untuk memproduksi minyak sawit. Genus ini memiliki dua spesies anggota. Kelapa sawit Elaeis guineensis adalah spesies kelapa sawit yang paling umum dibudidayakan di dunia, terutama di Indonesia, dan sumber utama minyak kelapa sawit dunia. Kelapa sawit Elaeis oleifera[1] adalah tanaman asli Amerika Selatan dan Tengah tropis,[2] dan digunakan secara lokal untuk produksi minyak.
Kelapa sawit merupakan tumbuhan industri sebagai bahan baku penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia.[3] Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Terdapat beberapa spesies kelapa sawit yaitu E. guineensis Jacq., E. oleifera, dan E. odora. Varietas atau tipe kelapa sawit digolongkan berdasarkan dua karakteristik yaitu ketebalan endokarp dan warna buah. Berdasarkan ketebalan endokarpnya, kelapa sawit digolongkan menjadi tiga varietas yaitu Dura, Pisifera, dan Tenera, sedangkan menurut warna buahnya, kelapa sawit digolongkan menjadi tiga varietas yaitu Nigrescens, Virescens, dan Albescens. Secara umum, kelapa sawit terdiri atas beberapa bagian yaitu akar, batang, daun, bunga dan buah. Bagian dari kelapa sawit yang diolah menjadi minyak adalah buah.[4]
Buahnya berwarna kemerahan, seukuran plum besar, dan tumbuh dalam tandan besar. Setiap buah terdiri dari lapisan luar yang mengandung minyak (perikarp), dengan biji tunggal (inti sawit), juga kaya akan minyak.
Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.
Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelepah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelepah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.
Kedua spesies, E. guineensis dan E. oleifera dapat menghasilkan hibrida subur. Genom E. guineensis telah diurutkan, yang memiliki implikasi penting untuk membiakkan tanaman yang lebih baik.[5]
Karena minyak kelapa sawit mengandung lebih banyak lemak jenuh daripada minyak yang terbuat dari kanola, jagung, biji rami, kacang kedelai, safflower, dan bunga matahari, minyak kelapa sawit dapat tahan terhadap panas yang ekstrem dan tahan terhadap oksidasi.[6] Ini tidak mengandung lemak trans, dan penggunaannya dalam makanan telah meningkat sebagai hukum pelabelan makanan dan telah mengubah dalam penentuan kandungan lemak trans. Minyak dari Elaeis guineensis juga digunakan sebagai biofuel.
3a8082e126