Rubaiyatadalah jalan suci bagi pikiran manusia, sebuah petualangan pikiran dan puisi yang membuat kita terhubung, secara pribadi, antara abad ke-11 Persia dan dunia modern. Imaji Rubaiyat begitu liar, berwarna, dan berkesan. Rubaiyat menjadi inspirasi bagi T.S. Eliot, Yeats, dan beberapa penyair besar lainnya.Robert Richardson Baca Selengkapnya...
Apa itu Metode Rubaiyat ? dan Apa arti dari metode rubaiyat ? Belajar al quran dengan Metode Rubaiyat atau metode mengaji atau membaca rubaiyat adalah solusi belajar baca al quran dengan cepat, yaitu hanya dengan 4 sesi pembelajaran saja.Contoh belajar alquran dapat dilihat di Vidio dibawah ini. Silahkan Sahabat sahabat untuk mendownload vidio rubaiyat tersebut, kita juga dapat melihat vidio testimoni dan mengetahui kelebihan dan kekurangan metode rubaiyat tersebut.
Jamal D. Rahman adalah seorang penyair sekaligus pemimpin redaksi majalah sastra Horison. Kini mengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan kemudian IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Menyelesaikan S2 pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), dan kini mahasiswa S3 di FIB-UI.
Sejak tahun 2000, aktif keliling Indonesia dalam rangka pelatihan sastra untuk guru-guru bahasa dan sastra Indonesia SD, SMP, dan SMA. Aktif pula keliling Indonesia dalam rangka mendorong minat baca, menulis, dan apresiasi sastra di kalangan siswa. Dia telah mengunjungi sekitar 200 sekolah di 160 kota di seluruh provinsi kecuali Maluku dan Papua, dalam rangka acara Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB).
Ukuran ekspresif berpegang pada prinsip kebenaran dan kejujuran. Kritik sastra yang menggunakan pendekatan ekspresif adalah menelaah aspek-aspek kejiwaan , pemikiran, ide-ide, emosi, pandangan hidup, dan sebagainya dari pengarang. Pendekatan ekspresif menginterpretasi karya sastra dengan menitik beratkan hubungan karya sastra dengan pengarangnya.
Pendekatan ekspresif ini memanfaatkan data sekunder , data yang di angkat melalui aktifitas pengarang sebagai subjek pencipta . Pendekatan ekspresih mencakup wilayah diri penyair, pikiran, perasaan, dan ciptaanya.
Puisi Rubaiyat Matahari adalah puisi yang kesekian yang ditulis oleh Jamal D. Rahman. Ke khasan pengarang yang dapat saya singgung yaitu pada kerelijiusitasan pengarang yang tak lepas mungkin mendasar pada pengalamannya sebagai redaktur jurnal pemikiran Islam Islamika (1993-1995), wartawan majalah Ummat (1995-1999) juga kini mengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tiap bait juga tidak luput dari metafor-metafor, puisi yang dibuatnya kadang tidak jauh dari pengalamannya di tanah Madura, tanah kelahirannya akan rasa dan kegelisahan pengarang terhadap apa yang dialaminya.
Dalam puisinya beliau memposisikan penyair sebagai tokoh utamnya (aku lirik). Puisi ini di awali dengan pembukaan yang mengesankan, begitu Tuhan memiliki peranan yang sangat besar. Pada bait pertama, yang tampak pada larik pertama adalah kata bismilah yang mencerminkan penyair sebagai tokoh relijius yang tak pernah lupa akan doa di awal segala apa yang akan dilakuaknya. Dengan bismilah berdarah di rahim sunyi juga kata rahim yang memilki makna kasih sayang. Sangat imajinatif. Kata bismilah pun dapat saya maknai dengan arti doa, semua yang kita jalani dan lakukan tidak akan lepas dari kata bismilah yang merupakan awal kita melakukan sesuatu hal. Dan disegala doanya tak lepas nama tempat yang menjadi kehidupannya untuk tetap terus memberikan kehangatan dan cahaya.
Penyair sangat memperhatikan kohesi dan koherensi puisi, /Aku bakar langit temaram/ jika dig anti dengan /Aku bakar mega temaram/ maka tidak begitu indah mengucapkannya. Terlihat di setiap larik dalam bait puisi, puisi yang mengabungkan pantun, syiir, dan rubaiyat ini, tampak lebih indah dibaca serta membuat nalar para pembaca tergugah untuk menggunakan kemampuan mata hatinya untuk berimajinasi dan menalar semua yang tertuliskan dalm bait puisi, melihat benda-benda, warna, mendengar deru ombak, suasana senja, malam, lautan, teriknya matahari yang membanggakan, hujan yang membuat gelisah juga kekhusyuan dalam berdoa.
Puisinya tak terikat akan kaidah pantun, syiir, maupun rubaiyat itu sendiri. Mungkin itu karena beliau lebih dulu membuat puisi-puisi bebas yang tentu saja tak lepas dari ruang lingkup Madura yang bahkan tampak pada puisi ini. Atas sepi perahuku bercahaya/Membawa matahari kejantung Madura/Atas bara api cintaku menyala/Menantang matahari dilubuk semesta
Citraan yang diambil berbeda-beda di setiap lariknya dan menggabungkannya menjadi satu. Pertama citraan bersumber dari pengalaman pribadi atau pengalamn penyair sendiri dan bersumber keagamaan. Beliau menuangkan citraan tersebut dilihat dari kata-kata yang tampak. Citraan yang bersumber dari pengalaman pribadi atau pengalaman penyair sendiri ditunjukkan dalam naskah puisi tersebut, dengan menuliskan Dengan bismilah berdarah di rahim sunyi/Kueja namamu di rubaiyat matahari/Kau denggar aku menangis sepanjang hari/Karena dari November-desember selalu lahir januari/Dari pintu ke pintu ketukanku kembali/Tak lelah-lelah mencari januari di reremang pagi/Dan rindu ke rindu aku pun mengaji/Tak tama-tamat membaca cinta di aliflamim puisi
Dari puisi-puisinya Beliau memposisikan pengarang sebagai tokoh utama (aku-lirik). Puisi-puisinya sepert Rubaiyat Matahari, Rubaiyat Februari, Rubaiyat Nopember, Rubaiyat Januari, Dekaplah waktu, Dekaplah Aku 1, Dekaplah Waktu, dan Dekaplah Aku 2 dan lain-lain. Jamal D. Rahman, kiprahnya kini di dunia sastra luar biasa dan kini dengan puisi Rubaiyatnya, beliau memberikan warna baru terhadap sastra Indonesia.
Menyelami puisi karya Jalaludin Rumi diibaratkan menyelami palung Mariana yang sulit diterka ujungnya, sebab bagaimanapun saya sebagai pembaca kebingungan untuk menguraikannya, hal itu dikarenakan Jalaludin Rumi kerap menggunakan bahasa yang sebenarnya sederhana namun tidak bisa saya mengerti.
Dalam hal ini sudah jelas kemampuan tasawuf saya dan pemahaman saya dalam mengartikan keinginan Rumi itu sendiri seolah berhadapan langsung dengan jalan buntu; saya tidak bisa bergerak kemana-mana selain harus mundur kebelakang.
Jadi pada tulisan saya ini, saya tidak berharap banyak bisa membuat para pembaca bergairah dengan review yang akan saya lakukan, saya bahkan merasa---kendati belum menulis---gagal untuk menyampaikannya.
Mengenai Maulana Jalaludin Rumi, saya dulu hanya pernah mendengar namanya sebagai seseorang yang besar dan masyhur pada zamannya. Saya kerap mendengarnya sebagai salah satu tokoh tasawuf terkemuka dan sastrawan dari Timur yang namanya melambung ke angkasa.
Namun saya masih belum paham mengapa hal itu terjadi, karena sedari dulu saya pernah membaca sedikit tentang puisinya namun tetap kebingungan; apa yang bisa dikaji dari puisi-puisinya yang membingungkan?
Kemiskinan yang menghadapinya bukan tanpa sebab, karena sebagai seorang yang bergelut pada dunia tasawuf maka adalah hal yang lumrah untuk meninggalkan kehidupan dunia dan berperilaku zuhud. Temannya ini hidup disamping pantai, memakan tulang ikan yang ia temukan hanya karena kezuhudannya.
Maka ketika ia bertemu dengan Jalaludin Rumi, berpendapatlah temannya ini "Duhai Rumi! Mengapa engkau jadikan dunia sebagai singgasanamu, mengapa engkau tidak berperilaku zuhud? Mengapa engkau jatuh dalam kemewahan dunia?"
Maka Jalaludin Rumi dengan santai berkata "Wahai kawanku, ketahuilah bahwa sesungguhnya zuhud bukan berarti miskin papa dan menderita, kehidupan dunia tidak pernah menggenggamku namun akulah yang menggenggamnya, tidak sepertimu yang memakan tulang ikan agar engkau berperilaku zuhud namun di hatimu engkau menginginkan kenikmatan dunia yang kumiliki"
Tidak seperti puisi-puisi Jalaludin Rumi yang multitafsir, kitab Fihi Ma Fihi nyatanya lebih mudah masuk ke logika, sebab mungkin diisi dengan penjelasan dan prosa-prosa yang indah. Bahkan Fihi Ma Fihi, kendati tidak semua ilmunya terserap oleh saya, namun saya menyadari bahwa saya telah terkontaminasi oleh beliau dan bahkan menjadikan pemikirannya menjadi salah satu landasan pemikiran dalam hidup saya.
Namun dari blurb dan kata pengantar buku ini, Kuswadi Syafie'e selaku penerjemah mengatakan bahwasanya Rubaiyat adalah salah satu karya besar Jalaludin Rumi, dan selanjutnya Kuswadi sedikit menafsirkan beberapa syair Rumi dan menjabarkannya lebih lebar, namun saya tetap tidak bisa memahaminya.
Mengenai kitab Rubaiyat, seperti yang saya katakan sebelumnya ia berisi puisi-puisi karya Jalaludin Rumi, dan dalam buku ini, setidaknya ada 50 puisi karya beliau yang termuat bersama ilustrasi-ilustrasi yang nampaknya untuk memudahkan pembaca berimajinasi dan memahami keinginan Jalaludin Rumi.
Aduh, sungguh waktu telah berlalu
Sementara kami para pecinta
Berada di samudera yang pantainya tidak kelihatan
Hanya ada perahu, malam, dan mendung
Kami berlayar pada samudera kebenaran
Dengan karunia dan petunjuknya
Dalam tafsiran saya, Rubaiyat ketujuh ini sedang menyampaikan bagaimana Jalaludin Rumi dan pecinta-Nya melewati hari-hari tanpa kepastian yang akan berakhir dimana. Sebab mereka sedang berada pada samudera kehidupan dan sedang menunggu kapan kehidupan itu akan berakhir.
Kemudian bait selanjutnya yang adalah tiga bait terakhir sedang mengutarakan bagaimana kehidupan itu sendiri. sebagai seorang sufi, perahu yang dimaksud diibaratkan dirinya yang hanya membawa diri, sementara malam mengindikasikan bagaimana hari-hari berlalu, atau juga mengindikasikan bagaimana para sufi terjaga setiap malam untuk beribadah, sementara mendung mengindikasikan bagaimana kehidupan yang memiliki ritme kesedihan.
Dan bait terakhir, dengan karunia dan petunjuknya kemungkinan merujuk kepada Al-Quran, atau merujuk kepada dunia dan Al-Quran. Sebab dunia itu sendiri merupakan suatu karunia sementara petunjuk kehidupan sudah jelas adalah Al-Quran dan Sunnah.
3a8082e126