Pada generasi selanjutnya, hadir beberapa ulama yang menulis kitab dengan pembahasan sirah nabawiyah secara khusus. Di antara yang cukup populer dalam generasi penulis pertama adalah Muhammad bin Ishaq bin Yassar (w. 152 H).
Mayoritas ulama dan pakar hadits sepakat bahwa seluruh riwayat Muhammad bin Ishaq terpercaya, kecuali yang diperolehnya dari Malik dan Hisyam bin Urwah bin Zubair karena keduanya dinilai cedera (jarh) sebagai seorang rawi.
Karena memang kitab ini ringkasan kitab Ibnu Ishaq. Pembahasan terkait kehidupan Nabi Muhammad dalam kitab ini dimulai sejak Nabi lahir sampai kewafatannya. Kitab tersebut juga menyajikan pembahasan dengan detail dan jelas. Selain itu juga menghindari syair-syair Arab dan beberapa riwayat dari kitab Ibnu Ishaq yang dinilai tidak memiliki sanad kuat. Artinya, meski kitab ini ringkasan dari Ibnu Ishaq, tetapi bukan sebatas meringkas, melainkan sudah melalui penelitian ilmiah yang cukup matang.
Kenyataan di atas menunjukkan kitab-kitab sirah nabawiyah masih saling melengkapi. Artinya, memang belum ada yang komprehensif. Oleh karena itu, as-Shallabi mencoba menyusun sebuah kitab sirah nabawiyah yang mencakup banyak hal. Bahkan, as-Shallabi tidak sebatas menyajikan data sejarah yang komplit, tetapi juga hikmah-hikmah yang terkandung dalam setiap peristiwa sejarah Nabi saw.
Menyadari akan hal itu, as-Shallabi dalam kitab sirah nabawiyah-nya, di samping menyajikan data sejarah yang lengkap, juga turut menuliskan hikmah dan pelajaran dari setiap kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad saw. as-Shallabi sendiri mengakui bahwa penjabaran hikmah dan pelajaran yang ia cantumkan bukan didapatkkan dari kebanyakan kitab-kitab sirah nabawiyah sebelumnya, melainkan dari kitab-kitab syarah hadits seperti Fathul Bari, Syarah Sahih Muslim, dan lain sebagainya.