tirto.id - Kumpulan contoh soal PAT Sejarah Indonesia kelas 11 semester 2 berikut dapat menjadi bahan latihan peserta didik menjelang ujian. Para guru juga bisa menggunakan sejumlah soal Sejarah Indonesia kelas 11 semester 2 itu untuk acuan membuat materi ujian.
Download Zip ✒ ✒ ✒ https://xiuty.com/2yKqJN
Mempelajari contoh soal Sejarah Indonesia kelas 11 semester 2 dan jawabannya menjadi latihan penting bagi peserta didik jelang PAT. Sebab, PAT adalah kegiatan ujian penilaian yang dilakukan di akhir semester genap.
32. Bagaimana reaksi Mayor Jenderal Nishimura saat petinggi militer Jepang itu mendengar rencana proklamasi kemerdekaan Indonesia yang disampaikan Soekarno dan Hatta setelah keduanya kembali dari Rengasdengklok?
33. Setelah ada berita Jepang menyerah pada Sekutu, para pemuda mendesak agar kemerdekaan Indonesia secepatnya diproklamasikan, sehingga terjadi peristiwa Rengasdengklok. Apa alasan para pemuda mendesak Sukarno-Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia?
Strategi Jepang dalam menguasai wilayah Indonesia pada Perang Dunia II didasari oleh perencanaan matang yang dilaksanakan di tengah kekacauan situasi dunia, terutama Asia Pasifik. Jepang juga sejak lama mengirimkan mata-mata ke Indonesia untuk memahami kondisi di berbagai daerah dan kekuatan militer pemerintah Hindia-Belanda.
Jepang juga telah membangun kekuatan militer kuat dan terorganisasi rapi sehingga mampu melancarkan serangan cepat dan efektif. Jepang bisa mengombinasikan serangan udara, laut, dan darat yang masuk ke berbagai wilayah Indonesia dalam Waktu singkat.
Bala tantara Jepang masuk ke Indonesia pertama kali pada 11 Januari 1942 melalui Tarakan, Kalimantan Timur, wilayah yang kaya akan sumber minyak. Hanya dua bulan setelahnya, pemerintah Hindia Belanda resmi menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada 8 Maret 1942. Penyerahan Hindia Belanda tanpa syarat tersebut ditandatangani di Kalijati, Subang.
Sifat pendudukan Jepang di Indonesia adalah militeristik dan menindas sehingga menyebabkan banyak rakyat Indonesia sengsara. Namun, Jepang juga menampakkan sikap yang berbeda pada saat awal masuk ke Indonesia.
Pada awal berkuasa di Indonesia, Jepang menunjukkan sikap lunak untuk tujuan propaganda dan menarik simpati rakyat. Jepang ingin mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia dalam perang dunia II. Sikap itu berubah drastis ketika Jepang sudah berkuasa secara penuh di Indonesia. Aparat militer Jepang bertindak kejam untuk memaksa rakyat Indonesia melakukan kerja paksa dan mengikuti permintaan mereka. Tentara Jepang juga menindak keras setiap gerakan perlawanan rakyat Indonesia secara brutal.
Pada awal pendudukannya di Jawa, Jepang menarik simpati rakyat dengan memberikan harapan merdeka dan terbebas dari penjajahan Belanda. Jepang juga merombak struktur pemerintahan. Jabatan tinggi yang dulu hanya dipegang oleh pejabat Belanda diserahkan kepada orang Indonesia dan Jepang. Namun, Jepang setelah itu memberlakukan pemerintahan militer yang keras dan kejam. Tak hanya menindas perlawanan rakyat Indonesia, Jepang juga mengerahkan banyak rakyat di Jawa untuk kerja paksa (kerja rodi). Jepang juga aktif merampas hasil panen padi petani di Jawa. Akibatnya kemiskinan dan kelaparan melanda Jawa. Sebagian penduduk di Jawa bahkan terpaksa makan bonggol pisang karena kelangkaan makanan. Kekurangan pakaian juga dialami penduduk di Jawa selama penjajahan Jepang.
Ada dua tujuan Jepang menjajah Indonesia. Pertama, Jepang ingin menghapus pengaruh penjajah dari Eropa di Indonesia. Kedua, Jepang ingin menguasai sumber daya alam dan memobilisasi rakyat Indonesia untuk kepentingan mereka dalam Perang Dunia II, khususnya dalam perang Asia Timur Raya.
Pemerintahan Jepang di Indonesia berbeda dari pendahulunya, Hindia Belanda, yang terpusat. Jepang membagi pemerintahan Indonesia menjadi 3 wilayah otoritas militer yang terpisah dan memiliki kebijakan berlainan. Pertama, Sumatra dikuasai oleh Angkatan Darat (Rikugun) ke-25 dengan pusatnya di Bukittinggi. Kedua, Jawa dan Madura diperintah Angkatan Darat (Rikugun) ke-16. Ketiga, Kalimantan dan Indonesia Timur diperintah oleh Angkatan Laut (Kaigun).
Ketika Jepang berkuasa, pejabat-pejabat kolonial Hindia-Belanda segera diberangus. Posisinya digantikan oleh orang Indonesia dan Jepang. Sebagian pejabat lama asli Indonesia juga dipertahankan dan bahkan naik jabatan. Namun, pejabat-pejabat pribumi itu kemudian justru menjadi kaki-tangan Jepang dalam menindas rakyat Indonesia. Akibatnya, Ketika kekuasaan Jepang melemah, para pejabat lokal itu menjadi sasaran kemarahan rakyat, seperti di Sumatra Timur, Brebes, Tegal, Pemalang, dan lain sebagainya.
Penjajahan Jepang membuka peluang bagi anak muda Indonesia untuk mendapatkan keterampilan militer. Pada dasarnya, militer Jepang melatih banyak pemuda guna menjadikan mereka tenaga bantuan yang menyokong bala tantara Dai Nippon dalam Perang Dunia II. Melalui berbagai pelatihan militer dan semi militer, banyak pemuda Indonesia memiliki keterampilan berperang sehingga pada 1945 dapat merampas senjata militer Jepang dan mempertahankan kemerdekaan.
Banyak pemuda Indonesia mendapatkan keterampilan perang dari organisasi-organisasi militer bentukan Jepang, seperti Heiho (prajurit pembantu Jepang), PETA (Pembela Tanah Air), dan Giyugun. Pelatihan juga didapatkan dari organisasi semimiliter bentukan Jepang, seperti Seinendan (Barisan Pemuda Indonesia) dan Keibodan (Organisasi Keamanan).
Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu karena kalah di berbagai front Perang Dunia II di Asia Timur dan Asia Tenggara. Puncaknya, Amerika Serikat yang menjadi bagian dari Sekutu dalam Perang Dunia II menjatuhkan bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Serangan bom atom dari AS itu membuat Jepang kalah telak dan terpaksa menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.
Para pemuda mengizinkan Sukarno dan Hatta Kembali ke Jakarta dari Rengasdengklok karena Ahmad Subarjo berhasil meyakinkan mereka dan menjamin bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945.
7fc3f7cf58