
Sejak revitalisasi Kota Tua Jakarta, ada dua kata yang seringkali disebut pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI, industri kreatif. Dua kata tadi biasa ditambahkan dengan kata lain, sentra industri kreatif.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu pernah sedikit menjabarkan, industri kreatif yang bisa dikembangkan di Kota Tua antara lain, galeri, musik, restoran, dan mode. Kemudian orang nomor satu DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menyebutkan rencana pemindahan salah satu kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ke Oud Batavia.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Parbud) DKI Jakarta Arie
Budhiman pun menyinggung soal industri kreatif, dengan menyatakan Kota
Tua akan disulap menjadi pusat seni budaya, "Hollywood van Batavia"
-meski tambahan "wood" itu sudah ada di Batavia sejak masa anak wayang
di zaman Belanda, yaitu Tangkiwood.
Pada masanya, Tangkiwood yang kini jadi Jalan Tangki Lio Timur di
kawasan Tamansari, Jakarta Barat, melahirkan anak wayang (seniman
panggung) yang berjaya, sebut saja Tan Tjeng Bok, Wolly "Mak Wok"
Sutinah, Fifi Young, Leila Sari, bahkan Idris Sardi. Seiring masa,
Tangkiwood kini tak lebih dari sebuah kawasan kumuh.
Kembali ke dua kata "mantra" industri kreatif para pejabat, yang tak
kunjung kelihatan batang hidungnya di kawasan Kota Tua yang "baru".
Kawasan itu malah makin kumuh, makin kotor, makin banyak sampah
bertumpuk, makin tak jelas siapa yang bertanggungjawab.
Kali ini saya tak berniat masuk terlalu dalam soal kondisi "the
new" Kota Tua berharga puluhan miliar rupiah itu. Mari kita
menelusur apa itu industri kreatif, termasuk di dalamnya, ruang kreatif,
lebih besar lagi, kota kreatif.
Adalah Charles Landry, lewat buku The Creative City: A Toolkit for
Urban Innovators, memperkenalkan ide tersebut pada tahun 2000.
Gerakan kota kreatif (creative city) itu langsung mendapat
perhatian khalayak dunia, khususnya para wali kota dunia, serta mereka
yang bergelut di bidang pengembangan ekonomi dan budaya.
Landry mengatakan, creative city adalah sebuah tempat di
mana orang merasakan, bahwa mereka bisa berpikir bertindak, berencana
dengan imajinasi. Sebuah kondisi di mana ada perbedaan kepemimpinan,
komunitas publik, dan swasta tapi tetap memberikan perasaan pada
masyarakat bahwa ada sebuah sikap atau budaya "ya" untuk kehidupan.
Budaya toleransi pada perbedaan, toleransi pada perubahan, dan pada
banyak hal sehingga semua orang bisa berkembang dan mengembangkan diri.
"Dan creative city itu tidak lantas secara eksklusif tentang
seni meskipun seni merupakan elemen kuat dari sebuah kreativitas. Tapi
ini (creative city) lebih sebagai ide yang luas," ujar Landry
dalam sebuah wawancara beberapa tahun lalu.
Lebih lanjut Landry menjelaskan, sebuah kota yang kreatif bisa dilihat
dari kesan pertama saat kita singgah. Misalnya keramahtamahannya,
khususnya keramahtamahan transportasi. "Bagaiman sebuah kota seperti
mengundang kita untuk masuk lebih jauh, melalui bandara, pelabuhan,
stasiun kereta api mereka."