Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Sentral Zimbabwe, yang menjadi terkenal secara global pada tahun 2008 karena mencetak uang kertas senilai seratus triliun dolar, pada hari Jumat (5/4/2024) waktu setempat mengatakan pihaknya meluncurkan mata uang nasional baru dan sekali lagi menjanjikan untuk mengakhiri gejolak moneter yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
John Mushayavanhu, yang mengambil alih jabatan gubernur bank sentral minggu lalu, mengatakan unit baru, Zimbabwe Gold, atau ZiG, akan menggantikan dolar Zimbabwe yang telah kehilangan sekitar tiga perempat nilainya tahun ini.
Mata uang tersebut baru-baru ini diperdagangkan lebih dari 30.674 dolar Zimbabwe terhadap dolar AS, menurut data bank sentral. Nilai tukar tersebut telah anjlok dari ketika bank meluncurkan kembali unit baru mata uang lokal pada tahun 2019, yang mana US$ 1 hanya dapat membeli 2,50 dolar Zimbabwe.
Mushayavanhu mengatakan mata uang baru tersebut awalnya akan bernilai 13,56 ZiG untuk setiap US$1 dan kemudian akan ditentukan oleh pasar. Semua rekening bank yang saat ini berdenominasi dolar Zimbabwe akan dikonversi menjadi ZiG dengan jumlah yang setara, katanya.
Untuk meningkatkan kepercayaan terhadap mata uang tersebut, Mushayavanhu mengatakan bahwa hal tersebut akan sepenuhnya didukung oleh cadangan dolar AS dan logam mulia Zimbabwe, khususnya emas. Dia juga berjanji untuk mengakhiri praktik jangka panjang bank yang mengeluarkan lebih banyak uang untuk membiayai pengeluaran pemerintah.
"Ini hanyalah cara cerdas untuk menghilangkan angka nol," kata Gift Mugano, ekonom dan direktur Pusat Pengembangan Tata Kelola Pemerintahan Afrika di Universitas Teknologi Durban di Afrika Selatan yang berbasis di Harare.
Mugano mengatakan agar Zimbabwe memiliki mata uang yang stabil, pertama-tama pemerintah perlu menyesuaikan pengeluarannya dengan pendapatan yang diperoleh melalui pajak dan pendapatan lainnya. Jika tidak, Mushayavanhu, seperti para pendahulunya, akan kesulitan melawan tekanan pemerintah untuk menghidupkan mesin cetak uang, kata Mugano.
"Setiap gubernur bercita-cita untuk tidak mencetak uang, ingin tidak mencetak uang," kata Mugano. "Tetapi pengamatan saya adalah bahwa Departemen Keuangan, Menteri Keuangan, adalah penggerak jumlah uang beredar."
Zimbabwe menghapuskan dolar Zimbabwe pada tahun 2009, setelah terjadi hiperinflasi yang, menurut beberapa perkiraan, menyebabkan harga-harga naik sebesar 500 miliar persen. Selama hampir satu dekade, negara ini kemudian beroperasi dengan menggunakan dolar AS dan mata uang asing lainnya. Ketika bank sentral tidak lagi mampu membayar tabungan dalam bentuk dolar tunai, bank sentral memperkenalkan kembali dolar Zimbabwe pada tahun 2019.
Sejak itu, nilai mata uang lokal kembali terpuruk. Mushayavanhu mengatakan pada hari Jumat bahwa antara 80% dan 85% transaksi di negara tersebut dilakukan dalam dolar AS. Inflasi tahunan di bulan Maret melewati 55% dan tingkat suku bunga kebijakan bank sentral mencapai 130%. Mushayavanhu mengatakan mata uang baru ini akan memungkinkan bank untuk memotong suku bunga utamanya menjadi 20%.
Tino Kapesa, seorang mahasiswa berusia 23 tahun, mengatakan dia tidak terlalu percaya bahwa ZiG akan bekerja lebih baik dibandingkan pendahulunya. "Saya mencium bau tikus di sini. Apa gunanya memperkenalkan mata uang baru ketika banyak dari kita tidak mempercayai kebijakan pemerintah?" dia berkata. "Mereka pasti akan mencetak lebih banyak uang dalam waktu dekat."
Yeukai Chiripanyanga, seorang sopir taksi di Harare, mengatakan dia berharap mata uang baru ini akan memudahkan pelanggan untuk membayar ongkos secara tunai dan dia tidak lagi harus membawa banyak uang.
Mata uang Zimbabwe baru ini menggantikan dollar lama Zimbabwe dengan kode internasional ZWD yang sudah digunakan dari tahun 1980 sampai dengan 2009. Dollar lama ini terkenal karena mengalami salah satu hiperinflasi terbesar dalam sejarah modern
Mengutip Investopedia, ZWL beberapa kali mengalami devaluasi yang cepat dan sejak saat itu hingga tahun 2019 negara tersebut mengandalkan beberapa mata uang asing seperti dollar AS, euro, dan rand Afrika Selatan.
Nah pada 2029, Zimbabwe kembali mengganti mata uang lokalnya yang melemah dengan mata uang baru. Namanya tetap sama, ZWL, namun yang membedakan dengan yang lama, mata uang baru ini didukung oleh emas dan mata uang asing.
Penurunan lebih dari 70 persen pada dolar negara ini sejak awal tahun mendorong inflasi Zimbabwe melebihi 55 persen secara tahunan pada bulan Maret 2024, membangkitkan kenangan pahit akan hiperinflasi di bawah mantan pemimpin Robert Mugabe.
Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga acuan di tingkat global membuat sejumlah nilai mata uang dunia ambruk. Tidak hanya negara miskin atau berkembang, ambruknya nilai mata uang juga dirasakan negara maju seperti Jepang dan Swiss.
Yang menarik, pelemahan mata uang dialami juga oleh negara maju mulai dari Inggris, Swiss, dan Jepang. Yen menjadi mata uang utama Asia dengan kinerja terburuk pada tahun ini. Mata uang Matahari Terbit tersebut anjlok 17,3%.
Ambruknya mata uang yen tidak bisa dilepaskan dari keputusan Bank sentral Jepang (BOJ) untuk mempertahankan suku bunga ultra rendahnya di tengah kenaikan suku bunga global.
BOJ hingga kini masih mempertahankan suku bunga acuan mereka yang kini ada di minus 0,1%. Suku bunga acuan sebesar itu sudah bertahan sejak 2016.
Jepang memilih bertahan dengan suku bunga rendah demi mendongrak ekonominya. Keputusan BOJ mempertahankan suku bunga ultra rendahnya membuat selisih antara real rate mereka dan suku bunga The Fed (Fed Fund Rate/FFR).
Redenominasi sendiri adalah penyederhanaan mata uang menjadi lebih kecil tanpa menguranginya. Tujuannya yaitu memperkuat nilai mata uang tersebut.Dolar ZimbabweSebagaimana di ketahui, ambruknya Dolar Zimbabwe usai di-landa krisis berkepanjangan serta pemakzulan Presiden Robert Mugabe pada 2017.Melansir dari berbagai sumber, kebijakan Robert Mugabe mengenai distribusi lahan menyebabkan Zimbabwe kekurangan bahan pokok yang kronis.Sementara Bank Sentral Zimbabwe terus mencetak uang untuk membiayai defisit anggaran yang mengakibatkan terlalu banyak uang yang beredar.BI Catat Uang Beredar Agustus Tumbuh Positif Jadi Rp8.363,2 TriliunSenin, 25 September 2023 pukul 17.02
Redenominasi rupiah akan membuat mata uang kita naik kelas, menghindari salah penyebutan ribuan triliun, mempermudah perhitungan, serta menghemat kertas dan tinta. Hanya saja pelaksanaannya butuh momentum yang tepat.
Pada 2017, Gubernur BI periode 2013-2018 Agus Martowardojo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menemui Presiden dengan membawa RUU Redenominasi Mata Uang yang sudah siap untuk diusulkan ke DPR.
Namun, RUU ini belum menjadi prioritas utama pemerintah saat itu sehingga harus tertunda. Pada 2020 Sri Mulyani membuka lagi wacana redenominasi dengan sejumlah langkah persiapan untuk dapat diberlakukan efektif pada 2025. Kementerian Keuangan pun telah memasukkan RUU Redenominasi Mata Uang dalam program Legislasi Nasional Jangka Menengah periode 2020-2024.
Di luar negeri juta adalah satuan kekayaan dan bukan satuan penghasilan bulanan seperti di negara kita. Jika di bumi ini hanya ada sekitar 2.640 miliarder dan 62,5 juta jutawan dalam dollar AS, di sini kita semua jutawan.
Kedua, meskipun produk domestik bruto (PDB) nominal kita ke-16 terbesar dan peringkat tujuh dunia berdasarkan PDB paritas daya beli (PPP), rupiah kita tak laku di luar negeri. Jangankan di benua Amerika, Eropa, dan Afrika, di banyak negara Asia saja mata uang kita tidak dapat ditransaksikan karena nilainya yang sangat rendah yaitu kurang dari 0,0001 dollar AS.
Sesuai dengan nilainya yang sangat rendah, uang kertas Vietnam dengan nominal 200.000 dong dan 500.000 dong, setara dengan 8,5 dollar AS dan 21,2 dollar AS, sudah diedarkan sejak 2003. Bandingkan dengan Indonesia yang baru punya uang kertas Rp20.000 pada 1992 dan Rp50.000 setahun berikutnya.
Kini dollar AS stabil di kisaran Rp15.000 atau merosot 55 persen dari tahun 1999. Uang kertas Rp100.000 yang awalnya bernilai 14,9 dollar AS, sekarang hanya setara 6,7 dollar AS. Karena itu, untuk memudahkan transaksi, uang kertas baru dengan nilai nominal Rp200.000 (13,3 dollar AS) mulai terasa diperlukan.
Hingga 2016 rupiah kita sejatinya juga menang dari dua mata uang lain, yaitu dobra Sao Tome yang nilainya 21.956 dobra/dollar AS dan rubel Belarusia yang 20.850 rubel/dollar AS. Tetapi Belarusia kemudian melakukan redenominasi dengan memangkas empat nol pada 2016 dan Sao Tome tiga nol di tahun 2018.
Redenominasi Belarusia dan Sao Tome menambah panjang daftar 60 negara lebih yang telah melakukan redenominasi selama seabad terakhir. Banyak cerita menarik di baliknya dan salah satunya adalah Zimbabwe, negara dekat Afrika Selatan.
Di sana telur pernah berharga 35 miliar dollar Zimbabwe. Uang kertas ada yang berdenominasi seratus triliun dollar Zimbabwe dengan 14 angka nol. Tetapi Zimbabwe kemudian melakukan redenominasi dengan menghilangkan belasan angka nol.
Redenominasi tidak hanya dialami tiga negara itu tetapi juga Jerman yang memangkas 12 angka nol, Turki (enam nol), Rumania (empat nol), dan Bulgaria (tiga nol). Brasil bahkan pernah melakukan redenominasi sampai enam kali untuk memotong 18 angka nol dan Argentina hingga empat tahapan untuk membuang 13 angka nol.
Ketiga, tanpa redenominasi telah terjadi banyak kesalahan dalam menyebutkan besaran uang dalam rupiah. Membaca angka di APBN, dana pihak ketiga (DPK) di perbankan nasional, kapitalisasi pasar saham di BEI, dan PDB kita yang disebutkan dalam satuan ribuan triliun, kita bingung.
Mestinya tak ada istilah ribuan triliun karena seribu ribu menjadi juta, seribu juta menjadi miliar, dan seribu miliar menjadi triliun. Seharusnya ribuan triliun disebutkan kuadriliun sehingga yang benar adalah APBN 2023 sebesar Rp3 kuadriliun, DPK di perbankan Rp8 kuadriliun, kapitalisasi pasar BEI menembus Rp9 kuadriliun, dan PDB Indonesia Rp21 kuadriliun.
Kelima, redenominasi akan menghemat banyak angka di semua dokumen kita. Penggunaan tinta dan kertas juga akan lebih irit. Lihat saja menu di beberapa restoran dan cafe di hotel berbintang. Angka ribuan sudah sering dihilangkan. Harga secangkir kopi sering dituliskan Rp60 dan nasi goreng Rp100 seporsi, bukan Rp60.000 dan Rp100.000.
c80f0f1006