OLEH IRWAN SETIAWAN, S.Pd
Sejarah Perang Kamang, adalah sebuah kata-kata ringan yang mudah disampaikan oleh siapapun, mulai dari orang kampung sampai ke kota, orang terpelajar hingga buta aksara, tokoh terkenal sampai orang takpaham apa-apa. Ketika masyarakat Kamang sendiri mulai terpelapas dari rasa menghargai Perang Kamang itu pernah ada, terkadang kita disentakkkan oleh berbagai informasi yang rancu dan aneh tentang Perang Kamang. Sebagai penyegar ingatan kita tentang Perang Kamang maka ada baiknya kita kembali membaca, memahami dan menilai sendiri tentang keberadaan dan nilai-nilai patriotisme dari perang belasting tersebut. Karena ketika kita mulai lupa dengan sejarah, maka ada kemungkinan “jalan di anjak urang lalu, cupak di tuka urang manggaleh”
Kamang kalau dilihat secara kesatuan administrative pada pada tahun 1890-an bisa dilihat dari dua sudut : Kamang sebagai Kelarasan, yang meliputi 4 (empat) nagari yaitu : KAMANG, BANSA-PAUH (yang disebut juga Nagari Bukik), SUAYAN dan SUNGAI BALANTIAK. Namun kalau kita kaji ke perode Perang Paderi, khusus untuk kelarasan Kamang ini ternyata telah disusun dan di strukturisasi oleh Tuanku Nan Renceh dan menempatkan pusat kelarasan Kamang di Bagari Kamang Bukik (Bansa-Pauh) bahkan beliau membentuk kesatuan dalam ikatan benteng Kamang yang membentang dari Kamang Mudiak sampai ke Salo. Dan ini merupakan salah satu benteng kuat pertahanan Paderi sebelum pindah ke Bonjol.
Perang Kamang 1908 adalah perang terbuka yang meledak pada 15 Juni 1908 dan merupakan salah satu puncak dari kemelut suasana anti penjajahan rakyat Sumatera Barat dalam menentang penjajahan Belanda. Di sini akan terlihat gambaran nyata dari bentuk semangat dan pengorbanan rakyat Kamang, baik kalangan adat, agama, cerdik pandai, pemuda/pemudi, bahkan kaum ibu dalam melawan serta berusaha mengusir Belanda, yang dari segi politis dapat dikatakan sebagai bukti sumbangan yang pernah mereka tunjukkan kepada Bangsa Indonesia.
Kesadaran anti terhadap penjajahan yang diyakini Bung Hatta-pun dipercaya berawal dari peristiwa Perang Kamang tersebut, hal itu dapat kita rujuk ketika sang proklamator melihat “urang rantai” yang digiring Belanda lewat di depan rumah beliau, dan Inyiak beliau berkata: “Tu urang Kamang nan malawan Bulando” (Memoir Muhammad Hatta, 1979). Paman dari Bung Hatta pun pernah menceritakan kejadian Perang Kamang kepada beliau sehingga di depan rumah beliau di Bukittinggi sering terlihat penjagaan dan pemeriksaan terhadap masyarakat yang masuk dan keluar kota Bukittinggi.
Penyebab dari munculnya perlawanan masyarakat Kamang ialah pelanggaran Belanda terhadap perjanjian Plakat Panjang yang dikeluarkannya pada masa Perang Paderi, dimana salah satu isinya ialah “Pemerintah tidak akan mengadakan pungutan-pungutan berupa pajak, hanya kepada rakyat dianjurkan menanam kopi”. Sejak keluarnya Plakat Panjang masyarakat tidak lagi dipungut pajak, namun di awal tahun 1908 masyarakat diminta menanam kopi dan diperetengahan tahun tersebar kabar bahwa dari penanaman kopi itu akan di pungut pajak (belasting).
Akhirnya muncullah perlawanan dari rakyat, berbagai ketidak senangan ditunjukkan. Khusus di Kamang para pemimpin mulai menyusun kekuatan untuk melawan kehendak Belanda yang ingin menghisap darah rakyatnya. Rujukan utama dari masyarakat Kamang Mudiak mengenai Perang Kamang ialah “Syair Perang Kamang” yang dikarang oleh Haji Ahmad Marzuki putra dari Haji Abdul Manan. Kekuatan yang dihimpun saat itu dalam artian kekuatan yang sangat sederhana dan sangat tradisional.
Pergolakan perang Kamang di gerakkan oleh H. Abdul Manan dimana beliau dikenal sebagai tokoh agama yang disegani, beliau adalah guru agama yang didatangi dan di kunjungi oleh masyarakat sebagai tempat bertanya dan belajar tentang agama baik dari kamang Mudik sekarang, Kamang Hilir sekarang, Tilatang, Magek, Palupuh bahkan sampai dari Pasaman. Beliau sama-sama pulang dari Mekkah tahun 1877 dengan H. Jabang (Syekh Janggut) dari Pauah. Tokoh-tokoh penting yang belajar agama kepada H. Abdul Manan diantaranya : Dt. Rajo Penghulu (Kamang Hilir sekarang), Dt. Parpatiah (Magek), Datuak Rajo Kaluang (Tilatang). Mereka inilah yang menjadi tokoh-tokoh sentral dalam perang Kamang. Sehingga bisa dikatakan bahwa dalam perang Kamang yang terlibat adalah Alim Ulama / Tuanku, Niniak Mamak, Cadiak Pandai-ahli strategi, bahkan melibatkan generasi muda-pemuda dan para bundo kanduang.
Westenenk juga menceritakan keadaannya di Kamang pada tanggal 15 sampai 16 juni 1908 ;
“Dalam nota kilat saya tanggal 14 bulan ini saya melaporkan bahwa keadaan di Kamang dan di Magek sangat serius, tidak menguntungkan dan diharap segera tindakan diambli. Dan saya mengusulkan menangkap para pengacau itu dengan bantuan tiga patrol tentara. Kemudian setelah diadakan penangkapan-penangkapan di tangah (Kampung Tangah-rumah H. Abdul Manan) kita tunggu saja apa yang akan dikerjakan penduduk. Ditetapkan untuk mengadakan penangkapan-penangkapan di malam hari dan berangkat ke sana Senin mala pukul 9.30. Hari senin tanggal 15, Kepala laras Tilatang mengatakan kepada saya bahwa H. Abdul manan dari Bangsa (Nagari Ilalang, Laras Kamang) mempunyai 30-50 murid yang bersedia mati (pasukan berani mati syahid). Mereka diberi jimat oleh haji tersebut. Selain itu dilaporkan juga bahwa banyak pandai besi dari Koto Baru (Laras Salo) mendapat banyak pesanan senjata tajam hingga tidak dapat memenuhi semuanya. Kepala Laras Kamang mengingatkan rakyatnya bahwa kompeni akan datang hari senin (dia mengerti bahwa kita segera akan bergerak). Sewaktu mau berangkat ke resepsi di rumah residen saya dengar pula bahwa Haji Abdul Manan dengan kawan-kawan dapat dianggap sebagai pusat pergerakan. Oleh karena itu saya merubah rencana semula. Yakni saya ikut dengan patrol Bangsa Ilalang (rombongan tengah), tidak jadi dengan yang ke Magek. Tapi saya ingin sekali mengurus tangah, jadi dengan demikian mengambil 2 tempat yang sulit jarena saya ingin berada sendiri di sana. Sumber : Nota Westenenk, ditulis di Bukittinggi tanggal 25 juni 1908 No. 1.1/28. Kutipan dari makalah Rusli Amran “Peristiwa Kamang”
Hari Senin pagi tanggal 15 Juni 1908, sebagai hari perlawanan paling hebat di Sumatera Barat dalam menentang sistem blasting makin nyata, kedaan di Kamang makin panas. Warga diminta oleh para pemimpin masyarakat Kamang untuk tidak membayar pajak. Hari itu juga, J.Westennenk menghubungi Gubernur Sumatera Barat Hecler untuk mohon petunjuk mengenai tindakan yang harus diambil. Setelah Hecler menerima perintah Gubernur General Van Heutez, maka diperintahkanlah untuk menyerbu Kamang. J.Westennenk lalu mengumpulkan 160 orang pasukan pilihan yang kemudian dibagi menjadi 3 kelompok. Menjelang sore mereka segera bergerak dari Bukittinggi menuju Kamang dari tiga jurusan:
1. Pasukan pertama yang terdiri dari 30 orang, masuk dari Gadut, Pincuran, Kaluang, Simpang Manduang terus menuju Pauh, dipimpin oleh Letnat Itzig, letnan Heine dan Cheiriek. Diperkirakan disana mereka mencari Syekh H. Jabang (pimpinan II perang dari Pauah) yang merupakan orang penting dalam perlawanan terhadap pajak.
2. Pasukan kedua, yang terdiri dari 80 orang serdadu dipimpin J.Westennenk (Kontrolir Agam Tua), Kontrolir Dahler bersama Kapten Lutsz, Letnan Leroux, Letnan Van Heulen, masuk melalui Guguk Bulek, Pakan kamih, Simpang 4 Suangai Tuak, berbelok di Kampung Jambu, Ladang Tibarau, Tapi dan terus ke Kampung Tangah. Untuk menyergap H. Abdul Manan (pimpinan I perang dari Kampuang Tangah). Pimpinan pasukan Belnada ini jam 23.00 wib (jam 11.00 malam mereka telah sampai di sekitar kampung tangah. Kedatangan mereka diketahui para petugas ronda malam, yang merupakan bagian dari pasukan H. Abdul Manan seperti Angku Rumah gadang, Angku Basa dan beberapa orang pembantunya. Mereka mencari-cari keberadaan H. Abdul Manan mulai dari kampung budi, terus ke kampung tangah namun tak menemukan H. Abdul Manan. Belanda meyakini bahwa beliaulah pemipin perlawanan rakyat Kamang tersebut.
3. Sedangkan pasukan ketiga yang berkekuatan 50 orang serdadu di bawah pimpinan Letnan Boldingh dan pembantu Letnan Schaap, masuk melewati daerah Tanjung Alam, Kapau, Bukik Kuliriak, Magek, Pintu Koto. Untuk menyergap para pimpinan dan tokoh penentang Blasting di daerah Kamang bagian hilir seperti Dt. Rajo Penghulu, Kari Mudo.
Menurut catatan Buchari Nurdin, akhirnya sekitar pukul 02.30 dinihari, tanah Kamang berubah menjadi front pertempuran hebat, antara pasukan Belanda dengan pasukan rakyat. Rakyat dipimpin oleh H Abdul Manan, yang sebelumnya, telah bersiap-siap menghadang kedatangan pasukan Belanda. Sejumlah tokoh pejuang lainnya, yang juga telah siap dengan pasukan mereka masing-masing. Seperti Haji Jabang dari Pauh, Pado Intan, Tuanku Parit, Tuanku Pincuran, Dt Marajo Tapi, Dt Marajo Kalung, Dt Perpatih Pauh, Sutan Bandaro Kaliru, pendekar wanita dari Bonjol Siti Maryam, Dt Rajo Penghulu bersama istrinya, Siti Aisiyah,. Begitu juga pasukan rakyat yang berada di Kamang Ilia. Dengan dipimpin Kari Mudo, Dt Perpatiah Magek, Dt Majo Indo di Koto Tangah, Dt Simajo Nan Gamuk berusaha bahu membahu melawan pasukan Belanda. Pertempuran sengit berakhir sudah. Pasukan Westenenk mundur menuju Pauh sembari membawa tawanan Dt Perpatih. Pasukan rakyat memperoleh kemenangan gemilang lantaran semangat dan koordinasi yang tinggi. Tentara Belanda berhasil dibuat kucar kacir. Tetapi J.Westennek sempat meloloskan diri dan minta bantuan ke Bukittinggi. Dan setelah mendapat bantuan dari Padang Panjang, datanglah kembali pasukan Belanda, dan perang kedua inilah yang membuat pasukan rakyat Kamang kalah dan banyak korban yang berjatuhan. Angka korban yang simpangsiur diantaranya dapat dilihat di Koran-koran yang terbit di Padang menyebut angka 250 orang rakyat Kamang tewas, Belanda sendiri menyebut sekitar 90 orang atau lebih. H. Abdul Manan juga syahid dalam pertempuran 15 Juni menjelang subuh 16 Juni itu.
Sebagai wujud penghargaan dan penghormatan bagi pejuang perang Kamang, dan agar kita generasi muda tidak lupa dengan peritiwa bersejarah itu maka pemerintah melalui kunjungan Menko Keamanan dan Pertahanan Jendral A.H.Nasution meresmikan Makam yang terletak di dusun Kampung Budi Jorong Pakan Sinayan, Nagari Kamang Mudik. diresmikan penggunaannya sebagai Komplek makam pahlawan ini diberi nama "Komplek Makam Pahlawan Perang Kamang Haji Abdul manan" pada tanggal 15 Juni 1962. Didalamnya terdapat 21 pahlawan yang meninggal pada perang Kamang tahun 1908 M. Para pahlawan yang dimakamkan di kompleks ini diantaranya : H. Abdul Manan, Kari bagindo, Haji Musa (Kakak H.Abdul Manan), Kadir St. Bagindo, ML. Sinaro, LB. Mudo/LB Kampua, Dt. Batudung, Udin/Idi, Suid Tk Parit panjang, Datuk N. Tingap, Sanan PK. Basa, Dt. Nan Hijau, MI. Saulah, M. Pandeka Mudo, Datuk Pandeka Ade, Deman, Usman, St. Mantari, M. Intan Mudo, Lb. Sutan, Kadir Bagindo.
Selain yang di makam pahlawan ini, para pejuang perang kamang lainnya ada juga yang di kebumikan oleh pihak keluarga di makam keluarga atau pandam pakuburan suku-masing masing, sesuai dengan adat minangkabau dan ada juga di makam pahlawan Kamang Hilir.
Gambaran
singkat ini tentu takkan bisa menggambarkan bagaimana pengorbanan pejuang
Perang Kamang saat itu, tapi setidaknya ini bisa member pencerahan bagi masyarakat
Sumatera Barat bahwa pernah ada perang yang begitu heroic di daerah Kamang
dengan melibatkan berbagai tokoh, berbagai perang, dan beribu dampak yang
dirasakan masyarakatnya. Sebagai penyimpul
bahasan ini untuk konteks ke kini an adalah : Persatuan Alim Ulama, Niniak
Mamak, dan Cadiak Pandai di sebuah nagari akan membuat kekuatan perjuangan dan
pembangunan nagari akan maksimal. Setiap tindakan dan usaha harus didasari oleh
niat karena Allah, karena itu akan menjadikan usaha kita tersebut sebagai sebagai
amal ibadah. Jangan melupakan kewajiban kita sebagai seorang muslim untuk
melaksanakan Ibadah dan amal baik. Karena itu lah menjadi dasar atau pondasi
kita untuk menghadapi tantangan masa depan dan diramu dengan ilmu. Perjuangan
menentang penjajahan, kezaliman, dan ketidak adilan adalah sebuah keharusan,
jadi kita sebagai gerenasi muda harus memperlihatkan usaha dan tindakan untuk
menentang kezaliman dan penjajahan bahkan bentuk penjajahan di era modern
seperti sekarang. Sebagai
penutup “Tiap
nagari punya episode yang bisa dibanggakannya. Tapi episode Kamang menjadi
kebangaan Ranah Minang”. Jangan cabut Perang Kamang dari akar sejarahnya,
Karena itulah identitas kami orang Kamang”.
Maturidi ke RN
Irwan Setiawan dan sanak di palanta n.h.a
Tulisan Irwan setiawan sangat menarik, mungkin ada atau malah banyak diantara kita yang tidak tahu mengenai detail Perang Kamang.
Saya sendiri, mengenai cerita pernah didapat dari tetua tapi yang agak terperinci seperti tulisan saudara kita Iwan Setiawan diatas, baru sekarang.
Kalau Irwan Setiawan, Spd-nya jurusan sejarah sudah sangat tepat sekali, sejarah perjuangan rakyat Sumatera Barat ini melawan penjajah baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan harus banyak kita tulis.
Mungkin selama ini perjuangan Rakyat Sumbar melawan penjajah tidak begitu ditampilkan, mungki ada kesengajaan tak tahulah.
Yang jelas tidak masuk ke pelajaran sejarah local dimana anak-anak minang bisa mengenal heroik para pejuang daerahnya. Ini terlihat di era 45- 60 an waktu saya SR-SLTP-SLA tak pernah mendapatkan buku sejarah yang mengupas banyak perjuangan rakyat minangkabau dalam melawan penjajah yang menjadi buku pelajaran disekolah di Sumbar. Di Majalah mungkin ada.
Kepada Irwan Setiawan, mungkin ada satu lagi berita sejarah menyangku Kamang yang perlu ditulis yaitu “ Perang Kamang pada periode 1945 – 1950 “. Ini santer sekali terdengar di era 45-50 an ke daerah Solok, mungkin keseluruh Sumbar. Kalau ada bahannya bagus itu ditulis untuk episode ke dua atau… dari perjuangan rakyat Kamang mengusir penjajah.
Dalam tulisan saya berjudul “Para pemuda Talang dilepas menuju front Juang”di Nagari or.id http://nagari.or.id/?moda=palanta&no=126
Ada saya sebut perang Kamang, Situjuah, Lubuk Batu Gajah di SolSel, karena menurut cerita dari mulut kemulut di era 45-50-an itu ada perlawanan sengit didaerah itu melawan serangan Belanda.
Anjura saya, kalau ada bahannya tulislah Perang Kamang era 45-50-an itu, mudah-mudahan semua bisa masuk kedalam sejarah untuk muatan local di seluruh SD dan SLTP Diknas Sumbar.
Wass,
Maturidi (75)
Asal Talang-Solok-Kutianyia
Duri Riau
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
|
| ||
Maturidi ke RN
Nak Irwan S saya tolong jo doa, semoga sukses dalam menulis Perang Kamang untuk memperkaya sejarah heroik Minangkabau agar tidak terus menerus terhimpit oleh sejarah perjuangan daerah lain karena kurangnya bacaan autentik yang tersedia.
Sekali gus nak Irwan, kalau ada waktu luang saya ingin juga mendapat bahan bagaimana upacara:
1. Adat kematian
2. Adat batagak (mengangkat/menggant penghulu
Dikampung /desa Irwan S Sendiri.
Bahan ini mungkin kita perlukan untuk mengetahui adat yang dilaksanakan dikampung kita masing-masing.
Kalau ABS SBK yang sudah di Deklarasikan 19 Mei 2013 yang lalu dan diterima diranah, maka mau tak mau jenis dan variasi adat yang berlaku/di-adatkan diranah mungkin perlu di-data, kalau tidak kita tak akan bisa bersuara dalam urusan ABS SBK.
Mengenai adat kematian :
Sudah saya tulis dimilis dibawah judul:
[R@ntau-Net] Ini momen yg tepat utk konsolidasi internal Minangkabau
|
7 Nov |
|
||
|
||||
Untuk pengangkatan penghulu sebagian pada milis dalam judul yang samo: 15 Novmber
Sakitu dulu yo nak Irwan S
Wass,
Maturidi( L-75)
Asal Talang-Solok- Kutianyia
Duri Riau
..
Baru saja saya membaca status Ust. Abdullah Haidir di Facebook dan teringat thread lama ini:
---
Abdullah Haidir
18 jam yang lalu
Semalam berkesempatan mengadakan kunjungan dakwah kepada saudara2 kita TKI yg yang ada di penjara Hair, Riyadh.
Kondisi mereka boleh dibilang nyaman, menu setiap hari antara ayam, daging dan ikan, plus buah2an. Susu setiap pagi. Uang saku 150 real perbulan. Kamar nyaman, perlakuan baik2 saja, tdk ada kekerasan thd mereka. Bahkan ibadah pun, minimal shalat 5 waktu, menurut mereka kini semakin terjaga...
Namun demikian, tetap saja mreka ingin keluar dari tempat tsb. Itulah mahalnya kebebasan. Sudahkah kita yg bebas mensyukurinya dan memanfaatkannya...?
---
Wassalaam,
---
Ahmad Ridha
--
Waalaikusalam bapak.. bapak yg saya hormati, saya juga salut dengan bapak, yang selalu eksis mendebat saya. Saya ucapkan terimakasih. Di kompasiana, di web saya, di blog pribadi, di rantau ini juga. Tapi dengan kerendahan hati saya ingin menyampaikan ucapan terumaksih dan rasa ingin bertemu dengan bapak, dalam suasana diskusi dan jalan mencari kebenaran.
Di tingkat kecamatan telah pernah dibahas pak, untuk duduk basamo mambahas perang kamang. Kok apak ado sumber sahih, bisa di titip an ka urang kantua wali nagari. Atau kalau apak surang ingin mambao nyo, basobok kito bisuak ko. Awak punyo pulo bebrapa sumber. Dak usah wak debat dunia maya sampai wak bisa dudual basmo pak. Sagan wak di klrga rantau net. Digalak an beko,, untuak mancari konsep perang kamang se sesama urang kamang heboh,, kecek rantau net.. kalau awak sangatnmanunggu kaba apak,, bilo ka basobok duduak basamo.
Kok apak nio sumber dari koran bulando tahun 1908 bulan juli nyo ttg perang kamang bia wak kirim. Apo email apak?.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+...@googlegroups.com.
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
Taerimakasih pak asmun sjueib, alhamdulillah bapak dapat memahami dinamika ini, sekarang di tingkat kecamatan telah mengiri, surat ke kabupaten untuk mendatangkan ahli tsb
Sanak Haasma, nak Irwan dan sanak diplanata n. a h
Sejarah perjuangan urang minang melawan penjajah ko sangat penting bagi kito urang minang, sangat baik di tulis dari sekarang selagi beberapa saksi sejarah masih ada, setidaknya ada generasi penerusnya.
Kok dapek bapak –bapak yang Haasma, sebutkan, bisa masuk ke RN atau sudah masuk hanya ambo nan kurang informasi.
Kalau Haasma ada akses ke beliau tu, cubolah rasok-rasok /undang , mudah-an beliau namuah, tambah ciek lai pak Taufik Abdullah
Di RN ko nan alah ado nampaknyo dan pernah didengar dialog beliau, Irwan Setiawan Spd dan Dr Wannofri.
Kalau beliau masuk kita akan lebih banyak kemudahan mengenai sejarah terutama Minang. Kita bisa banyak bertanya dan mengklarifikasinya langsung kepada beliau.
Wass,
Maturidi (L/75) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau
Tarimokasih pak maturidi,, s3cara pribadi awak memang ingin duduak basamo jo apak2 urang tuo nan tau sumber swjarah ko. Awak kiro pak hirwan tu banyak tahu, tapi lah beb2brapa kali wak ingin diskusi basobok,, baliau dak pernah mambaleh keinginan ambo tu
Kini pak camat jo kadis sosial agam lah ma usul untuak mendatangkan salah seorang ahli sejarah tu. Mohon doanya pak.
Tarimokasih banyak pak asmun sjueib,, secara pribadi awak pun sdg baraja pak,, mancari sumber nan ado. Secara konsep kecek pak mestika zed, perang kamang ko miskin sumber primer dr bangsa indonsia, ttapi tulisan nan sangat mandukuang ado ciek,, yaitu tulisan syair perang kamang,, kisah hiduik anak h.abdul manan, dimaso perang kamang sampai baliau tabuang ka makassar. Tapi koran bulando banyak manulis ttg perang nanko. Masalah nyo kini,, ttg sumber bulando ko wak pribadi dak lo jaleh tuak mantraletkan nyo.. kok ado lo ahli kito di bahaso ulando,,, wak sangat tunggu partisipasi mantraletkan sekirat setengaj halaman..
Sahinggo debat nan tajadi jaleh dasar, jaleh sumber,, dak asal sanggah...
Kalau wak rantang ttg duduak nyo lareh tu,,, dalam adat minang,, lareh nan panjang jo nan bunta tu yg di ubah oleh nyiak enceh dengan manduduak an tuanku jo kadi,, itu sabana mukasuik ambo ttg pengaturan lareh tu pak hirwan,, bukan aturan ulando..tu laras dan struktur buatan bulando tu.. tapi ko lareh adaik...
Bagi apak, ibuk dunsanak nan ado kemampuan mantranslet bahaso bulando sangat ambo tunggu
Tarimokasih banyak pak, atas bantuan dan permintaan bapak ka apak2 nan paham dan tau ttg sumber sejarah di bulando. Moga pak harry a , pak suryadi meluangkang sedikit waktu tuak maubek galau hati nan luko pak..
Tapi untuak bahan nan lah ado di ambo,, bahan koran bulando jo artikel bahaso inggirih kok ado apak, ibuk sanak nan bisa mantrasletkan sangat ambo tunggu,, kok paralu file nyo ambo kirim ka rantau net.
Untuak pak hirwan, ambo ,masih manunggu konfirmasi apak,, bilo wak ba diskusi,,bisa pribadi atau tingkek nagari atau di kecamatan. Wassalam ananda. Irwan setiawan. Pakan sinayan
Tarimokasih banyak mamanda hiswan darwin di tanah subarang.,, untuang ado jalan nan di carian dek rang rantau kito disinen. Mamak caliak an juo tulisan kami ka rang rantau, tu mak.. mano tau baliau2 tertarik mambanyak tuak buku2 bacaan dek adiak2 kito di kampuang kamang.
Ko aqak sdg cari jalan tuak di jadikan buku saku anak sekola di kampuang
Tarimokasih banyak mamanda asmun sjueib,, bahannyo lah wak kirim di rantau tu mak..kok ado email amak mantap bana. Wak kirim ka email amak sajo.. bahan koran ulando tu paliang 4 alinea mak. Tarimokasih mak
Asslkum mamak asmaun sjueib,,,, e.mail amak apo kolah alamat nyo..bia wak kirim file koran bulando tu.. tarimokasih mak
Tarimokasih banyak mak,, tp file koran tu wak kirim juo ka mamak, di tingkek kecamatan memang lah dinbahas, lah dinusulkan ka kabupeten tuak pembahasan ttgn perangnkamang secara ilmiah dan oleh ahli profeaional, bia dak simpang siur, dan target akhir mangangkatnseluruh pimpinan yg memang di akui dalam sejarahnya sebagainpahlawan nasional. Insyaallah peringatan tahun kini pak gubernur ka siko, sbg inspektur.
Wassalam
Irwan setiawan.
Salah satu sumber koran belanda tahun 1908 ttg perang kamang. Moga ada ahli bahasa belanda yg bisa mentranslet. Terimakasih sebelumnya
OLEH IRWAN SETIAWAN, S.Pd
Sejarah Perang Kamang, adalah sebuah kata-kata ringan yang mudah disampaikan oleh siapapun, mulai dari orang kampung sampai ke kota, orang terpelajar hingga buta aksara, tokoh terkenal sampai orang takpaham apa-apa. Ketika masyarakat Kamang sendiri mulai terpelapas dari rasa menghargai Perang Kamang itu pernah ada, terkadang kita disentakkkan oleh berbagai informasi yang rancu dan aneh tentang Perang Kamang. Sebagai penyegar ingatan kita tentang Perang Kamang maka ada baiknya kita kembali membaca, memahami dan menilai sendiri tentang keberadaan dan nilai-nilai patriotisme dari perang belasting tersebut. Karena ketika kita mulai lupa dengan sejarah, maka ada kemungkinan “jalan di anjak urang lalu, cupak di tuka urang manggaleh”
Kamang kalau dilihat secara kesatuan administrative pada pada tahun 1890-an bisa dilihat dari dua sudut : Kamang sebagai Kelarasan, yang meliputi 4 (empat) nagari yaitu : KAMANG, BANSA-PAUH (yang disebut juga Nagari Bukik), SUAYAN dan SUNGAI BALANTIAK. Namun kalau kita kaji ke perode Perang Paderi, khusus untuk kelarasan Kamang ini ternyata telah disusun dan di strukturisasi oleh Tuanku Nan Renceh dan menempatkan pusat kelarasan Kamang di Bagari Kamang Bukik (Bansa-Pauh) bahkan beliau membentuk kesatuan dalam ikatan benteng Kamang yang membentang dari Kamang Mudiak sampai ke Salo. Dan ini merupakan salah satu benteng kuat pertahanan Paderi sebelum pindah ke Bonjol.
Perang Kamang 1908 adalah perang terbuka yang meledak pada 15 Juni 1908 dan merupakan salah satu puncak dari kemelut suasana anti penjajahan rakyat Sumatera Barat dalam menentang penjajahan Belanda. Di sini akan terlihat gambaran nyata dari bentuk semangat dan pengorbanan rakyat Kamang, baik kalangan adat, agama, cerdik pandai, pemuda/pemudi, bahkan kaum ibu dalam melawan serta berusaha mengusir Belanda, yang dari segi politis dapat dikatakan sebagai bukti sumbangan yang pernah mereka tunjukkan kepada Bangsa Indonesia.
Kesadaran anti terhadap penjajahan yang diyakini Bung Hatta-pun dipercaya berawal dari peristiwa Perang Kamang tersebut, hal itu dapat kita rujuk ketika sang proklamator melihat “urang rantai” yang digiring Belanda lewat di depan rumah beliau, dan Inyiak beliau berkata: “Tu urang Kamang nan malawan Bulando” (Memoir Muhammad Hatta, 1979). Paman dari Bung Hatta pun pernah menceritakan kejadian Perang Kamang kepada beliau sehingga di depan rumah beliau di Bukittinggi sering terlihat penjagaan dan pemeriksaan terhadap masyarakat yang masuk dan keluar kota Bukittinggi.
Penyebab dari munculnya perlawanan masyarakat Kamang ialah pelanggaran Belanda terhadap perjanjian Plakat Panjang yang dikeluarkannya pada masa Perang Paderi, dimana salah satu isinya ialah “Pemerintah tidak akan mengadakan pungutan-pungutan berupa pajak, hanya kepada rakyat dianjurkan menanam kopi”. Sejak keluarnya Plakat Panjang masyarakat tidak lagi dipungut pajak, namun di awal tahun 1908 masyarakat diminta menanam kopi dan diperetengahan tahun tersebar kabar bahwa dari penanaman kopi itu akan di pungut pajak (belasting).
Akhirnya muncullah perlawanan dari rakyat, berbagai ketidak senangan ditunjukkan. Khusus di Kamang para pemimpin mulai menyusun kekuatan untuk melawan kehendak Belanda yang ingin menghisap darah rakyatnya. Rujukan utama dari masyarakat Kamang Mudiak mengenai Perang Kamang ialah “Syair Perang Kamang” yang dikarang oleh Haji Ahmad Marzuki putra dari Haji Abdul Manan. Kekuatan yang dihimpun saat itu dalam artian kekuatan yang sangat sederhana dan sangat tradisional.
Pergolakan perang Kamang di gerakkan oleh H. Abdul Manan dimana beliau dikenal sebagai tokoh agama yang disegani, beliau adalah guru agama yang didatangi dan di kunjungi oleh masyarakat sebagai tempat bertanya dan belajar tentang agama baik dari kamang Mudik sekarang, Kamang Hilir sekarang, Tilatang, Magek, Palupuh bahkan sampai dari Pasaman. Beliau sama-sama pulang dari Mekkah tahun 1877 dengan H. Jabang (Syekh Janggut) dari Pauah. Tokoh-tokoh penting yang belajar agama kepada H. Abdul Manan diantaranya : Dt. Rajo Penghulu (Kamang Hilir sekarang), Dt. Parpatiah (Magek), Datuak Rajo Kaluang (Tilatang). Mereka inilah yang menjadi tokoh-tokoh sentral dalam perang Kamang. Sehingga bisa dikatakan bahwa dalam perang Kamang yang terlibat adalah Alim Ulama / Tuanku, Niniak Mamak, Cadiak Pandai-ahli strategi, bahkan melibatkan generasi muda-pemuda dan para bundo kanduang.
Westenenk juga menceritakan keadaannya di Kamang pada tanggal 15 sampai 16 juni 1908 ;
“Dalam nota kilat saya tanggal 14 bulan ini saya melaporkan bahwa keadaan di Kamang dan di Magek sangat serius, tidak menguntungkan dan diharap segera tindakan diambli. Dan saya mengusulkan menangkap para pengacau itu dengan bantuan tiga patrol tentara. Kemudian setelah diadakan penangkapan-penangkapan di tangah (Kampung Tangah-rumah H. Abdul Manan) kita tunggu saja apa yang akan dikerjakan penduduk. Ditetapkan untuk mengadakan penangkapan-penangkapan di malam hari dan berangkat ke sana Senin mala pukul 9.30. Hari senin tanggal 15, Kepala laras Tilatang mengatakan kepada saya bahwa H. Abdul manan dari Bangsa (Nagari Ilalang, Laras Kamang) mempunyai 30-50 murid yang bersedia mati (pasukan berani mati syahid). Mereka diberi jimat oleh haji tersebut. Selain itu dilaporkan juga bahwa banyak pandai besi dari Koto Baru (Laras Salo) mendapat banyak pesanan senjata tajam hingga tidak dapat memenuhi semuanya. Kepala Laras Kamang mengingatkan rakyatnya bahwa kompeni akan datang hari senin (dia mengerti bahwa kita segera akan bergerak). Sewaktu mau berangkat ke resepsi di rumah residen saya dengar pula bahwa Haji Abdul Manan dengan kawan-kawan dapat dianggap sebagai pusat pergerakan. Oleh karena itu saya merubah rencana semula. Yakni saya ikut dengan patrol Bangsa Ilalang (rombongan tengah), tidak jadi dengan yang ke Magek. Tapi saya ingin sekali mengurus tangah, jadi dengan demikian mengambil 2 tempat yang sulit jarena saya ingin berada sendiri di sana. Sumber : Nota Westenenk, ditulis di Bukittinggi tanggal 25 juni 1908 No. 1.1/28. Kutipan dari makalah Rusli Amran “Peristiwa Kamang”
Hari Senin pagi tanggal 15 Juni 1908, sebagai hari perlawanan paling hebat di Sumatera Barat dalam menentang sistem blasting makin nyata, kedaan di Kamang makin panas. Warga diminta oleh para pemimpin masyarakat Kamang untuk tidak membayar pajak. Hari itu juga, J.Westennenk menghubungi Gubernur Sumatera Barat Hecler untuk mohon petunjuk mengenai tindakan yang harus diambil. Setelah Hecler menerima perintah Gubernur General Van Heutez, maka diperintahkanlah untuk menyerbu Kamang. J.Westennenk lalu mengumpulkan 160 orang pasukan pilihan yang kemudian dibagi menjadi 3 kelompok. Menjelang sore mereka segera bergerak dari Bukittinggi menuju Kamang dari tiga jurusan:
1. Pasukan pertama yang terdiri dari 30 orang, masuk dari Gadut, Pincuran, Kaluang, Simpang Manduang terus menuju Pauh, dipimpin oleh Letnat Itzig, letnan Heine dan Cheiriek. Diperkirakan disana mereka mencari Syekh H. Jabang (pimpinan II perang dari Pauah) yang merupakan orang penting dalam perlawanan terhadap pajak.
2. Pasukan kedua, yang terdiri dari 80 orang serdadu dipimpin J.Westennenk (Kontrolir Agam Tua), Kontrolir Dahler bersama Kapten Lutsz, Letnan Leroux, Letnan Van Heulen, masuk melalui Guguk Bulek, Pakan kamih, Simpang 4 Suangai Tuak, berbelok di Kampung Jambu, Ladang Tibarau, Tapi dan terus ke Kampung Tangah. Untuk menyergap H. Abdul Manan (pimpinan I perang dari Kampuang Tangah). Pimpinan pasukan Belnada ini jam 23.00 wib (jam 11.00 malam mereka telah sampai di sekitar kampung tangah. Kedatangan mereka diketahui para petugas ronda malam, yang merupakan bagian dari pasukan H. Abdul Manan seperti Angku Rumah gadang, Angku Basa dan beberapa orang pembantunya. Mereka mencari-cari keberadaan H. Abdul Manan mulai dari kampung budi, terus ke kampung tangah namun tak menemukan H. Abdul Manan. Belanda meyakini bahwa beliaulah pemipin perlawanan rakyat Kamang tersebut.
3. Sedangkan pasukan ketiga yang berkekuatan 50 orang serdadu di bawah pimpinan Letnan Boldingh dan pembantu Letnan Schaap, masuk melewati daerah Tanjung Alam, Kapau, Bukik Kuliriak, Magek, Pintu Koto. Untuk menyergap para pimpinan dan tokoh penentang Blasting di daerah Kamang bagian hilir seperti Dt. Rajo Penghulu, Kari Mudo.
Menurut catatan Buchari Nurdin, akhirnya sekitar pukul 02.30 dinihari, tanah Kamang berubah menjadi front pertempuran hebat, antara pasukan Belanda dengan pasukan rakyat. Rakyat dipimpin oleh H Abdul Manan, yang sebelumnya, telah bersiap-siap menghadang kedatangan pasukan Belanda. Sejumlah tokoh pejuang lainnya, yang juga telah siap dengan pasukan mereka masing-masing. Seperti Haji Jabang dari Pauh, Pado Intan, Tuanku Parit, Tuanku Pincuran, Dt Marajo Tapi, Dt Marajo Kalung, Dt Perpatih Pauh, Sutan Bandaro Kaliru, pendekar wanita dari Bonjol Siti Maryam, Dt Rajo Penghulu bersama istrinya, Siti Aisiyah,. Begitu juga pasukan rakyat yang berada di Kamang Ilia. Dengan dipimpin Kari Mudo, Dt Perpatiah Magek, Dt Majo Indo di Koto Tangah, Dt Simajo Nan Gamuk berusaha bahu membahu melawan pasukan Belanda. Pertempuran sengit berakhir sudah. Pasukan Westenenk mundur menuju Pauh sembari membawa tawanan Dt Perpatih. Pasukan rakyat memperoleh kemenangan gemilang lantaran semangat dan koordinasi yang tinggi. Tentara Belanda berhasil dibuat kucar kacir. Tetapi J.Westennek sempat meloloskan diri dan minta bantuan ke Bukittinggi. Dan setelah mendapat bantuan dari Padang Panjang, datanglah kembali pasukan Belanda, dan perang kedua inilah yang membuat pasukan rakyat Kamang kalah dan banyak korban yang berjatuhan. Angka korban yang simpangsiur diantaranya dapat dilihat di Koran-koran yang terbit di Padang menyebut angka 250 orang rakyat Kamang tewas, Belanda sendiri menyebut sekitar 90 orang atau lebih. H. Abdul Manan juga syahid dalam pertempuran 15 Juni menjelang subuh 16 Juni itu.
Sebagai wujud penghargaan dan penghormatan bagi pejuang perang Kamang, dan agar kita generasi muda tidak lupa dengan peritiwa bersejarah itu maka pemerintah melalui kunjungan Menko Keamanan dan Pertahanan Jendral A.H.Nasution meresmikan Makam yang terletak di dusun Kampung Budi Jorong Pakan Sinayan, Nagari Kamang Mudik. diresmikan penggunaannya sebagai Komplek makam pahlawan ini diberi nama "Komplek Makam Pahlawan Perang Kamang Haji Abdul manan" pada tanggal 15 Juni 1962. Didalamnya terdapat 21 pahlawan yang meninggal pada perang Kamang tahun 1908 M. Para pahlawan yang dimakamkan di kompleks ini diantaranya : H. Abdul Manan, Kari bagindo, Haji Musa (Kakak H.Abdul Manan), Kadir St. Bagindo, ML. Sinaro, LB. Mudo/LB Kampua, Dt. Batudung, Udin/Idi, Suid Tk Parit panjang, Datuk N. Tingap, Sanan PK. Basa, Dt. Nan Hijau, MI. Saulah, M. Pandeka Mudo, Datuk Pandeka Ade, Deman, Usman, St. Mantari, M. Intan Mudo, Lb. Sutan, Kadir Bagindo.
Selain yang di makam pahlawan ini, para pejuang perang kamang lainnya ada juga yang di kebumikan oleh pihak keluarga di makam keluarga atau pandam pakuburan suku-masing masing, sesuai dengan adat minangkabau dan ada juga di makam pahlawan Kamang Hilir.
Gambaran singkat ini tentu takkan bisa menggambarkan bagaimana pengorbanan pejuang Perang Kamang saat itu, tapi setidaknya ini bisa member pencerahan bagi masyarakat Sumatera Barat bahwa pernah ada perang yang begitu heroic di daerah Kamang dengan melibatkan berbagai tokoh, berbagai perang, dan beribu dampak yang dirasakan masyarakatnya. Sebagai penyimpul bahasan ini untuk konteks ke kini an adalah : Persatuan Alim Ulama, Niniak Mamak, dan Cadiak Pandai di sebuah nagari akan membuat kekuatan perjuangan dan pembangunan nagari akan maksimal. Setiap tindakan dan usaha harus didasari oleh niat karena Allah, karena itu akan menjadikan usaha kita tersebut sebagai sebagai amal ibadah. Jangan melupakan kewajiban kita sebagai seorang muslim untuk melaksanakan Ibadah dan amal baik. Karena itu lah menjadi dasar atau pondasi kita untuk menghadapi tantangan masa depan dan diramu dengan ilmu. Perjuangan menentang penjajahan, kezaliman, dan ketidak adilan adalah sebuah keharusan, jadi kita sebagai gerenasi muda harus memperlihatkan usaha dan tindakan untuk menentang kezaliman dan penjajahan bahkan bentuk penjajahan di era modern seperti sekarang. Sebagai penutup “Tiap nagari punya episode yang bisa dibanggakannya. Tapi episode Kamang menjadi kebangaan Ranah Minang”. Jangan cabut Perang Kamang dari akar sejarahnya, Karena itulah identitas kami orang Kamang”.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
Tarimokasih pak ANB,, awak manjudulkan itu dek ado pihak2 nan bermain mata dengan sejarah perang kamang pak.
Tapi atas masukan apak ambo ucapkan tarimokasih