HARI INI MULAI DIBANGUN: Padang Green City Setahun Selesai

204 views
Skip to first unread message

Nofend St. Mudo

unread,
May 17, 2013, 10:41:33 PM5/17/13
to RantauNet2 Milis
PADANG, HALUAN — Setelah sukses dengan Basko Hotel dan Basko Grand Mall (dulu bernama Minang Plaza), selanjutnya pengusaha Minang H Basrizal Koto membangun Padang Green City di Kawasan Jl. By Pass, Kelurahan Kalumbuk, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Hari Sabtu (18/5) ini dilaksanakan peletakan batu pertama dan sekaligus menandakan pekerjaan pembangunan Padang Green City dimulai.

Di atas tanah seluas lebih dari 40.000 meter persegi atau 4 hektar ini akan dibangun mal, hotel dan perkantoran. Total nilai investasinya lebih dari Rp1 triliun. Mal berlantai lima dengan luas 60.000 meter persegi ditargetkan selesai pengerjannya selama satu tahun. Bulan Ramadhan tahun 2014 telah mulai beroperasi.

Acara ini akan dihadiri Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim, Walikota Padang Fauzi Bahar, Direktur Utama/CEO Bank CIMB Niaga Arwin Rasyid, Direktur Utama Bank Muamalat Arviyan Arifin, Direktur Utama  Wijaya Karya Bintang Perbowo, Direktur Utama PT Graha Jakarta Utama (pengembang Padang Green City) Zico Basko) dan undangan lainnya.

Presiden Komisaris/CEO Basko Group H Basrizal Koto mengatakan meski pembangunan Padang Green City baru dimulai, namun semua ruang mal dengan konsep modern dan mewah ini nyaris telah habis disewa oleh tenant-tenant besar ternama yang didominasi tenant nasional dan internasional.

Tenant-tenant besar itu di antaranya adalah perusahaan raksasa ritel dari Korea Selatan Lotte Mart, Cinema XXI (termasuk yang Premium), elektronik city, Centro, Ace Hardware, sejumlah perusahaan makan cepat saji dan banyak lainnya.

Menurut Basrizal Koto, proyek Padang Green City ini dibangun oleh PT Graha Jakarta Utama yang tergabung dalam Basko Group dengan Direktur Utama Zico Basko.  Rencana pembangunan Padang Green City, sudah muncul sejak tahun 2012 lalu. Ini hasil diskusi dan masukan dari berbagai tokoh Sumatera Barat, termasuk Wali­kota Padang H Fauzi Bahar yang mendorong Basko untuk mengem­bangkan mal dan hotel yang sudah ada sekarang, yakni Premier Basko Hotel dan Basko Grand Mall ke kawasan By Pass.

“Atas berbagai dorongan dari tokoh-tokoh Sumbar, akhirnya saya memutuskan membangun mal dan hotel, Padang Green City di kawa­san By Pass,” katanya.

Mengapa Basko melakukan pengembangan ke kawasan By Pass? Karena menurutnya keha­diran Basko Hotel dan Basko Grand Mall di Jalan Hamka, Air Tawar serta mal dan hotel lainnya di pusat kota, jumlahnya sudah lebih dari cukup. Dan kalau dipaksanakan menambahnya, maka akan menim­bulkan berbagai dampak negatif.

Kota bisa menjadi sumpek, kemacetan akan menjadi-jadi, serta menumbuhkan persaingan yang tidak sehat. Selain itu, pengaruh buruknya juga akan dirasakan para pedagang kecil dan menengah. Ruang gerak pelaku ekonomi kecil ini akan menjadi semakin sempit dan terjepit.

Berdasarkan pertimbangan itulah, Basko akhirnya memutuskan pengembangan bisnisnya ke kawa­san By Pass. Investasi di daerah pengembangan baru ini, diharapkan bisa menjadi pemicu dan pemacu pembangunan ekonomi masyarakat sekitar.

Guna memastikan kualitas dan ketepatan waktu pengerjaan, maka proyek pembangunan Padang Green City ini ditangani oleh perusahaan BUMN yang terpercaya dan berpe­ngalaman yakni, Wijaya Karya (Wika Building). “Ditargetkan satu tahun selesai. Bulan puasa tahun depan mulai beroperasi. Ini akan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja,” kata Basko.

Walikota Padang Fauzi Bahar senang dan bahagia, sekaligus memberikan apresiasi atas mega proyek Padang Green Mall yang hari ini mulai dibangun oleh Basko Group. “ Ini tentu  menciptakan lapangan pekerjaan yang besar bagi masyarakat. Inilah yang saya harapkan, agar tiap tahun masalah pengangguran dapat teratasi di Kota Padang,” katanya.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan, Pemprov Sumbar menyambut baik setiap investasi yang terus berdatangan. Kehadiran para investor ini semakin meya­kinkan bahwa Sumbar bukan daerah yang menakutkan untuk investasi, sebaliknya menjadi lokasi pilihan investasi.

Apalagi investasi yang nilainya ratusan miliar bahkan triliunan itu dapat mendorong perekonomian masyarakat dan menekan tingkat pengangguran. Salah satunya inves­tasi Basko Group.

Kita sangat bersyukur, investor terus berdatangan dan menjadikan Sumbar sebagai lokasi investasinya. Banyak harapan yang kita tum­pang­kan, termasuk pada investasi Basko Group, terutama untuk mendorong pertumbuhan per­eko­nomian, meningkatkan kese­jah­teraan masyarakat dan mengurangi pengangguran karena banyak me­nyerap tenaga kerja. (h/erz/vie)

Sabtu, 18 May 2013 01:15
--

Wassalam

Nofend St. Mudo
36Th/Cikarang | Asa Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend | YM: rankmarola 

Nofend St. Mudo

unread,
May 17, 2013, 10:43:45 PM5/17/13
to RantauNet
MAGNIT BARU INVESTASI DI TIMUR KOTA PADANG
Ditulis oleh Teguh

Mengembangkan Padang ke timur dan utara, itu yang pernah ada dalam
pikiran Hasan Basri Durin ketika menjadi Walikota pada tahun 80an.
Ketika itu tidak ada pikiran akan ada gempa dan tsunami. Belum ada
prediksi bencana seperti sekarang yang akan mengancam warga di pusat
kota.

Ketika pada permulaan 1970an masalah yang dihadapi Padang di pusat
kota adalah soal banjir, maka semua upaya pemerintah kota ketika itu
tertuju bagaimana membuat warga di pusat kota  menjadi aman dan nyaman
tanpa diganggu banjir yang kadang bisa tiga kali setahaun.

Memang ketika itu ada bandjir kanaal yang dibuat Belanda, namun ketika
itu masalahnya seiring dengan bertumbuhnya pembangunan dan
berkembangnya jumlah penduduk, sistem Bandjir Kanaal tidak mencukupi
lagi. Daerah-daerah yang tadinya masih bisa dijadikan daerah serapan
air seperti Siteba, kini sudah berubah menjadi daerah pemukiman.

Maka dengan memanfaatkan dana loan yang dikucurkan Pemerintah pusat
lewat pemerintah Provinsi Sumatra Barat, proyek pengendalian banjir
dilakasanakan lagi dengan pola multiyears. Ujud pisiknya terutama
membangun dam yang lebih aman di semua pinggir sungai yang masuk ke
kota Padang disamping terus mengeruk bagian hilir dari sungai-sungai
itu.

Terlalu berat beban pusat kota terutama karena ada Universitas Andalas
di kawasan Jati, Air Tawar, Pondok dan sekitar Muara Padang. Ini
membuat berbagai pusat kegiatan mahasiswa menumpuk di pusat kota,
termasuk pemukiman mereka.

Hasan Basri Durin berpikir untuk memindahkan berbagai kegiatan yang
memusat di pusat kota itu ke pinggir kota. Salah satu yang mendesak
adalah memindahkan Universitas Andalas.

Selain kampus yang ada di Air Tawar sudah tidak memadai lagi karena
berdempetan dengan IKIP, para akademisi Unand berpendapat, kampus Air
Tawar ini sudah harus dipindahkan ke luar kota Padang lantaran sudah
tidak kondusif untuk proses perkuliahan. Ada yang mengusul ke Bukit
Tambun Tulang, ada yang ke Bukittinggi dan sebagainya. Walikota Hasan
Basri Durin Saya berpikir keras, kalau Unand pindah ke luar kota, ke
mana lagi anak-anak Padang akan berkuliah? Lagi pula sebagai sebuah
ibu Kota Provinsi, Padang harus malu lantaran tak bisa mempertahankan
keberadaan universitas tertua di luar Jawa ini.

Kesimpulan Pemda Padang krtika itu kampus Unand tidak boleh pindah ke
luar Padang, harus dipertahankan. Konsekwensinya harus dicarikan lahan
yang representatif untuk pembangunan kampus yang baru. Yang terpenting
saat ini adalah lahan, soal pembangunan kampusnya bisa dipikirkan
belakangan, sebab ini akan melibatkan beberapa departemen, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen PU, Departemen Keuangan dan
Bappenas.

Akhirnya diperoleh lahan di daerah Limau Manih. Daerah ini terletak di
kawasan ketinggian sebelah Timur Kota Padang berbatasan langsung
dengan Kabupaten Solok dan berbatasan dengan kawasan hutan lindung.

Bersama Rektor Unand Prof. Mawardi Yunus kemudian Walikota Hasan Basri
Durin mulai mematangkan lahan di Limau Manih itu.

Akibat, pembebasan lahan berlangsung sangat alot dan masa yang cukup
panjang barulah ketika Hasan Basri Durin jadi Gubernur Sumatra Barat
lahan itu benar-benar bebas dan pembangunan kampus pun di mulai.
Termasuk membangun perumahan dosen yang terletak di Ulu Gadut tak jauh
dari kampus.

Apa artinya? Bahwa kemudian sebagian besar aktifitas di Jati
sekitarnya mulai berkurang kepadatannya. Bayangkan andai saja Unand
masih di pusat kota, alangkah memusingkan mengatur ketertiban lalu-
lintasnya sekarang ini.

Kini perlahan-lahan kawasan yang tadinya sepi di timur kota mulai
menarik bagi investor. Satu persatu pusat kegiatan masyarakat (centre
of community) bermunculan di kawaqsan Padang bypass sekitarnya.
Awalnya dimulai dengan membangun terminal regional (yang kemudian tak
jadi dipakai) di Aia Pacah. Lalu muncul kampus Universitas
Baiturrahmah, Rumah Sakit Siti Rahmah, RSUD dan sebagainya. Pascagempa
2009 kawasan itu menjadi magnit bagi investasi. Bemunculan pula
beberapa SPBU, pergudangan, perusahaan rokok, homebase sejumlah dealer
alat berat, otomotif, RS Semen Padang. Lalu dipuncaki dengan
ditetapkan eks terminal regional sebagai pusat perkantoran Pemko
Padang.

Maka apabila kini Basko Group ikut meramaikan kawasan itu dengan
membangun mall dan hotel baru, ini adalah sebuah langkah yang perlu
dicatat untuk secara perlahan memindahkan kegiatan masyarakat dari
zona merah ke zona yang lebih jauh dari sisi pantai.

Terbetik juga kabar bahwa sebuah Kota Mandiri juga akan dibangun oleh
investor di kawasan Sungai Bangek, maka semua itu akan membuat
aktifitas kehidupan masyarakat di pusat kota akan berkurang secara
perlahan. Bukankah salah satu harapan dari mitigasi bencana di Padang
adalah menghindarkan sebanyak mungkin warga tinggal atau beraktifitas
di zona merah?

Maka sebaliknya, apabila masih banyak bermunculan pusat kegiatan di
pusat kota dan sepanjang sisi pantai, justru semakin kontraproduktif
untuk mitigasi bencana. Investasi memang penting untuk menggenjot laju
pertumbuhan ekonomi Padang pascagempa, tetapi sebaiknya diarahkan ke
luar zona merah.***

Sabtu, 18 May 2013 01:10
http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=23496:magnit-baru-investasi-di-timur-kota-padang&catid=13:haluan-kita&Itemid=189
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages