Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir

105 views
Skip to first unread message

Nofiardi

unread,
Jan 22, 2009, 1:47:10 AM1/22/09
to Rant...@googlegroups.com

Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir

31/10/2008 17:12 WIB oleh ANTARA Sumut  
Kategori: Kuliner

 

Pelayan Rumah Makan Padang Sidempuan sedang melayani tamunya dengan aneka menu khas Tapanuli Selatan. (Foto : Surya)

Pelayan Rumah Makan Padang Sidempuan sedang melayani tamunya dengan aneka menu khas Tapanuli Selatan. (Foto : Surya)

Medan, 31/10 (ANTARA) - Dominasi rumah makan Padang di Medan selama bertahun-tahun tampaknya sudah berakhir dengan berdirinya usaha sejenis khas daerah Sumut, seperti rumah makan Padang Sidempuan dan rumah makan Sibolga.

Menu  rumah makan Padang berisiko tinggi terhadap kesehatan karena banyak berunsur santan, daging, cabe (sambal) dan langka dengan sayur sehingga perlu dicari tempat alternatif untuk makan siang dan malam, kata Rifal, seorang pendatang dari Jakarta yang sudah sebulan  bertugas di Medan, Jumat.

Salah seorang warga Minang di Medan M.Nawar mengakui, jarang makan nasi Padang karena tidak tahan lagi menyantap makanan pedas. Menurut catatan, rumah makan Padang di Medan yang terkenal antara lain Garuda, ACC, Bahagia, Famili, Sederhana dan Rumah Makan (Nasi Kapau) Uni Emi.

Ia mengatakan, setiap bertugas ke Medan dulu selalu mencari rumah makan Padang, karena selain cita rasanya yang lezat harganya juga lebih murah dibanding rumah makan Padang di Jakarta, tetapi akhir-akhir ini kecendrungan itu berobah dengan mencari  rumah makan khas daerah Sumut.

Rumah makan khas Sumut itu antara lain rumah makan Padang Sidempuan dan Rumah Makan Sibolga yang menyajikan aneka menu yang didominasi ikan laut dan ikan air tawar baik yang dibakar maupun digulai dengan santan seadanya  serta bermacam-macam sayuran.

Salah satu diantaranya adalah  rumah makan Padang Sidempuan di Medan terdapat di Jalan Darussalam simpang Sei Belutu yang menyajikan makan dan minuman sedikitnya 30 jenis setiap harinya dengan ciri utama ikan sale, ikan haporas, ikan mas, belut sambal, gulai petai dan sayur daun ubi tumbuk.

Pengusaha rumah makan itu, Rachmad Syah Lubis mengatakan, makanan dan minuman yang disediaknnya memang khas Tapanuli Selatan, Sumatera Utara karena  berbagai jenis ikan terutama haporas dan ikan sale sengaja didatangkan dari Padang Sidempuan, ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan.

Harga berbagai jenis makanan di rumah makan dengan bangunan berbentuk joglo, beratap nipah dan tepas (bambu), tanpa pendingin udara (AC) dan berdinding kayu itu dikatakan lebih murah dibanding rumah makan sejenis di kota Medan, karena tanpa AC tentu biaya lebih murah dan sebagainya.

Menurut dia, satu piring belut sambal hanya dihargai Rp10 ribu, ikan sale Rp8.000, kepala ikan mas gulai Rp 8.000 dan sayur daun ubi tumbuk hanya Rp3.000, sehingga siapapun yang makan di sini baik perorangan maupun berombongan tidak merasa “dicekik” dengan harga yang tinggi.

Menurut pengamatan, para pengunjung rumah makan dengan 12 pelayan yang semuanya laki-laki itu bukan hanya kelas menengah kebawah, tetapi artis dari Jakarta, kalangan eksekutif dan direksi sejumlah perusahaan besar juga sering tampak menikmati makan siang di rumah makan tersebut.

Rumah makan khas daerah lain, seperti RM Nasrul Sibolga dengan menu terkenal, kepala ikan gulai dan sontong gulai berlokasi di Jalan Sisingamangarja atau hanya beberapa puluh meter dari Mesjid Raya Medan meski harga makanan di sini sedikit tinggi karena rumah makan ini juga menyediakan ruangan ber-AC.

Selain itu berbagai rumah makan atau restoran khas Jawa juga banyak bermunculan di Medan, seperti rumah makan Wong Solo dan Koki Sunda, sementara restoran dengan makanan Jepang, Amerika Selatan dan Itali serta yang lainnya juga sudah banyak beroperasi di Medan.(S014)

Surya/ANTARA

 

The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.
image001.jpg

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 22, 2009, 2:47:07 AM1/22/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta.
 
Berita di bawah ini menarik dan -- walaupun kita bukan pengusaha restoran Padang -- masalahnya perlu kita renungkan bersama. Kesannya sebagian besar berita mengenai urang awak kok bernada mundur seperti ini. Untuk Jakarta ingat kemunduran urang awak di Pasar Senen, Pasar Tanah Abang, Pasar Cipulir. [Ingat judul buku-buku ini ? 'Minangkabau yang Gelisah', 'Minangkabau di Tepi Jurang', 'Adat Minangkabau di Tepi Juran Kehancuran' ?]
 
Benarkah kesan ini ? Jika tidak benar, syukur Alhamdulillah. Jika benar, astagfirullah. Mengapa kok demikian ? Apa yang menyebabkannya, dan bagaimana caranya menyetop gejala kemunduran ini ? Atau kita serakan saja kepada nasib sendiri-sendiri ?

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Thu, 1/22/09, Nofiardi <Nofi...@pec-tech.com> wrote:

Surya/ANTARA

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: rantaunet-...@googlegroups.com
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Message has been deleted

Defiyan Cori

unread,
Jan 22, 2009, 3:25:15 AM1/22/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta.
 
Waálaikumsalam Wr. Wb. Pak Saaf...
 
Kesannya sebagian besar berita mengenai urang awak kok bernada mundur seperti ini. Untuk Jakarta ingat kemunduran urang awak di Pasar Senen, Pasar Tanah Abang, Pasar Cipulir. [Ingat judul buku-buku ini ? 'Minangkabau yang Gelisah', 'Minangkabau di Tepi Jurang', 'Adat Minangkabau di Tepi Juran Kehancuran' ?
 
(Ambo raso kalau mancaliak fakta nan Pak Saaf ungkap, kan ndak bisa dibantah do...
tapi kalau diraso-raso...awak ko malah maju taruih kok,malah katiko samaso daulu diingekkan...pemimpin awak maju taruih...ndak mancaliak kida suok bagai do....kalau manuruik ambo iko implikasi banyak hal...)
 
Benarkah kesan ini ? Jika tidak benar, syukur Alhamdulillah. Jika benar, astagfirullah. Mengapa kok demikian ? Apa yang menyebabkannya, dan bagaimana caranya menyetop gejala kemunduran ini ? Atau kita serakan saja kepada nasib sendiri-sendiri ?
 
(Kalau kesan nan awak raso biasonyo labiah subyektif Pak, tapi ambo raso iko alah ditulih dek Pak AA Navis (salam hormat) dalam bukunyo Runtuhnya Surau Kami, kalau kecek urang Jawa jiko ado urang nan badung ko iyo pabian se lah sak karep dewe, nah dek awak Pemerintah Daerah ko tamasuak nan badung iyo kabaa jo lai, apolai kalau nan maingekkan ndak bapangkek dan manjabat sudah tu ndak punyo pitih banyak...iyo co angin lalu sen..
trus apo awak ndak babuek apo2, justru iko harus mamotivasi awak untuak mamelokkan no, tapi bak kecek urang bijak...jaan jadi bangsa keledai...mako maminjam pituah dari AA Gym,mulai dari saat ini, dari diri sendiri, dari keluarga dan lingkungan...
But anyway...kalau awak ndak anggap iko masalah...sabana no iyo iko ndak masalah bagai do...iko kan urusan ketek kecek urang Pemda nan tadi ado berita no..
Trus baa...kok ado nan lalok Bupati jiko ado masalah gadang..apo ndak malu awak..?
Mudah2an "lagak urang awak pado umumnyo",tarutamo Pemda yaitu: waang ko sia....? dalam manarimo masukan dan kritik indak tajadi lai...
 
Pendidikan adalah faktor kunci untuak maju...dan iko harus jadi perhatian semua sektor, karano badagang pun ado ilmu no...dan masyarakaik awak nan banyak jadi pedagang di kampuang ndak digusur2 do, tapi iyo dibina dengan baik, baa kecek Pak Mochtar harus ado tindakan affirmatif untuak mereka...masak katiko urang ka Sumbar nan dibali urang karupuak sanjai Christine Hakim...padohal nan mambuek partamo adolah amai2 ambo di Bukiktinggi...iko contoh ketek, bukan indak buliah urang ko badagang...tapi baa ko inyo labiah maju...apo inyo labiah banyak setor dan manyanangkan pejabat Sumbar..?
 
Segitu dulu Pak Saaf,mohon maaf kalau salah...soalnyo ambo masih banyak baraja..

Wassalam
Defiyan Cori L/41



--- On Thu, 1/22/09, Nofiardi <Nofi...@pec-tech.com> wrote:

Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir

31/10/2008 17:12 WIB oleh ANTARA Sumut  
Kategori: Kuliner

 

 

Pelayan Rumah Makan Padang Sidempuan sedang melayani tamunya dengan aneka menu khas Tapanuli Selatan. (Foto : Surya)

Medan, 31/10 (ANTARA) - Dominasi rumah makan Padang di Medan selama bertahun-tahun tampaknya sudah berakhir dengan berdirinya usaha sejenis khas daerah Sumut, seperti rumah makan Padang Sidempuan dan rumah makan Sibolga.

Menu  rumah makan Padang berisiko tinggi terhadap kesehatan karena banyak berunsur santan, daging, cabe (sambal) dan langka dengan sayur sehingga perlu dicari tempat alternatif untuk makan siang dan malam, kata Rifal, seorang pendatang dari Jakarta yang sudah sebulan  bertugas di Medan, Jumat.

 

 The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 22, 2009, 4:33:29 AM1/22/09
to Rant...@googlegroups.com, Firdaus HASAN BASRI, Warni DARWIS, Darul M
Tapek bana, Riri.
 
Tapi justru di siko latak masalah jo urang awak ko, yaitu : sia koh nan ka manjadi tepatan dan tumpuan dalam mambahas, maambiak kaputusan, sarato mamimpin pelaksanaan,  tantang baitu banyak masalah-masalah basamo ko ? Kito nan rajin mautak-atik internet kan hanyo bisa bacawana sajo di rumah atau di kantua kito surang-surang. Indak ado hubungan apo pun antaro kito jo baliau-baliau tu. Sanak kito nan di restoran Padang di Medan tu mungkin malah samo sakali indak sempat mambuka internet.
 
Kalau dipikia-pikia, masyarakat Minangkabau kan memang indak punyo struktur nan tapadu, tapi taserak-serak maurus nasib surang-surang, sasuku-sasuku, dan sanagari-sanagari. Salalu ado resistensi kalau ado urang nan ingin maajak, salain untuak mambahas masalah basamo ko, juo untuak mambuek rencana untuak bakarajo samo.'Curigation' langsuang muncul, baik sacaro anok-anok maupun tampil tabuka tarang-tarangan ka permukaan.Paratikanlah elok-elok jalannyo wacana kito di RN ko. Jaleh bana nampak pola tu.
 
Kaadaan saroman tu juo nampak sangaik jaleh dalam sifat dan nasib pengusaha urang awak, tautamo di tingkek lapangan. Wakatu ambo jadi komisaris utama di PT ASEI dan wakatu ambo masih manjadi komisioner Komnas HAM, ambo mancubo tajun langsuang manolong pengusaha urang awak di Cipulir dan di Tanah Abang, Jakarta, jo mambuek koperasi industri kerajinan rakyat ('kopinkra') dan bank perkreditan rakyat (BPR). Ambo gagal total dalam duo kali 'petualangan ekonomi' ko, langkok jo karugian gadang pitih pribadi tabungan ambo. Hebatnyo, rentenir dari 'Korea Utara' nan amuah main kasa malah 'sukses' di kalangan pedagang ketek awak.
 
Karano itu, ambo bana-bana badoa supayo organisasi Silaturahmi Saudagar Minang (SSM) mampu mangatasi kendala kultural ko. Tando-tando awal keberhasilan alah nampak, tapi rasonyo masih panjang jalan nan harus ditampuah sabalun kito dapek mancapai tingkek solidaritas dan tingkek karajo samo pengusaha Cino, Bugih, atau Batak.
 
Sekedar catatan, dalam ukuran ketek-ketek kini sakali lai ambo mangalami langsuang masalah suliknyo bakarajo samo antaro awak samo awak ko, dalam manangani baban ekstra nan dilatakkan di kuduak ambo sajak tahun 2006, yaitu sabagai Ketua Umum MAPPAS. Mintak ampun. Langsuang takana dek ambo 'fatwa' pak Darul : urang awak ko bisa samo-samo bakarajo, tapi indak bisa bakarajo samo
 
Sahubungan jo itu, alah duo kali ambo maajukan pamintaan pangunduran diri, dari MAPPAS dan dari Gebu Minang, tapi alun juo disatujui lai dek pengurus nan lain. Sabananyo ambo ingin bergerak labiah banyak dalam Sekretariat Nasional Masyarakat Hukum Adat (Setnas MHA) nan bapusat di Pekan Baru, Riau, nan ikut ambo dirikan dalam tahun 2006 dahulu, dan insya Allah ado kamajuan nan agak lumayan.
 
Jadi kok menurun dominasi rumah makan Padang -- di Medan dan mungkin di tampek lain --  saroman nan dibaritokan koran, yo baitulah. Sacaro pribadi ambo hanyo bisa galinggaman sajo.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Thu, 1/22/09, Riri Chaidir <riri.c...@rantaunet.org> wrote:

From: Riri Chaidir <riri.c...@rantaunet.org>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Thursday, January 22, 2009, 3:24 PM

Waalaikumsalam wr wb.
 
Maaf, Batua atau indak berita tu, kalau diambo nan diparalukan kini bukan lagi "kita renungkan bersama". Bahkan dari kapatang2 pun harusnya sudah ada usaha, karena "handicaps" yang disebut di artikel tu bukan baru sakali ko ambo danga, dan alah lamo.
 
Kalau di artikel tu, tampak di ambo 3 hal nan "dikomplen" urang kan:
 
  1. Bermasalah dengan kesehatan - nah, iko kan lah dari dulu ado isu tentang iko. Tapi kok indak ado usaho untuak mengklarifikasi iko? Kalaupun ado, itu cuma terbatas di milis (misalnya di RN pernah ada penjelasan tentang ini)
  2. Padeh - kalau memang selera orang sana tidak suka, atau trendnya berubah, apa tidak bisa dimodifikasi?
  3. Dulu murah, kini maha - nah, apo memang indak bisa dirubah kesan model iko?
Jadi kalau misalnyo berita itu batua ..., yo memang harusnya lah diperkirakan dari dulu ...
 
Riri
Bekasi, L 46
 
 
 
 
 
 


 
2009/1/22 Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com>
Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta.
 
Berita di bawah ini menarik dan -- walaupun kita bukan pengusaha restoran Padang -- masalahnya perlu kita renungkan bersama. Kesannya sebagian besar berita mengenai urang awak kok bernada mundur seperti ini.
 
 
 
 
 

 




zulidamel

unread,
Jan 22, 2009, 6:30:03 AM1/22/09
to Rant...@googlegroups.com
Mamanda saaf
Usaho rumah makanko kebanyakan kan masih usaho perorangan mak, masih ado pemain dirumah makanko nan saling manyarang jo caro halui, tapi disisi lain lah tampak nan melakukan pengelolaan dengan pola manajemen terpadu bantuak RM Sederhana.
 
Masalah dominasi berakhir manuruik ambo alun sajauh itu bana, hanyo penyusupan untuk maambiak kesempatan. Itu kan biaso mak. Pasanyo juo batambah laweh. Jadi bagi mereka nan bamain dilapangan ndak taraso.
 
Namun isu-isu mengenai masalah kesehatan, Padeh atau menyiasati salero urang nan ka makan, tantu paralu disikapi juo,  sabalun  manjadi panyakik nan sulik diubek. Mungkin masalah ko indak bisa di pelok-i di lapangan do mak. Jaleh nyo manuruik ambo dibuek dapua untuk mamasak urang-urang nan ka tajun kalapangan ko. Sekolah-sekolah Pariwisata nan lebih fokus pado budaya dan kuliner Minang mukasuik ambo.
 
Wassalam
Zulidamel - 46Th - Jkt
----- Original Message -----
Sent: Thursday, January 22, 2009 4:33 PM
Subject: [R@ntau-Net] Re: Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir

Tapek bana, Riri.
 
Tapi justru di siko latak masalah jo urang awak ko, yaitu : sia koh nan ka manjadi tepatan dan tumpuan dalam mambahas, maambiak kaputusan, sarato mamimpin pelaksanaan,  tantang baitu banyak masalah-masalah basamo ko ? Kito nan rajin mautak-atik internet kan hanyo bisa bacawana sajo di rumah atau di kantua kito surang-surang. Indak ado hubungan apo pun antaro kito jo baliau-baliau tu. Sanak kito nan di restoran Padang di Medan tu mungkin malah samo sakali indak sempat mambuka internet.
 
Kalau dipikia-pikia, masyarakat Minangkabau kan memang indak punyo struktur nan tapadu, tapi taserak-serak maurus nasib surang-surang, sasuku-sasuku, dan sanagari-sanagari. Salalu ado resistensi kalau ado urang nan ingin maajak, salain untuak mambahas masalah basamo ko, juo untuak mambuek rencana untuak bakarajo samo.'Curigation' langsuang muncul, baik sacaro anok-anok maupun tampil tabuka tarang-tarangan ka permukaan.Paratikanlah elok-elok jalannyo wacana kito di RN ko. Jaleh bana nampak pola tu.
 
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 22, 2009, 6:38:59 AM1/22/09
to Rant...@googlegroups.com, Dra Aditi HUSNI
Setuju, Nanda Zulidamel. Karano manyandang namo 'Padang' nan samo jo Minangkabau, ado rancaknyo diadokan karajo samo manyalasaikan masalah dan manjawab tantangan nan manyangkuik kito sadonyo, walaupun usahonyo sandiri adolah usaho perseorangan.Paliang indak ado nan mamparatikan pakambangan keadaan sarato maagiah paringatan dan saran untuak sagalo urang awak nan takaik.
 
Ambo dukuang panuah gagasan tantang paralunyo ado sekolah-sekolah kuliner dalam rangka mandukuang pariwisata, baiak sacaro formal maupun sacaro informal.
 
Baa kok sikola -- atau penataran -- ko kito sarankan di INS Kayutanam ?

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Thu, 1/22/09, zulidamel <zuli...@yahoo.co.id> wrote:

From: zulidamel <zuli...@yahoo.co.id>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir

Zulkarnain Kahar

unread,
Jan 22, 2009, 2:48:19 PM1/22/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum Pak Syaaf,
 
saya tertarik menambahkan pernyataan  pak Syaaf  yang ini;
//Mengapa kok demikian ? Apa yang menyebabkannya//
 
Rumah Makan Padang sudah jadi nomor satu sejak lama. Orang lain berfikir keras siang malam untuk maju.... Saya jadi teringat dominas  komuter  AI BI EM di tahun 80 han dan kemudian tergusur pelan pelan dan kemudian ...merangkak untuk bangun lagi...di era yang sudah dipenuhi para pesaing.
 
pemilik dan pengusaha RMP, harus memeras otak lebih keras lagi apa maunya pasar.., Seorang teman asing saya ketika saya bawa makan kerumah makan padang langsung berkomentar " Wah saya kok makan bekas orang lain?"
 
Mungkin perlu difkirkan merubah cara penyajian,  seperti ambil sendiri atau diambilkan tak perlu lah disodorkan seluruh makanan yang ada didepan meja. Bayangkan bila ada orang yang nakal meletakan racun disalah satu makanan yang tidak dimakan. Ini bisa menutup usaha RMP tersebut.

Wassalam,
Zulkarain Kahar

--- On Thu, 1/22/09, Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com> wrote:

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 22, 2009, 5:09:25 PM1/22/09
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam w.w. Sanak Zulkarnain Kahar dan para sanak sa palanta,
 
Pandangan Sanak ini merupakan salah satu wujud penjelasan yang paling masuk akal. Kita bukan mundur, kita masih jalan di tempat yang sama, tapi secara relatif orang di sekeliling kita yang maju. Kita sendiri sudah merasa puas melakukan hal-hal yang sama, bahkan rindu kembali ke 'kebesaran' masa yang lampau.
 
Saya memang agak terheran-heran melihat satu sikap mental [sebagian besar? ] urang awak yang mungkin merupakan salah satu penyebab dari situasi 'jalan di tempat' tersebut, yaitu konservatisme dan resistensi terhadap perubahan ['jalan di aliah urang manggaleh']. Sungguh sangat jarang saya melihat sikap keterbukaan, apalagi sikap yang berani menjemput dan menciptaan perubahan untuk masa datang. Kalaupun ada, sikap itu lebih merupakan sikap individual dari beberapa 'urang-urang awak' yang berani 'hijrah' dan 'berfikir di luar kotak'. 
 
Keberhasilan rangkaian Restoran 'Sederhana' dengan sistem 'franchise'  sekarang ini mungkin merupakan salah satu contoh dari satu -- atau beberapa -- orang Minang yang berani menciptakan hal yang baru dari rutinitas 'manajemen restoran Padang'  yang lama, yang dahulu pernah diulas dengan baik oleh pak Mochtar Naim.
 
Bisakah keberanian ber-'hijrah' dari yang lama dan 'berfikir di luar kotak' ini dikembangkan di kalangan kita orang Minangkabau ?  Sudah barang tentu bisa. Bukankah itu sesungguhnya esensi dari tradisi 'merantau' ?  Tapi, bagaimana cara melaksanakannya dalam kurun abad ke 21 ini, sewaktu 'rantau' tidak lagi seluruhnya bersahabat, apalagi sewaktu suku-suku lain bergerak lebih cepat dan lebih dinamik ? Jawabannya mungkin terletak dalam pendidikan, khususnya pendidikan pribadi, di dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam sekolah.
 
Momen paling penting dalam pembentukan kepribadian seseorang adalah masa balita -- antara 0-5 tahun -- yang berarti faktor penentu  terletak dalam tangan para ibu. Dalam hubungan inilah saya memandang pentingnya kita memberikan peranan lebih besar kepada para ibu dan calon ibu, jauh lebih besar dari sekedar peran 'limpapeh rumah nan dagang', tapi sebagai pembentuk watak generasi muda kita. Sudah barang tentu hal ini tidak berarti dengan mengecilkan peranan kaum bapak, yang merupakan pemimpin serta 'provider' bagi keluarga.
 
Jadi gejala menurunnya dominasi rumah makan Padang mungkin hanyalah salah satu indikasi saja dari fenomena kemunduran umum kita orang Minangkabau dalam dunia yang berubah amat cepat ini, yang jika direnung-renung berakar pada konservatisme dan resistensi kita sendiri terhadap perubahan.
 
Kabar baiknya, kemunduran peran itu bisa diatasi secara terencana, karena bagaimana pun, secara individual masih banyak orang-orang Minangkabau yang mempunyai kemampuan innovatif, dan juga secara individual menunjukkan keberhasilan dalam bidang yang digelutinya sebagai karir. Namun yang menjadi masalah kita kan bukan secara individual, tetapi secara kolektif. Kalau itu masalahnya, kita kembali lagi ke 'square one', yaitu sistem nilai kita yang amat konservatif dan resisten terhadap perubahan. Mungkin hal itu juga yang merupakan penjelasan mengapa tidak ada tempat bagi 'innovators' dalam struktur masyarakat kita.

Wallahualambissawab.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Fri, 1/23/09, Zulkarnain Kahar <kahar_zu...@yahoo.com> wrote:

From: Zulkarnain Kahar <kahar_zulkarnain@yahoo..com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Friday, January 23, 2009, 2:48 AM

Assalamualaikum Pak Syaaf,
 
saya tertarik menambahkan pernyataan  pak Syaaf  yang ini;
//Mengapa kok demikian ? Apa yang menyebabkannya//
 
Rumah Makan Padang sudah jadi nomor satu sejak lama. Orang lain berfikir keras siang malam untuk maju.... Saya jadi teringat dominas  komuter  AI BI EM di tahun 80 han dan kemudian tergusur pelan pelan dan kemudian ...merangkak untuk bangun lagi...di era yang sudah dipenuhi para pesaing.
 
pemilik dan pengusaha RMP, harus memeras otak lebih keras lagi apa maunya pasar.., Seorang teman asing saya ketika saya bawa makan kerumah makan padang langsung berkomentar " Wah saya kok makan bekas orang lain?"
 
Mungkin perlu difkirkan merubah cara penyajian,  seperti ambil sendiri atau diambilkan tak perlu lah disodorkan seluruh makanan yang ada didepan meja. Bayangkan bila ada orang yang nakal meletakan racun disalah satu makanan yang tidak dimakan. Ini bisa menutup usaha RMP tersebut.

Wassalam,
Zulkarain Kahar

Afda Rizki

unread,
Jan 22, 2009, 6:25:12 PM1/22/09
to Rant...@googlegroups.com, Ediyus Hz

Maaf kalau indak ado hubunganno jo baminang-minang, tapi insyaAllah info ko ado manfaatnyo :


---
Untuk pendaftaran bisa melalui cabang BSMI terdekat, atau untuk Riau bisa menghubungi saudara :

Ediyuz <edi...@chevron.com>

---

Assalaamu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh,
AlhamduliLLAH…..
AlhamduliLLAH…..
AlhamduliLLAHI RABBIL'alamiiin…..
Gencatan senjata pun sudah mulai efektif dengan ditariknya pasukan Israel dari Gaza mulai hari Ahad, 18 Januari jam 2:00 dinihari. Serangan zionis Israel telah meninggalkan luka yg dalam bagi rakyat Palestina khususnya Gaza, kekejian tsb telah mengakibatkan tidak kurang 1200 orang Palestina terbunuh, 55% korban adalah anak-anak, wanita dan orang tua, lebih 450 di antaranya anak-anak, lebih dari 110 orang kaum wanita dan lebih dari 120 orang tua. Belum lagi jumlah korban yang terluka parah dan ringan mencapai lebih 5300 orang.

Bapak dan Ibu calon penghuni syurga yang dicintai ALLAH SWT,
Untuk membantu tragedi kemanusian tsb BSMI telah menyusun rencana untuk mengirimkan relawan medis (dokter) secara bertahap, untuk itu mohon kami di-informasikan jika ada relawan medis (dokter) yang ingin berjihad dengan tenaga ke Palestina, baik diantara Bapak dan Ibu, maupun saudara, sahabat ataupun tetangga, dengan syarat Islam.

Tolong kami diberikan informasi sbb:

  • Nama sesuai dengan Paspor
  • Alamat dan nomer KTP
  • Nomer telpon yang bisa dihubungi
  • Kesediaan waktu, dari tanggal berapa, sampai tanggal berapa.
  • Alamat email (jika ada)

Insya ALLAH, kami akan data, dan panggil sesuai kebutuhan di lapangan.

BSMI dalam pekan ini, insya ALLAH akan mengirimkan kembali relawan medis ke Gaza, sore ini keputusan keberangkatan dan jumlah relawan sedang di musyawarahkan.

Bapak dan Ibu para dermawan yang dimuliakan ALLAH SWT,
AlhamduliLLAH, penggalangan dana oleh BSMI bekerjasama dengan TVOne pada Jum'at 16-01-09 malam telah terkumpul dana sekitar 2,2Milyar Rupiah.
BSMI masih tetap melakukan penggalangan dana untuk saudara-saudara kita di Palestina, untuk tujuan tsb, silahkan salurkan zakat, infaq dan sadaqoh Bapak dan Ibu melalui:

BANK MANDIRI Cab Duri NOREK: 108-00-0482264-0 a/n Budi Setiawan#20834 QQ BSMI Duri

Atau Rekening BSMI Pusat:

Bank Syariah Mandiri cab. Jatinegara No. Rek. 0010102555 an. Bulan Sabit Merah Indonesia
Bank Syariah Mandiri cab. Tanjung Priok No. Rek. 0200038569 an. Bulan Sabit Merah Indonesia

Melalui BSMI Pusat, wakil warga Palestina atas nama seluruh warga Palestina mengucapkan ribuan terimakasih atas dukungan dana dan doa' yang telah diberikan pada mereka, semoga ALLAH SWT menambah keberkahan atas harta Bapak dan Ibu semua dan dibalas oleh ALLAH SWT dengan pahala yang berlipat ganda….. Syukron katsira….. JazaakumuLLAAH khairan katsira….. Aaamiin.

Wassalaamu'alaykum wa rahmatuLLAHI wa barakatuh,
BSMI Cab.Duri

Defiyan Cori

unread,
Jan 22, 2009, 8:49:33 PM1/22/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalaamuálaikum Wr. Wb.
Mudah2an Pak Saaf dan sanak lain yang budiman masih bisa menerima masukan dari ambo ko, InsyaALLAH ambo ndak punyo mukasuik apo2 salain mamajukan nagari nan denai cito. Sabab ambo hanyo urang ketek sajo...nan pernah hiduik padiah baraja dan badiskusi di zaman otoritarian SOEHARTO yang militeristik didikan KNIL tu dan model kepemimpinan ndak jauah beda jo Bulando dan Soekarno, walau lebih halui saketek...
 
Pandangan Sanak ini merupakan salah satu wujud penjelasan yang paling masuk akal. Kita bukan mundur, kita masih jalan di tempat yang sama, tapi secara relatif orang di sekeliling kita yang maju. Kita sendiri sudah merasa puas melakukan hal-hal yang sama, bahkan rindu kembali ke 'kebesaran' masa yang lampau.
 
Ambo setuju Pak Saaf kalau kito mancaliak permasalahan dengan jernih dan masuk akal. Manuruik ambo, awak ko, suku bangsa Minangkabau indak jalan ditempat dan bukan juo nan lain labiah maju dibandiang awak. Jiko kasimpulan iko batua, tantu bangsa ko alah maju ditangah paradaban dunia, tapi nyatonyo apo baitu...? Suku awak memang memiliki kontribusi di masa kemerdekaan bukan di masa Orde Baru,jadi manuruik ambo referensi "kebesaran" memang labiah tapek dilatakkan di maso itu, sadang Orde Baru marusak tatanan awak....apolai jo UU tentang Pemerintahan Desa no..
Mengenai kasus Rumah Makan ko kekhawatiran boleh saja menghinggapi kita dan itu cukup dengan cara yang wajar, karano manuruik ambo iko adolah kasus sajo, ndak sadoalah no Rumah Makan Padang akan kehilangan konsumen karano punyo ciri khas tersendiri. Dan, hadirnya resto-resto baru di daerah adalah sebuah fenomena dengan masakannya juga memiliki cita rasa tersendiri. Secara umum ini adalah sebuah persaingan dalam ceruk pasar, dan setiap orang dapat mengambil peran dalam ceruk pasar tersebut. Untuk tetap bisa mengambil hati para konsumen, maka disinilah perlunya strategi pemasaran dan juga orientasi pelayanan. Jadi tidak ada hubungan berdirinya Rumah Makan baru dengan dominasi Rumah Makan Padang, dan apa pentingnya mendominasi sih...?
 
Saya memang agak terheran-heran melihat satu sikap mental [sebagian besar? ] urang awak yang mungkin merupakan salah satu penyebab dari situasi 'jalan di tempat' tersebut, yaitu konservatisme dan resistensi terhadap perubahan ['jalan di aliah urang manggaleh']. Sungguh sangat jarang saya melihat sikap keterbukaan, apalagi sikap yang berani menjemput dan menciptaan perubahan untuk masa datang. Kalaupun ada, sikap itu lebih merupakan sikap individual dari beberapa 'urang-urang awak' yang berani 'hijrah' dan 'berfikir di luar kotak'. 
 
Panduan perubahan kita kan sudah jelas Pak Saaf, falsafah Adat Basandi Syara', Syara'basandi Kitabullah, masalah no apo kito alah menjadikan no sebagai common denominator dalam kehidupan yang penuh persaingan..? Maaf Pak, kalau buliah ambo batanyo konservatisme dan resistensi macam apo yang Pak Saaf mukasuik...?
 
Keberhasilan rangkaian Restoran 'Sederhana' dengan sistem 'franchise'  sekarang ini mungkin merupakan salah satu contoh dari satu -- atau beberapa -- orang Minang yang berani menciptakan hal yang baru dari rutinitas 'manajemen restoran Padang'  yang lama, yang dahulu pernah diulas dengan baik oleh pak Mochtar Naim.
 
Nah ini kan bukti, bahwa kita tidak mundur, Pak..? Masih banyak bukti2 lain yang ambo temukan di Sulawesi Selatan dan daerah lain, bahwa ada masakan khas Makassar atau daerah lain..itu hal biasa saja dalam persaingan...Di Medan juga ada RM Padang yang maju...
 
Bisakah keberanian ber-'hijrah' dari yang lama dan 'berfikir di luar kotak' ini dikembangkan di kalangan kita orang Minangkabau ?  Sudah barang tentu bisa. Bukankah itu sesungguhnya esensi dari tradisi 'merantau' ?  Tapi, bagaimana cara melaksanakannya dalam kurun abad ke 21 ini, sewaktu 'rantau' tidak lagi seluruhnya bersahabat, apalagi sewaktu suku-suku lain bergerak lebih cepat dan lebih dinamik ? Jawabannya mungkin terletak dalam pendidikan, khususnya pendidikan pribadi, di dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam sekolah.
 
Ambo sipakaiak Pak Saaf undoubtedly bahwa iko nan paliang utamo, Pak Saaf bisa buktikan bahwa nan manggaleh ko kabanyakan tamek apo? Iyo kalau lai amuah baraja, kalau indak iyo..lambek laun ndak jaleh lai ka manggaleh apo...? Iko bana nan indak di paratian dek Pemerintah Sumbar, karano iyo itu tadi "Pemda nyo katak dalam tempurung". Dulu ambo punyo gagasan dan alah ambo sampaikan supayo urang2 kampuang nan punyo sumangaik diajak mancaliak keberhasilan urang lain di nagari lain kalau para ka mancanegara supayo muncul best self learning, indak pejabat nan taruih jalan-jalan do...Eh...nyatonyo iyo pejabat tu nan pai jalan2...
 
Jadi gejala menurunnya dominasi rumah makan Padang mungkin hanyalah salah satu indikasi saja dari fenomena kemunduran umum kita orang Minangkabau dalam dunia yang berubah amat cepat ini, yang jika direnung-renung berakar pada konservatisme dan resistensi kita sendiri terhadap perubahan.
 
Ambo raso awak ndak paralu mandominasi do Pak, nan paliang penting eksistensi urang Minangkabau diharagoi dan manfaat bagi urang banyak, dan itu tidak perlu popularitas media, nanti juga akan dicari sendiri oleh media...Itulah konsep hidup almarhun Pak Natsir.  
 
Berita-berita dan opini di media massa bisa kita ambil hikmahnya untuk memotivasi kita lebih maju, bahwa kita adalah suku bangsa yang besar dan bermanfaat bagi bangsa ini. Jadi, mari kita hilagkan pikiran2 mendominasi yang akan menjadi "penyakit" dan menjadi sebab kita tidak beranjak. Masa lalu justru jadi motivator terbaik untuk itu, bukan sebaliknya...mari ita bangun bersama-sama Minagkabau's Dream...lepas dari hal2 yang mendominasi...

Wallahualambissawab.
 
Wassalam
Defiyan Cori L/41 yang sedang merancang kebangkitan
 -------------------------------------------------

 
Rumah Makan Padang sudah jadi nomor satu sejak lama. Orang lain berfikir keras siang malam untuk maju.... Saya jadi teringat dominas  komuter  AI BI EM di tahun 80 han dan kemudian tergusur pelan pelan dan kemudian ...merangkak untuk bangun lagi...di era yang sudah dipenuhi para pesaing.
 
pemilik dan pengusaha RMP, harus memeras otak lebih keras lagi apa maunya pasar.., Seorang teman asing saya ketika saya bawa makan kerumah makan padang langsung berkomentar " Wah saya kok makan bekas orang lain?"
 
Mungkin perlu difkirkan merubah cara penyajian,  seperti ambil sendiri atau diambilkan tak perlu lah disodorkan seluruh makanan yang ada didepan meja. Bayangkan bila ada orang yang nakal meletakan racun disalah satu makanan yang tidak dimakan. Ini bisa menutup usaha RMP tersebut.

 
 
The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.


Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 23, 2009, 7:15:06 AM1/23/09
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam w.w. Sanak Defiyan Cori dan para sanak sa palanta,
 
Tantu sajo masih tabuka paluang gadang untuak kito basamo mambahas labiah lanjuik masalah RMP ko. Pandapek ambo kan alun tantu batua.
 
Rasonyo ado manfaatnyo kalau nanti ado di antaro nan mudo-mudo maadokan penelitian nan baiyo bana tantang  RMP ko, sabagai pambandiang dari kesan pribadi kito surang-surang. Akan labiah langkok, labiah mandasar, labiah obyektif. [ Atau memang alah ado, hanyo kito nan alun tahu? ]

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Fri, 1/23/09, Defiyan Cori <defi_...@yahoo.com> wrote:

From: Defiyan Cori <defi_...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir
To: Rant...@googlegroups.com
Message has been deleted

hambociek

unread,
Jan 23, 2009, 9:02:10 AM1/23/09
to Rant...@googlegroups.com
> Kalau boleh kita kembali ke topik awalnya. RMP yang menurut
> artikel Antara itu sudah menurun dominasinya. Di situ
> disebutkan 3 "masalah (kesehatan, rasa pedas, dan harga).

Sebagai tambahan bahan renungan yang tidak pernah terberita:
1. Kalau soal "pedas", yang banyak juga aorang yang komplein dengan
"manis". Kesukaan pengunjung terserah kepada selera masing-masing.
Soal "harga", sangat bervariasi tergantung pada kempamuan dompet
masing-masing.

2. Pernah saya mengajak seseorang Sono makan di Rumah Makan Padang.
Tetapi apa gledeknya: "Rumah Makan Padang? Makan sisa?". Saya
terkejut, tidak pernah mendengar pemikiran atau keritikan "Orang Lain"
mengenai Rumah Makan Padang. Rupanya yang menjadi komplein di sini
adalah, makanan yang sudah dihidangkan di meja, sebagian sudah
dipegang-pegang - "dikanyak-kanyak" - orang untuk mengambil kuahnya,
dikembalikan, digabungkan lagi ketempat panci untuk nanti diambil
kembali untuk dihidangkan kepada tamu lain. Jadi ini rupanya yang
dianggap "sisa", "Makan Sisa!".

Salam,
--MakNgah
--Sjamsir Sjarif

--- In Rant...@yahoogroups.com, Riri Chaidir <riri.chaidir@...> wrote:
>
> Defyan, Pak Saaf, dan dunsanak sadonyo.
>
> Ambo kurang tertarik kalau pembahasan tentang RMP ini melebar
kemana2. Kalau
> sekedar memberikan latar belakang atau contoh kasus yang relatif
sama, OK
> lah.
>
> Bukan apa2, saya cuma takut nanti kalau orang2 menganggap saya terlalu
> cerdas, sehingga semua orang berebut meng-hire saya untuk membantu
> menyelesaikan semua masalah di republik ini. Nak kalau itu terjadi,
bilo lo
> waktu ambo basuo jo dunsanak di palantako lai.
>
> Kalau boleh kita kembali ke topik awalnya. RMP yang menurut artikel
Antara
> itu sudah menurun dominasinya. Di situ disebutkan 3 "masalah (kesehatan,
> rasa pedas, dan harga). Terlepas dari apakah pendapat itu benar atau
salah,
> ada beberapa pendapat dari dunsanak, mengenai plus minusnya RMP.
>
> Nah, sekarang tinggal, apakah para pebisnis RMP itu sendiri memang
merasa
> "terganggu" dengan pemberitaan2 bernada minor tersebut? Kalau iya,
mereka
> harusnya yang mengatasinya. Tapi mungkin juga mereka tidak terganggu
(ini
> kalau saya lihat dari 3 faktor penyebab yang disebutkan di artikel
tersebut
> kan sudah lama).
>
> Kalau memang ini menjadi concern kita, sebaiknya ini "disalurkan" ke
pihak
> yang lebih kompeten. Saya juga tidak tahu, apakah pengusaha RMP itu
punya
> semacam asosiasi atau bagaimana. Tapi mungkin mereka bagian dari PHRI?
>
> Atau karena rumah makan sudah dianggap bagian dari pariwisata, ya MAPPAS
> atau WSTB lah, pak Saaf, mungkin bisa menindaklanjutinya. Kita bisa
supply
> bahan2 dari diskusi RN, mungkin
>
> Itu kalau pendapat saya
>
>
> Riri
> Bekasi, L 46
>


Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 23, 2009, 4:36:47 PM1/23/09
to Rant...@googlegroups.com, Dr Mochtar NAIM
Riri, mungkin akan menarik  jika ada di antara kita yang mengenal salah satu pemilik atau eks pemilik RMP ini menanya bagaimana pengalaman dan harapannya tentang bisnis yang digelutinya itu. Jika beliau ada waktu, rasanya pak Mochtar Naim tepat untuk mengadakan hal itu, karena dulu beliau pernah menulis tentang 'manajemen restoran Padang'.
 
Saya belum tahu apakah para pemilik RMP ini mempunyai semacam asosiasi atau tidak. Kelihatannya kok tidak ada, seperti bisnis 'urang awak' pada umumnya.
 
Dapat saya jelaskan bahwa MAPPAS atau WSTB belum siap untuk melakukan hal itu, karena yang satu hanya kumpulan pemeduli -- semacam pengamat -- dan yang lain sedang dalam proses pembentukan.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Fri, 1/23/09, Riri Chaidir <riri.c...@rantaunet.org> wrote:

From: Riri Chaidir <riri.c...@rantaunet.org>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Friday, January 23, 2009, 8:28 PM

Defyan, Pak Saaf, dan dunsanak sadonyo.
 
Ambo kurang tertarik kalau pembahasan tentang RMP ini melebar kemana2. Kalau sekedar memberikan latar belakang atau contoh kasus yang relatif sama, OK lah.
 
Bukan apa2, saya cuma takut nanti kalau orang2 menganggap saya terlalu cerdas, sehingga semua orang berebut meng-hire saya untuk membantu menyelesaikan semua masalah di republik ini. Nak kalau itu terjadi, bilo lo waktu ambo basuo jo dunsanak di palantako lai.
 
Kalau boleh kita kembali ke topik awalnya. RMP yang menurut artikel Antara itu sudah menurun dominasinya. Di situ disebutkan 3 "masalah (kesehatan, rasa pedas, dan harga). Terlepas dari apakah pendapat itu benar atau salah, ada beberapa pendapat dari dunsanak, mengenai plus minusnya RMP.
 
Nah, sekarang tinggal, apakah para pebisnis RMP itu sendiri memang merasa "terganggu" dengan pemberitaan2 bernada minor tersebut? Kalau iya, mereka harusnya yang mengatasinya. Tapi mungkin juga mereka tidak terganggu (ini kalau saya lihat dari 3 faktor penyebab yang disebutkan di artikel tersebut kan sudah lama).
 
Kalau memang ini menjadi concern kita, sebaiknya ini "disalurkan" ke pihak yang lebih kompeten. Saya juga tidak tahu, apakah pengusaha RMP itu punya semacam asosiasi atau bagaimana. Tapi mungkin mereka bagian dari PHRI?
 
Atau karena rumah makan sudah dianggap bagian dari pariwisata, ya MAPPAS atau WSTB lah, pak Saaf, mungkin bisa menindaklanjutinya. Kita bisa supply bahan2 dari diskusi RN, mungkin 
 
Itu kalau pendapat saya
 
 
Riri
Bekasi, L 46
 
 
 
 
 
 

 
 

 
2009/1/23 Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com>
Message has been deleted
Message has been deleted
Message has been deleted

Tasril Moeis

unread,
Jan 23, 2009, 10:04:46 PM1/23/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Da Saaf jo dumsanak sapalanta,
Kalau memang paralu ado Pak Gindo Ichan (H. Nursal st. Bagindo) pemilik Simpang Raya nan bisa wak ajak ma ota2 tantang hal iko, kebetulan baliau ko konco arek pulo jo Da Muchtar Naim. Baa kiro2?
 
Wassalam
Tan Ameh
----- Original Message -----
Message has been deleted

hanifah daman

unread,
Jan 23, 2009, 10:42:11 PM1/23/09
to riri.c...@rantaunet.org, Rant...@googlegroups.com
Assalammualaikum WR WB. Di dekat rumah hanifah juga banyak RMP. Ada juga RMJ yang tempatnya sederhana. Salah satu di antaranya sangat rame. Disana jg tersedia gulai ayam, gulai ikan, asam padeh ikan dll. Target mrk adalah ibu2 atau mhs yang tidak punya waktu untuk memasak shg lauk pauk di beli yg sudah masak. Mrk tdk pakai ruang tempat makan. Harganya murah, rasa enak juga, bersih. Orangnya ramah. RMP sepi2 aja. Mungkio krn lebih mahal, kurang menyediakan berbagai jenis sayuran. Jarang ada tempe dan tahu. Kalau akan ada pertemuan sesama pengusaha RMP saran hanifah sebaiknya cara pelayanan dan pembayaran perlu di rubah. Pernah jg teman ngomong, beda pelayan, beda harga. Swalayan atau sistim tunjuk yang di mau serta bayar sebelum makan bagus jg jd pilihan. Pernah jg teman bercerita ada RMP membuang semua yg telah di sajikan di meja. Resikonya ya mubazir. Atau sajikan apa yang mereka pesan. Mudah2an bermanfaat. Wass. Hanifah

Riri Chaidir wrote:
> Pak Saaf, Mak Ngah, dan dunsanak sadonyo.
>  
> Saya mengenal beberapa pemilik dan pegawai RMP, dan beberapa kali berbagi cerita tentang pengalamannya. Buat saya, justru cerita ini yang membuat saya tertarik jika ada suatu penelitian yang "komprehensif" yang dilakukan pihak yang independen. Misalnya PHRI.
>  
> Misalnya tentang persepsi orang asing yang diceritakan Mak Ngah dan Uda Zulkarnain, tentanng "makanan bekas". Saya juga pernah mendengar komentar serupa dari salah satu teman satu tim. Lucunya, dia yang berkomentar, tapi dia juga yang paling doyan ke sebuah rumah makan kecil di Jalan Juanda, JakPus
>  
> Mungkin penelitian nya bisa menjelaskan, kalau seandainya memang ada kecenderungan orang asing tidak suka dengan "makanan bekas", bagaimana cara mengatasinya. Karena "makanan bekas" itu merupakan konsekwensi dari model pelayanan, dimana begitu orang masuk dan duduk, langsung dihidangkan berbagai samba. (surang kawan ambo malah "beriklan" ka urang sa bangso jo inyo nan baru di tim kami, bahwa makanan langsung dihidangkan tanpa bertanya. "even you only need their chair to fix up your shoelace..."
>  
> Atau penelitian mengenani mengapa satu RMP bisa "tangguh" bersaing dengan group restaurant (Misalnya, rumah makan ketek nan di Juanda tu; atau di ujuang jalan Juanda ado lo RMP gadang yang relatif baru tapi bisa rami, sedangkan satu grup/ franchisee besar "tidak berani" masuk ke situ). Sebaliknya kenapa sebuah rumah makan anggota grup terkenal di pintu keluar tol Jatibening bisa sepi, dan akhirnya tutup setelah mencoba selama sekitar 2 tahun).
>  
> Tapi lagi-lagi, pemikiran awak ko cuma berguna kalau memang para pengusaha RMP atau PHRI/ LSM lain memang merasa RMP ini harus "dinaikkan kembali dominasinya". Kalau tidak, ya, he he, memang acok kali awak nan jadi penontonko maraso lebih terlibat dibandingkan pemain sendiri, he he
>  
> Riri
> Bekasi, L 46
>  
>  
>  
>  
>  
> 2009/1/24 Dr.Saafroedin BAHAR < saaf...@yahoo.com >

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 23, 2009, 11:22:33 PM1/23/09
to Rant...@googlegroups.com, Warni DARWIS
Waalaikumsalam w.w. Pak Tasril Moeis dan para sanak sa palanta,
 
Satuju sekali. Dima dan bilo kito adokan ? Apo paralu diundang tokoh-tokoh RMP nan lain ? Apo indak sarancaknyo sakalian didorong tabantuaknyo Asosiasi Rumah Makan Padang (ARMP?) untuak manampuang dan mangolah kritik para langganan, sarato manyapakati rencana untuak maso datang ?

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Sat, 1/24/09, Tasril Moeis <tasri...@banuacitra.com> wrote:

From: Tasril Moeis <tasri...@banuacitra.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Saturday, January 24, 2009, 10:04 AM

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Da Saaf jo dumsanak sapalanta,
Kalau memang paralu ado Pak Gindo Ichan (H.. Nursal st. Bagindo) pemilik Simpang Raya nan bisa wak ajak ma ota2 tantang hal iko, kebetulan baliau ko konco arek pulo jo Da Muchtar Naim. Baa kiro2?
 
Wassalam
Tan Ameh
----- Original Message -----
Sent: Saturday, January 24, 2009 4:36 AM

Ahmad Ridha

unread,
Jan 23, 2009, 11:49:06 PM1/23/09
to Rant...@googlegroups.com
Terkait cara pelayanan RMP, kadang ada praktik yang bisa merusak citra
yakni kekeliruan penghitungan makanan. Seringkali kita harus memeriksa
dulu hitungan yang dibuat. Sebenarnya tidak mesti menghilangkan
tradisi hidang RMP karena cara membawa makanan di RMP pun cukup
menarik. Bisa saja ketika tamu datang ditanyakan apakah mau memesan
menu tertentu ataukah dihidang.

Wassalaamu'alaykum,
--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

Hifni H.Nizhamul

unread,
Jan 23, 2009, 11:54:52 PM1/23/09
to Rant...@googlegroups.com
Salam dusanak kasadonyo,


Mudah-mudahan tidak terlambat ambo sedikit memberi informasi, bahwasanya kurang lebih 10 tahun yang lalu sudah ada asosiasi Rumah Makan Minang ini. Kalau tidak salah waktu di gerakkan oleh Bapak Muslim Kasim - waktu itu beliau masih menjadi kepala Dolog  di Bali, yang kemudian menjadi Bupati Padang Pariaman. Beliau ini sangat aktif menggerakkan asosiasi Rumah Makan Minang ini, karena beliau juga pemilik beberapa buah Rumah Makan Minang. Entah mungkin beliau memiliki kesibukan sebagai birokrat sehingga akhirnya beliau melepaskan rumah makan miliknya itu.  Mungkin ada baiknya  sanak-sanak mencari informasi kebenaran  ini kepada Bapak Muslim  Kasim itu.

Sebenarnya kuliner kita tidak melulu dapat menurunkan kesehatan, memang diperlukan kreativitas dari  para juru masak  untuk menampilkan citera  masakan kita yang tidak  mengandung  kolestorel tinggi.

Yang menggelitik hati saya dan mengundang protes tanpa ada yang menanggapi adalah  di Jakarta muncul  " RUMAH MAKAN AMPERA" . Pada nasi ampera dulunya adalah diciterakan kepada rumah makan padang yang kecil -kecil yang harga murah meriah. Sekarang nama RUMAH MAKAN AMPERA itu sudah menyaingi " Restoran Sederhana".

Perhatikan pula citera mie Instan " Indomie " yang menampilkan citera rasa khas Rendang Medan.

Jadi memang kita harus berupaya jangan sampai " orang minang " yang terampil memasak sirna oleh pengaruh zaman.
Berikut ini ada sebuah artikel yang menarik dibaca oleh sanak-sanak pada akhit pekan ini. Ingat... dan ingat.. Restoran Minanglah yang pertama menghidangkan masakannya dengan  cara cepat saji dan display yang jelas. Tinggal pilih mana yang engkau suka.

Go international for Minang’s Restaurant

Edit Ada yang menduga, ketika Neil Amstrong mendarat di bulan, ternyata telah ada Restoran Minang disana. Demikian orang menyebut, ketika restoran ini menyebar seantero dunia. Di negara manapun tersedia masakan Minang atau masakan Padang. Restoran Minang merupakan restoran siap saji dengan display yang jelas. Pengunjung tidak perlu menunggu pesanan terlalu lama untuk menikmati hidangan yang tersedia.

Silahkan mencicipi semua masakan walaupun hanya sekedar “kuah”. Karenanya aku pernah membual kepada orang yang merendahkan atau meremhkan nasi bungkus padang itu. Mereka lupa bahwa tidak ada satu negeripun atau negarapun yang melakukan penyajian seperti ini. Makanya ketika aku mengikuti rapat interdep pada Instansi Pemerintah di jalan yang bergengsi di kota Jakarta, aku berani menyampaikan bahwa Restoran Minang telah masuk dalam kurikulum sekolah perhotelan yang terkenal di Zurich - Swiss - Eropa.
" Oh ya....
" Mengapa demikian ? Karena siap saji.. display jelas, kataku.
Pendengarnya para peserta rapat itu menggut-manggut. Aku tertawa dalam hati. "Hemmmm... rasain.. kutipu kau..??? he.. he... Bohong dikit demi membela kapuang ndak apalah.
Yaa … bagaimana tidak. Aku harus membela kuliner yang berasal dari ranahku ini. Ketika itu mereka menyebut bahwa makan nasi Padang adalah masakan untuk orang kebanyakan alias rakyat. Hemmm… kadang-kadang benar juga sih. Coba anda bayangkan jika jajan di seputar jalan Sabang - pasti yang dicari adalah restoran Minang.




Wassalam



 




--- On Fri, 1/23/09, Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com> wrote:

-

jupardi andi

unread,
Jan 24, 2009, 12:13:02 AM1/24/09
to Rant...@googlegroups.com
Ikutan dikit tentang RMP

Ini hanya berdasarkan pengamatan dilapangan saya yang suka berkeliling-keliling dalam bertugas, saya hanya melihat RMP ditingkat menengah kebawah, saya pikir tetap masakan kita mendominasi, ini nggak lebih nggak kurang selera masakan kita begitu Pas dilidah hampir semua suku di Nusantara apalagi Indonesia mayoritas Islam, contoh jika ada teman saya orang sunda dan jawa satu perjalanan dengan saya, mereka nggak ngotot harus riumah makan sunda atau jawa untuk makan diperjalanan seperti "Kerbau kena cocok idung dengan tali saja" mereka ngikut jika saya ajak ke RMP alias nggak ada protes malah kadang2 mereka yang "protes" ke saya...di rumah makan minang saja Jepe !!!

Disamping rasanya mengundang selera, bahkan dengan gulai cubadak saja orang2 pada bisa makan bertambuh..coba bayangkan sama masakan sunda apa bisa makan sama sayur lodeh doang..he..he artinya...ditingkat masyarakat kebanyakan RMP..ya nggak ada matinya, nah jika dikelas atas Rumah Makan ini memang RMP punya saingan yang sangat ketat terutama di Masakan Sunda yang rata-rata bermain di Restoran atau Rumah Makan kelas Atas begitu juga sea food ala Cina/Mandarin..ini tentu yang berbicara banyak RMP kita bagaimana manajemen yang berkualitas dalam menarik pengunjung kelas atas agar bersaing dengan rumah makan kelas atas lainnya dari suku lain,

Tapi jika bicara pangsa pasar yang terbuka lebar ditingkat masyarakat kebanyakan saya sedikit bisa memastikan bahwa RMP kita masih mendominasi dan saya perjaya bgitiu, lihat saja dikota2 besar jika istirahat siang begitu ramai karyawan di RMP kelas menengah kebawah ini dengan harga sekali makan Rp 8.000 s/d Rp 15.000 sudah mendapatkan cita rasa masakan Minang yang khas dan ibaratnya makan kenyang, enak murmer tapi itu tadi bersih sedikit harus dipertanyakan RMP kebanyakan ini..memang masih kurang saya lihat...basalemak peak sajo..aneh juga kadang2 walau kelihatan sedikit kurang bersih ya ada "jorok-joroknya" dikit RMP kebanyakan ini terutama di pasar-pasar tradisional..tapi nan urang catuak cantang..cepak cepong sajo makan sambia kaki diangkek...ini nggak lebih nggak kurang jika saya perhatikan MEMANG MASAKAN MINANG ENAK, BERSELERA..NGGAK ADA MATINYA..DAN DISUKAI SERTA DITERIMA LIDAH OLEH SUKU-SUKU LAIN.

Demikian saja ya..dari saya

Wass-Jepe


Dari: Hifni H.Nizhamul <hy...@yahoo.com>
Kepada: Rant...@googlegroups.com
Terkirim: Sabtu, 24 Januari, 2009 11:54:52
Topik: [R@ntau-Net] Re: Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir

Ahmad Ridha

unread,
Jan 24, 2009, 2:25:41 AM1/24/09
to rant...@googlegroups.com
Berikut saya teruskan e-mail Pak Riri yang menunjukkan pelayanan di
(sebagian?) RMP cukup memprihatinkan.

---------- Forwarded message ----------
From: Riri Chaidir <riri.c...@rantaunet.org>
Date: 2009/1/24
Subject: Re: [R@ntau-Net] Re: Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir


Sanak Ridha,

Tentang "kekeliruan perhitungan" ini saya pernah disarankan kawan
supaya jangan dikomplen, bayar aja, atau menerima perhitungan baru
yang lebih tinggi? Saran yang ironis memang.

Dan itu pernah saya test. Mudah2an cuma "kecelakaan", ternyata kawan saya benar.


Riri

jupardi andi

unread,
Jan 24, 2009, 3:32:59 AM1/24/09
to Rant...@googlegroups.com
Tambahan tentang RMP
bagi sanak-sanak nan bausaho RMP atau ado dunsanaknyo nan marantau bausaho RMP..jaan jameh bana, baa bantuak itu image atau citra masakan minang lah terpatri di suku-suku lain,,enak, khas..beragam dan cepat saji..indak lamo manunggu, nah bicara bisnis RM tentu bicara selera..rasa..nan lamak tetap lamak..nan masakan minang tetap diakui dek suku lain..rato2 mangecek lamak..iko shahih pernyataan ini buktinya dima sajo ado RMP..dalam ilmu seni kuliner..salero..atau raso indak pernah gadang ota..alias bohong kecuali urang nan sadang sakik damam paneh..dek kuro..sampu..apo sajolah nan panyakik mambuek aia salero apo nan dimakan paik..kok urang sakik bantuak itu yo salero jo rasonyo gadang Ota/bohong.

So..jadi RMP awak masih dominan di kota-kota mano sajo di Indonesia untuak kelas manangah kabawah..lalu bicara bisnis ini bisnis Los Lambuang..tantu..dikaji..atau dibidik sia pangsa pasar RMP..nah itu nan tabuka leba..yo dimasayarakt kebanyakan..Menengah kebawah iko sajolah mambidiak pasa untuak usaho RMP..lah banyak urang awak nan kayo dek RMP kelas manangah kabawah ko..dan masih tatap dominan, talabiah takurang baik palayanan..jo kabarasiahannyo tarutamo..ado labiah parah bana RM makan suku lain..mungkin sanak lah tahu RM suku ma nan ambo mukasuik..tetangga nagari awak juo.

RMP ko di kota2 besar di Indonesia laku keras dan dominan untuak kelas manangah kabawah buruh, karyawan swasta PNS pokoknyo semua lapisan masyarakat kelas manangah kabawah di kota2, buktinyo ambo di Pakan ko..iyo laku kareh bisnis RMP kelas manangah kabawah ko..tantu nan raso RMP diatas rata-rata..murah meriah..enak..beragam lauk pauknya..mengundang selera cepat saji pokoke everything lah..

Nah iko contoh RMP nan rami ambo kunjungi jo kawan2 kantua kok lah jam istirahat kantua..RMP ko di Ruko sederhana tapi yo rami urang
harago manengggang sakali makan kanai 8.000..raso jaan ditanyo yo minang banget..lah dapek lo gratis teh es goyang..lai tahu sanak Teh Es Goyang..itu ha..teh jalang..agiah batu Es..tu gulo salayang..tambah lo dimuko meja gratis daun salada..rimbang..jo jariang mudo..lalu kok tambuah kaduo bisa lo basorak ka urang kadai "Agiah sebeang stek Da"..lah barisi lo tambuah kaduo ko jo sebeang talua dadar..anak-anak ikan..atau tempe goreng ketek-ketek jo duo buah talua puyuah..

RMP cando iko..sangai tabuka peluangnyo di kota-kota..dan awak masih sangaik dominan, kecuali restoran kelas ateh..iyo agak ketat basaiang..dek RM Sunda...yo lah hebat lo kini, iko dek masalah pilihan kesehatan tadi nan rato2 RM Sunda banyak serat..bumbu ringan kurang kolestrol dibandiangkan Restoran Minang berkelas..nan kareh bumbu,,jo kolestrol nan hebat baa ndak hebat kolestrolnyo sanak sudah Usus..jeroan tu..digulai jo santan pakek..onde mande didalam pipa Usus tu di puruakan lo kocokan talua..iyo bana High Colestrolnyo..jadi ibaraik RM Sunda Jo RM Minang...ciek cool..ciek Hot...memang ambo caliak RM Sunda ko alternatif bagi suku lain untuak menghilangkan ke bosanan RM Minang nan Hot tu..tamasuak urang Minang bana..kok lah bosan makan dilua di RMP nan dicarinyo RM Sunda..ambopun baitu juo..mungkin sanak2 dikota besar samo sajo..RM Sunda..lah manjadi tuan rumah kaduo bagi awak kok manyangkuik "Los Lambuang"..itu faktanyo..kini..RM Sunda alternatif lain dari RMP dek suku lain..tapi tatap nan paliang acok..RMP dikunjungi..lagi pulo RMP Sunda sangaik jarang bamain di RM kelas menengah ke bawah tarutamo di Pulau Sumatera..kok di Jawa tantu iyo dek urang Sunda banyak komunitasnyo disinan.

Jadi..manuruik Ambo..RMP kito masih dominan dengan segala kelebihan dan kekurangan..yang pantiang image atau citra masakan Minang lah ter patri di banak suku lain...mereka akan berkata MASAKAN MINANG MEMANG ENAK

Wass-Jepe


Dari: jupardi andi <jupar...@yahoo.com>
Kepada: Rant...@googlegroups.com
Terkirim: Sabtu, 24 Januari, 2009 12:13:02
Topik: Bls: [R@ntau-Net] Re: Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir

"
Apakah saya bisa menurunkan berat badan?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! "

Rasyid, Taufiq (taufiqr)

unread,
Jan 24, 2009, 4:32:23 AM1/24/09
to Rant...@googlegroups.com

Maliek kondisi kini memang RMP dominan untuak golongan menengah. Karano diateh lah ado  kelompok Chinese/ Sea Food jo Sunda saketek. Sadang dibawah lah rami pulo WARTEG. Di perkotaan dan Mal-Mal lah banyak punyo tasadio makanan cepat saji yang digandrungi dek kawula muda. Walau dinagari mak Ngah itu tamasuak JUNKFOOD…dek mereka  yang penting gaya……, soal makanan sehat lah tingga dibulakang.

 

Makanan suku lain nan capek pulo kambangnyo adolah MIE Aceh, karano ado rasonyo yang khas disitu. ( mungkin juo pakai ramuan yang tidak lazim disitu, sahinggo rasonyo sabana mantap).    Walau namonyo kadai Mie tapi makanan nan lain banyak juo disitu.

 

Jadi kalau untuak dikota, lah banyak juo pesaing kito dari suku  lain walau keberadaan mereka alun sabanyak RMP.

 

Kok ka ado patamuan jo pengusaha RMP yang lah tinggi jam terbangnyo dan berhasil pulo galehnyo, elok disimak pulo jejaring yang dimiliki Paguyuban Pengusaha Warteg diberbagai perkotaan.

 

Disamping untuak menghindari persaingan yang kurang sehat, dengan adanya Paguyuban urang Tegal/ semacam koperasi tsb.

Mereka juga punya kekuatan untuak memperoleh bahan baku yang lebih murah dan terjamin dipasaran.

Akibatnyo kampuang mereka di Tegal itu lah ditumbuhi rumah mewah seperti gedung putih dan gaya Romawi. Walau untuak itu mereka harus bertungkus lumus dan siap untuak hidup seadanya diperantauan.

 

Jadi selain memperhatikan  pasar dan produk.  Upaya menekan biaya produksi macam nan dibuek urang Tegal itu rancak juo jadi paratian.

Dek awak .....parangai nan  pantang kalintehan nan masih  banyak ba paliharo.......

 

Kok ado rumah makan baru disekitar awak , diteray  ciek dulu ….. dukun bertindak……

Tiok makanan tahidang,  .... lah panuah ulek sajo nan nampak di nasi jo samba itu.....

Akibatnyo sabulan- duo lah tapaso baguluang lapiak kawan itu.....

 

Walau manajemen RMP dengan pambagian keuntungannyo yang unik sesuai jo porsi masiang-masiang ( jadi indak ado gaji bulanan, nan ado hanyo ba-etong untuak periode tertentu terutama menjelang tutuik sebelum puaso).  Biasonyo porsi tukang masak jo tukang balanjo jauah diateh tukang cuci  piriang. Karano tukang cuci itu mungkin dianggap sebagai pemula,... ..walau inyo taruih ditampek nan basah.

 

Jadi setiap orang akan melaksanakan tugasnya dengan maksimal...karano indak ado yang manjadi boss disiko... walau inyo para pemodal tapi tampak indak bisa basilanteh angan sajo ka nan lain.

 

Cuma kini lah ado pulo pola iko nan  dicemari berbagai tindakan tidak terpuji,,,misalnyo nan balanjo kapasa kurang beres peretongannyo baitu juo kok catatan pinjaman dikasir kadang kurang beres pulo..

Apolai kini lah banyak pulo non Minang baik jadi karyawan maupun pemodal. Sahinggo raso jo sistem manajemen itu lah murni jadi samacam perusahaan biaso sajo lai

 

Kito tunggu pulolah improvement RMP tamasuak nasi Kapau ko dimaso datang...

Jan acok bana tasabuik pakar hitung-mahitung,  dek capeknyo maetong harago makanan nan kito makan sarato indak adonyo tarif resmi thd setiap makanan itu

 

Wass

St. RA 53+

 

 


Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 24, 2009, 4:43:08 AM1/24/09
to Rant...@googlegroups.com
Tarimo kasih Sanak Taufiq Rasyid. Alah batambah pangatahuan ambo tantang kakuatan dan kalamahan RMP dan tantang rumah-rumah makan suku bangso lain di nagari kito ko.
 
Mudah-mudahan ado manfaatnyo bagi kito basamo untuak mameloki kualutas RMP ko.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Sat, 1/24/09, Rasyid, Taufiq (taufiqr) <tau...@chevron.com> wrote:

From: Rasyid, Taufiq (taufiqr) <tau...@chevron.com>
Subject: RE: Bls: [R@ntau-Net] Re: Dominasi RMP (Jaan Cameh masih Dominan Kok)
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Saturday, January 24, 2009, 4:32 PM

Maliek kondisi kini memang RMP dominan untuak golongan menengah. Karano diateh lah ado  kelompok Chinese/ Sea Food jo Sunda saketek. Sadang dibawah lah rami pulo WARTEG. Di perkotaan dan Mal-Mal lah banyak punyo tasadio makanan cepat saji yang digandrungi dek kawula muda. Walau dinagari mak Ngah itu tamasuak JUNKFOOD…dek mereka  yang penting gaya ……, soal makanan sehat lah tingga dibulakang.

 

Makanan suku lain nan capek pulo kambangnyo adolah MIE Aceh, karano ado rasonyo yang khas disitu.. ( mungkin juo pakai ramuan yang tidak lazim disitu, sahinggo rasonyo sabana mantap).    Walau namonyo kadai Mie tapi makanan nan lain banyak juo disitu.

 

Jadi kalau untuak dikota, lah banyak juo pesaing kito dari suku  lain walau keberadaan mereka alun sabanyak RMP.

Kok ka ado patamuan jo pengusaha RMP yang lah tinggi jam terbangnyo dan berhasil pulo galehnyo, elok disimak pulo jejaring yang dimiliki Paguyuban Pengusaha Warteg diberbagai perkotaan.

Disamping untuak menghindari persaingan yang kurang sehat, dengan adanya Paguyuban urang Tegal/ semacam koperasi tsb.

Mereka juga punya kekuatan untuak memperoleh bahan baku yang lebih murah dan terjamin dipasaran.

Akibatnyo kampuang mereka di Tegal itu lah ditumbuhi rumah mewah seperti gedung putih dan gaya Romawi. Walau untuak itu mereka harus bertungkus lumus dan siap untuak hidup seadanya diperantauan.

Jadi selain memperhatikan  pasar dan produk.  Upaya menekan biaya produksi macam nan dibuek urang Tegal itu rancak juo jadi paratian.

Dek awak ......parangai nan  pantang kalintehan nan masih  banyak ba paliharo........

 

Kok ado rumah makan baru disekitar awak , diteray  ciek dulu ….. dukun bertindak……

Tiok makanan tahidang,  .... lah panuah ulek sajo nan nampak di nasi jo samba itu......

jupardi andi

unread,
Jan 24, 2009, 5:02:31 AM1/24/09
to Rant...@googlegroups.com
Pak Saaf dan Pak Taufik

Iyo agak tasentak ambo snek..jo uraian Pak Taufik ko batua bana Pak..paralu RMP awak maniru Warteg..nan kompak punyo paguyuban dan koperasi..iko nan mambuek maju Warteg tarutamo di Jakarta, kalau di Pakan ko yo alun populer bana Warteg...
RMP awak kalamahannyo kurang kompak dari segi paguyuban...tagak sorang-sorang sajo ndak saliang bahu membahu mambuek jejaringan,,nan maju batambah maju,,nan mandek..yo guluang lapiak sajo...saliang mambajak "Urang Dapua" nan ahli mamasak.

Kok sistim RMP nan lamo lai adil rasonyo babagi keuntungan sasuai jo posisi masiang2..pemodal, tukang sanduak, kasir, tukang masak dll,,kalau ndak salah istilahnyo "babatu"..iko rancak..sistimnyo ambo caliak..jadi ado kebersamaan dan kekeluargaan tapi baa kecek Pak Taufik dek lah masuak urang lua nan punyo Modal..jadi lah sistim bagaji sajo..urang lua nan punyo Modal ko..mamuta kepeangnyo memanfaatkan cita raso masakan awak

Tukang cuci yo asli ditampek nan basah yo pak..iko kato2 dilulua bulek2 sajo..ha..ha...ha bisa sajo Pak TR

Jadi ado juo ciek Pak TR tantang bagi untuang "babatu" model lamo  (kini masih juo ambo raso) RMP (ambo punyo kawan di Padang urang Piaman nan manggaleh nasi cukuik maju..dulu..ba vespa buruak kini lah ba Inova..dan baruko dek bausaho RMP..20 tahun)
jadi untuak THR manjalang Rayo..nan punyo modal ko intinyo manutuik kadai..inyo serahkan bulek2 ka anak buah..jadi inyo indak maambiak "batu" nyo...disikolah sikap arif dan bijaksana kawan ambo ko..dalam memperhatikan anak buahnyo..apolai tukang masak dari kampuang nan dibaoknyo yo setia bana ka inyo 20 tahun ...walau banyak pesaing lain ka mambajaknyo.

Jadi salamo bulan puaso malakik minus 2 hari Rayo..inyo palapeh sajo..saadolah anak buahnyo manggaleh..kasanyo bagilah untuang tu dek kalian salamo sabulan ramadhan tu..waden indak ka ambiak "batu" den..iyolah sumangaik sado anak buahnyo tu Pak..maurus sabulan panuah tu...samakin banyak laku,,,,samakin rajin..tantu samakin banyak untuang...

Nah manajemen "babatu" ko sisi nan rancak di RMP, tapi disisi persatuan atau paguyuban di RMP yo alun bisa sarancak Warteg tu

Wass-Jepe


Dari: Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com>
Kepada: Rant...@googlegroups.com
Terkirim: Sabtu, 24 Januari, 2009 16:43:08
Topik: RE: Bls: [R@ntau-Net] Re: Dominasi RMP (Jaan Cameh masih Dominan Kok)

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 24, 2009, 5:18:34 AM1/24/09
to Rant...@googlegroups.com
Sanak Jepe dan para sanak sa palanta,
 
Sifat nafsi-nafsi dan sulik basatu dari urang awak ko nan alah lamo jadi paratian ambo sacaro pribadi, khususnyo untuak mancari apo koh nan manjadi faktor penyebabnyo nan paliang dasar. Bandiangkanlah jo informasi para netters di RN ko tantang areknyo persatuan warga suku bangso kito nan lain.
 
Pandapek ambo pribadi tantang faktor penyebabnyo nan paliang dalam alah acok kali ambo sampaikan. Ambo ingin mandanga pulo apo penjalasan para sanak kito nan lain. Baa mako susah bana urang awak ko untuak basatu untuak saliang tolong manolong satu samo lain ?

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Sat, 1/24/09, jupardi andi <jupar...@yahoo.com> wrote:

From: jupardi andi <jupar...@yahoo.com>
Subject: Bls: Bls: [R@ntau-Net] Re: Dominasi RMP (Jaan Cameh masih Dominan Kok)
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Saturday, January 24, 2009, 5:02 PM

Pak Saaf dan Pak Taufik

Iyo agak tasentak ambo snek..jo uraian Pak Taufik ko batua bana Pak..paralu RMP awak maniru Warteg..nan kompak punyo paguyuban dan koperasi..iko nan mambuek maju Warteg tarutamo di Jakarta, kalau di Pakan ko yo alun populer bana Warteg...
RMP awak kalamahannyo kurang kompak dari segi paguyuban...tagak sorang-sorang sajo ndak saliang bahu membahu mambuek jejaringan,,nan maju batambah maju,,nan mandek..yo guluang lapiak sajo...saliang mambajak "Urang Dapua" nan ahli mamasak.

Kok sistim RMP nan lamo lai adil rasonyo babagi keuntungan sasuai jo posisi masiang2..pemodal, tukang sanduak, kasir, tukang masak dll,,kalau ndak salah istilahnyo "babatu"..iko rancak..sistimnyo ambo caliak..jadi ado kebersamaan dan kekeluargaan tapi baa kecek Pak Taufik dek lah masuak urang lua nan punyo Modal..jadi lah sistim bagaji sajo..urang lua nan punyo Modal ko..mamuta kepeangnyo memanfaatkan cita raso masakan awak

Tukang cuci yo asli ditampek nan basah yo pak..iko kato2 dilulua bulek2 sajo..ha...ha...ha bisa sajo Pak TR


Jadi ado juo ciek Pak TR tantang bagi untuang "babatu" model lamo  (kini masih juo ambo raso) RMP (ambo punyo kawan di Padang urang Piaman nan manggaleh nasi cukuik maju..dulu..ba vespa buruak kini lah ba Inova..dan baruko dek bausaho RMP..20 tahun)
jadi untuak THR manjalang Rayo..nan punyo modal ko intinyo manutuik kadai..inyo serahkan bulek2 ka anak buah..jadi inyo indak maambiak "batu" nyo...disikolah sikap arif dan bijaksana kawan ambo ko..dalam memperhatikan anak buahnyo..apolai tukang masak dari kampuang nan dibaoknyo yo setia bana ka inyo 20 tahun ...walau banyak pesaing lain ka mambajaknyo.

Jadi salamo bulan puaso malakik minus 2 hari Rayo..inyo palapeh sajo..saadolah anak buahnyo manggaleh..kasanyo bagilah untuang tu dek kalian salamo sabulan ramadhan tu..waden indak ka ambiak "batu" den..iyolah sumangaik sado anak buahnyo tu Pak..maurus sabulan panuah tu...samakin banyak laku,,,,samakin rajin..tantu samakin banyak untuang...

Nah manajemen "babatu" ko sisi nan rancak di RMP, tapi disisi persatuan atau paguyuban di RMP yo alun bisa sarancak Warteg tu

Wass-Jepe


Dari: Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com>
Kepada: Rant...@googlegroups.com
Terkirim: Sabtu, 24 Januari, 2009 16:43:08
Topik: RE: Bls: [R@ntau-Net] Re: Dominasi RMP (Jaan Cameh masih Dominan Kok)

Tarimo kasih Sanak Taufiq Rasyid. Alah batambah pangatahuan ambo tantang kakuatan dan kalamahan RMP dan tantang rumah-rumah makan suku bangso lain di nagari kito ko.
 
Mudah-mudahan ado manfaatnyo bagi kito basamo untuak mameloki kualutas RMP ko.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Sat, 1/24/09, Rasyid, Taufiq (taufiqr) <tau...@chevron.com> wrote:

From: Rasyid, Taufiq (taufiqr) <tau...@chevron.com>
Subject: RE: Bls: [R@ntau-Net] Re: Dominasi RMP (Jaan Cameh masih Dominan Kok)
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Saturday, January 24, 2009, 4:32 PM

Maliek kondisi kini memang RMP dominan untuak golongan menengah. Karano diateh lah ado  kelompok Chinese/ Sea Food jo Sunda saketek. Sadang dibawah lah rami pulo WARTEG. Di perkotaan dan Mal-Mal lah banyak punyo tasadio makanan cepat saji yang digandrungi dek kawula muda. Walau dinagari mak Ngah itu tamasuak JUNKFOOD…dek mereka  yang penting gaya ……, soal makanan sehat lah tingga dibulakang.

 

Makanan suku lain nan capek pulo kambangnyo adolah MIE Aceh, karano ado rasonyo yang khas disitu... ( mungkin juo pakai ramuan yang tidak lazim disitu, sahinggo rasonyo sabana mantap).    Walau namonyo kadai Mie tapi makanan nan lain banyak juo disitu.

 

Jadi kalau untuak dikota, lah banyak juo pesaing kito dari suku  lain walau keberadaan mereka alun sabanyak RMP.

Kok ka ado patamuan jo pengusaha RMP yang lah tinggi jam terbangnyo dan berhasil pulo galehnyo, elok disimak pulo jejaring yang dimiliki Paguyuban Pengusaha Warteg diberbagai perkotaan.

Disamping untuak menghindari persaingan yang kurang sehat, dengan adanya Paguyuban urang Tegal/ semacam koperasi tsb.

Mereka juga punya kekuatan untuak memperoleh bahan baku yang lebih murah dan terjamin dipasaran.

Akibatnyo kampuang mereka di Tegal itu lah ditumbuhi rumah mewah seperti gedung putih dan gaya Romawi. Walau untuak itu mereka harus bertungkus lumus dan siap untuak hidup seadanya diperantauan.

Jadi selain memperhatikan  pasar dan produk.  Upaya menekan biaya produksi macam nan dibuek urang Tegal itu rancak juo jadi paratian.

Dek awak .......parangai nan  pantang kalintehan nan masih  banyak ba paliharo.........

 

Kok ado rumah makan baru disekitar awak , diteray  ciek dulu ….. dukun bertindak……

Tiok makanan tahidang,  .... lah panuah ulek sajo nan nampak di nasi jo samba itu.......

Akibatnyo sabulan- duo lah tapaso baguluang lapiak kawan itu.....

 

Walau manajemen RMP dengan pambagian keuntungannyo yang unik sesuai jo porsi masiang-masiang ( jadi indak ado gaji bulanan, nan ado hanyo ba-etong untuak periode tertentu terutama menjelang tutuik sebelum puaso).  Biasonyo porsi tukang masak jo tukang balanjo jauah diateh tukang cuci  piriang. Karano tukang cuci itu mungkin dianggap sebagai pemula,... ..walau inyo taruih ditampek nan basah.

 

Jadi setiap orang akan melaksanakan tugasnya dengan maksimal...karano indak ado yang manjadi boss disiko... walau inyo para pemodal tapi tampak indak bisa basilanteh angan sajo ka nan lain.

 

Cuma kini lah ado pulo pola iko nan  dicemari berbagai tindakan tidak terpuji,,,misalnyo nan balanjo kapasa kurang beres peretongannyo baitu juo kok catatan pinjaman dikasir kadang kurang beres pulo..

Apolai kini lah banyak pulo non Minang baik jadi karyawan maupun pemodal. Sahinggo raso jo sistem manajemen itu lah murni jadi samacam perusahaan biaso sajo lai

 

Kito tunggu pulolah improvement RMP tamasuak nasi Kapau ko dimaso datang...

Jan acok bana tasabuik pakar hitung-mahitung,  dek capeknyo maetong harago makanan nan kito makan sarato indak adonyo tarif resmi thd setiap makanan itu

 

Wass

St. RA 53+

 

 



benni_inayatullah

unread,
Jan 24, 2009, 5:34:43 AM1/24/09
to rant...@googlegroups.com
Ornag Minang itu sifat kompetisinya tinggi jadi jangan berharap bisa
bersatu dalam kondisi normal. Orang Minang bisa bersatu bila
menghadapi musuh bersama. Ramalan saya beberapa belas tahun kedepan
ketika RM Padnag kalah bersaing dengan RM Aceh, Warteg, Fast food dan
sebagainya baru pemilik2 RM Padnag itu bersatu.

BUkan ramalan sebetulnya ntar haram anggap saja prediksi setengah ilmiah.

jadi memudarnya dominasi RMP anggap saja berkah dari proses evolusi
pasar dan itung2 cari musuh


salam

Ben

ha...@serba.info

unread,
Jan 23, 2009, 6:05:01 PM1/23/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum wr wb
Jangan khawatir lah. Saya ama teman2 aja udah merencanakan dan sekarang lagi melakukan usaha 'penjajahan' selera Minang di seluruh Indonesia.
Selain itu kita akan lakukan terobosan2 baru dengan ide2 baru. Tunggu tanggal mainnya. Diluar negeri pun hayo.
Wassalam
ET Hadi Saputra Katik Sati

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "benni_inayatullah" <benni_in...@yahoo.com>

Date: Sat, 24 Jan 2009 10:34:43
To: <rant...@googlegroups.com>
Subject: Bls: Bls: [R@ntau-Net] Re: Dominasi RMP (Jaan Cameh masih Dominan
Kok)



Rasyid, Taufiq (taufiqr)

unread,
Jan 24, 2009, 7:26:15 PM1/24/09
to Rant...@googlegroups.com

Salah satu keunggulan kuliner awak nan ambo liek adolah indak paralu
dihidangkan dalam kondisi angek atau fresh from the oven.
Kecuali sup ( tantu sajo).
Beda jo makanan Western Food, Cino atau Sunda yang baru diramu kalau lah
ado order.
Baitu juo mie Aceh, Sate/Soto Madura jo Coto Makasar nan kuahnyo salalu
angek

Karano selain randang yang tahan untuak babarapo hari, berbagai kalio
lah biaso juo direka ulang dengan mengganti kuahnyo atau diangekkan
seketek sesudah tambah aia jo saketek bumbu...
Bahkan untuak usus nan baisi tu... ambo liek lah ditumih dan dipisah
ditampek lain dulu....kok lah ado order baru disiram jo kuah kalio.

Apolai palai jo pangek bisa tahan labiah lamo....
Soalnyo ambo acok manyimpan palai di lemari es bisa sampai sabulan
labiah...karano acok kehabisan tiok datang mambali kasitu.
Kalau ka dimakan baru masuak microwave sabanta.... lah mantap pulo
rasonyo baliak.

Jadi kalau makanan bisa distock saketek tantu indak pusiang bana
mengikuti selera konsumen macam berbagi menu restoran Cino.

Ambo indak tau pasti, mungkin juo restoran D'Cost yang alah ado
diberbagai kota dengan label : "Rasa bintang lima, harga kaki lima" alah
mambuek stock pulo untuak berbagai Sea Food yang disajikan..

Karano berbagai menu Sea Food yang dipasan capek juo datangnyo ka meja
awak....tapi nan jaleh berbagai juice tampaknyo lah ado stocknyo.
Mancaliak itu ambo ragu juo jadinyo jo bahan yang digunokan.... Apo
memang bahan dari buah asli dan fresh atau untuak juice itu hanyo
sekedar essence plus papaya sajo ( macam tomato sauce nan dibuek dari
papaya mudo plus essence tomat dan pewarna).
Kalau itu buah asli mancaliak stock nan sabanyak itu....tantu lah ado
pulo pengawetnyo ??

Seandainyo Sea Food yang dipasan alah distock dulu kalau lah ado order
diangekkan saketek indak baitu masalah.... tapi kalau lah digunokan pulo
pengawet yang alun tantu elok untuak manusia, apolai dosisnyo melebihi
ketentuan mungkin itu bisa jadi masalah jo kesehatan kito.
Itu dek karano mereka lah merupakan net work diberbagai kota....bisa
jadi dapuanyo utama lah ciek sajo

Untuak RMP salamoko berbagai dedaunan bumbu lah bisa jadi pengawet
alami, antah kok kini dek lah sarik mancari berbagai daun itu lah
digunokan pulo bahan kimia .....iyo indak jaleh dek ambo

Sisi lain nan ambo liek, sesuai jo perkembangan kota dan paralunyo net
work iko .
RMP nan cukuik berkembang adolah nan terdiri dari babarapo buah nan
ketek diberbagai sudut kota yang strategis terutama dekat Campus atau
kawasan Industri atau terminal.
Kok memang masakannyo lai mantap pasti iko labiah rami dan omzetnyo
labiah tinggi dari nan gadang & agak elit dipusat kota. Mereka cuma
butuh beberapa tukang hidang untuk beberapa meja diberbagai tempat...
sedangkan dapuanyo ciek sajo dan dilengkapi kendaraan khusus untuk
mengantar berbagai samba itu.

Salain itu salah satu ciri dek ambo RMP iko mur-mer adolah.... kok rami
sopir angkot parkir disitu pasti lamak dan murah......

Karano mereka memang selalu mancari nan semacam itu....
Dulu ditapi Sungai Siak sabalun terminal dipindah ka Jalan sekolah
Rumbai ado RM Mantari nan cukuik rami. Selain ikan sungai termasuk baung
yang terkenal itu ado pulo ikan nan indak buliah dipotong sirip ikuanyo
katiko digulai (sabab kalau dipotong gulai akan bau yang nggak enak).
Selain menu ikan itu talua kocok yang digoreng juo jadi incaran
konsumen..
Jadi dek terminal pindah RMP iko ikuik pindah dan tatap rami...

Karano untuak RMP nan gadang itu mungkin hanyo dikunjungi pada waktu
tertentu sajo, sahinggo walau harago menu bisa agak tinggi tapi resiko
untuak sepi dari pelanggan dan baguluang lapiak itu labiah tinggi.

Mungkin untuak pola iko awaklah didahului pulo dek WARTEG yang memang
selalu mendekati para pelanggannyo. Soalnyo alun tampak lai WARTEG yang
elit dan ber AC he......he....

Untuak masalah WARTEG iko ambo punyo kenangan tersendiri.....
Anak ambo nan nomor duo indak namuah kuliah di Trisakti walau lah
talanjua dibayia persyaratannyo...inyo tetap mamiliah kuliah di Unand
Padang..

Selidik punyo selidik dek mamanyo....ruponyo ukatu Test masuak Trisakti
dan menunggu pengumuman kalua ...inyo labiah acok dibaok abangnyo ka
Warteg dari RMP...
Komentarnyo.... "Abang itu makannyo indak pakai meja, indak mantaplah "
Tantu sajo makan di warteg kan cuma ado sabilah papan macam di Kapau-
Kiktenggi nan dibawah tuduang-tuduang. Indak pakai meja macam di RMP
yang sederhana sekalipun.
Syukurlah sifat manjo itu lai hilang kini...insyaallah inyo akan
dilantik akhir tahun iko sesudah menjalani pendidikan di AKPOL Semarang

Itulah samantaro dari ambo soal serba-serbi kuliner iko...

Wass
St.RA 53+

zalmahdi syamsuddin

unread,
Jan 24, 2009, 10:06:10 PM1/24/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum wr wb
Ikutan juga berbagi pengalaman,
"Salaro condong ka nan lamak (enak)".
Enak disini tentu relatif bagi setiap orang. Setiap orang, apalagi suku punya rasa/selera yang berbeda-beda dan sangat ditentukan oleh kebiasaan makannya se hari-hari yang telah dibentuk dari kecil. Pengalaman membuktikan, benyak orang dari suku/etnis lain yang sangat suka masakan minang. Adakalanya pada awal pengenalan, mereka bilang tidak suka, tetapi sekali mencoba seterusnya ketagihan. Makan di rumah makan (restoran) minang, rasanya enak dan cepat/praktis penyajiannya, demikianlah yang sering saya dengar dari teman-teman non minang sewaktu mau makan bila tiba waktu makan.
Hal ini hampir selalu saya alami dalam perjalanan dengan teman-teman non minang (sunda, jawa, batak dan lainnya), baik dalam perjalanan di indonesia bagian timur, tengah  barat, maupun makan siang pada hari kerja.
 
demikian saja, Wassalam,
Edi Syamsuddin


--- On Sat, 24/1/09, jupardi andi <jupar...@yahoo.com> wrote:

Tasril Moeis

unread,
Jan 24, 2009, 8:53:24 AM1/24/09
to Rant...@googlegroups.com
Da Sa,af,
Sasuai jo kecek Riri kalau ka batamu pengusaha RM Padang ko tantu harus jaleh dulu apo nan ka di bicarakan dan sudah itu apo tindak lanjutnya.
Kalau asosiasi mereka dari informasi Uni Hifni itu alah pernah ado.
Atau bisa juo awak datang batamu jo nan punyo untuak ma ota2 ketek disitu untuak malapehkan uweh2  dan manambah wawasan awak. Dan indak ado rugi no juo dek Pak Gindo Ichan ko nampak no taun SMA no di Birugo ampia samo juo jo Da Sa'af, baliau sa angkatan jo Da Darnis Habib (tamaik 56). Kalau Da Muchtar Naim mungkin duluan duo taun.
 
Wassalam
Tan Ameh (50+)

ajo duta

unread,
Jan 26, 2009, 7:38:46 AM1/26/09
to Rant...@googlegroups.com
Sanak Ambo,
 
Manggaris bawahi Koperasi RMP meniru Koperasi Warteg.
Rasonyo jauah panggang dari api. Urang awak termasuk
low trust community. Susah saling picayo. Alun manga manga
curiga alah kamuko. Jadi mambuek persatuan/organisasi/koperasi
tantu sangaik susah. Contoh kongkrit. Palanta awak ko.
Tetap palanta batahun tahun. Indak pernah menjadi organiasi
formal. Banyak bana bateong teong kalau akan menjadi formal.
 
Salam maaf,
 
ajoduta/61+/usa

2009/1/24 Rasyid, Taufiq (taufiqr) <tau...@chevron.com>

Maliek kondisi kini memang RMP dominan untuak golongan menengah. Karano diateh lah ado  kelompok Chinese/ Sea Food jo Sunda saketek. Sadang dibawah lah rami pulo WARTEG. Di perkotaan dan Mal-Mal lah banyak punyo tasadio makanan cepat saji yang digandrungi dek kawula muda. Walau dinagari mak Ngah itu tamasuak JUNKFOOD…dek mereka  yang penting gaya……, soal makanan sehat lah tingga dibulakang.

 ====dikudung----------------

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 26, 2009, 9:48:32 AM1/26/09
to Rant...@googlegroups.com
Dinda Ajoduta dan para sanak sa palanta,
 
Pandapek Dinda di bawah ko sabana singkek padek, dan ambo satujui sapanuahnyo. Amuah indak amuah, tapaso kito akui bahaso memang baitulah keadaannyo.
 
Hanyo galinggaman juo ambo mamikiakan apokoh sababnyo nan paliang dalam, dan baa koh caronyo manjadikan 'low trust society' kito ko manjadi 'high trust society' , karano -- saparati ditulih dek Francis Fukuyama -- 'trust' adolah 'social capital'.
 
Kalau memang indak bisa juo dipeloki, apo buliah buat, kito sarahkan sajolah ka Nan Maha Kuaso. Mungkin ado pulo hikmahnyo kaadaan urang awak sarupo tu, paliang tidak sabagai bahan panalitian dan bahan bandiangan jo suku bangso  Indonesia lainnyo.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Mon, 1/26/09, ajo duta <ajo...@gmail.com> wrote:

Defiyan Cori

unread,
Jan 26, 2009, 5:41:57 PM1/26/09
to Rant...@googlegroups.com
Sanak ajo duta, ambo satuju bana kalau palanta ko mambuek Koperasi...ambo ato ciek managakkan no..baa kiro2 sanak nan lain...iyo bakoperasi awak mambangun ranah...
 
Salam
Defiyan Cori L/40


--- On Mon, 1/26/09, ajo duta <ajo...@gmail.com> wrote:
From: ajo duta <ajo...@gmail.com>
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] Re: Dominasi RMP (Jaan Cameh masih Dominan Kok)
To: Rant...@googlegroups.com
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages