| "Boy Mass'AbeedDeen"
<masoed...@yahoo.com>
Sent by: Rant...@googlegroups.com 14/03/2008 23:52
|
|
Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
engku Is St. Marajo, nan dimuliekan Allah,
Saketek buya jawab, sakadar nan paralu sajo.
Harta pusaka dalam terminologi Minangkabau adalah dua kosa kata yang disebut harato jo pusako.
Harato adalah milik kaum yang tampak dan ujud secara material seperti sawah, ladang, rumah gadang, ternak dan sebagainya.
Pusako adalah milik kaum yang diwarisi turun temurun baik yang tampak maupun yang tidak tampak.
Maka di Minangkabau selalu dikenal dua kata kembar yang mempunyai arti yang jauh berbeda, yaitu sako dan pusako.
(1). Sako adalah milik kaum secara turun temurun menurut sistem matrilineal yang tidak berujud material, seperti gelar penghulu, kebesaran kaum, tuah dan penghormatan yang diberikan masyarakat kepadanya. Gelar Sako merupakan hak bagi laki-laki di dalam kaumnya. Gelar Sako milik lelaki dalam kaumnya ini, tidak dapat diberikan kepada perempuan. Pewarisan gelar tertakluk kepada sistem kelarasan yang dianut suku atau kaum itu.
Dalam sistim kelarasan Koto Piliang, maka sistem pewarisan sakonya berdasarkan; patah tumbuah, maka gelar berikutnya harus diberikan kepada kemenakan langsung dari si penghulu yang memegang gelar itu, dan tidak dapat diwariskan kepada orang lain dengan alasan papun juga. Jika tidak ada laki-laki yang akan mewarisi, gelar itu digantuang atau dilipek atau disimpan sampai nanti kaum itu mempunyai laki-laki pewaris.
Dalam sistem kelarasan Bodi Caniago, berdasarkan hilang baganti, maka ketika penghulu pemegang gelar kebesaran itu meninggal, dia dapat diwariskan kepada lelaki di dalam kaum berdasarkan kesepakatan bersama anggota kaum itu. Pergantian demikian disebut dalam adatnya gadang balega.
Gelar kehormatan dapat diberikan dalam tiga hal, (1). Diturunkan dari mamak ke kemenakan, adalah gelar pusaka kaum, mengikut kepada perkauman yang batali darah. (2). Diberikan dari pihak ayah (bako) kepada anak pisangnya, dalam hubungan status sosialnya, hanya gelar panggilan yang dipakai untuk diri sendiri, seumur hidupnya dan tidak dapat di wariskan kepada yang lain. Bila sipenerima gelar telah meninggal, gelar akan dijemput kembali oleh bako dalam saatu acara adat. Gelar ini, tidak mempengaruhi kedudukan kepenghuluan yang sudah ada di dalam kaum. Gelar ini disebut gelar yang batali adat. (3). Dihadiahkan oleh raja Pagaruyung kepada yang dianggap telah berjasa, sebagai penghormatan yang disebut batali suto. Gelar ini dapat dipakai seumur hidup, tidak dapat diwariskan kepada turunannya atau kepada orang lain. Bila terjadi sesuatu yang dapat merusakkan nama kaum, dan nagari, yang telah memberikan gelar itu, maka gelar itu dapat dicabut kembali.
(2). Pusako adalah milik kaum secara turun temurun menurut sistem matrilineal yang berwujud material, seperti sawah, ladang, rumah gadang dan lainnya. Pusako dimanfaatkan oleh perempuan di dalam kaumnya. Hasil sawah, ladang menjadi bekal hidup perempuan dengan anak-anaknya. Rumah gadang menjadi tempat tinggalnya. Laki-laki berhak mengatur tetapi tidak berhak untuk memiliki.
Di Minangkabau, hak milik dua kata yang punya arti berbeda, sesuai penggunaannya, yaitu hak dan milik. Laki-laki punya hak terhadap pusako kaum, tetapi dia bukan pemilik pusako kaumnya. Karena itu, pengaturan pewarisan pusako, semua harta yang akan diwariskan harus ditentukan dulu asal usul kedudukannya. Dalam hal ini harato pusako di disebut ;
a. Pusako tinggi, yang diterima secara turun temurun berdasarkan garis ibu (matrilineal). Dalam ketentuan adat, pusako tinggi ini hanya boleh digadaikan apabila keadaan sudah sangat mendesak, 1.gadih gadang indak balaki, 2. maik tabujue di tangah rumah, 3. rumah gadang katirisan. Diluar ketentuan yang tiga perkara itu harta pusaka tinggi ini tidak boleh digadaikan, apalagi untuk di jula.
Hakikinya, harta pusaka tinggi adalah yang sudah diterima turun temurun, harta milik kaum, kata orang sekarang harta organisasi kaum, yang tidak boleh di pindah tangankan ke luar kaumnya, dan kalau akan dipindahkan juga tentulah sepakaat seluruh kaum itu. Karena itu harta tersebut berada di tangan kaum perempuan, yang di dal;am adat Minangkabau di datangi.
b. Harato pusako randah, semua harta yang didapat selama perkawinan antara suami dan istri, juga disebut harta bawaan, atau gono-gini, yang bisa saja asal muasalnya sebagai bawaan suami istri dari masing-masing kaum. Pusaka rendah ini, mejadi waris anak-anak dari hasil pernikahan, dibagi menurut hukum faraidh, kepada anak, istri dan saudara laki-laki berdasarkan hukum syari'at Islam yang shahih.
Memang ada beberapa kasus, ada harta pusako randah yang diterima oleh laki-laki pewaris harta itu, namun kemudian menyerahkan lagi kepada adik perempuannya. Sehingga, anak perempuan mendapatkan hampir semua warisan itu, dengan kerelaan hati saudara laki-lakinya. Dalam hal ini, saudara laki-laki yang menjadi pewaris harta rendah itu, menhadiahkan kepada saudara perempuannya dalam keluarga batihnya. Dan bisa pula terjadi, saudara perempuan yang telah menerima dari saudara laki-lakinya itu, sebagai pemberian, akan mewariskan pula kepada anak perempuannya, akhirnya dapat juga terjadi, lambat laun dalam dua atau tiga generasi berikutnya, yang tadinya harta pusako randah telah menjadi pusako tinggi pula.
Baitu dahulu, saketek nan dapek buya sampaikan.
Mohon di pabanyak maaf.
Wassalam, Buya HMA
click : http://groupsyahoo.com/group/tulisanbuyamasoedabidin/files/
| Masoed Abidin <masoed...@yahoo.com>
26/03/2008 19:58
|
|
Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
Buya dan sarato dunsanak nan dimuliakan Allah,
Ado tanyo dari surang urang awak disiko (padusi), baliau ko warga negara Singapur tapi mandeh baliau masih WNI. Mandeh baliau lai basawah, baladang, barumah gadang, ba pandam pakuburan di nagari awak. Dek mandeh baliau alah gaek dan manuruik adaik kito di Minang harato pusako ko jatuah ka anak padusi. Nan jadi kamusykilan kini dek baliau ko WN Singapur apokah secara hukum positif Indonesia baliau ko bisa manarimo harato pusako nantun. baliau ko pernah dihubungi surang notaris nan katono bisa mauruihan tapi dengan fee 10 jt.
wassalam
Junaidi (42), kandang singo
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
> Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
>
Wa'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,
> a. Pusako tinggi, yang diterima secara turun temurun berdasarkan garis ibu
> (matrilineal). Dalam ketentuan adat, pusako tinggi ini hanya boleh
> digadaikan apabila keadaan sudah sangat mendesak, 1.gadih gadang indak
> balaki, 2. maik tabujue di tangah rumah, 3. rumah gadang katirisan. Diluar
> ketentuan yang tiga perkara itu harta pusaka tinggi ini tidak boleh
> digadaikan, apalagi untuk di jula.
>
Buya, apakah memungkinkan pusako tinggi itu dijadikan waqf yang
dinyatakan pengelolanya adalah melalui garis ibu itu? Akan tetapi,
kalau diasumsikan bisa dijadikan waqf tentu tiga aturan gadai itu jadi
tidak boleh dilaksanakan karena tiga hal itu setahu saya bukan alasan
yang dapat diterima untuk menjual suatu waqf. Hasil penjualan waqf pun
setahu saya harus digunakan untuk waqf lagi jadi praktis pengalihan
waqf saja. Sedangkan tiga perkara itu lebih ke urusan pribadi.
--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)
Ambo maamini dunsanak Azhari jo dunsanak Ahmad Ridha: apokoh Harato
Pusako Tinggi tu batua-batua Waqaf jatuahnyo?
Wassalam,
Adyan Anwar
Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
Pendapat buya, tidaklah dapat di serupakan harta pusaka tinggi itu
yang di dalam adat kita di Minangkabau, sebagai muthlak harta waqaf,
yang diamanahkan kepada perempuan sebagai nadzirnya.
Buya malah berpendapat, harta pusaka tinggi itu sebagai harta kaum
semata. Sebagai, kalau di contohkan sekarang harta organisasi, bila
kaum itu dapat diserupakan dengan organisasi yang bernama kaum itu.
Harta pusaka tinggi itu lebih kuat kedudukannya pada kesepakatan
kaum.
Menjual dan menggadai harta pusaka tinggi ini, sesungguhnya secara
hakiki terlarang.
Walau tadi, disebut ada alasan pada tiga perkara. Tapi kapankah
ketiga perkara itu sebenar-benar nyata adanya???
Semisal contoh, mayat terbujur di tengah rumah.
Mungkin ini terjadi kalau kaum lelaki sudah tidak ada lagi, orang
kampung sudah mengungsi, keadaan sangat darurat, yang tinggal hanya
kaum perempuan, barulah boleh menggadaikan harta itu. Kapankah ini
akan terjadi??
Jadi secara hakiki, harta pusaka tinggi itu tidak boleh bergeser.
Halnya sama, kalau gadih gadang indak ba laki, atau rumah gadang
alah ka tirisan. Pada hakekatnya karena yang kuat di dalam kaum,
yakni kaum lelaki sudah punah. Masyaalah, banyak yang tersuruk dari
yang tersirat dalam kata pepatah kita.
Buya kadang berfikir, tentang kearifan budaya Minang ini
Salah satu di antaranya tentang harta pusaka tinggi. Manakala harta
itu diserah ke kaum lelaki, tentulah harta itu akan berkisar kerumah
istrinya, atau anak-anaknya, yang menurut faraidh akan mewarisi
peninggalannya.
Jadi lelaki dalam kaum menjadi pengawas harta waqaf, kaum perempuan
mengelola hasilnya, kedua-duanya tidak berhak mengalihkan dan
menjualnya, sehingga berkekalanlah harta pusaka tinggi itu menjadi
kekayaan kaum, turun temurun, harta pusaka tinggi akan menjadi basic
need dalam kaumnya.
Apalagi, kalau diingat bahwa tugas semenda (kaum lelaki, yang
menjadi suami bagi seorang perampuan) di tengah kaum istrinya di
Minangkabau berat sekali, di antaranya ka marapek-an nan ranggang,
ka manupang nan condong, ka mauleh nan singkek, ka manambah nan
kurang, ka manyalasai nan kusuik, ka manyisik nan rusak. Jadi bukan
semata sebagai seorang suami yang mengawasi istri dan anak-anaknya.
Ada tugas sosial lain, yang berakitan dengan keluarga kaumnya dan
keluarga kaum istrinya. Inilah yang disebut sumando rumah gadang,
atau sumando ninik mamak.
Hubungan kekerabatan itu, akan erat hubungannya nanti dengan
pengawasan dan pemanfaatan harta pusaka.
Sehubungan dengan itu, barangkali ananda yang menuntut ilmu di
sumber datangnya Islam, perlu mendalami penelitian berguna untuk
orang kampung kita, bahwa sebenarnya amat bijaksana ketentuan hukum
adat di Minangkabau, yang memberi batasan bahwa harta pusaka tinggi
tidak boleh dijual, dan tetap berada dalam pengawasan kaum
perempuan, jadi bukanah semua harta di wariskan kepada perempuan.
Banyak pula dari harta pusaka tinggi itu yang sudah tidak diketahui
lagi asal dan usulnya, karena kaumnya telah menerima sebagai warisan
turun temurun, dari ninik turun ka ninik, turun lagi ke ibu, dan
kini ada di tangan cucu dan cicit. Bagaimana membaginya, sebab itu
harta pusaka tinggi itu wajib kita jaga.
Bila di tilik dari sini, maka penjagaan harta pusaka tinggi mungkin
dapat serupa dengan penjagaan kepada barang waqaf, walaupun harta
pusaka tinggi itu tidak bisa diqimat menjadi harta waqaf.
Tapi ada kalanya harta pusaka tinggi, pada satu kaum yang sudah
punah, atas kesepakatan karek balahan, di wakafkan kepada pihak
lain, bukan kaumnya yang menjaga lagi. Sebagai misalan, waqaf tanah
sawah yang menjadi pusaka tinggi suatu kaum di wakafkan ke nagari,
untu di atasnya dibangun masjid untuk orang sekampung.
Buya juga masih mempertanyakan pendapat Inyiak Canduang kito,Allah
yarham Syeikh Sulaiman Ar Rasuly, yang mengatakan bahwa harta pusaka
tinggi, digolongkan kepada harta musabalah.
Buya masih berpendapat, paling tinggi hanya harta kaum, yang wajib
kaum itu menjaganya. Buahnya bisa dimakan, hasilnya bisa dinikmati
bersama, tapi pohonnya, dan tanahnya tidak bisa dialihkan (dijual).
Menggadai sebenarnya tidak sama dengan menjual. Sebab ujung dari
gadai ditebusi. Ujung dari jual lepas tangkai.
Ananda Ahmad Ridha, mohon juga buya dibantu, barangkali ada
pandangan lain yang lebih baik dan utama.
Pendapat kita sesungguhnya belum final dan tidak limited.
Selamat dan doa buya selalu untuk ananda,
Moga satu ketika kita bertemu, dan satu masa kelak ananda akan
berada di tengah masyarakat kita di Minangkabau, memelihara adat dan
budayanya, sesuai dengan syari'at mengata, adat yang memakaikan.
Terimakasih, dan maaf jika ada yang tersalah.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
Buya H.Mas'oed Adidin bin Zainal Abidin bin Abdul Jabbar el
Bukittinji.(11-08-1935)
click :
http://www.groups.yahoo.com/group/suaraulama/file/buyamasoedabidin/
pun sebenarnya
| "Mas'oed Abidin"
<masoed...@yahoo.com>
Sent by: Rant...@googlegroups.com 28/03/2008 11:14
|
|
Sangaik sajuak dan sanang ambo mambaco pituah atau pencarahan tentang Harato
Pusako Tinggi sasuai judul diateh, tidak terkesan menggurui tapi Buya uleh
apo adonyo nan jadi buah kabanaran dari harato kaum ko. Walaupun alah
panjang leba Buya jalehkan tapi tetap di penghujung kato, Buya tetap
mamintak ka audiens atau ka nan Buya tujukan jawek an pertanyoan nan Buya
barikan, agar mancari pandangan lain nan mungkin labiah tapek.
Kato2 nan arif bijaksana macam nan dibawah ko jarang kami tarimo dari
seseorang nan alah kito tinggikan sarantiang dan kito dulukan salangkah
seperti Buya ko. Pai tampek batanyo pulang tampek babarito, urang nan
bapandangan laweh dan ba ilimu santiang, tapi masih tetap mangecek
marandah-randah. Sungguah jadi panutan bagi kami nan mudo2 ko.
"Ananda Ahmad Ridha, mohon juga buya dibantu, barangkali ada pandangan lain
yang lebih baik dan utama.
Pendapat kita sesungguhnya belum final dan tidak limited."
Kami di RN ko sangaik marasokan kenyamanan dan ketenteraman samanjak Buya
masuak mancogok baliak di dunia maya urang awak ko. Semoga Buya indak bosan2
nyo mambari pancarahan bagi kami dan kami mandoakan Buya selalu sihaik dan
selalu dalam lindungan Nan Kuaso, Amin ... ya rabbal 'alamin.
Best Regards,
H.Mulyadi dt.Marah Bangso (51 th kurang sahari)
Tenaga bantuan Engineer dari PT.Pusri pada :
Mechanical Dept.
PT. REKAYASA INDUSTRI - Jakarta
Jl.Kalibata Timur I No.36, Jakarta - 12740
Phone : +62-21-7988700 ext. 2215
Fax : +62-21-7988701
email : mul...@rekayasa.co.id
atau : mul...@pusri.co.id
-----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On
Behalf Of Mas'oed Abidin
Sent: 28 Maret 2008 11:14
To: rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Mungkinkah Harta Pusaka Tinggi didudukkan sebagai
harta waqaf .....????
Wa'alaikum salam wr. wb.
Sabanak padek katarangan buya tu. Rasonyo lah jaleh di nan mudo2 kito di RN
ko pakaro pusako tinggi ko.
mak Sati (L. 71+0+25)
Tabiang
----- Original Message -----
From: "Mas'oed Abidin" <masoed...@yahoo.com>
To: <rant...@googlegroups.com>
Sent: Friday, March 28, 2008 11:14 AM
Subject: [R@ntau-Net] Mungkinkah Harta Pusaka Tinggi didudukkan sebagai
harta waqaf .....????
Sakitu ka tukuak tambah untuak mandapek ilimu buya.
Semoga Allah memberikan selalu kekuatan dan daya kepada buya untuk
selalu berinteraksi di rantau maya, amiiiiin.
Wassalamu'alaikum ww
Batuduang Ameh (41)
-----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On
Behalf Of Mas'oed Abidin
Sent: Friday, March 28, 2008 11:14 AM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Mungkinkah Harta Pusaka Tinggi didudukkan sebagai
harta waqaf .....????
Ananda Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim, yang di berkati
Allah, semoga Ananda sehat selalu, Amin.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
Pendapat buya, tidaklah dapat di serupakan harta pusaka tinggi itu yang
di dalam adat kita di Minangkabau, sebagai muthlak harta waqaf, yang
diamanahkan kepada perempuan sebagai nadzirnya.
Buya malah berpendapat, harta pusaka tinggi itu sebagai harta kaum
semata. Sebagai, kalau di contohkan sekarang harta organisasi, bila kaum
itu dapat diserupakan dengan organisasi yang bernama kaum itu.
Harta pusaka tinggi itu lebih kuat kedudukannya pada kesepakatan kaum.
Menjual dan menggadai harta pusaka tinggi ini, sesungguhnya secara
hakiki terlarang.
Walau tadi, disebut ada alasan pada tiga perkara. Tapi kapankah ketiga
perkara itu sebenar-benar nyata adanya???
........
>
>
> Ananda Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad
> Hamim, yang di
> berkati Allah, semoga Ananda sehat selalu, Amin.
>
> Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh Buya,
Ma'af Buya, jawaban ambo salekkan.
>
Pendapat buya, tidaklah dapat di serupakan harta
> pusaka tinggi itu
> yang di dalam adat kita di Minangkabau, sebagai
> muthlak harta waqaf,
> yang diamanahkan kepada perempuan sebagai nadzirnya.
Terimakasih Buya atas jawaban Buya, nan bagi nanda
cukuik jaleh dan sajuak.
Nanda sependapat dengan Buya, kalau selama ini, harta
pusaka tinggi, tidak bisa diserupakan dengan harta
waqaf. Dari diskusi masalah harta pusaka tinggi milik
kaum ini, saya dah pernah diskusi dengan kanda datuk
Endang.
Untuk lebih jelasnya saya bagikan aja menjadi dua
sesuai pembagian Buya juga.
1.Harta pusaka tinggi berasal dari harta kaum(ulayat)
2.Harta pusaka tinggi berasal dari harta pusaka
rendah, dan dijadikan menjadi harta pusaka tinggi
pula.
Saya dah sampaikan bahwa soal pengolahannya di atur
oleh siapapun, kaum padusi atau lelaki, tidak pernah
menjadi masalah, hanya ketika pembagiannya, hendaklah
dibagi sesuai dengan Islam.
Mungkin nan ditanyakan oleh kanda Azhari dan dik Ahmad
Ridha, adalah "Mungkinkah harta pusaka tinggi bisa
dijadikan harta waqaf?".
Sekarang, jelas, kalau harta pusaka tinggi itu
kedudukannya sebagai harta organisasi.
(namun sebenarnya bukan harta pusaka tinggi bentuk ini
yang saya permasalahkan di RN ini Buya, yang saya
permasalahkan adalah bentuk harta pusaka tinggi yang
kedua, yang mana Buya pada keterangan terdahulu
menyebutkan, bahwa memang ada masalah pada harta
pusaka tinggi, yakni asalnya dari harta pusaka
rendah…..dst..sampai akhirnya jatuh kepada pusaka
tinggi pula, Inilah yang hakiki nan nanda
permasalahkan juga selama ini, mohon penjelasan Buya,
bagaimana dengan posisi harta pusaka tinggi semacam
ini didalam Islam.
Mohon maaf Buya, nanda memang melihatnya salah dalam
Islam, atau boleh dikatakan bertentangan dengan
Islam.(pada bentuk pusaka tinggi yang kedua diatas)
Sebab setahu saya, harta itu secara otomatis aja
diturunkan ke kaum padusi, padahal itu jaleh milik
nenek atau kaum kerabat terdahulu.
Menurut pengetahuan nanda yang juga masih kurang ini,
harta pusaka tinggi semacam ini, jelas bertentangan
dalam Islam Buya, kenapa?
Bukankah disana ada haknya garis keturunan kaum
lelaki. Bukankah sang nenek memiliki saudara lelaki
juga(kalau pas ada saudara), atau ada suami/ayah
dllnya.
Sementara di Minang, saya melihat, harta semacam ini,
ikut pula dibagikan sebagaimana harta pusaka tinggi
yang pertama tadi, hanya di turunkan pada garis padusi
saja(harta organisasi menurut Buya).
Boleh saja dengan kerelaan, seorang lelaki merelakan
harta pusaka tingginya tadi kepada adiknya perempuan,
namun harus dibagi dulu sesuai dengan hukum faraidh.
Kalau tidak dibagi sesuai dengan hukum faraidh dulu,
itu namanya kita melalaikan perintah Allah Ta'ala dan
membuat hukum diluar hukum Allah ta'ala, dan kalau
sekiranya kondisi ini berkelanjutan begitu saja, tanpa
kejelasan, ini namanya kita telah membakar hukum
warisan dalam Islam, akibat kebiasaan tadi, direlakan
saja, tanpa ada pendahuluan pembagian secara hukum
Faraidh.
Kemudian, bila telah direlakan oleh kaum lelaki pada
kaum padusi, maka harus jelas pula dulu andaikan saja
dalam satu keluarga itu memiliki beberapa orang anak
perempuan atau lelaki. Kalau perempuannya banyak, maka
harus jelas pula mana-mana saja hak mereka secara
hukum faraidh dalam Islam. Sehingga kelak, pas
penurunannya pula jelas. Andaikan anak perempuan tadi
memiliki anak lelaki dan anak perempuan juga,
dijelaskan pulalah.
Sebab bias jadi, suatu saat tiba di anak perempuannya
tadi memiliki dua anak pr satu lelaki, sementara yang
anak lelaki hidupnya miskin, dan dua anak perempuan
memiliki suami yang kaya, maka tentu saja kecondongan
seorang Ibu semua anaknya tak ada yang miskin, dan
dibagilah harta tersebut kepada anak lelaki tadi,
bahkan anak pr dua orang tadipun bisa saja
menghibahkan harta mereka ke saudara lelaki yang
miskin tadi. Ini bisa, karena telah jelas pembagiannya
dari awal menurut Islam.
Sementara kita lihat, tidak semacam ini yang terjadi
pada harta pusaka tinggi yang kedua tadi, secara
otomatis saja harta itu jatuh kepada garis keturunan
padusi, tanpa ada pendahuluan hukum faraidh, bukankah
ini salah dalam Islam Buya? Bagaimana menurut
pandangan Buya dalam hal ini?
> Buya malah berpendapat, harta pusaka tinggi itu
> sebagai harta kaum
> semata. Sebagai, kalau di contohkan sekarang harta
> organisasi, bila
> kaum itu dapat diserupakan dengan organisasi yang
> bernama kaum itu.
Untuk sementara ini, nanda sependapat dengan Buya.
Namun perlu pula kita carikan solusinya bagaimana
kedudukan harta pusaka tinggi ini dalam Islam.
Kalau menurut nanda Buya.
Boleh saja kepengurusannya diserahkan pada kaum
padusi, asal ketika pembagian hasilnya dibagi sesuai
dengan Islam juga.
Islam juga mengenal harta syarikat. Atau harta
organisasi.Mudah-mudahan dik Ridha atau sanak Azhari,
atau nan lainnya bias mencarikan artikel masalah harta
oraganisasi ini. Saya ada, tetapi harus saya
terjemahkan dan salin ulang pula lagi, kalau ada yang
Indonesiakan bisa mengurangi pekerjaan saya
menterjemahkannya.
> Harta pusaka tinggi itu lebih kuat kedudukannya pada
> kesepakatan
> kaum.
>
> sesungguhnya secara Menjual dan menggadai harta
pusaka tinggi ini,
> hakiki terlarang.
Ma'af Buya, saya setuju kalau segala macam harta
apapun, kalau sudah sepakat semuanya, sah-sah saja.
Hanya tetaplah kita mendahulukan ketentuan dari Allah
Ta'ala, agar kita selalu berada dalam garis ketentuan
yang telah ditetapkan oleh Allah Ta'ala..
Setau nanda, apapun harta bisa saja dijual, baik harta
itu milik kaum, atau pemerintah, sah-sah saja dalam
Islam. Yang ngak boleh dijual itu sebenarnya harta
waqaf dalam kondisi apapun, kecuali terjualnya untuk
pembelian waqaf juga.
Hanya saja, kalau harta kaum mau dijual atau digadai
boleh dalam Islam, dengan syarat hanya untuk
kepentingan kaum atau negara atau masayarakat, atau
pemerintah itu juga. Ngak boleh untuk pribadi sama
sekali, karena itu harta kaum, negara, milik bersama,
maka kepentingannyapun dibolehkan pula untuk
kepentingan kaum atau masyarakat itu juga.
Hanya saja, andaikan dalam Minang harta kaum itu
disepakati ngak boleh digadaikan atau dijual, itu
terserah saja, karena kesepakatan. Islam juga
menghargai kesepakatan. Cuman, kalau ditanya dalam
hukum Islam, boleh ngak harta bersama/umum yang bukan
harta wakaf dijual, bila semuanya sepakat menjualnya.
Boleh, sah-sah saja. Asalkan sepakat. Yang pasti harta
waqaf saja yang ngak boleh dijual dalam Islam.(CMIIW)
.
> Jadi lelaki dalam kaum menjadi pengawas harta waqaf,
> kaum perempuan
> mengelola hasilnya, kedua-duanya tidak berhak
> mengalihkan dan
> menjualnya, .
Ma'af Buya, nanda kurang mengerti akan kalimat diatas.
> Sehubungan dengan itu, barangkali ananda yang
> menuntut ilmu di
> sumber datangnya Islam, perlu mendalami penelitian
> berguna untuk
> orang kampung kita, bahwa sebenarnya amat bijaksana
> ketentuan hukum
> adat di Minangkabau, yang memberi batasan bahwa
> harta pusaka tinggi
> tidak boleh dijual, dan tetap berada dalam
> pengawasan kaum
> perempuan, jadi bukanah semua harta di wariskan
> kepada perempuan.
InsyaAllah Buya.Akan saya tanyakan langsung bila perlu
pada majelis fatwa yang ada di Mesir, namun untuk
sementara ini, pendapat nanda sebagaimana diatas tadi.
> Banyak pula dari harta pusaka tinggi itu yang sudah
> tidak diketahui
> lagi asal dan usulnya, karena kaumnya telah menerima
> sebagai warisan
> turun temurun, dari ninik turun ka ninik, turun lagi
> ke ibu, dan
> kini ada di tangan cucu dan cicit. Bagaimana
> membaginya, sebab itu
> harta pusaka tinggi itu wajib kita jaga.
Inilah saya pertanyakan Buya. Menjaga harta itu wajib
hukumnya. Bahkan kalau kita menemukan sebidang tanah
yang terletak begitu saja, wajib ditanami. Bagi yang
menemukannya, bila sudah bertahun ngak ada juga yang
mengakui memilikinya, maka hak penemulah yang
menjadikan tanah itu miliknya. Ini yang pernah nanda
sampaikan pada kanda datuk Endang.
Tapi apabila suatu saat sipemilik datang mengambil,
maka sipenemu tadi berkewajiban memberikannya. Kalau
bertahun ngak juga, menjadi haknya dan kelak bila dia
meninggal secara otomatis itu hak dari ahli warisnya
sesuai dengan islam pula.(kalau yang menemukan satu
orang gampang)
Yang sulitnya kalau menemukan itu ramai-ramai, ada dua
tiga suku, atau dua tiga orang dalam tempat yang sama,
ini yang sangat rumit bila sampai tujuh keturunan ngak
jelas-jelas, yah jadi harta kaum penemu itulah
selamanya, sulit dijual, kecuali kesemua kaumnya
sepakat pula menjualnya.
> Bila di tilik dari sini, maka penjagaan harta pusaka
> tinggi mungkin
> dapat serupa dengan penjagaan kepada barang waqaf,
> walaupun harta
> pusaka tinggi itu tidak bisa diqimat menjadi harta
> waqaf.
Penjagaan, mungkin bisa semacam itu, namun menurut
yang saya ketahui tetap memiliki perbedaan Buya. Waqaf
ngak boleh sama sekali dijual, kecuali untuk pembeli
waqaf juga, sementara kalau harta kaum/Negara/umum,
masih bisa dijual dan hanya boleh untuk kepentingan
banyak /kaum/umum pula, ngak boleh kepentingan secara
pribadi.
Tapi ada kalanya harta pusaka tinggi, pada satu kaum
> yang sudah
> punah, atas kesepakatan karek balahan, di wakafkan
> kepada pihak
> lain, bukan kaumnya yang menjaga lagi. Sebagai
> misalan, waqaf tanah
> sawah yang menjadi pusaka tinggi suatu kaum di
> wakafkan ke nagari,
> untu di atasnya dibangun masjid untuk orang
> sekampung.
>
Kalau begini posisinya harta pusaka tinggi kaum, sudah
jatuh kepada harta waqaf untuk suatu kaum, maka bila
telah terjadi waqaf, dan ada lafaz, kesepakatan, jelas
sama sekali ngak boleh dijual dengan alasan apapun,
dan tidak boleh kembali lagi kepada kedudukan harta
pusaka tinggi(organisasi).
> Buya juga masih mempertanyakan pendapat Inyiak
> Canduang kito,Allah
> yarham Syeikh Sulaiman Ar Rasuly, yang mengatakan
> bahwa harta pusaka
> tinggi, digolongkan kepada harta musabalah.
>
> Buya masih berpendapat, paling tinggi hanya harta
> kaum, yang wajib
> kaum itu menjaganya. Buahnya bisa dimakan, hasilnya
> bisa dinikmati
> bersama, tapi pohonnya, dan tanahnya tidak bisa
> dialihkan (dijual). > Menggadai sebenarnya tidak
sama dengan menjual.
> Sebab ujung dari
> gadai ditebusi. Ujung dari jual lepas tangkai.
Buya, saya sependapat, bahwa harta kaum itu haruslah
dijaga dan hasilnya haruslah dinikmati bersama, baik
pihak garis keturunan Ibu ataupun Bapak. Namun
pengelolaannya terserah siapa saja yang memegang,
kalau kaum sepakat dikelola oleh kaum padusi sah-sah
saja, namun hasil tetaplah kedua belah pihak garis
keturunan, karena ini harta kaum, didapat secara
beramai-ramai. Dalam hal inipun, bagi sang penggarap,
dalam ketentuan Islampun ada menjelaskan hal ini.
> Ananda Ahmad Ridha, mohon juga buya dibantu,
> barangkali ada
> pandangan lain yang lebih baik dan utama.
> Pendapat kita sesungguhnya belum final dan tidak
> limited.
>
> Selamat dan doa buya selalu untuk ananda,
> Moga satu ketika kita bertemu, dan satu masa kelak
> ananda akan
> berada di tengah masyarakat kita di Minangkabau,
> memelihara adat dan
> budayanya, sesuai dengan syari'at mengata, adat yang
> memakaikan.
Semua kita berdo'a untuk Buya, dan mengharapkan yang
terbaik untuk masalah ini yang mana kita
mensesuaikannya dengan ketentuan syara'.
Nanda masih mengharapkan penjelasan Buya, masalah
harta pusaka tinggi jenis kedua tadi. Kalau nan
pertama, nandapun telah menyampaikan pandangan nanda
sesuai dengan ilmu yang nanda ketahui pula.
Terimakasih Buya, dan mohon maaf bila ada tersalah.
Wassalamu'alaikum. Rahima Sarmadi Yusuf(39 thn)
> Terimakasih, dan maaf jika ada yang tersalah.
> Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
>
> Buya H.Mas'oed Adidin bin Zainal Abidin bin Abdul
> Jabbar el
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
rendah.....dst..sampai akhirnya jatuh kepada pusaka
Like movies? Here's a limited-time offer: Blockbuster Total Access for one month at no cost.
Iyo aneh rasonyo, Buya. Bantuak-bantuakyo iko indak konsisten. Kenapo
sesudah adonyo kesepakatan pembagian pusako kepada pusako randah dan
pusako tinggi, dengan tujuan utamo untuk menjago hak waris manuruik
syariah Islam, masih ado yang mempelintir pusako rendah tu manjadi
pusako tinggi baliak.
Mungkin mukasuiknyo elok juo, untuak mendukung dan mamaliharo pusako
tinggi sebab tujuan utamo adonyo pusako tinggi lah elok juo..
Tapi demi konsistensi, dan sasuai jo pitua urang tuo juo, "kato daulu
batapati".. tantu handaknyo pusako randah, harato pancaharian, jan
dikembalikan lagi jadi pusako tinggi.
Apakah disiko pembagian menurut faraid tu masih optional sipaiknyo?
sakitu nan takana diambo, Buya, mohon maaf kalau ado kato nan salah..
-adyan
Mak Lembang, Waalaikum Salam…
Jo carito2 mak Lembang tu (walau Fiktif) ambo lai salalu maikuti, baiak nan di MP, ataupun nan di blog yahoo.
Ambo sangek sanang, dan sangek satuju jo pikiran mak lembang di carito tu.
Dan kami tunggu, carito2 mak lembang nan terbaru.
(kami rang dapua, bobby, benny? Dan sanak Rang Mudo lainnyo, masih bausaho mangkompile carito atau
Posting2 nan boneh di Palanta ko.
Carito mak Lembang perihal Pangajian Musajik ko, suatu waktu mungkin kito buek versi bhs indonesia no
Bia bisa masuak tuak komunitas nan ndak mangarati jo bhs minang.
Kok ado nan alun mambaco, ambo kopas sacara utuh baliak perihal nan no 13 iko mak, mungkin ado sanak kito
Nan bisa akses hanyo via email sajo.
Salam
ADAIK BASANDI SYARA’
Sakaliko tibo
juo pangajian di musajik Gurun di urusan nan agak barek. Nan
manyangkuik pakaro adaik sarato kaduduk-anno jo agamo Islam. Mulo-mulo
pangajianko mambahas hubungan anak jo urang tuo tapi bakasudahan jo diskusi
barek nan cukuik heboh tantang hubungan adaik jo agamo.
Mangko pulo sabagian dari isi kaji baliau tu.
‘Tuhan Allah mamarentahkan awak untuak babuek baiak ka kaduo urang tuo. Firman Allah dalam surek Luqman, surek ka 31 ayat 14 nan babunyi, ‘Wa washshaynaal insaana bi waalidayHi, hamalatHu ummuHuu waHnan ‘alaa waHnin wa fishaaluHuu fii ‘aamayni anisykurlii wa liwaalidaika…. Nan aratino, ‘Dan Kami wasiatkan kapado manusia untuak babuek baiak kapado kaduo urang tuono. Ibuno manganduangno dalam kaadaan latiah batambah latiah. Sudahtu manyapiah (baranti manyusuan) sasudah duo taun. Basyukurlah kapado Aku dan kapado kaduo urang tuo kalian…..’
Wajib hukumno awak babuek baiak ka urang tuo awak. Dan labiah utamu pulo lai ka ibu awak. Nan alah manganduang awak sambilan bulan sapuluah hari. Jo kaadaan payah batambah payah. Kan alah samo nampak di awak bara barekno katiko surang ibu sadang manganduang. Bamacam-macam pandaritaan nan diadok-ino. Kadang-kadang makan ndak amuah, minun ndak amuah. Tiok sabanta muntah. Batambah gadang paruik batambah barek baban. Datanglo ari katiko anak ka laia. Kalua anak dari paruik manimbua-an raso sakik pulo ka bakeh ibu. Sudah itu disusuanno. Malam dijago jaan sampai rangik sikua sampai manggigik. Batanggangno manjagoi anak nan baru laia nan alun pandai manga-manga tu. Itu pulolah sababno katiko ado nan batanyo ka Rasulullah, ka sia horomaik sarato takzim nan paliang utamu disampai-an, mako jawek baliau, ka ibu angkau. Sudah itu ka sia lai ? Ka ibu angkau, jawek baliau. Sudah itu ka sia lai ? Ka ibu angkau, jawek baliau. Sudah itu ka sia lai ? Ka ayah angkau, jawek baliau. Tigo kali ka ibu baru ka ayah, sarupo itu nan disampai-an Rasulullah.
Di ayat nan lain, di surek Al Israa’ surek 17 ayat disampaikan pulo dek Tuhan Allah sarupo iko aratino; ‘Dan Tuhan kalian alah mamarintahkan jaan kalian manyambah salain No (salain Allah), sarato handaklah babuek baiak kapado kaduo ibu bapak . Kalau salah surang atau kaduono alah lanjuik umua jaan sakali-kali kalian mangecek-an ‘ah’ kapado mareka. Jaan kalian hariak mareka. Mangeceklah kalian jo mareka jo kato-kato nan sopan dan mulia.’
Sarupo itu parintah Tuhan ka awak. Horomaik ka urang gaek. Jaan mandurako. Jaan manyakik-an hatino, jaan mambuek parangai nan ka manyabab-an ibo hatino. Sabab kalau dikarajoan nan sarupo itu jadi doso gadangno. Baiak katiko urang tuo awak masih sehaik, tapi dek awak dikacak langan lah bak langan, diresek batih lah bak batih, lah taraso santiang awak kini, indak paralu katolongan urang tuo awak lai, barani awak mandurako. Apotah lai kok nyampang alah batambah tuo no, alah lamah no baliak dek tuono, awak bukan sajo indak mampadulian tapi sampai barani mahariak, malukoi parasaanno. Ingek-ingek bana! Kok nyampang dikarajoan nan sarupo itu bangih gadang Tuhan Allah ka awak.’
Katiko tibo wakatu tanyo jawab, Sutan Bagindo Rajo nan mulo-mulo batanyo.
‘Nabi manyuruah awak labiah manghoromaik-i ibu. Awak di Minangkabau ko ba suku jo suku ibu. Dari nan saketekko dapek awak mangecek-an nan bahaso adaik awak alah sasuai jo agamo, iyo baitu du Buya?’ tanyo baliau.
‘Indak pulo tapek bana sarupo itu hubunganno do. Awak basuku jo suku ibu kan alah dikarajoan inyiak muyang awak sajak sabalun agamo Islam masuak kamari. Tapi kalau kudian awak maraso caro kakarabatan nan sarupo awak pakai bak cando sasuai jo hadits nabi, labiah dakek awak ka ibu daripado ka ayah, itu marupokan kabatulan nan elok sajo.’
‘Ambo kabatanyo pulo ciek Buya,’ kecek pak Guru Masrul.
‘Laluanlah angku Guru.’
‘Dek alah mampakecek-an pakaro hubungan agamo jo adaik, dek di nagari awak tasabuik adaik ko basandi syarak, samantaro bak kecek urang pandai ado adaik ko nan batantangan jo syarak, baa nan sabano du Buya. Ambiak contoh pakaro panikahan. Sacaro adaik indak buliah urang sasuku kawin. Dima duduakno kaji ko du Buya?’ tanyo Guru Masrul.
‘Di dalam al Quran, di surek An Nisaa’ ayat 23 Tuhan Allah manjalehan sia-sia sajo padusi nan indak buliah dinikahi. Sia mareka itu? Nan partamu ibu sandiri. Nan kaduo anak-anak sandiri. Nan katigo dunsanak kanduang, tamasuak dunsanak saapak atau dunsanak saibu. Sudah itu dunsanak apak awak. Sudah itu dunsanak ibu awak. Sampai disiko sangaik jaleh hubungan langsuang awak jo urang-urang nan indak buliah dinikahi. Sudah itu, anak padusi dari dunsanak awak baiak dunsanak laki-laki ataupun dunsanak padusi. Sudah itu ibu susu, ibu nan panah manyusui awak. Sudah itu dunsanak sapasusuan. Sudah itu mintuo awak sandiri. Sudah itu anak tiri, anak dari binyi awak jo lakino nan daulu. Sudah itu minantu awak atau binyi anak kanduang awak. Kok misalno anak awak mati, atau binyino dicarai-anno di anak awak, indak buliah awak mangawini jandono tu do. Sudah itu mangawini duo urang padusi badunsanak samo-samo dipakai kaduono. Di ayaik ka 24 ditambah pulo ciek lai, yoitu padusi nan sadang balaki. Binyi urang, indak buliah dinikahi di awak. Di lua daripado itu buliah. Itu aturan agamo.
Jadi baa kadudukanno dalam kakarabatan urang Minangkabau nan indak mambuliah-an kawin sasuku? Manyatoan nan bahaso itu indak buliah jo mangecek-anno haram hukumno sacaro adat, aa itu salah. Itu kaliru manuruik agamo. Ambo ulang baliak, manuruik agamo itu salah jo kaliru. Tapi indak katuju di awak mangarajoanno, aa nan sarupoko buliah-buliah sajo, sabab indak kasadoan nan buliah dikarajoan tu sasuai di awak untuak mangarajoan. Buliah-buliah sajo awak mangecek-an pakaro calon pasangan hiduik awak, bagi nan mudo-mudo, di awak iyo indak katuju urang Cino doh. Atau di awak iyo indak katuju urang bakulik itam dari Afrika doh. Baa mangko indak katuju? Saribu alasan buliah dibuek dan itu sah-sah sajo.. Salamo awak indak maharamkan samo sakali. Di awak kok dapek nan kajadi binyiko iyo urang awak Minangkabauko juo andakno. Lalu bausaho pulo no untuak mancari dipasakitaran urang awak sajo. Katiko basuo juo no biko jo urang Cino ka tampek manompangan kasiah, kian juo ati kanai nan jadi, lalu di kecek-an indak, haram di den ka kawin jo urang Cino ko. Itu nan indak buliah.
Baitu juo urusan kawin sasuku ko. Awak iyo indak katuju kawin jo urang sasuku ko doh. Apo alasan no bialah awak sajo nan tau. Tapi jaan dikecek-an haram hukumno sabab itu indak ado dalam agamo nan sarupo itu doh. Kok tumbuah no, iyo basuo urang ka tampek manyangkuik-an tali kasiah cako kirono sasuku jo awak. Ati alah talanjua kanai, lalu indak jadi dek adat maharamkan. Alasan ndak jadino dek ‘haram’ jano adaik, aa itu kaliru namono.
Baa kiro-kiro, lai jaleh bedono du ndak? Antaro indak katuju lalu indak amuah mangarajoan jo maindak-an dan mangecek-an itu ‘haram’ hukumno ?’
‘Kalau baitu sacaro agamo, bialah antaro awak sakaum, sapayuang dibawah ciek pangulu bana asa indak tamasuak nan dijalehan ayat taditu buliah juo du kawin mangawini Buya?’ tanyo Guru Masrul ciek lai.
‘Manuruik agamo buliah. Indak haram bagai hukumno doh. Tapi sakali lai, jaan disamoan ‘buliah’ ko jo ‘wajib’. Aa, disinan bedono. Jadi jaan dipasoan buliah ko manjadi saolah-olah wajib. Dek buliah di agamo, alah pakawin-kawinan sin lah anak-anak awak walau awak sakaum sakalipun. Padohal di mareka ko ado raso kaakraban badunsanak. Sainggo indak katuju dino untuak saliang manikah do. Jaan dipasoan. Di lingkuangan kabanyak-an urang Minang tapaliharo raso ba dunsanak cako tu sainggo anggan no untuak sampai jatuah ka panikahan kalau alah maraso sabagai dunsanak ko. Indak buliah pulo dipasoan. Kadang-kadang bahkan jo urang lain bana, tapi taraso ado tali kaakraban sarupo badunsanak, sainggo indak tapikia di urang untuak manikah, mako itu kan buliah sajo.’
‘Alun juo jaleh bana lai di ambo do. Jadi walaupun adaik mangecekan kawin sasuku itu indak buliah samantaro agamo mangecek-an buliah, dapek juo awak mangecek-an bahaso adaik ko basandi syara’ du Buya?’ tambah Guru Masrul pulo.
‘Kalau di ambo kan alah ambo sampai-an. Saandaino adaik mangecek-an bahaso kawin sasuku tu ‘haram’ hukumno, mako bararati adaik balawanan jo agamo. Tapi katiko masyarakaik atau pangulu mangecek-an indak katuju mangarajoan, indak jadi masalah bagai no do. Akibaikno pulo, saandaino tajadi urang kawin sapasukuan, sacaro agamo indak ado sangsino. Tapi kalau adaik maagiah sangsi, indak basangkuik pauik bagai sangsi tu jo agamo lai. Sarupo juo jo carito ado urang tuo nan maagiah saraik ka anak-anak no. Indak buliah kalian kawin jo urang nan bukan urang Minang. Baa mangko indak buliah? Saribu satu alasan urang gaek. Tapi kasudahanno anak cako dapek juo dino aka sainggo jadi juono kawin jo urang bukan Minang. Nan kecek urang gaekno pulo baranti, jadi anak den. Aa iko kan kajadi sabuik-an sajo dan indak mungkin pulo kadiparantian anak jadi anak. Anak ka tatap juo anak. Hanyo ado anak nan kalau alah sarupo itu urang gaek mangecek-an indak katuju, lai amuah pulono manyarumpuni, indak katuju pulo dino urang nan bukan Minang tu.’
‘Dialiah pulo kaji buya. Dek awak alah mangecek pakaro adaik Minangkabau jo agamo Islam. Ado pulo ciek lai urusan nan barek, pakaro mambagi arato warih. Sabab warih di urang Minang dari mamak turun ka kamanakan, baa pulo duduakno manuruik agamo manuruik pandangan Buya?’ giliran Sutan Sulaiman pulo batanyo.
‘Ambo pelok-i dulu saketek bahaso di urang Minang ado duo macam arato pusako. Pusako tinggi, nan turun malalui urang-urang padusi, jadi bukan dari mamak turun ka kamanakan. Dari nenek awak, ka biyai awak, ka dunsanak padusi awak sudah itu ka kamanakan padusi. Biasono arato sawah ladang tamasuak rumah gadang. Sudah itu ado nan disabuik sabagai pusako randah, hasia usaho urang tuo nan diturunkan ayah ka anak-anakno.
Nan partamu, nan disabuik pusako tinggi, memang iyo alah salah caro mawarihan kalau dicaliak sacaro syara’, tapi indak pulo amuah dipaelok-i lai. Baa mangko dikecek-an indak amuah dipelok-i lai. Arato barupo sawah ladang tu alah indak tau awak lai sia dauluno bana nan mambuek, nan manaruko. Jadi kok kini ka dibagi sacaro faraidh, sacaro agamo indak pulo mungkin dikarajoan. Sia nan ka mambagi? Nenek awak bukanlah nan punyo sabab kalau kini baliau nan ka mambagi, baliau dulu mawarisi indak pulo sacaro faraidh do. Baitu juo amak awak, atau dunsanak padusi awak. Buliah dikecek-an arato itu indak jaleh bana pamiliakno, nan mampunyoi hak untuak maitam mamutiahanno. Dunsanak padusi awak hanyolah sakadar manarimo padi pulang, mamasuak-an ka dalam kapuak, mangaluaanno untuak ka dimakan. Atau manjua hasia padino sakiro kaparalu. Indak bagai dapek di no manjua kalau no ingin nak manjua sawah atau tanah tu. Ikolah bukti bahaso kapamilikanno tu sakadar ka tando sajo lai. Kapamilikan sarupo itu saroman jo kapamilikan gunuang Marapi atau danau Maninjau. Sia nan sabana pamiliak gunuang Marapi atau danau? Indak dapek awak manyabuik. Kalau hasiano pagunoanlah. Hasia sawahno makanlah, sarupo awak buliah pulo mamakan ikan nan dijalo di danau. Tapi nan danau indak buliah awak jua. Jadi sarupo itulah kadudukan pusako tinggi tu. Baitu pamahaman ambo. Wallahu a’lam.
Namun baitu ado juo buliahno sawah ladang tu dijua kalau alah tasasak bana sapanjang adaik. Pabilo gadih gadang alun balaki, atau rumah gadang katirihan, atau mayik tabujua ateh rumah. Aratino kalau alah sabana tasasak parang ka rimbo barulah buliah arato pusako tinggi tu di jua. Jo samupakaik niniak mamak nan ka manjua. Iyo pulo ado sajo urang nan alah manjua sawah. Disiko nan paralu bana awak pajaleh kaji. Kalau aratotu alah dijua, bagi nan mambali sawah tu samustino manjadi pusako randah no lai. Sabab kini kapamiliakanno alah jaleh. Nan mambalino alah jaleh, mako katiko ka diwarihan, warihno musti malaui anak lai. Baa kiro-kiro, lai jaleh dek Sutan Sulaiman?’
‘Jadi kalau baitu apokoh bisa awak mangecek-an bahaso kapamiliakan pusako tinggi tu indak jaleh sainggo syubahat hukumno kok ka dimakan Buya?’
‘Kalau di ambo indak sarupo itu bana do. Indak amuah ambo mangecek-an arato tu syubahat. Hasiano buliah awak makan sarupo awak mamakan hasia danau. Iko pandapek ambo paribadi. Sabab saandaino ka dicampak-an bagai arato tu indak lo ka mungkin do. Ka diwarihan di awak indak mungkin sabab bukan awak nan sabana pamiliak. Jadi ka dipangaan lai? Ka dicampak-an baa pulo ka manyampak-an sawah.?’
‘Saandaino nenek awak amuah mangarajoan mambagi sacaro faraidh, sah indak du pambagian tu Buya?’ tanyo Guru Masrul pulo.
‘Baa jano baliau mambagi? Dibagi ka anak-anak baliau sajo?’
‘Kecek-an sarupo itu Buya. Lai sah no du?’
‘Indak juo tapek. Kalau baliau ba dunsanak laki-laki, tantu mustino baliau bagi jo dunsanak laki-laki baliau dulu. Tapi itu pulo baliak. Baa mangko kini baru ka dibagi di antaro baliau ba dunsanak sajo. Kan labiah elok pulo, baliau caliak pulo ka ateh, ka dunsanak dari amak baliau, baiak nan laki-laki atau nan padusi. Baitu sataruihno kaateh. Indak tau awak dimaa bana asa usuano arato tu lai. Jadi disinanlah kasulik-anno. Sainggo ambo bakasimpulan, sudah sajolah. Bia sajolah arato tu disinan, jo caro pambagianno nan sarupo itu kini. Indak ado nan sabana pamiliak arato adaik tu.’
‘Baa pulo carono kok ado di satu kaum urang tu indak ado nan padusi lai. Biasono di awak disabuik ‘punah’ dek karano nan tingga laki-laki sajo lai. Buliah urang laki-laki dari kaluarga nan punahko manjua atau mawarihan ka anakno Buya?’ tanyo Sutan Sulaiman pulo baliak.
‘Punah ka sakaumanno? Sabana abih indak ado nan padusi lai?’
‘Dalam sakaum atau sapayuang masih ado nan padusi, tapi nan saparuik bana indak ado lai, Buya.’
‘Iko sabanano alah manyangkuik urusan adaik tu bana gomah. Tapi jadih juolah. Kalau nan pandapek ambo, ado duo kamungkinan nan dapek dikarajoan dek urang laki-laki nan ‘punah’ tu. Nan partamu, sabab asa usua arato tinggitu dulu dari nenek-nenek nan ciek, bialah nak talatak no di ciek tu baliak. Bialah nak dunsanak sapasukuan, nan padusi nan mauruih no baliak. Sabab ka mambagi ka anak no, sarupo nan awak kaji sabalunko, urang laki-lakitu bukanlah urang nan punyo. Atau caro nan kaduo, bamupakaik baliak di dalam kaum, untuak mawaqafkan aratotu ateh namo inyiak muyang awak nan daulu. Bukan ateh namo urang laki-laki ko surang. Sakali lai, iko pandapek ambo sajo. Antah batua antah salah wallahu a’lam.’
Sainggo itu pulo kaji sa sanjo ko.
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.519 / Virus Database: 269.22.1/1350 - Release Date: 30/03/2008 12:32
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.519 / Virus Database: 269.22.1/1350 - Release Date: 30/03/2008 12:32
PANGAJIAN DI MUSAJIK GURUN (14)
ANAK DIPANGKU KAMANAKAN DIBIMBIANG
’Awak disuruah dek Tuhan Allah untuak babuek baiak sarato balaku adia ka satiok umaik jo mukhaluak Allah. Babuek baiak ka karik kirabaik, ka anak ka kamanakan, ka urang banyak, ka mukhaluak Allah. Supayo awak manjadi rahmat di alam nan laweh ko. Indak buliah zalim. Indak buliah balaku indak adia. Firman Allah Ta’ala di dalam surek An Nahl, surek nan aratino labah, surek ka anam baleh ayat 90, sarupo iko bunyino, ‘InnallaaHa ya’muru bil ‘adli wal ihsaani, wa iitaaitzil qurbaa wa yanHaa ‘anil fahsyaai wal munkar wal bagyi ya’izhukum la’allakum tatzakkaruun. Nan aratino, Sungguah Allah manyuruah balaku adia, babuek baiak, baragiah ka kaum karabaik. Dan Tuhan Allah malarang mangarajoan karajo nan keji, nan mungkar sarato durako. Dan Tuhan Allah maagiah palajaran untuak kalian supayo kalian salalu ingek.
Ayatko biaso dibacoan angku katik ka panutuik katubah ka duo di ari Jumaaik, untuak manganaan awak, sabagai urang-urang nan bariman supayo ingek taruih pasan sarato parintah Allah untuak balaku adia sarato babuek baiak ko.
Ka sia sajo awak musti babuek baiak jo balaku adia? Apo cukuik babuek baiak ka kaluarga dakek awak sajo? Ka anak jo binyi awak sajo? Di lua itu awak acuah tak acuah sajo lai. Pokokno nan jadi urusan cukuik awak jo kaluarga awak sajo. Apo sarupo itu? Bukan baitu. Sabab awak di parintah untuak babuek baiak ka karik jo karabaik. Ka tatanggo di suok kida awak. Tantu sajo ado nan musti di daulu di kudiankan. Ado prioritas bak kecek urang kini, tapi disasuaian jo kamampuan awak, lingkaran nan ka dicaliak-an tu musti di ansua mamparatianno ka lua. Kecek nabi Muhammad SAW, indak disabuik urang bariman kalau awak lalok jo paruik kanyang samantaro tatanggo awak sadang kalaparan dan awak tau kaadaan tatanggo nan sarupo itu, tapi dipabiyaan sajo. Sarupo itu pasan Rasulullah. Indak bariman awak namono kalau sarupo itu kasadaran awak dalam hiduik bamasyarakaik.
Tibo di nagari awak ko ado pantun;
Kaluak paku kacang balimbiang
Di tampuruang lenggang-lenggangkan
Anak dipangku kamanakan dibimbiang
Urang kampuang dipatenggangkan
Nan dimukasuik dek pantunko alah sabana santiang. Iyo sarupo itu andakno. Tangguang jawab nan mulo-mulo adolah anak awak. Kaluarga awak. Quu anfusakum wa ahlikum naara, kecek Tuhan Allah. Jago diri kalian jo kaluarga kalian dari masuak ka dalam api narako. Paliaroan anak. Pangku sarato dipatangguang jawaban bana kaadaan anak untuak kahidupan sampai ka akhiraikno isuak. Sudah itu kamanakan dibimbiang pulo. Diparatian pulo. Ditunjuak diajai sarato dinasihati pulo. Kok salahno ditunjuak-i, kok lupono dikanaan, kok sasekno dibimbiang ka jalan nan bana. Alah salasai kaji sampai di sinan? Alun. Sudah itu urang kampuang dipatenggangkan pulo. Dipaliaro pulo hubuangan silaturahim awak jo urang sakampuang. Paralu mamparaluan pulo awak jo mareka. Di tenggang pulo kaadaan mareka. Kok no sakik silau manyilau awak. Kok no kamalangan tolong manolong awak.
Nan sarupo iko alah sasuai jo caro-caro Islam. Di dalam Islam ditambah pulo lawehno lai ka pasaudaraan saiman. Labiah laweh pulo dari urang sakampuang. Iyo sarupo itu nan diparintahkan dek agamo Islam, supayo awak manjago hubuangan baiak jo sasamo manusia. Hablum minannaas. Supayo awak tolong manolong dalam babuek baiak. Kalau alah tagak nan sarupo itu di tangah suatu masyarakaik, insya Allah awak kamandapeki nagari nan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Nagari nan elok, aman, santoso sarato mandapek ampunan sarato palinduangan Allah.
Di ayat nan samo alah awak simak bahaso Tuhan Allah malarang awak babuek karajo nan jaek. Jaan sampai awak mangarajoan karajo nan indak tapuji. Nan mungkar sarato durako. Jaan sakali-kali dikarajoan nan sarupo itu. Apo sajo nan dimukasuik jo karajo jaek ko kan lai kasamo jaleh di awak. Karajo nan dilarang Tuhan Allah awak mangarajoanno. Jaan manciluik. Jaan mampitanah. Jaan mangicuah. Jaan marampok arato urang. Jaan bazina. Jaan minum khamar. Jaan mabuak-mabuak. Jaan baampok. Jaan mandurako. Jaan zalim. Jaan aniayo. Inda-an karajo nan sarupo itu.
Di ciek-an Tuhan Allah parintah untuak babuek baiak jo larangan mangarajoan karajo nan indak elok di ayat nan awak kaji di surek An Nahl ayat 90 ko. Tuhan manyuruah awak maambiak palajaran dari katarangan-kataranganko dan jaan andakno awak sampai lupo. Babuek nan baiak-baiak, tinggaan nan indak elok. Sainggo iko pulolah dulu kaji awak. Kok lai mungkin nan kaditanyoan bagai,’ baitu kaji Buya Abidin sakaliko.
‘Bialah ambo mamuloi tanyo Buya,’ kecek Sutan Nangkodoh. ‘Awak di suruah babuek adia, manuruik ayat nan Buya sampaian. Tapi kok tibo di awak bana di palakuan urang indak adia. Babuek zalim urang ka awak. Baa jano awak musti basikap dalam kaadaan nan sarupo itu Buya. Awak tarimo sajo katidak adiaan urang ka awak atau buliah awak manuntuik mambao ba pakaro. Itu sin tanyo ambo no Buya.’
‘Adia tu musti sabana di tangah-tangah latakno. Adia ka urang, adia ka awak. Jadi kalau awak yakin nan bahaso awak dipalakuan urang sacaro indak adia, buliah awak maajak bapakaro untuak manuntuik kaadilan. Bapakaro sacaro patuik. Kok mungkin bisa salasai sacaro awak samo awak jo elok-elok tantu labiah baiak. Kok paralu urang nan kamangatangahi indak sampai ka pagadilan bana elok juo baru. Kok indak juo mungkin salasai jo sarupo itu buliah awak pai ka pangadilan. Jadi bukan ditanangan sajo katidak adilan urang ka awak tu. Lai faham Nangkodoh du kiro-kiro?’
‘Faham Buya,’ jawek Sutan Nangkodoh.
‘Di ambo ado lo nan kaditanyoan go Buya,’ kecek Sutan Mantari pulo.
‘Laluanlah, aa pulo du kini,’ kecek Buya Abidin.
‘Di dalam ayat nan Buya tarangan, awak disuruah baragiah ka kaum karabaik. Sia sajo nan tamasuak ka dalam hubuangan karik karabaik ko go Buya? Kamanakan sacaro awak di nagari awak ko sajo atau tamasuak pulo anak dari dunsanak awak nan laki-laki bagai misalno? Nan maa sajo bateh-batehno Buya?. Itu sajo tanyo ambo.’
‘Karik karabaik nan mulo-mulo adolah nan ado patalian darah. Misalno kamanakan caro awak di Minangkabau. Buliah juo anak dari dunsanak awak laki-laki. Kalau di awak anak pisang namono. Buliah juo dunsanak sapasukuan jo awak kalau caro awak disiko sabab itu masih ado juo sauah basauah patalian darah. Sudah itu biko dunsanak sanagari, urang kampuang nan ka dipatenggangkan bak kecek pantun awak cako. Sudah itu jiran tatangga awak, urang nan badakek-an tampek tingga, caro urang iduik di kota-kota. Sudah itu dunsanak saiman jo awak walaupun awakno bukan urang sakampuang sakalipun. Itulah contoh-contohno karik jo karabaik. Tantu timbua pulo tanyo sasudah itu. Jadi kasadoannotu musti diagiah? Disasuaikan pulo jo kaadaan sarato kaparaluan. Hiduik awak bakalapangan, ado kamanakan awak sulik kahidupanno, mako ka kamanakan ko awak labiah dulu baragiah. Di salingka awak, baiak kamanakan baiak anak pisang indak ado nan mamparaluan katolongan awak dek lai bapunyo kasadono, mako dicaliak pulo urang sakampuang walaupun indak ado sangkuik pauik patalian darah. Urang kampuang awak kirono alah santiang-santiang pulo, indak ado nan mamaraluan tolong dari awak lai, caliak pulo urang di salingka nagari. Indak juo ado nan paralu di tolong dalam sanagari ko, taruihan pulo mancaliak ka lingkaran nan labiah jauah. Baitu caro awak maetong karik karabaik tu. Baa kiro-kiro? Lai tamakan kaji di Mantari du?’
‘Sakiro-kiro lai tamakan Buya. Tapi ambo uleh pulo tanyo saketek lai. Jadi kalau banyak bana nan paralu disantuni, tapi di awak kamampuan tabateh, nan paliang dakek nan di dauluan. Kan baitu du buya? Kalau baitu antaro kamanakan jo anak pisang misalno, nan maa nan didauluan?’
‘Dicaliak bana malah kaadaanno. Kalau nan sabana sayuik tipak di kamanakan buliah awak duluan kamanakan. Kalau nan sabana payah tipak di anak pisang, buliah pulo awakno didauluan. Atau dibagi saketek surang. Sabab dalam babuek baiak ko pun paralu juo bijaksana. Saketek agiah bacacah, banyak agiah baumpuak, kan baitu kecek papatah awak.’
‘Di ambo ado pulo tanyo nan lain Buya. Iko masih bahubuangan jo kaji awak pakan nan lapeh. Buliah ambo tanyoan baliak du Buya?’ giliran Malin Ameh pulo nan ka batanyo.
‘Pakaro aa du Malin? Sabuik-anlah. Di maa pulo indak ka buliah batanyo. Tapi lah tasabuik, malu batanyo, sasek di jalan. Laluanlah Malin!’ kecek Buya Abidin.
‘Pakaro kawin sasuku di nagari awak ko Buya. Nan kecek Buya, kalau diharamkan bana dek adaik kawin sasukutu baarati balawanan adaik jo agamo. Tapi kalau awak mangecek-an indak katuju indak baa doh. Agak kurang jaleh di ambo mukasuikno. Apokoh mangecek-an indak katuju ko bukanno sakadar ka pangganti caro sajo dari ‘maharamkan’ sacaro adaik? Nan ka duo, ado pulo go di urang lain, di nagari lain, nan mangecekan indak amuah kawin sasuku sarupo di awakko. Itu sajo tanyo ambo Buya?’
‘Tagantuang di niaik awak, Malin. Kalau niaik awak, atau di dalam hati awak iyo nak maharamkan, tapi dikecek-an sajo indak katuju, Tuhan Allah tantu mangatahui. Tapi kalau saluruih-luruih hati awak indak katuju, indak baa doh. Mangecek-an indak katujuko buliah. Rasulullah SAW kalau baliau indak katuju jo sasuatu makanan, indak baliau makan. Walaupun makanan itu halal.
Di dalam agamo awak, alah dikaji pakan nan lapeh sia-sia sajo padusi nan indak buliah dinikahi. Nan dilua dari itu, nan disabuik-an ayat 23 surek An Nisaa’ tu, buliah dinikahi. Buliah ko bukanno baarati wajib. Iko contoh ciek lai. Ado anak mudo matah, laki-laki, umua 20 tahun lah ingin nak kawin. Di tangah kampuang ado banyak padusi nan halal untuak dinikahino. Di antarono ado nenek baumua 80 tahun. Nan nenek ko bukan tamasuak golongan padusi nan disabuik-an dek ayat 23 cakotu, aratino tamasuak nan buliah dinikahi anak mudo ko. Baa kiro-kiro? Lai ka amuah anak mudo umua 20 tahun ko manikahi nenek umua 80 tahun? Indak. Indak katuju dino. Buliah no mangecek-an indak katuju? Buliah.
Nan kaduo, ado pulo di urang lain aturan indak buliah kawin sasuku sarupo di awak ko ka untuak parbandiangan? Ado. Di urang Tapanuli, urang Mandahiliang indak buliah pulo kawin sa marga. Walaupun marga ko indak jo garih katurunan ibu sarupo di awak. Tapi baitu juo. Lubis jo Lubis indak saliang manikahi, baitu pulo di urang di sinan. Padohal antaro Lubis nan ciek jo Lubis nan lain antah alah di maa di maa sauahno. Indak katuju di urang sinan sabab taraso sarupo masih badunsanak juo lai baru. Indak katuju ko buliah. Baitu kiro-kiro baa agak ati Malin ?’
‘Alah paham ambo Buya,’ jawab Malin Ameh.
‘Dek Malin Ameh batanyo pakaro kaji pakan nan lapeh, ambo ka batanyo pulo ciek lai Buya,’ kecek mak Marah.
‘Laluanlah Marah!’
‘Pakaro ‘punah’ Buya. Katiko awak, urang Minangkabau ko indak ado badunsanak padusi. Arato pusako tinggi nan kecek Buya latak-an sajo baliak ka dalam pasukuan, atau diwakafkan. Di urang awak iko nan acok jadi sangketo go Buya. Nan laki-laki di pihak nan punahko ingin nak mambao arato pusako tinggitu ka diagiah-an ka anakno manjadi pusako randah. Baa manuruik pandapek Buya pakaro nan sarupoko?’
‘Kalau di ambo, alah ambo kecek-an bahaso kalau awak indak bisa managak-an paraturan agamo dalam hal arato pusako tinggitu, dek alah jauah bana jarak ka asa usuano, mako tataplah istiqamah jo aturan nan sarupo itu. Pusako tinggitu indak diwarihi dek urang laki-laki. Sabab kalau ka diwarihi juo, tantu indak kini sajo dikarajoan pambagian nan sarupo itu doh, mustino alah sajak daulu. Pabilo dauluno? Iko nan sulik. Karano pamiliakno jaleh bukan urang laki-laki nan punah tu, nan indak badunsanak padusi tu, mako jaan awakno nan mawarihan ka anakno. Kalau dikarajoanno juo, bagi anakno aratotu samakin jadi indak jaleh posisino, baiak sacaro agamo maupun sacaro adaik. Sabab bukan urang laki-lakiko nan punyo, baa jano ka maagiahan ka anakno.’
‘Jadi diagiah-an sin ka dunsanak sa pasukuan atau diwakafan, kan baitu jano Buya? Kalau salamo awak iduik diusaoan di awak, hasiano dibao ka rumah anak, baa du Buya?’
‘Baa kalau diusaoan di awak? Awak nan mauruih arato pusako tinggitu katiko awak masih hiduik, diambiak hasiano, dibao karumah anak awak. Kalau jaleh awak nan mauruih, sudah itu awak nan maambiak hasiano, manuruik pandapek ambo indak baa doh. Sarupo jo conto awak pakan nan lapeh, Danau bukan awak nan punyo. Pai awak mamapeh kian, ikanno dibao pulang untuak anak. Buliah-buliah sajo. Tapi nan danau tatap bukan punyo awak. Baitu kiro-kiro, baa agak ati Marah?’
‘Kalau ambo sasuai Buya,’ jawek mak Marah.
*****
Ambo mintak info soal bahasa saketek, tarutamo kapado
dunsanak nan duduak di "palanta Sumatera Selatan",
Palembang khususnyo. Apokoh ado kato SADANYA dalam
bahaso Palembang? Apokoh aratinyo samo jo kato SADONYO
dalam bahaso Minang atau SEMUANYA dalam bahaso
Indonesia?
Mohon tanggapan dari dunsanak.
Salam arek,
Suryadi
________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
http://id.yahoo.com/
Salam angek,
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif
salam,
Suryadi
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
Salam,
JZ.
--- hambociek <hamb...@yahoo.com> wrote:
____________________________________________________________________________________
No Cost - Get a month of Blockbuster Total Access now. Sweet deal for Yahoo! users and friends.
Iyo lah muloi angek saketek di SC, patang lah muloi tanam tomat 10
tumpun dipakarangan untuak main-main spring. Tapi pagi ko agak
mancikutuik pulo awak saketek, alun kama-kama lai. Lalok tagaduah lo
malam indak bakatantuan sintak-lalok-sintak-lalok.
Angku Suryadi, mangko ambo takok-takok uwok parubahan bunyi tu,
mungkin NA itu pun marupokan parubahan bunyi pulo dari NYA. Ambo
ambiak paralel bunyi joke kawan-kawan dari Sunda mampatanyokan kalau
saurang gadih masih parawan atau indak. Apanya yang perawan?
TarangNA! Mukasuiknyo TelingaNYA! :)
Salam,
--MakNgah
--- In Rant...@yahoogroups.com, jeffery zein <jxzein@...> wrote:
> Sato manyolo snek Mak Ngah, ambo pernah pulo
> karajo/badomisili di Palembang thn 1971-1972 rasono
> ndak pernah ambo danga kato sadana atau sadanya ko
> doh, kalau sadonyo = galo-galonyo, mak itu uji wong
> Palembang.
> Salam angek Mak Ngah (alah mulai angek memang Mak).
>
> Salam,
> JZ.
>
>
> --- hambociek <hambociek@...> wrote:
>
> >
> > Samantaro kito tunggu katarangan jaleh langkok sudah
> > makan mpek-mpek
> > dari dunsanak kito di Palembang, mungkin kah SADANYA
> > ko marupokan
> > parubahan bunyi dari SEADANYA?
> >
> > Salam angek,
> > -- MakNgah
> > Sjamsir Sjarif
> >
> > --- In Rant...@yahoogroups.com, Lies Suryadi
-Tang taleneang timudo tapai
-Sanggua lah baleneang muko bakasai
apolah bunyi langkokno dendang duo barih diateh?
Mak Ngah tadi sinayan suhu 36 C, manuruik porkes
bisuak ari salasa 38 C antah bara go-lah agustus
nantik.
Salam,
JZ.
--- hambociek <hamb...@yahoo.com> wrote:
____________________________________________________________________________________
Like movies? Here's a limited-time offer: Blockbuster Total Access for one month at no cost.
Alun panah ambo mandanga gurindam tu. Mungkin angku Suryadi ahli kito
di Leiden lai pulo dapek mancari data-data nan tasuruak di
perpustakaanyo.
Aratino kiro-kiro dapek ditakok, "muko bakasai" aratino "muko
babadak". Kasai, badak, bedak Indonesia - Melayu "Leneang" atau
variasi bunyino indak basuo di ambo Takok-takok uwok mungkin umua
lah "baleneang" ["balenong-lenong"?], lah gaek. Jadi ditakok uwok,
walaupun lah gaek masih babadak-badak mukono. Salangkah lai dapek
diparalelkan aratino jo "Pinang tuo sirah ikua" :)
Rasono, di Palembang ado neighborhood nan banamo Sukadana? Antahlah
cuma itu mungkin dangungan pangana lamo.
Salam,
--MakNgah
--- In Rant...@yahoogroups.com, jeffery zein <jxzein@...> wrote:
>
> Iyo Mak, sadang taakuak-akuak ambo dek lapau
> langang-biasono manonton sen-noh, sakali ko bajawek
> tanyo Mak Ngah ka urang rami, malahan batambuah bulo.
> Batanyo ambo ciek Mak, lai pernah Mak Ngah mandanga
> dendang urang saisuak nan bunyino :
>
> -Tang taleneang timudo tapai
> -Sanggua lah baleneang muko bakasai
>
> apolah bunyi langkokno dendang duo barih diateh?
>
> Mak Ngah tadi sinayan suhu 36 C, manuruik porkes
> bisuak ari salasa 38 C antah bara go-lah agustus
> nantik.
>
> Salam,
> JZ.
>
> --- hambociek <hambociek@...> wrote:
> >
> > Angku Jeffrey Zein,
> > Sanang lo awak mandanga kaba dari Taluak. Jadi di
> > Doha, Qatar lah
> > muloi angek yo?
> >
> > Iyo lah muloi angek saketek di SC, patang lah muloi
> > tanam tomat 10
> > tumpun dipakarangan untuak main-main spring. Tapi
> > pagi ko agak
> > mancikutuik pulo awak saketek, alun kama-kama lai.
> > Lalok tagaduah lo
> > malam indak bakatantuan sintak-lalok-sintak-lalok.
> >
> > Angku Suryadi, mangko ambo takok-takok uwok
> > parubahan bunyi tu,
> > mungkin NA itu pun marupokan parubahan bunyi pulo
> > dari NYA. Ambo
> > ambiak paralel bunyi joke kawan-kawan dari Sunda
> > mampatanyokan kalau
> > saurang gadih masih parawan atau indak. Apanya yang
> > perawan?
> > TarangNA! Mukasuiknyo TelingaNYA! :)
> >
> > Salam,
> > --MakNgah
> >
> > --- In Rant...@yahoogroups.com, jeffery zein
Rasono, di Palembang ado neighborhood nan banamo Sukadana? Antahlah
cuma itu mungkin dangungan pangana lamo.
Salam,
--MakNgah
Best Regards,
Mulyadi (51 th + 3 hari)
Tenaga bantuan Engineer dari PT.Pusri pada :
Mechanical Dept.
PT. REKAYASA INDUSTRI - Jakarta
Jl.Kalibata Timur I No.36, Jakarta - 12740
Phone : +62-21-7988700 ext. 2215
Fax : +62-21-7988701
email : mul...@rekayasa.co.id
atau : mul...@pusri.co.id
-----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total Access, No Cost.
Dunsanak nan barado di Timur pulau Jawa tapek nyo di Gresik, ambo mulai
bisuak siang salamo saminggu akan ditugaskan ka Pertamina Gresik.
Kok ado dunsanak nan badakek an jo tampek tugeh ambo tu, apokah di Gresik
atau Surabaya, buliah lah kito kontek2 di HP XL bebas ambo No.
+6281932450588
Tarutamo ka Pak Prof Perry Burhan, kok ambo ado wakatu di hari libur sabtu -
minggu bisuak ko handaknyo kito dapek basuo.
Wassalam,
Mancaliak kato "sadayana" nan dipakai Urang Sunda tu, rupono
kato "sadaya" adolah dari Bahaso Jawa (Kamus Purwadarminta). Ambo
alun panah mandanga tapi mungkin "sadayana" Sunda diucapkan
Jawa "sadayane"?
Salam,
--MakNgah
--- In Rant...@yahoogroups.com, Riri Chaidir <ririchaidir@...>
wrote:
>
> Sanak Suryadi,
>
> Rasonyo ambo alun mandanga kato "sadana" dl bahaso Palembang,
Sadonyo itu dlm bahasa Palembang "galonyo" atau "galo-galonyo" (spt
nan disampaikan sanak Jeffery).
>
> Urang Batak manggunokan kato "sadana" untuak mangatokan "satu-
satunya" (asalnya sada = satu)
> Tapi kalau untuak sadonyo, mrk manggunokan "sadina", pakai huruf
i.
>
> Urang Sunda manggunokan kato "sadayana"
>
> Mak Ngah,
>
> Rasonyo ado beberapa daerah nan banamo Sukadana. Mungkin juo ado
di sekitar Palembang. Nan ambo pernah pai di Lampung Timur
(Kebupaten LT ko berbatasan jo Sumsel). Lainnyo ado juo di Ciamis.
>
> Ambo ndak tau persis arti kato sukadana, tapi kalau diterjemahkan
caro bodoh-bodoh ambo: suko = suka, dana = uang; jadi bahaso ABG
Betawinyo = "matre", he he, antahlah.
>
> Riri
> L 46 --
>
Assalamualaikum w.w.
Iyo aneh rasonyo, Buya. Bantuak-bantuakyo iko indak konsisten. Kenapo
sesudah adonyo kesepakatan pembagian pusako kepada pusako randah dan
pusako tinggi, dengan tujuan utamo untuk menjago hak waris manuruik
syariah Islam, masih ado yang mempelintir pusako rendah tu manjadi
pusako tinggi baliak.
Mungkin mukasuiknyo elok juo, untuak mendukung dan mamaliharo pusako
tinggi sebab tujuan utamo adonyo pusako tinggi lah elok juo..
Tapi demi konsistensi, dan sasuai jo pitua urang tuo juo, "kato daulu
batapati".. tantu handaknyo pusako randah, harato pancaharian, jan
dikembalikan lagi jadi pusako tinggi.
Apakah disiko pembagian menurut faraid tu masih optional sipaiknyo?
sakitu nan takana diambo, Buya, mohon maaf kalau ado kato nan salah..
-adyan
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Waalaikum salam, mak Bandaro Labiah, alhamdulillah lai sihat sajo..
baantun pulo lah handakno Mak Bandaro.. baa kaba di Bogor kini tu?
mak Bandaro jo dunsanak di palanta..
Iyo pulo malah, dek awak duduak dihadapan nan tuo-tuo, ko salah ambo
minta di sapo, kok tadorong minta disintak.. senteang minta diuleh kok
lamah minta dibilai..
Kok basilang kayu di tungku
disinan api mako ka iduk
tapi antaro Mak Bandaro jo ambo satanang harato pusako randah nan
babaliak jadi pusako tinggi tun, rasonyo awak indak balain pandapek
bagai do..
> jadi manuruk pandapek ambo, nan HPR indak bisa (buliah dikatoan haram) kalau
> dijadikan HPT disababkan indak / alun babagi-bagi
>
Rasonyo, mupakaik urang tuo-tuo nan alah memisahkan antaro HPT dan HPR
mustilah kito ikuti pulo,
sasuai jo asas adaik basandi syarak - syarak basandi kitabullah.
Wassalamualaikum w.w.
-adyan