Artikel ini merupakan kompilasi dari dua artikel yang dimuat oleh News@Indosiar dan Okezone.com.
Mengupas tentang apa dan bagaimana gempa bumi dan kenapa gempa bumi
sering terjadi di Sumatera?. Lalu apa yang harus kita lakukan ketika
gempa terjadi ?
Rabu petang, 12 September 2007, Provinsi Bengkulu, diguncang gempa
tektonik berkekuatan 7,9 skala richter. Badan Meteorologi dan Geofisika
(BMG) sempat mengeluarkan peringatan kemungkinan terjadinya gelombang
tsunami akibat gempa tersebut. Gempa yang sangat keras dirasakan di
Bengkulu juga dirasakan hampir diseluruh Pulau Sumatera. Mulai dari
Lampung, Palembang, Padang hingga ke Medan, Sumatera Utara. Bahkan
getaran gempa juga dirasakan di Jakarta yang berjarak sekitar 600
kilometer dari pusat gempa.
Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, gempabumi adalah berguncangnya bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif aktivitas gunungapi atau runtuhan batuan. Kekuatan gempabumi akibat aktivitas gunungapi dan runtuhan batuan relatif kecil sehingga kita akan memusatkan pembahasan pada gempabumi akibat tumbukan antar lempeng bumi dan patahan aktif.
Indonesia sering mengalami gempabumi dan bukanlah hal yang baru. Hal ini terjadi karena Indonesia terletak pada pertemuan 3 lempeng utama dunia yaitu lempeng Australia, Eurasia dan Pasifik, di sekitar Sulawes. Lempeng Eurasia dan Australia bertumbukan di lepas pantai barat Pulau Sumatera, lepas pantai selatan Pulau Jawa, lepas pantai selatan Kepulauan Nusa Tenggara, dan berbelok ke arah utara ke perairan Maluku sebelah selatan. Lempeng Australia dan Pasifik bertumbukan di sekitar Pulau Papua.
Karena pertemuan 3 lempeng itulah, beberapa wilayah di Indonesia merupakan wilayah yang rawan gempabumi, seperti Aceh, Sumatera Utara (Simeulue), Sumatera Barat – Jambi, Bengkulu, Lampung, Banten Pandeglang, Jawa Barat, Bantar Kawung, Yogyakarta, Lasem, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kepulauan Aru, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sangir Talaud, Maluku Utara, Maluku Selatan, Kepala Burung-Papua Utara, Jayapura, Nabire, Wamena, dan Kalimantan Timur.
Menelusuri catatan sejarah gempa di pulau Sumatra, Kamis (13/9/2007), okezone mencatat 20 gempa besar berpotensi tsunami ataupun terjadi tsunami telah terjadi di pulau tersebut.
1. Tahun 1833 9 SR di Mentawai.
2. Tahun 1881 8,5 SM di Nias.
3. Tahun 1883 9 SR di Sumatera Barat, disusul Tsunami.
4. Tahun 1892 berkekuatan 7,7 SR di Sorik Marapi.
5. Tahun 1909 7,6 SR di Kerinci, Jambi.
6. Tahun 1916 6,8 SR di Toba, Sumut.
7. Tahun 1921 6,8 SR di Toba, Sumut.
8. Tahun 1926 6,7 SR di Bukit Tinggi, Sumbar.
9. Tahun 1933 7,5 SR di Liwa, Lampung.
10. Tahun 1935 7,7 SM di Pulau Batu.
11. Tahun 1943 7,3 SR di Bukit Tinggi, Sumbar.
12. Tahun 1994 7,0 SR di Liwa, Lampung.
13. Tahun 1995 7,0 SR di Kerinci, Jambi.
14. Tahun 2000 7,3 SR di Bengkulu.
15. Tahun 2000 7,8 SM di Pulau Enggano.
16. Tahun 2002 7,6 SM di Pulai Sumelue.
17. Tahun 2004 9,3 SR di Aceh, disusul Tsunami.
18. Tahun 2005 8,2 SR di Nias, Sumut. (dalam artikel aslinya ditulis Sibolga, Sumut).
19. Tahun 2007, Maret, 5,8-6,4 SR di Sumatera Barat
20. Tahun 2007, September, 7,9 di Bengkulu
Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI menyebutkan, sebelah Barat Sumatera mempunyai banyak sumber gempa, karena posisinya dekat dengan jalur tabrakan dua lempeng bumi, di mana lempeng samudra Hindia bergerak ke arah dan menunjam ke bawah lempeng benua Sumatra.
Di hasil penelitian itu mengatakan, bagian lempeng yang menunjam di bawah Kepulauan Mentawai dan Nias umumnya melekat kuat pada tubuh batuan di atasnya. Sehingga pergerakan ini memampatkan tubuh batuan.
Akumulasi tekanan ini akan meningkat dari waktu ke waktu sampai suatu saat melampaui daya rekat dua lempeng tersebut. maka ibarat sebuah per gas raksasa yang sudah ditekan maksimal dan kemudian dilepaskan, Kepulauan Mentawai akan terpental ke atas dan ke arah luar secara tiba-tiba menimbulkan guncangan bumi yang sangat keras, yaitu gempa bumi yang terjadi pada zona subduksi.
Lempeng samudra ini menabrak Sumatra agak miring, sehingga menyebabkan ada tekanan yang mendorong daerah Sumatra ke arah utara. Dorongan ke utara ini tidak bisa diserap oleh zona subduksi dan Kepulauan Mentawai, tapi harus ditanggung oleh sebuah jalur patahan besar di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan Sumatra yang disebut Patahan (besar) Sumatra.
Sama halnya dengan zona subduksi, Patahan Sumatra menahan tekanan lempeng dari hari ke hari sampai melampaui kekuatan batuan yang merekatkan bumi di barat dan timur jalur patahan ini. Pada saat itulah terjadi gempa besar dimana akumulasi tekanan akan dilepaskan tiba-tiba menyebabkan bumi di bagian barat bergerak tiba-tiba ke arah utara dan yang di bagian timur bergerak ke arah selatan.
Begitulah tentang kenapa di Sumatra banyak gempa terjadi tidak hanya di bawah lautan tapi juga di sepanjang Bukit Barisan. (uky)
Beberapa hal penting yang perlu diketahui sebelum terjadi gempa bumi adalah pastikan struktur dan letak rumah terhindar dari bahaya yang disebabkan gempabumi semisal longsor, kenali lingkungan tempat bekerja dan tinggal, memperhatikan letak pintu, lift serta tangga darurat, sehingga bila terjadi gempabumi, sudah mengetahui tempat paling aman untuk berlindung.
Saat terjadi gempabumi :
- Jika anda berada dalam bangunan
1. Lindungi kepala dan badan anda dari reruntuhan bangunan (dengan bersembunyi dibawah meja dll).
2. Mencari tempat yang paling aman dari reruntuhan goncangan.
3. Berlari keluar apabila masih dapat dilakukan.
- Jika berada diluar bangunan atau area terbuka
1. Menghindari dari bangunan yang ada di sekitar anda (seperti gedung, tiang listrik, pohon dll).
2. Perhatikan tempat anda berpijak hindari apabila terjadi rekahan tanah.
- Jika anda sedang mengendarai mobil
1. Keluar, turun dan menjauh dari mobil hindari jika terjadi pergeseran atau kebakaran.
2. Perhatikan tempat anda berpijak hindari apabila terjadi rekahan tanah.
- Jika anda tinggal atau berada di pantai, jauhi pantai untuk menghindari terjadinya Tsunami.
- Jika anda tinggal didaerah pegunungan, apabila terjadi gempabumi hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.
Sesudah terjadi gempabumi
- Jika anda berada dalam bangunan.
1. Keluar dari bangunan tesebut dengan tertib.
2. Jangan menggunakan tangga berjalan atau lift, gunakan tangga biasa.
3. Periksa apa ada yang terluka, lakukan P3K.
4. Telpon/minta pertolongan apabila terjadi luka parah pada anda atau sekitar anda
5. Periksa lingkungan sekitar anda
1. Periksa apabila terjadi kebakan.
2. Periksa apabila terjadi kebocoran gas.
3. Periksa apabila terjadi arus pendek.
4. Periksa aliran dan pipa air.
5. Periksa segala hal yang dapat membahayakan (mematikan listrik, tidak menyalakan api dll)
- Jangan masuk kebangunan yang sudah terjadi gempa, karena kemungkian masih terdapat reruntuhan.
- Jangan berjalan disekitar daerah gempa, kemungkinan terjadi bahaya susulan masih ada.
- Mendengarkan informasi mengenai gempa dari radio (apabila terjadi gempa susulan).(berbagai sumber/Ijs)