Memang di buku Tuanku Rao ado disabuik namo Umar Katab, tapi bukan
Umar Bin Khattab, kalifah ke 2 Kulafaurrasyidin sahabat Rasulullah SAW.
Umar Katab ("katab" dibaliak jadi "batak") adalah namo Si
Pongkinangolngolan Sinambela setelah menjadi muslim. Beliau itu yang
selanjuiknyo bagala Tuanku Rao.
Buku Tuanku Rao menurut saya adalah semi otobiografi dari
penulisnya, M.O. Parlindungan. Yang ceritanya dimulai jauh
dari asal usul suku bangsa Batak sampai masa saat buku tersebut
ditulis. Ceritanya terbagi-bagi dalam beberapa episode yang satu
sama lain saling terkait.
Salah satu episodenya adalah Paderi, yang sangat berpengaruh bagi
suku bangsa Batak (dalam hal ini terkait langsung dengan asal usul
penulis). Perang Paderi dengan Belanda memang diketengahkan, tapi
tidak dominan. Yang dominan adalah bagaimana tentara Paderi masuk ke
tanah Batak dan apa tujuannya.
Menurut yang saya tangkap dari buku Tuanku Rao, tujuan dari masuknya
Paderi ke tanah batak adalah untuk menjadikan tanah batak
sebagai "buffer zone" untuk penyerangan ke Kerajaan Aceh yang
bermazhab Hanafi dan Syiah. Jadi ini adalah perang memperebutkan
pengaruh antara Mazhab Hambali (Paderi) dan Mazhab Hanafi (Aceh).
Kita bisa ketahui bahwa Mazhab Hambali ini sangat puritan, yang
menganggap semua yang diluar mazhabnya adalah kafir.
Tapanuli bagian selatan adalah daerah yang terdekat dengan pusat
kegiatan Paderi, daerah ini relatif mudah di taklukkan dan di
Islamkan karena, adanya dendam masa lalu dari orang-orang batak
Marga Siregar terhadap pimpinan pusat kerajaan Batak. Malah suku
bangsa Batak diselatan ini yang menjadi tulang punggung pasukan
raiders/janitsar tentara Paderi untuk menyerang kerajaan Batak yang
selanjutnya untuk menyerang Aceh.
Ada 3 orang pimpinan tertinggi operasi militer gerakan Paderi,
Tuanku Rao, Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai.
Tuanku Rao ini bukan orang Minang, dia adalah Si Pongkinangolngolan
Sinambela, orang batak asli, keponakan Sisingamangaraja X. Markas
besarnya di Benteng Rao. Daerah operasinya Tapanuli dan pesisir
barat Sumatra. Pasukan ini yang disiapkan untuk menyerang Aceh dari
Barat (dan tentu saja setelah kerajaan Batak ditaklukkan dan
rakyatnya dijadikan balatentara).
Hamonangan Harahap gelar Tuanku Tambusai bermarkas di benteng Dalu-
dalu. Daerah operasinya Padang Lawas dan pesisir timur Sumatra.
Satunya lagi adalah Peto Syarif yang asli minangkabau dan bergelar
Tuanku Imam Bonjol. Bermarkas di benteng Bonjol, adalah ibarat
detasemen markas. Menjaga pusat gerakan Paderi dari serangan Belanda.
Menurut ceritanya, tanah batak sudah hampir ditaklukkan oleh pasukan
Tuanku Rao, Sisingamangaraja sudah berhasil dibunuh oleh Jatenggar
Siregar, dendam sudah terbalaskan. Tapi pasukan ini tidak berhasil
mendudukinya karena terserang wabah kolera, yang merenggut sebagian
besar pasukannya. Ditambah posisi pusat gerakan paderi terdesak oleh
Belanda, maka Tuanku Rao kembali ke benteng Rao. Komando diserahkan
ke bawahannya, dan dibagi kedalam beberapa wilayah.
Tuanku Rao gugur dalam pertempuran heroik di Air Bangis, melawan
Belanda. Gugur, tanpa diketahui jasad dan kuburnya.
(Cerita selengkapnya, bisa dibaca di buku Tuanku Rao :)
Saya mempunyai satu copy dari buku Tuanku Rao cetakan pertama, saya
mendapatkannya setelah berburu kesana kemari, dan akhirnya berhasil
mendapatkannya di kios penjualan buku loak di Jalan Palasari Bandung.
Itupun setelah bolak balik membujuk "Angku" yang punya kios, karena dia
tidak bersedia menjualnya. Akhirnya, dengan pendekatan kekeluargaan
saya berhasil mendapatkan buku tersebut (tentu saja dengan harga
yang agak "wah").
Setelah membacanya, saya kembali mencari-cari "turunan" dari buku
Tuanku Rao tersebut, karena sebagai sebuah buku yang mencatat banyak
peristiwa sejarah, pasti akan banyak peneliti sejarah yang meneliti
lebih lanjut (tarutamo dari awak suku Minang). Apalagi di
beberapa peristiwa, ada yang tidak sesuai dengan pakem sejarah yang
umumnya jadi rujukan, seperti yang ada pada buku "Sejarah Umat
Islam" (I-IV) karangan Prof. Hamka.
Tapi sayang sekali, tidak banyak buku yang saya temui yang
berhubungan dengan buku Tuanku Rao, kecuali berupa makalah-makalah
seminar, atau kertas-kertas kerja. Saya menemukan satu buku yang
meng-counter buku Tuanku Rao, yaitu "Fakta dan Khayal Tuanku Rao"
karangan Prof. Hamka.
Buku ini saya temui di Perpustakaan Bung Hatta di Bukittinggi, dan
saya copy diam-diam (karena termasuk koleksi referensi yang tidak
boleh keluar). Tapi sayangnya, di Perpustakaan tersebut malah tidak
ada sama sekali buku Tuanku Rao. Saya jadi berpikir, bagaimana nanti
orang membacanya pasti akan sangat subyektif jadinya. Saya menawarkan
memberikan fotocopy buku Tuanku Rao, tapi Perpusatakaan meminta yang
asli, karena fotocopy-an tidak bisa jadi koleksi. Saya tidak bisa
menyanggupinya.
Ada dua hal yang selalu jadi pikiran saya. Pertama, tentang fakta
dan peristiwa sejarah yang ada dalam Tuanku Rao. Saya mencoba
melakukan riset dan analisis kecil-kecilan. Saya menanyakan ke
kawan-kawan suku batak, teman-teman yang sebaya dengan saya, bagaimana
sejarah batak. Saya mendapatkan sebagian besar rekan-rekan yang
tinggal dan besar di Medan, Pematang Siantar dan kota-kota di
pesisir timur Sumatra Utara, tidak banyak tau tentang sejarah batak,
kecuali yang berkaitan dengan marganya. Sedangkan yang dari Tobasa,
Taput dan Tapsel, mereka banyak tau tentang sejarah batak. Tentu
saja ini bukan sebuah riset yang valid, karena saya tak tau riset
mengenai sejarah.
Tapi yang menarik yang saya temui, hampir sebagian besar teman-teman
yang dari pedalaman Tapanuli tahu mengenai "Tikki ni pidari", yang
katanya disampaikan turun temurun sejak mereka kecil. Menurut saya
ini seperti yang dilakukan oleh orang Aceh yang menurunkan
dogma "Prang Syahid" dan hikayat "Teungku Prang Sabil" sejak anak-
anaknya dalam buaian.
Dari kawan-kawan minang, saya juga melakukan hal yang sama. Tapi
saya mendapatkan, pengetahuan sejarah mereka, tidak lebih dari yang
dibuku-buku sejarah sekolahan. Sejarah "hitam" Paderi hampir sama
hilangnya dengan mazhab Hambali di Sumatera Barat.
Ambo baruntuang, ambo masih bisa mendapatkan sejarah Tuanku nan
Renceh, Haji Sumanik, Universitas Kamang, dan lain-lain seperti yang
diceritakan di Tuanku Rao, karena rumah gaek ambo di Tilatang
Kamang, Bukittinggi. Ambo mendapek cerita-cerita tuturan dari rang
rang gaek disinan (tarutamo dari Datuak Parpatiah suku ambo), tentang
daerah kami yang pernah jadi pusat gerakan Paderi, termasuk
tokoh-tokohnya.
Jadi, sayang sekali ada generasi yang seumuran dengan saya, tapi
tidak mengetahui sejarahnya masing-masing.
Yang kedua, dengan tidak banyaknya buku ilmiah yang mengupas fakta
dan peristiwa sejarah yang ada dalam Tuanku Rao, maka saya merasa
akan ada subyektivitas sejarah, dengan mengasumsikan, orang hanya
membaca buku "Tuanku Rao" atau "Fakta dan Khayal Tuanku Rao" tapi
tidak pernah membaca buku-buku lain yang ditulis oleh peneliti yang
lebih netral, ketimbang yang berasal dari Minang atau Batak.
Akhirnya, dengan diterbitkannya kembali Tuanku Rao, sekaligus bedah
buku tersebut kita berharap akan lebih banyak kajian ilmiah, tentang
fakta dan peristiwa sejarah, baik itu sejarah Islam Paderi maupun
sejarah Batak. Yang akan membuat kita sadar akan sejarah, dan yang
lebih penting mau menerima kebenaran sejarah.
Wassalam
Melvi'92, Praha
Ambo ingin sedikit menanggapi postingan Uda Junaidi.
Memang di buku Tuanku Rao ado disabuik namo Umar Katab, tapi bukan
Umar Bin Khattab, kalifah ke 2 Kulafaurrasyidin sahabat Rasulullah SAW.