kok kecek urang di nagari Ajo Duta:
"I second that,"
Ambo satuju bana jo harok dinda Andiko agar Mamanda MM*** kembali manulih puisi baru, mulai dari untuk penayangan di palanta RN, dikirimkan media cetak nasional edisi Minggu, sampai maluncuakan antologi puisi. Tema buliah puisi religi seperti harok Andiko, atau tema sosbud, dll, asal pasan ambo ciek sajo: Mak MM tatok gunakan namo asli, dek penyair kelas wahid nan bana-bana kelas wahid di belahan dunia mana pun selalu manggunokan namo asli: William Shakespeare, Robert Frost, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, W.S. Rendra ...
Sebagai palangkok jamba nan alah dibuka Andiko, ambo hidangkan pulo sajak bajudua "Maninjau" karya D. Zawawi Imron dari antologi puisi Mengaji Bukit Mengeja Danau (2013). Kiai asal Sumenep, Madura ko parnah menjadi tamu (visiting program) di Rumah Puisi Taufiq Ismail, Aie Angek, salamo sabulan, mangunjungi banyak tampek di ranah, dan hasilnyo adolah sekitar 100 puisi dalam antologi MBMD tu.
Wass,
ANB
45, Cibubur
* * *
MANINJAU
D. Zawawi Imron
Berkelok jalan turun Maninjau
Berbelit bagai nasibku, meskipun tiap kelok
Bagai lembar-lembar buku, yang menyimpan derap darahku
Derap-derap akan berharga kalau kata menyimpan sejarah
Atau menjadi sajadah
Aku seperti laut yang dangkal
Tak punya terumbu karang dan ikan-ikan
Tapi Maninjau bukan laut
meski tak dangkal
Dan membiakkan jutaan ikan
Purnama sering berwudhu di sini bergantian dengan kartika
Agar bisa membetulkan senyumnya kepada Ilahi
Aku telah meninjau, ini danau Maninjau
Untukn menyisir jejak dan nafas Buya Hamka
Yang disimpan bayang-bayang pohn kapuk yang tua
Di tepi jalan di tepi danau
Riau-riau danau yang bergerak
Berpendar-pendar memacu dahaga
Kata-kata pun berjingkrak
Aku makin pengembara, makin kelana
Yang makin haus untuk menyelam
Ke langit untuk minum madu keyakinan
yang hampir tak dicari orang
Tapi kenapa kehausan ini hanya sesekali
Membuat lava menyalakan magma
Dalam diriku? Kupanggil biru tapi ungu yang datang
Kupanggil kapak yang datang landak
Kupanggil sampan yang datang langau
Yang mengacaukan subuh-subuhku
Karena bernama Maninjau kususur jalan ke Sungai Batang
Kutemukan majalku menyia-nyiakan kata
Kamus tergeletak di sudut beranda Buya Hamka
Untung aku menemukan kata "beliau"
Pada senyumnya, tanpa bermaksud menjadi feodal
Kamus itu kubawa pulang
Aku tidak menyesal menjadi diri
Menjadi santri, menjadi orang
Maninjau yang terlambat datang ke hati seorang munsyi.
***