Maninjau, Kampung Kelahiran

24 views
Skip to first unread message

Andiko

unread,
Feb 16, 2014, 6:26:48 AM2/16/14
to rant...@googlegroups.com
Sanak Palanta

Tadi di toko buku ambo batamu jo buku sajak Pak Leon Agusta, kini sadang mambaliak-baliak mambaconyo dirumah, rancak-rancak isinyo, ado ciek puisi nan menarik hati, ambo ketikkan disiko, mohon izin Pak Leon, yaitu:

Maninjau, Kampung Kelahiran

Karya : Leon Agusta 1983

Lumut diatas batumu sudah mati. Pada jejaknya
tergores salam dengan aksara alam kecintaan
"selamat datang di negeri kaca selaksa cahaya"
digoreskan pada ranting, jari-jari kering pepohonan
danau mendidih, tercium dalam udara, menggeliat
bersama ombak: topan perang saudara tak terlupakan.

Pada perahu tua kulihat masa kanak
ketika desa-desa mulai menerjang kesepiannya
menyulam bunga mimpi dengan kabut dan asap mesiu
sehabis agresi. Aku pergi
Tak tahu bagaimana mengucapkan salam perpisahan
aku hanya mendengar suara burung, disahuti oleh pagi
gemanya menggiring angin melintasi gelombang
cintaku berlayar sampai jauh
rindu bisa tak sampai, sampai tak bisa rindu.

_____________


Gendang Pengembara

Ini kumpulan puisi yang bertarikh masa cukup panjang: 1962–2011 alias 49 tahun. Kumpulan ini mungkin mencakup hampir seluruh karya penyair senior yang hampir berusia 74 tahun. Kumpulan ini juga bisa jadi isyarat seperti yang diterakan dalam judul buku: kepengembaraannya yang belum juga berhenti.

Muchwardi Muchtar

unread,
Feb 16, 2014, 6:12:36 PM2/16/14
to rant...@googlegroups.com
.....Leon Agusta (Ridwan Ilyas) lahir di Desa Sigiran, daerah pinggiran Danau Maninjau, 1938.
Pernah mengikuti International Writing Program di Iowa University, tahun 1976 dan 1978.
Karya-karyanya, berupa puisi, cerpen, esei, dan novel, dimuat di berbagai media massa, termasuk majalah sastra Horison, dan diterbitkan dalam sejumlah buku antologi. Walaupun usianya sudah kepala tujuh, Leon masih aktif menulis puisi, dan mengikuti berbagai forum sastra di dalam dan luar negeri......


Sanak Andiko n.a.s.

Talalu banyak nan ambo sukoi bake sajak-sajak penyair nan jo mato kapalonyo sandiri maliek kakak, mamak dan kawannyo di kampuang dibunuah orang di zaman PRRI saisuak. Sabagai pambuka jamba, sambia manunggu Dusanak awak nan lain bakomentar malalui palanta ko tantang Leon Agusta (d/h Ridwan Ilyas), bialah sagalemeang "sia & manga" Leon Agusta sarupo kutipan di ateh, ambo palapeh dulu masuak galanggang.

Salam....................,
mm***
(*** = Penyair Indonesia tahun 80-an nan indak produktif bana di zamannyo)

---------- Pesan terusan ----------
Dari: Andiko <andi....@gmail.com>
Tanggal: 16 Februari 2014 18.26
Subjek: [R@ntau-Net] Maninjau, Kampung Kelahiran
Kepada: rant...@googlegroups.com
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Andiko Gmail

unread,
Feb 17, 2014, 3:55:34 AM2/17/14
to rant...@googlegroups.com
Mamanda

Menarik tagline di bawah namo mamanda

"(*** = Penyair Indonesia tahun 80-an nan indak produktif bana di zamannyo)”

Munculinlah di palantako puisi-puisi mamak, ambo akan menikmati, mode puisi di papua dulu. Menarik kalau mamak menulis puisi lagi dengan tema-tema religi

Salam kemenakanda

Andiko sutan mancayo

Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan topik di grup "RantauNet" Google Groups.
Untuk berhenti berlangganan topik ini, kunjungi https://groups.google.com/d/topic/rantaunet/wrau9mR7wVE/unsubscribe. Untuk berhenti berlangganan dari grup ini dan semua topiknya, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .

Akmal Nasery Basral

unread,
Feb 17, 2014, 10:57:35 PM2/17/14
to rant...@googlegroups.com

Dinda Andiko, Mak MM n.a.h,
kok kecek urang di nagari Ajo Duta:

"I second that,"

Ambo satuju bana jo harok dinda Andiko agar Mamanda MM*** kembali manulih puisi baru, mulai dari untuk penayangan di palanta RN, dikirimkan media cetak nasional edisi Minggu, sampai maluncuakan antologi puisi. Tema buliah puisi religi seperti harok Andiko, atau tema sosbud, dll, asal pasan ambo ciek sajo: Mak MM tatok gunakan namo asli, dek penyair kelas wahid nan bana-bana kelas wahid di belahan dunia mana pun selalu manggunokan namo asli: William Shakespeare, Robert Frost, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, W.S. Rendra ...

Sebagai palangkok jamba nan alah dibuka Andiko, ambo hidangkan pulo sajak bajudua "Maninjau" karya D. Zawawi Imron dari antologi puisi  Mengaji Bukit Mengeja Danau (2013). Kiai asal Sumenep, Madura ko parnah menjadi tamu (visiting program) di Rumah Puisi Taufiq Ismail, Aie Angek, salamo sabulan, mangunjungi banyak tampek di ranah, dan hasilnyo adolah sekitar 100 puisi dalam antologi MBMD tu. 

Wass,

ANB
45, Cibubur

* * *


MANINJAU
D. Zawawi Imron

Berkelok jalan turun Maninjau
Berbelit bagai nasibku, meskipun tiap kelok
Bagai lembar-lembar buku, yang menyimpan derap darahku
Derap-derap akan berharga kalau kata menyimpan sejarah
Atau menjadi sajadah

Aku seperti laut yang dangkal
Tak punya terumbu karang dan ikan-ikan
Tapi Maninjau bukan laut 
meski tak dangkal
Dan membiakkan jutaan ikan
Purnama sering berwudhu di sini bergantian dengan kartika
Agar bisa membetulkan senyumnya kepada Ilahi
Aku telah meninjau, ini danau Maninjau
Untukn menyisir jejak dan nafas Buya Hamka
Yang disimpan bayang-bayang pohn kapuk yang tua
Di tepi jalan di tepi danau

Riau-riau danau yang bergerak
Berpendar-pendar memacu dahaga
Kata-kata pun berjingkrak
Aku makin pengembara, makin kelana
Yang makin haus untuk menyelam
Ke langit untuk minum madu keyakinan
yang hampir tak dicari orang

Tapi kenapa kehausan ini hanya sesekali
Membuat lava menyalakan magma
Dalam diriku? Kupanggil biru tapi ungu yang datang
Kupanggil kapak yang datang landak
Kupanggil sampan yang datang langau
Yang mengacaukan subuh-subuhku

Karena bernama Maninjau kususur jalan ke Sungai Batang
Kutemukan majalku menyia-nyiakan kata
Kamus tergeletak di sudut beranda Buya Hamka
Untung aku menemukan kata "beliau"
Pada senyumnya, tanpa bermaksud menjadi feodal
Kamus itu kubawa pulang
Aku tidak menyesal menjadi diri
Menjadi santri, menjadi orang
Maninjau yang terlambat datang ke hati seorang munsyi.

***

Andiko Gmail

unread,
Feb 17, 2014, 11:33:48 PM2/17/14
to rant...@googlegroups.com
Kanda ANB

Menarik sekali curito dibawah, ambo ingin tahu sabananyo baa kegiatan visiting program itu. Mode Pak Leon Agusta juga menjadi visiting di Iowa. Menarik kalau penyair-penyair hobies (bukan provesi) diagiah ruang untuak ekspresi jo agenda visiting mode iko. Mungkin programnyo bisa sakalian jo wisata ka ranah. Hasianyo adolah antologi puisi nan dibantu mencetakkannyo. Ambo dulu punyo kawan KKN, kami KKN di Padang Pariaman. Desa ambo jo desa baliau dipisahkan dek batang ayia dan posko KKN baliau tu ditapi ayia, ruponyo suasana nan romantis tapi ayia itu alah menjadi detonator baliau manulih dan marekam pembacaan puisi. Hasianyo dalam 2 bulan mandok di nagari itu, kalaua puluhan puisi.

Ibaraik urang basuluak, ambo mambayangkan kanda ANB adolah mursyid puisinyo. Sambia bakuliliang di minangkabau, dibantu manulih puisi. Kito baranti agak 2 hari ditapi danau ateh, disinan dimentoring mambuek puisi, taruih ka solok selatan, mode itu pulo. 2 pakan bajalan, masing-masiang peserta menghasilkan agak 10 puisi. Lalu dibantu untuak tabik, pasti sero.

Salam

andiko

Akmal Nasery Basral

unread,
Feb 18, 2014, 3:16:40 AM2/18/14
to rant...@googlegroups.com
Dinda Andiko, 
biasonyo visiting program mengundang profesional (penyair, cerpenis, novelis, dramawan, pelukis, perupa, penari, dll), karena sang pengundang menanggung semua biaya sang tamu, terutama saat di lokasi (beberapa program internasional di luar negeri tak menanggung biaya tiket udara antarnegara, tapi tetap menanggung biaya transportasi domestik). Karena itu visiting program bisa saling menguntungkan antara sang tamu untuk mendapatkan inspirasi dari lingkungan baru, sementara sang pengundang mendapatkan bobot lebih tinggi lagi karena adanya sastrawan serius (boleh juga dibaca "terkenal") yang datang ke lokasinya.

Seperti misalnya Rumah Puisi Taufiq Ismail itu, kalau ambo indak salah ingat, untuk visiting program pertama beberapa tahun lalu mengundang Kiai-penyair Zawawi Imron dan prosais Ahmad Tohari selama sebulan. Setelah itu banyak sastrawan nasional lain (non-Minang) yang menjadi tamu di Aie Angek itu. 

Tetapi kalau mau dicoba jenis "visiting program for amateurs/hobbyst" boleh juga Andiko mulai. Kalau untuak jadi mursyid puisi di ranah, salah satu yang pantas itu adolah Gus tf Sakai (Payakumbuh) yang reputasinya juga sudah internasional (pernah meraih SEA Write Award dari Raja Thailand). 

Wass,

ANB
45, Cibubur

Muchwardi Muchtar

unread,
Feb 18, 2014, 3:14:30 AM2/18/14
to rant...@googlegroups.com
Kamanakanda ANB basarato Kamanakanda  Andiko, n.a.s.
Sabana barek parmintaan Kmnk bake 'mantan' penyair tahun 70-80-an ko. Apolai parmainan hiduik nan dialaminyo di lauik jo di darek salamo <35 tahun sabana mambuek bathin samakin kayo, dan makin lamo samakin maraso awak ko indak ado apo-aponyo.
 
Meski buku kumpulan puisi nan ditabikan hanyo tigo sajo, DERMAGA DUA (Antologi Basamo Remaja Merdeka Grup, Harian Merdeka, 1975); KAKI LANGIT : Puisi-puisi Tempe, (Antologi Penyair Peserta Sayembara Puisi Radio ARH, Jl. Cikini Raya 73, Jakarta, 1979); dan BERITA ANEH, Yayasan Indonesia, JL.Gereja Theresia 47, Jakarta Pusat, 1980....., rasonyo parmintaan ANB jo Andiko bisa manggalagak-an darah penyair (mantan urang lauik) ko.

Untuak samantaro Mamanda hanyo dapek mangutip "mutiaro hikmat" dari salah surang panyair baraik nan di tahun 70-80-an mambuek ambo "tagilo-gilo baso' untuk manjadi penyair pulo.

“For last year's words belong to last year's language
And next year's words await another voice.”
(T.S. Eliot).

Mudah-mudahan di hari mandatang ---insha Allah--- bisa mancogok via palanta RN ko puisi-puisi dari Muchwardi Muchtar nan tabaru atau nan alun panah dipublikasikan di media massa.

Salam........................,
mm***

---------- Pesan terusan ----------
Dari: Akmal Nasery Basral <ak...@rantaunet.org>
Tanggal: 18 Februari 2014 10.57
Subjek: Re: [R@ntau-Net] Maninjau, Kampung Kelahiran
Kepada: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>

Nofend St. Mudo

unread,
Apr 7, 2014, 9:39:41 AM4/7/14
to RN - Palanta RantauNet
Pada 17 Februari 2014 06.12, Muchwardi Muchtar <much...@rantaunet.org> menulis:
 
.....Leon Agusta (Ridwan Ilyas) lahir di Desa Sigiran, daerah pinggiran Danau Maninjau, 1938.
Pernah mengikuti International Writing Program di Iowa University, tahun 1976 dan 1978.
 
Karya-karyanya, berupa puisi, cerpen, esei, dan novel, dimuat di berbagai media massa, termasuk majalah sastra Horison, dan diterbitkan dalam sejumlah buku antologi. Walaupun usianya sudah kepala tujuh, Leon masih aktif menulis puisi, dan mengikuti berbagai forum sastra di dalam dan luar negeri......


Baliau sadang terbaring kini di RS Cikini, Jakpus.
Kaba dari sabalah, ua nan juo pernah jadi member RN

Gambar sisip 1

--

Wassalam

Nofend St. Mudo
37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend | YM: rankmarola 

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages