|
Masuk akal juga alasan Sanak Mantari Sutan ini. Kalau begitu keadaannya, tentu terpulang kepada pak Mochtar Naim untuk mengambil keputusan. Buya Mas'oed sudah menyampaikan himbauan. Saya masih tetap mendukung himbauan Buya. Namun kalau mau maju juga, itu tidak melanggar hukum, karena memang tidak ada ketentuan tentang batas umur maksimum. Kalau dimisalkan tentara, pak Mochtar Naim tak mau menyerah sebelum berperang. Biar 'tewas terhormat di lapangan'. Tinggal kita ikuti bagaimana penjelasan tentang rekam jejak beliau selama di Senayan, mungkin ada yang kita belum tahu. Begitu juga apa rencana kebijakan yang akan beliau perjuangkan untuk lima tahun mendatang. Fastabiqul khairaat. Wassalam,
Saafroedin Bahar (L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com --- On Mon, 7/21/08, Mantari Sutan <mantar...@yahoo.com> wrote: From: Mantari Sutan <mantar...@yahoo.com> |
|
TERKENANG
Wajahmu yang manis dengan senyum yang memikat Sinar mata yang mencerminkan kecerdasan Serta gayamu yang lucu Membuatku tergila-gila padamu Kamu jadi idola pertamaku Waktu itu aku masih SD
Kita jarang bertemu Jarak telah memisahkan kita
Di suatu liburan Kamu menyadari Aku remaja Yang sedang jatuh cinta
Kamu biarkan cintaku berkembang Anganku melayang Terbang Menembus ruang dan waktu
Dalam perjalanan waktu Aku berhadapan dengan kekasihmu Temanku pindahan dari rantau Pengakuanmu Membuat perih di hatiku Perih bak disayat sembilu
Ku jalani hidupku Bak air mengalir Tak ingin ku jatuh cinta lagi
Dua puluh dua tahun yang lalu Hari pernikahanmu sudah ditentukan Pesta besar akan di gelar di ujung Sumatra sana Pesta anak-anak pejabat Pesta pemuda berbakat Pegawai perusahaan ternama
Sebelum hari bersejarah bagimu itu tiba Aku dilamar pemuda bersahaja Kulitnya hitam tapi manis Senyumnya amat menawan Penyayang nampaknya Dia temanku sesama honor Yang baru ku kenal semester itu
Sinar cinta dimatanya Membuat papa ikhlas Menyerahkanku padanya
Beberapa hari sebelum hari bersejarah bagimu Papa menggelar syukuran sederhana Untuk pernikahanku Di rumah kakakku di Padang Alhamdulillah Aku lebih dulu menikah darimu
Tak terasa Minggu ini Dua puluh dua tahun sudah Usia pernikahan masing-masing kita Alhamdulillah Semoga saja tahun depan Masing-masing kita masih merayakan Ultah perkawinan kita Amin
Bengkulu, Juli 2008
Hanifah Damanhuri |
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network
| Sanak ambo mantari sutan dan dunsanak sapalanta lain yang ambo hormati... "Saya tidak hendak menghalangi niat dan hak politik Mochtar Naim, namun saya menghimbau berilah kesempatan pada orang orang muda untuk maju...dengan umur yang sudah tua (uzur) tersebut, saya kira sudah sepantasnya Mochtar Naim memberi kesempatan pada anak anak muda untuk bersaing meraih kursi di DPD dan bukan ikut serta pula bertanding." kalau buliah ambo mamintak ka sanak mantari cubolah baco baliak quote dari ambo tu...mungkin beda penafsiran antaro awak mah sanak sahinggo beda pulo output dari kapalo awak masiang masiang...Dalam pado itu, ambo memberi apresiasi yang tinggi pada sanak karena membuka ruang perdebatan ini menjadi perdebatan yang kritis dan menarik, apalagi dalam perdebatan iko awak ditingkahi oleh orang tuo awak nan kanyang makan asam garam kehidupan saroman Pak Syaf, Buya Mas'oed dan Mak Ngah sarato Uda Suryadi di Ulando... Sanak mantari, sakali lai ambo indak pernah takuik bersaing dengan Mochtar Naim atau kalangan tuo lain dalam persaingan politik. Ambo cuma mangingekan kalau dalam hal iko hrs ado regenerasi. Sejujurnya ambo indak punyo calon yang ambo dukuang untuak duduk di kursi DPD tu nanti doh...tidak Kanda Edy Utama, Alirman Sory, Irman Gusman dan indak pulo sia-sia, namun yang ambo inginkan adalah bantuak kecek Buya HMA, bahwa urang tuo sebaiknya memberikan kesempatan pada anak anak muda dan menjadi mentor. Antah kok bantuak iko caro dek Mochtar Naim dalam membangkitkan gairah agar anak mudo siap bersaing antahlah. Hanya Mochtar Naim nan tahu, namun jawaban nan ambo tarimo dari kerabatnyo waktu ambo tanyo apo alasan liau ko maju baliak iyo indak pantas ambo sampaikan disiko, sabab rasonyo kurang etis dan ndak masuak aka se doh.. Bagi ambo Mantari, apakah nan mudo nan tapiliah atau tetap nan tuo itu soal pilihan masyarakat, namun alangkah lebih baik jika nan bersaing ko adalah anak anak mudo se. Kemampuan Mochtar Naim sia nan maraguan. ambo raso indak ado...sebab inyo alah lamo tingga di lua nagari, pendidikan hebat, doktor gala akademiknyo, namun satu hal yang indak dipakai dek urang tuo awak ko..apo tu...pemahaman tentang perlunya melakukan regenerasi. Dan Ciek lai, masyarakat awak khan masih awam dalam mamiliah. Pemilih awak masih belum bisa secara lebih terarah untuk meantah kok amuah mantari mangkampanyean agar masyarakat lebih mempertimbangkan untuk mamiliah anak mudo daripado urnag tuo. ambo pribadi alah melakukan itu. Munculnya namo namo IJP, Alirman Sory, Edi Utama, sarato namo namo lain yang berumur mudo ambo sampaikan ka urang dakek rumah ambo baiak di padang maupun kkutiko pulang ka Piaman patangko.. Sagitu dulu mantari..mudah mudahan mantari berkenan....... |
Amin...ikut nimbrung Bu Hanifah... sebagai apresiasi atas ulang tahun perkawinan dan kenangan ibu...
Berjalanlah engkau dalam kecantikanmu Bagai malam tak berawan dan penuh bintang. Segala kebaikan dari gelap dan terang akan terpancar indah pada sosok sinar matamu
Itu akan menyeruakkan kasih sayangmu dengan penuh kedamaian dalam kecerahan hari yang sungguh tak terbantahkan .....
Setiap engkau tersenyum kepada pendampingmu langkah itu merupakan perwujudan dari kasihmu anugerahilah ia sesuatu yang sangat indah bukan karena harapan-harapan namun sesuatu yang menjadi kenyataan
Ku yakin kenanganmu tak akan mati, walau kenangan adalah bentuk lain dari pertemuan. namun Lupakanlah, karena ia adalah bentuk lain dari pembelengguan Puspiptek, Serpong, Tangerang
Salam sesama padusi
3vy niz |