BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO & PAK HARTO

74 views
Skip to first unread message

Elthaf (elthaf)

unread,
Jan 28, 2008, 3:14:56 AM1/28/08
to sma...@yahoogroups.com, Rant...@googlegroups.com
Assalaamualaikum wr.wb.,
Dari lapau sabalah, Tulisan kanda Asvi Warman Adam, alumni SMA 1 Bkt 1973, pesan da Asvi marilah berjiwa besar, seperti di bagian bawah tulisan beliau.
 
Tadi malam di Trans 7 Kanda Asvi Warman Adam juga tampil dalam dialog interaktif dengan narasumber, pak Azyumardi Azra, mantan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Kanda Asvi Warma Adam, Peneliti senior LIPI dan  dan Pak Fajrul rahman, mantan aktivis.
Ambo sempat mangodak uda Asvi wakatu manonton di TV di rumah, kalau da Asvi berkenan akan ambo kirimkan jo email ko.
Wassalam,
Elthaf, 1980


From: tanjun...@googlegroups.com [mailto:tanjun...@googlegroups.com] On Behalf Of Mawri, Viermitrio
Sent: Monday, January 28, 2008 10:25 AM
Subject: [TanjungMedan] FW: BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO & PAK HARTO

 

 

REGARDS

VM

EXT 8646

081387488499


From: Nurcahyo K, Nurcahyo
Sent: Monday, January 28, 2008 10:24 AM
Subject: BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO & PAK HARTO

 

BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO & PAK HARTO
Oleh Asvi Warman Adam *ahli peneliti utama LIPI

Pada 27 Januari 2008 pukul 13.10, mantan Presiden Soeharto wafat.
Jenazahnya disemayamkan di kediamannya, Jalan Cendana, dan dilayat
pejabat tinggi negara, mulai presiden, wakil presiden, sampai para
menteri. Masyarakat umum berjubel di sepanjang Jalan Cendana menonton
para tetamu.

Senin pagi, 28 Januari 2008, ini jenazah mantan orang nomor satu RI
itu diterbangkan ke pemakaman keluarga di Astana Giribangun. Ketua
DPR Agung Laksono akan bertindak secara resmi dalam pelepasan jenazah
di Jalan Cendana, Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin pelepasan di
Halim Perdanakusumah.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi
inspektur upacara di Astana Giribangun.

Astana Giribangun yang diperuntukkan keluarga Nyonya Suhartinah
Soeharto didirikan di Gunung Bangun yang tingginya 666 meter di atas
permukaan laut. Cangkulan pertama dilakukan Tien Soeharto Rabu
Kliwon, 13 Dulkangidah Jemakir 1905, bertepatan dengan 27 November
1974.

Dengan menggunakan 700 pekerja, bangunan yang merupakan gunung yang
dipangkas tersebut diselesaikan dan diresmikan pada Jumat Wage, 23
Juli 1976. Jadi 30 tahun sebelum meninggal, Soeharto telah
mempersiapkan tempat peristirahatan yang terakhir. Hal itu dilakukan
Soeharto agar "tidak menyusahkan orang lain".

Soeharto memperoleh hak dan fasilitas sebagai seorang mantan kepala
negara. Namun, hal yang berbeda dialami mantan Presiden Soekarno.
Sewaktu mengalami semacam tahanan rumah di Wisma Yaso (sekarang
Gedung Museum Satria Mandala Pusat Sejarah TNI) di Jalan Gatot
Subroto, Jakarta, Soekarno tidak boleh dikunjungi masyarakat umum.

Pangdam Siliwangi H.R. Dharsono mengeluarkan perintah melarang rakyat
Jawa Barat untuk mengunjungi dan dikunjungi mantan Presiden Soekarno.
Kita ketahui, H.R. Dharsono kemudian juga menjadi kelompok Petisi 50
dan meminta maaf kepada keluarga Bung Karno atas perlakuannya pada
masa lalu itu.

Putrinya sendiri, Rachmawati, hanya boleh besuk pada jam tertentu.
Pada 21 Juni 1970, Bung Karno wafat setelah beberapa hari dirawat di
RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Beberapa waktu sebelumnya, Rachmawati
menanyakan kepada Brigjen Rubiono Kertapati, dokter kepresidenan,
kalau Soekarno menderita gagal ginjal, kenapa tidak dilakukan cuci
darah? Jawabannya, alat itu sedang diupayakan untuk dipesan ke
Inggris.

Itu jelas sangat ironis. Pada masa revolusi pasca kemerdekaan,
Jenderal Sudirman menderita penyakit TBC. Ketika itu, obatnya baru
ditemukan di luar negeri, yakni streptomycin. Pemerintah Indonesia
dalam keadaan yang sangat terbatas dan berperang menghadapi Belanda
berusaha mendapatkan obat tersebut ke mancanegara, tetapi nyawa
Panglima Sudirman tidak tertolong lagi. Hal itu tidak dilakukan
terhadap Ir Soekarno.

Bung Karno dibaringkan di Wisma Yaso setelah wafat di RSPAD Gatot
Subroto dan di situ pula dia dilepas Presiden Soeharto dan Nyonya
Tien Soeharto. Situasi saat itu memang sangat tidak kondusif bagi
Soekarno dan keluarganya. Beberapa hari sebelumnya, yakni 1 Juni
1970, Pangkopkamtib mengeluarkan larangan peringatan hari lahirnya
Pancasila setiap 1 Juni. Soekarno sedang diperiksa atas tuduhan
terlibat dalam percobaan kudeta untuk menggulingkan dirinya sendiri.
Pemeriksaan tersebut dihentikan setelah sakit Bung Karno semakin
parah.

Pada 22 Juni 1970, jenazah sang proklamator dibawa ke Halim
Perdanakusumah menuju Malang. Di Malang disediakan mobil jenazah yang
sudah tua milik Angkatan Darat, demikian pengamatan Rachmawati
Soekarnoputri (di dalam buku Bapakku Ibuku, 1984) yang membawanya ke
Blitar.

Sepanjang jalan Malang-Blitar, rakyat melepas kepergian sang
proklamator di pinggir jalan. Di sini Soekarno dimakamkan dengan
Inspektur Upacara Panglima ABRI Jenderal Panggabean pada sore hari.
Sambutan dibacakan sangat singkat.

Soekarno hanya dimakamkan di pemakaman umum di samping ibunya. Seusai
acara resmi, rakyat ikut menabur bunga. Karena banyaknya tanaman itu,
sampai terbentuk gunung kecil di atas pusara Sang Putra Fajar
tersebut. Namun tak lama kemudian, rakyat yang tidak kunjung beranjak
dari makam kemudian mengambil bunga-bunga itu sebagai kenangan-
kenangan. Dalam tempo singkat, makam Bung Karno kembali rata sama
dengan tanah.

Pemakaman di Blitar itu berdasar Keputusan Presiden RI No 44/1970
tertanggal 21 Juni 1970. Keputusan tersebut diambil dengan
berkonsultasi bersama pelbagai tokoh masyarakat. Padahal, Masagung
dalam buku Wasiat Bung Karno (yang baru terbit pada 1998)
mengungkapkan bahwa sebetulnya Soekarno telah menulis semacam wasiat
masing-masing dua kali kepada Hartini (16 September 1964 dan 24 Mei
1965) dan Ratna Sari Dewi (20 Maret 1961 dan 6 Juni 1962). Di dalam
salah satu wasiat itu dicantumkan tempat makam Bung Karno, yakni di
bawah kebun nan rindang di Kebun Raya Bogor.

Di dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan bahwa sebelum memutuskan
tempat pemakaman Soekarno, dirinya mengundang pemimpin partai. Jelas
Soeharto menganggap itu masalah politik yang cukup pelik. Jadi,
pemakaman tidak ditentukan keluarga, tetapi melalui pertimbangan
elite politik.

Kemudian, Soeharto melalui keputusan presiden menetapkan pemakaman di
Blitar konon dengan alasan tidak ada kesepakatan di antara keluarga.
Apakah betul demikian? Sebab, pendapat lain mengatakan bahwa hal itu
dilakukan Soeharto demi pertimbangan keamanan. Jika dikuburkan di
Kebun Raya, pendukung Bung Karno akan berdatangan ke sana dalam
rombongan yang sangat banyak, sedangkan jarak Bogor dengan ibu kota
Jakarta tidak begitu jauh. Hal tersebut dianggap berbahaya, apalagi
saat itu menjelang Pemilu 1971.

Pemugaran makam Bung Karno juga penuh kontroversi. Pemugaran
dilakukan pada 1978 dengan memindahkan makam-makam orang lain itu.
Menurut Ali Murtopo di depan kader PDI se-Jawa Timur, ide tersebut
berasal dari Presiden Soeharto. Masyarakat tentu bisa menduga bahwa
itu dilakukan dalam rangka mengambil hati para pendukung Bung Karno
menjelang pemilu. Dalam pemugaran tersebut, keluarga tidak diajak
ikut serta. Bahkan, dalam peresmian pemugaran itu, putra-putri
Soekarno tidak hadir.

Dalam prosesi pemakaman di Kalitan-Solo, Megawati tidak hadir karena
sedang berada di luar negeri. Namun, kabarnya putra tertua Bung
Karno, Guntur Sukarno Putra, mewakili keluarga mantan Presiden
Soekarno akan datang ke Astana Giribangun. Ketika Soeharto di Rumah
Sakit Pertamina, Guruh juga berkunjung. Ini suatu pelajaran sejarah
berharga bagi bangsa kita. Jangan lagi kesalahan masa lalu diulang
dan marilah kita berjiwa besar.

* Dr Asvi Warman Adam, sejarawan, ahli peneliti utama LIPI

 

 

 


This email and any attachments are confidential and may also be privileged. If you are not the addressee, do not disclose, copy, circulate or in any other way use or rely on the information contained in this email or any attachments. If received in error, notify the sender immediately and delete this email and any attachments from your system. Emails cannot be guaranteed to be secure or error free as the message and any attachments could be intercepted, corrupted, lost, delayed, incomplete or amended. Standard Chartered PLC and its subsidiaries do not accept liability for damage caused by this email or any attachments and may monitor email traffic.



Standard Chartered PLC is incorporated in England with limited liability under company number 966425 and has its registered office at 1 Aldermanbury Square, London, EC2V 7SB.



Standard Chartered Bank ("SCB") is incorporated in England with limited liability by Royal Charter 1853, under reference ZC18. The Principal Office of SCB is situated in England at 1 Aldermanbury Square, London EC2V 7SB. In the United Kingdom, SCB is authorised and regulated by the Financial Services Authority under FSA register number 114276.



If you are receiving this email from SCB outside the UK, please click http://www.standardchartered.com/global/email_disclaimer.html to refer to the information on other jurisdictions.

Idris Talu

unread,
Jan 28, 2008, 1:05:57 PM1/28/08
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumussalam, Sanak Elthaf.

Saya amat bersetuju dengan pendapat atau pandangan Dr Asvi Warman Adam itu. Kita perlu berjiwa besar untuk menjadi bangsa gagah dan disegani.

Mohon maaf jika nggak berkenan.

Idris Talu (57)

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

mega_s...@yahoo.com

unread,
Jan 28, 2008, 11:24:21 PM1/28/08
to RantauNet
Ass..Sanak RN

Dimedia2 Live dihebohkan alat2 kecanggihan dan orang orang yang
datang mengunjungin Suharto disaat terakhir2 hidupnya..tapi gimana
dengan yang dulu..Bung Sukarno..jadi pengen berbagi cerita
dech..karena kemaren2 sempat2 intip blog temanku,,jadi kepengen
berbagi2..

semoga berguna...salam..


Selasa, 16 Juni 1970.



Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak
pagi.

Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa
titik

strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan

berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga
pelataran

parkir. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang
berhembus

mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini
dari

rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.



Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang
sangat

sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek
lemah di

pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur.
Sepanjang

hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan
mata. Suhu

tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara
semestinya

kian menggerogoti kekuatan tubuhnya. Lelaki yang pernah amat jantan
dan

berwibawa dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad,

sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup.



Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya
telah

membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan
hanya

bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang
dahulu

mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat
memukau,

kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya
gemetar.

Menahan sakit.

Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara,
kini

tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.



Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu. Dua hari kemudian,
Megawati, anak

sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya.

Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka
matanya,

kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan
didekatkan ke

telinga manusia yang

paling dicintainya ini.





"Pak......Pak, ini Ega". Senyap.



Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua
bibir

Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah
ingin

mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak
mengetahui

kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan
kanannya

bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi

tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali
terkulai.

Soekarno terdiam lagi.



Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya
yang

sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu

menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan,
Megawati

menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar. Jarum jam terus
bergerak.

Di luar kamar, sepasukan tentara terus

berjaga lengkap dengan senjata.



Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia koma.
Antara

hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
Keesokan

hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi
kolega

lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan

Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang
berhasil

dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit
yang tak

terperi, Soekarno berkata lemah.



"Hatta.., kau di sini..?".



Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak
mau

kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga
memendam

kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan
wajar.

Sedikit tersenyum menghibur.



"Ya, bagaimana keadaanmu, No?" Hatta menyapanya dengan sebutan yang

digunakannya di masa lalu.Tangannya memegang lembut tangan Soekarno.

Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang
yang

sangat dihormatinya ini.



Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik
bertanya

dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika

mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. "Hoe gaat het met jouâ?|?"
Bagaimana

keadaanmu?

Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan
Soekarno.



Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu
menangis di

depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta
tidak

lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya
juga

tumpah. Hatta ikut menangis.



Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan
seolah

takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat

dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa
kejamnya

siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya
bisa

dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.



"No...?|"



Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu
mengucapkan

lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya.
Bahunya

terguncang-guncang. Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada
penguasa

baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik

antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama
sekali

tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus. Hatta masih

memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan
matanya.



Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi

Soekarno kian tipis. Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi
Soekarno

yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu
lagi

membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini

menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi
Soekarno dan

puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit.

Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.



Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim
dokter

kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua
orang

paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini.
Sebagai

seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak
akan

lama lagi.



Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi

Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan
tangan

kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang
demikian

tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas
itu

terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya.
Kedua

matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak

bergerak lagi. Kini untuk selamanya sang Proklamator telah pergi.
Situasi

di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir.
Suara

burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian
detik yang

begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan. Dunia melepas salah seorang

pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya,
tapi

banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah
seorang

manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam
waktu

satu abad. Manusia itu kini telah tiada.



Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter

kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi:

Soekarno telah berpulang ke pangkuan sang pencipta.



Madahar (madahar)

unread,
Jan 28, 2008, 11:40:59 PM1/28/08
to Rant...@googlegroups.com
Wa'alaikum salam ww,
Menyentuh juga alur ceritanya. Mudah-mudahan pengarangnya bisa segera
berjumpa dengan etek Mega untuak mambuek an pilem dokumenternya.

Wassalam

-----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On
Behalf Of mega_s...@yahoo.com
Sent: Tuesday, January 29, 2008 11:24 AM
To: RantauNet
Subject: [R@ntau-Net] Re: BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO & PAK HARTO


Ass..Sanak RN

Dimedia2 Live dihebohkan alat2 kecanggihan dan orang orang yang datang
mengunjungin Suharto disaat terakhir2 hidupnya..tapi gimana dengan yang
dulu..Bung Sukarno..jadi pengen berbagi cerita dech..karena kemaren2
sempat2 intip blog temanku,,jadi kepengen berbagi2..

semoga berguna...salam..


Selasa, 16 Juni 1970.


......

boes

unread,
Jan 29, 2008, 5:12:49 PM1/29/08
to Rant...@googlegroups.com
taun 2001 katiko ambo mudiak, ambo batigo kawan basuo jo bakeh kurir
adam malik nan bolak balik ka wisma yaso saat BK ditahan.
carito kurir ko:
BK dalam sakik hanyo mamakai kaos oblong; kulambu
nan kumuah; makan di piriang kanso jo mog kaleng.

kecek baliau, inyo mancaliak bung karno ma agiahkan baju
kaos oblong ka megawati.
dibaju kaos tu ado tulisan/coretan2 BK.

jo a BK manulih? jo darah dari jari tangan sandiri nan
di gigik baliau.

hanyo Mega nan tahu apo tulisan itu, wallahu 'alam

wasslam
boes

catatan: 3 taun lalu, kurir nan ambo tamui tu
alah maningga lo.


Pada hari Selasa, tanggal 29/01/2008 pukul 11:40 +0700, Madahar
(madahar) menulis:

Dewis...@prima.co.id

unread,
Jan 29, 2008, 11:01:11 PM1/29/08
to Rant...@googlegroups.com

Mak Boes, ambo dapek pulo dari lapau sabalah,

Soekarno - Sejarah yang tak  Memihak
Posted by Iman Brotoseno
Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus.  
Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya.  
Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. 
Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto,  
saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator.  
Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.
Saat itu medio Juni 1970.  
Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak (almarhum) sedang menangis sesenggukan. " Pak Karno seda" ( meninggal )
Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso.  
Suasana sungguh sepi.  
Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ).  
Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno.  
Jenderal KKO Hartono - Panglima KKO - pernah berkata  
" Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO "
Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun,  
dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena  
dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya  
dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.
Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini.  
Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah.  
Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.
The winner takes it all.  
Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah.  
Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor.  
Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi  
yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang.
Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan  
serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan.
" Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi ,demikian Bung Karno menenangkan istrinya.
Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan ke dalam karantina di Wisma Yaso.  
Beberapa panglima dan loyalis dipenjara.  
Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London. Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.
Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya.  
Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri.  
Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso.  
Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda.  
Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta - yang juga berasal dari KKO Marinir.
Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat.  
Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak.  
Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya.  
Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk.  
Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya.  
Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !.
Setelah itu Bung Karno diangkat.  
Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah.  
Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah,sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.
Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator.  
Walau dalam Bung Karno berkeinginan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor.  
Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota.  
Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir.  
Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.
Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa,  
" Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso.  
Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban.  
Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan
pengobatan yang seharusnya diberikan. "
( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )
dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak  
7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran.  
Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah.  
Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal.  
Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.
( Kompas 11 Mei 2006 )
Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut,
" Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis.  
Salah satu perawatnya juga bukan perawat.  
Tetapi dari Kowad "
( Kompas 13 Januari 2008 )
Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter  
dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela  
yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan.  
Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan
ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana.  
Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden !
Malam semakin panas.  
Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak.  
Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik.  
Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ?  
Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang.  
Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu.  
Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah.
Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.
Kesadaran adalah Matahari
Kesabaran adalah Bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata
( * WS Rendra )





boes <bo...@rogers.com>
Sent by: Rant...@googlegroups.com

30/01/2008 05:12

Please respond to
Rant...@googlegroups.com

To
Rant...@googlegroups.com
cc
Subject
[R@ntau-Net] Re: [Bulk] [R@ntau-Net] Re: BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO & PAK HARTO


Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages