REGARDS
VM
EXT 8646
081387488499
From: Nurcahyo
K, Nurcahyo
Sent: Monday,
January 28, 2008 10:24 AM
Subject: BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO &
PAK HARTO
BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO & PAK HARTO
Oleh Asvi
Warman Adam *ahli peneliti utama LIPI
Pada 27 Januari 2008 pukul 13.10,
mantan Presiden Soeharto wafat.
Jenazahnya disemayamkan di kediamannya,
Jalan Cendana, dan dilayat
pejabat tinggi negara, mulai presiden, wakil
presiden, sampai para
menteri. Masyarakat umum berjubel di sepanjang Jalan
Cendana menonton
para tetamu.
Senin pagi, 28 Januari 2008, ini
jenazah mantan orang nomor satu RI
itu diterbangkan ke pemakaman keluarga di
Astana Giribangun. Ketua
DPR Agung Laksono akan bertindak secara resmi dalam
pelepasan jenazah
di Jalan Cendana, Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin
pelepasan di
Halim Perdanakusumah. Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono menjadi
inspektur upacara di Astana Giribangun.
Astana Giribangun yang diperuntukkan keluarga Nyonya Suhartinah
Soeharto didirikan di Gunung Bangun yang tingginya 666 meter di atas
permukaan laut. Cangkulan pertama dilakukan Tien Soeharto Rabu
Kliwon,
13 Dulkangidah Jemakir 1905, bertepatan dengan 27 November
1974.
Dengan menggunakan 700 pekerja, bangunan yang merupakan gunung yang
dipangkas tersebut diselesaikan dan diresmikan pada Jumat Wage, 23
Juli
1976. Jadi 30 tahun sebelum meninggal, Soeharto telah
mempersiapkan tempat
peristirahatan yang terakhir. Hal itu dilakukan
Soeharto agar "tidak
menyusahkan orang lain".
Soeharto memperoleh hak dan fasilitas sebagai
seorang mantan kepala
negara. Namun, hal yang berbeda dialami mantan
Presiden Soekarno.
Sewaktu mengalami semacam tahanan rumah di Wisma Yaso
(sekarang
Gedung Museum Satria Mandala Pusat Sejarah TNI) di Jalan Gatot
Subroto, Jakarta, Soekarno tidak boleh dikunjungi masyarakat umum.
Pangdam Siliwangi H.R. Dharsono mengeluarkan perintah melarang rakyat
Jawa Barat untuk mengunjungi dan dikunjungi mantan Presiden Soekarno.
Kita ketahui, H.R. Dharsono kemudian juga menjadi kelompok Petisi 50
dan
meminta maaf kepada keluarga Bung Karno atas perlakuannya pada
masa lalu
itu.
Putrinya sendiri, Rachmawati, hanya boleh besuk pada jam tertentu.
Pada 21 Juni 1970, Bung Karno wafat setelah beberapa hari dirawat di
RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Beberapa waktu sebelumnya, Rachmawati
menanyakan kepada Brigjen Rubiono Kertapati, dokter kepresidenan,
kalau
Soekarno menderita gagal ginjal, kenapa tidak dilakukan cuci
darah?
Jawabannya, alat itu sedang diupayakan untuk dipesan ke
Inggris.
Itu
jelas sangat ironis. Pada masa revolusi pasca kemerdekaan,
Jenderal Sudirman
menderita penyakit TBC. Ketika itu, obatnya baru
ditemukan di luar negeri,
yakni streptomycin. Pemerintah Indonesia
dalam keadaan yang sangat terbatas
dan berperang menghadapi Belanda
berusaha mendapatkan obat tersebut ke
mancanegara, tetapi nyawa
Panglima Sudirman tidak tertolong lagi. Hal itu
tidak dilakukan
terhadap Ir Soekarno.
Bung Karno dibaringkan di
Wisma Yaso setelah wafat di RSPAD Gatot
Subroto dan di situ pula dia dilepas
Presiden Soeharto dan Nyonya
Tien Soeharto. Situasi saat itu memang sangat
tidak kondusif bagi
Soekarno dan keluarganya. Beberapa hari sebelumnya,
yakni 1 Juni
1970, Pangkopkamtib mengeluarkan larangan peringatan hari
lahirnya
Pancasila setiap 1 Juni. Soekarno sedang diperiksa atas tuduhan
terlibat dalam percobaan kudeta untuk menggulingkan dirinya sendiri.
Pemeriksaan tersebut dihentikan setelah sakit Bung Karno semakin
parah.
Pada 22 Juni 1970, jenazah sang proklamator dibawa ke Halim
Perdanakusumah menuju Malang. Di Malang disediakan mobil jenazah yang
sudah tua milik Angkatan Darat, demikian pengamatan Rachmawati
Soekarnoputri (di dalam buku Bapakku Ibuku, 1984) yang membawanya ke
Blitar.
Sepanjang jalan Malang-Blitar, rakyat melepas kepergian sang
proklamator di pinggir jalan. Di sini Soekarno dimakamkan dengan
Inspektur Upacara Panglima ABRI Jenderal Panggabean pada sore hari.
Sambutan dibacakan sangat singkat.
Soekarno hanya dimakamkan di
pemakaman umum di samping ibunya. Seusai
acara resmi, rakyat ikut menabur
bunga. Karena banyaknya tanaman itu,
sampai terbentuk gunung kecil di atas
pusara Sang Putra Fajar
tersebut. Namun tak lama kemudian, rakyat yang tidak
kunjung beranjak
dari makam kemudian mengambil bunga-bunga itu sebagai
kenangan-
kenangan. Dalam tempo singkat, makam Bung Karno kembali rata sama
dengan tanah.
Pemakaman di Blitar itu berdasar Keputusan Presiden RI
No 44/1970
tertanggal 21 Juni 1970. Keputusan tersebut diambil dengan
berkonsultasi bersama pelbagai tokoh masyarakat. Padahal, Masagung
dalam
buku Wasiat Bung Karno (yang baru terbit pada 1998)
mengungkapkan bahwa
sebetulnya Soekarno telah menulis semacam wasiat
masing-masing dua kali
kepada Hartini (16 September 1964 dan 24 Mei
1965) dan Ratna Sari Dewi (20
Maret 1961 dan 6 Juni 1962). Di dalam
salah satu wasiat itu dicantumkan
tempat makam Bung Karno, yakni di
bawah kebun nan rindang di Kebun Raya
Bogor.
Di dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan bahwa sebelum
memutuskan
tempat pemakaman Soekarno, dirinya mengundang pemimpin partai.
Jelas
Soeharto menganggap itu masalah politik yang cukup pelik. Jadi,
pemakaman tidak ditentukan keluarga, tetapi melalui pertimbangan
elite
politik.
Kemudian, Soeharto melalui keputusan presiden menetapkan
pemakaman di
Blitar konon dengan alasan tidak ada kesepakatan di antara
keluarga.
Apakah betul demikian? Sebab, pendapat lain mengatakan bahwa hal
itu
dilakukan Soeharto demi pertimbangan keamanan. Jika dikuburkan di
Kebun Raya, pendukung Bung Karno akan berdatangan ke sana dalam
rombongan yang sangat banyak, sedangkan jarak Bogor dengan ibu kota
Jakarta tidak begitu jauh. Hal tersebut dianggap berbahaya, apalagi
saat
itu menjelang Pemilu 1971.
Pemugaran makam Bung Karno juga penuh
kontroversi. Pemugaran
dilakukan pada 1978 dengan memindahkan makam-makam
orang lain itu.
Menurut Ali Murtopo di depan kader PDI se-Jawa Timur, ide
tersebut
berasal dari Presiden Soeharto. Masyarakat tentu bisa menduga bahwa
itu dilakukan dalam rangka mengambil hati para pendukung Bung Karno
menjelang pemilu. Dalam pemugaran tersebut, keluarga tidak diajak
ikut
serta. Bahkan, dalam peresmian pemugaran itu, putra-putri
Soekarno tidak
hadir.
Dalam prosesi pemakaman di Kalitan-Solo, Megawati tidak hadir
karena
sedang berada di luar negeri. Namun, kabarnya putra tertua Bung
Karno, Guntur Sukarno Putra, mewakili keluarga mantan Presiden
Soekarno
akan datang ke Astana Giribangun. Ketika Soeharto di Rumah
Sakit Pertamina,
Guruh juga berkunjung. Ini suatu pelajaran sejarah
berharga bagi bangsa
kita. Jangan lagi kesalahan masa lalu diulang
dan marilah kita berjiwa
besar.
* Dr Asvi Warman Adam, sejarawan, ahli peneliti utama
LIPI
| This email and any attachments are
confidential and may also be privileged. If you are not the addressee, do
not disclose, copy, circulate or in any other way use or rely on the
information contained in this email or any attachments. If received in
error, notify the sender immediately and delete this email and any
attachments from your system. Emails cannot be guaranteed to be secure or
error free as the message and any attachments could be intercepted,
corrupted, lost, delayed, incomplete or amended. Standard Chartered PLC
and its subsidiaries do not accept liability for damage caused by this
email or any attachments and may monitor email
traffic. Standard Chartered PLC is incorporated in England with limited liability under company number 966425 and has its registered office at 1 Aldermanbury Square, London, EC2V 7SB. Standard Chartered Bank ("SCB") is incorporated in England with limited liability by Royal Charter 1853, under reference ZC18. The Principal Office of SCB is situated in England at 1 Aldermanbury Square, London EC2V 7SB. In the United Kingdom, SCB is authorised and regulated by the Financial Services Authority under FSA register number 114276. If you are receiving this email from SCB outside the UK, please click http://www.standardchartered.com/global/email_disclaimer.html to refer to the information on other jurisdictions. |
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Wassalam
-----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On
Behalf Of mega_s...@yahoo.com
Sent: Tuesday, January 29, 2008 11:24 AM
To: RantauNet
Subject: [R@ntau-Net] Re: BEDA PEMAKAMAN BUNG KARNO & PAK HARTO
Ass..Sanak RN
Dimedia2 Live dihebohkan alat2 kecanggihan dan orang orang yang datang
mengunjungin Suharto disaat terakhir2 hidupnya..tapi gimana dengan yang
dulu..Bung Sukarno..jadi pengen berbagi cerita dech..karena kemaren2
sempat2 intip blog temanku,,jadi kepengen berbagi2..
semoga berguna...salam..
Selasa, 16 Juni 1970.
......
kecek baliau, inyo mancaliak bung karno ma agiahkan baju
kaos oblong ka megawati.
dibaju kaos tu ado tulisan/coretan2 BK.
jo a BK manulih? jo darah dari jari tangan sandiri nan
di gigik baliau.
hanyo Mega nan tahu apo tulisan itu, wallahu 'alam
wasslam
boes
catatan: 3 taun lalu, kurir nan ambo tamui tu
alah maningga lo.
Pada hari Selasa, tanggal 29/01/2008 pukul 11:40 +0700, Madahar
(madahar) menulis:
| Soekarno - Sejarah yang tak Memihak |
| Posted by Iman Brotoseno |
| Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. |
| Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. |
| Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. |
| Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, |
| saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. |
| Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno. |
| Saat itu medio Juni 1970. |
| Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak (almarhum) sedang menangis sesenggukan. " Pak Karno seda" ( meninggal ) |
| Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. |
| Suasana sungguh sepi. |
| Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). |
| Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. |
| Jenderal KKO Hartono - Panglima KKO - pernah berkata |
| " Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO " |
| Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, |
| dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena |
| dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya |
| dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie. |
| Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. |
| Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. |
| Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah. |
| The winner takes it all. |
| Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. |
| Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor. |
| Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi |
| yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang. |
| Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan |
| serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan. |
| " Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi ,demikian Bung Karno menenangkan istrinya. |
| Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan ke dalam karantina di Wisma Yaso. |
| Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. |
| Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London. Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya. |
| Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. |
| Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. |
| Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. |
| Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. |
| Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta - yang juga berasal dari KKO Marinir. |
| Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. |
| Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak. |
| Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. |
| Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. |
| Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. |
| Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !. |
| Setelah itu Bung Karno diangkat. |
| Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah. |
| Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah,sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain. |
| Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. |
| Walau dalam Bung Karno berkeinginan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor. |
| Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota. |
| Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. |
| Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini. |
| Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa, |
| " Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. |
| Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban. |
| Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan |
| pengobatan yang seharusnya diberikan. " |
| ( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 ) |
| dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak |
| 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. |
| Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. |
| Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. |
| Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan. |
| ( Kompas 11 Mei 2006 ) |
| Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, |
| " Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. |
| Salah satu perawatnya juga bukan perawat. |
| Tetapi dari Kowad " |
| ( Kompas 13 Januari 2008 ) |
| Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter |
| dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela |
| yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. |
| Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan |
| ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. |
| Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden ! |
| Malam semakin panas. |
| Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. |
| Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. |
| Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? |
| Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. |
| Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. |
| Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah. |
| Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif. |
| Kesadaran adalah Matahari |
| Kesabaran adalah Bumi |
| Keberanian menjadi cakrawala |
| Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata |
| ( * WS Rendra ) |
| boes <bo...@rogers.com>
Sent by: Rant...@googlegroups.com 30/01/2008 05:12
|
|