DURIAN RUNTUH, DURIAN JATUH
By : Jepe
“Ibarat Mendapatkan Durian Runtuh” ungkapan tersebut sering kita dengar jika sesorang dalam hidupnya sangat beruntung tanpa harus bekerja keras banting tulang mendapatkan sesuatu yang berharga misalnya ketika menabung di sebuah bank yang mengiming-imingi hadiah yang serba wah, ketika di undi keberuntungan berpihak padanya dari jutaan penabung maka ia yang mendapatkan hadiah utama sebuah mobil mewah atau uang ratusan juta rupiah. Situasi seperti ini dijadikan sebuah ungkapan oleh Bank Nasional papan atas kita dalam iklannya yang berpromosi atas hadiah-hadiah yang berlimpah tersebut yang akan kita dapatkan jika menabung di bank tersebut jika sebagai penabung salah satu orang yang beruntung mendapatkan hadiah utamanya.
“Mendapatkan durian runtuh” saya kira ungkapan ini kurang tepat jika diartikan sebuah kondisi yang “beruntung”, jika saya coba bandingkan dengan kondisi sebenarnya dilapangan dan apa yang saya alami dan rasakan. Saya akan coba ceritakan kondisi yang alami tersebut dilapangan. Dua minggu lalu saya ke Pulau Rupat yang terletak di peraian timur pantai Sumatera tepatnya pulau ini lansung berhadapan dengan selat Malaka, Di Desa Titi Akar perusahaan tempat saya bekerja sebelum di bikin camp permanent buat penginapan karyawan menyewa sebuah rumah bulatan semi permanent dengan pekarangan dan halaman yang luas. Didepan dan sisi kiri kanan rumah ini tumbuh 5 batang durian yang sudah tua dengan lingkar diameter batang utama bagian pangkalnya sekitar 50 Cm.
Saat ini di Desa Titi Akar lagi musim buah sebut saja manggis, kedondong, rambutan dan tentunya durian. Khusus durian hampir setiap penduduk mempunyai pohonnya baik dihalaman rumah maupun diladang mereka, setiap harinya buah durian ini begitu banyak yang jatuh dan panen yang berlimpah. Nah hari-hari saya di Desa Titi Akar selama 3 hari boleh dikatakan tiada hari tanpa memakan durian jatuh (yang masih segar jatuh dari pohonnya) apalagi ketika malam menjelang saya bersama teman-teman sambil duduk santai didepan teras rumah sampai jam 12 malam menunggu durian jatuh yang tumbuh di halaman rumah.
Bam..bam..bam …buk..buk..buk begitu bunyi durian tersebut sahut menyahut berjatuhan dari 5 batang pohon dihalaman rumah (mess) yang disewa perusahaan, lalu diantara kami berlari membawa senter dan mengumpulkan satu persatu durian yang jatuh, demi keamanan tidak lupa kepala teman saya yang memungut durian ini memakai helem untuk jaga-jaga seandainya saat asyik-asyiknya memungut durian jatuh lalu tiba-tiba durian dari pohon jatuh menimpa kepala. Durian yang tumbuh dihalaman mess kami ini boleh dikatakan sepenuhnya kami yang memiliki dan orang punya rumahpun tidak peduli terhadap durian yang tumbuh dihalaman rumahnya.. Jikapun mereka menginginkan durian tersebut biasanya berkumpul dengan kami menunggu durian jatuh lalu kami nikmati sama-sama karena saking banyaknya kamipun tidak sanggup menghabiskannya pada malam itu, biasanya pemilik rumah mengumpulkan dalam sebuah karung pada keesokan harinya dijual “murah” kepada pengrajin panganan khas Pulau Rupat yaitu Lempok Durian.
Kembali kepada ungkapan diatas “ Ibarat Mendapatkan Durian Runtuh” saya membayangkan bukan sebuah keberuntungan yang didapat tapi malah malapetaka atau paling tidak bukan situasi yang ideal jika dibandingkan mendapatkan “Durian Jatuh”. Jika 5 batang pohon durian dihalaman mess kami runtuh misalnya akibat angin topan tak pelak lagi arah runtuhnya sudah bisa dipastikan akan menimpa rmess kami, karena pohonnya cukup besar dan tua tentunya jika menimpa mess kami akan berakibat fatal apalagi mess yang kami sewa ini bangunannya semipermanen dimana separoh keatas adalah papan (tipikal rumah di pedesaan) jika itu terjadi malam hari saat tidur lelap saya pikir tentu ada korban diantara kami akibat tertimpa durian runtuh ini.
Jikapun tidak ada korban akibat durian runtuh baik terhadap jiwa kami maupun bangunan fisik mess tempat kami tinggal tetap saja ini bukan sebuah kondisi yang “menguntungkan” seperti ungkapan yang menjadi slogan dari sebuah bank nasional kita. Saya jamin tidak ada enak-enaknya buah durian yang masih dipohon dan belum saatnya matang lalu jatuh akibat pohon durian runtuh (tumbang), ini telah saya buktikan sebelum durian dihalaman mess kami ini pada berjatuhan tandanya sudah masak. Ketika saya berada disana datang angin ribut yang cukup kuat di Desa Titi Akar, akibat angin ribut ini beberapa durian jatuh (biasanya tampuknya robek atau tidak seperti layaknya tampuk durian jatuh) durian ini terbuang sia-sia saja karena belum matang jika pun durian ini dibelah dagingnya putih bersih dan “mengkal” dengan rasa yang hambar tentunya bertolak belakang dengan rasa durian jatuh secara alami dari pohon tandanya sudah matang dan siap dikonsumsi.. Rasanya mmmm..mana tahan enak dan nikmatnya, sedikit kering masir, tidak terlalu berair tapi dagingnya lembut membelai lidah dengan rasa durian yang eksotik tapi tidak membosankan jika memang durian jatuh ini yang lansung dibelah dan dimakan ditempat tanpa ditunggu berhari-hari.
Saya rasa ungkapan “Ibarat Mendapatkan Durian Runtuh” yang diartikan sebuah keberuntungan perlu dibelokan biar tepat ungkapan tersebut sesuai dengan imajinasi , pengalaman dan kondisi yang saya alami menjadi “Ibarat Mendapatkan Durian Jatuh”. Jika runtuh durian tersebut bisa berakibat fatal yang akan menelan korban jiwa dan materi lalu jika durian yang runtuh (tumbang) ini lagi berbuah maka buahnya pun tidak ada enak-enaknya dikonsumsi. Tapi jika mendapatkan durian jatuh lansung dipohon seperti yang saya alami dengan kawan-kawan di Desa Titi Akar Pulau Rupat tentu saja situasi yang menguntungkan disamping menikmati enaknya durian yang masih segar baru jatuh dari pohonnya sepuas-puasnya dan tentunya didapatkan secara cuma-cuma tanpa harus membayar kepada pemiliknya alias gratis.
Selama saya di Desa Titi Akar memang saya lagi beruntung semua serba gratis menikmati buah-buahan yang lagi musim sebut saja manggis, kedondong, rambutan dan tentunya durian, keberuntungan saya tidak itu saja, kepala Desa Titi Akar yang penduduk asli (Suku Akik keturunan Cina) menjamu saya makan malam dengan masakan istrinya yang lezat yaitu Steam jahe ikan bawal yang ..luar biasa segar kuahnya ditingkahi kenyal krenyes-krenyes sejenis jamur hutan yang berwarna coklat tumbuh dikayu-kayu mati sebagai campurannya.hidangn istimewanya. Pulang dari Desa Titi Akar tidak lupa juga saya dioleh-olehi sekarton manggis. Situasi yang saya alami ini bolehlah saya katakan dengan sebuah ungkapan “Ibarat Mendapatkan Durian Jatuh”
***
Pekanbaru, 2 Juli 2009
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
Da Jepe juo Adidunsak palanta nan budiman..
Tampaknyo durian jatuah jo durian runtuah ko bakatiko mah Da Jepe
Ado nan memang baruntuang bana urang mandapekkannyo
Ado juo indak.
Tapi nan labiah rancaknyo dicari sen sisi positifnyo (hikmah)
Jadi kito bisa basyukur jo apo se nan diagiah dek Allah ka awak
Tando masih sayang Allah ka mangko masih diagiah..
Ado nan dapek hadiah durian runtuah bank misalnyo tapi dek sakiang girangnyo, tapana lansuang senewen kanai tali anamnyo..baa lai kaka.. hehe
Carito durian ko mangingekkan ambo ka carito Papa ambo saisuak tantang liau pai maantakan sinjato untuak Buya Natsir di Kumpulan (perbatasan Bukik jo Lb Sikapiang)
Liau barangkek surang dari kampuang kami di Kaluang masuak Rimbo tambuih ka Kumpulan tu, di tangah rimbo basoboklah liau jo pokok durian ko. Durian ko tumbuah surang agaknyo dek sakuliliang ndak ado dangau urang doh. Sadang babuah labek pulo. Kutiko tu liau bajalan sambia baujan-ujan mangajaan maataan sinjato untuak Buya Natsir di daerah Kumpulan. Dek paruik sabana litak pulo, mancaliak durian labek buah no jo sabana gadang2 dek di dalam rimbo sansei tu. Pas pulo hari baru sudah hujan. Bagalapok anlah durian nan gadang2 tun di tanah nan masih basah barumpuik nan masih basah tu. Dicukia ciek nak duo nak tigo sampai tandeh dek Papa salapan buah durian nan gadang2 tun. Ndak takao mairikkan paruik bajalan lai doh. Mantunlah kiro-kiro kondisinyo tu hehe.. Jo sangiah paruik nan antahlah tun bataruihan bajalan ka Kumpulan. Tapi iyo bana manderita rasonyo dek sangkiah paruik nan bakalabiahan.
Jadi pas lah kami lah gadang2 lah mulai sikolah, ukatu tu ambo kalas 3 SD. Ado pulang dari rantau Pak Etek dari Batam ko, liau taragak durian kamang, dicarianlah dek Abang ka pasa pakan kamih, pas lai tasobok, diboronglah sakaruang. Tibo di rumah bacarabuiklah kami makan durian ko, baru itu dek ambo Papa sato makan durian ko. Sambia makan ambo tanyo,; Biasonyo Papa ndak suko durian mah? Iyo sajak di rimbo taisuak baru iko aden baliak makan durian. Lai tau di Gau Piak? Salapan buah gadang2 aden habihan durian ditangah rimbo saisuak. Sajak tun ndak pernah Den makan durian lai doh, lah baraaa ituang taun no duh…. Baru iko kini aden makan durian baruh. Sambia makan cepak cepong rami2 Papa banostalgia jo durian rimbo liau..hehe cando curito diateh tan.
Mambuek ambo taragak bana bakumpua maota2 di rumah di kampuang… hiks..hiks..rayo masih lamo laih…
Mokasih babagi caritonyo Da..
Wassalam
Rina, 32, batam