Emangnya enak jadi tersangka, korupsi mah enak!
Ya, nggak brur??
Inilah Daftar 55 Tersangka Kasus Korupsi yang Ditahan Kejaksaan
PadangKini.com | Kamis, 24/7/2008, 12:25 WIB
PADANG--Saat ini Kejaksaan Tinggi dan sejumlah Kejaksaan Negeri,
serta Cabang Kejaksaan Negeri di Sumatera Barat menahan 55 tersangka dan terdakwa
dalam kasus korupsi dana pemerintah.
Berikut nama-nama mereka dan kasusnya seperti dirilis Kejaksaan Tinggi Sumbar
baru-baru ini.
Kejaksaan Tinggi:
Kejaksaan Negeri
Payakumbuh:
Kejaksaan Negeri
Painan:
Kejaksaan Negeri
Sawahlunto:
Kejaksaan Negeri
Sijunjung:
Kejaksaan Negeri
Lubuk Sikaping:
1.
Sri Warni (Anggaran DPRD dan Sekretariat DPRD
Kabupaten Pasaman Barat).
2.
Ramli (Anggaran DPRD dan Sekretariat DPRD Kab.
Pasaman Barat sejak Mei 2005-April 2006).
3.
Ezmita Arbi (Pelaksanaan Konstruksi Percetakan Sawah
di Nagari Binjai Kec. Pasaman 2006).
4.
Syafriadi Chandra (Dana APBD kegiatan pengadaan
pembelian 250 unit komputer dan printer untuk Dinas Pendidikan dan Pengajaran).
5.
Asrul Yamin (Dana APBD kegiatan pengadaan pembelian
250 unit komputer dan printer untuk Dinas Pendidikan dan Pengajaran).
Kejaksaan Negeri
Solok:
1.
Gusmandri (Perbaikan dan Pembuatan Rumah Layak Huni
untuk Keluarga kurang mampu oleh Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Solok).
2.
Widya Burman (Dana Perusda Solinda).
3.
Firdaus Kahar (Dana PKPS BBM IP).
Kejaksaan Negeri
Tuapejat:
Kejaksaan Negeri
Pariaman:
1.
Rizaldi (pengadaan Water Meter PDAM Kab.Padang
Pariaman 2006).
2.
Samsurizal (penarikan uang milik BPR Kab. Padang Pariaman
2004-2005).
3.
Yuni Helmi Sampono Dirajo (penyimpangan tarhadap
Dana DAUN).
Kejaksaan Negeri
Lubuk Basung:
1. Gempita (Dana
PKPS BBM-IP 2005 di Nagari Tiku V Jorong Kec. Tanjung, Agam.
2. M. Kalif Indra (Pekerjaan
Jalan Perumnas Talago, COR BETON 1500 M, dan Jalan Silayang Hilia Parik Ampu,
COR BETON 1500 M, di Kabupaten Agam).
Kejaksaan Negeri
Bukittinggi:
1.
Anderman (pengadaan Tanah Pembangunan Daerah Kota
Bukittinggi 9 lokasi tanah dengan Rp9 Miliiar bersumber dari APBD 2007).
2.
Wasdinata (pengadaan Tanah Pembangunan Daerah Kota
Bukittinggi 9 lokasi tanah dengan Rp9 Miliiar bersumber dari APBD 2007).
3.
Asmah Hadi (pengadaan Tanah Pembangunan Daerah Kota
Bukittinggi 9 lokasi tanah dengan Rp9 Miliiar bersumber dari APBD 2007).
4.
Unggul (pengadaan Tanah Pembangunan Daerah Kota
Bukittinggi 9 lokasi tanah dengan Rp9 Miliiar bersumber dari APBD 2007).
5.
Erwansyah (pengadaan Tanah Pembangunan Daerah Kota
Bukittinggi 9 lokasi tanah dengan Rp9 Miliiar bersumber dari APBD 2007).
6.
Dharma Putra (pengadaan Tanah Pembangunan Daerah
Kota Bukittinggi 9 lokasi tanah dengan Rp9 Miliiar bersumber dari APBD 2007).
7.
Yasmen (pengadaan Tanah Pembangunan Daerah Kota
Bukittinggi 9 lokasi tanah dengan Rp9 Miliar bersumber dari APBD 2007).
Cabang Kejaksaan
Negeri Solok di Alahan Panjang:
1. Amriyetno (Dana
Operasional Sekolah dan tidak membayarkan rapel menaikan pangkat).
2. Nilzam (Kegiatan
perbaikan irigasi Bandar Ubo, Bandar Halim, dan Batang Lembang (kawasan Ubo)
Kec. Lembang Jaya Kabupaten Solok).
Cabang Kejaksaan
Negeri Solok di Muaro Labuah:
1. Indriati Yanimar
(Dana BOS Tahun 2005-2006).
Cabang Kejaksaan
Negeri Painan di Balai Selasa:
1. Doni Chandra (proyek
pembangunan Gerbang dan Pagar TPI Kambang di Kecamatan Lengayang Kab. Pesisir
Selatan 2007). (syof)
Copyright © 2008 www.padangkini.com All Rights Reserved
The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.
Ikan Bilih dan Dakak-Dakak Diminati Perantau Sumbar
Kamis, 24/07/2008 16:20 WIB
padangmedia.com - TANAH DATAR-
Dari hasil pameran Kerajinan Nasional yang diselenggarakan Dewan
Kerajinan Nasional (Dekranas) di Departemen Perindustrian dan Perdagangan, beberapa
waktu lalu, Ikan Bilih Danau Singkarak dan Kerupuk Dakak-dakak asal Kecamatan
Pariangan kabupaten Tanah Datar banyak diminati perantau Sumatera Barat di
Jakarta.
" Pada acara Pameran Hasil Kerajinan Sumtera Barat (Sumbar) lalu, Ikan
Bilih dan Kerupuk Dakak-dakak termasuk makanan yang paling banyak ditanyakan
para perantau kepada stand yang dimiliki Kabupaten Tanah Datar," sebut
Kepala Dinas Koperasi Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan Kabupaten
Tanah Datar, Zulfahmi Dt. Putih yang didampingi Kapala Seksi (Kasi) Iklim Usaha
Sub Dinas Perindustrian, Wirmas kepada padangmedia.com, Kamis (24/7).
Zulfahmi menyadari sekali permintaan yang disampaikan para perantau itu.
Katanya, sebagai satu-satunya spesies ikan yang hanya ada di danau singkarak, ikan
bilih memang memiliki cita rasa yang berbeda dengan ikan-ikan lain. Dalam hal
ini, umumnya orang menikmati ikan bilih sebagai sebuah makanan pendamping yang
akan terasa lezat jika digoreng kering.
" Meskipun ikan bilih itu bisa di sajikan kedalam gulai atau kerupuk,
namun, ikan bilih akan semakin lezat jika dihidangkan secara kering. Dengan
sedikit "samba lado" ikan bilih akan terasa lebih gurih. Jadi wajar,
jika ikan bilih menjadi komoditi yang sangat dirindukan oleh para perantau
Sumatera Barat (Sumbar) yang ada di Jakarta,"
paparnya.
Tidak itu saja, Zulfahmi juga mengungkapkan besarnya tingkat permintaan para
perantau juga tertuju kepada kerupuk dakak-dakak. Makanan khas kecamatan
Pariangan yang terbuat dari adonan tepung beras itu juga merupakan makanan yang
jarang ditemui di perantauan. Kalaupun ada, kerupuk dakak-dakak akan dijual
dengan harga yang sangat mahal sekali.
" Sayangnya, pada acara pameran hasil kerajinan Sumbar itu, kabupaten
Tanah Datar tidak sempat menyertakan kedua makanan itu dalam daftar makanan
yang dipamerkan,"sebutnya.(rio)
© 2007 PADANGMEDIA.COM - TERBETIK TERBERITA - UP TO DATE
ODHA Paling Banyak di Bukittinggi
Kamis, 24/07/2008 19:12 WIB
padangmedia.com - PADANG–
Kasubdin Pelayanan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Sumbar, Esti Pratiwi
menyatakan, ODHA (orang dengan HIV/AIDS) paling banyak berada di Bukittinggi.
Jumlahnya mencapai 30 persen dari ODHA yang ada. Ini berarti, lebih dari 100
orang penduduk Bukittinggi menderita HIV/AIDS.
“Paling banyak di Bukittinggi, yakni sekitar 30 persen. Tapi kita tidak
dapat data yang jelas karena mereka cenderung tidak terbuka,” tutur Esti
kepada padangmedia.com, Kamis (24/7).
Dikatakan Estie, mengenai jumlah ODHA sendiri tidak meningkat. Kini pihaknya
giat memberikan dukungan berupa keterampilan-keterampilan kepada pada ODHA.
Malah, dulu para ODHA yang sering bertanya kapan akan mati, sekarang tidak
lagi.
“Sebaliknya, mereka malah bertanya apa yang akan dikerjakan besok. Tahun
sebelumnya kita latih mereka menyablon dan repasari HP,” tambah Esti.
Karena penderita HIV/AIDS banyak yang tidak terbuka, Dinsos melakukan
pendekatan dengan merangkul mereka. (Iggoy)
© 2007 PADANGMEDIA.COM - TERBETIK TERBERITA - UP TO DATE
The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.
Karapuak dakak2?!, makanan a pulo tu?
Mungkin katiko dimakan sarupa bunyi dakak2??
Salam
Nofiardi
Cubadak badakak-dakak,
Antimun batali-tali.
Abak den pai malagak,
Uwaik den barusuah hati ...
....
Ikan bilih?
Baa mangko banamo Ikan Bilih?
Adokoh hubuangannyo jo Ubilih?
Aa badannyo Ikan Teri, Maco Bulek, jo Ikan Bilih?
-- Nyit Sungut
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Riri Chaidir" <riri.chaidir@...>
wrote:
>
> Dari tapuang bareh, disariang jadi bantuak mie tapi dengan
diameter 3-5 mm,
> sudah tu diguluang2 kusuik jadi sarupo karupuak palembang. Sudah tu
> digoreng, kalau lah digoreng tu ukurannyo sekitar 3-5 cm, tabanyo
sekitar 3
> cm ...
>
> Wuaaaah .... susah ambo manarangkannyo he he
>
> Tapi nan jaleh, rasonyo lamak
>
> Riri
>
>
> 2008/7/25 Nofiardi <Nofiardi@...>:
Cubadak badakak-dakak,
Antimun batali-tali.
Abak den pai malagak,
Uwaik den barusuah hati ...
....
Ikan Bilih?
Baa mangko banamo Ikan Bilih?
Adokoh hubuangannyo jo Ubilih?
Aa bedanyo Ikan Teri, Maco Bulek, jo Ikan Bilih?
-- Nyit Sungut
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Riri Chaidir" <riri.chaidir@...>
wrote:
>
> Dari tapuang bareh, disariang jadi bantuak mie tapi dengan
diameter 3-5 mm,
> sudah tu diguluang2 kusuik jadi sarupo karupuak palembang. Sudah tu
> digoreng, kalau lah digoreng tu ukurannyo sekitar 3-5 cm, tabanyo
sekitar 3
> cm ...
>
> Wuaaaah .... susah ambo manarangkannyo he he
>
> Tapi nan jaleh, rasonyo lamak
>
> Riri
>
> 2008/7/25 Nofiardi <Nofiardi@...>:
Tapi, kalau fresh, ai yaiyai, apo lai kalau baru diambiak baruak
dari batangnyo, MakNgah lantuang matah-matah, kalau paralau jo lado
kutu ... :)
Kalau baitu Carito Sungai Balantiak, jaleh diambo manarangkan. Itu
jalan kaki ambo sisuak. Sungai Balantiak tu kalau awak ka
Payokumbuah dari Bukittinggi, simpangnyo di Batuhampa babelok ka
kida. Basuo nagari-nagari Sungai Sariak, Sungai Balantiak, Suayan,
Pauah Sangik, Siamang Bunyi. Sudah tu jalan tapak ka Taratak Liki,
Mudiak Liki sampai awak basuo jo jalan Suliki - Kototinggi.
Babelok kaarah kida kaarah Kototinggi basuo awak jo Pandam Gadang
jo Ikan Banyak kampuang Baliau Tan Malaka. Ambo indak pasti nan maa
bana garan Kampuang Baliau, Pandam Gadang atau Ikan Banyak, alun
panah mancaliak rumah kel;ahiran baliau lai. Dimaa pun nagari tu
harus masuak Peta Sejarah. Rumah Tan Malaka harus jadi Museum Objek
Sejarah nan paralu diziarahi oleh turis-turis nan haus Sejarah. Nah
kalau Kototinggi Objek Sejarah Maso PRRI lah saarah sajalan tu para
peminat Sejarah dari Payokumbuah ka Pandam Gadang ka Suliki.
Salah satu Objek Sejarah di Limopuluah Koto nan harus diingekkan ka
Pemda Sumbar, apo lai ka Pemda Payokumbuah, adolah Situjuah,
tempat "Peristiwa Situjuah" nan historis tragis di Maso PDRI
(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) Agressi kaduo 1948. Ambo
manyarankan supayo Pamarentah Kabupaten atau Sumatera Barat
mamparhatikan "Kincia" dan Sekitarnyo di Situjuah tamasuak Peristiwa
Berdarah nan dialami para Syuhada Pejuang Revolusi kito. Mudah-
mudahan ado nan mandanga. dibuek pulo Museum dan perpusatkaan di
situ nan paralu dirawat elok-elok. Kok iyo Limopuluah Kota ka
manjadi aktivitas Pariwisata, mangko Dewan Pariwisata harus
diingekkan tantang itu. Sudah tu Halaban Alang Laweh jan dilupokan
pulo.
Salam,
--Makngah
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Riri Chaidir" <riri.chaidir@...>
wrote:
>
> Ha ha, iyo mak Ngah. Ladonyo harusnyo pakai patai. Tentang patai
ko, ambo
> ndak tau apo cuma lidah ambo nan salah atau ba'a. Rasonyo patai di
Jakarta
> ko agak paik rasonyo, ndak salamak nan di nagari awak. Patai awak -
kalau di
> ambo - bisa dimakan langsuang, tapi nan di Jakarta ko paik dan
kareh.
>
> Tentang Sungai Balantiak ... nah, ambo mungkin tamasuak urang
nan "lupo jo
> kampuang". Sabananyo ambo urang Sungai Balantiak, Mama ambo pun
masih lahia
> di situ. Walaupun sakola di Bukiktinggi, tapi waktu menikah di
Sungai
> Balantiak.
> *Ambo* *ndak tau sebabnyo* - kalau "pulang kampuang" kami ndak
Yo lah Da/ Uwan Riri, mokasih infonyo.
Kalo itu barang e lah ado ambo mangicok, kalo ndak salah dulu taun 89 di Kotolaweh-Singgalang.
Jadi iko oleh2 asli/ khas Padang Panjang.
Salam
Nofiardi 41
The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.
Amir Sampuraga (pakai peci) dikunjungi Agus Taher (kanan) di LP Kelas II
B Pasir Pangaraian, Kabupaten Rohul, Riau, Kamis (24/7). Selain berjuang
pedihnya hukuman di penjara, Amir juga harus berjuang menghadapi
penyakit gula yang dideritanya. [ilham safutra/padek]
Rokan Hulu, Padek-- Pencipta dan penyanyi Minang kondang era 1970-an,
Amir Sampuraga (60) yang kini ditahan di LP Kelas II B Pasir Pangaraian,
Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) Riau, Kamis (24/7), dikunjungi
rekan-rekannya.
Yakni, pencipta lagu Minang Agus Taher, penyanyi Minang An Roys juga
didampingi Pemimpin Redaksi Padang TV (grup Padang Ekspres) Firdaus.
"Ditahannya Bang Amir membuat kalangan seniman musik Minang sedih.
Rekan-rekan yang lain sebetulnya banyak ingin melihat kondisi Bang Amir.
Tapi mereka memiliki kesibukan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Saat
ini, saya berdua An Roys saja dahulu mengunjunginya," kata rekan Amir,
Agus Taher didampingi An Roys. Dalam kunjungan kemarin, Agus Taher
berpesan agar Amir tegar menjalani hukuman tersebut. "Kita dari kalangan
seniman Sumbar akan berjuang mencarikan upaya hukum untuk kebebasan
Amir," ungkapnya.
Diceritakan Amir, dirinya ditangkap jajaran Polres Rohul, Senin (11/2)
lalu. Saat itu, Amir menjadi bintang tamu hiburan KIM (pantun dan lagu,
red) pada acara launching Kafe Bunglon di Kecamatan Ujung Batu Rohul.
Saat itu, Kafe Bunglon yang punya gawe acara, belum mengantongi surat
izin keramaian. Akibatnya pemilik kafe Yosephendri (28) serta Amir dan
tiga orang temannya digiring ke Mapolres Rohul.
Amir dalam hal ini dimintai keterangannya sebagai saksi oleh pihak
kepolisian. Namun setelah 15 hari ditahan di sel Polres Rohul, Amir Cs
ikut menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Rohul. Hingga akhirnya,
ia mendapat hukuman selama satu tahun. Kini, hukuman tersebut telah
dijalani selama lima bulan.
"Saya bersama teman-teman tidak mendapat advokasi saat penyelesaian
kasus itu. Sebelum pementasan, pemilik kafe Bunglon Yosephendri
mengatakan sudah mengantongi surat izin keramaian. Tapi pada hari ke-11
aktivitas kami dihentikan akibat ketiadaan surat penting tersebut,"
tutur Amir.
Selama mendekam di LP Pasir Pangaraian, selain berjuang pedihnya hukuman
penjara, Amir pun harus berjuang menghadapi penyakit gula dan
diabetesnya meningkat. "Kadar gula saya naik," akunya dengan mata
berkaca-kaca. Amir pun mendapat perawatan beberapa kali di RSUD Rohul.
Kini ia pun berada di ruangan tahanan khusus penghuni yang sedang sakit
keras. Selama di ruangan itu, ayah lima orang anak ini mendapat
perhatian.
Selama lima bulan mendekam di LP, Amir berhasil menciptakan dua lagu
berjudul "Air Mata Penjara" dan "Hancur'. "Terus berkarya, bang Amir.
Dulu Buya Hamka dalam penjara berhasil menciptakan Tafsir Al Azhar. Kini
bang Amir mesti bisa menciptakan puluhan lagu minang ataupun berbahasa
Indonesia. Seni tidak pernah terhukum," pesan Agus Taher.
Hal senada juga dikatakan Kasubssi Perawatan LP Kisman Daulay mengatakan
Amir selama dalam sel mendapat penyakit diabetes dan gula. "Diabetes itu
sebetulnya telah diidapnya. Hanya saja faktor stres, penyakit itu
semakin kambuh," terang Kisman.
Ditambahkannya, Amir selama dalam sel menunjukan sikap dan tingkah laku
yang baik. "Ia memberikan hiburan dan spirit pada penghuni LP lainnya
agar tegar menjalani hukuman," pungkasnya. (mg7)
(c) 2008 PADANG EKSPRES - Koran Nasional Dari Sumbar
| Iyo ibo hati mandanga carito Bang Amir S ko tatahan di LP seniman lagu minang awak, hanyo gara2 yo buliah dikatokan indak talalu prinsip bana hanya masalah ijin keramaian atau menghadiri keramaian sajo. Samantaro urang nan korup piti rakyak miliaran rupiah bebas sajo malenggang mairuik udaro bebas...kadang2 awak bapikia dima keadilan hukum nagari ko ambo mungkin bisa memaklumi jiko Bang Amir awak ko..misal terlibat Narkoba dikeramaian tu..tu tatangkok, tapi iko hanyo karano hanyo sebagai penghibur, seharusnyo kan Pihak atau pemilik kafe tu nan harus batangguang jawab (iko manuruik berita nan ambo baco). Semoga Tim Kesenian nan manjanguak tu..bisa meupayakan kebebasan Bang Amir ko menginat beliau menderita Sakit Gula dan Diabetes, mungkin iko bisa jadi pertimbangan JP --- On Sat, 7/26/08, Nofiardi <Nofi...@pec-tech.com> wrote: |
From: Nofiardi <Nofi...@pec-tech.com> |
Prihatin, apo lai nan bisa disabuik? |
-~------~--~--- |
Mak Ngah,
Kalau ambo baco di http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_bilih , Bilih (Mystacoleuseus Padangensis) "milik" danau Singkarak, walaupun ado bilih lain ditemukan di danau Maninjau dan Sungai Amazon.
Bilih agak2 mirip bada/ teri (di salah satu posting, mak Ngah manyabuiknyo sbg "maco bulek"), tapi indak samo do.
Walaupun samo2 bilih, --
Z Chaniago - Palai Rinuak
Sukseskan Peringatan Enam Dasawarsa SMPN 1 Maninjau Ikut Membangun Pendidikan di Indonesia (1948 - 2008), 3- 5 Oktober 2008
" Pertama SMPN di Kecamatan di Indonesia "
Nasihat Urang Tuo-tuo sisuak, "Kok pai ka Solok jan dirameh kareh-
kareh, hancuanyo!
Rasio kalimat tu nan ka hancua kan "kareh-karek" tu, bukan Solok.
Salam,
--MakNgah
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Riri Chaidir" <riri.chaidir@...>
wrote:
>
> Iyo, kalau nan dari Koto Laweh ko "kareh2", dibueknyo dari tapuang
bareh
> plus saka, jadi rasonyo manih. Perbedaan antaro kareh2 dan dakak2
lainnyo
> adalah: kalau kareh2 tu labiah haluih, an sarupo lempengan nan
dilipek ampek
>
> Persamaannyo: lamak ...
>
> He he, pokoknyo kalau di ambo, makanan awak sadonyo lamak ...
>
> Riri
>
>
> On 26/07/2008, adyan <adyan.anwar@...> wrote:
> >
> >
> > Namonyo "kareh-kareh" dan iko memang makana khas produksi Koto
Laweh.
> >
> > Ado loh pantunnyo snek, "Induak koretaapi, den rameh kareh-kareh
> > hancua mah!"
> >
> > -adyan
> >
Ado pulo cieklai nan saireh ...
"Ulando mati tumbuah japan di puseknyo,
Urang Cino mati tumbuha karambie di matonya." Ngeri.....!
--
salam,
-adyan
Ado pulo cieklai nan saireh ...
"Ulando mati tumbuah japan di puseknyo,
Urang Cino mati tumbuh karambie di matonya." Ngeri.....!
On 7/26/08, hambociek <hamb...@yahoo.com> wrote:
>
Wassalam
Batuduang Ameh (40)
"4 Rancak 5 Lamak Bana"
-----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On
Behalf Of hambociek
Sent: Saturday, July 26, 2008 12:41 PM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Ikan Bilih dan Dakak-Dakak Diminati Perantau
Sumbar
Kalimat ko adolah silek-silek kato, bahelah-helah. Kato "Cino"
dan "Japan" dalam hal iko cuma permainan kato, palamak takok-taki,
bukan dimukasuik jo "Urang Cino" atau "Urang Japang". Nan dimukasuik
jo "Japan" disiko dan manjadi titiak paratian kunci kalimat adolah
adolah "Buah Japan" dalam Caro Awaknyo, tanaman manjala nan kadang-
kadang disabuik juo "Labu Siam."
Ambo tahu bana bantuak "Buah Japan" ko karano wakatu ketek-keek maso
Japang tu, tanaman japan ko banyak tumbuah kuliliang paga di rumah
amak di Kampuang. Banyak urang bakandak mambali untuak dibuek sayua.
Jadi ambo nan acok manolong maambiaknyo mamiliah ciek-ciek nan maa
nan lah gadang sadang elok untuak dijua, untuak digulai.
Kalau diparatikan buahnyo nan tuo nan alah elok ka bijo untuak
ditanam baliak, memang tuneh atau kacambah buah japan ko tumbuahnyo
dari bagian bawah, atau di bagian ikuanyo. Kok "Buah Japan" tu
ditanam, mangko memang tanaman baru ko mancumbok kalua dari ikuanyo.
Jadi, karano perkembangan tumbuahnyo "Buah Japan" saroman itu mangko
dikecekan urang, "Japan tumbuah di ikuanyo".
Nah,wakatu "Maso Japang" (1942-45) tu Japang bakuaso, awak indak
buliah manyabuikan "Buah Japan" tu doh karano takuik ka dibangihi
Urang Japang. Mangko maso itu, sacaro resmi disuruah
manyabuikan "Buah Japan" ko sabagai "Buah Labu Siam". Namun, kami
tatap manyabuiknyo "Japan" bahkan labiah-labiah jadi pamenan kato
sambia galak-galak dalam kalimat "Cino mati, Japan Tumbuah di
Ikuanyo." :)
Kaduo kalimat nan angku Adyan agiahkan dalam contoh tu dapek juo
ditarangkan dengan caro nan samo. Titiak paratian nan dimukasuik
adolah "caro buah karambia" atau "caro buah japan" tumbuah
mangkacambah, bukan "caro matinyo Urang Ulando atau Urang Cino doh."
Kan lai takana ciek lai tanyo nan tadanganyo simple dan indak
mangasan nan panah ditanyokan urang: "Kok iyo lah acok Ang ka Pasa,
dima Ikua Pasa Kapalo Pasa di Ang?" Mangko jawabnyo dapek babeleng-
beleng kapalo mancari dimaa bana Ikua Pasa Kapalo Pasa tu. :)
Sakitulah sakadar helah-helah contoh fenomena "Budaya Lisan"
atau "Oral Culture" dalam Masyarakat Awak.
Salam,
--MakNgah
--- In Rant...@yahoogroups.com, Adyan <adyan.anwar@...> wrote:
>
> Apo namonyo jenis permainan kato-kato ko Mak Ngah...
>
> Ado pulo cieklai nan saireh ...
>
> "Ulando mati tumbuah japan di puseknyo,
> Urang Cino mati tumbuha karambie di matonya." Ngeri.....!
>
> On 7/26/08, hambociek <hambociek@...> wrote:
> >
> > Tapi kareh-kareh nan hancua dirameh tu kan "Kareh-kareh" khusus
> > dijua urang di Solok.
> >
> > Nasihat Urang Tuo-tuo sisuak, "Kok pai ka Solok jan dirameh
kareh-
> > kareh, hancuanyo!
> >
> > Rasio kalimat tu nan ka hancua kan "kareh-karek" tu, bukan Solok.
> >
> > Salam,
> > --MakNgah
> >
> > --- In Rant...@yahoogroups.com, "Riri Chaidir" <riri.chaidir@>
> salam,
> -adyan
>
> http://www.tenunpusako.com
>
>
tambahnyo cieklai, katiko lai takana...
* Kapatabang randah tabangnyo, ampiang balago jo karambia...
* Kapatabang sangaik randah, tampak urang moncogok di pintunyo...
Dalam hal iko dalam pengertian Language and Mind, contoh saroman iko
namonyo "ambiguity" katiko ado pamainan kato nan mungkin aratinyo
labiah dari satu.
Dalam hal iko "ampiang" saindak-indaknyo ado duo aratinyo; "ampia",
dakek, dan "ampiang" makanan dari sipuluik mudo dirandang dan
ditumbuak picak-picak, nan biaso atau populer dimakan "ampiang jo
dadiah".
Sudah tu "karambia", apo nan dimukasuik, batngno, buahnyo, atau
karambia nan lah diparuik. Dengan mampamainkan kato kapatabang "randah
tabangnyo" nan tabayang batang karambia nan mungkin ka ka kanai dek
kapatabang tu, balago jo kapatabang tu.
Jadi manuruik ambo frase "kapatabang tabang randah" tu untuak
mambinguangkan, maragukan, sabagai ambigious meaning untuak frase nan
kaduo "ampiang balago jo karambia". ampiang nan dikinco, atau
dilagokan jo karambia ko lamak dimakan. Jadi mukasuiknyo untuak
manyatokan lamaknyo ampiang dikinco jo karambia nan alah diparuik,
bukan jo batang karambia.
Baitu juo dalam kalimat nan kaduo, ambiguity di siko adolah "pintu"
nan maa nan dimukasuik, "pintu rumah urang" nan tampak urangnyo di
pintu tu, atau "pintu kapatabang" nanrandaah tabangnyo itu.
Jadi dalam kaduo kalimat tu bagian "kapatabang" dalam frase partamu
cuma untuak pamainan pambelokan pambimbangkan arati di frase nan kaduo.
Sakitu pulo sakadar panyalasaian jawab takok taki tu dari MakNgah,
sabagai interpretasi dari ambiguity itu.
Salam,
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif
--- In Rant...@yahoogroups.com, Adyan <adyan.anwar@...> wrote:
>
>