Parameswara (kanan) bersama
Kaisar Ming
Parameswara - pemuda Indonesia, hero Malaysia
Semua orang Malaysia tahu siapa Parameswara. Ia ada dalam pelajaran sejarah Malaysia. Sejarah ini diajar di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Semua orang Malaysia tahu Parameswara adalah putra Indonesia. Kerana Parameswara ialah putra wilayah Sriwijaya, yang sekarang ini di Sumatera dekat Palembang.
Parameswara ialah putra asal Indonesia tapi hero bagi orang Malaysia.
Ironi bukan?
Beliau adalah penegak kepada kerajaan Melayu Melaka yang terkenal itu. Terkenal bukan kerana banyak penaklukan wilayah luas tetapi terkenal sebab pengembangan bahasa Melayu dan agama Islam keseluruh benua Nusantara dan kepulauannya yang beribu buah.
Bermula sebagai penganut Hindu-Melayu yang berpegang fahaman animism. Parameswara adalah berdarah raja kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Pada awal nya kerajaan Singhasari (kemudian diganti oleh Majapahit) menyerang kota Sriwijaya tetapi Sriwijaya masih utuh namun pada zaman Majapahit, Sriwijaya diserang habis habisan dan semua bandar-bandar dan kota-kota ditakluk serta semua keturunan raja-raja Sriwijaya dibunuh.
Maka berakhirlah riwayat kerajaan Hindu Sriwijaya yang bertahan gah sehingga 1000 tahun di tangan Majapahit di bawah pimpinan Hayam Wuruk. Akhirnya Parameswara lari ke Singapura dan seterusnya ke Melaka dan bertakhta di sana. Membentuk Malaka Sultanete, satu kuasa baru selepas kemunduran Majapahit.
Apa pelajaran yang paling boleh kita dapat dari Parameswa?
Kisah pelarian Parameswara memberikan satu pengajaran kepada orang-orang Indonesia dan orang-orang Malaysia bahawa kedua-dua negara ini memang ditakdirkan bercantum-cantum bergulung-gulung dalam satu budaya dan satu rupa manusianya.
Mungkin juga ditakdirkan untuk bercakaran atau berkelahi? Itu pilihan. Berkelahi boleh, berkasih-kasihan pun boleh. Bersatu tegoh, bercerai roboh.
Apa yang boleh kita pelajari dari sejarah Majapahit dan Melaka? Bahwa bermusuh-musuhan sesama kita tidak ada faedahnya. Majapahit bermusuh dengan Melaka. Dan Melaka bermusoh dengan Majapahit. Ibarat emosi sekarang. Emosi Indonesia membenci Malaysia. Emosi Malaysia membenci Indonesia. (Ini tanggapan saya, saya yakin tidak benar, cuma sentimen aje) Benci membenci. Dulu, 500 tahun dahulu beginilah kita.
Akhir kononnya Gajah Mada dan Hang Tuah juga tidak sejalan. Masing-masing berkelahi merebut keris Taming Sari. Konon dimenangi oleh Hang Tuah.
Takdir pula Majapahit tidak jadi berperang dengan Melaka kerana putri Majapahit akhirnya berkahwin dengan Sultan Melaka. Alahai…. bersaudara lagi kita yang selalu berkelahi ini. Parameswara dendam dengan Majapahit kerana hancurkan Sriwijaya. Jika berhantaman pasti kedua-dua negara lagi cepat punah. Pasti ada orang ketiga yang menanguk di air keruh.
Kita-kita ini dari dulu (Indonesia-Malaysia) sentiasa membunuh, bercakaran, berkelahi, bersaudara, berkahwin, berbesan. Semua bercampur gaul .
Tapi yang pasti ialah akibat tidak bersatu, kedua-dua ‘government’ wilayah Nusantara ini akhirnya kalah dan lelah. Bukan dikalahkan oleh sesama sendiri tapi oleh kuasa luar. Tunduk di bawah Belanda, Portugis dan Inggeris.
Orang Indonesia bangga dengan Majapahit. Orang Malaysia bangga dengan Melaka. Tapi berapa lama kerajaan ini bertahan? Majapahit lenyap dan Melaka lenyap juga ditawan Barat. Itulah pelajarannya.
Cuba kita lihat - kerajaan Majapahit bertahan 180 tahun (Raden Widjaya 1294 - Dyah Ranawijawa 1474) dan Melaka 130 tahun (Parameswara 1400 - Ahmad Shah 1530). Kerajaan agung yang kita bangga-banggakan hanya bertahan tak sampai 200 tahun? Dan tempoh kita dijajah? 400-500 tahun. Panjanggggggggggggggggggg sekali.
Itulah hasil bertelagah sesama kita.
Jadi, pelajaran yang pasti ialah jika kita-kita (Malaysia-Indonesia) mahu bercakaran maka pandang lah ke belakang. Kita pernah lakukan ini 500 tahun dahulu. Akhirnya, semua punah ranah. Pemimpin-pemimpin kita kedua-dua negara perlu merenung sejenak sejarah. Membenahi kebijakan sejarah. Baru masa depan Nusantara cerah dan gemilang.
Memang kita ditakdirkan begini iaitu bersaudara serumpun. Merindu dan mendendam bercampur gaul. Kadang-kadang kita tak mahu mengaku serumpun. Malah kita katakan ‘serumpun’ itu sesat. Tapi sesiapa yang tak mengaku serumpun itulah sesat.
Kalau Parameswara masih hidup pasti beliau pening kepala melihat gelagat kita-kita.
Sumber : http://kompasiana.com/80022
tanggapan bermutu:
1. tulisan yang menarik..bagaimanapun kita memang serumpun dengan malaysia…. (Mukti Ali)
2. ini fakta sejarah menarik utk difilm kartunkan untuk MENANDINGI kehebatan film kartun TOM & JERRY,…..karena dua negara ini nyata persis………sperti film kartun tsb, kalau si Tom nggak ada si Jerry mencari-cari smpai ketemu …setelah ketemu diajak berantem ( dan juga sebaliknya)…….., kalau nggak ada dirindukan …..kalau ada di musuhi……….takdir kali. . .wallahuaklam. (Putra Timur)
3. saya akui kita serumpun…dan pemikiran lebih pintar malaysia dari pada indonesia.malaysia betul-betul menerapkan kedisiplinan dan menghormati negaranya(seperti menggunakan bahasa nasionalnya melayu dan inggris)masyarakatnya taat pajak.tau yang salah atau pun tidak.dan lebih mementingkan ilmu,bekerja,menghasilkan dan menerapkan ketimbang mengurusi pemerintahan(kebetulan malaysia kerajaan jadi mereka tunduk kepada raja>>sebagai orang yang bangsawan). indonesia terdiri dari pulau2 dan bahasa daerah dan juga kekayaan alam(punya kekayaan alam tapi yang mengelola lebih banyak asing ketimbang orang pribumi)dan memiliki bahasa nasional satu.bahasa indonesia(sayang sekali orang indonesia bangga sekali berbahasa inggris dan bangga dengan negara lain ketimbang negaranya).Terlalu banyak partaii politik(sehingga menimbulkan pemikiran2 untuk menguasai semua kalo bisa semuanya partai nya yang duduk agar menghasilkan uang yang banyak>>>buat bayar utang waktu kampanye).mau mikir rakyakyat???(mpr dan dprd bingung)karena rakyatnya di kasih tempat tinggal,minta uang,terus minta makan terus minta semuanya gratis….gak mau kerja(karena waktu sma-tamat kuliah kerjanya sibuk mengurusi orang lain>>padahal urusan sekolah dan kuliahnya gak kelar2)…….keluar lah keputusan pemerintah…memberikan otonomi daerah(tapi apa yang terjadi??tetap aja uang karena banyak yang mangkir pajak)….dalam bidang jasa pemerintah masih lebih memuaskan di pulau jawa dan bali ketimbang provinsi lain….Yang paling fatal terlalu jujur kepada orang asing(yang bersifat rahasia tentang keamanan nasioanal di beberkan)…. (Diego Chaniago)
4. orang bijak selalu melihat sejarah,yang baik diambil yang jelek dibuang, semoga saja pada akhirnya lahir pemimpin pemimpin yang bijak yang disebut negarawan. (Cholili Irawan)
5. Tulisannya bapak bermanfaat sekali…, Semoga kedua negara bisa bersama-sama maju dan mengingat sejarah… (Syariif)