Mutu Karya Sastra Sumbar 30 Tahun Terakhir Dipertanyakan

107 views
Skip to first unread message

Andiko

unread,
Oct 12, 2013, 10:43:40 AM10/12/13
to rant...@googlegroups.com
Mutu Karya Sastra Sumbar 30 Tahun Terakhir Dipertanyakan

10 October 2013 21:01 | • Wartawan : Redaksi padangtoday • Editor : Redaksi Padang Today • Dibaca : 176 kali


Sastrawan Sumatera Barat Darman Moenir kembali mempertanyakan mutu karya sastra Sumatera Barat 30 tahun terakhir. Sepanjang 30 tahun itu, menurut Darman Moenir, karya-karya sastra yang terbit di Sumatera Barat “tidak ada” yang bermutu.
 
Pernyataan Darman Moenir itu disampaikannya dalam kegiatan Dialog Sastra bertajuk “Menyoal Kebermutuan Karya Sastra Sumatera Barat” yang digelar UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, Kamis (10/10), di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Sumatera Barat di Padang. Diskusi itu dihadiri kalangan sastrawan, seniman, budayawan, akademisi, pengamat sastra, dan sejumlah penulis muda.
 
Apa yang disampaikan Darman Moenir itu, sudah pernah dipolemikkan di salah satu koran harian terbitan Padang pada tahun 2011 silam. Di koran itu, tercatat sepuluh penulis merespon esai yang ditulis Darman Moenir, yaitu Devy Kurnia Alamsyah, Sudarmoko, Elly Delfia, Muhammad Subhan, Nelson Alwi, Heru Joni Putra, Romi Zarman, Esha Tegar Putra, dan Andika Dinata. Para perespon terdiri dari kalangan akademisi, kritikus, pengarang, dan pengamat sastra.
 
Walau begitu, dalam dialog sastra di Taman Budaya Sumatera Barat dengan narasumber Darman Moenir (Sastrawan), Romi Zarman (Kritikus), Zelfeni Wimra (Pengarang), dan moderator Nasrul Azwar, Darman Moenir tidak sedikitpun membahas apa standarisasi mutu yang dimaksud dan karya sastra siapa yang dianggapnya tidak bermutu itu. Darman Moenir “menyapu rata” semua karya sastra (khususnya novel) yang dihasilkan penulis/pengarang Sumatera Barat kurun 30 tahun terakhir tidak ada yang bermutu.
 
“Saya tahu dan membaca sejumlah novel pengarang dari Sumatera Barat yang terbit 30 tahun terakhir, tetapi itulah, maaf, mutu novel-novel itu pantas dipertanyakan,” kata Darman Moenir yang pada tahun 1980 novelnya berjudul “Bako” memenangkan Hadiah Utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
 
Pernyataan Darman Moenir itu mengundang reaksi sejumlah penanggap, di antaranya Hermawan (akademisi). Hermawan meminta para narsumber untuk mendefinisikan “mutu” yang menjadi tajuk diskusi dan apa standarisasi mutu yang dimaksud. “Apa seperti ada angka-angkanya begitu? Coba ini kita dudukkan dulu,” tanya Hermawan. Namun hingga dialog berakhir, tak seorang pun di antara narasumber, termasuk Darman Moenir yang memberikan jawaban memuaskan soal standarisasi karya sastra yang “bermutu” itu.
 
Penyair Senior Sumatera Barat Rusli Marzuki Saria turut memberikan pandangannya. Menurutnya, budaya kritik sastra di Sumatera Barat belum tumbuh begitu baik. Karya sastra yang terbit nyaris tidak diomongkan. “Selama ini nyaris tidak ada diskusi sastra di Taman Budaya Sumatera Barat. Karya sastra Sumatera Barat tumbuh tanpa kritik,” ujarnya.
 
Irzen Hawer, salah seorang pengarang novel asal Kota Padangpanjang pada kesempatan itu juga menyatakan kurang sependapatnya dengan apa yang disampaikan Darman Moenir. Menurutnya, kerja kepengarangan dan kerja kritik dua hal yang berbeda. “Sebagai pengarang tugasnya telah selesai, menghasilkan karya sastra. Kemudian, para kritikuslah yang menentukan kebermutuan karya sastra itu. Tapi sayangnya, kita belum melihat kritikus Sumatera Barat mengkritisi substansi karya sastra yang terbit selama ini,” paparnya.
 
Alizar Tanjung, seorang penyair muda Sumatera Barat punya pandangan lain. Menurutnya, agar jelas bermutu-tidaknya karya sastra Sumatera Barat, harus ada lembaga memfasilitasi diskusi buku dengan mengundang pihak-pihak yang berkompeten membahas mutu karya sastra tersebut. Dia mengusulkan Taman Budaya Sumatera Barat mengagendakan diskusi buku, khusus untuk buku-buku yang terbit dari tangan pengarang Sumatera Barat.
 
“Pihak penyelenggara harus membeli buku itu, dibagikan kepada peserta diskusi, dan diberikan waktu untuk membacanya, lalu dibahas isinya di kesempatan lain secara bersama-sama. Ini tawaran saya,” kata Alizar Tanjung yang bergiat di Komunitas Rumah Kayu Padang.
 
Sementara itu, Muhammad Subhan, pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang juga berbagi pendapat pada kesempatan itu mengatakan, walau Sastrawan Darman Moenir tidak memberikan apresiasi positif terhadap perkembangan karya sastra Sumatera Barat 30 tahun terakhir, dia berharap harus ada apresiasi terhadap karya-karya yang lahir dan terbit itu.
 
“Suka tidak suka, sepakat tidak sepakat, saya kira kita tetap harus memberikan apresiasi kepada karya sastra yang terbit di Sumatera Barat kurun waktu 30 tahun terakhir itu,” ujarnya.
 
Soal kebermutuan karya sastra, menurut Muhammad Subhan, lebih diserahkannya kepada pembaca (termasuk kritikus). Katanya, pembaca adalah hakim yang menentukan bermutu-tidaknya karya sastra.
 
“Saya kira, sastra itu bersifat multitafsir, siapa pun boleh menafsirkannya. Tidak ada tafsir tunggal dalam memahami karya sastra. Dan, lebih jauh dari itu, pembaca kita hari ini sudah cukup cerdas, tidak bisa didekte, dan hak mereka untuk menentukan, membaca, dan menilai mutu isi buku yang dibacanya,” tambah Muhammad Subhan.(*)

Akmal Nasery Basral

unread,
Oct 12, 2013, 12:19:16 PM10/12/13
to rant...@googlegroups.com
Sanak Andiko,
ambo kenal pribadi dengan Darman Moenir. Tahun 2012 lalu kami sama-sama menjadi fasilitator bagi para novelis muda Sumbar yang ikut workshop di Rumah Puisi selama tiga hari. Instruktur lain adalah Gus tf dan Ahmadun Yosi Herfanda (mantan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta). Beberapa nama sastrawan muda yang disebut dalam artikel ini adalah peserta workshop. Maret tahun ini, ambo basuo baliak jo  saat Deklarasi Hari Sastra di SMA Birugo yang diikuti sekitar 60-an sastrawan nasional. Dan uniknya, novel terakhir DM yang terbit tahun lalu berjudul Andika Cahaya, mirip namo sanak Andiko. :)

Tapi ambo kira kalau disebut DM bahwa karya-karya yang terbit di Sumatra Barat "tidak ada" yang bermutu, ini bisa muncul dua tafsir:

1. Bahwa novel/antologi cerpen/kumpulan puisi yang diteroka DM adalah yang TERBIT di Sumbar. Artinya oleh percetakan dan penerbit yang beroperasi di Sumbar, bukan oleh penerbit yang dimiliki orang Minang DI LUAR Sumbar. Karena untuk kategori terakhir, banyak sekali orang Minang yang punya/mengelola penerbitan di luar Sumbar, seperti Pak Firdaus Oemar, mantan Ketua IKAPI, yang disebutkan Mak Muchlis Hamid dalam emailnya sebelum ini (soal "Nagari Membaca") atau Ketua Umum Ikapi sekarang, Lucya Andam Dewi (PT Bumi Aksara). Dalam hal ini, ada kemungkinan -- karena ambo tak mengamati karya sastra apa saja yang TERBIT DI Sumbar -- pernyataan DM itu benar. Karena mudah diduga, jumlah karya sastra yang terbit di Sumatra Barat jauh lebih kecil dibandingkan karya sastra para penulis Minang yang terbit baik di ranah maupun di luar ranah Minang.

2. Tapi jika yang dimaksud DM bahwa selama 30 tahun terakhir "tidak ada" karya sastra penulis Minang yang bermutu, maka ini jelas keliru. Karena berarti novel DM tahun lalu itu pun tidak bermutu, bukan? :)

Namun di luar problem logis dari statemen rancu seperti itu, ada banyak karya penulis Minang yang bukan saja bermutu, bahkan cukup berkibar. Satu contoh saja adalah karya-karya Gustafrizal Busra (dengan nama Gus tf Sakai kalau menulis prosa, dan hanya Gus tf saja kalau menulis puisi).

Kumpulan cerpen Gus tf Sakai, Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999) misalnya, memenangi Lontar Literary Award 2001 dan diterjemahkan oleh Yayasan Lontar yang dimotori pegiat sastra John McGlynn ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Barber and Short Stories. Antologi itu diterjemahkan oleh Justine Fitzgerald, Anna Nettheim dan Linda Owens. Menurut ambo, belum tertutup kemungkinan pada 20-40 tahun lagi, The Barber and Short Stories ini juga bisa masuk dalam nominasi Nobel Sastra, seperti peristiwa dua hari lalu saat cerpenis Kanada Alice Munro (82 tahun) terpilih sebagai penerima Nobel Sastra. Wallahu a'lam. 

Lalu kumcer yang sama, pada tahun 2004 memenangi SEA Write Award dari Kerajaan Thailand. Apakah ini bukan indikator sebuah "mutu", apapun definisi teknisnya. Barangkali DM lupa dengan capaian artistik dari karya Gus tf Sakai ini. 

3. Dari generasi penulis Minang yang lebih yunior ada Ahmad Fuadi, anggota Palanta RN ko pulo. Trilogi Negeri 5 Menara nan ditulih Adi memang bisa menjadi perdebatan jika ditakar dari sisi kritik sastra. Tapi fakta bahwa lewat novel itu Adi terpilih sebagai peserta The Bellagio Project dari The Rockefeller Foundation yang memberikan program writer in residence selama sebulan di Italia, tahun lalu, setelah disaring dari ratusan aplikan dari seluruh dunia, juga menunjukkan adanya "mutu" yang tidak main-main dalam karya Adi. Yayasan Rockefeller tentu tidak akan sembarangan memberikan kesempatan istimewa itu jika karya Adi biasa-biasa saja.

4. Jadi memang, menarik dinanti (kalau mungkin) apa yang sebenarnya dimaksud DM dengan "tidak ada karya yang bermutu" itu. Sebab perbedaan indikator dan parameter, bisa membuat hasil pengamatan berbeda. Ini hukum universal yang tidak hanya berlaku di dunia sains, juga di ranah sastra.

Wassalam,

ANB
45, Cibubur




--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

rn.ami...@gmail.com

unread,
Oct 12, 2013, 6:58:03 PM10/12/13
to R@ntau-net Email Group Rantaunet
Ass.Wr.Wb Sanak di Palanta RN NAH, ambo hanyalah seoran yg senang membaco buku dan waktu ada pertemuan di Hotel Balairung membahas mengenai Investasi JTR di Pdg ada dijual buku "Dari Surau Ke Gereja yg merupakan Buku Pertama Trilogi Murtad Di Ranah Minang" pengarangnya Helmijas Hendra dimana ada Novel sambungannya yaitu. 1. Orang2 di tepi jurang. 2. Ketika Hidayah menyentuh kalbu, namun ambo cari2 di Gramed dan di Blok M Square tempat penjualan buku2 lama dan baru tidak ada, apokah ado sanak di Palanda ko yg bisa menunjukkan dimano ambo bisa mambali Novel sambungan tersebut Terima kasih

Wass
RNA
Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Akmal Nasery Basral <ak...@rantaunet.org>
Date: Sat, 12 Oct 2013 23:19:16 +0700
Subject: Re: [R@ntau-Net] Mutu Karya Sastra Sumbar 30 Tahun Terakhir Dipertanyakan

Muchwardi Muchtar

unread,
Oct 12, 2013, 9:35:09 PM10/12/13
to rant...@googlegroups.com, helmidj...@gmail.com


---------- Pesan terusan ----------
Dari: <rn.ami...@gmail.com>
Tanggal: 13 Oktober 2013 05.58
Subjek: Re: [R@ntau-Net] Mutu Karya Sastra Sumbar 30 Tahun Terakhir Dipertanyakan
Kepada: "R@ntau-net Email Group Rantaunet" <rant...@googlegroups.com>


Ass.Wr.Wb Sanak di Palanta RN NAH, ambo hanyalah seoran yg senang membaco buku dan waktu ada pertemuan di Hotel Balairung membahas mengenai Investasi JTR di Pdg ada dijual buku "Dari Surau Ke Gereja yg merupakan Buku Pertama Trilogi Murtad Di Ranah Minang" pengarangnya Helmijas Hendra dimana ada Novel sambungannya yaitu. 1. Orang2 di tepi jurang. 2. Ketika Hidayah menyentuh kalbu, namun ambo cari2 di Gramed dan di Blok M Square tempat penjualan buku2 lama dan baru tidak ada, apokah ado sanak di Palanda ko yg bisa menunjukkan dimano ambo bisa mambali Novel sambungan tersebut Terima kasih

Wass
RNA


Angku Roy n.a.h dan (insha Allah) dirakhmati Allah SWT.

Ikolah salah ciek bukti, bahaso sampai ka buku-buku rancak & bamutu pun untuak manyebarluaskan dan dapek dibaco urang banyak, musti malalui "jaringan nan dikuasoi urang kapia". Kalau indak, cibolah edarkan, promosikan bahkan "badah sorang" sasuai jo kacadiakan Si Pengarang 'manggaleh buku'.

(Khusus untuak statemen mantah dari ambo ko, mungkin Kamanakanda ANB salaku pangarang novel TCBP bisa babagi carito. Ambo nan manciguak dari jauah, sabana saluut ka ANB samanjak TCBP 'mancirutuih' 10-03-2013 nan lalu, ANB sabana 'sipak sintuang & tunggang tunggik' manjojokan TCBP kuliliang Nusantara, baiak malalui radio, majlis pangajian atau satiok kasempatan ado momen tasadio).

Karano buku "panulih gaek" (maaf, iko istilah Helmidjas Hendra bake ambo, kutiko sempat maota-ota lapeh jo wanyo di Hotel Balairuang dek sari, 19/5/2013) ko sabana rancak dan paralu dibaco dek urang minang di ateh dunia, tantu ado sabantauk parlawanan dari "urang kapia" nan manguasoi jaringn distribusi buku di Nusantara, supayo buku ko tasandek dalam paredaraan...!!!!

Manuruik hemaik ambo, kalau sajo jaringan penerbit (Islami) di republik ko tapanggia (dek QS 103 ; 1-3) untuak manyebar luaskan novel trilogi ko, tantu sabana mambantu 'mencerdaskan' urang awak dalam soal mancas aki (beterai) akidah di dado masiang-masiang. Satalah ambo baco, novel trilogi (Dari Surau ke Gereja; Orang-orang Di Tepi Jurang; Ketika Hidayah Menyentuh Kalbu) nan taba-taba (>298 hal) ditulih dek Helmidjas Hendra, sabana rancak. Meski hanyo fiksi, tapi suasana nan dibuek dalam novel sarupo nan tajadi di Padang (ibukota provinsi Minangkabau aias Sumbar) era tahun 2002-2004 nan lalu.

Pasan ambo, buek komunitas r@ntaunet nan punyo pitih tasiso di bawah kasua, atau di suduik meja lapau, indak ado buruaknyo doh untuak mambali novel trilogi nan dikarang dek Helmidjas Hendra. Maaf, ambo manulih saran ko indak ado kapantiangan apo-apo jo Si Novelis.  Hanyo sabagai panggilan nurani, satalah mambaco "ratok suasano perpustakaan di kampuang awak" nan sabana marotoang sarupo Amai Gaek di suduik rumah gadang manunggu anak cucu nan lah tigo kali hari rayo indak pulang-pulang.

OK, baliak ka topik nan dipanciang Sanak Roy Amiroeddin di ateh, sakironyo ado nan baminaik ka novel trilogi (Dari Surau ke Gereja; Orang-orang Di Tepi Jurang; Ketika Hidayah Menyentuh Kalbu)cubolah pasan lannsuang ka panulihnyo, malalui e-mail atau paragaik mobile-nyo.

=> Jl.Patenggangan 71, Airtawar Barat Padang
=> Jl.KH. Ahmad Dahlan 35, Pekanbaru
=> Jl.Kenanga 6 Ampera, Kemang, Jakarta Selatan
paragaik mobile => 0812 8068 2099


Nah, sengan ko dulu yo Sanak.
Mudah-mudahan komentar 'ingkin ka mai' nan ambo kalauakan di Akaik pagi ko ado manfaatnyo buek mancas aki awak nan alah banyak swak abo liek dari jauah.
Maaf..., maaf......, dan maaf.
He he he....................

Salam..........................,
mm***





dari surau ka gereja.jpg

Andiko

unread,
Oct 13, 2013, 8:06:08 AM10/13/13
to rant...@googlegroups.com
Pak ANB, jo sanak palanta

thank untuak ulasan yang cukup panjang dan membuka pemikiran. 

Ado ciek nan jadi pertanyaan dek ambo, mungkin itu juo nan dapek jadi pisau bedah dalam mancaliak dunia sastra saat kini, yaitu materi palajaran sikola. Saingek ambo di zaman masih sikola, dipalajaran bahaso indonesia diajakan sekelumit karya-karya sastra angkatan pujangga baru jo balai pustaka. Novel semacam Tenggelamnya Kapal Vanderwij karangan Hamka, Siti Nurbaya dan sebagainyo diajakan sebagai pelajaran sejarah sastra. Puisi dari karya Amir Hamzah sampai ka Chairil Anwar dan angkatannyo diajakan di sekolah. Sebagian besar dari sastrawan itu berdarah Melayu atau Minangkabau.

Ambo indak tahu apakah setelah generasi itu, karya-karya sastra diperkenalkan di sikola-sikola. Nan ambo ingek hanyo beberapa yaitu karya 
Calzoum Bachri. Samantaro untuak Rendra, Putu Wijaya, Mochtar Lubis, apo lai pramoedya ananta toer dan banyak deretan lainnyo, kalau murik ingin tahu, itu sangat tergantu ka kretifitas dan minatnyo. Beberapa disadiokan di perpustakaan, tapi banyak murik indak mambaco karena yang wajib dipinjam ukatu ambo sikolah hanyo untuak pelajaran pokok. Untuanglah ambo ko cukup bikin repot petugas pustaka dengan minat baco, sahinggo sakali duo minggu ganti kartu pustaka maso itu karena duo minggu sakali panuah dek catatan peminjaman buku. Akhianyo ambo bebas se pinjam buku tampa kartu pustaka, yang mengakibatkan ambo dapek kemewahan pernah mambaco dari penjara-ke penjara mochtar lubis, dan banyak buku sejarah nan tasadio di pustaka sikola.

Kalau karya sastra yang diajarkan disekolah menjadi ukuran sebuah kualitas, mungkin ndak hanyo sumbar yang turun, mungkin Indonesia. Banyak karya-karya sastra yang bagus indak diajakan di sikolah, atau paliang tidak indak direkomendasikan guru. Terakhir kali belajar dari kasus beberapa Novel nan ambo bali, ambo mambali novel itu karena manuruik kawan-kawan bagus dan lamak dibaco, sahinggo ambo mengkoleksi novel karya andrea hirata sadonyo dan langit kresna hariadi tentang gajah mada. Sabalun ambo kenal pak Akmal di RN ko, ambo alah mambali novel pak akmal tentang Pak Syafruddin prawira negara karena ambo punyo satu hobby khusus mangumpuakan buku-buku yang terkait sejarah Minangkabau. Mode itu juga ambo mambali buku karangan sanak fuadi dek rekomendasi kawan-kawan, utamonyo Noven. Namun demikian, soal kisah-kisah masa kecil iko dipikiran ambo tetap tatanam karangan Aman DT. Majo Indo nan kalau indak salah judulnyo adolah pengalaman masa kecil. Dulu buku Pak ANB ambo bali dek ditempatkan di tampek strategis di Gramedia dan ado paimbau lain yaitu mulai ado wacana manjadikan pak Syafruddin manjadi pahlawan nasional di koran-koran, berikut hobby ambo mangumpuakan literatur terkait minangkabau. Namo pak Syafruddin iko sangat menarik bagi ambo setelah dicaritokan bundo Nismah dirumahnyo ukatu ambo singgah sabalum batamu buku iko di gramedia. Waktu itu kalau indak salah ambo batamu Pak Leon Agusta juo dirumah Bundo dan surprisenyo, Pak Leon iko ternyata kawannyo bundo Nismah.

Sebagai pembaca dan pembeli buku, 5 tahun terakhir ambo amati berkembang novel yang mancaritokan sejarah secara menarik dan novel sejenis laskar pelangi nan mancaritokan kisah perjuangan hiduik urang dengan caro baru. Maaf ambo indak tahu caro mambahasokan genrenyo jo bahaso sastra. Kini genre-genre itu banjir di toko-toko buku. Indak kuek juo saku ambo mangumpuakan sadonyo.

Sebagai urang awam sastra, hanyo sebagai pembeli buku dan pembaca sajo, amat sulit bagi ambo menilai apokah karya iko bagus atau bukan, karena keterbatasan ilmu sastra, tapi berdasarkan pengalaman ambo terakhir-terakhir ko, ukuran umum yang ambo pakai untuak mamiliah karya itu adolah buku nan banyak dibali urang, tapi ukuran iko tantu saat kini indak bisa dipakai sebagai ukuran bagus atau tidak, karena sangat tergantung kepada kekuatan promosi dari penerbit dan tampek buku iko dijua. Mungkin ukuran yang labiah serius bisa dipakai apakah buku iko direkomendasikan untuak sikola-sikola atau kampus-kampus manjadi bahan ajar. Tapi ambo pikia sulik juo, iko terkait jo sia pulo nan bakuaso di kurikulum sikolah jo universitas kito. 

Pertanyaan yang timbul kemudian, apokah ado dewan sastra khusus yang dapek merekomendasikan karya-karya tertentu harus diajarkan di sekolah-sekolah dan manjadi bagian dari kurikulum, antahlah.....

Salain itu ado juo pertanyaan bagi ambo, apo ukuran yang dipakai untuak manyatokan karya itu bagus atau bukan, apokah :
1. Oplah penjualannyo tinggi
2. Apokah masuak sebagai bagian nan diajakan di sekolah
3. Apokah banyak diulas di koran
4. Apokah karya iko diangkek ka film
5. Apokah karya iko diterjemahkan ka bahaso asing

Sampai sejauh iko sebagai awam sastra, alasan umum nan ambo pakai mambali buku ko sederhana sajo, dibicarakan dek kawan-kawan ambo peminat buku dan semua karya yang terkait dengan Minangkabau. 

Salam dan selamat hari rayo haji

Andiko

Muchwardi Muchtar

unread,
Oct 17, 2013, 8:17:20 PM10/17/13
to rant...@googlegroups.com
dari surau ka gereja.jpg
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages