Dunsanak komunitas r@ntaunet nan sa-akidah dan (insya Allah) sacito-cito. Untuak manambah kaceo Sanak (nan alun tau) saputa kurenah Si Hanuang kantuik, izinkanlah ambo mampalewakan tulisan nan bajudul di ateh. Paliang tidak, "K" dari ABS-SBK maamanahkan bake awak untuak mambaco dan mahinok-an kalakuan paja ko.
Salam..............,
mm***
Film-Film Hanung Yang Melecehkan Islam
1). Perempuan Berkalung Sorban
“Belum pernah selama saya ini menonton film, berapa puluh tahun lamanya, berapa ratus judul banyaknya, kalau dihitung-hitung sejak masa kanak-kanak dulu, belum pernah saya merasa dihina dan dilecehkan seperti sesudah menonton film Hanung ini. Hanung, kau keterlaluan”
Itulah curahan hati Sastrawan Taufiq Ismail ketika menanggapi Film Perempuan Berkalung Sorban karya Hanung Bramantyo. Film itu mengisahkan sistem pesantren yang dirasa mengekang perempuan. Tampilan Kyai pun dibuat Hanung begitu menyeramkan, seakan kisah teladan dakwah para Ulama di Indonesia berguguran. Wajar seorang Budayawan berkelas seperti Taufiq Ismail begitu kaget. Budaya, yang menjadi bidangnya, kini jadi wasilah untuk menyudutkan umat Islam.
Sikap Taufiq Ismail ini didukung oleh sineas senior lainnya, Misbach Yusa Biran. Misbach menyebut film garapan Hanung Bramantyo tersebut sebagai propaganda buruk terhadap pesantren.”Saya tidak bisa menahan diri,” tulis Misbach. ”Inti cerita Perempuan Berkalung Sorban ini menurut saya sangat merugikan Islam dan merupakan propaganda buruk tentang pesantren.”
Misbach menuliskan dalam film ini pesantren digambarkan sebagai tempat pendidikan yang sumpek dengan pemikirannya sangat terbelakang. ”Dewasa ini pesantren kecil di pedesaan terpencilpun rasanya sudah tidak ada yang begitu buruk pemahamannya,” katanya.
Bahkan di film ini, kata Misbach, kiai lulusan Mesir begitu digambarkan seperti seorang yang dungu karena tidak membenarkan orang membaca selain Al Qur’an. ”Sehingga seolah-olah perguruan tinggi Islam di Mesir juga digambarkan sangat terbelakang.”
2). Film ?
Masih belum lepas dari ingatan ketika tahun 2011 Hanung membuat film yang tidak kalah heboh. Judulnya cukup singkat: ?. Namun di dalamnya banyak pecelehan yang tidak bisa diselesaikan secara singkat.
Ada tayangan seorang muslim memerankan Yesus di Gereja. Muslimah yang disudutkan mau bekerja di tempat yang menjual makanan haram. Bahkan puncaknya Hanung menganggap sepele perkara pemurtadan. “Aku pindah agama bukan berarti aku mengkhianati Tuhan,” ungkap Rika, tokoh utama dalam Film ?.
Maka itu, mungkin saja Hanung menganggap sepele untuk urusan akidah. Bahkan secara tega, suami Zaskia Mecca ini memainkan pemeran murtad untuk tokoh sekaliber KH. Ahmad Dahlan yang kuat melawan Kristenisasi di Film Sang Pencerah.
Di awal-awal film itu, penonton sudah disengat dengan hal yang sensitif, seperti adegan penusukan terhadap seorang pendeta bernama Albertus. Tidak jelas apa motif penusukan yang dilakukan oleh seseorang yang berpenampilan preman tersebut. Meski tidak menunjuk hidung secara langsung, namun ada kesan Hanung hendak menggiring sterotype buruk, seolah yang suka melakukan tindakan anakis datang dari kelompok agama tertentu.
Adegan selanjutnya, tanpa alasan yang jelas pula, sekelompok pemuda Islam bersarung dan berpeci tiba-tiba mencerca seorang keturunan Cina dengan panggilan ”Cino” (menyebut Cina dengan logat Jawa). Dalam film ini, Hanung banyak menggunakan simbolik-simbolik sensasi yang didramatisir, yang berpangkal dari sebuah kemarahan terpendam.
Dangan dalih toleransi, Hanung juga menciptakan adegan seorang Muslimah berkerudung yang merasa nyaman bekerja di sebuah rumah makan (restoran) yang menyajikan daging babi yang diharamkan oleh Islam. Toleransi ala Hanung ingin mengesankan, bahwa muslimah yang diperankan oleh Revalina S Temat adalah muslimah yang ideal, yang bisa menghargai sebuah perbedaan. Meski tidak sampai memakannya, tidak terlihat kegalauan hati dari seorang Muslimah, seolah daging babi bukan sesuatu yang diharamkan.
Di sela adegan itu, ada seorang Muslimah yang menolak bekerja di sebuah restoran yang sama, dengan alasan prinsip agama yang dipegang. Namun, cara pandang Hanung yang keliru, ingin menunjukkan bahwa Muslimah yang menolak bekerja di restoran Cina karena menyajikan daging babi itu sabagai muslimah yang tidak toleran.
Kepribadian Hanung sendiri dinilai bermasalah. Pada saat proses pembuatan film Ayat-Ayat Cinta yang berlangsung saat bulan Ramadhan ia mengaku tidak menjalankan kewajiban puasa dan shalat. Tanpa rasa sungkan, Hanung berkata jujur saat diwawancarai Radio KBR 68 H, Rabu 27 Oktober 2010.
“Saya tidak melakukan salat apa pun. Saya tidak salat. Itu pada saat bulan Ramadhan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya,” katanya.
Menanggapi film ?, Ketua MUI KH. Kholil Ridwan menyatakan, “Setelah menyaksikan langsung film yang disutradarai Hanung secara utuh, saya mendapatkan kesan, aroma pluraslisme agama yang sangat menyengat dalam film ini,” katanya.
Menurutnya, pluralisme yang dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme sosiologis. Itulah yang dikenal dengan pluralitas. Misalnya saja umat Islam sudah semestinya hidup berdampingan dengan orang Kristen dan umat agama lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya.
“Jadi yang namanya kerukunan dan toleransi itu tidak boleh mengorbankan keyakinanya,” tukas Kiai Kholil mengingatkan.
3). Cinta Tapi Beda
Di akhir tahun 2012, ‘Film Cinta Tapi Beda’ mengawali petualangan Hanung dalam dunia perfilman. Film ini mengisahkan dua muda-mudi yang berbeda keyakinan. Untuk film ini, Hanung juga menggandeng sutradara Hestu Saputra dan musisi Eross Candra, yang juga pelaku cinta beda agama.
Film itu mengisahkan Cahyo (Reza Nangin), cowok ganteng asal Jogja, bekerja sebagai chef di Jakarta. Ia anak pasangan Fadholi dan Munawaroh, keluarga muslim yang taat beribadah. Cahyo berusaha lepas dari kesedihan setelah ditinggal selingkuh sang kekasih, Mitha.
Sedangkan Diana (Agni Pratistha) merupakan gadis asal Padang, Sumatera Barat, mahasiswi jurusan Seni Tari. Ia tinggal bersama om dan tantenya di Jakarta. keluarga Diana merupakan penganut Katolik taat.
Cahyo dan Diana bertemu di pertunjukan tari kontemporer di Jakarta. Mereka memutuskan berpacaran walaupun berbeda keyakinan. Mereka bahkan serius melanjutkan hubungan hingga jenjang pernikahan.
Diana was-was ketika Cahyo mengajaknya menemui orangtuanya. Ibu Cahyo bisa memahami cinta anaknya, tapi tidak Pak Fadholi. Sampai kapan pun Pak Fadholi tidak akan merestui Cahyo. Bila Cahyo memaksa, Pak Fadholi memilih memutus ikatan tali keluarga. Ternyata tidak mudah bagi Cahyo dan Diana menjalani cinta beda keyakinan.
Ibu Diana juga keberatan dengan pilihan putrinya. Kakak-kakak Diana, termasuk om dan tantenya, telah meninggalkan keyakinan mereka. Ibu Diana memaksa Diana mengikuti kehendaknya. Itu sebabnya, Diana akhirnya memilih kembali ke Padang dan menerima perjodohan dengan dokter Oka, lelaki pilihan ibunya dan seiman. Ia coba tutup hatinya untuk Cahyo.
Film ini tentu menggiring pembaca untuk membenarkan pernikahan beda agama. Padahal ini adalah perkara sensitif dalam Islam karena sudah menyangkut akidah.
Hanung pun kemudian juga harus menghadapi protes dari umat Islam Minangkabau. Keluarga Mahasiswa Minang Jaya (KMM Jaya) mendesak Hanung Bramantyo meminta maaf kepada masyarakat Minangkabau sekaligus menghentikan penayangan film tersebut di bisokop-bioskop.
“Kami pengurus pengurus pusat Keluarga Mahasiswa Minangkabau Jaya (KMM JAYA) sangat terusik (terhina) dengan film ini,” kata pengurus pusat KMM Jaya Muhammad Rozi.
Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota Payakumbuh Indra Zahur Datuak Rajo Simarajo dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Payakumbuh Haji Mismardi, juga terang-terangan, meminta film ”Cinta Tapi Beda”, dari peredaran. ”Jangan sampai ada yang beredar atau diputar lagi, apalagi di Payakumbuh,” kata mereka.
Menurut Indra Zahur dan Mismardi, film Cinta Tapi Beda, sangat tidak sesuai dengan ajaran adat Minang. ”Sejak leluhur kita mengajarkan nilai-nilai kehidupan, beragama, berkorong berkampung, nilai-nilai Islam tetap melekat dalam ajaran adat Minang. Artinya, orang Minang itu adalah kaum muslim dan muslimah, pemeluk Islam.
”Kalau ia tak beragama Islam, itu bukan orang Minang. Kami takut, film ini akan merusak sendi-sendi adat dan budaya masyarakat Minang dalam berkehidupan sehari-hari yang sangat menjaga hubungan antar sesama. Kami mencurigai, ada keinginan terselubung dari orang-orang yang ikut mendukung film tersebut ditayangkan. Misalnya, ingin menghancurkan adat dan budaya masyarakat Minang,” kata Indra Zahur dan Buya Mismardi. (Pz/Islampos)
--
Kaktu (waktu) itu kita tidak boleh berteater karena teater dianggap kegiatan yang tidak syar’i. Misalnya seperti ini: waktu itu ada adegan begini. Saya mementaskan sebuah naskah tentang tempat di bawah jembatan Kali Code. Jembatan Kali Code itu ada komunitas pelacur, preman, gitu kan. Saya menampilkan itu. Di situ harus pelacurnya pakai jilbab. Saya bilang, apa tidak lucu?!
Kalau di Iran atau Mesir, barangkali ada yang begitu itu ya…
Ya. Ini kan pelacur.
Di Jogja pula.
Ya. Di Jogja masak pelacur pakai jilbab. Apa tidak mencoreng nama Islam? Saya bilang begitu. Pokoknya semua yang tampil di atas panggung harus islami. Udah, bagaimana caranya pokoknya harus islami. Akhirnya saya ganti, bukan pelacur, tetapi perempuan tomboy. Perempuan tomboi boleh dong pakai jilbab.
Dari situlah titik awal saya menjadi sekuler. Saya menjadi nakal. Saya menjadi menolak Islam. Saya menjadi tidak suka dengan Muhammadiyah. Itulah awal karir saya menjadi “murtad”.
Perjalanan hidup Anda saja menarik untuk dijadikan film, seru banget gitu.
Seru sekali.
Kita ingin tahu penjelasan Anda menjadi “jauh dari agama” ketika itu.
Intinya setiap orang punya sesuatu yang dipakai untuk eksistensinya. Eksistensi itu kebutuhan mendasar manusia. Ketika dia bisa eksis. Dengan energi, pikiran dan obsesi dia merasa hidup. Dia merasa ada. Saya merasa bahwa keinginan saya untuk eksis itu diharamkan. Itu kan sudah mengebiri saya, membuat diri saya menjadi seorang yang salah lahir. Akhirnya saya menyalahkan takdir, menyalahkan hidup saya. Kenapa saya harus menyukai teater kalau ternyata teater atau seni itu diharamkan oleh agama saya? Dulu sempat, saking sengitnya berdebat, saya marah sekali. Karena saya nakal dan ngaco, sempat kepala sekolah saya itu bilang bahwa darah kamu itu halal untuk saya tumpahkan.
Kepala sekolahnya ngomong seperti itu?
Ya. Kepala sekolahnya ngomong seperti itu. Berarti kan…
Anda takut ketika dibilang halal darahnya seperti itu?
Ya iyalah. Takutlah. Apalagi saya siswa SMA dan dia adalah kepala sekolah dan ulama. Dia dikenal sebagai ulama pada waktu itu. Dia sering mengisi pengajian sebagai seorang ustaz yang disegani. Ibu saya dan masyarakat pengajian di kampong saya juga tahu bahwa kepala sekolah itu seorang ulama terpandang. Ketika dia bilang darah saya halal untuk ditumpahkan, berarti saya dosa dong. Nah, akhirnya saya bertanya, apakah Islam sekejam ini? Saya kemudian nyantri di pesantren Kiai Siraj, NU.
Selanjutnya hanyalah cerita si HB mencari Tuhan, yang dia sering menyebut Tuhan saat mendapat kesulitan untuk bisa syuting di Mesir, India, dll.
Tapi kalau kita lihat film-film Anda yang “Islami” itu, sebenarnya Islam yang Anda tampilkan bukan Islam konvensional, tapi Islam yang juga menggugat. Dalam Ayat-Ayat Cinta ada dialog soal kekerasan di dalam bus, tokohnya menolak kekerasan.
Sebenarnya, menurut saya, agama adalah medium sebagaimana kalau saya mau makan yang saya makan itu bukan piringnya, tapi vitamin yang ada di dalam makanannya.
Substansi?
Piring itu mau pakai porselen, pakai plastik atau pakai daun pisang, itu adalah medium. Nah, buat saya agama hanyalah medium. Substansinya saya bisa berdialog dengan Tuhan dan menghayati makna dari kata-kata Tuhan itu. Sebenarnya Tuhan itu ingin apa? Tuhan ingin berbuat apa? Pada waktu pembuatan film Ayat-Ayat Cinta saya selalu minta, gue mau ini, gue ingin itu. Tapi, apakah ini yang terbaik buat saya? Ternyata tidak. Jadi Tuhan memberikan sesuatu yang tidak saya minta, tapi itu yang terbaik buat saya. Dan buat saya, itu bukan sesuatu yang konvensional.
Tema apa dalam film yang selanjutanya akan Anda garap?
Film berikutnya tentang Islam. Film itu berisi tentang bagaimana di dalam sebuah masyarakat saya melihat ada orang non muslim. Seperti saya punya teman orang Hindu, tapi dia sangat peduli. Dia melakukan puasa. Setiap Ramadhan dia melakukan puasa karena semua karyawannya puasa. Kenapa dia puasa, karena dia yakin bahwa puasa itu sehat. Makanya dia ikut. Kemudian ada orang terdekat saya yang pindah agama dan dia merasa menjadi sangat terbuka ketika memeluk agamanya yang baru. Pada saat pindah agama, dia menjadi sangat halus budi pekertinya, tidak keras kepala. Pengalaman itu mempengaruhi pergulatan diri saya dan bagaimana saya, sebagai muslim, menyikapi semua itu. Intinya buat saya, Islam yang rahmatan lil ‘alamin adalah Islam yang merahmati siapa pun. Tidak ada di situ kata-kata merahmati hanya untuk orang Islam, tidak ada. Tapi merahmati siapa pun dan apa pun.
“AGAMA HANYA MEDIUM” V.S “AGAMA BUKAN HANYA MEDIUM” silakan setuju yang mana?
kalo yang berpikir pendek dan sempit pasti milih “AGAMA HANYA MEDIUM”
sedangkan kalo yang berpikir jauh dan luas, milihnya kan “AGAMA BUKAN HANYA MEDIUM”
sungguh pengalaman religiusitas yang jujur and apa adanya ..... salut buat mas hanung ..... walau saya bukan muslim saya semakin memahami bahwa Islam adalah rahmat untuk semua ... rencana film yang akan dibuat mengenai toleransi kita tunggu mas ... untuk film sang pencerah, mohon ijin saya jadikan materi resensi film di kelas yang saya ajar di salah satu sekolah teologi kristen ... dalam rangka pencerahan demi toleransi dan pluralitas ... sebab di lembaga seperti ini pencerahan harus dimulai ... terus maju mas Hanung ...
Kalau bikin film tentang KH Hasyim Asyari, jangan lupa bikin juga film tentang buya Mohammad Natsir. Karena ketiganya memberikan corak keislaman di NKRI
Hanung..you are not the only one who experiences difficulty in understanding ‘Islam’. My mother was Catholics and converted to Islam when I was in the High School..my Father is Muslim, definitely, but he never forced her (my mom) to convert to Islam..anyway..I myself was catholics for a while and converted to Islam since I was in the elementary school in Jakarta..during my childhood in the 80s, I witnessed Islam as a humble religion, until then by the end of 90s I witnessed Islam as ‘shown’ by the practices of some Muslims is no longer such a humble religion, it has turned to be sort of..outrageous..
Yah, maklumlah…
kalau agama Islam yang merupakan way of life dijadikan media.
apalagi media untuk cari duit buat ngisi kantong sendiri & mencekoki unsur-unsur hedonis ke dalam kehidupan Islam.
Yah maklumlah…
