Film-Film Hanung Yang Melecehkan Islam

162 views
Skip to first unread message

Muchwardi Muchtar

unread,
Jan 16, 2013, 5:16:17 AM1/16/13
to rant...@googlegroups.com

Dunsanak komunitas r@ntaunet nan sa-akidah dan (insya Allah) sacito-cito. Untuak manambah kaceo Sanak (nan alun tau) saputa kurenah Si Hanuang kantuik, izinkanlah ambo mampalewakan tulisan nan bajudul di ateh. Paliang tidak, "K" dari ABS-SBK maamanahkan bake awak untuak mambaco dan mahinok-an kalakuan paja ko.

Salam..............,

mm***

Film-Film Hanung Yang Melecehkan Islam

1). Perempuan Berkalung Sorban

“Belum pernah selama saya ini menonton film, berapa puluh tahun lamanya, berapa ratus judul banyaknya, kalau dihitung-hitung sejak masa kanak-kanak dulu, belum pernah saya merasa dihina dan dilecehkan seperti sesudah menonton film Hanung ini. Hanung, kau keterlaluan”

Itulah curahan hati Sastrawan Taufiq Ismail ketika menanggapi Film Perempuan Berkalung Sorban karya Hanung Bramantyo. Film itu mengisahkan sistem pesantren yang dirasa mengekang perempuan. Tampilan Kyai pun dibuat Hanung begitu menyeramkan, seakan kisah teladan dakwah para Ulama di Indonesia berguguran. Wajar seorang Budayawan berkelas seperti Taufiq Ismail begitu kaget. Budaya, yang menjadi bidangnya, kini jadi wasilah untuk menyudutkan umat Islam.

Sikap Taufiq Ismail ini didukung oleh sineas senior lainnya, Misbach Yusa Biran. Misbach menyebut film garapan Hanung Bramantyo tersebut sebagai propaganda buruk terhadap pesantren.”Saya tidak bisa menahan diri,” tulis Misbach. ”Inti cerita Perempuan Berkalung Sorban ini menurut saya sangat merugikan Islam dan merupakan propaganda buruk tentang pesantren.”

Misbach menuliskan dalam film ini pesantren digambarkan sebagai tempat pendidikan yang sumpek dengan pemikirannya sangat terbelakang. ”Dewasa ini pesantren kecil di pedesaan terpencilpun rasanya sudah tidak ada yang begitu buruk pemahamannya,” katanya.

Bahkan di film ini, kata Misbach, kiai lulusan Mesir begitu digambarkan seperti seorang yang dungu karena tidak membenarkan orang membaca selain Al Qur’an. ”Sehingga seolah-olah perguruan tinggi Islam di Mesir juga digambarkan sangat terbelakang.”

2). Film ?

Masih belum lepas dari ingatan ketika tahun 2011 Hanung membuat film yang tidak kalah heboh. Judulnya cukup singkat: ?. Namun di dalamnya banyak pecelehan yang tidak bisa diselesaikan secara singkat.

Ada tayangan seorang muslim memerankan Yesus di Gereja. Muslimah yang disudutkan mau bekerja di tempat yang menjual makanan haram. Bahkan puncaknya Hanung menganggap sepele perkara pemurtadan. “Aku pindah agama bukan berarti aku mengkhianati Tuhan,” ungkap Rika, tokoh utama dalam Film ?.

Maka itu, mungkin saja Hanung menganggap sepele untuk urusan akidah. Bahkan secara tega, suami Zaskia Mecca ini memainkan pemeran murtad untuk tokoh sekaliber KH. Ahmad Dahlan yang kuat melawan Kristenisasi di Film Sang Pencerah.

Di awal-awal film itu, penonton sudah disengat dengan hal yang sensitif, seperti  adegan penusukan terhadap seorang pendeta bernama Albertus. Tidak jelas apa motif penusukan yang dilakukan oleh seseorang yang berpenampilan preman tersebut. Meski tidak menunjuk hidung secara langsung, namun ada kesan Hanung hendak menggiring sterotype buruk, seolah yang suka melakukan tindakan anakis datang dari kelompok agama tertentu.

Adegan selanjutnya, tanpa alasan yang jelas pula, sekelompok pemuda Islam bersarung dan berpeci tiba-tiba mencerca seorang keturunan Cina dengan panggilan ”Cino” (menyebut Cina dengan logat Jawa). Dalam film ini, Hanung banyak menggunakan simbolik-simbolik sensasi yang didramatisir, yang berpangkal dari sebuah kemarahan terpendam.

Dangan dalih toleransi, Hanung juga menciptakan adegan seorang Muslimah berkerudung yang merasa nyaman bekerja di sebuah rumah makan (restoran) yang menyajikan daging babi yang diharamkan oleh Islam. Toleransi ala Hanung ingin mengesankan, bahwa muslimah yang diperankan oleh Revalina  S Temat adalah muslimah yang ideal, yang bisa menghargai sebuah perbedaan. Meski tidak sampai memakannya, tidak terlihat kegalauan hati dari seorang Muslimah, seolah daging babi bukan sesuatu yang diharamkan.

Di sela adegan itu, ada seorang Muslimah yang menolak bekerja di sebuah restoran yang sama, dengan alasan prinsip agama yang dipegang. Namun, cara pandang Hanung yang keliru, ingin menunjukkan bahwa Muslimah yang menolak bekerja di restoran Cina karena menyajikan daging babi itu sabagai muslimah yang tidak toleran.

Kepribadian Hanung sendiri dinilai bermasalah. Pada saat proses pembuatan film Ayat-Ayat Cinta  yang berlangsung saat bulan Ramadhan ia mengaku tidak menjalankan kewajiban puasa dan shalat. Tanpa rasa sungkan, Hanung berkata jujur saat diwawancarai Radio KBR 68 H, Rabu 27 Oktober 2010.

“Saya tidak melakukan salat apa pun. Saya tidak salat. Itu pada saat bulan Ramadhan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya,”  katanya.

Menanggapi film ?, Ketua MUI KH. Kholil Ridwan menyatakan, “Setelah menyaksikan langsung film yang disutradarai Hanung secara utuh, saya mendapatkan kesan, aroma pluraslisme agama yang sangat menyengat dalam film ini,” katanya.

Menurutnya, pluralisme yang dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme sosiologis. Itulah yang dikenal dengan pluralitas. Misalnya saja umat Islam sudah semestinya hidup berdampingan dengan orang Kristen dan umat agama lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya.

“Jadi yang namanya kerukunan dan toleransi itu tidak boleh mengorbankan keyakinanya,” tukas Kiai Kholil mengingatkan.

3). Cinta Tapi Beda

Di akhir tahun 2012, ‘Film Cinta Tapi Beda’ mengawali petualangan Hanung dalam dunia perfilman.  Film ini mengisahkan dua muda-mudi yang berbeda keyakinan. Untuk film ini, Hanung juga menggandeng sutradara Hestu Saputra dan musisi Eross Candra, yang juga pelaku cinta beda agama.

Film itu mengisahkan Cahyo (Reza Nangin), cowok ganteng asal Jogja, bekerja sebagai chef di Jakarta. Ia anak pasangan Fadholi dan Munawaroh, keluarga muslim yang taat beribadah. Cahyo berusaha lepas dari kesedihan setelah ditinggal selingkuh sang kekasih, Mitha.

Sedangkan Diana (Agni Pratistha) merupakan gadis asal Padang, Sumatera Barat, mahasiswi jurusan Seni Tari. Ia tinggal bersama om dan tantenya di Jakarta. keluarga Diana merupakan penganut Katolik taat.

Cahyo dan Diana bertemu di pertunjukan tari kontemporer di Jakarta. Mereka memutuskan berpacaran walaupun berbeda keyakinan. Mereka bahkan serius melanjutkan hubungan hingga jenjang pernikahan.

Diana was-was ketika Cah­yo mengajaknya menemui orangtuanya. Ibu Cahyo bisa me­mahami cinta anaknya, tapi tidak Pak Fadholi. Sampai kapan pun Pak Fadholi tidak akan merestui Cahyo. Bila Cah­yo memaksa, Pak Fadholi me­milih memutus ikatan tali ke­luarga. Ternyata tidak mu­dah bagi Cahyo dan Diana men­ja­lani cinta beda keyakinan.

Ibu Diana juga keberatan dengan pilihan putrinya. Ka­kak-kakak Diana, termasuk om dan tantenya, telah me­ning­galkan keyakinan me­reka. Ibu Diana memaksa Diana me­ngi­kuti kehendaknya. Itu se­bab­nya, Diana akhirnya me­mi­lih kembali ke Padang dan me­nerima perjodohan dengan do­kter Oka, lelaki pilihan ibu­nya dan seiman. Ia coba tutup ha­tinya untuk Cahyo.

Film ini tentu menggiring pembaca untuk membenarkan pernikahan beda agama. Padahal ini adalah perkara sensitif dalam Islam karena sudah menyangkut akidah.

Hanung pun kemudian juga harus menghadapi protes dari umat Islam Minangkabau. Keluarga Mahasiswa Minang Jaya (KMM Jaya) mendesak Hanung Bramantyo meminta maaf kepada masyarakat Minangkabau sekaligus menghentikan penayangan film tersebut di bisokop-bioskop.

“Kami pengurus pengurus pusat Keluarga Mahasiswa Minangkabau Jaya (KMM JAYA) sangat terusik (terhina) dengan film ini,” kata pengurus pusat KMM Jaya Muhammad Rozi.

Ke­tua Umum Lembaga Kera­patan Adat Alam Minang­ka­bau (LKAAM) Kota Pa­ya­kum­buh Indra Zahur Da­tuak Rajo Simarajo dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Paya­k­umbuh Haji Mismardi, juga terang-terangan, meminta film ”Cinta Tapi Beda”, dari peredaran. ”Jangan sampai ada yang bere­dar atau diputar lagi, apalagi di Payakumbuh,” kata mereka.

Menurut Indra Zahur dan Mismardi, film Cinta Tapi Beda, sangat tidak sesuai de­ngan ajaran adat Minang. ”Se­jak leluhur kita menga­jarkan ni­lai-nilai kehidupan, ber­aga­ma, berkorong berkampung, nilai-nilai Islam tetap melekat da­lam ajaran adat Minang.  Artinya, orang Minang itu ada­lah kaum muslim dan mus­limah, pemeluk Islam.

”Kalau ia tak beragama Islam, itu bukan orang Minang. Ka­mi takut, film ini akan merusak sendi-sendi adat dan bu­daya masyarakat Minang da­lam berkehidupan sehari-ha­ri yang sangat menjaga hu­bu­ngan antar sesama. Kami men­curigai, ada keinginan terse­lu­bung dari orang-orang yang ikut mendukung film tersebut ditayangkan. Misalnya, ingin  menghancurkan adat dan bu­daya masyarakat Minang,” kata Indra Zahur dan Buya Mis­mardi. (Pz/Islampos)

 

Dr Saafroedin Bahar

unread,
Jan 16, 2013, 5:37:27 AM1/16/13
to Rantau Net Rantau Net
Bung mm*** dari fakta nan Bung tampilkan, nampaknyo memang ado missi idiologi bung Hanung iko mengobrak-abrik nilai-nilai dasar masyarakat, khususnyo Islam dan Minangkabau. Kini BK3AM dan KMM Jaya alah maambiak langkah hukum dan langkah non hukum. Paralu kito dukuang basamo.
Wassalam,
SB.
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.

From: Muchwardi Muchtar <much...@rantaunet.org>
Date: Wed, 16 Jan 2013 17:16:17 +0700
Subject: [R@ntau-Net] Film-Film Hanung Yang Melecehkan Islam
--
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
 
 
 

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 17, 2013, 1:38:23 AM1/17/13
to rant...@googlegroups.com
Mak MM NAH,
satalah banyak thread tentang HB dan film CTB ko di Palanta RN, izinkan ambo ikuik bapandapek aa nan ambo tahu tentang HB, paling tidak sebagai upaya memperluas perspektif pemahaman.

Sependek pengetahuan ambo, paling tidak ado 3 filmnya yang merupakan hasil kerjasama dengan tiga novelis, yakni "Perempuan Berkalung Sorban" (novel karya Abidah El Khalieqy, 2001), "Ayat-ayat Cinta" (novel karya Habiburrahman El-Shirazy, 2004), dan "Sang Pencerah" (novel karya Akmal Nasery Basral, 2010).

1. "Perempuan Berkalung Sorban"

Meski yang banyak dikecam orang dari "PBS" adalah versi filmnya, namun sebetulnya isi novel Abidah, sastrawati Jombang dari kultur pesantren (NU), tak berbeda jauh dari isi film Hanung. Bahkan Abidah juga muncul selintas dalam scene film itu.

Kalau Mak MM menyebut adonya kecaman Taufiq Ismail terhadap PBS, kebetulan Mei 2012 ambo sampek satu oto jo Pak TI raun-raun dari Aie Angek ke Maninjau. Dan salah satu pembicaraan adolah manyangkuik PBS ko. Pak TI tahu bahwa film PBS adolah adaptasi dari novel Abidah El Khalieqy, yang sejak awal mengonsep novel itupun sudah hendak "meneriakkan" isu perempuan dalam lingkungan (pesantren) yang patriarkal.(Link-link soal ini bisa mudah dicari di internet).

Justru hal inilah yang kemudian "disesalkan" Pak Taufiq Ismail, kenapa (ternyata) banyak orang yang "membombardir" Hanung tanpa tahu bahwa novelnya juga tak kalah sensitif. "Yang saya sayangkan, kenapa Abidah juga bermain di film itu," keluh Pak TI kepada ambo (waktu itu awak di daerah sekitar Batu Palano). "Meski menurut Abidah, sebagai film memang ado adaptasi-adaptasi kreatif yang dilakukan HB yang tak ada di novel aslinya."

(Ini tema lain soal ekranisasi novel, karena sutradara sekaliber Francis Ford Coppola pun akan "menyunting" karya legendaris Mario Puzo "The Godfather" sesuai seleranya sendiri. Misalnya urutan film "The Godfather" 1, 2, 3, itu sebetulnya menyimpang dari novelnya. Urutan film pertama Coppola adalah novel kedua dalam trilogi Godfather. Sedangkan film kedua Coppola, adalah novel pertama Puzo, baru pada film ketiga Coppola taat pada novel ketiga Puzo).

Lebih dari itu, seorang sutradara seperti Hanung (jangankan Hanung, bahkan sekaliber Akira Kurosawa atau Alfred Hitchcock pun akan menyutradarai berdasarkan skenario). Nah, skenario PBS ditulis oleh Gina S. Noer (muslimah, berjilbab), istri penulis skenario Salman Aristo (anak Minang, bekas anak buah ambo di majalah MTV Trax). Ambo tahu cara kerja Gina-Aris yang sangat kompak dan saling memberikan masukan satu sama lain.

Untuak mampasingkek carito: PBS adolah hasil kerja banyak orang, mulai dari novelnya yang ditulis orang lain (bukan Hanung), sampai skenario yang juga ditulis orang lain (bukan Hanung). Sehingga kalau pun film ini disutradarai oleh orang lain yang bukan Hanung (katakanlah sutradara Minang, John de Rantau atau Enison Sinaro) dengan materi novel dan skenario yang sudah "seperti itu" hasil akhir filmnya tidak akan jauh berbeda. 

2. "Ayat-ayat Cinta"

Cuplikan wawancara Hanung yang menyatakan dia tidak sholat saat mengerjakan AAC, menurut ambo sudah terlalu jauh dilepaskan dari konteksnya. Sebab kalau keseluruhan wawancara itu dibaca (transkrip terlampir di bawah ini), justru setelah menyatakan dia tidak sholat itu, Hanung (di akhir wawancara) menyadari kesombongan dirinya, yang ternyata tidak ada apa-apanya di bawah kehendak Allah. Semua yang direncanakan HB di kepalanya, luluh lantak di lapangan, karena Allah menunjukkan kekuasaanNya yang tak pernah disangka-sangka HB.

Jika wawancara di bawah ini dibaca dengan mengenyampingkan kebencian terhadap HB dan melihatnya sebagai bagian dari upaya pencarian seorang anak manusia terhadap esensi relijiusitas dan keilahian, saya malah terharu membayangkan Hanung harus "tersuruk-suruk" seberat itu dalam pencariannya untuk menjadi YAKIN.

Pada wawancara ini, HB menjelaskan dengan lengkap detil keluarganya, siapa ayahnya, siapa ibunya. Sebuah wawancara yang jujur menurut saya. Butuh keberanian untuk mengungkapkan pergulatan batin seperti yang dilakukan HB dalam wawancaranya ini.



3. "Sang Pencerah"

Satu hari di bulan April 2009, saya ditelpon Gangsar Sukrisno (waktu itu GM Bentang Pustaka, kelompok Mizan. GS adalah orang yang "menemukan" Andrea Hirata, di mana pada dua launching awal sekuel Laskar Pelangi, dan Sang Pemimpi, saya menjadi pembahasnya di tahun 2005 dan 2006). GS meminta saya datang ke MP Book Point (Cipete) yang sekarang sudah tidak ada. Saya datang dan bertemu Hanung. (Sudah kenal sejak 2003/2004 tapi tak sering bertemu). Kami bertiga membicarakan ide awal Hanung yang ingin memfilmkan kisah KH Ahmad Dahlan dalam mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah.

Hanung cerita bahwa ayahnya adalah Pengurus Muhammadiyah di Yogyakarta dan rumah mereka sangat dekat dengan Kauman, tempat Kiai Dahlan. HB pun kini kenal dengan cucu dan cicit Kiai Dahlan. Dari sana proyek berjalan simultan. Saya mengembangkan novel, Hanung mengembangkan skenario, setelah kami menyepakati tahun-tahun utama (time line) dari kehidupan KH Ahmad Dahlan. Kami riset ke Yogya, ke Kraton, ke ahli waris keluarga KH Ahmad Dahlan, dll.

Singkat cerita, novel saya keluar lebih dulu, persis Juli 2010 saat Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta, dirilis dan dibedah di sebuah toko buku utama di sana oleh Dr. Abdul Mu'thi, sejarawan Muhammadiyah.
Hanung, Zaskia Mecca, dan tim yang baru kelar syuting datang.

(Dari editor Mizan, Suhindrati Shinta, yang mengoordinasi proyek novel dan film "Sang Pencerah" saya dapat cerita, bahwa HB saat syuting berlangsung dia baru sempat baca draf novel saya separuh saja dan tidak bisa melanjutkan. "Kenapa tidak sampai habis?" tanya Shinta. "Karena setelah membaca novel Mas Akmal, rasanya saya ingin syuting ulang seluruh adegan lagi," jawab Hanung. Tapi apa boleh buat, dia sudah syuting dua minggu).

Singkat cerita ketika film preview di bulan September, saya bertemu dengan Raam Punjabi (dari Multivision Plus yang memodali film "Sang Pencerah"). DOP (Director of Photography, dulu sebutannya Camera Man) film "Sang Pencerah" Faozan Rizal (sekarang menjadi sutradara film "Habibie-Ainun") bilang ke Raam, "Pak Raam ini Mas Akmal yang nulis novelnya. Harusnya Hanung syuting mengikuti novel mas Akmal. pasti hasilnya lebih bagus."
Hanung mesem-mesem saja mendengar itu. Ini kejadian di Epicentrum Kuningan.

Ada yang aneh dengan "Sang Pencerah" ini, dalam hal tanggapan publik terhadap novel dan filmnya. Sementara novelnya terpilih sebagai Fiksi Terbaik Islamic Book Fair 2011 dengan acara selebrasi penyerahan hadiah di Istora Senayan, diserahkan oleh Mahfud MD (Dewan juri diketuai oleh Azyumardi Azra, dan salah satu anggota adalah Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Ahmadun Y. Herfanda, eks Redaktur Budaya Republika), dan saya mendapat undangan hampir dari seluruh cabang Muhammadiyah untuk membahas novel ini (termasuk dari Padang),
film "Sang Pencerah" yang disutradarai Hanung bahkan lolos seleksi FFI 2010 pun tidak!

Dan ini menjadi skandal besar di akhir 2010 yang membuat insan perfilman terbelah dua. Ketua Dewan Juri Jujur Prananto (penulis skenario dan cerpenis produktif) mengundurkan diri bersama anggota lain (termasuk juga Remy Silado, dll) karena penjegalan terhadap "Sang Pencerah" (film) masuk sebagai kandidat itu dilakukan oleh tim seleksi awal dengan alasan... cerita film banyak menyimpang dari sejarah!

Lho? Meski versi novel dan film tidak 100 % persis, tapi bagaimana mungkin novel "Sang Pencerah" (yang kebetulan saya tulis), bisa memenangkan penghargaan tertinggi (Fiksi Terbaik Islamic Book Fair) dengan juri para akademisi dan sastrawan nasional, sementara filmnya sekadar masuk daftar seleksi pun tidak! (Yang sudah menonton "Sang Pencerah" dan membaca versi novel saya, tentu akan tahu mana persamaan dan mana perbedaan DETIL antara kedua karya kreatif itu. Misalnya soal haji. Di film, karena keterbatasan durasi, HB tak bisa mengeksplor banyak soal haji yang dialami Kiai Dahlan. Sementara di novel, saya menautkan haji dengan kebijakan Pemerintah Hindia Belanda saat itu yang memantau ketat para haji yang baru pulang dari Tanah Suci, sikap paranoid warisan Raffles yang menulis dalam The Story of Java, karena haji dianggap sebagai "provokator" dan "motor pemberontakan" di banyak tempat. Sebuah kesadaran tak mau dijajah yang mereka dapatkan sebagai hasil berinteraksi dengan umat Islam lain di Tanah Suci. Sehingga, cara berpakaian haji dan kelas duduk di kereta api pun untuk para haji diatur sangat ketat agar Belanda mudah memantau mereka. Detil-detil ini di film tak bisa muncul karena masalah durasi tadi. Ini baru satu contoh saja).

Singkat cerita, terjegalnya HB, lewat "Sang Pencerah" di FFI 2010 pun disayangkan banyak pihak yang berbalik menjadi mendukungnya karena jelas-jelas terjadi diskriminasi dengan alasan sumir. Dan terungkap pula kemudian bahwa penyebab penjegalan itu adalah alasan "non-teknis" yang tak bisa saya share di sini.

Politicking, politicking, politicking! 

Saya heran betul waktu itu melihat betapa "mustahalnya" perlakuan yang diterima oleh novel "Sang Pencerah" dan film "Sang Pencerah", yang secara garis besar batang tubuh ceritanya adalah ... sama! Yakni perjuangan KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 1912.

Belum lagi di Bali Post muncul headline, "Orang Hindu Biayai Film Tokoh Islam."

Sad but true! Karena Raam Punjabi adalah salah satu tokoh Hindu.

Poor Hanung. Very painful.

Sudahlah dalam tahap pre-produksi PH-PH Islam atau tokoh-tokoh Islam tak ada yang mau funding, angkat tangan setelah melihat budget untuk film outdoor yang membuat replika Yogya di awal abad ke-20, dan umumnya -- seperti kebiasaan para tokoh kita -- "kami mendukung, kami mendukung" (Memangnya bikin film bisa petik daun dari pinggir jalan?) Tapi tak ada kontribusi riil. Giliran film tentang TOKOH ISLAM jadi dan diganjal di sana-sini, semua menarik kepala seperti siput ke dalam cangkangnya.

Very-very-very painful. Terutama sekali buat Hanung.

Dan Demi Allah, Demi Rasul-Nya saya melihat, dengan mata kepala sendiri, Hanung SHOLAT selama pengerjaan "Sang Pencerah" (Itu sebabnya saya sebutkan konteks Hanung bilang dia "tidak sholat waktu pengerjaan Ayat-ayat Cinta" jangan dilepas konteksnya). Bahkan saat "Sang Pencerah" dibahas, didiskusikan di PP Muhammadiyah Menteng (kalau tidak salah sebagian besar peserta saat itu adalah guru SD Muhammadiyah se-Jabotabek) pada saat sholat Ashar, HB sendiri yang diminta jadi imam oleh banyak jamaah yang anggota Muhammadiyah.


4. Tentang "Cinta Tapi Beda" saya tak bisa komentar karena alasan sederhana saja: saya belum menonton filmnya. Karena saya pernah menjadi Redaktur Film baik di Gatra maupun Tempo, saya mengharuskan diri saya untuk menonton sebuah film jika saya ingin berpendapat tentang film itu, seperti saya harus membaca tuntas sebuah buku jika saya ingin berkomentar tentang sebuah buku. Bukan hanya dari sinopsis yang lalu-lalang dan sudah diisi banyak kepentingan.

5. Posting saya ini tidak untuk membela Hanung, karena dia punya hak (dan tanggung jawab) untuk membela dirinya sendiri. Tetapi membombardirnya membabi buta tanpa mengetahui latar belakang masalahnya, dan seakan-akan seluruh karya Hanung hanya "pelecehan" terhadap Islam, adalah juga sebuah judgement yang dipenuhi syak wasangka karena sangat bias. Paling tidak, Hanung juga pernah membuat "Sang Pencerah" dan "Ayat-ayat Cinta" yang mau ditinjau dari sudut mana pun, tak ada sama sekali unsur yang bisa disebut pelecehan terhadap Islam.

Kalau dari dinamika proses kreatif seorang Hanung Bramantyo ada naik dan turun, seperti pesan Mak Darwin Bahar di Palanta ini yang sangat bijak, berulang kali: shoot the message, not the messenger.
 

Bahkan kalau pun Islam kita "sudah sempurna" , tak ada hak kita seujung rambut pun untuk menilai keimanan orang lain karena hak itu hanyalah milik Allah semata. Kewajiban muslim terhadap muslim lainnya hanya saling mengingatkan, secara santun. Jauhi penggunaan kata-kata yang seakan-akan "ana khoirum minhu" (saya lebih baik dari dia).

Demikian pendapat ambo, Mak MM*** NAH. 

Allahu a'lam.

Wassalam,

ANB
44+, Cibubur

 











--

Lies Suryadi

unread,
Jan 17, 2013, 2:44:52 AM1/17/13
to rant...@googlegroups.com
Dek manyabuik namo novelis Abidah el-Khalieqy, rancak dicari info labiah banyak mengenai FORUM LINGKAR PENA. A bana misi forum penulis ko. Kabatulan di BKI ambo liek ado satu artikel ilmiah tentang penulis ko dan karya2nyo.
 
Salam,
Suryadi

Dedi Suryadi

unread,
Jan 17, 2013, 4:31:06 AM1/17/13
to rant...@googlegroups.com
ambo hanyo ingin menyampaikan pandangan sajo, dari tulisan Pak Akmal..

1. Pernah ado simbiosis mutualisme, saat membuat film Sang Pencerah antaro Pak Akmal jo si HB.
2. Menarik juo mambaco kisah si HB melalui situs JIL, Jaringan Islam Liberal ko... Kok lewat situs JIL yo, bukan situs islam lainnyo..? Mudah-mudahan Pak Akmal pun bukan bagian dari Islam Liberal ko, walaupun apak maambiak kisah pembelaan ko dari JIL tu. Ambo banyak mambaco berita juo, yang memang mengkhawatirkan kalau si HB ko memang bagian dari JIL. Ntah batua ntah indak, ntahlah..
3. Ambo, dari kisah di situs JIL tu, iyo maraso ado "kelainan" atau kecek rang Jawa "nyeleneh" jo ide-ide si HB ko, contoh waktu dia bermain teater di sekolah islam Muhammadiyah dibawah ko. Mungkin karano memang inyo adolah salah satu nan bapaham Islam Liberal juo...mungkin...

Hanung Bramantyo: “Agama Hanyalah Medium”


...

Kaktu (waktu) itu kita tidak boleh berteater karena teater dianggap kegiatan yang tidak syar’i. Misalnya seperti ini: waktu itu ada adegan begini. Saya mementaskan sebuah naskah tentang tempat di bawah jembatan Kali Code. Jembatan Kali Code itu ada komunitas pelacur, preman, gitu kan. Saya menampilkan itu. Di situ harus pelacurnya pakai jilbab. Saya bilang, apa tidak lucu?!

Kalau di Iran atau Mesir, barangkali ada yang begitu itu ya…

Ya. Ini kan pelacur.

Di Jogja pula.

Ya. Di Jogja masak pelacur pakai jilbab. Apa tidak mencoreng nama Islam? Saya bilang begitu. Pokoknya semua yang tampil di atas panggung harus islami. Udah, bagaimana caranya pokoknya harus islami. Akhirnya saya ganti, bukan pelacur, tetapi perempuan tomboy. Perempuan tomboi boleh dong pakai jilbab.

trus...

Dari situlah titik awal saya menjadi sekuler. Saya menjadi nakal. Saya menjadi menolak Islam. Saya menjadi tidak suka dengan Muhammadiyah. Itulah awal karir saya menjadi “murtad”.

Perjalanan hidup Anda saja menarik untuk dijadikan film, seru banget gitu.

Seru sekali. 

Kita ingin tahu penjelasan Anda menjadi “jauh dari agama” ketika itu.

Intinya setiap orang punya sesuatu yang dipakai untuk eksistensinya. Eksistensi itu kebutuhan mendasar manusia. Ketika dia bisa eksis. Dengan energi, pikiran dan obsesi dia merasa hidup. Dia merasa ada. Saya merasa bahwa keinginan saya untuk eksis itu diharamkan. Itu kan sudah mengebiri saya, membuat diri saya menjadi seorang yang salah lahir. Akhirnya saya menyalahkan takdir, menyalahkan hidup saya. Kenapa saya harus menyukai teater kalau ternyata teater atau seni itu diharamkan oleh agama saya? Dulu sempat, saking sengitnya berdebat, saya marah sekali. Karena saya nakal dan ngaco, sempat kepala sekolah saya itu bilang bahwa darah kamu itu halal untuk saya tumpahkan.

Kepala sekolahnya ngomong seperti itu?

Ya. Kepala sekolahnya ngomong seperti itu. Berarti kan…

Anda takut ketika dibilang halal darahnya seperti itu?

Ya iyalah. Takutlah. Apalagi saya siswa SMA dan dia adalah kepala sekolah dan ulama. Dia dikenal sebagai ulama pada waktu itu. Dia sering mengisi pengajian sebagai seorang ustaz yang disegani. Ibu saya dan masyarakat pengajian di kampong saya juga tahu bahwa kepala sekolah itu seorang ulama terpandang. Ketika dia bilang darah saya halal untuk ditumpahkan, berarti saya dosa dong. Nah, akhirnya saya bertanya, apakah Islam sekejam ini? Saya kemudian nyantri di pesantren Kiai Siraj, NU.

Selanjutnya hanyalah cerita si HB mencari Tuhan, yang dia sering menyebut Tuhan saat mendapat kesulitan untuk bisa syuting di Mesir, India, dll.

Penutupan :

Tapi kalau kita lihat film-film Anda yang “Islami” itu, sebenarnya Islam yang Anda tampilkan bukan Islam konvensional, tapi Islam yang juga menggugat. Dalam Ayat-Ayat Cinta ada dialog soal kekerasan di dalam bus, tokohnya menolak kekerasan.

Sebenarnya, menurut saya, agama adalah medium sebagaimana kalau saya mau makan yang saya makan itu bukan piringnya, tapi vitamin yang ada di dalam makanannya.

Substansi?

Piring itu mau pakai porselen, pakai plastik atau pakai daun pisang, itu adalah medium. Nah, buat saya agama hanyalah medium. Substansinya saya bisa berdialog dengan Tuhan dan menghayati makna dari kata-kata Tuhan itu. Sebenarnya Tuhan itu ingin apa? Tuhan ingin berbuat apa? Pada waktu pembuatan film Ayat-Ayat Cinta saya selalu minta, gue mau ini, gue ingin itu. Tapi, apakah ini yang terbaik buat saya? Ternyata tidak. Jadi Tuhan memberikan sesuatu yang tidak saya minta, tapi itu yang terbaik buat saya. Dan buat saya, itu bukan sesuatu yang konvensional.

Tema apa dalam film yang selanjutanya akan Anda garap?

Film berikutnya tentang Islam. Film itu berisi tentang bagaimana di dalam sebuah masyarakat saya melihat ada orang non muslim. Seperti saya punya teman orang Hindu, tapi dia sangat peduli. Dia melakukan puasa. Setiap Ramadhan dia melakukan puasa karena semua karyawannya puasa. Kenapa dia puasa, karena dia yakin bahwa puasa itu sehat. Makanya dia ikut. Kemudian ada orang terdekat saya yang pindah agama dan dia merasa menjadi sangat terbuka ketika memeluk agamanya yang baru. Pada saat pindah agama, dia menjadi sangat halus budi pekertinya, tidak keras kepala. Pengalaman itu mempengaruhi pergulatan diri saya dan bagaimana saya, sebagai muslim, menyikapi semua itu. Intinya buat saya, Islam yang rahmatan lil ‘alamin adalah Islam yang merahmati siapa pun. Tidak ada di situ kata-kata merahmati hanya untuk orang Islam, tidak ada. Tapi merahmati siapa pun dan apa pun.



komentar pembaca :

“AGAMA HANYA MEDIUM” V.S “AGAMA BUKAN HANYA MEDIUM” silakan setuju yang mana?
kalo yang berpikir pendek dan sempit pasti milih “AGAMA HANYA MEDIUM”
sedangkan kalo yang berpikir jauh dan luas, milihnya kan “AGAMA BUKAN HANYA MEDIUM”

Posted by Away  on  10/28  at  10:42 PM

sungguh pengalaman religiusitas yang jujur and apa adanya ..... salut buat mas hanung ..... walau saya bukan muslim saya semakin memahami bahwa Islam adalah rahmat untuk semua ... rencana film yang akan dibuat mengenai toleransi kita tunggu mas ... untuk film sang pencerah, mohon ijin saya jadikan materi resensi film di kelas yang saya ajar di salah satu sekolah teologi kristen ... dalam rangka pencerahan demi toleransi dan pluralitas ... sebab di lembaga seperti ini pencerahan harus dimulai ... terus maju mas Hanung ...

Posted by immanuel yosua  on  09/17  at  01:44 AM

Kalau bikin film tentang KH Hasyim Asyari, jangan lupa bikin juga film tentang buya Mohammad Natsir. Karena ketiganya memberikan corak keislaman di NKRI

Posted by Sunan Kudus Giri  on  08/01  at  08:56 PM

Hanung..you are not the only one who experiences difficulty in understanding ‘Islam’. My mother was Catholics and converted to Islam when I was in the High School..my Father is Muslim, definitely, but he never forced her (my mom) to convert to Islam..anyway..I myself was catholics for a while and converted to Islam since I was in the elementary school in Jakarta..during my childhood in the 80s, I witnessed Islam as a humble religion, until then by the end of 90s I witnessed Islam as ‘shown’ by the practices of some Muslims is no longer such a humble religion, it has turned to be sort of..outrageous..

Posted by hellocilik  on  04/14  at  04:33 PM

Yah, maklumlah…
kalau agama Islam yang merupakan way of life dijadikan media.
apalagi media untuk cari duit buat ngisi kantong sendiri & mencekoki unsur-unsur hedonis ke dalam kehidupan Islam.
Yah maklumlah…

Posted by no_body  on  12/02  at  06:52 AM



Salam dan Terima Kasih,
Dedi Suryadi


_____________________________________________________________________________
                       *****    Sukses Seringkali Datang Pada Mereka Yang Berani Bertindak Dan   *****
      *****Jarang Menghampiri Penakut Yang Tidak Berani Mengambil Konsekuensi (Jawaharlal Nehru) *****
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
         "The Best Human Being Among of You is The Most Beneficial for The Others" (Hadith by Bukhari)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
****...."Kasihilah Yang Di Bumi, Maka Yang Di Langit Akan Mengasihimu...".....*****
                  "Love What On Earth, Then What On Sky Will Love You ..."

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 17, 2013, 9:29:06 AM1/17/13
to rant...@googlegroups.com
Ajo Sur, 
iko laman resmi FLP

Salam,

ANB


Pada 17 Januari 2013 14.44, Lies Suryadi <niad...@yahoo.co.id> menulis:

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 17, 2013, 9:58:47 AM1/17/13
to rant...@googlegroups.com
Ambo hanyo ingin menyampaikan pandangan sajo, dari tulisan Pak Akmal..

---------
ANB: Silakan Pak Dedi NAH
---------

1. Pernah ado simbiosis mutualisme, saat membuat film Sang Pencerah antaro Pak Akmal jo si HB.

--------
ANB: Iko nan namonyo "leading" dalam standar penelitian, kesimpulan yang diarahkan. What read between these lines (nan tasirek) adolah "dek karano pernah ado simbiosis mutualisme antaro ANB dan HB di "Sang Pencerah" mako ANB membela HB". Begitu bukan, Pak Dedi?

Kambali maminjam ucapan Mak Darwin Bahar: shoot the message, not the messenger. 

Inti manga ambo manulih posting panjang sabalun iko adolah dek karano ado framing as if HB hanyo mambuek tigo film (Perempuan Berkalung Sorban, ?, dan Cinta Tapi Beda) sajo yang melecehkan Islam, dan email itu (yang bukan ditulis Mak MM***, beliau hanyo memforward sajo ka milis ko) dengan sengaja mengabaikan HB juga pernah membuat film (bertema) Islam lain seperti "Sang Pencerah" dan "Ayat-ayat Cinta".

Kaduo, soal Hanung tidak sholat yang dipotong dari keseluruhan konteks wawancara, sehingga seakan-akan dari teks itu Hanung tidak sholat sampai sekarang. Ini nan ambo sampaikan berdasarkan kronologis. "Ayat-ayat Cinta" beredar 2008, dibuat 2007 (berarti saat itulah Hanung, seperti pengakuannya, tidak sholat). Sedangkan "Sang Pencerah" dibuat 2009-2010, dan nan ambo caliek jo mato kapalo sendiri, Hanung sholat.
--------

2. Menarik juo mambaco kisah si HB melalui situs JIL, Jaringan Islam Liberal ko... Kok lewat situs JIL yo, bukan situs islam lainnyo..? 

------
ANB: Karena wawancara yang dikutip dengan Radio 68H itukan dimuat lengkap di situs JIL, bukan di VOA atau Arrahmah.com, misalnya. Kalau transkrip lengkap ada di situs Islam lainnya, tentu itu yang akan diambil. Sederhana, bukan?
-------

Mudah-mudahan Pak Akmal pun bukan bagian dari Islam Liberal ko, walaupun apak maambiak kisah pembelaan ko dari JIL tu. 

------
ANB:
Kok jadi "kisah pembelaan" Pak Dedi? Seperti ambo sabuik, karano transkrip lengkap wawancara "Hanung tidak sholat" itu adanya di situs JIL, sehingga dari situ diambil. Kalau transkrip lengkap ada Cimbuak.net, umpamonyo, mako dari sinan pulo akan ambo lewakan.

"Mudah-mudahan Pak Akmal pun bukan bagian dari Islam Liberal ko"?  Kenapa jadi "shoot the messenger" lagi Pak Dedi?

Apokah kalau memang ambo liek Hanung sholat, sementara di banyak tulisan dicitrakan (dari wawancara yang dipotong) itu Hanung tidak sholat, maka ambo diam sajo?
------

Ambo banyak mambaco berita juo, yang memang mengkhawatirkan kalau si HB ko memang bagian dari JIL. Ntah batua ntah indak, ntahlah..

------
ANB:
Nan iko, ambo indak tahu pulo.
------

3. Ambo, dari kisah di situs JIL tu, iyo maraso ado "kelainan" atau kecek rang Jawa "nyeleneh" jo ide-ide si HB ko, contoh waktu dia bermain teater di sekolah islam Muhammadiyah dibawah ko. Mungkin karano memang inyo adolah salah satu nan bapaham Islam Liberal juo...mungkin...

------
ANB:

Kalau soal adegan dialog kekerasan di dalam bus di Mesir nan dikutip dari wawancara Hanung ko dan Pak Dedi kutip pulo di siko, apokah Pak Dedi alah mambaco novel aslinyo nan ditulih Habiburrahman El-Shirazy? Kalau menaruik ambo, pasti Pak Dedi alun mambaco. Karena kalau pak Dedi alah baco novel Kang Abik tu (namo panggilan Habiburrahman) dialog kekerasan di dalam bus itu ado di dalam novelnyo.
------

PENUTUP:

Sakali lai nan ambo komentari adolah soal framing film-film Hanung (nan dikuduang dari filmographynyo) dan soal Hanung tidak sholat yang sangat insinuatif itu. Siapa pun penulis awal thread itu, manuruik ambo justru mencederai nilai Islam nan sabananyo.

Soal film "Cinta Tapi Beda", cubolah Pak Dedi baco caro Yasraf Amir Piliang mengkritisi film ini (nan diposting beberapa hari lalu, ambo lupo oleh sia). Yasraf betul-betul "shoot the message". Dia menunjukkan bagaimana kedodorannya film ini dari pengadeganan yang banyak diambil di Bukittinggi, Pasar Ateh, Janjang Saribu, Jembatan Limpapeh dll, tapi diklaim sebagai "Diana anak Padang". Sehingga gugatan Yasraf lebih masuk akal: Kalau kisah ini soal Diana anak Padang, kenapa hampir semua lokasi syuting di Bukittinggi? Apakah Hanung (dan tim) tidak bisa membedakan antara Padang dan Bukittinggi? Ini kesalahan fatal, elementer, dan karena itu merusak seluruh bangunan film (belum ditambah lagi dengan messagenya yang kontroversial).

Baitu Pak Dedi, jadi ambo indak pulo dalam posisi membela Hanung atau film CTB. Mambaco catatan Yasraf Amir Piliang, manuruik ambo, adolah kritik paling tajam dan paling janiah dalam mensikapi film CTB ko.

Salam,

Akmal N. Basral
44+, Cibubur








Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages