|
| Inyiak-Inyiak, NiniakMamak, CadiakPandai,AlimUlama, BundoKanduang dan Nan Mudo, yg ambo hormati.... Ambo dapek berita lebih lanjut mengenai Penolkan KKM, sebagai berikut : WAKIL GUBERNUR Sumbar H. Muslim Kasim dalam acara halal bi halal Persatuan Keluarga Daerah Padangpariaman (PKDP) se-Dunia, Kamis, 16 September 2010, di Gedung Saiyo-Sakato Pariaman mengatakan, Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) yang disponsori Gebu Minang Jakarta diminta Pemda dan Gubernur Sumbar untuk dibatalkan, tidak dilanjutkan karena KKM telah ditolak berbagai lembaga dan masyarakat di ranah Minang. Sikap Pemda dan Gubernur Sumbar ditetapkan berdasarkan hasil rapat, Jumat, 3 September 2010, antara tim media (utusan Bakor organisasi keluarga dari lima kota/kabupaten dari Jakarta) dengan Ketua LKAAM Sumbar, MUI, DKSB, budayawan/seniman, wartawan yang menolak KKM diadakan di Bukittinggi. Wakil Gubernur H. Muslim Kasim menyampaikan sikap Pemda dan Gubernur Sumbar tentang tidak perlunya KKM diteruskan itu didengar langsung oleh Ketua Umum Gebu Minang, Asril Tanjung yang hadir dalam halal bi halal PKDP se-Dunia tersebut.Kalau berita ini benar, alah jaleh bana penolakan tu kini. Kalau kapatang mungkin baru sinyal sajo, kini alah sabana jaleh nampaknyo. Kalau iyo kito punya kearifan..., mako kinilah kearifan itu kito panggunokan untuk menghindari hal2 yg tidak diinginkan di ranah nan tacinto....Salam, --- Pada Sen, 20/9/10, Marindo Palar <emerd...@yahoo.com> menulis: |
|
Inyiak-Inyiak, NiniakMamak, CadiakPandai,AlimUlama, BundoKanduang dan Nan Mudo, yg ambo hormati....
Ambo dapek berita lebih lanjut mengenai Penolkan KKM, sebagai berikut :
WAKIL GUBERNUR Sumbar H. Muslim Kasim dalam acara halal bi halal Persatuan Keluarga Daerah Padangpariaman (PKDP) se-Dunia, Kamis, 16 September 2010, di Gedung Saiyo-Sakato Pariaman mengatakan, Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) yang disponsori Gebu Minang Jakarta diminta Pemda dan Gubernur Sumbar untuk dibatalkan, tidak dilanjutkan karena KKM telah ditolak berbagai lembaga dan masyarakat di ranah Minang. Sikap Pemda dan Gubernur Sumbar ditetapkan berdasarkan hasil rapat, Jumat, 3 September 2010, antara tim media (utusan Bakor organisasi keluarga dari lima kota/kabupaten dari Jakarta) dengan Ketua LKAAM Sumbar, MUI, DKSB, budayawan/seniman, wartawan yang menolak KKM diadakan di Bukittinggi. Wakil Gubernur H. Muslim Kasim menyampaikan sikap Pemda dan Gubernur Sumbar tentang tidak perlunya KKM diteruskan itu didengar langsung oleh Ketua Umum Gebu Minang, Asril Tanjung yang hadir dalam halal bi halal PKDP se-Dunia tersebut.
Kalau berita ini benar, alah jaleh bana penolakan tu kini. Kalau kapatang mungkin baru sinyal sajo, kini alah sabana jaleh nampaknyo. Kalau iyo kito punya kearifan..., mako kinilah kearifan itu kito panggunokan untuk menghindari hal2 yg tidak diinginkan di ranah nan tacinto....
Salam,
Marindo Palar
--- Pada Sen, 20/9/10, Marindo Palar <emerd...@yahoo.com> menulis:
, 2010, 11:23 AM.
Aslkm Wr Wb Mamak, Bundo, samo Dunsanak kasadonyo...untuak nan indak sempat pulang kampuang, berikut oleh-oleh perjalanan dari Pulau Cubadak samo Pantai Tanjuang Mutiara Tiku. Silahkan klik di link berikut: 1. Pulau Cubadak 2. Pantai Mutiara Tiku Thx... Wslkm Bot Sosani Piliang Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream www.botsosani.wordpress.com Hp. 08123885300 |
Inyiak-Inyiak, NiniakMamak, CadiakPandai,AlimUlama, BundoKanduang dan Nan Mudo, yg ambo hormati....
Ambo dapek berita lebih lanjut mengenai Penolkan KKM, sebagai berikut :WAKIL GUBERNUR Sumbar H. Muslim Kasim dalam acara halal bi halal Persatuan Keluarga Daerah Padangpariaman (PKDP) se-Dunia, Kamis, 16 September 2010, di Gedung Saiyo-Sakato Pariaman mengatakan, Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) yang disponsori Gebu Minang Jakarta diminta Pemda dan Gubernur Sumbar untuk dibatalkan, tidak dilanjutkan karena KKM telah ditolak berbagai lembaga dan masyarakat di ranah Minang. Sikap Pemda dan Gubernur Sumbar ditetapkan berdasarkan hasil rapat, Jumat, 3 September 2010, antara tim media (utusan Bakor organisasi keluarga dari lima kota/kabupaten dari Jakarta) dengan Ketua LKAAM Sumbar, MUI, DKSB, budayawan/seniman, wartawan yang menolak KKM diadakan di Bukittinggi. Wakil Gubernur H. Muslim Kasim menyampaikan sikap Pemda dan Gubernur Sumbar tentang tidak perlunya KKM diteruskan itu didengar langsung oleh Ketua Umum Gebu Minang, Asril Tanjung yang hadir dalam halal bi halal PKDP se-Dunia tersebut.
Kalau berita ini benar, alah jaleh bana penolakan tu kini. Kalau kapatang mungkin baru sinyal sajo, kini alah sabana jaleh nampaknyo. Kalau iyo kito punya kearifan..., mako kinilah kearifan itu kito panggunokan untuk menghindari hal2 yg tidak diinginkan di ranah nan tacinto....
Salam,
Marindo Palar
> --
> .
> Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di
> tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
> - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
> keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>
--
Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
gelar Bagindo, suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau: Deli, Jakarta,
sekarang Sterling, Virginia-USA
------------------------------------------------------------
"menjadi bagian dari sapu lidi, akan lebih bermanfaat dari pada
menjadi sebatang lidi"
Alhamdulillah, pandapek nan sabana sajuak, luruih dan bijak
Wassalam, HDB-SBK (L, 67), Depok
--- In Rant...@yahoogroups.com, Masdar TGM <masdar.tgm@...> wrote:
>
> Pada 20 September 2010 13.59, Marindo Palar <emerdepalar@...> menulis:
>
.......
> Kapado mamanda Saaf dan kawan-kawan dari kepanitiaan KKM, ado babarapo hal
> nan jadi pamikiran TGM:
> 1. Bahan KKM nan digagas oleh Gebu MInang bukan idiologi terlarang, sahinggo
> indak ado alasan bagi para pengambil keputusan di ranah bundo untuak
> menghalangi apolagi malarang kegiatan ko.
> 2. Rasonyo Gebu Minang nan menggagas KKM sangat disegani di ranah bundo
> salamoko
> 3. Gebu Minang indak mintak pitih ka Pemda Sumbar untuak biaya pelaksanaan
> KKM
........
| Samo-samo Mamak... Ambo yo sapandapaik jo Mamak... Rancak bana kok ado homestay di Tiku, cukuik2 jo operator tur pulau jo snorkling nyo. Tantulah rami pasa Tiku indak jo cik uniang jo cik ajo se doh, si mbak jo si mas, bahkan mister jo missis pasti sato pulo antri mancari katupek jo sala bulek disitu. |
Bot Sosani Piliang Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream www.botsosani.wordpress.com Hp. 08123885300 |
| --- On Mon, 9/20/10, ajo duta <ajo...@gmail.com> wrote: |
Inyiak-Inyiak, NiniakMamak, CadiakPandai,AlimUlama, BundoKanduang dan Nan Mudo, yg ambo hormati....
Ambo dapek berita lebih lanjut mengenai Penolkan KKM, sebagai berikut :WAKIL GUBERNUR Sumbar H. Muslim Kasim dalam acara halal bi halal Persatuan Keluarga Daerah Padangpariaman (PKDP) se-Dunia, Kamis, 16 September 2010, di Gedung Saiyo-Sakato Pariaman mengatakan, Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) yang disponsori Gebu Minang Jakarta diminta Pemda dan Gubernur Sumbar untuk dibatalkan, tidak dilanjutkan karena KKM telah ditolak berbagai lembaga dan masyarakat di ranah Minang. Sikap Pemda dan Gubernur Sumbar ditetapkan berdasarkan hasil rapat, Jumat, 3 September 2010, antara tim media (utusan Bakor organisasi keluarga dari lima kota/kabupaten dari Jakarta) dengan Ketua LKAAM Sumbar, MUI, DKSB, budayawan/seniman, wartawan yang menolak KKM diadakan di Bukittinggi. Wakil Gubernur H. Muslim Kasim menyampaikan sikap Pemda dan Gubernur Sumbar tentang tidak perlunya KKM diteruskan itu didengar langsung oleh Ketua Umum Gebu Minang, Asril Tanjung yang hadir dalam halal bi halal PKDP se-Dunia tersebut.
Kalau berita ini benar, alah jaleh bana penolakan tu kini. Kalau kapatang mungkin baru sinyal sajo, kini alah sabana jaleh nampaknyo. Kalau iyo kito punya kearifan..., mako kinilah kearifan itu kito panggunokan untuk menghindari hal2 yg tidak diinginkan di ranah nan tacinto....
Salam,
Marindo Palar
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
assalamualaikum wr.wb
naluri ke Islaman saya mengatakan : kalau betullah KKM ini sampai di batalkan...sayang seribu kali sayang.....apakan ini betul2 keputusan yg betul2 dari hati nurani Gubernur Sumbar???sedikit sebanyak kami mengenali kiprah beliau thn 90-an....atau ini menjadi salah satu sebab kenapa wakil gubernur yg berbicara tentang keputusan ini...
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Iolah kalo kito tetap mendukung program Irwan, kito legowo sajolah. Carilah Seminar lain nan ka gantinyo. Asa lai ka ba manfaat buek kampuang why not??
|
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
| Inyiak, NiniakMamak, CadiakPandai, Alim Ulama, Bundo Kanduang sarato jo Nan Mudo, yg ado di palanta ko...., Agak malenceng saketek, tapi masih berkaitan jo topik nan ambo sampaikan yaitu salah satu point yg menggelitik ambo pada permohonan mediasi dari Gebu Minang kepada Gubernur, yaitu : |
Untuk informasi Bapak, belum lama berselang Gebu Minang berkerjasama dengan Arsip Nasional R.I telah menyelenggarakan Seminar Nasional Gerakan dan Perang Paderi 1803-1837, yang menjadi cikal bakal lahirnya ABS SBK. |
| Point yg ingin ambo angkek dipalanta ko adalah : Perang Padri yg menjadi cikal bakal lahirnya ABS-SBK (Adat Basandi Sarak - Sarak Basandi Kitabullah). Pertanyaan nyo : Apo iyo bana ko, ABS-SBK lahir dari Perang Padri...?. Dek karano ado pulo kaba nan ambo dapek : ABS-SBK lahir ratusan tahun sebelum Perang Padri tejadi, yaitu pada abad 14, oleh Inyiak kito, Dt. Perpatih nan Sabatang dan Bt. Katumanggungan. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan Tuanku Imam Bonjol, pemimpin Kaum Paderi. Bagi Inyiak-Inyiak, CadiakPandai, NiniakMamak dan Alim Ulama yg mengetahui mengenai hal ini, mohon pencerahannya. Salam dan Terimakasih --- Pada Sel, 21/9/10, Nochfrie Emir <nochfr...@gmail.com> menulis: |
|
Assalamu'alaikum. w.w.
Pak Mochtar, Pak Saaf,... jo dunsanak kasadonyo..
Ini benturan berikutnya dari Kayu bacupang nan indak dapek diantakkan,
(bukan tungku tigo sajarangan yang hanya slogan)
seperti yang saya prediksi dahulu katiko bagalintin pintin jo pak Mochtar.
Ini bukti Trialisme urang Minang (baca postingan 2 tahun dan setahun lalu).
Kadipangakan...
Wassalam
St. Sinaro
|
|
Inyiak, NiniakMamak, CadiakPandai, Alim Ulama, Bundo Kanduang sarato
jo Nan Mudo, yg ado di palanta ko....,
|
Bagi Inyiak-Inyiak, CadiakPandai, NiniakMamak dan Alim Ulama yg
mengetahui mengenai hal ini, mohon pencerahannya.
Salam dan
Terimakasih --- |
, 6:55 PM
|
|
|
Pak Fitr, saya jadi ingat pengalaman teman saya (Chinese) yang muslim
(sebelumnya Budhis). Ketika bapaknya meninggal dunia, dia diminta
untuk mengikuti adat Tionghoa dalam prosesi pemakaman yang di
antaranya adalah bersujud ke mayyit. Alhamdulillah dia menolak
walaupun dipaksa oleh ibunya. Tentu dapat dimaklumi sikap Ibu dan
keluarganya yang masih kafir. Yang aneh adalah ada tamu yang muslim
malah ikut-ikutan membujuk teman saya itu agar ikut saja, karena toh
itu hanya adat.
Allahul musta'aan.
Wassalaamu'alaykum,
Setelah ambo gili2 di googling, dan dari buku2 tentang minang nan ambo baco,
alun basuo diambo lai, adat minang (kini) yang ber ABS SBK
mengajarkan/bagian dari Adat Minang perihal beberapa tradisi dibawah.
Kalau ado petuah2 lamo nan indak tertulis seperti petatah petitih, mohon
dishare ka ambo sanak Fitr R, atau buku adat minang karang sia nan bisa ambo
baco2.
Sebagai umat nan baragamo, ambo selalu membedakan antaro "Agamo Islam" jo
"Urang Islam", baitu pulo jo "Adat Minang (kini)" jo "urang Minang"
Knapo ambo sampaikan demikian, salamo ambo tingga di NAD yang mano salah
satu Prov., yang mempunyai kekhususan dengan Hukum Syariah Islam dengan
Qanun2nya yg dilindungi UUPA, masih banyak tabaco atau tasuo tempat2 nan
baserak Botol2 Miras atau Kartu2 pejudian serta urang2 nan ditanggkok
Wilayatul Hisbah (WH).
Pertanyaan ambo, apakah dengan demikian ajaran syariahnyo memang seperti itu
atau orang2nya secara pribadi nan indak peduli??
Wassalam
Nofend
Da Syof.
Tapeknyo “Adat bak Poteu Meureuhôm, hukôm bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phan, Reusam bak Béntara” Adat pada Raja Almarhum, Hukum pada (ulama) Syiah Kuala, Qanun pada Puteri Pahang, Resam pada Bentara (orang kaya)’.
Ambo masih tangiang ditalingo ambo, kata-kata seorang kawan yang juo pemerhati
budaya Aceh ko sewaktu ngopi2 (kebiasaan warga aceh yang masih dilestarikan sampai
kini) sama seperti halnya di Lapau Minangkabau tempoe doeloe, bahwa dia sangat
respect dengan adat/budaya Minang dengan istilah “Adat Basandi Syara’
- Syara’ basandi Kitabullah yang katanya Adat Minang itu sangat sinkron
dan menyesuaikan dengan ajaran Islam dengan Kitabullahnya, yang tentu yang dia
maksud adalah (Agama/Islam/Al-Qur’an).
Salam.
Nofend.
From:
rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Syofiardi
BachyulJb
Sent: Wednesday, September 22, 2010 8:08 AM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: [R@ntau-Net] Gubernur Sumbar Menolak KKM
Batua Pak Asmardi,
| Assalamu'alaikum Inyiak, NiniakMamak, CadiakPandai, AlimUlama, BundoKanduang sarato Kawan2 Nan Mudo di Palanta..... Ambo dapek salah satu artikel mengenai Sumpah Satie Marapalam yang memuat mengenai ABS SBK. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa TIDAK ADA tanggal yg pasti yg dapat dijadikan ketetapan kapan lahia nyo ABS-SBK tu. http://www.pandaisikek.net/index.php/minang-kabau/sejarah-minang-kabau/239-piagam-sumpah-satie-bukik-marapalam Kalau memang alun ado tgl pasti lahirnyo ABS-SBK, yang dapat dipertanggung jawabkan, janganlah sampai ado pihak-pihak yang mengklaim bahwa ABS-SBK lahir dizaman Perang Paderi, apalagi kemudian menghubungkannya dengan Tuanku Imam Bonjol sebagai peletak dasar falsafah hidup orang minang tersebut. Kecuali ada maksud-maksud tertentu dari pihak-pihak yang punya kepentingan untuk mengangkat Tuanku Imam Bonjol sebagai peletak dasar falsafah hidup urang Minangkabau tu. Sehubungan dgn blm jelasnya masalah ini, ambo pun jadi bapikia, Jangan2 Gubernur indak mau menanggapi Surat Gebu Minang tersebut karena ada klaim Perang Padri sebagai cikal bakal lahirnya ABS-SBK. Gubernur 'kan bukan orang bodoh, yang bisa dituntun se iduangnyo dek Gebu Minang, untuk mengakui hal yg alun jaleh tersebut. Jadi, kelihatannyo dek ambo, memang kearifan yg indak ado dek pambuek surek ka Gubernur tu. Ambo mambaco pulo Draft-17 Kongres Kebudayaan Minangkabau, disitu jaleh2 disebutkan tanggal kelahiran ABS-SBK. Ini kutipannya : >Setelah mengalami konflik berkepanjangan yang disusul oleh perang saudara yang dahsyat antara tahun 1803-1821, yang disusul oleh Perang Minangkabau antara tahun 1821- 1838 untuk menghadapi balatentara kolonial Hindia Belanda, pada tahun 1832 Tuanku Imam Bonjol memberikan fatwa ishlah yang menjadi dasar untuk pengembangan Ajaran Adat Basandi Syarak,Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato Adat Mamakai (ABS SBK) – yang kemudian dilengkapi dengan ‘Alam Takambang Jadi Guru -- sebagai nilai dasar dalam menata masyarakat Minangkabau. Fatwa Tuanku Imam Bonjol ini kemudian dikukuhkan dalam Sumpah Satie Bukit Marapalam pada tahun 1837 di Bukit Pato, Lintau, dekat Batu Sangkar.< Kalau dibaco sepintas, lamak bunyi nyo, tapi sekali lagi, apa ada bukti sejarah yg valid yg dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, bahwa ABS-SBK lahir atas prakasa Tuanku Imam Bonjol dalam suasana Perang Paderi tsb ?. Kalau belum ada, ini pembodohan namonyo..., Barangkali itu pulo salah satu masalah yg menyebabkan Gubernur yg sekarang menolak KKM. Note : Ambo sadang mancari Sumpah Satie Bukik Marapalam, versi lain yg menyatakan tahun kejadian pada 1403. Kalau ado dunsanak yg punyo barangkali bisa dilewakan pulo di palanta ko.... Mohon ma'af kapado Inyiak-Inyiak, Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang sarato Nan Mudo di palanta ko, kalau postingan ambo ko indak berkenan dihati... Salam dan Terima Kasih, --- Pada Sel, 21/9/10, Marindo Palar <emerd...@yahoo.com> menulis: |
>NFAJKS - 29
>
>
>2010/9/21 Armen Zulkarnain <emenes...@yahoo.co.id>
>
>Assalammualaikum wr wb
>
>Saya kira ada baiknya Pemprov Sumbar memanggil seluruh jajaran SC KKM & Pengurus Gebu Minang. Seingat saya tanggal 3 Juli 2010 pak Mochtar Naim & saya sudah memasukan surat pada Pemprov Sumbar. Namun hingga kini belum ada tindak lanjutnya, padahal sudah hampir 3 bulan surat tersebut diterima oleh Pemprov. Apabila Pemprov Sumbar mengundang SC KKM & Pengurus Gbu Minang, saya kira polemik KKM ini bisa diselesaikan dengan baik.
>
>wasalamAZ - 32 thPadang
>
>NB :Surat Permohonan Mediasi KKM ke Pemrov Sumbar bisa dilihat pada link dibawah inihttp://www.facebook.com/album.php?aid=19657&id=110166529028119
>Dari: "taufiq...@rantaunet.org" <taufiq...@rantaunet.org>
>
>Kepada: rant...@googlegroups.com
>Terkirim: Sel, 21 September, 2010 15:07:08
>
>Judul: Re: [R@ntau-Net] Gubernur Sumbar Menolak KKM
>
>
>
>Saya justru mendukung, alasannya supaya kita tidak terpecah belah
>
>Sebab kalau "indak lalu dandang diaia...didarek ditajakkan juo"
>
>Rasanya manfaat yang akan dicapai tidak akan sebanding dengan pengorbanan kita bersama yang akan terjadi
>
>
>--TRSent from my BlackBerry®
>powered by Sinyal Kuat INDOSATFrom: Ryan Firdaus <ryanfi...@yahoo.com>
>Sender: rant...@googlegroups.com
>Date: Tue, 21 Sep 2010 00:50:55 -0700 (PDT)To: <rant...@googlegroups.com>ReplyTo: rant...@googlegroups.com
>Subject: Re: [R@ntau-Net] Gubernur Sumbar Menolak KKM
>assalamualaikum wr.wb
>
>adi dunsanak palanta RN nan di hormati...
>naluri ke Islaman saya mengatakan : kalau betullah KKM ini sampai di batalkan...sayang seribu kali sayang.....apakan ini betul2 keputusan yg betul2 dari hati nurani Gubernur Sumbar???sedikit sebanyak kami mengenali kiprah beliau thn 90-an....atau ini menjadi salah satu sebab kenapa wakil gubernur yg berbicara tentang keputusan ini...
>
>wallahu a'lam
>wassalam, Ryan 43 Ipoh
>
>From: Masdar TGM
> <masda...@gmail.com>
>To: rant...@googlegroups.com
>
>Sent: Mon, September 20, 2010 9:24:55 PM
>Subject: Re: [R@ntau-Net] Gubernur Sumbar Menolak KKM
>
>
>
>
>Pada 20 September 2010 13.59, Marindo Palar <emerd...@yahoo.com> menulis:
>
>
>
>
>Inyiak-Inyiak, NiniakMamak, CadiakPandai,AlimUlama, BundoKanduang dan Nan Mudo, yg ambo hormati....
>
>Ambo dapek berita lebih lanjut mengenai Penolkan KKM, sebagai berikut :
>WAKIL
> GUBERNUR Sumbar H. Muslim Kasim dalam acara halal bi halal Persatuan
>Keluarga Daerah Padangpariaman (PKDP) se-Dunia, Kamis, 16 September
>2010, di Gedung Saiyo-Sakato Pariaman mengatakan, Kongres Kebudayaan
>Minangkabau (KKM) yang disponsori Gebu Minang Jakarta diminta Pemda dan
>Gubernur Sumbar untuk dibatalkan, tidak
> dilanjutkan karena KKM telah ditolak berbagai lembaga dan masyarakat di
> ranah Minang. Sikap Pemda dan Gubernur Sumbar ditetapkan berdasarkan
>hasil rapat, Jumat, 3 September 2010, antara tim media (utusan Bakor
>organisasi keluarga dari lima kota/kabupaten dari Jakarta) dengan Ketua
>LKAAM Sumbar, MUI, DKSB, budayawan/seniman, wartawan yang menolak KKM
>diadakan di Bukittinggi. Wakil Gubernur H. Muslim Kasim menyampaikan
>sikap Pemda dan Gubernur Sumbar tentang tidak perlunya KKM diteruskan
>itu didengar langsung oleh Ketua Umum Gebu Minang, Asril Tanjung yang
>hadir dalam halal bi halal PKDP se-Dunia tersebut.Kalau berita ini benar, alah jaleh bana penolakan tu kini. Kalau kapatang mungkin baru sinyal sajo, kini alah sabana jaleh nampaknyo. Kalau iyo kito punya kearifan..., mako kinilah kearifan itu kito panggunokan untuk menghindari hal2 yg tidak diinginkan di ranah nan tacinto....
>--
>.
>* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>===========================================================
>UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>- DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
>- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
>- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
>===========================================================
Takana dek ambo dendang Tukang Sijobang;
Ampun dipintak ka rang banyak,
Ambo mangambang 'kitab setan'
Indak basarak basumillah,
Antah badoso antah tido,
Badan mbo sorang manangguangkan.
Salam,
|
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
|
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E
Pak Firson, nama Allah telah dikenal sebelum Nabi Ibrahim 'alayhis
salaam (misalnya lihat surat al-Maa-idah 5.27). Kemudian, bahwa suatu
umat menyandarkan pada sesuatu sesembahan yang kekal atau Maha Kuasa,
bukan berarti sesembahan itu sama dengan Allah.
Pak Firson, itu karena kita alhamdulillah muslim. Akan tetapi, bagi
orang kafir, belum tentu. Contoh sederhana, dasar negara kita secara
eksplisit menyatakan Ketuhanan Yang Maha Esa, namun apakah dalam
implementasinya hanya Islam yang diakui?
Oleh karena itu, jika ada konsep Tuhan Yang Maha Esa di masyarakat
Minangkabau sebelum sampainya dakwah Islam, belum tentu dapat
disamakan dengan Allah.
|
Hmm, kalau begitu, apakah masyarakat Minangkabau sekarang masih
mencari konsep ketuhanan yang benar? Saya agak khawatir kalau arahnya
ke sana, Pak. Ataukah yang dimaksud adalah mencari pemahaman dan
pengamalan yang terbaik dalam rangka konsekuensi iman kepada Allah
Ta'ala? Kalau yang ini, masih dapat saya amini dengan batasan-batasan
tertentu.
Tentang konsep ketuhanan, setahu saya, keimanan kepada Allah Ta'ala
adalah sesuatu yang sudah tiap jiwa miliki di awal. Oleh karena itu,
dikatakan bahwa keadaan awal tiap orang adalah fithrah. Akan tetapi,
keimanan itu dapat bertambah atau berkurang sesuai dengan jalannya
kehidupan tiap orang, sehingga kita jumpai manusia yang bertaqwa,
fasiq, munafiq, atau kafir.
Tentang keadaan awal itu dinyatakan dalam firman Allah Ta'ala (yang artinya):
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab:
"Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang
demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya
kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan
Tuhan)",
atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami
telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah
anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau
akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat
dahulu?"" (QS. al-A'raaf 7.172-173)
Allahu Ta'ala a'laam.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Saafroedin Bahar Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita.
Itulah beda syarak jo adat.
Syarak tagak di ateh dalil nan jaleh dan indak barubah bak kato zaman.
Khamar haram kato syarak, haram dalam tiok tampek jo zaman.
Jadi syarak indak mangikuk ka prilaku urang, tapi prilaku urang nan
harus ditimbang jo syarak.
Tapi kalau adat kan ikuik kebiasaan urang banyak, tarutamo adat istiadat.
Indak tagak dia ateh dalil nan jaleh.
Jadi adat bisa barubah dek prilaku urang banyak.
Makonyo paralu deklarasi ABS SBK.
Contoh lain, silek sebagai kebanggaan rang Minang sampai kini, masiah
banyak nan memakai mantra2 jo jampi2.
Alah ditimbang jo syarak saluruahnyo tu?
Wassalam
fitr tanjuang.
2010/9/21 Nofend St. Mudo <nof...@rantaunet.org>:
> Sanak Fitr T.
>
> Setelah ambo gili2 di googling, dan dari buku2 tentang minang nan ambo baco,
> alun basuo diambo lai, adat minang (kini) yang ber ABS SBK
> mengajarkan/bagian dari Adat Minang perihal beberapa tradisi dibawah.
>
> Kalau ado petuah2 lamo nan indak tertulis seperti petatah petitih, mohon
> dishare ka ambo sanak Fitr R, atau buku adat minang karang sia nan bisa ambo
> baco2.
>
> Sebagai umat nan baragamo, ambo selalu membedakan antaro "Agamo Islam" jo
> "Urang Islam", baitu pulo jo "Adat Minang (kini)" jo "urang Minang"
> Knapo ambo sampaikan demikian, salamo ambo tingga di NAD yang mano salah
> satu Prov., yang mempunyai kekhususan dengan Hukum Syariah Islam dengan
> Qanun2nya yg dilindungi UUPA, masih banyak tabaco atau tasuo tempat2 nan
> baserak Botol2 Miras atau Kartu2 pejudian serta urang2 nan ditanggkok
> Wilayatul Hisbah (WH).
>
> Pertanyaan ambo, apakah dengan demikian ajaran syariahnyo memang seperti itu
> atau orang2nya secara pribadi nan indak peduli??
>
> Wassalam
> Nofend
>
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
| Buya Syaff... Saya pernah membaca di saah satu buku (saya lupa), berdasarkan penelitian dari menhir yang ada di mahat dimana semua batu-batu tersebut melengkung can condong ke arah Gunung Marapi. Kalau dilihat dari karakter budayanya, kemungkinan dulunya, nenek moyang kita beragama Dinamisme, menyembah Gunung Merapi dan ritualnya mirip dengan ritual orang Bali. Perlu dicatat, ketika saya di bali, ternyata tidak semua ritual orang Bali tersebut merupakan ritual Hindu dari India, namun banyak merupakan pengaruh ritual agama pra Hindu, yang memuja Gunung Agung. Buktinya, semua pura Hindu di Bali menghadap ke Gunung Agung. Maaf, hipotesa dangkal saya saja..:) Bot Sosani Piliang Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream www.botsosani.wordpress.com Hp. 08123885300 |
--- On Sun, 9/26/10, Dr Saafroedin Bahar <saafroed...@rantaunet.org> wrote: |
|
Saya ingin komentar juga.
Ini kesaksian saya sendiri, di kampung saya Kandang Ampek, Guguk, Kayutanam.
Dulu waktu saya kelas dua dan sampai kelas enam SR, Mak Ayang (kakak neneka saya), selalu mendo'a dan membuat makanan yang diantarkan kebawah pohon beringin di ulakan aie, kira-kira posisinya dikolam Padang Golf Anai sekarang, sekarang dipakai sebagai kolam pemandian dan amai kalau Hari Minggu.
Dulu sumber air sawah datangnya dari sana, karena ada Bukit Kecil dan sebuah pohon beringin besar. Ada mata air dibawah batu besar hitam. kebawah mengalir air itu dan menjadi Batang Tarok, dan Sungai/Banda gadang untuk sumber air peswahan penduduk Kandang Ampek.
Setiap musim kesawah, orang tua-tua melakukan mendo'a dan sembahan makanan disitu.
Mungkin ini, sisa dari nenek-nenek dulu yang masih Paganisme..
Kami dari anak-anak sebaya saya, sembunyi dulu di hutan. Setelah orang tua-tua pulang kami muncul, dan memakan habis, goreng ayam, talue, ajik, katan, nasi kuniang, dan lain-lain.
Inilah tradisi nenek kita dulunya..
|
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
Nah, ya kan ? Pengalaman saya sendiri waktu muda: nenek saya memberi jimat untuk 'pagar badan' dan utk ... menarik cinta perempuan, he he. Ini kan animisme atau dinamisme ?
Apa masih ada kebiasaan ini sekarang ?
Wassalam,Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
Ambo juo pernah nampak dulu anak balita nan pakai2 itu Mak Z, tapi lai sabanyak pulo nan indak.
Tamasuak keluarga besar kamipun dikampuang dulu lai indak ado nan pakai2 itu do, apoali mamak datuak kami kini lai manjadi Buya kampuang samanjaknyo bujang dulu.
Baitu juo partamo awal bajalan (marantau) lai juo indak ado tadanga nan mambisiak an pakai, jimat, pagar badan, ato lai sebagainyo, tapi memang itu ado juo nampak diambo dulu, rato2 nan ma anjuran (nan ma anggap) dukun/uwang pintar yang pasti, jauah dari masuak musajik/surau nampak diambo.
Apokah mak Z juo mengikuti itu?? Pasti indak do kan??
Nah dek kami dulu ndak mengikuti itu, apokah kami ndak sesuai jo adat Minang??
Dan atau, kalau itu salah dan tidak sesuai sementara mereka tau, tapi tetap melakukan, apo sangsi kiro nan bisa dikenakan?
Heheheh…
Mohon maaf dan Wassalam.
Nofend/34 M CKR
Ambo juo pernah nampak dulu anak balita nan pakai2 itu Mak Z, tapi lai sabanyak pulo nan indak.
Tamasuak keluarga besar kamipun dikampuang dulu lai indak ado nan pakai2 itu do, apoali mamak datuak kami kini lai manjadi Buya kampuang samanjaknyo bujang dulu.
Baitu juo partamo awal bajalan (marantau) lai juo indak ado tadanga nan mambisiak an pakai, jimat, pagar badan, ato lai sebagainyo, tapi memang itu ado juo nampak diambo dulu, rato2 nan ma anjuran (nan ma anggap) dukun/uwang pintar yang pasti, jauah dari masuak musajik/surau nampak diambo.
Apokah mak Z juo mengikuti itu?? Pasti indak do kan??
Nah dek kami dulu ndak mengikuti itu, apokah kami ndak sesuai jo adat Minang??
Dan atau, kalau itu salah dan tidak sesuai sementara mereka tau, tapi tetap melakukan, apo sangsi kiro nan bisa dikenakan?
Heheheh…
Mohon maaf dan Wassalam.
Nofend/34 M CKR
From:
rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Z
Chaniago
Sent: Monday, September 27, 2010 11:22 AM
|
|
|
|
Sanak Bot dan Pak Saaf sarato dunsanak di lapau,
Saya kira tafsiran Sanak Bot perlu didiskusikan lebih lanjut. Saya sendiri pernah melihat menhir2 itu, dan semua memang menghadap ke gunung.
Coba pikirkan mengapa SUMPAH SATIE BUKIT MARAPALAM itu diadakan di ATAS BUKIT, bukan di sebuah surau atau mesjid?
Di internet saya lihat akan ada sebuah semniar mengenai "religions and the mountains'di Nepal. Menarik untuk menulis makalah Sumpah Satie Bukik Marapalam dalam konteks tema seminar itu.
Mengenenai kepercayaan orang Padang darat terhadap sigulambai, harimau jadi2an (cindaku), begu, palasik, sijundai, dll. ada beberapa literatuur klasik, misalnya tulisan2 Van Der Toorn, Brouwer, Ewestenenk, dll. Sekarang saya sedang menulis satu pemngantar untuk novel PALASIK yang akan diterbitkan oleh Citra Budaya, Padang. Mudah2an nanti dapat saya lewakan di palantan.
Wassalam,
Suryadi |
|
|
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
Ambo juo pernah nampak dulu anak balita nan pakai2 itu Mak Z, tapi lai sabanyak pulo nan indak.
Tamasuak keluarga besar kamipun dikampuang dulu lai indak ado nan pakai2 itu do, apoali mamak datuak kami kini lai manjadi Buya kampuang samanjaknyo bujang dulu.
Baitu juo partamo awal bajalan (marantau) lai juo indak ado tadanga nan mambisiak an pakai, jimat, pagar badan, ato lai sebagainyo, tapi memang itu ado juo nampak diambo dulu, rato2 nan ma anjuran (nan ma anggap) dukun/uwang pintar yang pasti, jauah dari masuak musajik/surau nampak diambo.
Apokah mak Z juo mengikuti itu?? Pasti indak do kan??
Nah dek kami dulu ndak mengikuti itu, apokah kami ndak sesuai jo adat Minang??
Dan atau, kalau itu salah dan tidak sesuai sementara mereka tau, tapi tetap melakukan, apo sangsi kiro nan bisa dikenakan?
Heheheh…
Mohon maaf dan Wassalam.
Nofend/34 M CKR
.
Hehehe….
Kok nan rancak, (tantu bukan rancak diambo mak Z) rancak dikito basamo, sasuai jo apo nan kito pahami tentang ABSSBK tuh, tantu di agiah tahu dan di kikis habis nan seperti itu, tapi kok dulu di kuliah subuah (ceramah abis subuah, pengajian buya2 kampuang lai juo kadang sampai kasitu ambo danga), nahh… cuman masalahnyo ko aa… lai tau, tapi balakuan juo dek picayo atau antahlah… (barati ndak picayo selain ALLAH sajo mungkin).
Harapan ambo, semoga dalam nilai2 pelajaran BAM (kok lai masih ado kini) juo ditanamkan dan diajarkan hal-hal nan sarupo itu, tapi kok juo dilakukan dek sebagian sanak, a yo ndak tau diambo lai do mak Z.
Samo seperti halnyo jo (sebagian) urang Islam, alah jaleh itu haram, dilarang dll, tapi korupsi dari sagalo bidang, dari nan ketek sampai nan gadang sarato lainnyo kan tatap juo jalan.
Talabih takurang dek sato pulo saketek … mohon di maafkan kok ado kato nan indak pado tampeknyo.
Wassalam
Nofend/
From:
rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Z
Chaniago
Sent: Monday, September 27, 2010 1:25 PM
Assalamu'alaikum Ww
Hehehe….
Kok nan rancak, (tantu bukan rancak diambo mak Z) rancak dikito basamo, sasuai jo apo nan kito pahami tentang ABSSBK tuh, tantu di agiah tahu dan di kikis habis nan seperti itu, tapi kok dulu di kuliah subuah (ceramah abis subuah, pengajian buya2 kampuang lai juo kadang sampai kasitu ambo danga), nahh… cuman masalahnyo ko aa… lai tau, tapi balakuan juo dek picayo atau antahlah… (barati ndak picayo selain ALLAH sajo mungkin).
Harapan ambo, semoga dalam nilai2 pelajaran BAM (kok lai masih ado kini) juo ditanamkan dan diajarkan hal-hal nan sarupo itu, tapi kok juo dilakukan dek sebagian sanak, a yo ndak tau diambo lai do mak Z.
Samo seperti halnyo jo (sebagian) urang Islam, alah jaleh itu haram, dilarang dll, tapi korupsi dari sagalo bidang, dari nan ketek sampai nan gadang sarato lainnyo kan tatap juo jalan.
Talabih takurang dek sato pulo saketek … mohon di maafkan kok ado kato nan indak pado tampeknyo.
Wassalam
Nofend/
.
Penduduk Solsel 144.236 Jiwa?
(situs prov Sumbar)
Solok Selatan - Jumlah penduduk sementara Solok Selatan, Sumatera Barat, sesuai data agregat penduduk per kecamatan hasil dari sensus penduduk (SP) 2010 sebanyak 144.236 jiwa - laki-laki 72.614 jiwa dan perempuan 71.622 jiwa.
> Samo seperti halnyo jo (sebagian) urang Islam, alah jaleh itu haram,
> dilarang dll, tapi korupsi dari sagalo bidang, dari nan ketek sampai nan
> gadang sarato lainnyo kan tatap juo jalan.
>
Ada perbedaan penting antara korupsi dengan praktik-praktik sesajen
atau yang semacamnya. Yang pertama, semua orang
tahu bahwa korupsi itu haram, tetapi sebagian orang melakukannya
karena mengikuti hawa nafsu. Itulah kenapa orang tidak mau mengaku
terang-terangan bahwa dia melakukan korupsi. Di sisi lain, pelaku
sesajen itu belum tentu merasa bahwa yang dilakukannya adalah haram.
Bahkan mungkin ada yang meyakininya sebagai sesuatu yang baik, yang
perlu dilestarikan. Bahkan bukan tidak mungkin akan dengan bangga
diekspos misalnya untuk pariwisata. Saya yakin semua orang akan
setuju korupsi dihapuskan, tetapi tidak yakin bahwa semua orang akan
menolak praktik-praktik sesajen itu.
Perbedaan kedua adalah konsekuensinya dalam Islam. Pelaku korupsi
adalah orang fasiq dan perbuatannya itu tidak sampai mengeluarkannya
dari Islam selama dia tidak menghalalkannya. Perbuatan itu juga masih
dapat diampuni Allah Ta'ala. Praktik sesajen dan semacamnya itu sudah
masuk ke dalam kesyirikan yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam
jika dia meyakini bahwa ada sesuatu selain Allah yang dapat memberikan
kebaikan dan menjauhkannya dari bahaya. Tentunya jika keluar dari
Islam mestinya mengeluarkannya dari status Minang juga bukan?
Perbuatan syirik juga tidak diampuni oleh Allah Ta'ala jika dia tidak
bertaubat sebelum meninggal dunia.
Kalau di caliak dari data lamo (sayang data terbaru keseluruhan alun nampak lai) untuak kabupaten Solsel ko masih 2 kali lipek dari Kab. Kep. Mentawai penduduaknyo, tapi dibandiangkan jo kota-kota (bukan kab.) nan ado di sumbar, lai masih jauah diateh sebagian besar kota2 tersebut nampaknyo http://www.datastatistik-indonesia.com/component/option,com_tabel/task,show/Itemid,165/
Jadi lai bisa kito bayangkan banyak saketeknyo pertumbuhan/penambahan kini kiro2 sabarapo percent kiro2 rato2 untuak daerah di sumbar dengan Jumlah Penduduk sebanyak 4.845.998 Orang (BPS 2010 kini tu).
Solok selatan buliah dikecek an mulai rami samanjak pemekaran, kok sabalum itu solsel masih memang langang dan banyak terisolir, apolai kadaerah bagian timur solsel tsb yng kini banyak perkebunan2 besar disitu.
Jumlah Penduduk Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin (2010)
|
Provinsi |
Laki-Laki |
Perempuan |
Laki-Laki + Perempuan |
Sex Ratio |
|
(1) |
(2) |
(3) |
(4) |
(5) |
|
[11] Aceh |
2 243 578 |
2 242 992 |
4 486 570 |
100 |
|
[12] Sumatera Utara |
6 479 051 |
6 506 024 |
12 985 075 |
100 |
|
[13] Sumatera Barat |
2 404 472 |
2 441 526 |
4 845 998 |
98 |
From:
rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Anzori
Sent: Monday, September 27, 2010 2:53 PM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Penduduk Solsel 144.236 Jiwa ?
Begitu sedikit?
Padang, (ANTARA) – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat sebanyak 4.845.998 jiwa jumlah penduduk Sumbar berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010.
Sebanyak 2.404.472 di antaranya merupakan laki-laki dan 2.441.526 lainnya berjenis kelamin perempuan.
"Dari hasil sensus penduduk tahun 2010 tersebut sebaran penduduk Sumbar 73,10 persen berada di daerah Kabupaten dan 26,90 persen berada di Kota," ujar Kepala BPS Sumbar, Muchsin Ayub Rabu 1/9.
Ia menyebutkan, tiga daerah dengan jumlah penduduk terbesar di Sumbar nerada di Kota Padang (833.584 jiwa), Kabupaten Agam (455.484 jiwa) dan Kabupaten Pesisir Selatan (429.699 jiwa).
Sedangkan daerah dengan jumlah penduduk terkecil berada di Kota Padang Panjang sebanyak 47.008 jiwa.
Ia menambahkan, rata-rata tingkat kepadatan penduduk Sumbar adalah sebanya 115 orang per kilometer persegi.
"Hal ini dihitung dari perbandingan jumlah penduduk Sumbar saat ini (4.845.998 jiwa) dengan luas wilayah Sumbar sekitar 42.130,82 kilometer," ujarnya.
Kata dia, kota yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah Kota Bukittinggi yakni sebanyak 4.656 orang perkilometer persegi.
Sedangkan kepadatan penduduk yang terendah berada di Kabupaten Kepulauan Mentawai yakni sebanyak 13 orang perkilometer persegi. (rud/ril)
Rabu, 01/09/2010 14:34 WIB
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Anzori
Sent: Monday, September 27, 2010 2:53 PM
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Salam, Saya pikir sudah banyak sejarah Minagkabau ditulis setelah MD Mansoer(1970), baik karya orang Barat maupun tulisan orang kita. Saya pikir yang kurang tulisan sebelum abad ke 16, pada sat itu agama Islam mulai menyebar. Ada literatur yang mengatakan bahwa sekitar abad ke 16 itu orang Islam di Minangkabau ya sekitar seratusan orang. Walaupun Hamka menyatakan Islam mulai masuk abad ke -7 tetapi perkembangannya belum begitu siginifikan sampai aba ke 16. Kekuasaan acehlah kayaknya yang termasuk berjasa juga menyebarkan Islam di Minangkabau. wassalam WN |
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
Apo nan alah dirujuk Inyiak Canduang iko sangat jaleh ditulih oleh M. Radjab (1954), Rusli Amran (1981), namun samar-samar oleh MD Mansoer dkk (1970).
Nan penting diperhatikan: wilayah daulat Pagaruyung maso itu (1820) nampakno sebagian nan dulu dibateh dan dipagar oleh Basa Ampek Balai. Atau kalau ambo ringkas dari perjanjian itu:
- Pagaruyung, dalam pengaruh 1 Yang Dipertuan
- Suruaso, dalam pengaruh 2 Yang Dipertuan
- Batipuh, dalam pengaruh 14 penghulu
- Singkarak, dalam pengaruh 8 penghulu
- Sanim Bakar, dalam pengaruh 10 penghulu
- Bunga Tanjung, dalam pengaruh 7 penghulu
- Pitalah, dalam pengaruh 6 penghulu
- Tanjung Barulak, dalam pengaruh 7 penghulu
- Gunung Raja, dalam pengaruh 5 penghulu
- Batu Sangkar, dalam pengaruh 5 penghulu
- Sumpur, dalam pengaruh 7 penghulu
- Melalo, dalam pengaruh 7 penghulu
- Sembilan Kota, dalam pengaruh 42 penghulu
- Simawang, dalam pengaruh 8 penghulu.
Bila dipetakan, kurang lebih mencakup sekitar 2.000 km2.
Pada maso itu kelihatannyo hubungan hirarkial Pagaruyung dengan "rantau" alah terputus. Namun sucaro kekerabatan ambo raso masiah balangsuang taruih.
Wassalam,
|
Nan paralu dicermati adolah apokoh dinasti Adityawarman memang berlanjut ka dinasti Pagaruyuang kini ko. Syak hati ambo iyo, namun pola sarato bantuak kenegaraan alah jauah babeda. Sabagai pembanding, di Banda Aceh kini dulu tagak kerajaan Aceh Darussalam (1512), namun jauah sabalunno alah ado kerajaan Indra Purba. Hal nan samo untuak lokasi sekitar Muntilan Jateng kini. Jadi kamungkinan ado dinasti baru walau mungkin masih katurunan dari dinasti sabalunno. Era Adityawarman (Melayu) adolah sajauh masih digunokan aksara Sansekerta; dan dimaa putuih disitu pulo era itu hilang. Era Islam (aksara Arab) di Pagaruyuang dari banyak catatan adolah maso Sultan Alif (16..)
Dengan ado penyerahan kedaulatan kapado Balando (1820) mako secaro de jure dinasti Pagaruyung alah berakhir, dan sucaro de facto kutiko terjadi pembakaran istano maso Paderi (1814?). Basa Ampek Balai dimaksud sebagai batas wilayah, dapek disigi catatan ambo terdahulu.
Wassalam,
-datuk endang |
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
Sasuai sajo Pak Saaf. Ado sebuah buku Peter Burke (1992) nan alah dialihaksarakan oleh Mestika Zed dan Zulfami (2003), berjudul "Sejarah dan Teori Sosial", Penerbit Obor; rancak jadi pidoman dalam penulisan sejarah. Dijalehkan model dan caro penulisan sejarah dari maso ka maso, mulai sejarah tentang penguaso (Ranke) hinggo dekonstruksi sejarah (Foucault). Nan aratinyo, sejarah kini alah dapek dibuek oleh siapo sajo, indak sajo untuak urang nan bakuaso, tapi juo tentang urang biaso.
Mudah-mudahan ado sumangek bagi sanak-sanak kito untuak manulih catatan-catatan sejarah dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.
Wassalam,
-datuk endang |
|
|
|
Babarapo bulan lalu ambo lai basuo dan berdiskusi dengan Dt. Rajo Mangkuto, khususnya masalah tambo. Baliau ado mambarikan 4 buku karangan baliau:
1. Minangkabau Tua
2. Bai'ah Marapalam
3. Perang Tuak di Minangkabau
4. Penanggalan.
Memang nan Kesulthanan Minangkabau Darul Qourar itu indak ado dibarikan. Untuak sumantaro, bahan nan alah baliau tuliskan, dapek melengkapi referensi tambo nan ado; dan relatif baru dengan penulisan modern.
Kutiko ambo tanyo sumber referensi, disabuikkan kalau baliau dulu manarimo dari ayah beliau kumpulan tulisan lamo, namun kini alah hilang. Tamasuak kisah kejadian Marapalam.
Memang ado asumsi, hipotesis, dan sintesis sejarah kami nan kurang basasuaian, namun kami saliang mangharogoi pandangan masiang-masiang.
Untuak Sumpah Satie Marapalam, ambo labiah sanang manggunokan analisis chronotoph (time-space) Bakhtin, alah pernah disampaikan dulu.
Kemudian, kalau ado perubahan langgam, pasti ado perubahan dinasti. Posisi Marapalam manunjuakkan indak ado pengaruh Pagaruyuang maso itu.
Sumantaro demikian. |
Saya ingin komentar juga.Ini kesaksian saya sendiri, di kampung saya Kandang Ampek, Guguk, Kayutanam.Dulu waktu saya kelas dua dan sampai kelas enam SR, Mak Ayang (kakak neneka saya), selalu mendo'a dan membuat makanan yang diantarkan kebawah pohon beringin di ulakan aie, kira-kira posisinya dikolam Padang Golf Anai sekarang, sekarang dipakai sebagai kolam pemandian dan amai kalau Hari Minggu.Dulu sumber air sawah datangnya dari sana, karena ada Bukit Kecil dan sebuah pohon beringin besar. Ada mata air dibawah batu besar hitam. kebawah mengalir air itu dan menjadi Batang Tarok, dan Sungai/Banda gadang untuk sumber air peswahan penduduk Kandang Ampek.Setiap musim kesawah, orang tua-tua melakukan mendo'a dan sembahan makanan disitu.Mungkin ini, sisa dari nenek-nenek dulu yang masih Paganisme..Kami dari anak-anak sebaya saya, sembunyi dulu di hutan. Setelah orang tua-tua pulang kami muncul, dan memakan habis, goreng ayam, talue, ajik, katan, nasi kuniang, dan lain-lain.Inilah tradisi nenek kita dulunya..
Dari: Bot S Piliang <bots...@yahoo.com>
Judul: Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM-->Re: [R@ntau-Net] Gubernur Sumbar Menolak KKM
Kepada: rant...@googlegroups.com
Tanggal: Minggu, 26 September, 2010, 11:12 PM
Buya Syaff...
Saya pernah membaca di saah satu buku (saya lupa), berdasarkan penelitian dari menhir yang ada di mahat dimana semua batu-batu tersebut melengkung can condong ke arah Gunung Marapi. Kalau dilihat dari karakter budayanya, kemungkinan dulunya, nenek moyang kita beragama Dinamisme, menyembah Gunung Merapi dan ritualnya mirip dengan ritual orang Bali. Perlu dicatat, ketika saya di bali, ternyata tidak semua ritual orang Bali tersebut merupakan ritual Hindu dari India, namun banyak merupakan pengaruh ritual agama pra Hindu, yang memuja Gunung Agung.
Buktinya, semua pura Hindu di Bali menghadap ke Gunung Agung.
Maaf, hipotesa dangkal saya saja..:)
Bot Sosani Piliang
Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream
www.botsosani.wordpress.com
Hp. 08123885300
--- On Sun, 9/26/10, Dr Saafroedin Bahar <saafroed...@rantaunet.org> wrote:
From: Dr Saafroedin Bahar <saafroed...@rantaunet.org>
Subject: Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM-->Re: [R@ntau-Net] Gubernur Sumbar Menolak KKM
To: "Rantau Net" <rant...@googlegroups.com>
Date: Sunday, September 26, 2010, 11:01 PM
Sanak Firson, topik ini layak kita kaji lebih dalam, dibimbing oleh para ahlinya.
Setahu saya, orang Minangkabau tidak mau menganut agama yg dibawa Adityawarman pd abad ke 14 Masehi, yaitu agama Buddha Tantrayana, yg ritualnya tidak dapat diterima masyarakat krn sangat mengerikan.
Saya sedang mencari-cari keterangan apakah 'agama' asli orang Minangkabau. Menurut Anas Nafis, orang Minangkabau asli menganut animisme dan dinamisme, yg percaya pd setan, jin, kuntilanak, sigulambai dan yg seperti itu.
Jika keterangan ini benar, mungkin Islamlah agama yg pertama dianut orang Minangkabau, walau proses internalisasinya tidak selalu berjalan mulus.
Mohon tambahan dari para sanak yg lebif faham ttg masalah ini.
Wassalam,Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
From: Firson Maryutenli <firson.m...@gmail.com>Sender: rant...@googlegroups.comDate: Mon, 27 Sep 2010 09:30:52 +0700
To: <rant...@googlegroups.com>ReplyTo: rant...@googlegroups.comSubject: Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM-->Re: [R@ntau-Net] Gubernur Sumbar Menolak KKM
Saya hanya menjelaskan bahwa adat disandarkan kepada konsep ketuhanan, bukan hanya dimasa islam.
Jauh sebelum islam adat juga sudah disandarkan kepada ketuhanan, sesuai dengan agama yang berlaku pada masa tersebut.
FM st. sampono
2010/9/27 Firson Maryutenli <firson.m...@gmail.com>
Gak akan ada habisnya kita bicara tentang konsep ketuhanan (tauhid).
Kembalikan saja ke pribadi masing masing.
Kalau Minangkabau sudah jelas (ABS - SBK)
FM. st. sampono
2010/9/26 Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com>2010/9/26 Firson Maryutenli <firson.m...@gmail.com>:> Konsep ketuhanan ini, bukan konsep yang "given", tapi berupa konsepHmm, kalau begitu, apakah masyarakat Minangkabau sekarang masih
> "proses", berupa pencarian tentang kebenaran yang mutlak dan tak
> terbantahkan lagi.
>
mencari konsep ketuhanan yang benar? Saya agak khawatir kalau arahnya
ke sana, Pak. Ataukah yang dimaksud adalah mencari pemahaman dan
pengamalan yang terbaik dalam rangka konsekuensi iman kepada Allah
Ta'ala? Kalau yang ini, masih dapat saya amini dengan batasan-batasan
tertentu.
Tentang konsep ketuhanan, setahu saya, keimanan kepada Allah Ta'ala
adalah sesuatu yang sudah tiap jiwa miliki di awal. Oleh karena itu,
dikatakan bahwa keadaan awal tiap orang adalah fithrah. Akan tetapi,
keimanan itu dapat bertambah atau berkurang sesuai dengan jalannya
kehidupan tiap orang, sehingga kita jumpai manusia yang bertaqwa,
fasiq, munafiq, atau kafir.
Tentang keadaan awal itu dinyatakan dalam firman Allah Ta'ala (yang artinya):
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab:
"Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang
demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya
kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan
Tuhan)",
atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami
telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah
anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau
akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat
dahulu?"" (QS. al-A'raaf 7.172-173)
Allahu Ta'ala a'laam.
--
Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
Ambo baru takana jo apak ko. Mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu baliau pernah ambo undang untuak sebuah acara di hotel ibis Slipi. Sebagai rangkaian dari acara itu, kami pai ba audiensi ka komisi III DPRRI membicarakan posisi ulayat masyarakat adat di Hutan Negara bersama perwakilan masyarakat adat nan lain dari 6 propinsi lain di Indonesia. Tapi karena indak ado ukatu cukuik, yo kurang tagali curito dari apak ko. Ambo ingek, baliau sempat kurang sehat ukatu itu, sahinggo kami pai pulo ka rumah sakik Pelni untuak mamaresokan kesehatan beliau.
Salam
Andiko Sutan Mancayo
----- Original Message -----
From: "Armen Zulkarnain" <emenes...@yahoo.co.id>
To: rant...@googlegroups.com
Cc: "Lies Suryadi" <niad...@yahoo.co.id>, "Saafroedin Bahar" <saafroed...@rantaunet.org>, "Hasril Caniago" <hasrilc...@hotmail.com>
Sent: Monday, September 27, 2010 10:44:40 PM GMT +07:00 Bangkok, Hanoi, Jakarta
Subject: Bls: [R@ntau-Net] Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM >> Asbir Latif Dt Rajo Mangkuto >> Undang Adat Alam Minangkabau
Assallamualaikum wr wb.
Wasalam
AZ - 32 th
Padang
Dari: Marindo Palar <emerd...@yahoo.com>
Kepada: rant...@googlegroups.com
Terkirim: Sen, 27 September, 2010 21:17:24
Judul: Re: [R@ntau-Net] Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM
Assalamu;alaikum Nyiak, Mamak, Tuanku, Datuak....
Ambo dikirimkan dek sorang kawan naskah buku 'Kesulthanan Minangkabau Darul Qourar' karya A.L. Dt. Rajo Mangkuto (74 tahun, mantan Walinagari Simarasok, Baso, Agam). Buku ini dalam Proses Penerbitan. Sayangnya naskah tersebut dikirim dalam bentuk pdf ke email ambo, sehingga alun bisa ambo buek kan link internetnyo...maklum gatek....
Berikut ambo cuplik sebagian kecil dari naskah tersebut.
Tahun 709, Raja Muaro Sabak Lokitawarman telah memeluk agama Islam. Tahun 715, Raja Pusat Pariangan Minangkabau, Indrawarman telah masuk Islam. Sejak itu Islam merembes secara diam-diam dan damai memasuki Luak nan Tigo. Di abad ke-10 M berdiri kerajaan Islam Pulau Penyengat. Berbarengan dengan itu berdiri kerajaan Islam Fansur yang wilayahya meliputi Tapak Tuan dan Barus. Di abad ke-11 M, jauh di pedalaman di pinggir sungai Barumun berdiri kerajaan Islam Aru Barumun. Di waktu bersamaan dengan kerajaan Barumun di pedalaman di tepi sungai Kampar berdiri kerajaan Islam Kuntu. Di abad ke-11 di pantai barat Sumatra berdiri kerajaan Islam Inropuro dan kerajaan Manjuto. Dari pantai Air Bangis sampai Tarusan berada di bawah pengaruh Aceh yang telah Islam.
Dari kerajaan Islam itu para pedagang kampher, lada dan emas, memasuki pedalaman Minangkabau. Sambil berdagang mereka mengajarkan agamanya. Di abad itu raja-raja Pariangan dan Bunga Setangkai serta masyarakatnya telah menganut Agama Islam. Di abad ke - 12 M Islam telah merata dianut rakyat Minangkabau.
Di Nagari Minangkabau, dekat Pagaruyung orang Arab Islam mendapat izin mendirikan satu komplek pergudangan. Dalam kompleks itu didirikan beberapa bangunan gudang untuk menyimpan barang dagangan dan beberapa buah rumah tempat tinggal dan mushala. Untuk pengamanan kompleks itu dipagar kokoh. Pagar kompleks itu dimaksudkan agar dapat mempertahankan diri dari orang orang jahat. Kompleka itu dibinasakan oleh Adityawarman sewaktu dia menduduki Minangkabau ini.
Setelah Islam merata di Minangkabau, masyarakat Minangkabau merasakan banyak pertentangan hukum adat dengan sara’ agama Islam. Mereka ingin agar hukum Islam dapat ditegakkan sebagai pengatur hidup. Penguasa Minangkabau bertahan dengan cara lama atau yang ada sebelumnya. Mereka takut kekuasaannya akan berkurang dengan ditegakkannya hukum Islam. Terjadilah pertentangan antara pemuka adat dengan pemuka agama Islam. Pemuka agama Islam menyampaikan pendiriannya dengan mengemukakan beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits agar hukum Allah itu ditegakkan secara utuh
Di waktu tuanya Ananggawarman anak Adityawarman, dia menjadi seorang muslim yang ta’at. Anak Ananggawarman telah dilahirkan sebagai seorang muslim. Semenjak itu keturunan Adityawarman dilahirkan sebagai seorang muslim dan selanjutnya anak keturunannya.
Upacara moksa menjadi kebiasaan tentara. Selain dari dianggap peribadatan, kebiasaan moksa itu sesuai dengan selera. Selain tentara, penguasa-penguasa kecil menjadi biasa pula dengan moksa ini. Prihatin atas hal hal yang demikian, atas inisiatif Pamuncak adat, Dt Bandaro di Sungai Tarab bersama Daulat Yang Dipertuan Tuangku Maharajo Sakti Raja Alam di Pagaruyung yang baru kembali menamatkan pendidikan agamanya di Fansur Barus, pada bulan Sa’ban tahun 803 H (jatuhnya lebih-kurang bulan Maret tahun 1403 M) mengundang seluruh pemuka masyarakat seluruh Minangkabau ke atas Bukit Marapalam. Di atas bukit itu diadakan musyawarah. Hasil musyawarah itu disebut kesepakatan Marapalam. Karena musyawarah itu ditutup dengan sumpah (bai’ah), kesepakatan itu lebih populair disebut Bai’ah Marapalam atau sumpah Marapalam. Orang kemudian menamakannya piagam Marapalam atau ‘Marapalam Treaty’. Itulah Anggaran Dasar (UUD) Republik Federasi Minangkabau.
Berdasarkan musyawarah SAAM tahun 1911, keputusan Dewan Perumus Anggaran Dasar MTKAAM tahun 1937 menyatakan Kesepakatan Marapalam itu terjadi tahu 1403 M. Dituangkan dalam anggaran Dasar MTKAAM tersebut.
P a s a l 30 AD/ART MTKAAM yang dirumuskan oleh 25 orang penghulu terkemuka Minangkabau, tanggal 25 Agustus 1937 menjelaskan ; di Nagari ada kerapatan Niniak Mamak (yang statusnya sebagai asosiasi kepala kaum), bersama dengan Kerapatan Alim Ulama dan Kerapatan Cadiak Pandai merupakan Badan Musyawarah Nagari atau majelis Kerapatan Adat Nagari atau Kerapatan Nagari.
Sebagaimana telah diberlakukan lama, Minangkabau itu dibagi atas Minangkabau inti (al Biththah) dan Minangkabau rantau (Minangkabau az Zawahir). Minangkabau al Biththah meliputi wilayah dataran tiga gunung (tri arga), gunung Singgalang, gunung Merapi dan gunung Sago yang disebut Luak Nan Tigo, Luak Tanah Data, Luak Agam, Luak 50 Koto. Daerah di luar itu disebut Minangkabau rantau (az zawahir). Di Minangkabau inti (Luak Nan Tigo) raja-raja Minangkabau tidak memerintah langsung (tidak memungut pajak), tapi hanya mengatur dan menjaga tidak ada peperangan. Raja Minangkabau memerintah di rantau dengan mengirimkan perwakilan perwakilan.
Pemuka Agama Islam menawarkan pemerintahan daulat umat (demokrasi) sistem tigaisme (triumvirat). Minangkabau diperintah oleh tiga orang raja yang terhormat ( Rajo Nan Tigo Selo ), yaitu Rajo Alam di Pagaruyung, Rajo Ibadat di Sumpurkudus dan Rajo Adat di Buo. Masing masing raja mempunyai staf dan tenaga ahli. Tugas Rajo nan Tigo Selo ialah menjelaskan dan menyempurnakan keputusan Marapalam. Keputusan Marapalam dengan penyempurnaan dan penjelasannya disebut Undang Adat Minagkabau . Selain itu Rajo nan Tigo Selo menetapkan aturan yang diperlukan dan belum ada dalam Undang Adat Minangkabau.
Sesuai dengan rumusan utama dalam Islam yang dilakukan oleh Nabi Besar Muhammad, semua keputusan, kesepakatan, keuangan dan peraturan haruslah ditulis . Usulan ini diterima dengan suara aklamasi. Maka Undang adat Minangkabau ditulis dalam rangkap delapan yang sama. Tiga dipegang oleh Rajo nan Tigo Selo dan 4 rangkap lagi dipegang oleh Basa Ampek Balai. Barang siapa yang menginginkannya menyalin dari salah satu yang tujuh itu, disebutkan disalin oleh siapa dan dari Undang Adat yang mana yang disalin. Begitulah buku Undang Adat itu sampai ke nagari-nagari.(*)
a. Bai’ah Marapalam ini diwariskan kepada anak cucu. Barang siapa yang tidak memakainya akan terkutuk dimakan sumpah biso kawi, ka ateh indak bapucuak, ka bawah indak baurek di tangah digiriak kumbang, akan dapat bencana dari Allah .
Perlu kita ketahui, bahwa;
a) Di perpustakaan Leiden , Negeri Belanda ada diketemukan catat a n yang menyebut Kesepakatan Marapalam.
b) Di tengah masyarakat berkembang bahwa ada sumpa h (bai’ah) Marapalam yang berbunyi ‘a dat basandi syara’ , syara’ basandi kitab Allah ’
c) Tali tigo sapilin yang berasal dari istilah tali yang teguh (urwatil wusqa), adalah pedoman hidup orang Minangkabau.
d) Tungku tigo sajarang a n adalah badan yang membuat kesepakatan di Minangkabau.
e) Sewaktu Belanda memasuki Minangkabau, sudah ada peradilan adat yang merujuk kepada agama Islam.
f) Tulisan Arab de n gan aturan sendiri adalah tulisan untuk bahasa Melayu/Minangkabau;
g) Stempel kerajaan Minangkabau dalam tulisan Arab sudah ada jauh sebelum Belanda sampai Minangkabau.
h) Adanya catatan orang asing tentang Minangkabau yang menyatakan penduduknya ta’at beribadat dan hukumnya merujuk kepada hukum Islam, sebelum Belanda menaklukkan Bonjol:
Ø Laporan Groenewegen tentang Minangkabau t a h un 1664 M.
Ø Laporan perjalanan Thomas Diaz ke Buo tahun 1668 M ketika mengunjungi raja Adat.
Ø Laporan Sir W Marsden dalam buku n ya ‘ The Story of Sumatra ’ t ahun 1783 M.
Ø Laporan Rafles tentang Minangkabau tahun 1814 M.
Ø Laporan Nahuis Van Burg tahun 1824 M.
Ø Perjanjian antara pemuka Minangkabau dengan Belanda pada 10 - 10 - 1821 bahwa Belanda akan membantu pemerintah Minangkabau melaksan a kan aturan Minangkabau kepada rakyat.
Ø Perjanjian Masang tahu 1824 M, bahwa Belada tidak akan mencampuri urusa n pemerintahan Minangkabau.
Ø Perjanjian Padang, pada 15 - 11 - 1825 M, bahwa Belanda tidak akan memakaikan p eradila n- nya untuk pribumi kecuali apabila pribumi membu n uh atau mencuri milik Belanda.
Ø Keputusan Gebernur Jenderal Belada N o mor 310 t an g ga l 11 - 10 - 1833 M.
Ø Plakat Panjang tanggal 25 - 10 - 1833 M.
Ø Catat a n Verklerek Vistorius tahun 1860 M tentang banyaknya jumlah sekolah di Mina n gkabau yang mempelajari agama Islam dengan pengantar tulisan Arab Melayu.
Salam,
Marindo Palar
--- Pada Sen, 27/9/10, Dr Saafroedin Bahar <saafroed...@rantaunet.org> menulis:
Dari: Dr Saafroedin Bahar <saafroed...@rantaunet.org>
Judul: Re: [R@ntau-Net] Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM
Kepada: "Rantau Net" <rant...@googlegroups.com>
Cc: "Herwandi WENDY" <psh_...@yahoo.com>
Tanggal: Senin, 27 September, 2010, 7:28 PM
Datuak, iko kurun sejarah nan paralu disigi dek pakar-pakar sejarah kito, dan hasilnyo dimasuakkan ka buku Sejarah Minangkabau versi terbaru. Jan sampai ragu bakapanjangan juo kito.
Wassalam,
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
From: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>
Wassalam,
-datuk endang
1. Adityawarman (1339-1376)
2. Ananggawarman (1376)
Salam,
Marindo Palar
--
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Batanyo ciek Mamak Sutan Firson bin Sutan Ibrahim bin Sutan Mansyur
Baa kok baganti pulo gala mamak tu? Bisa lo gala kito diganti2 surang tu? Kalau dak salah kapatang gala Mamak Sutan Firson adolah Sutan Sampono kan…?
Baa lo curitonyo tu kok gala2 (sebagian) ughang Piaman tu dak maikuik adaik Matrilineal tu? Pangaruah darimano tu?
Bukannyo gala tu diturunkan dari mamak ka kamanakan?
Wassalam
Malin Marajo bin Rajo Panghulu, kamanakan Tandilangik
From:
rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Firson
Maryutenli
Sent: Monday, September 27, 2010 10:53 PM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM-->Re: [R@ntau-Net] Gubernur
Sumbar Menolak KKM
Maaf jalur umum saya pakai untuk mengumumkan gelar :
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone