Pepatah-Petitih, Mamang, Bidal, Pantun di Minangkabau bukanlah Budaya Warisan Islam

990 views
Skip to first unread message

Armen Zulkarnain

unread,
Feb 27, 2011, 6:26:52 PM2/27/11
to rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum wr wb

Angku, mamak, bundo sarato adi dunsanak sapalantan RN nan ambo muliakan,

Pepatah-petitih minangkabau bukan budaya warisan dari tradisi Islam. Sebab pepatah petitih ini adalah salah satu warisan nenek moyang minangkabau dalam tradisi lisan, dimana secara etimologi adalah seni berbicara "mematahkan & manitihkan" perkataan dalam suatu musyawarah atau perundingan. Yang dimaksud dengan mematahkan adalah membantah/menolak suatu pendapat ide dari yang lain, sedangkan yang dimaksud dengan manitihkan adalah menyetujui suatu pendapat/ide dari yang lain.     

Mengapa saya sebutkan bukan tradisi warisan dalam islam? Secara logis bisa ditemukan dalam pepatah petitih yang menyebutkan syarat-syarat pusako tinggi bisa digadaikan, yaitu :
1. Mambangkik batang tarandam
2. Gadih gadang indak ba laki
3. Rumah Gadang katirisan
4. Mayik tabujua ditangah rumah.

Dalam ajaran islam kita mengenal bahwa penyelenggaraan jenazah termasuk dalam fardhu kifayah, yaitu adalah kewajiban bersama seluruh masyarakat. Jadi tidaklah logis sampai harus menggadaikan pusako tinggi untuk menyelenggarakan pemakaman sampai harus mengadai harta kaum pula. Mengapa dalam pepatah petitih disebutkan hal demikian? Sebab hal ini berlangsung ketika islam belum masuk di Minangkabau, dimana penyelenggaraan jenazah memerlukan biaya besar, seperti manujuah hari, ampek puluah hari, seratuih hari dan lain sebagainya.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan Wali Nagari Cubadak kec. Limo Kaum kab, Tanah Datar pak Zulfikar Gatot. Beliau menyebutkan, semasa kecil apabila ada kematian di nagarinya, para ibu-ibu handai taulan yang mati akan menjenguk ke rumah duka. Setiap ibu-ibu ini akan meratap (menangis) di depan si mati. Bahkan ratapan ini adapula berbagai macam iramanya. Setelah beberapa tahun berlalu, para alim ulama & Niniak Mamak melakukan perundingan membahas permasalahan ini, dan diperoleh kesimpulan bahwa meratapi kematian dalam ajaran islam tidak diperbolehkan. Sejak saat itu hingga saat ini tidak ada lagi ibu-ibu yang meratap di depan jenazah.

Begitu pula dengan adat salingka nagari di nagari Cubadak. Di masa lalu, setiap ada musibah kemalangan meninggalnya salah satu masyarakat nagari, setiap keluarga memberikan bantuan keuangan bagi keluarga duka. Uang ini nantinya dibelikan seluruh bahan-bahan masakan untuk melakukan kenduri kematian yang akan dihadiri oleh seluruh masyarakat nagari. Setelah acara selesai, uang bantuan tersebut ternyata berbentuk pinjaman yang harus dikembalikan kepada empunya. Karena hal ini dinilai memberatkan bagi keluarga yang sedang ditimpa musibah, seluruh anggota Kerapatan Adat Nagari Cubadak bersama alim ulama suluah bendang nagari melakukan musyawarah. Dari pertemuan itu, hingga saat ini pemberian bantuan keuangan ditiadakan & apabila ada keluarga yang ingin membantu tidak diberi kawajiban untuk mengembalikannya kembali.

Saya kira, dengan demikian bisa dimergerti bahwa : Adat Babuhua Sentak, Syarak Babuhua Mati, dengan maksud adalah dalam khazanah adat & budaya minangkabau tidak ada yang sifatnya absolut (tidak bisa dirubah), sebab perubahan selalu bisa dilakukan apabila dilakukan musyawarah & disepakati bersama. Maksud dari "disepakati bersama" adalah apabila ada sebagaian kecil dari niniak mamak tidak setuju dalam sebuah permasalahan, nantinya akan "sato manggolongan", bukan malah "bakareh arang" mempertahankan pendapatnya sendiri.

Semoga bermanfaat, amin ya Rabbal alamin 

wasalam

AZ/lk/32 th

Minangkabau adalah budaya yang elastis, mengutamakan bersamaan & kebenaran.
Nan Bana Nan Basamo                   
    

aafr...@yahoo.co.id

unread,
Feb 28, 2011, 2:05:56 AM2/28/11
to rantaunet
Wa'alaikum salam WW
Sanak AZ dan dunsanak lainnyo di palanta nan dirahmati Allah.

Betul sekali bahwa pepatah petitih bukanlah warisan Islam di Minang Kabau, dia adalah warisan adat yang disusun dan diciptakan oleh nenek moyang kita sebelum Islam datang ke Minang Kabau.

Kita mengetahui bahwa sebelum Islam masuk ke MK masyarakat Minang memakai palsapah "Iduik dikanduang adaik mati dikanduang tanah" ssudah itu barubah mankadi "adaik basandi alua alaua basandi patuik" kutoko ikolah disusun aturan adaik jo pusako dan sebagai pedomannyo adolah papatah jo patitih mamang jo bidal gurindam jo bidarai dll.

Setelah islam masuak dan disepakati sebagai satu-satunyo agamo masyarakat MK nan melalui perjuangan dan perjalanan panjang mako disepakatilah palasapah masyarakat Minang manjadi "Adaik Basandi Sarak Sarak Basandi Kitabullah".

Mako sajak itu dilakukanlah pembersihan ajaran adat supaya tidak berlawanan dengan ajaran Islam sampai kini masih bajalan.

Namun harus disadari kalau kito dalami berbagai pepatah petitih MK tidaklah bayak yang bertentangan dengan ajaran Islam makanya Islam lebih bisa menyatu dengan masyarakat Minang ketimbang agama-agama yang terdahulu masuk ke MK.

Satantangan aturan adat buliah manggadai nan 4 perkata itu pada hakekatnya adalah mempersempit peluang untuk menjual menggadai harta pisaka, karen yang 4 macam itu pasti akan sulit ditemukan atau terjadinya.

Tks
Afrijon Ponggok Katik Basa Batuah
43,L, sdg di Bkt.

Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Armen Zulkarnain <emenes...@yahoo.co.id>
Date: Mon, 28 Feb 2011 07:26:52 +0800 (SGT)
Subject: [R@ntau-Net] Pepatah-Petitih, Mamang, Bidal, Pantun di Minangkabau bukanlah Budaya Warisan Islam

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages