SUMBAR terbanyak no 3 Urang Gilo

82 views
Skip to first unread message

Sri Yansen

unread,
Nov 14, 2011, 2:55:04 AM11/14/11
to Rant...@googlegroups.com

Apoko iko dampak dek gagalnyo "Industri Utak"....kini SUMBAR Rangking 3 Nasional



NTB Urutan Empat Penderita Gangguan Jiwa Berat
Khaerul Anwar | Robert Adhi Ksp | Senin, 14 November 2011 | 14:39 WIB
Dibaca: 86
|
Share:
SURYA
Ilustrasi
MATARAM, KOMPAS.com - Nusa Tenggara Barat yang warganya mengalami gangguan jiwa berat menduduki urutan ke empat nasional, setelah DKI Jakarta, Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Barat. Malah angka penderita gangguan jiwa berat di NTB sejumlah satu persen dari jumlah penduduknya (4 juta), atau lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 0,5 persen.

Karena data resmi tahun 2011 belum ada, kami pakai data hasil riset tahun 2007 yang dilakukan Kementrian Kesehatan, kata Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi NTB, dr Elly Rosila Wijaya SpKJ, Senin (14/11/2011) di Mataram, tentang data sebagai gambaran kesehatan jiwa di Provinsi yang meliputi Pulau Lombok dan Sumbawa itu.

Menurut Elly, gangguan jiwa disebabkan banyak faktor seperti faktor genetik dan kemiskinan. Di NTB penyebab dominan adalah soal kemiskinan, seperti terindikasi di RSJ NTB, dari 100 tempat tidur, 70 persen adalah pasien warga miskin yang biaya perawatannya dari Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
Begitu pun di eksRSJ Selebung, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, 100 tempat tidur umumnya diisi penderita dengan latar belakang ekonomi kelas bawah.

Jumlah itu belum termasuk penderita gangguan jiwa berat yang dirawat sendiri oleh keluarganya dengan cara dipasung. Mereka ini bisa dirawat di RSJ NTB dan Puskesmas asalkan sudah terdaftar sebagai anggota Jamkesmas. Hanya saja soal perawatan di luar rumah penderita seperti RSJ, dinilai sangat dilematis.

Elly memberi contoh, seorang lelaki penderita gangguan jiwa berat di Desa Buer, Kabupaten Sumbawa, yang dipasung. Penderita yang memiliki seorang anak, ditinggal isterinya menjadi buruh migran, itu dirawat sendiri oleh ibunya.

Petugas RSJ NTB yang hendak membawa penderita itu untuk dirawat ke Mataram, tidak diberi izin oleh orang tuanya (ibu penderita). Ibu si pasien menangis, kalau (penderita) dibawa saya mesti ikut. Lalu kalau saya pergi, siapa yang merawat cucu saya, ujar Elly mengutip pengakuan ibu si penderita tadi.

Gangguan jiwa berat terbanyak di Kabupaten Bima (1,5 persen), disusul Lombok Timur (1,2 persen), Kota Mataram (0,9 persen), Dompu (0,8 persen), sedang kabupaten lain seperti Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah dan Kota Bima lebih rendah (rata-rata 0,6 persen).

Elly juga mengungkapkan, gangguan jiwa ringan (gangguan emosional) di NTB, angkanya lebih tinggi (12,8 persen) dibanding nasional (11,6 persen). Di Lombok Tengah mencapai 23 persen, Lombok Barat 15 persen, Kabupaten Bima dan Dompu 13 persen, Lombok Timur 13 persen, dan kabupaten lain masih rendah.


Wassalam,
Yansen/39+/Lk

sjamsir_sjarif

unread,
Nov 14, 2011, 6:55:13 AM11/14/11
to rant...@googlegroups.com
Barangkali masalah Urang Gilo ko rancak diurus negara secara Program Terbaru Nasional. Ado Badan, latakkanlah Kementerian atau Deopartemen Orang Gila yang khusus mengurus Orang Gila ini. Salah satu yang terbayang adalah menjadi Proyek Transmigrasi.

SEMUA oOrang Gila ini dikumpulkan dan ditransmigrasi ke suatu propinsi baru, dengan ibu kota baru, kabuoaten baru dan kecamatan baru, penduduk baru, entah di mana. Dari gubernur, bupati, camat, lurah, semua aparat dan dan penduduknya diatur menurut kebijaksanaan Daerah Istimewa Otonomi Propinsi Orang Gila. KTPnya juga diatur dengan KTP Orang Gila. Mungkin ini akan merupakan proyek mulia dan pertama kali di dunia, world premiere.

Di Propinsi Orang Gila ini diatur pula Jawatan Turis atau Wisata yang semua pengelola dan guidesnya juga Oang Gila. Pasti Industri Turis mereka akan menjadi masukan Devisa Negara sehingga orang Propinsi Orang Gila ini dapat menghasilkan anggaran mereka. Turis mancaanegara pasti akan berhamburanmkesana dari segala penjuru dunia.

Pilkada mereka juga diatur secataa otonomi Orang Gila. Biarlah mereka juga yang mencatat dan membuat laporan resmi statistik berapa banyaknya orang gila menurut pandangan Orang Gila. Di Propinsi Orang Gila itu, Orang yang Tidak Gila akan dianggap Orang Gila. ...

-- Nyit Sungut

--- In Rant...@yahoogroups.com, Sri Yansen <syansen@...> wrote:
>
>
>
> Apoko iko dampak dek gagalnyo "Industri Utak"....kini SUMBAR Rangking 3 Nasional
>
>
> http://regional.kompas.com/read/2011/11/14/14390742/NTB.Urutan.Empat.Penderita.Gangguan.Jiwa.Berat
>
>
> NTB Urutan Empat Penderita Gangguan Jiwa Berat
> Khaerul Anwar | Robert Adhi Ksp | Senin, 14 November 2011 | 14:39 WIB

> Dibaca: 86
> Komentar: 0
> |
> Share:

Alzaber Alzaber Arif

unread,
Nov 14, 2011, 10:08:50 AM11/14/11
to rant...@googlegroups.com
Dunsanak sapalanta yg ambo sanangi.

Nusa Tenggara Barat yang warganya mengalami gangguan jiwa berat menduduki urutan ke empat nasional, setelah DKI Jakarta, Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Barat.
Mudah2an iko bukan data terbaru, tapi kalaupun iyo salah satu panyaboknyo adolah bareknyo baban hidui ko. Jadi manurui ambo untuak mailangkan baban nantu, yo jo mambuwek lapangan karajo nan patui.
Sangenek
Alzaber.

--- Pada Sen, 14/11/11, Sri Yansen <sya...@yahoo.com> menulis:
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/

Arina Widya Murni

unread,
Nov 14, 2011, 8:48:53 PM11/14/11
to rant...@googlegroups.com
assalamu'alaikum sanak sa palanta,
menuruik ambo, memang tidak heran kito kalau sumatera barat menempati urutan ke tiga dalam jumlah penderita gangguan jiwa.
penelitian nan pernah ambo buek tahun 2006, dari 100 orang penderita sakit maag, ternyata ada 40 orang yang mengalami gangguan psikis seperti kecemasan dan depresi. itu untuk kasus gangguan jiwa ringan .
kalau dilihat jumlah penderita gangguan jiwa berat yang dirawat di RSJ HB Saanin Ulu Gadut tidak berkurang, cendrung bertambah dari tahun ke tahun.
banyak faktor penyebab untuk terjadinya gangguan jiwa , seperti faktor genetik, faktor internal lain dan faktor dukungan lingkungan.
membuka lahan kerja , bisa jadi faktor yang membantu , tapi sepertinya tidak gampang dilakukan.
dari pantauan klinis sehari-hari , ambo caliak nan paralu dipakuaik adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi terhadap stressor/ancaman baik dari internal diri sendiri atau ancaman dari luar. Terjadinya stres atau gangguan psikis lebih disebabkan oleh kegagalan seseorang itu dalam mengatasi masalah yang muncul..
cubo kito renungkan kondisi nagari kito, wilayah yang sering dihoyak gampo, harga jual barang nan tinggi, harga tiket se maha dari tampek lain, temperamental urang minang nan kurang saba, emosional dan cendrung meniru pola hidup hedonis, statement nan berkembang di masyarakat mulai di tingkek rumah tanggo sept ucapan, urang bisa baa awak kok indak?, kurang dibekali paham , " kalau lah kareh usaho, indak dapek juo, basaba se lah, alun rasaki wak lai ", bandingkan jo paham urang jawa..." ya sudahlah, kalau ndak dapat ya ndak apa, usaha lagi..."
itu baru sebagian kecil dari pantauan ambo sehari-hari , nan tiok hari praktek di rumah sakik,
sanak sapalanta nan ambo hormati, masalah gangguan jiwa bukan masalah nan sederhana, butuh kerjasama awak kassdonyo , bukan beban pihak kesehatan sajo...
mano tau dari palanta ko, muncul komunitas peduli sehat jiwa,,ambo mangajak kito sadonyo tuk mamikiakan iko..
banyak gangguan jiwa di nagari awak , akan berefek luas ke lingkungan karena bisa menimbulkan gangguan dan menurunkan kualitas hidup manusia..
sekian dari ambo
wassalam,
arina, 41 th, padang ( internis psikosomatis)



From: Alzaber Alzaber Arif <zabe...@yahoo.co.id>
To: rant...@googlegroups.com
Sent: Monday, November 14, 2011 10:08 PM
Subject: Bls: [R@ntau-Net] SUMBAR terbanyak no 3 Urang Gilo

Dunsanak sapalanta yg ambo sanangi.
Nusa Tenggara Barat yang warganya mengalami gangguan jiwa berat menduduki urutan ke empat nasional, setelah DKI Jakarta, Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Barat.
Mudah2an iko bukan data terbaru, tapi kalaupun iyo salah satu panyaboknyo adolah bareknyo baban hidui ko. Jadi manurui ambo untuak mailangkan baban nantu, yo jo mambuwek lapangan karajo nan patui.
Sangenek
Alzaber.

--

Anzori

unread,
Nov 15, 2011, 2:43:37 AM11/15/11
to rant...@googlegroups.com
Faktor genetik banyak berperan mambuek urang gilo. Antaro genius jo gilo beda tipih. Urang genius
  indak kasampaian cita-cita bisa gilo. Tapi urang gilo nan genius bisa jadi urang hebat. Kalau di Sumbar banyak nan gilo, asal muasalnyo mereka tu sabananya genius........ Kalau di Sumbar indak banyak urang hebat, tandonyo banyak urang gilo nan indak genius. Kalau di perantauan banyak urang minang nan hebat-hebat, tandonyo mereka urang gilo nan genius ......(jan sampai masuak hati)

Dasriel Noeha

unread,
Nov 15, 2011, 3:24:48 AM11/15/11
to rant...@googlegroups.com
nan gilo matematik dan jenius, pak Zultan, nan gilo bumbu dan masak serta kuliner mak Jepe, nan gilo gulo-gulo sia yooo...
 
wass,
dan

--

Dr Saafroedin Bahar

unread,
Nov 20, 2011, 7:11:39 PM11/20/11
to Rantau Net Rantau Net
Rina, saya termasuk salah seorang peminat masalah psikosomatik orang Minangkabau, dipicu oleh sinyalemen tentang 'minangitis' atau 'padangitis' dalam tahun 1960-an. Yang menjadi perhatian saya adalah mencari akar kultural dari gejala psikosomatik ini, yang berarti perlu melakukan kajian lintas disiplin. Bagaimana kalau Rina prakarsai sebuah focused group discussion di Padang, dengan pakar terkait, antara lain pak Mochtar Naim,
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.

From: Arina Widya Murni <arina_wi...@yahoo.com>
Date: Mon, 14 Nov 2011 17:48:53 -0800 (PST)
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] SUMBAR terbanyak no 3 Urang Gilo

--

trisna dewy

unread,
Nov 21, 2011, 1:42:31 AM11/21/11
to rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum Mamak, mande bapak ibus adonyo,
batua kato uni arina kalo beban hidup nan barek dikampuang mambuek banyak urang awak stress (bencana, biaya hidup tinggi, kecendrungan urang awak baik dikampuang ataupun dirantau yang cuma caliak mancaliakan sajo (individu) turut menyumbang fenomena iko). tapi menuruik awak kurangnyo komunikasi antar keluarga dan teman (semacam curhat atau melakukan aktivitas bersama untuk melepaskan beban pikiran) juga turut menyumbang stress ini. Kebanyakan kasus saya amati seperti itu. apalagi orangnya dasarnya punya cita2 tinggi tapi terhalang hambatan (baik dari diri sendiri ataupun eksternal) sadang tampek mangadu dan berkeluh kesah dak adoh pulo. Menurut awak balik lagi keluarga pondasi awalnyo, mari awak rangkul keluarga awak dan saling menguatkan menghadapi tekanan dan kecemasan hidup, moga resiko stress berkurang. amiiin


wassalam
trisna (jkt, koto, 29 thn)


sjamsir_sjarif

unread,
Nov 21, 2011, 5:17:46 AM11/21/11
to rant...@googlegroups.com
Kalau baitu, asumsi ambo, masyarakat awak sabananyo individualistis; Kurang mamparhatikan keadaan individu atau keluarga orang lain yang menderita. Tampaknyo dibiarkan sajo, bahkan kadang-kadang diketawakan, atau diejek, uang gilo!

Cubo paratikan bilo urang awak kunjung saling berkunjung, bakajalangan? Kecuali kalau ado urang mati, baru sampai awak, saroman tqapaso, manjanguak ka rumah urang. Tapi kalau dalam hari biaso, apakah urang awak lai ado singgah ka halaman apo lai naik rumah keluarga urang nan mati tu? Nan dikunjungi hanyo keluarga nan agak dakek sajo; itupun jarang. Masing-masing malagakkan, atau mahidokkan parasaian surang-surang...

Labiah jauah lai, malahan banyak pulo nan bingik mambingiki. Kalau ado urang gadang tamusahua, indak familinyo, saroman Pak Hatta misanyo, aa itu Uang Awak. Dipanggakkan nagari awak industri utak. Tapi kalau ado urang kamuangnyo nan gilo, sakik utak, atau musikin, itu indak bakatahuan jo awak. Yah mungkin terlalu ektrim pandangan ko, tapi cubo caliak tunggikkan pandangan labiah dakek, kasus per kasus, nan mungkin ado data untuak diparajai, di Kampuang atau di Rantau. Anggaop pananganiko suatu tesis nan paralu distudi.

Kok diinokkan bana pandangan ko mungkin Urang Awak tu memang lah Agak Gilo juo, gilo surang-surang, gilo manggiloi badan surang-surang ...

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif

arina_wi...@yahoo.com

unread,
Nov 21, 2011, 6:34:25 AM11/21/11
to rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum pak saaf, jo sanak sapalanta,
Sabananyo forum tu bana nan ingin ambo usahokan, tahap awal ko ambo sadang mancubo berbagi informasi ke kalangan dokter dulu, krn ternyata pengenalan lebih dini ggn jiwa di tingkat pelayanan primer sangatlah penting, indak saketek pasien nan lah baputa ka banyak dokter bahkan ka lua nagari namun kironyo kelainan yg ditamui ndak ado, bisa kito bayangkan bara tanago jo biaya nan kalua.
Samantaro itu ambo pun tergelitik manga ado istilah 'padangitis' dulu, dek banyaknyo kasus sakit magh di urang awak, apo memang ado hub nyo jo adat dan kultur minang?
Bia lah ambo cubo rancang proposal nyo pak, mudah2an ado pulo diantaro apak, bundo, mamak, kakak dan adiak di palanta ko berminat mendiskusikan iko, kito cari waktu nan tapek nanti,
Kalau utk dokter di sumbar riau jambi, ambo akan membuat seminar nan tagabuang jo seminar rutin peny dalam FK unand, sekitar februari 2012 nanti..
Demikian, wassalam
Arina, 41 th, padang
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Dr Saafroedin Bahar

unread,
Nov 21, 2011, 5:02:33 AM11/21/11
to Rantau Net Rantau Net
Trisna, bersama dgn dr. Rina di Padang sudah ada tiga orang kita yang berminat pada masalah psikosomatik kita orang Minangkabau. Mungkin besar manfaatnya jika dr Rina dan Trisna mulai mencerahkan kita tentang bidang yg belum banyak disentuh ini.
Wassalam,
SB.
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.

From: trisna dewy <trisn...@yahoo.co.id>
Date: Mon, 21 Nov 2011 14:42:31 +0800 (SGT)
Subject: Bls: Bls: [R@ntau-Net] SUMBAR terbanyak no 3 Urang Gilo

Dr Saafroedin Bahar

unread,
Nov 21, 2011, 5:57:39 AM11/21/11
to Rantau Net Rantau Net
Mak Ngah, nan agak jarang dilakukan urang sampai kini adolah penelitian ilmiah obyektif lintas disiplin tentang kondisi masyarakat Minangkabau maso kini. Kalau uraian normatif - bahkan mitosd dan legenda - alah banyak, tarutamo tantang Minangkabau maso dahulu.
Walaupun baitu, kalau kito kumpuakan kliping koran lokal tantang apo nan sadang tajadi di Ranah Minang kini, iyo tapaso geleng-geleng kapalo kito dibueknyo, sambia batanyo dalam hati: limbago kepemimpinan sosial ma koh nan batangguang jawab mamelokinyo ?
Wallahualambissawab.
Minang memang alah, sadang, dan akan barubah taruih. Parubahan tu nampaknyo balangsuang tanpa arah dan tanpa kendali. Basihanyuik sajo, baitu nan nampak dek ambo.
Wassalam,
SB.
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.

-----Original Message-----
From: "sjamsir_sjarif" <hamb...@yahoo.com>
Sender: rant...@googlegroups.com

Dr Saafroedin Bahar

unread,
Nov 21, 2011, 6:44:17 AM11/21/11
to Rantau Net Rantau Net
Rina, walau ambo indak dokter, undang juolah ambo bulan Februari 2012 tu kok lai umua panjang. Ambo akan anok-anok sajo nguping pembicaraan tantang kondisi kejiwaan urang kito Minangkabau, nan masih marupokan teka teki bagi ambo.
Wassalam,
SB.
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.

-----Original Message-----
From: arina_wi...@yahoo.com
Sender: rant...@googlegroups.com
Date: Mon, 21 Nov 2011 11:34:25
To: rant...@googlegroups.com<rant...@googlegroups.com>
Reply-To: rant...@googlegroups.com
Powered by Telkomsel BlackBerryŽ

taufiq...@rantaunet.org

unread,
Nov 21, 2011, 6:51:23 AM11/21/11
to rant...@googlegroups.com

Ambo indak tau pasti baa nan sabananyo Padangitis iko

Tapi perkiraan ambo adolah salah satu side effect urang awak nan marasai pasca PRRI
Mereka lari ka Rantau dan bertungkus-lumus menuju sukses

Ketika harapan itu mulai agak terbuka, mereka keburu napsu untuk mengaktualisasikan diri

Akibatnya kondisi yg berangsur lumayan bukan difocuskan untuk meningkatkan performance dan asset. Tapi utk remeh-temeh kebanggan diri terutama kekampung

Akibatnya bisnis mulai goyang, parasaan pun ilang-ilang timbua. Akhirnyo stress berat

Iyo baitu ??

--TR
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

arina_wi...@yahoo.com

unread,
Nov 21, 2011, 10:40:42 AM11/21/11
to rant...@googlegroups.com
Hehehe...insya Allah pak, nanti ambo kabari , hari dan jam sesi presentasi ambo..
Kalau berkenan, ado beberapa tulisan nan pernah ambo buek, nanti ambo postingan disiko ..
Insya Allah,
Wassalam, arina, 41 th, padang
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Ambiar Lani

unread,
Nov 21, 2011, 9:19:37 PM11/21/11
to rant...@googlegroups.com, mocht...@yahoo.com, saaf...@yahoo.com, amri aziz, andi ko, taufiq rasjid, ermansyah jamin, gebumin...@gmail.com, k suheimi, zulhendri chaniago, Riri Chaidir, refrizal, ambo...@gmail.com, hams...@yahoo.com, asril tanjung, ambiar lani
Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bung Taufiq sarato Bapak dan Ibu para dunsanak pengunjung palanta nan ambo hormati.

Labiah kurang ampia samo jo Bung Taufiq, ambo pun buliah dikatokan atau dimasuakkan ka dalam kalompok nan kurang mangarati (ataupun mungkin tidak mengerti) dengan apa yang disebut dengan istilah Padangngitis atau Minangitis itu.

Nan ambo ketahui adalah bahwa imbuhan kata itis itu adalah istilah dalam ilmu kedokteran. Misalnya; parringitis artinya radang tenggorokan, gastritis artinya radang usus dua belas jari, sinusitis artinya radang rongga hidung, miningitis artinya radang selaput otak, dan seterusnya........
(mohon kepada dunsanak nan baprofesi sebagai dokter atau mendalami ilmu kedokteran pengetian istilah yang kami tulis tersebut untuk dikoreksi agar menjadi lebih tepat, terima kasih terlebih dahulu)

Dalam hal penggunaan kata imbuhan itis (dan ataupun mengadopsi kata imbuhan itis) terhadap penyakit sosial di tengah masyarakat, dengan melekatnya dan ataupun menyebutkannya untuk dan kepada etnis tertentu seperti Padangitis atau Minangitis itu, ambo kiro kepada yang pertama kali menggunakan istilah ini perlu kita minta dan kita beri kesempatan untuk menjelaskan dan menafsirkannya secara ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

Kalau misalnya yang dimaksudkan dengan Minangitis atau Padangitis itu misalnya dengan penyakit sosial sms (susah mancaliak urang sanang ~ sanang mancaliak urang susah) di tengah komunitas urang awak, pemalas, ujub (agak kurang randah hati), kurang ridha / kurang ikhlas, kurang ramah kepada tamu / kurang menonjol dalam pelayanan dan lain-lain sebagainya, hal sama juga ditemui pada etnis atau daerah yang lain. Lantas kenapa kita menggunakan kosa kata yang seharusnya kita banggakan itu Minang dan Padang, untuk sebuah sebutan yang bersifat penyakit kronis Minangitis atau Padangitis itu?

Agak khawatir ambo kalau-kalau kita manapuak aia di dulang ~ mamacik (memercik) ka muko awak juo.

Menjadi harapan bagi ambo dan mungkin juga dunsanak palanta nan lain, ndak usahlah awak manggunokan istilah yang nampaknya diilmiah-ilmiahkan itu, tapi tidak dapat dijelaskan secara etimologis dan akademis.

Akhirulkalam, mohon maaf kalau ada kurang berkenan atau yang kurang terletak pada tempatnya. Billahitaufiq walhidayah.


Wassalam,


Ambiar Lani,
L/59/Jkt-Bekasi.


From: "taufiq...@rantaunet.org" <taufiq...@rantaunet.org>
To: rant...@googlegroups.com
Sent: Monday, November 21, 2011 3:51 AM

Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] SUMBAR terbanyak no 3 Urang Gilo
Sent from my BlackBerryŽ

powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Hambo

unread,
Nov 21, 2011, 10:02:01 PM11/21/11
to RantauNet
Bana, ambo pun baru mandanga/mambaco istilah tu siko pulo dan indak
mangarati apo nan dimukasuik. Iyo nan takana di ambo cuma namo
panyakik bronchitis (bronkitis) radang cabang tenggorok. Oh iyo takana
lo ciek lai, ado kenalan lamo maso ketek di Bukittinggi, namonyo Titis
(Idris) tapi itu namo gadih rancak, indak namo panyakik doh.

Salam,
--MakNgah


On Nov 21, 6:19 pm, Ambiar Lani <rang_k...@yahoo.com> wrote:
> Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh,
>
> Bung Taufiq sarato Bapak dan Ibu para dunsanak pengunjung palanta nan ambo hormati.
>
> Labiah kurang ampia samo jo Bung Taufiq, ambo pun buliah dikatokan atau dimasuakkan ka dalam kalompok nan kurang mangarati (ataupun mungkin tidak mengerti) dengan apa yang disebut dengan istilah Padangngitis atau Minangitis itu.
>
> Nan ambo ketahui adalah bahwa imbuhan kata itis itu adalah istilah dalam ilmu kedokteran. Misalnya; parringitis artinya radang tenggorokan, gastritis artinya radang usus dua belas jari, sinusitis artinya radang rongga hidung, miningitis artinya radang selaput otak, dan seterusnya........
>
> (mohon kepada dunsanak nan baprofesi sebagai dokter atau mendalami ilmu kedokteran pengetian istilah yang kami tulis tersebut untuk dikoreksi agar menjadi lebih tepat, terima kasih terlebih dahulu)
>
> Dalam hal penggunaan kata imbuhan itis (dan ataupun mengadopsi kata imbuhan itis) terhadap penyakit sosial di tengah masyarakat, dengan melekatnya dan ataupun menyebutkannya untuk dan kepada etnis tertentu seperti Padangitis atau Minangitis itu, ambo kiro kepada yang pertama kali menggunakan istilah ini perlu kita minta dan kita beri kesempatan untuk menjelaskan dan menafsirkannya secara ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
>
> Kalau misalnya yang dimaksudkan dengan Minangitis atau Padangitis itu misalnya dengan penyakit sosial sms (susah mancaliak urang sanang ~ sanang mancaliak urang susah) di tengah komunitas urang awak, pemalas, ujub (agak kurang randah hati), kurang ridha / kurang ikhlas, kurang ramah kepada tamu / kurang menonjol dalam pelayanan dan lain-lain sebagainya, hal sama juga ditemui pada etnis atau daerah yang lain. Lantas kenapa kita menggunakan kosa kata yang seharusnya kita banggakan itu Minang dan Padang, untuk sebuah sebutan yang bersifat penyakit kronis Minangitis atau Padangitis itu?
>
> Agak khawatir ambo kalau-kalau kita manapuak aia di dulang ~ mamacik (memercik) ka muko awak juo.
>
> Menjadi harapan bagi ambo dan mungkin juga dunsanak palanta nan lain, ndak usahlah awak manggunokan istilah yang nampaknya diilmiah-ilmiahkan itu, tapi tidak dapat dijelaskan secara etimologis dan akademis.
>
> Akhirulkalam, mohon maaf kalau ada kurang berkenan atau yang kurang terletak pada tempatnya. Billahitaufiq walhidayah.
>
> Wassalam,
>
> Ambiar Lani,
> L/59/Jkt-Bekasi.
>
> ________________________________

> From: "taufiqras...@rantaunet.org" <taufiqras...@rantaunet.org>

taufiq...@rantaunet.org

unread,
Nov 21, 2011, 10:44:11 PM11/21/11
to roestam hamsyal, Ambiar Lani, rant...@googlegroups.com, mocht...@yahoo.com, saaf...@yahoo.com, amri aziz, andi ko, ermansyah jamin, gebumin...@gmail.com, k suheimi, zulhendri chaniago, Riri Chaidir, refrizal, ambo...@gmail.com, asril tanjung

Tapi kenyataannya istilah itu memang ada dan cukup populer mungkin sekitar tahun 70an-80an

Tampaknya memang digunakan utk urang awak nan sadang taluncua sehingga menimbulkan stress berat sampai galak surang

--TR
Sent from my BlackBerry®

powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] SUMBAR terbanyak no 3 Urang Gilo

Assm ww bpk/ibu
Mengenai istilah Padangitis atau Minangitis harus hati2 karena dapat menimbulkan persepsi negatif, kalau tidak jelas maknanya jangan dipakai istilah itu. Ambo sebagai orang minang sangat tidak setuju istilah tsb sebab konotasinya dapat mengartikan tidak baik. Tks Roestam Hamsyal

Dikirim dari iPad saya

AnwarDjambak

unread,
Nov 21, 2011, 10:50:12 PM11/21/11
to Rant...@googlegroups.com
Mak TR.....

Kalau 'galak surang' ko yo sabana banyak kini Mak...! Hahahaha

Apolai sajak ba Hape jo Bebe ko..!!!

Hahahahahahahaaaa (iko contohnyo ha Mak..!)

Sangenek,


Wassalam,
AnwarDjambak43+,L,Pyk, Kualalumpur, Malaysia
Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

arina_wi...@yahoo.com

unread,
Nov 21, 2011, 10:51:48 PM11/21/11
to rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum pak taufiq dan bapak2 sarato sanak kasadonyo
Nan ambo tau soal padangitis ko sahubungan jo tingginyo insiden penyakit magh yang ado di masyarakat kito, nan diduga efek dari caro atau pola makan rang minang nan babumbu padeh jo asam, jadi kalau ambo dapek carito, acok urang awak ko barubek k luar padang sarupo jakarta keluhan nan disampaikan dominan masalah lambuang ko, sehinggo muncullah istilah padangitis, kok hub ny jo sikap dan perilaku masy minang, yo ndak jaleh dek ambo do. Mungkin ado nan bisa menyampaikan.
Istilah "itis" ko memang manandokan ado proses peradangan inflamasi ataupun infeksi, nah padangitis ko jadinyo namo lain dari gastritis kiro- kiro..
Wassalam
Arina,41 th, padang, kini sdg di jakarta sabanta..
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Date: Tue, 22 Nov 2011 03:44:11 +0000
To: roestam hamsyal<hams...@yahoo.com>; Ambiar Lani<rang...@yahoo.com>

trisna dewy

unread,
Nov 22, 2011, 12:11:08 AM11/22/11
to rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum Mamak, mande bapak ibu sadonyo,
awak bukan dokter pak cuma hobi baco buku psikologi, tepatnya psikolog tak kesampaian..hehehe
awak pernah baco istilah padangitis tu pak cuma lupo, nan awak ingek bahwa orang awak memang kecendrungan (umumnya)  mengidap kecemasan termasuk yang dirantau karna tradisi merantau itu pak. ke daerah baru dengan segala tantangannya dan masalahnya merupakan penyebabnya. walau dak sampai galak surang tapi kecemasan iko juga merupakan gangguan jiwa juga pak. sampai kini alun adoh solusinyo lai doh.
soal individu tu yo lah parah bana nan di urang awak kini, kalo zaman dulu lingkupan individunya masih mengutamakan urang sa jorong atau nagari tapi kini mengutamakan sanak sa kanduang. bahkan urang awak lah maleh pulo pai silaturahmi ka sabalah rumah pas rayo. dikampuang awak di kota padang se lah mode itu pak, urang pai sumbayang rayo ka surau sudah tu pulang, dak saling datang mandatangi walau sabalahan rumah juo. kok soal rami pas kematian itu yo bana mah pak, seakan sanang menonton kesedihan urang apolai nan berpulang tu urang gadang pulo urang awak tanpa malu mangecekan "syukurlah si anu maningga, bia rasoan hiduik dek sanaknyo itu". alun soal sakik hati maliek urang maju..yo sabana parah. namun masalahnyo lagi urang awak nan sadar itu salah juga tak ada yang berani mengatakan itu salah dan berusaha membenahinya, urang awak cenderung menghindari konfrontasi langsung baik dengan masyarakat banyak ataupun dengan adat dengan merantau dan dak balik2 ka kampuang lagi, palingan beraninyo takah diforum iko. maaf bukan awak manyalahan apak ibu disiko awak pun termasuk salah. itulah kenyataannyo, diantropologi suku awak pun dibilang gitu kok pak

bukti individu dan tinggi hatinyo urang awak yo di ungkapan dibawah ko pak

Kok kayo-kayolah surang aden ndak kamamintak
Kok Tinggi Indak ka den Panjek
Kok Gadang Indak Kaden dukuang
Kok Cadiak jan manjua kawan

urang yang kayo itu pun alun manuduh inyo pamintak lai doh, nan berpangkat tinggi alun manuduh dia mambarekan lai doh, urang nan sukses alun mamijak dia dan urang nan pintar juga alun memanfaatkan dia tapi nyo surang duluan membentengi (menarik diri demi egonya). dengan mengatakan secara tidak langsung mereka2 yang dianggap kaya, berpangkat tinggi, sukses dan pintar itu pasti negatif terhadap dia cepat atau lambat. benar2 jiwa kerdil kalo menurut awak urang saroman itu. padahal kan kalo terjalin silaturahmi dan komunikasi yang baik antara si kaya dan si kelas menengah dan si miskin tentu kampuang awak dan generasi penerus kampuang awak lebih maju karena semuanya bahu membahu memajukan kampuang dan urang kampuang kan.

awak mencintai ranah minang dan menolak ikut2an sikap yang menurut awak buruak itu tapi hasilnyo awak malah dianggap bukan urang awak.

sekian dulu

wassalam
trisna (jkt, padang, koto, 29 thn)


Dr Saafroedin Bahar

unread,
Nov 22, 2011, 3:09:13 AM11/22/11
to roestam hamsyal, Rantau Net, Ambiar Lani, rant...@googlegroups.com, mocht...@yahoo.com, amri aziz, andi ko, taufiq rasjid, ermansyah jamin, gebumin...@gmail.com, k suheimi, zulhendri chaniago, Riri Chaidir, refrizal, ambo...@gmail.com, asril tanjung
Assalamualaikum ww para Sanak sapalanta, 

Saya percaya bahwa tidak ada orang - atau suku bangsa - yang suka  kelemahan atau kekurangannya diungkap, baik oleh keluarganya maupun oleh orang lain. Sikap itu adalah manusiawi dan dapat difahami. Tentu saja lebih menyenangkan jika yang ditampilkan adalah kekuatan dan kelebihan kita.

Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan atau kekurangan yang benar-benar ada pada diri kita atau pada kelompok kita. 

Rasanya ada dua pilihan, yaitu 1). 'dilampok' saja, seakan-akan hal itu tidak ada; atau 2) dihadapi secara lugas, dicari akar penyebabnya, dan seiring dengan itu dicarikan cara mengatasinya. Kalau saya tidak salah, cara yang kedua ini lazim dipakai di kalangan kedokteran, yang lazimnya meminta data pasien berupa anamnesa, untuk kemudian didiagnosa, dibuatkan prognosa dan terapinya ( maaf kalau keliru.)

Dalam hubungan ini tidaklah heran, bahwa lumayan banyak pengarang yang mempunyai latar belakang dokter yang tertarik pada masalah kemanusiaan dan kebudayaan , baik masalah kemanusiaan dan kebudayaan pada umumnya, maupun masalah kemanusiaan dan Kebudayaan dari  golongannya sendiri pada khususnya. 

Saya melihat ada kepekaan seperti itu di kalangan sebagian dokter Minang. Berbeda dengan kecenderungan para Pujangga Baru dalam tahun 1930-an  yang mengeritik budaya Minang dengan keras, kelompok dokter ini lebih tertarik untuk meneliti - bukan untuk mengeritik - satu fenomena psikologis, mungkin lebih tepat jika disebut sebagai fenomena psikosomatik yang khas terdapat pada suku Minang. Kalau saya tak salah ingat, mungkin Dr Mohammad Amir di Medan, seorang Minang, yang pertama kali menengarai adanya gejala psikosomatik yang kemudian dinamakannya sebagai 'padangitis' atau 'minangitis' itu. Istilah yang sama kemudian dipakai oleh Prof Dr Tan Pahlawan, yang melihat gejala yang sama pada pasien orang Minang di RS Dr Tjipto Mangunkusumo di Jakarta dalam tahun 1950-an.

 Sanak Taufiq Rasyid mencatat bahwa istilah itu memang ada dan dipakai dalam tahun 1970 - 1980-an untuk menerangkan gejala kejiwaan orang Minang pasca-PRRI. Dengan kata lain, gejala psikologis yang disebut sebagai 'minangitis' atau 'padangitis' itu bisa terlihat secara individual atau secara kolektif.

Saya kurang tahu apakah ada gejala psikologis sejenis pada suku-suku perantau lainnya, seperti Bugis, Madura, atau Batak. Ada atau tidak ada, rasanya gejala psikologis yang kelihatannya banyak diidap oleh kita orang Minang, layak untuk diteliti dan dikaji secara ilmiah, setidak-tidaknya untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita.

Saya sangat menghargai adanya semangat ilmiah yang kuat pada dr Rina di Padang, yang berkebetulan profesi beliau memang seorang dokter psikosomatik. Dr Rina tertarik pada fenomena penyakit maag yang diidap pasien-pasien beliau orang Minang, yang setelah diperiksa kemana-mana ternyata tidak jelas penyebabnya. Sebagai seorang ilmuwan, Dr Rina ingin mencari akar penyebabnya agar dapat dilakukan pencegahan dini. Saya sangat menghargai semangat beliau sebagai ilmuwan, yang merencanakan pertemuan ilmiah di Padang bulan Februari 2012. Saya telah mendaftar untuk ikut 'nguping' dalam pertemuan tersebut. ( Mungkin Sanak Taufiq Rasyid, pak Ambiar Lani, pak Roestam Hamsjal, pak Farhan Moein Dt Bagindo, pak Azmi Dt Bagindo, dan - last but not least - pak Mochtar Naim juga berminat 'nguping' bersama mendengarkan pembahasan tema yang menarik ini.)

Saya bergembira, bahwa Trysna Dewi, yang mengaku bukan dokter, ternyata juga berminat pada masalah ini, dan menengarai kemungkinan adanya sebab-sebab kultural dari gejala ini. Saya harap Trysna juga dapat ikut bersama mendengarkan wacana yang mungkin punya dimensi kultural ini.

Wassalam,
SB.

Dikirim dari iPad saya

Pada 22 Nov 2011, at 09:40, roestam hamsyal <hams...@yahoo.com> menulis:

Assm ww bpk/ibu
Mengenai istilah Padangitis atau Minangitis harus hati2 karena dapat menimbulkan persepsi negatif, kalau tidak jelas maknanya jangan dipakai istilah itu. Ambo sebagai orang minang sangat tidak setuju istilah tsb sebab konotasinya dapat mengartikan tidak baik. Tks Roestam Hamsyal

Dikirim dari iPad saya

Pada Nov 22, 2011, at 9:19, Ambiar Lani <rang...@yahoo.com> menulis:

Ramadhanil pitopang

unread,
Nov 22, 2011, 3:10:03 AM11/22/11
to rant...@googlegroups.com
Dinda Trisna yg budiman,
Iyo mantap pulo uraian sanak kito iko.
Iko cieklai pepatah nan tasabuik dek urang tuo-tuo, ndak tahu apo iko untuk "KAKOBEH"/Sifat/ Fiil Parangai "Urang awak secara umum atau baa? Mohon jan ado pulo nan tasingguang. Nan jaleh pepatah iko dibuek dek niniak-niniak  kito:

Taimpik Ndak Di ateh
Takuruang Ndak Di lua
Kok ka Makan, Piriang Ndak sampai
Kok Karajo Pangkua Balabiah
Makan Tabu Ndak Di Pangka
Kok manjujuang batuang Ndak di ujuang

Tumo du subarang Lautan Tampak
Gajah di palupuak mato indak jaleh
Tibo di Mato dipiciangkan
Tibo di Paruik dikampihkan

Menurut ambo, nasehat-nasehat nan tun mugkin dibuek supayo awak jan punyo sifat buruak sarupo Galir, bengkok, cadiak buruak, panduto, suko mancari-cari kesalahan urang lain dll.
Buktinyo, urang awak nan marantau jarang nan punyo perselisihan dengan suku lain, karano pandai mambawoan diri.  Caliaklah bara banyak urang awak yang berperan besar dalam mendirikan dan membangun bangsa ini bahkan sampai ke berbagai belahan dunia, mereka memainkan peranan penting dalam penting dalam percaturan hiruk pikuk dunia.

"Dima bumi dipijak disinan langik dijunjuang, masuak kandang kambiang mambebek, masuak kandang jawi malanguah, masuak kandang harimau ..iyo lari awak....Pandai bakisa di lapiak sahalai, bialah tanduak bakubang asa lai makan"

Ok. sehubungan dengan topik diskusi, baa kok di Sumbar banyak urang Gilo (no 3), ambo iyo ndak tahu ttg iko doh, mungkin iyo disebabkan karano faktor genetik dan faktor lingkungan sarupo himpitan ekonomi, angan-angan terlalu tinggi, indak sasuai badan jo bayang-bayang, dicaliak urang lai awak ndak iyo pulo. lamo-lamo dek makasuik indak sampai, banyak bamanuang surang, galak surang, akhirnyo "putuih tali gitar tu" baliang bunyinyo.

Salah satu solusinyo manuruik ambo iyo pataguah iman di dado, babaliak ka surau, sumbayang, mangaji, bazikir, banyak - banyak menyebut nama Allah, karano semuanya datang dari Allah SWT, kan urang berfalsafah ABS-SBK...


Sakitu dulu,
wassalam,
R. Pitopang- 47 thn- Male
Rantau Palu







Dari: trisna dewy <trisn...@yahoo.co.id>
Kepada: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>
Dikirim: Selasa, 22 November 2011 12:11
Judul: [R@ntau-Net] SUMBAR terbanyak no 3 Urang Gilo

zubir...@gmail.com

unread,
Nov 22, 2011, 4:50:36 AM11/22/11
to rant...@googlegroups.com
Sanak palanta nn baik.Io tagalak-galak surang(bukan gilo)JB mancaliak thread mengenai istilah padangetis ini.
Tahun 19850 JB bagabung jo Yayasan Jantung Sehat Indonesia yang ukatu tu Ketua umumnya Ibu D.Bustanil Arifin Rumkit rujukan Yayasan ini Rumah Sakit Harapan Kita nn di Slipi.
Rumkit ini tenaga medisnya sebagian besar berasal dari FKUI n didominasi dari sk Minang.
FYI,Rumkit RSHPK ini selain untuk rujukan penyakit Jantung,rupanya juga rujukan bagi penderita lambung n tenggorokkan nn barasal dari sebagian gadang dari Sumbar n rang Minang nn berdomisili
di Jabodetabek.

Saking banyaknya pasien2 berpenyakit lambung n tenggorokan nn diakibatkan oleh makan lado sirah n lado padi,para Dokter di Rumkit itu berseloroh sesama mereka n memberi istilaah baru,"Padangitis" kepada penderita penyakit tenggorokkan n lambung itu bagi ughang Minang(padang)tu.

Jadi istilah ini bukan istilah dalam dunia medis or ilmiah,tapi istilah bagarah2 sajo dikalangan sejawat Dokter di RSHK.
Jauh sekali istilah ini untuk merendahkan sk Minang or trade mark negatif kepada urang awak.Dari rumkit RSHK itulah asal mula munculnya padangitis itu.Cuma untuk bacanda sae nyeh!

JB,DtRJ,72thn,sk Mandahiliang,Padusunan,Piaman,kini di Betawi.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Date: Tue, 22 Nov 2011 03:51:48 +0000

zubir...@yahoo.com

unread,
Nov 22, 2011, 5:16:10 AM11/22/11
to rant...@googlegroups.com
Pembetulan...tatulih 19850,seharusnyo 1985.
JB,DtRJ,Betawi.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Date: Tue, 22 Nov 2011 09:50:36 +0000
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] "Padangetis,bukan ejekan ka rang Minang".

Ramadhanil pitopang

unread,
Nov 22, 2011, 5:40:22 AM11/22/11
to rant...@googlegroups.com

Ass.ww.
Tadi pagi ambo berkunjung ke Melbourne Zoo nan terletak  di Elliot Ave, dekat ParkVille, kira-kira 20 menit jalan kaki dari kampus  The University of Melbourne. Pada hari tsb cukup banyak pengunjung yang umumnya para orang tua membawa anak-anak mereka serta rombongan anak-anak sekolah yang dengan riang serta penuh perhatian untuk mengenal sekaligus juga mencintai berbagai macam satwa yang berasal dari berbagai belahan dunia. Dari beberapa satwa yang menarik dek ambo adalah Harimau Sumatra (Panthera tigris sumtranus), gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) , beberapa jenis "birdlife" dan orang utan (Pongo pigmaeus  bornensis,  yang berasal dari Kalimantan dan Pongo pigmaeus sumtranus, dari Sumatra).
 
Di dalam Zoo tersebut habitat tempat penangkaran satwa tersebut dibuat sedemikian rupa seperti "Tropical Rain Forest Indonesia" dan terdapat tulisan "kampung kita" serta berbagai tulisan/ petunjuk  dalam bahasa Indonesia dan Inggeris. Serasa seperti di tanah air sendiri.
 
Ada menarik nan takana dari posting Mak Ngah, tentang kehadiran orang hutan di tanah air yang populasi terus menurun akibat pengrusakan habitat/konversi hutan menjadi kebun kelapa sawit, "hunting"/ perburuan, dan lain-lain. Tibo di rumah langsung dibuka labtop, cari-cari informasi tentang "Terancamnya berbagai satwa tersebut dari kepunahan dari permukaan bumi. Ternyata tdp beberapa tulisan ttg orang utan.. Inilah ceritanya:
 
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sepuluh aktivis Centre for Orangutan Protection (COP) melakukan aksi menentang pembantaian orangutan di Kalimantan di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Malaysia, Jalan Rasuna Said, Selasa (22/11). Dalam aksinya mereka menuntut agar pemerintah Malaysia menindak perusahaan kelapa sawit yang dimiliki pengusaha Malaysia di Kalimantan yang membantai orangutan.
 
 
Berita terkait

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Centre for Orangutan Protection (COP) pada 3 November lalu kembali menemukan satu orangutan dewasa terluka parah di perkebunan kelapa sawit PT Khaleda Agroprima Malindo, anak perusahaan Metro Kajang Holdings Berhad dari Malaysia. Perkebunan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur.
 
 
Harimau Sumatra, Gajah Sumatra, Orang Utan,  berbagai jenis satwa Indonesia serta Hutan Tropis Indonesia tidak lama lagi tinggal nama saja.
 
 
"Let's save our biodiversity to support our life on this planet"
 
 
Wassalam,
R. Pitopang
47 thn- Rantau Palu- Sulawesi Tengah
Negeri asal : Jorong Talang Tangah, kaki Gunung Merapi
Lahir dan besar di Labuah Basilang Payokumbuah

andi ko

unread,
Nov 22, 2011, 5:53:05 AM11/22/11
to Dr Saafroedin Bahar, roestam hamsyal, Rantau Net, Ambiar Lani, mocht...@yahoo.com, amri aziz, taufiq rasjid, ermansyah jamin, gebumin...@gmail.com, k suheimi, zulhendri chaniago, Riri Chaidir, refrizal, ambo...@gmail.com, asril tanjung
Tarimo kasih pak

Karena indak terlalu mengikuti, kiro2 apo bentuk kongkritnyo kejiwaan
minangitis iko. Mungkin sajo bisa juo diliek dari kerangka politik
kebangkitan etnonasionalism sahinggo diagnosanyo bukan hanyo sebagai
penyakit sajo, tapi diliek sebagai reaksi atas relasi politik
tatakuasa di Indonesia.

Salam

Andiko

--
Sent from my mobile device

Ramadhanil pitopang

unread,
Nov 22, 2011, 6:41:51 AM11/22/11
to rant...@googlegroups.com

sjamsir_sjarif

unread,
Nov 22, 2011, 7:01:24 AM11/22/11
to rant...@googlegroups.com
Yah,sangat menyedihkan. Lihat komenqr MakNgah dengan mengklik besarkan foto Orang Hutan dalam Berita Republika itu:

Aduuh, sudah angkat tangan di atas kepala, minta ampun mereka, masih dikejar, dianiaya, dibunuhi. Perhatikanlah wajahnya dengan air mata berlinang seribu kata ditutup dengan bayangan tangan supaya tidak begitu jelas airmata kesedihan hidunya diapun mungkin brdoa kepada Tuhan supaya keluarga, jenisnya dilindungi Maha Kuasa..

Dengan berita protes yang diberitakan Republika ini mudah-mudahan nasib mereka betul-betul menjadi perhatian kedua Negara, Indonesia dan Malaysia, dan Dunia Internasional secara luas dengan penuh rasa Peri Kemanusiaan...

-- MakNgah
Sjamsir Sjarif November 22, 2011

sjamsir_sjarif

unread,
Nov 22, 2011, 7:11:14 AM11/22/11
to rant...@googlegroups.com
Oh, lupa referensi sitenya dimana komentar MakNgah itu:
http://id.berita.yahoo.com/foto/kemenhut-selidiki-pembantaian-orang-utan-foto-030314949.html

Sudah disisipkan juga referensi ini di bawah.
Salam,
--MakNgah


Sjamsir Sjarif
November 22, 2011

--- In Rant...@yahoogroups.com, "sjamsir_sjarif" <hambociek@...> wrote:
>
> Yah,sangat menyedihkan. Lihat komentar MakNgah dengan mengklik besarkan foto Orang Hutan dalam Berita Republika itu:


>
> Aduuh, sudah angkat tangan di atas kepala, minta ampun mereka, masih dikejar, dianiaya, dibunuhi. Perhatikanlah wajahnya dengan air mata berlinang seribu kata ditutup dengan bayangan tangan supaya tidak begitu jelas airmata kesedihan hidunya diapun mungkin brdoa kepada Tuhan supaya keluarga, jenisnya dilindungi Maha Kuasa..
>
> Dengan berita protes yang diberitakan Republika ini mudah-mudahan nasib mereka betul-betul menjadi perhatian kedua Negara, Indonesia dan Malaysia, dan Dunia Internasional secara luas dengan penuh rasa Peri Kemanusiaan...
>

http://id.berita.yahoo.com/foto/kemenhut-selidiki-pembantaian-orang-utan-foto-030314949.html

> -- MakNgah
> Sjamsir Sjarif November 22, 2011
>

sjamsir_sjarif

unread,
Nov 22, 2011, 9:00:12 AM11/22/11
to rant...@googlegroups.com
Karano indak tahu istilah "Padangitis" [atau "Minangitis"] itu, ambo pantau dalam thread ko ado du pandapek sabagitu jauah, 1 sabagai istilah garah panyakik, 2 sabagai parasaian parang:

1. > > "Ambo indak tau pasti baa nan sabananyo Padangitis iko
> > Tapi perkiraan ambo adolah salah satu side effect urang awak nan marasai pasca PRRI" (TR)

2. "...para Dokter di Rumkit itu berseloroh sesama mereka n memberi istilaah baru,"Padangitis" kepada penderita penyakit tenggorokkan n lambung itu bagi ughang Minang(padang)tu." (JB,DtRJ)

Mungkin ado lai?

Tapi, kalau diagak-agak-i bana ethnic stereotype ko lah dimuloi Bulando sajak jauh dahulu sabagai langkah-langkah taktik devide et impera untuk menyatukan kekuasaan Hindia Belanda, antaro lain-lain:
"Tipu Aceh, Gurindam Barus, Lagak Padang, Omong Betawi"

Sebegitu jauah kito masih menyaksikan pulo istilah-istilah "Padang Bengkok", "Padang Pancilok", "Minang Kiauw" dan mungkin ado lai?

Begitu susahnya meluruihkan istilah "Padang Bengkok" tu, ambo pernah sacaro pribadi menghadapi kelakar dengan kelakar. Suatu hari dalam suatu pertemuan masyarakat di Konsulat Indonesia San Francisco, 1975 ambo baru datang dari Chicago sasudah 9 tahun absen di San Francisco) ambo diperkenalkan kepada Pak Konsul (waktu itu Pak Senduk, kini alm., orang Menado) oleh seorang kawan Urang Awak (Nurjannah Wattimena, dari Banuampu, kini almh). Dialog:

Kak Djannah: "Ini Pak, Saya perkenalkan seorang lagi "Orang Padang".
Pak Konsul: "Oh, Padang Bengkok lagi ya!"
Kak Djannah: "Oh tidak Pak, Ini Yang Lurusnya.."
Ambo kepada Kak Djannah dan Pak Konsul:
"Iyo! Saluruih Sabik!" sambia galak nabi bersalaman.
Kami ketiganya ketawa manis agak pencong ...

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif


--- In Rant...@yahoogroups.com, zubir.amin@... wrote:
>
> Pembetulan...tatulih 19850,seharusnyo 1985.
> JB,DtRJ,Betawi.

> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


>
> -----Original Message-----
> From: zubir.amin@...
> Sender: rant...@googlegroups.com
> Date: Tue, 22 Nov 2011 09:50:36
> To: <rant...@googlegroups.com>
> Reply-To: rant...@googlegroups.com
> Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] "Padangetis,bukan ejekan ka rang Minang".
>
> Sanak palanta nn baik.Io tagalak-galak surang(bukan gilo)JB mancaliak thread mengenai istilah padangetis ini.
> Tahun 19850 JB bagabung jo Yayasan Jantung Sehat Indonesia yang ukatu tu Ketua umumnya Ibu D.Bustanil Arifin Rumkit rujukan Yayasan ini Rumah Sakit Harapan Kita nn di Slipi.
> Rumkit ini tenaga medisnya sebagian besar berasal dari FKUI n didominasi dari sk Minang.
> FYI,Rumkit RSHPK ini selain untuk rujukan penyakit Jantung,rupanya juga rujukan bagi penderita lambung n tenggorokkan nn barasal dari sebagian gadang dari Sumbar n rang Minang nn berdomisili
> di Jabodetabek.
>
> Saking banyaknya pasien2 berpenyakit lambung n tenggorokan nn diakibatkan oleh makan lado sirah n lado padi,para Dokter di Rumkit itu berseloroh sesama mereka n memberi istilaah baru,"Padangitis" kepada penderita penyakit tenggorokkan n lambung itu bagi ughang Minang(padang)tu.
>
> Jadi istilah ini bukan istilah dalam dunia medis or ilmiah,tapi istilah bagarah2 sajo dikalangan sejawat Dokter di RSHK.
> Jauh sekali istilah ini untuk merendahkan sk Minang or trade mark negatif kepada urang awak.Dari rumkit RSHK itulah asal mula munculnya padangitis itu.Cuma untuk bacanda sae nyeh!
>
> JB,DtRJ,72thn,sk Mandahiliang,Padusunan,Piaman,kini di Betawi.
>

> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


>
> -----Original Message-----
> From: arina_widya_murni@...
> Sender: rant...@googlegroups.com
> Date: Tue, 22 Nov 2011 03:51:48
> To: rant...@googlegroups.com<rant...@googlegroups.com>
> Reply-To: rant...@googlegroups.com
> Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] SUMBAR terbanyak no 3 Urang Gilo
>
> Assalamu'alaikum pak taufiq dan bapak2 sarato sanak kasadonyo
> Nan ambo tau soal padangitis ko sahubungan jo tingginyo insiden penyakit magh yang ado di masyarakat kito, nan diduga efek dari caro atau pola makan rang minang nan babumbu padeh jo asam, jadi kalau ambo dapek carito, acok urang awak ko barubek k luar padang sarupo jakarta keluhan nan disampaikan dominan masalah lambuang ko, sehinggo muncullah istilah padangitis, kok hub ny jo sikap dan perilaku masy minang, yo ndak jaleh dek ambo do. Mungkin ado nan bisa menyampaikan.
> Istilah "itis" ko memang manandokan ado proses peradangan inflamasi ataupun infeksi, nah padangitis ko jadinyo namo lain dari gastritis kiro- kiro..
> Wassalam
> Arina,41 th, padang, kini sdg di jakarta sabanta..

> Powered by Telkomsel BlackBerry®


>
> -----Original Message-----
> From: taufiqrasjid@...
> Sender: rant...@googlegroups.com
> Date: Tue, 22 Nov 2011 03:44:11
> To: roestam hamsyal<hamsyal48@...>; Ambiar Lani<rang_kito@...>
> Reply-To: rant...@googlegroups.com
> Cc: rant...@googlegroups.com<rant...@googlegroups.com>; mochtarnaim@...<mochtarnaim@...>; saaf10leo@...<saaf10leo@...>; amri aziz<amri.aziz@...>; andi ko<andi.ko.ko@...>; ermansyah jamin<hann.jamin@...>; gebuminangpusat@...<gebuminangpusat@...>; k suheimi<ksuheimi@...>; zulhendri chaniago<zulhendri_a290@...>; Riri Chaidir<riri.chaidir@...>; refrizal<refrizal2006@...>; amboaini@...<amboaini@...>; asril tanjung<menaragading@...>
> Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] SUMBAR terbanyak no 3 Urang Gilo
>
>
> Tapi kenyataannya istilah itu memang ada dan cukup populer mungkin sekitar tahun 70an-80an
>
> Tampaknya memang digunakan utk urang awak nan sadang taluncua sehingga menimbulkan stress berat sampai galak surang
>
> --TR

> Sent from my BlackBerry®


> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>

> -----Original Message-----
> From: roestam hamsyal <hamsyal48@...>
> Date: Tue, 22 Nov 2011 09:40:58
> To: Ambiar Lani<rang_kito@...>
> Cc: rant...@googlegroups.com<rant...@googlegroups.com>; mochtarnaim@...<mochtarnaim@...>; saaf10leo@...<saaf10leo@...>; amri aziz<amri.aziz@...>; andi ko<andi.ko.ko@...>; taufiq rasjid<taufiqrasjid@...>; ermansyah jamin<hann.jamin@...>; gebuminangpusat@...<gebuminangpusat@...>; k suheimi<ksuheimi@...>; zulhendri chaniago<zulhendri_a290@...>; Riri Chaidir<riri.chaidir@...>; refrizal<refrizal2006@...>; amboaini@...<amboaini@...>; asril tanjung<menaragading@...>; ambiar lani<rang_kito@...>
> Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] SUMBAR terbanyak no 3 Urang Gilo
>
> Assm ww bpk/ibu
> Mengenai istilah Padangitis atau Minangitis harus hati2 karena dapat menimbulkan persepsi negatif, kalau tidak jelas maknanya jangan dipakai istilah itu. Ambo sebagai orang minang sangat tidak setuju istilah tsb sebab konotasinya dapat mengartikan tidak baik. Tks Roestam Hamsyal
>
> Dikirim dari iPad saya
>

Ambiar Lani

unread,
Nov 22, 2011, 10:08:48 AM11/22/11
to rant...@googlegroups.com, "rantaunet@googlegroups.com", "mochtarnaim@yahoo.com", amri aziz, andi ko, taufiq rasjid, ermansyah jamin, "gebuminangpusat@gmail.com", k suheimi, zulhendri chaniago, Riri Chaidir, refrizal, "amboaini@gmail.com", asril tanjung, saaf...@yahoo.com, ambiar lani
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pak Saaf nan ambo hormati sarato para dunsanak nan kami cintai.

Menurut hemat kami persoalannya bukanlah terletak pada suka atau tidak suka kelemahan atau kekurangan dari kita sebagai suku bangsa diungkapkan secara terbuka dan ilmiah. Tapi sekali lagi masih menurut hemat kami nan paralu kito hindari basamo-samo adalah meng-stigmanisasi fenomena gejala gangguan psikologis atau dengan sebutan yang lebih spesifik gejala gangguan psikosomatik tersebut dengan penyebutan sebagai Padangitis atau Minangitis, yang nota bene tentu tidak akan mendatangkan keuntungan apa-apa bagi kita bersama, dan mungkin malah akan mendatangkan sebuah kerugian sosial yang tidak terperkirakan.

Oleh sebab itu menurut hemat kami akan tetap lebih baik dan objektif apabila gejala gangguan kejiwaan tersebut disebut saja fenomena gangguan psikologis dan atau fenomena gangguan psikosomatik. Disamping istilah atau penyebutan seperti ini bersifat umum, kan juga sudah merupakan penyebutan yang bersifat baku dan standar serta juga sudah dikenal dengan luas.

Syukran katsira ~ Billahitaufik walhidayah

Wassalam,

Ambiar Lani,
L/59/Jkt-Bekasi



From: Dr Saafroedin Bahar <saaf...@yahoo.com>
To: roestam hamsyal <hams...@yahoo.com>; Rantau Net <Rant...@googlegroups.com>
Cc: Ambiar Lani <rang...@yahoo.com>; "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>; "mocht...@yahoo.com" <mocht...@yahoo.com>; amri aziz <amri...@yahoo.com>; andi ko <andi....@gmail.com>; taufiq rasjid <taufiq...@rantaunet.org>; ermansyah jamin <hann....@gmail.com>; "gebumin...@gmail.com" <gebumin...@gmail.com>; k suheimi <ksuh...@yahoo.com>; zulhendri chaniago <zulhend...@yahoo.com>; Riri Chaidir <riri.c...@rantaunet.org>; refrizal <refriz...@yahoo.co.id>; "ambo...@gmail.com" <ambo...@gmail.com>; asril tanjung <menara...@yahoo.com>; Rantau <rant...@googlegroups.com>
Sent: Tuesday, November 22, 2011 12:09 AM
Subject: [R@ntau-Net] Padangitis atau Minangitis: gejala, penyebab, dan obatnya.

Arina Widya Murni

unread,
Nov 22, 2011, 10:30:09 AM11/22/11
to rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum pak anbiar..
Jadi seru juga nih topik padangitis, jujur ambo setuju jo pandapek bapak, bahaso kito labiah ancak baliak ka pemahaman ttg gangguan psikosomatik daripado mambangkik an baliak istilah nantun, karano pemahaman nan muncul bisa macam macam
Demikian, wassalam
Arina,41th, padang


From: Ambiar Lani <rang...@yahoo.com>;
To: rant...@googlegroups.com <rant...@googlegroups.com>;
Cc: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>; "mocht...@yahoo.com" <mocht...@yahoo.com>; amri aziz <amri...@yahoo.com>; andi ko <andi....@gmail.com>; taufiq rasjid <taufiq...@rantaunet.org>; ermansyah jamin <hann....@gmail.com>; "gebumin...@gmail.com" <gebumin...@gmail.com>; k suheimi <ksuh...@yahoo.com>; zulhendri chaniago <zulhend...@yahoo.com>; Riri Chaidir <riri.c...@rantaunet.org>; refrizal <refriz...@yahoo.co.id>; "ambo...@gmail.com" <ambo...@gmail.com>; asril tanjung <menara...@yahoo.com>; Rantau <rant...@googlegroups.com>; saaf...@yahoo.com <saaf...@yahoo.com>; ambiar lani <rang...@yahoo.com>;
Subject: Re: [R@ntau-Net] Padangitis atau Minangitis: gejala, penyebab, dan obatnya.
Sent: Tue, Nov 22, 2011 3:08:48 PM

Dr Saafroedin Bahar

unread,
Nov 22, 2011, 10:31:32 AM11/22/11
to Rantau Net Rantau Net
Pak Ambiar, Rina, saya tak berkeberatan jika istilah 'padangitis' dan 'minangitis' -
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.

From: Arina Widya Murni <arina_wi...@yahoo.com>
Date: Tue, 22 Nov 2011 07:30:09 -0800 (PST)

Dr Saafroedin Bahar

unread,
Nov 22, 2011, 3:56:34 PM11/22/11
to andi ko, roestam hamsyal, Rantau Net, Ambiar Lani, mocht...@yahoo.com, amri aziz, taufiq rasjid, ermansyah jamin, gebumin...@gmail.com, k suheimi, zulhendri chaniago, Riri Chaidir, refrizal, ambo...@gmail.com, asril tanjung
Bung Andiko, nampaknyo salamoko duo istilah tu memang dipakai dalam artian medis sajo. Alun nampak dek ambo kaitannyo jo relasi tatakuasa di Indonesia, walau memang menarik untuk mengkaji tema iko, khususnyo dalam hal merosotnyo peranan politik urang awak di tingkat nasional.

Wassalam,
SB.

Dikirim dari iPad saya

AnwarDjambak

unread,
Nov 22, 2011, 7:12:38 PM11/22/11
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum!!

Takona gorah kami tiko kenek2 saisuak:

"Lutuik dek koda , kaki dek kuman..!
Hiduik baraka , mati ba-iman..!!"

Sangenek bona,

Ambiar Lani

unread,
Nov 23, 2011, 2:26:34 AM11/23/11
to rant...@googlegroups.com, saaf...@yahoo.com, arina_wi...@yahoo.com
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Ibu Arina sarato jo Pak Saaf dan dunsanak kasadonyo.

Amhamdulillah......, kalau ibu satuju jo pandapek ambo, bahwa labiah elok awak mamakai istilah nan alah baku dan standar yaitu psikosomatik dari pado manggunakan istilah lain nan dicari-cari dan terkesan diilmiah-ilmiahkan. Samantaro manuruik pak Zubir Amin, istilah itupun terlahir dari ota bagarah-garah sejumlah kalangan dokter yang berasal dari sebuah universitas terkemuka di Jakarta. Masak pulo sesuatu nan datang dari ota bagarah-bagarah yang mungkin juga dimaksudkan sebagai hiburan selingan di tengah beban kerja harus kita terima sebagai sebuah istilah yang akan berkonotasi ilmiah dengan efek akan mengeneralisir urang awak mayoritas mengidap psikosomatik, barek atau ringan..... (ha.....ha.....ha.....), sementara tantu labiah banyak urang awak nan sehat dari pado nan sakik. (?) Antah kok indak ?

Demikian juga halnya dengan pak Saaf, yang merasa tidak keberatan dengan istilah tersebut untuk tidak dipakai lagi, membuktikan bagi kami, bahwa pak Saaf adalah figur yang memiliki integritas dan komitmennya yang tinggi kepada ranah. Pemikiran-pemikiran beliau yang cemerlang dan perhatiannya yang tulus kepada ranah, tentu ditunggu oleh kita semua.

Rada-radanya sudah agak mangarucuik ko, rancak ibu pacapek seminar tu....! Terima Kasih ~ Billahitaufiq wal hidayah.


Wassalam,


Ambiar Lani,
L/59/Jkt-Bekasi   


From: Dr Saafroedin Bahar <saafroed...@rantaunet.org>
To: Rantau Net Rantau Net <rant...@googlegroups.com>
Sent: Tuesday, November 22, 2011 7:31 AM
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E

hyv...@yahoo.com

unread,
Nov 23, 2011, 3:46:46 AM11/23/11
to milis rang minang
Salam dusanak sadonyo,

1. Saya setuju dengan usulan pak Ambiar Lani yang uraiannya sangat jelas .

2. Mari kita kembalikan istilah padangitis pada diagnosa murni psikomatik.

3. Memang sebaiknya dilakukan penelitian sebab dan akibat psikomatik itu. Berapa prosentase dari penyebab terjadi penyakit ini, dari tinjauan ekonomi, politik dan sosial kemasyarakatan. Saya tidak yakin terjadi kasus ini disebabkan adat dan budaya semata.

4. Milist kita ini terbuka dan bisa di baca oleh khalayak umum sementara kita tidak pernah meng close suatu topik dalam satu kesimpulan yang valid.

Akhirkata saya mohon dimaafkan ya..jika tanggapan saya ini ada yang kurang berkenan.

Wassalam,

Evy Nizhamul

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

From: Ambiar Lani <rang...@yahoo.com>
Date: Wed, 23 Nov 2011 15:26:34 +0800 (SGT)

sjamsir_sjarif

unread,
Nov 23, 2011, 10:56:24 AM11/23/11
to rant...@googlegroups.com
Ada karaguan istilah dan penggunaannya dalam rangkaian posting ini.

1. Saya setuju pendapat dan saran jelas Angku Ambiar Lani yang jelas tepat, "bahwa labiah elok awak mamakai istilah nan alah baku dan standar yaitu psikosomatik dari pado manggunakan istilah lain nan dicari-cari dan terkesan diilmiah-ilmiahkan."

2. Kutipan Angku Saaf "> Pak Ambiar, Rina, saya tak berkeberatan jika istilah 'padangitis' dan 'minangitis' -
> Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita." tampaknya kurang lengkap, kalimatnya seperti terputus, belum selesai. Hasilnya ambiguitas (ketidakjelasan, bermakna ganda) apakah Angku Saaf "tak berkeberatan jika istilah 'padangitis' dan 'minangitis'-" dipakai atau tidak dipakai?

3. Pemakaian istilah "psikomatik" dalam untaian thread ini (sperti dipakai Evy Nizhamul) pun tampaknya meragukan. Apakaah itu istilah baru yang saya ketinggalan zaman, ataukah salah ketik dan kacau pengertian saja. Saya anggap itu typo saja, tetapi karena "psikomatik" itu setidak-tidaknya muncul dua kali dalam satu posting terakhir [dan mungkin juga sebelumnya], itulah menyebabkan keluarnya pertanyaan saya. Istilah teknis yang biasa saya kenal adalah "Psikosomatik" seperti yang dipakai Angku Ambiar Lani.


Melihat keterangan angku Ambiar Lami dari semula, saya sangat setuju istilah "padangitis" dan "minangitis" itu tidak dipakai dalam tulisan-tulisan ilmiah yang serius. Orang awam akan membaca dan akibatnya akan menjurus ke arah stereotip etnik. [Dalam salah satu posting dalam thread ini secara kelakar saya sudah ceritakan tentang "padang benkok", lagak padang, minangkiauw, nama kenalan Titis Idris, dsb.]

Gangguan Jiwa atau Psikosomatik bukanlah monopoli "Orang Padang" atau "Orang Minang" saja. Jadi baiklah dihindarkan atau dipopulerkan istilah-istilah "padangiti" dan "minangitis" yang hanya mengarah kepada etnik ini saja. Seperti isyaratan Angku Ambiar Lani, kok manapuak aia di dulang awak jadinyo. Sebagai kelakar -- yah kelakar ada di mana-mana -- tetapi untuk karya ilmiah, sebaiknya istilah-istilah-isltilah kelakar seperti itu dihindarkan saja.

Sekedar variasi dan tinjauan bahwa Psikosomatik itu bukanlah "monopoli" "Orang Padang" atau "Orang Minang" itu saja, lihat antara lain-lain situs berikut:

http://www.melindahospital.com/modul/user/detail_artikel.php?id=1545_Gangguan-Jiwa-Psikosomatik,-Paling-Sering-Ditemui

Salam,
-- MakNgah
Sjamsir Sjarif
Santa Cruz, California
November 23, 2011
http://www.wunderground.com/radar/radblast.asp?zoommode=pan&prevzoom=out&num=6&frame=0&delay=15&scale=1.000&noclutter=0&ID=MUX&type=N0R&showstorms=10&lat=36.97417068&lon=-122.02971649&label=Santa%20Cruz,%20CA&map.x=400&map.y=240&scale=1.000&centerx=400&centery=240&showlabels=1&rainsnow=0&lightning=0&lerror=20&num_stns_min=2&num_stns_max=9999&avg_off=9999&smooth=0


--- In Rant...@yahoogroups.com, hyvny07@... wrote:
>
> Salam dusanak sadonyo,
>
> 1. Saya setuju dengan usulan pak Ambiar Lani yang uraiannya sangat jelas .
>
> 2. Mari kita kembalikan istilah padangitis pada diagnosa murni psikomatik.
>
> 3. Memang sebaiknya dilakukan penelitian sebab dan akibat psikomatik itu. Berapa prosentase dari penyebab terjadi penyakit ini, dari tinjauan ekonomi, politik dan sosial kemasyarakatan. Saya tidak yakin terjadi kasus ini disebabkan adat dan budaya semata.
>
> 4. Milist kita ini terbuka dan bisa di baca oleh khalayak umum sementara kita tidak pernah meng close suatu topik dalam satu kesimpulan yang valid.
>
> Akhirkata saya mohon dimaafkan ya..jika tanggapan saya ini ada yang kurang berkenan.
>
> Wassalam,
>
> Evy Nizhamul
>
>

> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
>
> -----Original Message-----

> From: Ambiar Lani <rang_kito@...>
> Sender: rant...@googlegroups.com
> Date: Wed, 23 Nov 2011 15:26:34

> Cc: saaf10leo@...<saaf10leo@...>; arina_widya_murni@...<arina_widya_murni@...>
> Subject: Re: [R@ntau-Net] Padangitis atau Minangitis: gejala, penyebab, dan obatnya.
>
> Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Ibu Arina sarato jo Pak Saaf dan dunsanak kasadonyo.
>
> Amhamdulillah......, kalau ibu satuju jo pandapek ambo, bahwa labiah elok awak mamakai istilah nan alah baku dan standar yaitu psikosomatik dari pado manggunakan istilah lain nan dicari-cari dan terkesan diilmiah-ilmiahkan. Samantaro manuruik pak Zubir Amin, istilah itupun terlahir dari ota bagarah-garah sejumlah kalangan dokter yang berasal dari sebuah universitas terkemuka di Jakarta. Masak pulo sesuatu nan datang dari ota bagarah-bagarah yang mungkin juga dimaksudkan sebagai hiburan selingan di tengah beban kerja harus kita terima sebagai sebuah istilah yang akan berkonotasi ilmiah dengan efek akan mengeneralisir urang awak mayoritas mengidap psikosomatik, barek atau ringan..... (ha.....ha.....ha.....), sementara tantu labiah banyak urang awak nan sehat dari pado nan sakik. (?) Antah kok indak ?
>
> Demikian juga halnya dengan pak Saaf, yang merasa tidak keberatan dengan istilah tersebut untuk tidak dipakai lagi, membuktikan bagi kami, bahwa pak Saaf adalah figur yang memiliki integritas dan komitmennya yang tinggi kepada ranah. Pemikiran-pemikiran beliau yang cemerlang dan perhatiannya yang tulus kepada ranah, tentu ditunggu oleh kita semua.
>
> Rada-radanya sudah agak mangarucuik ko, rancak ibu pacapek seminar tu....! Terima Kasih ~ Billahitaufiq wal hidayah.
>
>
> Wassalam,
>
>
> Ambiar Lani,

> L/59/Jkt-Bekasi   
>
> ________________________________
> From: Dr Saafroedin Bahar <saafroedin.bahar@...>


> To: Rantau Net Rantau Net <rant...@googlegroups.com>
> Sent: Tuesday, November 22, 2011 7:31 AM
> Subject: Re: [R@ntau-Net] Padangitis atau Minangitis: gejala, penyebab, dan obatnya.
>
>
> Pak Ambiar, Rina, saya tak berkeberatan jika istilah 'padangitis' dan 'minangitis' -
> Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
> ________________________________
>

> From: Arina Widya Murni <arina_widya_murni@...>
> Sender: rant...@googlegroups.com
> Date: Tue, 22 Nov 2011 07:30:09 -0800 (PST)
> To: <rant...@googlegroups.com>
> ReplyTo: rant...@googlegroups.com
> Subject: Re: [R@ntau-Net] Padangitis atau Minangitis: gejala, penyebab, dan obatnya.
>
> Assalamu'alaikum pak anbiar..
> Jadi seru juga nih topik padangitis, jujur ambo setuju jo pandapek bapak, bahaso kito labiah ancak baliak ka pemahaman ttg gangguan psikosomatik daripado mambangkik an baliak istilah nantun, karano pemahaman nan muncul bisa macam macam
> Demikian, wassalam
> Arina,41th, padang
>
> ________________________________

> From: Ambiar Lani <rang_kito@...>;
> To: rant...@googlegroups.com <rant...@googlegroups.com>;
> Cc: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>; "mochtarnaim@..." <mochtarnaim@...>; amri aziz <amri.aziz@...>; andi ko <andi.ko.ko@...>; taufiq rasjid <taufiqrasjid@...>; ermansyah jamin <hann.jamin@...>; "gebuminangpusat@..." <gebuminangpusat@...>; k suheimi <ksuheimi@...>; zulhendri chaniago <zulhendri_a290@...>; Riri Chaidir <riri.chaidir@...>; refrizal <refrizal2006@...>; "amboaini@..." <amboaini@...>; asril tanjung <menaragading@...>; Rantau <rant...@googlegroups.com>; saaf10leo@... <saaf10leo@...>; ambiar lani <rang_kito@...>;

> Subject: Re: [R@ntau-Net] Padangitis atau Minangitis: gejala, penyebab, dan obatnya.
> Sent: Tue, Nov 22, 2011 3:08:48 PM
>
>
> Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
>
> Pak Saaf nan ambo hormati sarato para dunsanak nan kami cintai.
>
> Menurut hemat kami persoalannya bukanlah terletak pada suka atau tidak suka kelemahan atau kekurangan dari kita sebagai suku bangsa diungkapkan secara terbuka dan ilmiah. Tapi sekali lagi masih menurut hemat kami nan paralu kito hindari basamo-samo adalah meng-stigmanisasi fenomena gejala gangguan psikologis atau dengan sebutan yang lebih spesifik gejala gangguan psikosomatik tersebut dengan penyebutan sebagai Padangitis atau Minangitis, yang nota bene tentu tidak akan mendatangkan keuntungan apa-apa bagi kita bersama, dan mungkin malah akan mendatangkan sebuah kerugian sosial yang tidak terperkirakan.
>
>
> Oleh sebab itu menurut hemat kami akan tetap lebih baik dan objektif apabila gejala gangguan kejiwaan tersebut disebut saja fenomena gangguan psikologis dan atau fenomena gangguan psikosomatik. Disamping istilah atau penyebutan seperti ini bersifat umum, kan juga sudah merupakan penyebutan yang bersifat baku dan standar serta juga sudah dikenal dengan luas.
>
> Syukran katsira ~ Billahitaufik walhidayah
>
> Wassalam,
>
> Ambiar Lani,
> L/59/Jkt-Bekasi
> ________________________________

> From: Dr Saafroedin Bahar <saaf10leo@...>
> To: roestam hamsyal <hamsyal48@...>; Rantau Net <Rant...@googlegroups.com>
> Cc: Ambiar Lani <rang_kito@...>; "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>; "mochtarnaim@..." <mochtarnaim@...>; amri aziz <amri.aziz@...>; andi ko <andi.ko.ko@...>; taufiq rasjid <taufiqrasjid@...>; ermansyah jamin <hann.jamin@...>; "gebuminangpusat@..." <gebuminangpusat@...>; k suheimi <ksuheimi@...>; zulhendri chaniago <zulhendri_a290@...>; Riri Chaidir <riri.chaidir@...>; refrizal <refrizal2006@...>; "amboaini@..." <amboaini@...>; asril tanjung <menaragading@...>; Rantau <rant...@googlegroups.com>

> Sent: Tuesday, November 22, 2011 12:09 AM
> Subject: [R@ntau-Net] Padangitis atau Minangitis: gejala, penyebab, dan obatnya.
>
>

> Assalamualaikum ww para Sanak sapalanta, 
>
> Saya percaya bahwa tidak ada orang - atau suku bangsa - yang suka  kelemahan atau kekurangannya diungkap, baik oleh keluarganya maupun oleh orang lain. Sikap itu adalah manusiawi dan dapat difahami. Tentu saja lebih menyenangkan jika yang ditampilkan adalah kekuatan dan kelebihan kita.
>
> Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan atau kekurangan yang benar-benar ada pada diri kita atau pada kelompok kita. 


>
> Rasanya ada dua pilihan, yaitu 1). 'dilampok' saja, seakan-akan hal itu tidak ada; atau 2) dihadapi secara lugas, dicari akar penyebabnya, dan seiring dengan itu dicarikan cara mengatasinya. Kalau saya tidak salah, cara yang kedua ini lazim dipakai di kalangan kedokteran, yang lazimnya meminta data pasien berupa anamnesa, untuk kemudian didiagnosa, dibuatkan prognosa dan terapinya ( maaf kalau keliru.)
>

> Dalam hubungan ini tidaklah heran, bahwa lumayan banyak pengarang yang mempunyai latar belakang dokter yang tertarik pada masalah kemanusiaan dan kebudayaan , baik masalah kemanusiaan dan kebudayaan pada umumnya, maupun masalah kemanusiaan dan Kebudayaan dari  golongannya sendiri pada khususnya. 
>
> Saya melihat ada kepekaan seperti itu di kalangan sebagian dokter Minang. Berbeda dengan kecenderungan para Pujangga Baru dalam tahun 1930-an  yang mengeritik budaya Minang dengan keras, kelompok dokter ini lebih tertarik untuk meneliti - bukan untuk mengeritik - satu fenomena psikologis, mungkin lebih tepat jika disebut sebagai fenomena psikosomatik yang khas terdapat pada suku Minang. Kalau saya tak salah ingat, mungkin Dr Mohammad Amir di Medan, seorang Minang, yang pertama kali menengarai adanya gejala psikosomatik yang kemudian dinamakannya sebagai 'padangitis' atau 'minangitis' itu. Istilah yang sama kemudian dipakai oleh Prof Dr Tan Pahlawan, yang melihat gejala yang sama pada pasien orang Minang di RS Dr Tjipto Mangunkusumo di Jakarta dalam tahun 1950-an.
>
>  Sanak Taufiq Rasyid mencatat bahwa istilah itu memang ada dan dipakai dalam tahun 1970 - 1980-an untuk menerangkan gejala kejiwaan orang Minang pasca-PRRI. Dengan kata lain, gejala psikologis yang disebut sebagai 'minangitis' atau 'padangitis' itu bisa terlihat secara individual atau secara kolektif.


>
>
> Saya kurang tahu apakah ada gejala psikologis sejenis pada suku-suku perantau lainnya, seperti Bugis, Madura, atau Batak. Ada atau tidak ada, rasanya gejala psikologis yang kelihatannya banyak diidap oleh kita orang Minang, layak untuk diteliti dan dikaji secara ilmiah, setidak-tidaknya untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita.
>
> Saya sangat menghargai adanya semangat ilmiah yang kuat pada dr Rina di Padang, yang berkebetulan profesi beliau memang seorang dokter psikosomatik. Dr Rina tertarik pada fenomena penyakit maag yang diidap pasien-pasien beliau orang Minang, yang setelah diperiksa kemana-mana ternyata tidak jelas penyebabnya. Sebagai seorang ilmuwan, Dr Rina ingin mencari akar penyebabnya agar dapat dilakukan pencegahan dini. Saya sangat menghargai semangat beliau sebagai ilmuwan, yang merencanakan pertemuan ilmiah di Padang bulan Februari 2012. Saya telah mendaftar untuk ikut 'nguping' dalam pertemuan tersebut. ( Mungkin Sanak Taufiq Rasyid, pak Ambiar Lani, pak Roestam Hamsjal, pak Farhan Moein Dt Bagindo, pak Azmi Dt Bagindo, dan - last but not least - pak Mochtar Naim juga berminat 'nguping' bersama mendengarkan pembahasan tema yang menarik ini.)
>
> Saya bergembira, bahwa Trysna Dewi, yang mengaku bukan dokter, ternyata juga berminat pada masalah ini, dan menengarai kemungkinan adanya sebab-sebab kultural dari gejala ini. Saya harap Trysna juga dapat ikut bersama mendengarkan wacana yang mungkin punya dimensi kultural ini.
>
> Wassalam,
> SB.
>
> Dikirim dari iPad saya
>

> Pada 22 Nov 2011, at 09:40, roestam hamsyal <hamsyal48@...> menulis:
>
>
> Assm ww bpk/ibu
> >Mengenai istilah Padangitis atau Minangitis harus hati2 karena dapat menimbulkan persepsi negatif, kalau tidak jelas maknanya jangan dipakai istilah itu. Ambo sebagai orang minang sangat tidak setuju istilah tsb sebab konotasinya dapat mengartikan tidak baik. Tks Roestam Hamsyal
> >
> >Dikirim dari iPad saya
> >

> >Pada Nov 22, 2011, at 9:19, Ambiar Lani <rang_kito@...> menulis:
> >
> >
> >Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh,
> >>
> >>
> >>Bung Taufiq sarato Bapak dan Ibu para dunsanak pengunjung palanta nan ambo hormati.
> >>
> >>
> >>Labiah kurang ampia samo jo Bung Taufiq, ambo pun buliah dikatokan atau dimasuakkan ka dalam kalompok nan kurang mangarati (ataupun mungkin tidak mengerti) dengan apa yang disebut dengan istilah Padangngitis atau Minangitis itu.
> >>
> >>
> >>Nan ambo ketahui adalah bahwa imbuhan kata itis itu adalah istilah dalam ilmu kedokteran. Misalnya; parringitis artinya radang tenggorokan, gastritis artinya radang usus dua belas jari, sinusitis artinya radang rongga hidung, miningitis artinya radang selaput otak, dan seterusnya........
> >>
> >>(mohon kepada dunsanak nan baprofesi sebagai dokter atau mendalami ilmu kedokteran pengetian istilah yang kami tulis tersebut untuk dikoreksi agar menjadi lebih tepat, terima kasih terlebih dahulu)
> >>
> >>
> >>Dalam hal penggunaan kata imbuhan itis (dan ataupun mengadopsi kata imbuhan itis) terhadap penyakit sosial di tengah masyarakat, dengan melekatnya dan ataupun menyebutkannya untuk dan kepada etnis tertentu seperti Padangitis atau Minangitis itu, ambo kiro kepada yang pertama kali menggunakan istilah ini perlu kita minta dan kita beri kesempatan untuk menjelaskan dan menafsirkannya secara ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
> >>
> >>
> >>Kalau misalnya yang dimaksudkan dengan Minangitis atau Padangitis itu misalnya dengan penyakit sosial sms (susah mancaliak urang sanang ~ sanang mancaliak urang susah) di tengah komunitas urang awak, pemalas, ujub (agak kurang randah hati), kurang ridha / kurang ikhlas, kurang ramah kepada tamu / kurang menonjol dalam pelayanan dan lain-lain sebagainya, hal sama juga ditemui pada etnis atau daerah yang lain. Lantas kenapa kita menggunakan kosa kata yang seharusnya kita banggakan itu Minang dan Padang, untuk sebuah sebutan yang bersifat penyakit kronis Minangitis atau Padangitis itu?
> >>
> >>
> >>Agak khawatir ambo kalau-kalau kita manapuak aia di dulang ~ mamacik (memercik) ka muko awak juo.
> >>
> >>
> >>Menjadi harapan bagi ambo dan mungkin juga dunsanak palanta nan lain, ndak usahlah awak manggunokan istilah yang nampaknya diilmiah-ilmiahkan itu, tapi tidak dapat dijelaskan secara etimologis dan akademis.
> >>
> >>
> >>Akhirulkalam, mohon maaf kalau ada kurang berkenan atau yang kurang terletak pada tempatnya. Billahitaufiq walhidayah.
> >>
> >>Wassalam,
> >>Ambiar Lani,
> >>L/59/Jkt-Bekasi.
> >>________________________________

> >>From: "taufiqrasjid@..." <taufiqrasjid@...>


> >>To: rant...@googlegroups.com
> >>Sent: Monday, November 21, 2011 3:51 AM
> >>Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] SUMBAR terbanyak no 3 Urang Gilo
> >>
> >>
> >>Ambo indak tau pasti baa nan sabananyo Padangitis iko
> >>
> >>Tapi perkiraan ambo adolah salah satu side effect urang awak nan marasai pasca PRRI
> >>Mereka lari ka Rantau dan bertungkus-lumus menuju sukses
> >>
> >>Ketika harapan itu mulai agak terbuka, mereka keburu napsu untuk mengaktualisasikan diri
> >>
> >>Akibatnya kondisi yg berangsur lumayan bukan difocuskan untuk meningkatkan performance dan asset. Tapi utk remeh-temeh kebanggan diri terutama kekampung
> >>

> >>Akibatnya  bisnis mulai goyang, parasaan pun ilang-ilang timbua. Akhirnyo stress berat
> >>
> >>Iyo baitu ??
> >>
> >>--TR


trisna dewy

unread,
Nov 23, 2011, 11:32:28 AM11/23/11
to rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum Mamak mande apak ibus adonyo,

Makasih pak R. Pitopang, awak masih baraja dulu nyo pak. Awak juga berharap mamak, bundo apak ibu disiko dak adoh nan berang soal pepatah iko dikoreksi doh, toh tujuannyo demi kebaikan awak basamo jo ranah minang secara keseluruhan..Untuk pepatah nan apak sabuikan tu awak juga stuju jo pendapat apak pepatah2 tu diciptakan dek leluhur awak sebagai sindiran bia urang awak menghindari sifat nan mode itu. Cuma masalahnyo untuk yang emang dasarnyocaliah, curang dan lamak dek inyo surang malah manggunoan pepatah2 rang tuo tu untuk membenarkan sikap nyo dengan asalan "aden kan urang minang, urang minang tu emang taimpik ndak di ateh, dll" padahal sabanonyo yang bersangkutan malah alah melanggar ajaran leluhur awak. Pepatah "taimpik ndak diateh, takuruang ndak dibawah" tu kalo dibawoan ka nan elok bagus hasilnyo, berarti semangat pantang menyerah oleh keadaan sesulit apapun. 
Soal peringkat sumbar no 3 gangguan jiwa tu awak juga kurang tau pak, alun adoh penelitian ilimiahnyo sampai kini lai doh. Dari nan awak amati sekeliling awak umumnyo karano himpitan ekonomi, cita-cita tak kesampaian, tidak punya teman kalo pun adoh cuma kawan galak sajo, dan kurang komunikasi antara sesama anggota keluarga ditambah dek urang awak nan diskriminatif ka nan miskin/nan dibawah inyo katah lirik lagu " kok miskin badan, sanak benci urang kampuang manjauh", diperparah dek pemahaman agama nan kurang pulo. 
Awak satuju jo apak, yo mari memahami agama dan menjalankannya tentu solusi yang bagus. Disamping itu kesadaran tiap keluarga lebih membangun keakraban sesama anggota keluarga kandungnya agar indak adoh nan stress juga perlu : setidaknyo kok miskin bana, kawan dak adoh pulo dan dimusuhi sanak ditambah dijauhi orang kampung, masih ada keluarga dekat yang tetap mendukung, kalo cita2nya belum kesampaian dengan dukungan keluarga tentu akan terasa lebih ringan dan bersemangat lagi mengejarnya dihari esok. Awak termasuk nan mendukung adonyo bakti sosial pengumpulan zakat atau sedekah diforum iko yang peruntukannya lebih ke SDM bukan mamparancak mesjid melulu.  Menurut awak ini juga bisa turut meringankan beban ekonomi dan pikiran sanak awak nan kurang mampu karna walau dak banyak setidaknya ini juga bentuk perhatian juga dari sasamo urang minang. Moga bakti sosial ko tetap adoh dan makin besar cakupannyo dak hanya anggota forum iko doh bia dana yang terkumpul lebih banyak lagi dan bisa membantu lebih banyak sodara awak. Seandainya adoh badan amil zakat disumbar kayaknya bagus juga untuk pengumpulan zakat lebih luas lagi yang penting aliran dananya jelas aja.

segitu dulu
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages