[JAKARTA] Dokter di Indonesia tak komunikatif. Pasien dan keluarganya tidak memperoleh informasi yang cukup tentang penyakit yang diderita dan pengobatan. Pembatasan praktik di tiga tempat bukan merupakan solusi, karena komunikasi dokter yang pasiennya sedikit juga buruk.
Mantan Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Kartono Mohamad dan guru besar FKM Universitas Indonesia (UI) Profesor Hasbullah Thabrany mengatakan hal itu kepada SP di Jakarta, Rabu (18/3), saat diminta tanggapan mereka tentang komunikasi antara dokter dan pasien.
Menurut Hasbullah, dokter memang kurang komunikatif, karena saat kuliah tidak diajarkan komunikasi. Selain itu, dokter selalu menganggap yang paling tahu. Atas dasar itu, Konsil Kedokteran mengharuskan kompetensi komunikasi untuk sertifikasi praktik. "Kebanyakan pasien merupakan alasan nomor dua, banyak dokter yang pasiennya sedikit, tetapi tetap juga tidak komunikatif. Perlu revolusi budaya dokter," ucap Hasbullah.
Komunikasi Buruk
Menurut Kartono, beberapa rumah sakit swasta mencoba memperbaiki komunikasi dokter yang buruk, namun belum memadai. Ada kecenderungan dokter mengejar setor-an uang sebanyak mungkin dalam waktu singkat. Pembatasan tiga tempat praktik, katanya, untuk memperbaiki pelayanan dokter, namun tidak ada pembatasan jumlah pasien per hari.Hasbullah menegaskan, pembatasan praktik di tiga tempat tidak efektif mengatasi dokter yang tak komunikatif. Menurutnya, cara itu banyak diakalin para dokter. Seharusnya di kota besar, dokter wajib full time di satu rumah sakit (RS). RS harus mewajibkan dokter bekerja penuh waktu, dan hal tersebut tidak melanggar undang-undang tentang praktik kedokteran.
Dicontohkan, di Malaysia dan Singapura, pasien merasa aman karena dokter selalu bisa dihubungi. Perihal komunikasi dokter yang buruk ini juga terjadi di kalangan dokter senior yang memiliki sejumlah gelar. [N-4]
Secara pribadi saya membantah pernyataan ini. Kalau seandainya yang menjadi sampel penelitian adalah pasien saya maka saya bisa pastikan bahwa dia akan menjawab bahwa dokter Indonesia komunikatif. Anda bisa Tanya kepada pasien yang skoliosis saya yang tergabung di Masyarakat Skoliosis Indonesia.
rahyussalim
Pak Dokter, tentu kita sama-sama tahu bukan begitu metode penelitian
yang baik. Untuk menanggapi pernyataan itu, akan lebih baik jika
dilakukan survei yang mengikuti metode ilmiah untuk mengukur tingkat
layanan dokter dan kepuasan pasien di Indonesia (jika memang belum
ada) agar tidak hanya bergantung pada keterangan anekdotal. Tentunya
tujuannya bukan untuk membenarkan atau membantah pernyataan itu namun
untuk mengenai keadaan yang nyata di lapangan.
.
Selain itu, Bapak juga bisa berdiskusi dengan dr. Kartono Mohamad dan
Prof. Thabrany yang memberikan pernyataan tersebut. Mungkin Bapak bisa
berbagi kemampuan komunikasi dengan pasien ke dokter-dokter lainnya.
Dari beberapa komentar di sini pun sepertinya sudah ada yang merasakan
kurangnya komunikasi tersebut.
Pada akhirnya, saya yakin kita semua menginginkan kualitas layanan
kesehatan yang lebih baik di negeri ini.
Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan.
Wassalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,
--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)
Baru saja saya menjumpai tulisan berikut tentang layanan di Puskesmas
berdasarkan data tahun 2004:
http://apotekputer.com/ma/index.php?option=com_content&task=view&id=140&Itemid=63
Kesimpulannya adalah layanan di Puskesmas cukup memuaskan baik untuk
rawat jalan maupun rawat inap. Namun saya bingung juga melihat Tabel 2
dan Tabel 5 pada tulisan itu karena kok sepertinya kebanyakan
tidak/kurang puas (kontradiktif dengan Tabel 1 dan Tabel 4).
Kemungkinan ada kekeliruan dalam penyajian data. Juga sampel untuk
rawat inap relatif kecil (87 orang).
Rahyussalim (pribadi lawan pribadi.... saya rasa dua orang yang disebut tidak layak dijadikan expert dalam mengomentari ini karena yang paling tau mengenai hubungan dokter pasien itu adalah orang yang berpraktek dan mengelola pasien secara pribadi)
-----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Ahmad Ridha
Sent: Monday, March 23, 2009 6:20 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Re: DOKTER Indonesia Tak Komunikatif, Apa kata Mantan Ketua IDI.
2009/3/23 rahyussalim <rahyuss...@yahoo.co.id>:
> Secara pribadi saya membantah pernyataan ini. Kalau seandainya yang menjadi
> sampel penelitian adalah pasien saya maka saya bisa pastikan bahwa dia akan
> menjawab bahwa dokter Indonesia komunikatif.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
http://www.jmpk-online.net/files/03-1.apchriswardani.pdf
(Jawa Tengah)
"Most patient ( 68,62% until 76,24%) were satisfied with admission
services, doctors, nurses, meals, drugs, hospital facility, room
facility and discharge services."
http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=77842&lokasi=lokal
(RSUD Pekan Baru)
"The result of this study shows that the Askes member patients who are
satisfied towards the Askes further treatment policies is 51% and
those who are dissatisfied are 49%, with mean value cut of point
(77,68) ...."
http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&src=k&id=151665
"Hasil analisis utama menunjukkan bahwa pada pasien rawat jalan dewasa
Rumah Sakit Al-Islam Bandung, persepsi pasien terhadap empati dokter
dan juga kepuasan pasien cukup baik. Tingkat kepuasan pasien tidak
ditentukan oleh perbedaan jenis kelamin, usia, maupun tingkat
pendidikan."
Satuju sacaro prinsip pak Yansen…
Indak adoh nan salah… Di Divisi Orthopaedi FKUI/RSCM kami biaso maadoan CPC (Clinico Pathological Conference). Barangkali di rs lain pun adoh.
Di CPC ko lah di parambuk an kasus2, tarutamo kasus nan secara kedokteran berado di daerah abu2. Di CPC nan mambahas kasus sulit dari berbagai bidang kedokteran radiologi, patologi anatomi, dan ahli lainnya kalua diagnosis basamo dan terapi basamo.
rahyussalim