DOKTER Indonesia Tak Komunikatif, Apa kata Mantan Ketua IDI.

13 views
Skip to first unread message

Muzirman --

unread,
Mar 21, 2009, 2:49:50 PM3/21/09
to muzi...@gmail.com, rantaunet
SUARA PEMBARUAN DAILY

Dokter Indonesia Tak Komunikatif

[JAKARTA] Dokter di Indonesia tak komunikatif. Pasien dan keluarganya tidak memperoleh informasi yang cukup tentang penyakit yang diderita dan pengobatan. Pembatasan praktik di tiga tempat bukan merupakan solusi, karena komunikasi dokter yang pasiennya sedikit juga buruk.

Mantan Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Kartono Mohamad dan guru besar FKM Universitas Indonesia (UI) Profesor Hasbullah Thabrany mengatakan hal itu kepada SP di Jakarta, Rabu (18/3), saat diminta tanggapan mereka tentang komunikasi antara dokter dan pasien.

Menurut Hasbullah, dokter memang kurang komunikatif, karena saat kuliah tidak diajarkan komunikasi. Selain itu, dokter selalu menganggap yang paling tahu. Atas dasar itu, Konsil Kedokteran mengharuskan kompetensi komunikasi untuk sertifikasi praktik. "Kebanyakan pasien merupakan alasan nomor dua, banyak dokter yang pasiennya sedikit, tetapi tetap juga tidak komunikatif. Perlu revolusi budaya dokter," ucap Hasbullah.

Komunikasi Buruk

Menurut Kartono, beberapa rumah sakit swasta mencoba memperbaiki komunikasi dokter yang buruk, namun belum memadai. Ada kecenderungan dokter mengejar setor-an uang sebanyak mungkin dalam waktu singkat. Pembatasan tiga tempat praktik, katanya, untuk memperbaiki pelayanan dokter, namun tidak ada pembatasan jumlah pasien per hari.

Hasbullah menegaskan, pembatasan praktik di tiga tempat tidak efektif mengatasi dokter yang tak komunikatif. Menurutnya, cara itu banyak diakalin para dokter. Seharusnya di kota besar, dokter wajib full time di satu rumah sakit (RS). RS harus mewajibkan dokter bekerja penuh waktu, dan hal tersebut tidak melanggar undang-undang tentang praktik kedokteran.

Dicontohkan, di Malaysia dan Singapura, pasien merasa aman karena dokter selalu bisa dihubungi. Perihal komunikasi dokter yang buruk ini juga terjadi di kalangan dokter senior yang memiliki sejumlah gelar. [N-4]


Last modified: 19/3/09

Hilman Mahyuddin

unread,
Mar 21, 2009, 5:25:24 PM3/21/09
to Rant...@googlegroups.com
Ado banyak sabab baa kok tajadi sarupo nan ditulih diateh antaro lain :
Dari zaman saisuek hubungan angku doto jo rakyatko memang agak indak dakek karano memang doto2 tu kabanyakan dari kalangan elit dizaman ulando.Ciek lai urang mananyokan sagalo macam kadoto,karano inyo dianggap urang nan tahu,sampai2 kamambuek rumah batanyo ka doto.
Dulu doto2 tu digaji sangek gadang sahinggo namueh ditampekkan dimaa maa,sampai ka Irianpun namueh dikirim.
Dulu pargaulan dotot2tuh tabateh bana.Caro2 saruman iko masih banyak lakek,baiek dikalangan masyarakat maupun didoto tu sandiri.
Kini komunikasi maju sangek capek indak takaja dek prilaku nan alah mapan.dan cukuik susah barubah.Kamajuan I T manyababkan urang alah banyak mangarati manganai kadokteranko yang bisa nyo cari di internet yang sangek babeso jo dulu dimano ilmu kesehatantu saolah olah ditangan doto sajo.Bahkan doto2 nan tuo pun lah katinggalan ilmu2 baru karano banyak pasien dan indak sempat ( indak tahu ? )bukak internet.
Kito jaan lupo bahaso yang manjadi doto umumnyo pilihan dari siswa2 nan rancak nilai (bukan budi pekerti) nyo,karano untukl masuek sakolah doto indak ado test budi pakarati.
Zaman kini kito caliek bahaso untuk sakolah doto,uang sakolahnyo yo bana minta ampun mahanyo,apolagi nan swasta.Apo lai kalau maambiek spesialih,nan umumnyo sakolah pemerintah sangek maha.
Dari pandangan lain,pemerintah mampalakukan doto tuh indak ado fungsi sosialnyo.Doto2tu dipajak sebagai urang manggaleh alias pengusaha.Salasai sakolah pamarentah manampekkan sakancak ati dengan gaji yang indak layak untuk iduik wajar apolai nan dipalosok palosok.
Sabanta lai taun 2010.ka Indonesia ko bebas masuek doto dari maa maa.Tantu inyo indak ka Kalimantan atau ka Irian,tapi kakota2 gadang.didukuang jo teknologi maju modal gadang fasilitas mewah.Kini sajo lah batebaran rumah sakik2 rancak( mungkin rumah sehat yo)denagn fasilitas2 adhai yang bayarannyo maha.Bukan indak mungkin pulo dari India Pakistan dan Bangladesh ( yang sakolah dotonyo ado di kacamatan 2 dinagarinyo )yang mano awak indak tau mutunyo dan  tapi inyo urang luwa nagari.
Walau baapun maaturnyo,dinagari awkko aturan bisa diboli(ma'af)
Undang2 Kesehatan :surang doto hanyo bulieh praktek ditigo tampek.Cubo caliek Dr Saiful Saanin Spesialis Bedahaf di Padang.Inyo surang sajo ahli Bedah saraf di Sum Barat.Baa inyo kamanolong uarng nan paralu dibadah utaknyo kalau kajadian dirumah sakik lain?Apo dibiakan sajo mati indak ditolong?
Kecek kawan ambo,di Padang utak indak dioperasi do tapi digulai.

rahyussalim

unread,
Mar 22, 2009, 6:54:34 PM3/22/09
to Rant...@googlegroups.com

Secara pribadi saya membantah pernyataan ini. Kalau seandainya yang menjadi sampel penelitian adalah pasien saya maka saya bisa pastikan bahwa dia akan menjawab bahwa dokter Indonesia komunikatif. Anda bisa Tanya kepada pasien yang skoliosis saya yang tergabung di Masyarakat Skoliosis Indonesia.

 

rahyussalim

Ahmad Ridha

unread,
Mar 22, 2009, 7:20:11 PM3/22/09
to Rant...@googlegroups.com
2009/3/23 rahyussalim <rahyuss...@yahoo.co.id>:

> Secara pribadi saya membantah pernyataan ini. Kalau seandainya yang menjadi
> sampel penelitian adalah pasien saya maka saya bisa pastikan bahwa dia akan
> menjawab bahwa dokter Indonesia komunikatif.
>

Pak Dokter, tentu kita sama-sama tahu bukan begitu metode penelitian
yang baik. Untuk menanggapi pernyataan itu, akan lebih baik jika
dilakukan survei yang mengikuti metode ilmiah untuk mengukur tingkat
layanan dokter dan kepuasan pasien di Indonesia (jika memang belum
ada) agar tidak hanya bergantung pada keterangan anekdotal. Tentunya
tujuannya bukan untuk membenarkan atau membantah pernyataan itu namun
untuk mengenai keadaan yang nyata di lapangan.
.
Selain itu, Bapak juga bisa berdiskusi dengan dr. Kartono Mohamad dan
Prof. Thabrany yang memberikan pernyataan tersebut. Mungkin Bapak bisa
berbagi kemampuan komunikasi dengan pasien ke dokter-dokter lainnya.
Dari beberapa komentar di sini pun sepertinya sudah ada yang merasakan
kurangnya komunikasi tersebut.

Pada akhirnya, saya yakin kita semua menginginkan kualitas layanan
kesehatan yang lebih baik di negeri ini.

Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan.


Wassalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,
--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

Ahmad Ridha

unread,
Mar 22, 2009, 7:35:07 PM3/22/09
to Rant...@googlegroups.com
2009/3/23 Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com>:

> Untuk menanggapi pernyataan itu, akan lebih baik jika
> dilakukan survei yang mengikuti metode ilmiah untuk mengukur tingkat
> layanan dokter dan kepuasan pasien di Indonesia (jika memang belum
> ada) agar tidak hanya bergantung pada keterangan anekdotal.
>

Baru saja saya menjumpai tulisan berikut tentang layanan di Puskesmas
berdasarkan data tahun 2004:

http://apotekputer.com/ma/index.php?option=com_content&task=view&id=140&Itemid=63

Kesimpulannya adalah layanan di Puskesmas cukup memuaskan baik untuk
rawat jalan maupun rawat inap. Namun saya bingung juga melihat Tabel 2
dan Tabel 5 pada tulisan itu karena kok sepertinya kebanyakan
tidak/kurang puas (kontradiktif dengan Tabel 1 dan Tabel 4).
Kemungkinan ada kekeliruan dalam penyajian data. Juga sampel untuk
rawat inap relatif kecil (87 orang).

rahyussalim

unread,
Mar 22, 2009, 7:33:05 PM3/22/09
to Rant...@googlegroups.com
Betul Pak Ridha....saya hanya sedang menanggapi pernyataan pribadi dua orang itu yang mengeluarkan pernyataan berdasarkan asumsi pribadi dia. Mereka berdua tidak mengungkapkan kesimpulan penelitian...
Anda benar.... bahwa perlu penelitian mengenai ini. Yang ingin saya ungkapkan kepada Anda semua adalah expert judgment memiliki kualitas yang rendah dalam hal menjadi rujukan.

Rahyussalim (pribadi lawan pribadi.... saya rasa dua orang yang disebut tidak layak dijadikan expert dalam mengomentari ini karena yang paling tau mengenai hubungan dokter pasien itu adalah orang yang berpraktek dan mengelola pasien secara pribadi)

-----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Ahmad Ridha
Sent: Monday, March 23, 2009 6:20 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Re: DOKTER Indonesia Tak Komunikatif, Apa kata Mantan Ketua IDI.


2009/3/23 rahyussalim <rahyuss...@yahoo.co.id>:
> Secara pribadi saya membantah pernyataan ini. Kalau seandainya yang menjadi
> sampel penelitian adalah pasien saya maka saya bisa pastikan bahwa dia akan
> menjawab bahwa dokter Indonesia komunikatif.

-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Ahmad Ridha

unread,
Mar 22, 2009, 7:48:27 PM3/22/09
to Rant...@googlegroups.com
Beberapa survey lainnya:

http://www.jmpk-online.net/files/03-1.apchriswardani.pdf

(Jawa Tengah)

"Most patient ( 68,62% until 76,24%) were satisfied with admission
services, doctors, nurses, meals, drugs, hospital facility, room
facility and discharge services."

http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=77842&lokasi=lokal

(RSUD Pekan Baru)
"The result of this study shows that the Askes member patients who are
satisfied towards the Askes further treatment policies is 51% and
those who are dissatisfied are 49%, with mean value cut of point
(77,68) ...."

http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&src=k&id=151665

"Hasil analisis utama menunjukkan bahwa pada pasien rawat jalan dewasa
Rumah Sakit Al-Islam Bandung, persepsi pasien terhadap empati dokter
dan juga kepuasan pasien cukup baik. Tingkat kepuasan pasien tidak
ditentukan oleh perbedaan jenis kelamin, usia, maupun tingkat
pendidikan."

Sri Yansen

unread,
Mar 22, 2009, 11:49:14 PM3/22/09
to Rant...@googlegroups.com
maota masalah  mutu dotor..ambo punyo pengalaman buruak jo dotor nan tarlalu over analisanyo..kajadiannyo di rumah sakik nan cukuik tanamo di daerah Bintaro jo dotor anak nan punyo title Prof.(Maaf sabalunyo bukan mukasuik untuak mendiskreditkan institusi/profesi) karano sampai kini ambo sekeluarga masih barubek dirumah sakik ko......
akhie tahun nan lampau anak ambo damam dan agak pilek..alah 2 hari alun juo turun panehnyo..ambo baok inyo ka rumah sakik ..tapi malang dotor anak nan alah biaso manangani anak ambo ko sadang indak batugas...dan dicarilah dotor lain nan praktek ukatu itu...dan dapeklah dotor nan alah bagala "prof".... setelah inyo pareso sarupo standar nan biaso dilakukan para dotor umunyo indak ditemukan ado masalah....dan si prof ko manyuruah supayo di rontgen dadonyo dalam hal iko inyo ingin maliek paru2 nyo....setelah dirontgen..dan dari hasil pembacaan dotor ko ado masalah jo paru2 nyo sarupo flek katanyo tetapi di didunia kedokteran indak dikenal istilah flek tapi adolah Tubercolosis....dan supayo labiah yakin jo pandapeknyo....inyo suruah datang 2 hari barikuiknyo untuk MANTOUX test (untuak mangatahui virus TB ko)... nan hasilnyo dibaco 3 hari berikutnyo pulo...dan dihari nan ditantukan dipareso baliak hasil test Mantoux dan manuruik inyo "positif" dan untuk pengobatannyo..anak ambo diharuskan minum ubek paling kurang salamo 6 bulan dan indak buliah taputuih kalau indak anak ambo ko samakin hari badannyo akan samakin habih digrogoti virus ko.....
sebagai urang tuo indak tega mancaliak sarato maminumkan ubek ko apolagi anak ambo ko masih balita dan ubek ko harus diminumkan 3x sahari salamo 6~9 bulan....
Setelah 5 hari bajalan...ambo cari tahulah kian kamari karano tapikie efek bagi nantinyo apobilo maminum ubek jangka panjang apolagi iko adolah anti biotik.....sarato di pareso lingkungan sekitar dan hasilnyo ambo kurang yakin anak ko tainfeksi jo virus TB.... dan ambo baok baliak ka rumah sakik tu dan ambo paresokan jo dotor anak nan lain nan spesial paru...setelah inyo pareso sarato batanyo2 mengenai riwayat dan inyo baco ulang hasil rontgen..hasilnyo sangat berbeda anak ko dinyatokan sehat indak ado masalah nan paralu dirisaukan jo paru2nyo....
Saminggu kamudian dotor nan biaso manangani anak ambo ko mulai praktek dan untuak labiah mayakinkan..ambo baok baliak untuak dipareso jo dotor ko...dan hasilyo sasuai jo dotor nan kaduo tadi..indak ado masalah dan Alhamdulillah sampai kini anak ambo ko lai sehat dan tumbuh normal..
manuruik ambo kalau kito didiagnosa suatu penyakik nan agak barek sebaiknyo pendapek dotor nan lain patuik untuk dipertimbangkan
wassalam,
yansen/37l/sawangan


Dari: Hilman Mahyuddin <hilman.m...@gmail.com>
Kepada: Rant...@googlegroups.com
Terkirim: Minggu, 22 Maret, 2009 04:25:24
Topik: [R@ntau-Net] Re: DOKTER Indonesia Tak Komunikatif, Apa kata Mantan Ketua IDI.





Berbagi foto Flickr dengan teman di dalam Messenger.
Jelajahi Yahoo! Messenger yang serba baru sekarang!

rahyussalim

unread,
Mar 23, 2009, 12:58:32 AM3/23/09
to Rant...@googlegroups.com

Satuju sacaro prinsip pak Yansen…

Indak adoh nan salah… Di Divisi Orthopaedi FKUI/RSCM kami biaso maadoan CPC (Clinico Pathological Conference). Barangkali di rs lain pun adoh.

Di CPC ko lah di parambuk an kasus2, tarutamo kasus nan secara kedokteran berado di daerah abu2. Di CPC nan mambahas kasus sulit dari berbagai bidang kedokteran radiologi, patologi anatomi, dan ahli lainnya kalua diagnosis basamo dan terapi basamo.

 

rahyussalim

adha jamil

unread,
Mar 23, 2009, 1:09:37 AM3/23/09
to Rant...@googlegroups.com
....hhmmm...santiang, ikonyo calon pemimpin masa depan. Bravoo..dotor

Ajo Manih..
--
visit http//come to/digitalworks a source for computer hobbyist
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages