KKM: Biduak Lalu Kiambang Batauik

28 views
Skip to first unread message

Nofend Marola

unread,
Sep 13, 2010, 12:53:51 PM9/13/10
to rant...@googlegroups.com
PadangKini.com | Sabtu, 11/09/2010, 0:55 WIB
Oleh: Muharmein Zein Chaniago

Kegagalan Acara KKM (Kongres Kebudayaan Minangkabau) 2010 yang digagas Gebu
Minang dikarenakan oleh derasnya arus penolakan dari beberapa kelompok di
Ranah sendiri merupakan sebuah catatan yang harus disikapi dan dicermati
dengan penuh kehati-hatian.

Dampak kegagalan tersebut akan memunculkan berbagai persepsi, tergantung
dari perspektif mana dan siapa yang melihatnya. Saya membahas kegagalan ini
lebih kepada perspektif kerangka fisik pelaksanaan, bukan pada substansi
materi kongres itu sendiri. Selain tidak ingin berpolemik pada benar atau
salahnya materi KKM, kami sendiri bukan ahlinya yang layak memberikan
komentar terhadap materi tersebut.

Hal pertama yang harus ditelaah adalah gagasan yang diusung oleh Gebu Minang
secara organisasi (bukan kedaulatan semua anggota) benarkah telah mewakili
suara semua anggota Gebu Minang?

Lantas apakah seluruh masyarakat perantau baik yang tergabung dalam
organisasi Minang lain (Bakor2) ataupun perantau lepas yang tak pernah
merasa sebagai anggota organisasi minang manapun, juga pernah mengerti dan
mendukung gagasan KKM yang diusung oleh Gebu Minang secara organisasi
tersebut? Jawabannya tentu lebih cenderung kepada TIDAK. Artinya gagasan KKM
tidak layak diklaim 'bulek-bulek' sebagai gagasan URANG RANTAU secara
kolektif.

Kalaulah benar jumlah perantau minang mencapai 16 juta orang, maka
sesungguhnya, bisa dirasakan dalam keseharian bahwa kesibukan pembahasan KKM
ini maksimal melibatkan beberapa puluh orang saja, itupun sebagian besar
berada di Jakarta (kurang dari 1 persen).

Tanpa bermaksud menggiring pada opini sangat minoritasnya kelompok pengusung
KKM ini (walau secara individu pengusungnya pernah menjadi orang-orang besar
di negeri ini), kami ingin mengatakan dan menjernihkan bahwa kekalahan kubu
pro KKM jangan disalahartikan sebagai kekalahan urang rantau (istilah
kalah-menang antara ranah dan rantau itu tidak pernah ada).

Ini penting sekali, banyak teori dan fakta yang dapat kita jadikan acuan
bahwa dalam setiap kompetisi , pro dan kontra, agree and against, fisik
maupun psikis, tidak jarang menyisakan sebuah euphoria bagi yang menang dan
frustrasi bagi yang kalah, yang kadang- kadang berkelanjutan pada persoalan
negatif berikutnya.

Terkadang sang pemenang terus mempromosikan kemenangan yang tidak dengan
mudah diraihnya, cenderung menjadikan itu sebuah memori untuk terus
dipublish atau paling tidak 'dipakecekan' kepada kawan-kawan. Sekali lagi
hal ini wajar dan sangat alamiah.

Hanya yang perlu dikendalikan oleh sang pemenang adalah batas-batas ekspos
dan cerita, jangan sampai menyeberang pada wilayah peremehan atau sampai
penistaan. Misalnya dengan menyebutkan, parantau is the looser, parantau jan
cubo-cubo maago galeh rang kampuang, parantau pikie selah diri sendiri,
parantau indak berhak mambao perubahan apopun di kampuang ko (saya kutip
dari berbagai posting yang saya percaya disampaikan dalam keadaan emosional)
atau statemen-statemen lain yang kurang bernuansa silaturahmi.

Situasi ini sama saja dengan ungkapan "manembak pipik jo meriam" padahal
menembak pipik itu sendiri tidak baik, apalagi ditembak dengan meriam, malah
merusak dan membinasakan banyak hal di sekitar sang pipik. Apalagi sang
pipik indak kanai dan tabang jauah.

Di sisi lain, bila hal itu terjadi, mari kita menoleh pula pada fihak yang
kalah (penggagas). Rasa kecewa dan dongkol sudah pasti sempat bersemayam
dalam diri mereka, pengorbanan fisik, materi dan waktu cukup banyak yang
telah dikeluarkan. Yang paling besar adalah harga diri yang terusik.

Sebagai tokoh-tokoh yang selama ini cukup diperhitungkan eksistensinya,
harus menerima kenyataan gagal hampir di tikungan terakhir sebut saja
sirkuit KKM. Bila pada akhirnya provokasi pihak yang menang terus muncul,
disengaja atau tidak, niscaya ini kembali bisa menambah minyak bensin amarah
fihak yang kalah. Kekalahan yang semestinya dimaklumi dan direnungkan dan
disadari, tidak mustahil berbalik menjadi upaya bertahan atau bahkan upaya
menyerang balik.

Yang lebih menakutkan adalah bola liar ini bergulir kemana-mana. Kenapa liar
karena objeknya sudah tidak jelas lagi (KKM sudah dianggap final, gagal
dilaksanakan). Isu menang kalah bisa dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang
kurang bertanggung jawab untuk diperbesar, diperuncing, baik disengaja atau
tidak, dan akhirnya sekonyong- konyong membentuk sebuah perbedaan, jurang
dikotomi yang lebar, antara ranah dan rantau. Padahal friksi ini hanya
terjadi pada kelompok kecil saja secara kuantitas, mayoritas urang awak
minangkabau indak tahu bahkan tidak pernah peduli dengan KKM ini.

Kita sama-sama menyadari bahwa potensi rantau terhadap ranah secara riil
terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan sangat besar dan tiada yang
dapat menyangkal eksistensi tersebut.

Hubungan mesra ranah dan rantau bukan sekedar kemasan minangkabau saja,
namun dapat dikatakan hubungan jantuang dengan hati di dalam tubuh manusia.
Bila hubungan itu terganggu maka binasa jualah badan ini. Bencana bagi
minangkabau.

Oleh karenanya situasi itu janganlah sampai terjadi. Situasi dimana hubungan
rantau dan ranah tidak kondusif lagi, muncul keengganan, degradasi
loyalitas, perasaan saling cikarau yang terdelusi antara kedua belah pihak.

Padahal selama ini semangat pengabdian dan peduli kampuang bagi sebagian
besar masyarakat rantau adalah sebuah vision, bukan sekedar mision yang
dibatasi ruang dan waktu. Sebaliknya masyarakat ranah pun tidak akan pernah
bisa melepaskan diri dari peran serta, kontribusi yang dialirkan dari rantau
terutama dalam hal pembangunan ekonomi dan sumberdaya manusia.

Maka, hentikan saja semua polemik dan pebincangan tentang pro-kontra KKM ini
dengan segala aspeknya, terutama pada masa-masa kini. Walaupun berat sangat
bagi sebagian orang atau kelompok, namun lupakan saja bahwa gagasan KKM
pernah ada.

Semua pihak sapakat menghindar bila ada tanda-tanda dimulainya kembali
diskusi, pembahasan, atau gelagat perdebatan yang berhubungan dengan KKM,
baik di forum forum nyata di darat maupun semua palanta dunia maya seperti
jejaring sosial. Cara ini akan menutup peluang terjadinya hal-hal yang tidak
baik paling tidak selama bulan suci Ramadhan dan Bulan Silaturahim Syawal.

Harapan kita lagi adalah peristiwa Kegagalan KKM ini, bisa dimaknai positif
oleh semua pihak, menjadi sebuah manifestasi kekayaan adat alam minangkabau
bahwa 'tiado kusuik nan indak ka salasai'. Ibarat pepatah, 'biduak lalu
kiambang batauik'. Seharusnya semakin menjadi 'parakek arek antara ranah jo
rantau'.

Karena masih sangat banyak pekerjaan rumah lain yang harus diselesaikan oleh
kolaborasi ranah dan rantau pada saat ini, terutama membangkitkan
perekonomian dan level hidup masyarakat minangkabau pasca bencana dan pasca
terpilihnya pemimpin baru hampir di setiap wilayah minangkabau.

Minal aizin wal faizin, mohon maaf lair dan batin, selamat idul fitri 1431
H.

)* Muharmein Zein Chaniago adalah Ketua DPP PKDP (Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Keluarga Daerah Piaman).

http://padangkini.com/opini/single.php?id=6626

Hambo

unread,
Sep 13, 2010, 2:48:18 PM9/13/10
to RantauNet
Sambia mancaliak-caliak teks asli "Biduak lalu kiambang batauik" nan
manyajuakkan dari Angku Muharmein Zein Chaniago Ketua DPP PKDP (Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Keluarga Daerah Piaman).di Padang Kini,
tampak pulo gambar Samba Cangkuak nan pernah diotakan Rina dan
adidusanak di Lapau ko.

Iyo raso ka lamak Samba Cangkuak ko dimakan jo nasi angek agak
kapadehan sambia mamanuang-manuangkan dan maacuangkan ampu jari ka
tulisan Angku Muharmein Zein Chaniago nan manyajuakkan tu. Labiah
mengesankan dengan aksentuasinya nan lah ambo manuang-manuangkan pulo
sajak topik ko kalua di Lapau, "..... gagasan KKM tidak layak diklaim
'bulek-bulek' sebagai gagasan URANG RANTAU secara kolektif."

Salamat menikmati Samba Cangkuak

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
Sadang kadinginan disipak rayo
di Tapi Riak nan Badabua
Santa Cruz, California

Samba Cangkuak, Air Nasi Rasa Gulai
PadangKini.com | Minggu, 19/10/2008, 13:27 WIB

SIAPA bilang masakan Minang serba berat dan sarat kolesterol. Ini ada
resep kuno dari Rambatan, tepi Danau Singkarak. Rasanya seperti gulai
santan, tapi tak ada unsur santan yang bisa memicu kolesterol.

Namanya Samba Cangkuak. Tidak jelas kenapa dinamakan demikian. Masakan
ini unik karena mengunakan air tajin alias air nasi sebagai pengganti
santan. Tentu saja lebih sehat. Cocok untuk memanjakan pencernaan.

Inilah cara membuatnya.

Bahan:

-Satu batang talas, potong dan remas dengan garam, lalu cuci dengan
air.

-Satu ons teri medan.

-segenggam asam geliugur atau belimbing sayur, belah dua.

-1 buah tomat merah, potong kasar.

-satu sendok cabe merah giling.

-daun ruku-ruku.

-daun salam.

-bawang merah, bawng putih dan dun bawang dirajang.

-Kerupuk jangek (kerupuk kulit).

-Air tajin (air nasi yang diambil saat menggelegak)

Cara Membuat:

Campurkan semua bahan, kecuali kerupuk jangek, tambahkan air tajin
untuk kuahnya dan masak hinga menggelegak, masukkan garam. Terakhir
sebelum mematikan api kompor, masukkan kerupuk jangek.

Samba Cangkuak disantap. Kuahnya terasa kental karena menggunakan air
tajin. Rasanya ringan dan segar. (ynt/ resep dari sarbaitinil)

Zulkarnain Kahar

unread,
Sep 13, 2010, 2:59:31 PM9/13/10
to rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum wr wb
 
Tak kalah-menang pak Penulis, tak ada pertarungan disini. Saya sendiri melihat dan berharap dari balik bumi pak penulis semoga KKM yang kata anda gagal  ini bisa menjadi triger buat para pemilik/petinggi di Ranah untuk mulai bekerja sambil melihat kedalam diri sendiri apa yang salah ini. Pasti ada yang tak beres dalam rumah kita kalau tidak tetangga tak akan bersuara.
 
Mungkin pak penulis bisa main cantik.. kalau meminta apa isi KKM itu dan melemparkanya sebagian isinya kedalam media sambil berkata " Inilah hal hal yang diusung KKM tapi ditolak rami rami oleh sebagian orang ranah karena ada yang merasa terlangkahi" dari pada tak ingin mengomentari isi seperti para pakar yang lain tapi menarik kesimpulan "Lupakan saja bahwa KKM itu ada"
 
Saya pribadi tak berkepentingan dengan KKM, Hanya saya ANTI dengan orang orang yang hanya bisa berkata "pokoknya tak boleh, takbisa, jangan " tapi berfikir agar lebih baik tak punya waktu dan tak mau. Hanya Agama yang harga mati yang lainnya ciptaan manusia biasa. UU Negara di seluruh penjuru dunia ini saja di amandememt.
 
Wassalam
 
Zulkarnain Kahar (52th kurang 3 hari)
"Anak2 dan generasi selanjutnya jauh lebih pintar dari kita"
 

From: Nofend Marola <nof...@gmail.com>
To: rant...@googlegroups.com
Sent: Mon, September 13, 2010 11:53:51 AM
Subject: [R@ntau-Net] KKM: Biduak Lalu Kiambang Batauik

zubir...@gmail.com

unread,
Sep 13, 2010, 4:22:19 PM9/13/10
to rant...@googlegroups.com
Sanak palanta nn dirahma ti Allah Rabbul Izzati.

Didusun Jo Buyuang,adolo samba lado cangkuak nn mate rinyo agak babedo jo nn di da rek.Bahkan sampai kini,kami di Bonjer,Jakbar,kalau musim duren or kalau ado samduren sanang mambuek samba lado cangkuak tu.

Bahan2 samba ini tdd.ba da kasa nn putiah,samba lado nan digiliang haluih,samduren. Aia masak secukup.
Sagalo bahan2 ko diaduak dalam cangkir or talenang ke tek,kemudian adukan iko dila takkan diateh pariuak or panci yang nasinya baru habih nandi diah.Jan lupo bada kasa tu dipanggang terlebih dulu,baru dicampua jo bumbu lain.

Kok lah matang samba lado cangkuak ko,disantuang jo na si angek2 ditambah lo jo uok pucuak parancih,alah mak,kok lalu Mak Ngah n Dinda Duta di balakang ambo nn sadang ba santuang tu,aa io ndak kataca liak doh.

Sambia manunggu makan parak siang(saur) tuk puaso anam bisuak,jo Buyuang ber doa semoga terhindarlah kito dari bencana perpecahan baik sesama warga Minang atawa sebagai sesama anak bangsa NKRI.Amin ya Rabbal Alamin.

Jo Buyuang,71thn,Bonjer, Jakbar.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages