6 bulan di SMA 1 B Tinggi (3)

3 views
Skip to first unread message

suheimi ksuheimi

unread,
Mar 3, 2009, 11:30:00 PM3/3/09
to piaman...@googlegroups.com, SMA...@yahoogroups.com, Rant...@googlegroups.com, satria_p...@yahoo.co.id, reno...@hotmail.com, Irdh...@yahoo.com, for...@yahoogroups.com, herlin...@yahoo.com, jar...@yahoo.com, hariansi...@yahoo.co.id, parami...@yahoo.com, irsyad_...@yahoo.co.id, xan...@yahoo.com, liputa...@yahoo.com, gebril...@yahoo.com, sutan...@gmail.com, dena...@yahoo.com, young...@yahoo.com, fay...@gmail.com, anggo...@yahoogroups.com, rima_...@yahoo.com, singgalan...@gmail.com, irhams...@hotmail.com

Setiap hari Sabtu disekolah kami SMA satu ada hari krida, sering disi oleh kesenian. Guru tari pak darwis loyang pandai dan tekun mengajarkan tarian masal. Lenggang-lenggang kangkung.

“Satu hop dua, tiga hop empat” kata pak Darwis menghayunkan langkah kiri dan kanan©" lalu silang dan satu dua" begitu beliau memberi komando, sehingga kami menari seperti melenggangnya kangkung.

Sampai hari ini kalau disuruh saya bisa menghafal gerakan langkahnya. Dia mengajar dengan hati, dan pelajarannya membekas. Cara beliau sederhana, mudah di pahami dan mudah diikuti.
Sehingga ketika dulu ada tamu agung para mentri berkunjung di gubenuran Padang saya ikut menari tari Payung dengan payung dan langkah gontai, semua itu bekat tempaan pak darwis loyang.

Dihari sabtu hari krida kami di bimbing pak syamsu yang sehari-harinya mengajar Ilmu ukur ruang. Ilmu ukur ruang ilmu yang banyak membayangkan. Bayangkan ruangnya begini dan begitu. Kita di suruh berkhayal. Dan memang saya adalah pengkhayal, macam-macam yang saya khayalkan dan setiap kali mengkhayal saya ingin agar khayalan itu jadi kenyataan.

Disamping mengajar ilmu ukur ruang pak syamsul senang bermusik dan beliau membimbing kami dan mencari bakat di hari Sabtu hari Krida.

Teman saya yang pandai main Band waktu itu Alel, Itye auskarani Il Rapani, nusyirwan sa'danur©wakt. Diwaktu sengang saya pinjam gitarya alel, saya petik gitar itu Melodi dengan mengalunkan lagu "Come september" flimnya lagi in waktu itu dengan bintang lolobrigina.  

Mendengar melodi gitar itu pak syamsu menepuk pundak saya. “Suheimi kamu berbakat bermain musik”. Kata-kata dan semangat yang di ucapkankan menyebabkan saya berusaha belajar auto didak. Mempelajari setiap alat musik. 

Puncak karya saya adalah memukul drummer pada acara puncak lustrum ultah ke 5o Fakultas kedokteran di malam hari di Hotel Pangeran beach september 2007. Lagu Peterpan yang lagi hot waktu itu "Ada apa denganmu" kami tampilkan dengan bersemangat.

Riuh rendah dan gegap gempita sambutan di malam itu. semua hadirin berdiri meliuk kekiri dan kekanan sambil kedua tangan diatas, ada yang histeris tak mengira Band “The Top Professor” menghoyak panggung.

Siapa mengira siapa menduga para Guru Besar professor yang sudah tua-tua prof Kamardi Thalut, Prof Saharman leman, Rrof Syafril Syahbuddinx, Prof Nasrul Idris, prof khalilul rahman, Prof nusyirwan acang, Prof Asman Manaf, Prof Salmiah Agus dan prof K Suheimi menghoyak pentas. Pakai baju kaus hitam pekat dan ketat dan topi dibalikkan.

Hadirih tak mengira atas kejutan yang di berikan oleh guru-gurunya. Dan bakat itu di bakar oleh guru saya ketika di SMA satu B Tinggi. Dihari Sabtu hari krida hari bergembira ria hari mencari bakat dan mencari bibit. disamping menyanyi , menari, melawak juga bermain sulap.

Teman saya Bambang pandai sekali bermain sulap saya belajar darinya. saya senang seni sulap untuk menambaha pergaualn. hingga hari ini ada 20 macam permainan sulap yang saya kuasai dan ketahui. Seni sulap ini perlu untuk mmnambah teman-teman dan saya senang akibat gerarkan sedikit para penonton bengongong “kok bias begini dan begitu”

Melihat orang bengong dan terkagum saya senang, sekarang saya ada toko untuk permainan sulap sambil mengajari orang-orang menikmati pemainan sulap.

Yang menarik juga di Hari Krida yang punya bakat melucu dan melawak di suruh ke pentas. Bermacam-macam banyolannya. Dua teman pelawak saya si Cepot dan si Khairunnas. Tiap saat, tiap hari ada saja yang di lawakkannya. Darinya banyak saya belajar melawak. Dan hasil pelajarannya ini saya kembangkan sewaktu diterima di Fakultas kedokteran. 

Lawakkan itulah yang menghantarkan saya Jadi King di malam Inaugurasi. King sebagai raja semalam saya memerintah kerajaan Aesculapius. Saya melawak lagi sambil balas dendam. Sehingga malam itu Prof Sulaiman diminta menghibur kerajaan dan beliaupun menari dan menyanyi suasana jadi begitu meriah. Ah pengalaman yang manis dan keberhasilan yang di capai berkat di godok dan ditempa di SMA 1 B Tinggi




Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.

jupardi andi

unread,
Mar 3, 2009, 11:52:58 PM3/3/09
to Rant...@googlegroups.com
Pak Suheimi

Cerita Bapak mengingatkan guru tari saya di SD tahun 72 s/d 75 dan itu adalah Bapak Darwis Loyang (DL), betul sekali apa yang Bapak ceritakan ini, Pak DL yang perawakan kecil begitu telaten membimbing kami terutama anak laki yang susah diatur berbaris untuk menari. Pak DL lebih kespesialis goyang "Lenggang kangkung" yang Pak Emi maksud, atau kearah tarian melayau gerak kaki seperti tarian serampang 12 yang berputar dengan memainkan gemulai gerak tubuh, tangan dan letikan jari.

Masih terbayang di pelupuk mata saya, di GOR sekolah saya yang ketika itu sangat mentereng di Kota Padang dengan kontruksi beton dan tulang baja di Air Tawar (IKIP Padang), Pak DL mengatur barisan kami,  tanpa musik (tape recorder) Pak DL duduk di bangku penonton dalam gor sambil memeluk gendang lalu berdendang bernyanyi melayu sambil memberi aba satu..dua..tiga..hop empat (persis yang Pak Emi sampaikan)..putarrrr..Hop satu..hop dua..dstnya

Ahhh...jiwa seni Pak Emi memang nggak usah di pertanyakan lagi
Kata orang Pak..kita akan selalu merasa kaya jika punya jiwa seni
salah satunya seperti Pak Emi bilang..dengan seni kita bisa menambah (kaya) teman

Terlalu susah juga saya membayangkan bagaimana Pak Emi menabuh Drum itu
mungkin suatu saat saya harus melihatnya..jangan2 seperti penabuh Drum kenamaan
group Art Rock Classic favorit saya Led Zepellin "John Bonham..he..he..he

Oh ya Pak Insya Allah kalau tidak ada DL minggu ini saya akan Shalat Jum'at
di Mesjid PMC


Wass-Jepe (Andi)
Pku, 44


Dari: suheimi ksuheimi <ksuh...@yahoo.com>
Kepada: piaman...@googlegroups.com; SMA...@yahoogroups.com; Rant...@googlegroups.com; satria_p...@yahoo.co.id; reno...@hotmail.com; Irdh...@yahoo.com; for...@yahoogroups.com; herlin...@yahoo.com; jar...@yahoo.com; hariansi...@yahoo.co.id; parami...@yahoo.com; irsyad_...@yahoo.co.id; xan...@yahoo.com; liputa...@yahoo.com; gebril...@yahoo.com; sutan...@gmail.com; dena...@yahoo.com; young...@yahoo.com; fay...@gmail.com; anggo...@yahoogroups.com; rima_...@yahoo.com; singgalan...@gmail.com; irhams...@hotmail.com
Terkirim: Rabu, 4 Maret, 2009 11:30:00
Topik: [R@ntau-Net] 6 bulan di SMA 1 B Tinggi (3)


Setiap hari Sabtu disekolah kami SMA satu ada hari krida, sering disi oleh kesenian. Guru tari pak darwis loyang pandai dan tekun mengajarkan tarian masal. Lenggang-lenggang kangkung..


“Satu hop dua, tiga hop empat” kata pak Darwis menghayunkan langkah kiri dan kanan©" lalu silang dan satu dua" begitu beliau memberi komando, sehingga kami menari seperti melenggangnya kangkung.

Sampai hari ini kalau disuruh saya bisa menghafal gerakan langkahnya. Dia mengajar dengan hati, dan pelajarannya membekas. Cara beliau sederhana, mudah di pahami dan mudah diikuti.
Sehingga ketika dulu ada tamu agung para mentri berkunjung di gubenuran Padang saya ikut menari tari Payung dengan payung dan langkah gontai, semua itu bekat tempaan pak darwis loyang.




Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat.
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!

Madahar (madahar)

unread,
Mar 4, 2009, 12:21:34 AM3/4/09
to Rant...@googlegroups.com
da Jepe jo pak Dotor, io nampaknyo banyak nan ampia samo diantaro apak baduo tarutamo tantang hobi dan bahkan samo pulo namo guru tarinyo yaitu pak Darwis Loyang cuma nan mambedaan saketek nan surang guru SMA nan ciek lai guru SD. mudah-mudahan ari jumaik bisuak da Jepe jo pak Dotor indak sajo sakiro bacarito kaji lamo atau masalah stroke tapi ancak juo diansua carito mambukak medan nan bapaneh untuak anggota RN iko supayo bisa pulo digali baliak bakaik-bakaik tapendam nan alun atau kurang tasaluran dikatu mudo. amiiin.
 
wassalam
 


From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of jupardi andi
Sent: Wednesday, March 04, 2009 11:53 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: Bls: [R@ntau-Net] 6 bulan di SMA 1 B Tinggi (3)

Pak Suheimi

Cerita Bapak mengingatkan guru tari saya di SD tahun 72 s/d 75 dan itu adalah Bapak Darwis Loyang (DL), betul sekali apa yang Bapak ceritakan ini, Pak DL yang perawakan kecil begitu telaten membimbing kami terutama anak laki yang susah diatur berbaris untuk menari. Pak DL lebih kespesialis goyang "Lenggang kangkung" yang Pak Emi maksud, atau kearah tarian melayau gerak kaki seperti tarian serampang 12 yang berputar dengan memainkan gemulai gerak tubuh, tangan dan letikan jari.

Masih terbayang di pelupuk mata saya, di GOR sekolah saya yang ketika itu sangat mentereng di Kota Padang dengan kontruksi beton dan tulang baja di Air Tawar (IKIP Padang), Pak DL mengatur barisan kami,  tanpa musik (tape recorder) Pak DL duduk di bangku penonton dalam gor sambil memeluk gendang lalu berdendang bernyanyi melayu sambil memberi aba satu..dua..tiga..hop empat (persis yang Pak Emi sampaikan)..putarrrr..Hop satu..hop dua..dstnya

Ahhh...jiwa seni Pak Emi memang nggak usah di pertanyakan lagi
Kata orang Pak..kita akan selalu merasa kaya jika punya jiwa seni
salah satunya seperti Pak Emi bilang..dengan seni kita bisa menambah (kaya) teman

Terlalu susah juga saya membayangkan bagaimana Pak Emi menabuh Drum itu
mungkin suatu saat saya harus melihatnya..jangan2 seperti penabuh Drum kenamaan
group Art Rock Classic favorit saya Led Zepellin "John Bonham..he..he..he

Oh ya Pak Insya Allah kalau tidak ada DL minggu ini saya akan Shalat Jum'at
di Mesjid PMC


Wass-Jepe (Andi)
Pku, 44

suheimi ksuheimi

unread,
Mar 4, 2009, 2:10:19 AM3/4/09
to Rant...@googlegroups.com

Andi ndak usah susah2 membayangkan saya memukul drum

ada fotonya dan ada juga dvd  nya  he   he

Tapi tentu lenggang dan goyangan saya  jauh kalah dari Andi

andi kan pemegang Juara tari di Sumbar  karena  Andi menari dg hati

di tunggu di PMC

salam

K Suheimi


--- Pada Sel, 3/3/09, jupardi andi <jupar...@yahoo.com> menulis:


Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!

suheimi ksuheimi

unread,
Mar 4, 2009, 2:12:44 AM3/4/09
to Rant...@googlegroups.com

Apakah jumat besok  bisa jadi Imam di Masjid A Fath di PMC ?

Sudah lama jemaah merindukan  imamnya

salam

K Suheimi


--- Pada Sel, 3/3/09, Madahar (madahar) <mad...@chevron.com> menulis:
Dari: Madahar (madahar) <mad...@chevron.com>
Topik: [R@ntau-Net] Re: 6 bulan di SMA 1 B Tinggi (3)
Kepada: Rant...@googlegroups.com


Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3!

raina...@yahoo.com

unread,
Mar 4, 2009, 2:20:17 AM3/4/09
to Rant...@googlegroups.com
Assyik..membaca dua seniman sambil bernostalgia..jadi pak dokter sudah harus buat buku..supaya nanti dibaca oleh anak cucu..dan tentunya utk generasi muda...kapan ke Jakarta..? Tlg di hp nanti...wass Rainal Rais..jkt 65

Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: suheimi ksuheimi
Date: Wed, 4 Mar 2009 15:10:19 +0800 (SGT)
To: <Rant...@googlegroups.com>
Subject: Bls: [R@ntau-Net] 6 bulan di SMA 1 B Tinggi (3)

Dedy Yusmen

unread,
Mar 4, 2009, 3:31:47 AM3/4/09
to Rant...@googlegroups.com

 

Cerpen

Malin Kundang Hidup Lagi

Oleh DY Endah Kayo

 

 

Terasa maut hampir menjemput, panas sampai kerongkongan , mata berkunang-kunang, pedih, sakit kepala tiba, hening melewati lorong sempit, hitam, seakan berjalan melintasi awan kegelapan, kemudian lorong besar dilintasi, kali ini warnanya mulai berubah, hitam berganti keabuan-abaun, putih dan benderang, terasa lega, namun jalannya tetap, begitu cepat seperti menyusur di angkasa melintasi galaksi, terlihat titik-titik kecil di nun jauh di sekeliling.

 

Hep, sakit pedih kepala terasa kembali, kali ini diiringi susutnya panas kerongkongan seolah kembali ke jalurnya semula, tiba-tiba sayup terdengar.

 

Bangun-Bangun”, teriak berapa orang terdengar seolah pelan.

 

Masih sakit kepala, mata ini mulai terbuka, sayup makin jelas, dimanakah gerangan kini berada. Ada dua tiga orang mengitar memakai selempang berenda. Ah, penari randaikah gerangan dia.

 

Dimana Aku”, sambil berteriak aku  juga menjawab teriak si penari randai. Pikirku mungkin di tengah gelanggang. Namun, tiba-tiba ada goyangan, ada hempasan, bunyi air menderu. Apa ini, kenapa  Aku seperti duduk didalam sebuah rumah kayu, bukankah Aku  tersudut didinding Mushalla di pinggir Jenjang Gudang, bukankah  tadi aku kena pukul balok kayu dari si Upik Leba yang panas hatinya saat kugoda karenaberintaiandengan si  Ujang Bugih.

 

“Bangun, bangun broer”,  teriak si Orang selempang berenda, berbadan tinggi besar.

“Siapa nama kau, hendak dan dari mana”,  ditambahkan oleh orang yang berdua.

 

“Aku dimana, hendak kemana, siapa nama”, bisik dan gumamku. Kenapa ada suara menderu lagi seperti gemuruh kali ini. Kayu, lah ini seperti perahu, kok besar sekali, ada warna bendera hitam, kuning, merah, cukup meriah. Mimpikah Aku. Aku coba cubit pipi kiri, terasa sakit, mata ku kucek-kucek, ah nyata. Suara airkah yang menderu keras itu, seperti suara ombak, tak salah lagi ini seperti di tengah lautan, tapi dimana, kok bisa.

 

“Hey jawab, siapa nama Kau”, teriakan tak bersahabat mulai menjangkiti para orang selempang berenda yang bertiga. Tiba-tiba ada sosok gagah mendekat dengan tongkat hitam selengan, celana itu, topi itu, khas, yang rasanya aku kenal, pakai salempang pula tapi warnanya seperti kuning keemasan, ya seperti baju ‘marapulai’ dipayungi dua dara cantik jelita.

 

Dengan suara berat si orang misterius menyela. ”Hai Hulubalang, sudah Kau tanyai dia, nama, asalnya dan maksudnya dan tutup kepala yang dia pakai rasanya belum pernah kita lihat selama perjalanan mengelilingi negeri”.

“Sudah Tuan Malin, tapi belum juga ada jawaban, orang ini masih linglung, bingung dan belum bisa berkata apa-apa, mengenai tutup kepala yang dia pakai sama juga sangkaan kami dengan Tuan ”, sela si orang bertiga yang dipanggil Hulubalang.

 

Sambil mendekat si sosok gagah yang dipanggil Malin oleh yang ternyata Hulubalangnya, menanyai Aku yang duduk bersandar di dinding kayu berlekuk,

”Hai Sanak, siapa nama engkau gerangan, hendak kemana dan dari mana, bagaimana tiba-tiba engkau muncul, jawablah atau kalau tidak samudera akan segera menjemput raga Sanak yang sudah mulai renta itu”, Katanya mantap

 

Kucoba kumpulkan tenaga, menjawab dengan sisa keberanian yang dipaksakan.

”Namaku Buyung Koboy, Aku tidak tahu sekarang ada dimana, yang pasti Aku dari Pasa Usang, tiba-tiba saja Aku sampai disini, berada ditengah perahu besar berwarna meriah ini, Kenapa Tuan dengan Orang-orang ini berpakaian seperti orang mau ’berhelat’ saja, apa Tuan mau duduk di pelaminan, baru berkahwin pula Tuan. Aku terasa sedang melihat pertunjukkan randai saja Tuan”, jawabku sekenanya.

 

”Kalau Tuan siapa”,  tiba-tiba Aku menyela

 

”Ha-ha, diam,  Kau bertamu ke kapalku, tapi kau tidak tahu Tuannya, dasar pencopet rendahan kau ini”, hentak si sosok gagah yang dipanggil Malin itu.

 

Tunggu, Tuan, pencopet apa yang Tuan maksud Amba sudah katakan tidak tahu, tiba-tiba Amba sudah disini. Kalau boleh Amba bertanya, Tuan siapa, sungguh tiba-tiba saja Amba sampai disini, Amba kira mimpi tenyata tidak, sudah Amba picing dan buka mata ini, sudah Amba ’picik’ pula sedikit paha Amba  ternyata sakit rasanya, berarti Amba tidak mimpi, langsung kutukar kata menujukkan santun.

 

”Baik, nanti saja kita cari tahu bagaimana Kau sampai disini, Aku anggap saja kau turun dari langit dikirim dari dayang-dayang bulan bergayut”, sambutnya.  Lekuk kata si orang gagah ini langsung lunak dan datar, mungkin karena telah kutukar corak tutur, jadi mereda tarik suaranya.

 

”Namu ku Malin, tepatnya Malin Kundang, aku sekarang mau menuju ke kampung halamanku dengan kapal besarku ini, sudah berpuluh tahun, kalau tak salah empat puluh empat tahun yang lalu ku tinggalkan kampung halaman, Pulau Pisang, letaknya di tengah Pulau Andalas, masih terbayang Aku meninggalkan  Ayah dan Amak dalam keadaan Aku yang masih bujang mentah, karena ada kapal saudagar lewat ku paksa diriku untuk ikut bersama nahkoda agar diijinkan pula aku berlayar melihat-lihat negeri orang untuk merubah nasib dengan tulang yang delapan kerat ini. Ayah dan Amak sudah mencegahku, tunggulah Kau besar Malin supaya besar tapak mu, kuat lenganmu setidaknya bila kau susah kau bisa gunakan tenaga untuk makan-minum kau diperjalanan. Tapi tekadku bulat Aku jalan terus, sekarang sudah berhasil Aku teringat pulang”, jelas Malin berpanjang lebar

 

Tiba-tiba Elang Rimba lewat, turun dengan seorang laki-laki gagah pula, tergesa bertanya, ”Maafkan saya Dunsanak, saya sedang terburu, perkenalkan saya, Embun Pamenan, saya mencari Negeri Pulau Cermin, mencari Mande saya yang hilang Puti Lindung Bulan yang dijemput paksa oleh Raja Angek Garang”

 

”Maaf Sanak, tidak kenal kami negeri itu, baru sekarang pula kami mendengarnya”, Jawab Malin.

 

Tiba-tiba Aku ingat, ya disakuku, Aku bawa Handphone edisi baru ada GPSnya pula, wah pasti bisa ini. ”Sebentar Tuan. Tuan si Embun Pamenan, saya makin pusing Tuan, tapi tak perlulah, negeri mana yang Tuan maksud Pulau Cermin, Aku coba cari di ’goggle’ dan ketemu,  nah ini Tuan, ini koordinatnya”, sela Ku.

 

”Apa itu koordinat”, sambil keheranan pula Embun Pemenan menyela. Begitu juga Malin Kundang terkaget juga dibuatnya.

 

”Sorry Tuan, ya dari sini sekitar 30 kilometer kearah tenggara,” tambah Ku

”Apapula itu kilometer, tenggara,  berapa tonggak itu” potong Malin Kundang

 

Nah, pusing Aku, bagaimana menjawabnya. Segera ku searching ’wikipidia’. ”Ya kira-kira 60.000 tonggak , arahnya kekiri bawah puritan itu Tuan,  namanya bukan Pulau Cermin, tapi Pantai Cermin Tuan Embun”  jelas Ku

 

”Terimakasih sanak, siapa gerangan nama Sanak”, Teriak Embun yang berusaha mengalahkan suara Ombak Samudera.

 

”Buyung Koboy”, sela Malin.

”Alat apa yang sanak pakai itu, baru kali ini rasanya Denai melihatnya, tapi lain kalilah saya tanya, karena bergegas saya harus segera berangkat”, sambil menunggangi Elang Rimba  si Embun Pamenan melayang melesat di awan.

 

”Tuan Malin itu Pulau Pisang Tuan”, sorak Hulubalang di Puritan

Ah apa benar, teringat si Malin dengan Buyuang Koboy yang punya benda aneh di tangan. ”Buyung coba Sanak pakai lagi alat yang ditangan Buyung itu, apa benar itu pulau Pisang”, pinta Malin

 

Segera dengan tangkas Buyung, menyalakan HP 3G nya, sinyal sayup-sayup, wah kalau ada ’HSDPA’nya disini mungkin lebih cepat ketahuannya Tuan”.

”Apa itu 3G”, tanya Malin

”Wah tak usah Tuan Malin pikirkan”. Setelah ditelusur oleh Buyung, tertera Pulau Pisang dilayar. “Benar Tuan itu pulau Pisang” yakin Buyung

 

Nahkoda memerintahkan anak buahnya, ”Turunkan sauh segera menyandar di pulau itu”

 

Dari Pulau Pisang keheranan menyelimuti penduduk pantai pulau kecil itu, untuk seukuran kapal megah milik Malin barulah kali ini mereka melihatnya. Sauh sudah dilempar, satu-satu turun anak buah, Hulubalang, Dayang-dayang dan terakhir si Tuan Kapal duduk disinggasana kebesaran tergantung sambil  dijinjing oleh anak buah berbadan besar, samping kiri-kanannya dayang-dayang berpayung tinggi mengiringi, mungkin memayungi agar  Malin tak kepanasan atau untuk menunjukkan dirinya adalah orang berkeadaan.

 

Dua orang tua renta, disudut gubuk peyot sedang mengamati, berpikir dan melihat hati-hati kearah rombongan Malin, tiba-tiba mereka terkesiap, semakin dekat semakin jelas  tompel di pipi, nah itu dia ini Malin anak kita, ini berita yang disampaikan Burung Balam si pembawa berita, ada kabar katanya  ada pembesar dari Tanah Jawi datang kesini, katanya melihat kampung halaman namanya si Malin, tapi tak disebut Malin Kundang oleh si Balam pembawa berita.

 

“Malin…Malin Kundang Kau itu nak, anak ku sudah gagah kau sekarang”, sambil berkejaran si dua orang tua, mengejar terbata-terbata maklum tak ada tenaga.

 

Selangkah Malin menyuruh berhenti para Hulubalang dan segera memberikan perintah, ”Hulubalang apa maksud orang Tua itu”.

 

“Hai orang Tua apa maskud Kalian berdua”, hardik Hulubalang

 

“Awak,  Hulubalang, Malin itu anak kami yang pergi empat puluh tahun yang lalu, tak tahu kabar berita, mendengar dia pulang terbertik hati kami, pasti Malin anak kami, Malin Kundang, lihatlah,  Tompel di pipi yang tak hilang karena lekang, tak akan terhapus diguyur hujan”, memelas kedua orang tua yang mengaku orang tua Malin itu. Segera 3-4 orang tua penduduk mendekat.  Ternyata mereka masih bisa  mengenali,”ya itu si Malin, pasti si Malin Kundang anak kedua orang tua ini Tuan Hulubalang”.

 

Dari singgasana bergayutnya Malin bertanya ke HuluBalang, ”Kenapa Hulubalang”.

Hulubalang menceritakan kejadian barusan. Malin memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan dia dari singgasana. Malin mendekat kepada si kedua orang tua .

 

Segera pula kedua orang tua mendekat seolah hendak memeluk. ”Stop, apa maksud bapak dan ibu”, kata Malin .

”Malin Kundang tidak ingat kah engkau kepada kedua Amak dengan  Ayah ini nak, yang telah melahirkan dan membesarkan engkau. Empat puluh empat tahun lalu kau tinggalkan kami,  siang malam kau kami tangisi, kenapa kau gerangan pergi tiada berita, sekarang kau  kembali terasa terobati hati ini”, kata si orangtua perempuan

 

”Tidak-tidak, kalian bukan kedua orang tua ku, tidak, tidak pergi dari ku”, teriak Malin.

 

”Apa... Malin tidak tahu di untung kau, mentang mentang kau sudah menjadi orang besar  kau mau enyahkan orang tua kau yang dekil ini,  kami kutuk kau jadi batu.” hardik si orang tua laki-laki

 

”Tunggu orang tua, tunggu..tunggu..., kalau kalian berdua mau mengutuk aku. maka jawablah pertanyaanku, kemana saja kalian dimasa kecilku. Seharusanya Aku kalian ajarkan mengaji, tapi kalian  biarkan, harusnya Ayah dengan Amak bimbing Aku tapi kalian terlantarkan, kalian  belikan aku Play Station, kalian berikan aku uang banyak untuk jajanan, kemudian kalian pergi entah kemana, kalian tinggalkan aku dalam kesendirian dirumah, kalian berdua sibuk diluar rumah dengan alasan mencari nafkah untuk masa depan, masa depan siapa hai orang tua, kalian pulang kerumah,  dirikupun kau biarkan sendirian, pernahkan kalian ajarkan aku Shalat, mengenal Allah dan Rasulnya, pernahkah kalian antarkan aku kesekolah, sekedar menanyakan kabar berita,  pernahkan kalian berikan aku bimbingan kehidupan, hai kedua orang tua”.

 

”Cukup-cukup sudah Malin”, Isak tangis kedua orang tua itu, ”sudah sudah”.

 

Begitulah, kenapa aku pergi meninggalkan kalian berdua hai orang tua, hidupku masih panjang aku harus mencari nilai dan jalan hidupku yang seharusnya menjadi tugas kalian berdua membantu mencarikannya di masa kecilku.

 

”Sudah Malin...tangis si kedua orang tua tersedu...Sudah...kutuklah kami Malin, Kutuklah kami...kutuklah menjadi apa yang engkau mau” memelas si kedua orang tua pasrah.

 

”Tidak Orang Tua..Kalian tetap sebagai orang tua genetisku..orang tua karena darah, karena takdir..tapi tidak sebagai orang tua kehidupan. Aku tidak bisa dan tidak akan mengutuk siapa siapa termasuk diri kalian berdua, kutukan hanya milik Yang Diatas semata.” tegas Malin

 

Orang sekeliling, Hulubalang, si Dayang-dayang, penduduk Pulau Pisang yang hanya segelintir, Buyung Koboy, terperangah, tersedu, terharu, bercampur biru.

_____________________

Jatiwarna, 8 Januari 2009

 

suheimi ksuheimi

unread,
Mar 4, 2009, 4:35:55 AM3/4/09
to Rant...@googlegroups.com

Terima kasih Uda Rainal

Mungkin darah seniman ini berasal dari ayah saya yg violis

Beliau pemain biola  yg di tahun 60  muhibah ke Malaysia membawa  sofiani Groups

Seingat saya  sebelum kami tidur  ayah saya Karimuddin  sering menggesek biola menyanyikan lagu "nina bobok"

Kami telah tertidur sebelum nyanyian itu habis

semoga kita buisa jumpa

salam

K Suheimi


--- Pada Sel, 3/3/09, raina...@yahoo.com <raina...@yahoo.com> menulis:


Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages