Setiap hari Sabtu disekolah kami SMA satu ada hari krida, sering disi oleh kesenian. Guru tari pak darwis loyang pandai dan tekun mengajarkan tarian masal. Lenggang-lenggang kangkung. “Satu hop dua, tiga hop empat” kata pak Darwis menghayunkan langkah kiri dan kanan©" lalu silang dan satu dua" begitu beliau memberi komando, sehingga kami menari seperti melenggangnya kangkung. Sampai hari ini kalau disuruh saya bisa menghafal gerakan langkahnya. Dia mengajar dengan hati, dan pelajarannya membekas. Cara beliau sederhana, mudah di pahami dan mudah diikuti. Sehingga ketika dulu ada tamu agung para mentri berkunjung di gubenuran Padang saya ikut menari tari Payung dengan payung dan langkah gontai, semua itu bekat tempaan pak darwis loyang. Dihari sabtu hari krida kami di bimbing pak syamsu yang sehari-harinya mengajar Ilmu ukur ruang. Ilmu ukur ruang ilmu yang banyak membayangkan. Bayangkan ruangnya begini dan begitu. Kita di suruh berkhayal. Dan memang saya adalah pengkhayal, macam-macam yang saya khayalkan dan setiap kali mengkhayal saya ingin agar khayalan itu jadi kenyataan. Disamping mengajar ilmu ukur ruang pak syamsul senang bermusik dan beliau membimbing kami dan mencari bakat di hari Sabtu hari Krida. Teman saya yang pandai main Band waktu itu Alel, Itye auskarani Il Rapani, nusyirwan sa'danur©wakt. Diwaktu sengang saya pinjam gitarya alel, saya petik gitar itu Melodi dengan mengalunkan lagu "Come september" flimnya lagi in waktu itu dengan bintang lolobrigina. Mendengar melodi gitar itu pak syamsu menepuk pundak saya. “Suheimi kamu berbakat bermain musik”. Kata-kata dan semangat yang di ucapkankan menyebabkan saya berusaha belajar auto didak. Mempelajari setiap alat musik. Puncak karya saya adalah memukul drummer pada acara puncak lustrum ultah ke 5o Fakultas kedokteran di malam hari di Hotel Pangeran beach september 2007. Lagu Peterpan yang lagi hot waktu itu "Ada apa denganmu" kami tampilkan dengan bersemangat. Riuh rendah dan gegap gempita sambutan di malam itu. semua hadirin berdiri meliuk kekiri dan kekanan sambil kedua tangan diatas, ada yang histeris tak mengira Band “The Top Professor” menghoyak panggung. Siapa mengira siapa menduga para Guru Besar professor yang sudah tua-tua prof Kamardi Thalut, Prof Saharman leman, Rrof Syafril Syahbuddinx, Prof Nasrul Idris, prof khalilul rahman, Prof nusyirwan acang, Prof Asman Manaf, Prof Salmiah Agus dan prof K Suheimi menghoyak pentas. Pakai baju kaus hitam pekat dan ketat dan topi dibalikkan. Hadirih tak mengira atas kejutan yang di berikan oleh guru-gurunya. Dan bakat itu di bakar oleh guru saya ketika di SMA satu B Tinggi. Dihari Sabtu hari krida hari bergembira ria hari mencari bakat dan mencari bibit. disamping menyanyi , menari, melawak juga bermain sulap. Teman saya Bambang pandai sekali bermain sulap saya belajar darinya. saya senang seni sulap untuk menambaha pergaualn. hingga hari ini ada 20 macam permainan sulap yang saya kuasai dan ketahui. Seni sulap ini perlu untuk mmnambah teman-teman dan saya senang akibat gerarkan sedikit para penonton bengongong “kok bias begini dan begitu” Melihat orang bengong dan terkagum saya senang, sekarang saya ada toko untuk permainan sulap sambil mengajari orang-orang menikmati pemainan sulap. Yang menarik juga di Hari Krida yang punya bakat melucu dan melawak di suruh ke pentas. Bermacam-macam banyolannya. Dua teman pelawak saya si Cepot dan si Khairunnas. Tiap saat, tiap hari ada saja yang di lawakkannya. Darinya banyak saya belajar melawak. Dan hasil pelajarannya ini saya kembangkan sewaktu diterima di Fakultas kedokteran. Lawakkan itulah yang menghantarkan saya Jadi King di malam Inaugurasi. King sebagai raja semalam saya memerintah kerajaan Aesculapius. Saya melawak lagi sambil balas dendam. Sehingga malam itu Prof Sulaiman diminta menghibur kerajaan dan beliaupun menari dan menyanyi suasana jadi begitu meriah. Ah pengalaman yang manis dan keberhasilan yang di capai berkat di godok dan ditempa di SMA 1 B Tinggi |
Setiap hari Sabtu disekolah kami SMA satu ada hari krida, sering disi oleh kesenian. Guru tari pak darwis loyang pandai dan tekun mengajarkan tarian masal. Lenggang-lenggang kangkung.. |
“Satu hop dua, tiga hop empat” kata pak Darwis menghayunkan langkah kiri dan kanan©" lalu silang dan satu dua" begitu beliau memberi komando, sehingga kami menari seperti melenggangnya kangkung. Sampai hari ini kalau disuruh saya bisa menghafal gerakan langkahnya. Dia mengajar dengan hati, dan pelajarannya membekas. Cara beliau sederhana, mudah di pahami dan mudah diikuti. Sehingga ketika dulu ada tamu agung para mentri berkunjung di gubenuran Padang saya ikut menari tari Payung dengan payung dan langkah gontai, semua itu bekat tempaan pak darwis loyang. |
Andi ndak usah susah2 membayangkan saya memukul drum ada fotonya dan ada juga dvd nya he he Tapi tentu lenggang dan goyangan saya jauh kalah dari Andi andi kan pemegang Juara tari di Sumbar karena Andi menari dg hati di tunggu di PMC salam K Suheimi --- Pada Sel, 3/3/09, jupardi andi <jupar...@yahoo.com> menulis: |
Apakah jumat besok bisa jadi Imam di Masjid A Fath di PMC ? Sudah lama jemaah merindukan imamnya salam K Suheimi --- Pada Sel, 3/3/09, Madahar (madahar) <mad...@chevron.com> menulis: |
Dari: Madahar (madahar) <mad...@chevron.com> |
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Cerpen
Malin Kundang Hidup Lagi
Oleh DY Endah Kayo
Terasa maut hampir menjemput, panas sampai kerongkongan , mata berkunang-kunang, pedih, sakit kepala tiba, hening melewati lorong sempit, hitam, seakan berjalan melintasi awan kegelapan, kemudian lorong besar dilintasi, kali ini warnanya mulai berubah, hitam berganti keabuan-abaun, putih dan benderang, terasa lega, namun jalannya tetap, begitu cepat seperti menyusur di angkasa melintasi galaksi, terlihat titik-titik kecil di nun jauh di sekeliling.
Hep, sakit pedih kepala terasa kembali, kali ini diiringi susutnya panas kerongkongan seolah kembali ke jalurnya semula, tiba-tiba sayup terdengar.
“Bangun-Bangun”, teriak berapa orang terdengar seolah pelan.
Masih sakit kepala, mata ini mulai terbuka, sayup makin jelas, dimanakah gerangan kini berada. Ada dua tiga orang mengitar memakai selempang berenda. Ah, penari randaikah gerangan dia.
“Dimana Aku”, sambil berteriak aku juga menjawab teriak si penari randai. Pikirku mungkin di tengah gelanggang. Namun, tiba-tiba ada goyangan, ada hempasan, bunyi air menderu. Apa ini, kenapa Aku seperti duduk didalam sebuah rumah kayu, bukankah Aku tersudut didinding Mushalla di pinggir Jenjang Gudang, bukankah tadi aku kena pukul balok kayu dari si Upik Leba yang panas hatinya saat kugoda karena ‘berintaian’ dengan si Ujang Bugih.
“Bangun, bangun broer”, teriak si Orang selempang berenda, berbadan tinggi besar.
“Siapa nama kau, hendak dan dari mana”, ditambahkan oleh orang yang berdua.
“Aku dimana, hendak kemana, siapa nama”, bisik dan gumamku. Kenapa ada suara menderu lagi seperti gemuruh kali ini. Kayu, lah ini seperti perahu, kok besar sekali, ada warna bendera hitam, kuning, merah, cukup meriah. Mimpikah Aku. Aku coba cubit pipi kiri, terasa sakit, mata ku kucek-kucek, ah nyata. Suara airkah yang menderu keras itu, seperti suara ombak, tak salah lagi ini seperti di tengah lautan, tapi dimana, kok bisa.
“Hey jawab, siapa nama Kau”, teriakan tak bersahabat mulai menjangkiti para orang selempang berenda yang bertiga. Tiba-tiba ada sosok gagah mendekat dengan tongkat hitam selengan, celana itu, topi itu, khas, yang rasanya aku kenal, pakai salempang pula tapi warnanya seperti kuning keemasan, ya seperti baju ‘marapulai’ dipayungi dua dara cantik jelita.
Dengan suara berat si orang misterius menyela. ”Hai Hulubalang, sudah Kau tanyai dia, nama, asalnya dan maksudnya dan tutup kepala yang dia pakai rasanya belum pernah kita lihat selama perjalanan mengelilingi negeri”.
“Sudah Tuan Malin, tapi belum juga ada jawaban, orang ini masih linglung, bingung dan belum bisa berkata apa-apa, mengenai tutup kepala yang dia pakai sama juga sangkaan kami dengan Tuan ”, sela si orang bertiga yang dipanggil Hulubalang.
Sambil mendekat si sosok gagah yang dipanggil Malin oleh yang ternyata Hulubalangnya, menanyai Aku yang duduk bersandar di dinding kayu berlekuk,
”Hai Sanak, siapa nama engkau gerangan, hendak kemana dan dari mana, bagaimana tiba-tiba engkau muncul, jawablah atau kalau tidak samudera akan segera menjemput raga Sanak yang sudah mulai renta itu”, Katanya mantap
Kucoba kumpulkan tenaga, menjawab dengan sisa keberanian yang dipaksakan.
”Namaku Buyung Koboy, Aku tidak tahu sekarang ada dimana, yang pasti Aku dari Pasa Usang, tiba-tiba saja Aku sampai disini, berada ditengah perahu besar berwarna meriah ini, Kenapa Tuan dengan Orang-orang ini berpakaian seperti orang mau ’berhelat’ saja, apa Tuan mau duduk di pelaminan, baru berkahwin pula Tuan. Aku terasa sedang melihat pertunjukkan randai saja Tuan”, jawabku sekenanya.
”Kalau Tuan siapa”, tiba-tiba Aku menyela
”Ha-ha, diam, Kau bertamu ke kapalku, tapi kau tidak tahu Tuannya, dasar pencopet rendahan kau ini”, hentak si sosok gagah yang dipanggil Malin itu.
Tunggu, Tuan, pencopet apa yang Tuan maksud Amba sudah katakan tidak tahu, tiba-tiba Amba sudah disini. Kalau boleh Amba bertanya, Tuan siapa, sungguh tiba-tiba saja Amba sampai disini, Amba kira mimpi tenyata tidak, sudah Amba picing dan buka mata ini, sudah Amba ’picik’ pula sedikit paha Amba ternyata sakit rasanya, berarti Amba tidak mimpi, langsung kutukar kata menujukkan santun.
”Baik, nanti saja kita cari tahu bagaimana Kau sampai disini, Aku anggap saja kau turun dari langit dikirim dari dayang-dayang bulan bergayut”, sambutnya. Lekuk kata si orang gagah ini langsung lunak dan datar, mungkin karena telah kutukar corak tutur, jadi mereda tarik suaranya.
”Namu ku Malin, tepatnya Malin Kundang, aku sekarang mau menuju ke kampung halamanku dengan kapal besarku ini, sudah berpuluh tahun, kalau tak salah empat puluh empat tahun yang lalu ku tinggalkan kampung halaman, Pulau Pisang, letaknya di tengah Pulau Andalas, masih terbayang Aku meninggalkan Ayah dan Amak dalam keadaan Aku yang masih bujang mentah, karena ada kapal saudagar lewat ku paksa diriku untuk ikut bersama nahkoda agar diijinkan pula aku berlayar melihat-lihat negeri orang untuk merubah nasib dengan tulang yang delapan kerat ini. Ayah dan Amak sudah mencegahku, tunggulah Kau besar Malin supaya besar tapak mu, kuat lenganmu setidaknya bila kau susah kau bisa gunakan tenaga untuk makan-minum kau diperjalanan. Tapi tekadku bulat Aku jalan terus, sekarang sudah berhasil Aku teringat pulang”, jelas Malin berpanjang lebar
Tiba-tiba Elang Rimba lewat, turun dengan seorang laki-laki gagah pula, tergesa bertanya, ”Maafkan saya Dunsanak, saya sedang terburu, perkenalkan saya, Embun Pamenan, saya mencari Negeri Pulau Cermin, mencari Mande saya yang hilang Puti Lindung Bulan yang dijemput paksa oleh Raja Angek Garang”
”Maaf Sanak, tidak kenal kami negeri itu, baru sekarang pula kami mendengarnya”, Jawab Malin.
Tiba-tiba Aku ingat, ya disakuku, Aku bawa Handphone edisi baru ada GPSnya pula, wah pasti bisa ini. ”Sebentar Tuan. Tuan si Embun Pamenan, saya makin pusing Tuan, tapi tak perlulah, negeri mana yang Tuan maksud Pulau Cermin, Aku coba cari di ’goggle’ dan ketemu, nah ini Tuan, ini koordinatnya”, sela Ku.
”Apa itu koordinat”, sambil keheranan pula Embun Pemenan menyela. Begitu juga Malin Kundang terkaget juga dibuatnya.
”Sorry Tuan, ya dari sini sekitar 30 kilometer kearah tenggara,” tambah Ku
”Apapula itu kilometer, tenggara, berapa tonggak itu” potong Malin Kundang
Nah, pusing Aku, bagaimana menjawabnya. Segera ku searching ’wikipidia’. ”Ya kira-kira 60.000 tonggak , arahnya kekiri bawah puritan itu Tuan, namanya bukan Pulau Cermin, tapi Pantai Cermin Tuan Embun” jelas Ku
”Terimakasih sanak, siapa gerangan nama Sanak”, Teriak Embun yang berusaha mengalahkan suara Ombak Samudera.
”Buyung Koboy”, sela Malin.
”Alat apa yang sanak pakai itu, baru kali ini rasanya Denai melihatnya, tapi lain kalilah saya tanya, karena bergegas saya harus segera berangkat”, sambil menunggangi Elang Rimba si Embun Pamenan melayang melesat di awan.
”Tuan Malin itu Pulau Pisang Tuan”, sorak Hulubalang di Puritan
Ah apa benar, teringat si Malin dengan Buyuang Koboy yang punya benda aneh di tangan. ”Buyung coba Sanak pakai lagi alat yang ditangan Buyung itu, apa benar itu pulau Pisang”, pinta Malin
Segera dengan tangkas Buyung, menyalakan HP 3G nya, sinyal sayup-sayup, wah kalau ada ’HSDPA’nya disini mungkin lebih cepat ketahuannya Tuan”.
”Apa itu 3G”, tanya Malin
”Wah tak usah Tuan Malin pikirkan”. Setelah ditelusur oleh Buyung, tertera Pulau Pisang dilayar. “Benar Tuan itu pulau Pisang” yakin Buyung
Nahkoda memerintahkan anak buahnya, ”Turunkan sauh segera menyandar di pulau itu”
Dari Pulau Pisang keheranan menyelimuti penduduk pantai pulau kecil itu, untuk seukuran kapal megah milik Malin barulah kali ini mereka melihatnya. Sauh sudah dilempar, satu-satu turun anak buah, Hulubalang, Dayang-dayang dan terakhir si Tuan Kapal duduk disinggasana kebesaran tergantung sambil dijinjing oleh anak buah berbadan besar, samping kiri-kanannya dayang-dayang berpayung tinggi mengiringi, mungkin memayungi agar Malin tak kepanasan atau untuk menunjukkan dirinya adalah orang berkeadaan.
Dua orang tua renta, disudut gubuk peyot sedang mengamati, berpikir dan melihat hati-hati kearah rombongan Malin, tiba-tiba mereka terkesiap, semakin dekat semakin jelas tompel di pipi, nah itu dia ini Malin anak kita, ini berita yang disampaikan Burung Balam si pembawa berita, ada kabar katanya ada pembesar dari Tanah Jawi datang kesini, katanya melihat kampung halaman namanya si Malin, tapi tak disebut Malin Kundang oleh si Balam pembawa berita.
“Malin…Malin Kundang Kau itu nak, anak ku sudah gagah kau sekarang”, sambil berkejaran si dua orang tua, mengejar terbata-terbata maklum tak ada tenaga.
Selangkah Malin menyuruh berhenti para Hulubalang dan segera memberikan perintah, ”Hulubalang apa maksud orang Tua itu”.
“Hai orang Tua apa maskud Kalian berdua”, hardik Hulubalang
“Awak, Hulubalang, Malin itu anak kami yang pergi empat puluh tahun yang lalu, tak tahu kabar berita, mendengar dia pulang terbertik hati kami, pasti Malin anak kami, Malin Kundang, lihatlah, Tompel di pipi yang tak hilang karena lekang, tak akan terhapus diguyur hujan”, memelas kedua orang tua yang mengaku orang tua Malin itu. Segera 3-4 orang tua penduduk mendekat. Ternyata mereka masih bisa mengenali,”ya itu si Malin, pasti si Malin Kundang anak kedua orang tua ini Tuan Hulubalang”.
Dari singgasana bergayutnya Malin bertanya ke HuluBalang, ”Kenapa Hulubalang”.
Hulubalang menceritakan kejadian barusan. Malin memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan dia dari singgasana. Malin mendekat kepada si kedua orang tua .
Segera pula kedua orang tua mendekat seolah hendak memeluk. ”Stop, apa maksud bapak dan ibu”, kata Malin .
”Malin Kundang tidak ingat kah engkau kepada kedua Amak dengan Ayah ini nak, yang telah melahirkan dan membesarkan engkau. Empat puluh empat tahun lalu kau tinggalkan kami, siang malam kau kami tangisi, kenapa kau gerangan pergi tiada berita, sekarang kau kembali terasa terobati hati ini”, kata si orangtua perempuan
”Tidak-tidak, kalian bukan kedua orang tua ku, tidak, tidak pergi dari ku”, teriak Malin.
”Apa... Malin tidak tahu di untung kau, mentang mentang kau sudah menjadi orang besar kau mau enyahkan orang tua kau yang dekil ini, kami kutuk kau jadi batu.” hardik si orang tua laki-laki
”Tunggu orang tua, tunggu..tunggu..., kalau kalian berdua mau mengutuk aku. maka jawablah pertanyaanku, kemana saja kalian dimasa kecilku. Seharusanya Aku kalian ajarkan mengaji, tapi kalian biarkan, harusnya Ayah dengan Amak bimbing Aku tapi kalian terlantarkan, kalian belikan aku Play Station, kalian berikan aku uang banyak untuk jajanan, kemudian kalian pergi entah kemana, kalian tinggalkan aku dalam kesendirian dirumah, kalian berdua sibuk diluar rumah dengan alasan mencari nafkah untuk masa depan, masa depan siapa hai orang tua, kalian pulang kerumah, dirikupun kau biarkan sendirian, pernahkan kalian ajarkan aku Shalat, mengenal Allah dan Rasulnya, pernahkah kalian antarkan aku kesekolah, sekedar menanyakan kabar berita, pernahkan kalian berikan aku bimbingan kehidupan, hai kedua orang tua”.
”Cukup-cukup sudah Malin”, Isak tangis kedua orang tua itu, ”sudah sudah”.
Begitulah, kenapa aku pergi meninggalkan kalian berdua hai orang tua, hidupku masih panjang aku harus mencari nilai dan jalan hidupku yang seharusnya menjadi tugas kalian berdua membantu mencarikannya di masa kecilku.
”Sudah Malin...tangis si kedua orang tua tersedu...Sudah...kutuklah kami Malin, Kutuklah kami...kutuklah menjadi apa yang engkau mau” memelas si kedua orang tua pasrah.
”Tidak Orang Tua..Kalian tetap sebagai orang tua genetisku..orang tua karena darah, karena takdir..tapi tidak sebagai orang tua kehidupan. Aku tidak bisa dan tidak akan mengutuk siapa siapa termasuk diri kalian berdua, kutukan hanya milik Yang Diatas semata.” tegas Malin
Orang sekeliling, Hulubalang, si Dayang-dayang, penduduk Pulau Pisang yang hanya segelintir, Buyung Koboy, terperangah, tersedu, terharu, bercampur biru.
_____________________
Jatiwarna, 8 Januari 2009
Terima kasih Uda Rainal Mungkin darah seniman ini berasal dari ayah saya yg violis Beliau pemain biola yg di tahun 60 muhibah ke Malaysia membawa sofiani Groups Seingat saya sebelum kami tidur ayah saya Karimuddin sering menggesek biola menyanyikan lagu "nina bobok" Kami telah tertidur sebelum nyanyian itu habis semoga kita buisa jumpa salam K Suheimi --- Pada Sel, 3/3/09, raina...@yahoo.com <raina...@yahoo.com> menulis: |