Dinda Zultan sarato Sanak Sa Palanta nan Ambo Hormati;
Tentang pertanyaan Zultan, bara kiro-kiro umua bini H. Agus Salim katiko bakodak tu?
Jawaban saya singkat saja: saya tidak berdusta mengenai kodak tu :)
Lebih lanjut, saya juga tidak berdusta :) pula tentang guru-guru perempuan saya di Padangpanjang dulu. Dan hal itu tidak hanya merupakan kasus Padangpanjang saja dan cara guru perempuan berbusana belaka, tetapi juga cara perempuan dewasa berbusana pada umumnya dan hampir merata di berbagai tempat di Ranah Minang. Malahan saya tidak ragu untuk mengatakan, ketika Uni Nismah masih menjadi murid SGA di Payakumbuh dulu, beliau menggunakan busana yang tidak berbeda dengan murid-murid SGA di Padangpanjang ketika itu: rok putih terusan sedikit di bawah lutut dan lengan baju sampai siku, tanpa penutup kepala tentu saja.
Bukan baitu Uni?
Dan yang tidak selalu menutup rambut di luar rumah bukan hanya isteri H. Agus Salim, tetapi juga isteri Pak Natsir, Isteri Bung Hata dan isteri Soetan Sjahrir. Dr Meutia Hatta, putri Bung Hatta yang disunting oleh Dr Sri-Edi Swasono, yang selain dikenal sebagai seorang Profesor Ekonomika juga seorang mubaligh itu juga tidak menggunakan penutup kepala di luar rumah
Kok bisa?
Seperti kita ketahui, Al-Quran turun tidak di ruangan hampa tetapi di tengah-tengah masyarakat dengan beragam budaya. Mengapa, tentu hanya Allah SWT yang punya Kitab yang mengetahuinya. Oleh sebab itu tafsir, termasuk QS. An-Nuur 60, dalam batas-batas tertentu, sangat dipengaruhi oleh budaya di samping tingkat kecerdasan dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dari masyarakat di mana Al-Quran tersebut dibumikan. Kita perlu ingat, Ranah Minang tidak hanya banyak melahirkan negarawan-negarawan besar tetapi juga ulama-ulama besar. Sejarah juga mencatat, Muhammadiyah dilahirkan di Yogya, dibesarkan di ranah Minang dan disebarkan ke Nusantara dan ke Semenanjung Tanah Melayu oleh perantau-perantau Minang.
Terlalu naifkah beliau-beliau itu membaca An-Nuur 60? Kalau dilihat dari kaca mata budaya padang pasir—di kawasan mana sampai saat ini perempuan tidak boleh menyetir mobil, dan kalau tertangkap tangan akan dihukum cambuk (atau bagi orang-orang yang sudah terbiasa melihat segala sesuatu dengan kacamata budaya padang pasir), boleh jadi jawabannya, ya.
Tafsir mana yang lebih disetujui terpulang kepada diri masing-masing. Karena pada akhirnya, setiap jiwa hanya akan menanggung dirinya sendiri (Al-Quran).
Bagi saya sendiri—walaupun apalah awak ini— kalau melihat tafsir yang berbeda dan ragu memilih yang mana, maka sesuai dengan titah Rasulullah, saya akan minta fatwa kepada qulb (hati nurani) saya sendiri. Saya tidak pernah terlalu khawatir kalau jawaban hati nurani keliru, karena saya tahu samudera ampunan Illahi sangatlah luas bagaikan samudera tidak bertepi.
Dan khusus mengenai penutup kepala, saya tidak akan ragu mengikuti pendapat Pak Natsir—yang rekam jejak keislaman, kenegarawanan, akhlak dan kezuhudannya sangat saya kagumi itu:
“Orang yang pakai jilbab itu adalah sebaik-baiknya muslimah. Tapi yang tidak pakai jilbab jangan dibilang enggak baik”.
Dengan kata lain yang di atas itu rambut penting, namun yang di bawahnya lebih penting lagi.
Wallahualam bissawab
Wassalam, HDB-SBK (L, 69)
===
Re: [R@ntau-Net] Nakan Akmal - Re: Ustad
Chodjim mengenai Al Maidah
Sat Aug 4, 2012 11:11 pm (PDT) . Posted by:
"ZulTan"
Tunggu Sanak Anwar jo Pak Darwin, batanyo ambo ciek. Bara kiro-kiro umua bini H. Agus Salim katiko bakodak tu?
Kalau lah tuo, mungkin ndak mens lai indak lo sadang manganduang, dan ndak taragak kawin baliak, jan kan hanyo basalendang, dilapehnyo bagai bajunyo "tidak mengapa," kecek Allah, asa jan dipanggak'annyo perhiasannyo. Bacolah QS. An-Nuur 60.
Salam,
ZulTan, L, Bogor
Action cures fear.
Assalamualaikum, wr.wb
Adidusanak yang saya hormati.
Mohon maaf ya..thread Re: [R@ntau-Net] Nakan Akmal - Re: Ustad Chodjim mengenai Al Maidah, saya ganti dengan OOT "jilbab
==============3
Angku Muljadi di Jaruman
Sharing ciek.
Tulisan di bawah ko penggalan dari tulisan ambo di Superkoran berjudul AURAT ITU APA SIH? katiko bakarajo salamo 9 bulan di Aceh (2007/2008), dan pernah dilewakan di Palanta ko.
Wassalam, HDB-SBK (L, 69)
........
Indah, sekretaris proyek infrastruktur tempat saya bekerja sebelum ini sesuai betul dengan sosoknya, ya penampilannya, ya kepribadiannya. Dan tentu saja sangat professional. Indah selalu berpantalon, sehingga lekuk-lekuk tubuhnya tidak terlalu terlihat. Rambutnya yang panjang dan hitam dibiarkannya tergerai ke belakang. Make-upnya seadanya saja. Sebagai seorang muslimah, Indah taat beribadah.
Apakah saya tidak mempunyai ketertarikan seksual kepada Indah? Tidak sukar menemukan jawabannya. Walaupun Indah seusia anak saya, Indah mempunyai wajah menarik dan dia bukan muhrim saya, sedangkan saya adalah pria normal. Namun sebagai seorang yang selalu mencoba mengamalkan ajaran-ajaran agama yang saya anut, saya sudah lama melatih diri saya untuk “menundukkan pandangan” terhadap apa yang dapat menimbulkan “fantasi-fantasi liar” dalam fikiran saya. Terhadap Indah saya merasa tidak perlu sering-sering “menundukkan pandangan” saya.
Iput, sekretaris kami di Banda Aceh memiliki kecantikan perempuan Aceh yang eksotik. Sebagai pemula dan tidak memiliki pendidikan formal kesekretariatan, pekerjaan Iput yang lulusan D-3 ekonomi itu cukup bagus, dan perilakunya santun. Sebagai muslimah Iput hampir selalu shalat tepat waktu. Sesuai dengan aturan yang berlaku di NAD, Iput tiap hari berjilbab. Tetapi dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepadanya, kalau Iput lewat di depan meja saya, atau kebetulan berjalan membelakangi saya, saya sering terpaksa “menundukkan pandangan” saya.
SWGL (So what gitu lho)?
Setiap hari Sabtu dan Minggu belakangan ini saya punya kebiasaan, shalat Zuhur di Masjid Baiturrahman yang bersebelahan dengan Pasar Aceh yang hanya berjarak lebih kurang 500 meter dari tempat kosan saya. Setelah itu makan siang di restoran Padang yang masakannya gulai tunjangnya sangat cocok dengan lidah saya yang Minang totok ini.
Nah Iput sering berbusana seperti kebanyakan anak-anak perempuan sesusia dia yang banyak berlalu-lalang di Pasar Aceh, berjilbab, bercelana jin atau katun yang ketat dan blus setengah badan dengan belahan di kiri kanan, sehingga hampir tidak ada ruang antara kulit dan pakaian yang membungkusnya. Dan Iput yang berpostur langsing itu adalah perempuan yang tidak saja dianugerahi Tuhan wajah yang menawan, tetapi juga pinggul yang penuh dan pangkal kaki yang berisi.
Sebagai seorang yang punya dua anak gadis yang sudah dewasa, saya paham sekali, bahwa Iput dan jutaan gadis seusia dia sangat ingin tampil modis dan cantik. Bedanya, kedua anak gadis saya punya banyak pilihan yang saya dan mama mereka perbolehkan: rok tidak boleh di atas lutut, tidak boleh ketat dan tidak boleh berdada rendah dan tidak berlengan, sedangkan Iput dan ribuan Iput lainnya di Aceh tidak. Iput dan ribuan Iput lainnya di Aceh, sesuai dengan kententuan “syariat” harus menutup seluruh badan, dari rambut sampai ke ujung kaki.
Tetapi apakah Iput dan ribuan Iput lainnya di Aceh memilih berbusana seperti yang saya kemukakan di atas sekedar ingin tampil cantik dan modis seperti jutaan anak-anak gadis lainnya di dunia, atau merupakan suatu protes yang diam terhadap perlakuan yang mereka rasakan tidak adil terhadap perempuan atas nama “syariat Islam”, belum jelas benar bagi saya.
Dan aurat itu apa sih sebenarnya?
Pasar Aceh itu bersebelahan dengan Masjid Baiturahkman. Dan para ulama tentu bukannya tidak tahu, bahwa pakaian yang banyak dipakai perempuan muda yang berlalu lalang tidak jauh dari Masjid tersebut yang menempilkan bentuk tubuh mereka “dengan sempurna” itu tidak memenuhi ketentuan Islam mengenai aurat. Tetapi mereka hampir tidak berdaya mencegahnya, kecuali mengecam dalam khotbah-khotbah Jumat.
Dulu di awal-awal pemberlakuan SI di Aceh, sering dilakukan sweeping oleh polisi syariah, yang di sana disebut Wilayatul Hisbah (WH), yang sering main “tengguk rapat”. Perempuan setengah baya yang berjualan mie, karena hanya mengenakan songkok, bukan kerudungpun disikat. Tetapi sesekali sweeping juga dilakukan oleh Polisi atau TNI, dan alaamaak, beberapa anggota WH tertangkap basah melakukan perbuatan tidak tepuji. Akhirnya WH pun kehilangan taji, dan hampir jarang nongol lagi di tempat-tempat umum.
For sure, saya tidak anti jilbab dan juga tidak anti syariat Islam, tentu saja. Isteri saya berjilbab, dan itu membuat saya bahagia.
Yang saya persoalkan adalah begitu banyaknya waktu yang dihabiskan umat untuk masalah aurat (baca jilbab), sehingga waktu yang tersisa untuk mengatasi keterbelakngan umat yang tampak sangat nyata, sangat kurang.
Yang saya persoalkan adalah monopoli tafsir. Ketika pakar Al Quran Prof Dr Qurais Shihab mengatakan bahwa bahwa jilbab tersebut masalah khilafiah, beliaupun diserang ramai-ramai.
Di Jakarta, perempuan berjilbab sama sekali bukan pemandangan langka, termasuk di kalangan profesional. Di proyek infrastruktur tempat saya bekerja dulu itu, ada dua insinyur perempuan alumni ITB, dan dua-duanya berjilbab. Mereka biasanya mengenakan celana panjang longggar dan baju longggar sampai lutut, sehingga bentuk badan mereka tidak kentara. Kadang-kadang mereka juga mengenakan celana jin tetapi tetap mengenakan baju longggar sampai lutut. Mengapa begitu genah, karena mereka memilih berbusana yang menutup aurat atas kesadaran sendiri, bukan karena diatur oleh Perda, dan bukan karena takut kena sweeping polisi syariah.
Saya jelas tidak anti syariat Islam. Menurut saya adalah aneh kalau ada muslim yang anti syariat Islam. Yang saya persoalkan adalah formalisme, pemberlakuan syariat Islam, dengan peraturan yang bersifat memaksa oleh Negara, yang hanya menghasilkan sikap kepura-puraan.
Dalam ayat Kursi yang hapal di luar kepala sebagian besar kaum muslimin Allah SWT dengan tegas antara lain berfirman: ”….Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa”.
Tetapi ada saja yang merasa diri mereka sebagai “Pembela Tuhan”, yang khawatir kalau Tuhan dikalahkan oleh rambut perempuan.
Tapi apalah awak ini.
Wassalam, Darwin
Untuk Superkoran
Iyo lah Dinda. Kok dipaturuikkan pulo kecek Buya Yusuf Estes ko di siko, a pulo katenggang Ciek Unieng Elly Kasim beko :)
Salam dari sabaliek bumi
Wassalam, HDB-SBK (L, 69)
--- In Rant...@yahoogroups.com, ajo duta
<ajoduta@...> wrote:
>
> Sanak,
>
> Ado pulo ulama bapandapek suara perempuan juga aurat. Yusuf Estes, pastor
nan kudian jadi imam di US, sapaham jo itu. Waktu kami maundang beliau untuk
ceramah, inyo mengeritik ditampilkannyo qoriah di pembukaan acara. Padahal kito
tahu banyak pejuang wanita Islam yang ikut berperang dan memimpin
pasukan. Baa caronyo memberi komando, kalau suaronyo aurat pulo. Baa gak
ati?
>
> 2012/8/6 wannofri samry <wannofri@...>
--
Pengalaman kawan karajo padusi ambo, kebetulan tidak mengenakan Jilbab. Jadi katiko tibo hari Natal, bos bule kami mengucapkan selamat Natal ka bakeh kawan ko. Dijawek dek kawan ko, ambo bukan Christian, ambo Muslim. Kecek bule tu, manga ndak bajilbab. Galak sengeng sen kawan ambo tu.Rupono dalam kapalo bule tu, kalau bajilbab lah pasti muslim, kalau indak yo bantuak itu kejadiannyo. Salah sangko we eSangenek pulo ...Salam hangatAfda Rizki PiliangLk/34/ @ Grissik, Palembang
---
Ahmad Ridha
--
Dinda Evy
Tambahan sedikit dari saya.
”Perempuan juga punya hak memilih pakaian mereka secara bebas”
Demikian salah satu janji kampanye Presiden Mesir Muhammad Mursi dari kubu Ikhwanul Muslimin (Kompas 31 Mei 2012), dan sampai saat ini tidak ada tanda-tanda bahwa tokoh— yang rekam jejak keislaman, kenegarawanan, konsistensi, dan kezuhudannya mengingatkan saya kepada Pak Natsir—akan mengingkari janji kampanyenya itu.
Pertanyaannya, mengapa justru figur-figur dengan perikehidupan yang sangat Islami seperti Pak Natsir, Bung Hatta, H Agus Salim, PM Turki Erdogan, Moh Mursi (walaupun isteri beliau sendiri berjilbab), bahkan Buya Hamka, justru sepertinya “longgar” terhadap aturan agama.?
Buya Hamka dalam acara tanya jawab yang disiarkan langsung oleh RRI Nusantara di tahun 1970-1n mengatakan bahwa bagi orang-orang dengan profesi tertentu, seperti para perawat di rumah-rumah sakit, boleh menjamak sholat-sholat (yang boleh dijamak)
Pertanyaan berikutnya, apakah beliau-beliau itu yang terlalu “longgar” atau kita yang terlalu “sempit?.
Prof Dr Sanusi Huwes, yang ketika masih menjabat Rektor Unmuh Cirebon dalam sebuah artikelnya mengemukakan bahwa ayat-ayat Al-Quran dan hadis punya dimensi etis dan legal, sesuatu yang tidak aneh-aneh amat, apabila dikaitkan dengan Sabda Nabi yang sangat masyhur: “Tidaklah aku diutus, kecuali menyempurnakan akhlak yang mulia.
Menurut saya yang daif ini, beliau-beliau itu dalam membaca ayat Al-Quran dan hadis, tidak berhenti pada apa yang tersurat saja, tetapi yang juga kepada apa yang tersirat yakni dimensi etis dari teks-teks suci. Dan orang-orang hidup dalam kezuhudan, mata hatinya lebih tajam ketimbang kita-kita ini.
Bagi saya itu juga menjadi penjelas mengapa beliau-beliau itu, dan tokoh tokoh semacam beliau itu sangat jarang berpoligami. Saya malah agak kaget ketika membaca bahwa Imam Khomeini, juga menjalani perkawinan monogami, serta berperilaku santun dan lembut kepada isteri beliau, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam mempergauli isteri-isteri beliau. Tapi ini tentu cerita lain lagi.
Wassalam, HDB-SBK (L, 69)
Alam takambang jadi Guru
===
Bls: [R@ntau-Net] (OOT) Jilbab
Mon Aug 6, 2012 8:09 pm (PDT) . Posted by:
"Evy Djamaludin"
Reni yang baik,
Seperti yang sudah saya ceritakan pada email
yang lalu, maka persoalan jilbab ini terpulang pada kepribadian kita
sebagai perempuan muslimah. Taat atau tidak, sadar atau tidak, paham atau tidak
dalam menjalani agama.
Saya tidak menafikan bahwa " Umat Muslim saat ini merasa bangga dengan diri mereka bahwa sebagian besar wanita berbusana tertutup bila hendak bepergian atau bekerja.
Wanita-wanita ini dianggap suci karena mematuhi cara-cara yang ditetapkan oleh Rasul dan karena merepresentasikan keyakinannya. Wanita Islam diidentifikasi dengan pemakaian jilbab – konsep yang diajarkan di sekolah, melalui media, dan bahkan di negara-negara lain pemakaian jilbab menjadi suatu identitas, misalnya Perancis.
Lalu, bagaimana bila ada yang berpendapat bahwa jilbab yang dikenakan oleh wanita Muslim, dianggap tidak memiliki landasan dalam kitab Allah dan merupakan suatu suatu produk budaya Arab.
Apalagi disertai dengan cadar. Hal seperti ini yang tengah berkembang saat ini.
......
Sanak sapalanta,
Kalau untuak bebas mamiliah sabana no masiang2 awak ko bebas mamiliah
Ka puaso atau indak, shalat atau indak, ka manutuk atau mambukakkan aurat untuak urang rami atau nan lain2. Tapi sabalun manantukan pilihan tu bak kecek iklan TVRI dulu “teliti sebelum membeli” dek resiko di tangguang surang2.
Nan jaleh agamo Islam ko bukan untuak mempersulit tapi bukan juo untuak di gampangkan
Wassalam
Tan Ameh (53)
From:
rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Darwin
Bahar
Sent: Tuesday, August 07, 2012 1:06 PM
To: Palanta Rantaunet
Subject: Re: Bls: [R@ntau-Net] (OOT) Jilbab
Dinda Evy
Dari: Rina Devnita <rinad...@ymail.com>
Kepada: "rant...@googlegroups.com" <rant...@googlegroups.com>
Dikirim: Selasa, 7 Agustus 2012 17:15
Judul: Bls: Bls: Bls: [R@ntau-Net] (OOT) Jilbab
Nakan Ronald;
Terima kasih atas saran. Insya Allah saya selalu terbuka terhadap saran, tidak terkecuali dari yang muda-muda, langsung atau tidak langsung, sindiran atau bukan :). Kritik yang tidak bisa, bukan tidak mau, saya terima tentu saja—jika ada—kritik-kritik “underground” :).
Hanya sedikit yang saya sayangkan, dari semua saran/kritik disampaikan hampir tidak ada yang menyentuh substansi dari tulisan saya atau tentang validitas data yang saya gunakan.
PS. terima kasih kepada Mak Ngah yang menjelaskan bagaimana cara murid-murid SGA di Payakumbuh di tahun limapuluhan, serta Ajo Sur yang sudah melewakan foto mempelai Minang bersama ayah bundanya yang menggambarkan bagaimana perempuan muda/setengah baya tempo dulu berbusana
Sangenek :)
Wassalam, HDB-SBK (L, 69) 2.4
Re: Bls: [R@ntau-Net] (OOT) Jilbab
Mon Aug 6, 2012 11:41 pm (PDT) . Posted by:
"ronald...@gmail.com"
Mamak Darwin jo adidunsanak palanta nan ambo hormati,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
Maaf ambo bbrp hari ko sekilas ado mamparatian topic panjang ko. Hanyo sajo alun sempat ikuik sato diskusi. Ambo berjilbab awalnyo karena orangtua mewajibkan mode tu, walaupun waktu ambo bajilbab dulu alun ado kewajibab jatuah ka diri ambo artinyo sabalun ambo baligh. Waktu ketek2 katiko nenek masih iduik, ambo nan lumayan nyinyia ko acok mempertentangkan sesuatu sebab mode itulah kami di keluarga diajaan dek Papa, yaitu demokratis sadonyo punyo hak basuaro jo tantunyo dengan adab-adab kesopanan yang pantas manuruik norma lingkungan keluarga.
Ambo masih ingek waktu ambo diingekkan utk bajilbab dek Mama kutiko setamat SD, ambo protes ka Mama, bukannyo nenek indak bajilbab sebab waktu itu nenek hanyo manggunoan ‘Ceda’ (selendang tipis segi empat panjang berenda khas Kamang). Penggunaannyopun bukan dibuek Lilik tapi dibuek takah tikuluak tanduak nan rapuah jadi ndak nampak pucuaknyo. Walaupun nenek memang salalu mamakai baju kuruang basiba artinyo ado tambahan jahitan lain memanjang dibawah langan. (foto th 1970an)
Mama hanyo manjawek ambo singkek sajo, Piak, agau tu nio maniru urang-urang lamo ko nan kaji kami alun mode kiniko laih. Kami iyo mambaco Quraan tapi saisuak indak tantu dek kami tafsirannyo doh. Saisuak bahkan ayat-ayat ko kami jadian nyanyian bagai dek mandanga di garamopon (Gramofon). Kini kito makin tau walaupun masih baijo-ijo, tantunyo amalan kito harus labiah dari urang saisuak nan indak baitu tau tapi alah susah barubah. Itulah sakalumik carito ambo jo Mama saisuak katu ambo kaciak-kaciak.
Kiniko ambo yakin sadonyo nan punyo akses jo dunia pendidikan alah semakin tau dan mendalami. Tapi saluruhnyo tu tapulang ka diri kito masiang-masiang. Sebab iduik ko bukannyo ado diantaro banyak pilihan. Bahkan indak mamiliahpun juo adolah sebuah pilihan. Dan ambo menghormati sadonyo pilihan dari saudara-saudara, kawan-kawan dan siapun yang ado di sakuliliang ambo. Ibaraik buruh goeh, kontrak karajo surang, gaji surang lo kalo macam-macam tantu diri surang mampatangguang jawabkan.
MERDEKA…!!!
Wassalam
Rina, 34, Batam
Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh, Nakan Rina;
Saya ingin cerita sedikit.
Dulu saya senang juga menonton acara Mama & Aa di sebuah TV swasta, karena dikemas apik, humor dan santai, sampai pada suatu saat, ketika seorang pemirsa curhat, bahwa dia dilarang suaminya berjilbab, yang lalu dijawab, jelaskan kepada suami anda, bahwa berjilbab itu perintah Allah, yang kemudian dijawab kembali oleh si penanya, bagaimana kalau suaminya tetap melarang. Lalu keluarlah jawaban si Mama yang langsung membuat darah saya mendidih:
“Terserah anda, pilih Allah atau pilih suami!”
Atau dengan kata lain, sudah, bercerai saja.
Sesederhana itu kah, semematikan itu kah, sadar nggak si Mama itu bahwa dia sedang berbicara di ruang publik dengan jangkauan yang sangat luas. Terpikir nggak oleh dia kerusakan yang dapat terjadi, kalau sarannya diikuti, oleh sipenanya atau pendengar yang mempunyai masalah yang sama. Atau tidak diikuti, akan tetapi hidup dalam tekanan, karena sudah menjadi “musuh Allah”
Belakangan ini kalau di Mama itu muncul dalam siaran iklan di televisi, saya jadi jahat, ingin saya menyobek mulutnya yang berbisa itu.
Pertanyaannya kemudian, pernahkah Rasulullah mengajarkan Islam seperti itu sepanjang hidup beliau yang mulia itu?
Jangankan Rasulullah, ulama-ulama berilmu tinggi dan luas, seperti Buya Hamka, Prof Qureish Shihab dan Dr Miftah Farid pun tidak.
Dulu saya pernah beberapa kali mendengar di Radio MQ beberapa perempuan yang mengeluhkan nasibnya karena suaminya ketahuan berselingkuh atau menikah dan mengatakan, ingin bercerai saja, Dr Miftah dengan suara lembut selalu menasehati untuk bertahan, karena dalam perceraian, selalu yang paling menderita adalah anak-anak, yang tidak pernah meminta kepada ayah bundanya untuk dilahirkan.
Namun yang seperti si Mama itu jauh-jauh lebih banyak, dengan berbagai versi dan gaya.
Seperti kita ketahui, Islam diturunkan Allah SWT adalah sebagai rakmat/kebaikan bagi seluruh makhluknya termasuk manusia. Ini tidak boleh dibalik, untuk kebaikan Allah. Allah Azza wa Jalla tidak butuh secuil apa pun dari makhluk ciptaanNya.
Kalau kita kembali, sejenak mengaji juz Amma, dalam Al Mauun, Allah SWT, sama sekali tidak butuh pada Shalat kita, bahkan Ia mengancam akan memasukkan hambanya Shalat hanya sekedar Shalat, tetapi lalai (tidak khusuk), riya, dan enggan memberikan barang-barang yang berguna bagi sesama, yang jelas bukan hanya sekadar zakat.
Kita juga sama-sama mengetahui, Al-Quran diturunkan Allah sebagai petunjuk atau solusi bagi umat manusia dalam menjawab berbagai tantangan zaman. Tetapi mengapa, sepertinya tidak jarang terlihat seakan-akan ada distorsi antara Firman dengan kenyataan. karena menurut saya yang daif ini, kita mengabaikan cara yang diajarkan Al-Quran, dengan cara yang penuh hikmah dan kebijaksanaan.
Jadi, kembali mengenai perintah berjilbab masalahnya bukan soal wajib atau bukan, tetapi masalah bagaimana cara mengajarkannya, terutama di ruang publik, karena berbeda dengan hewan, manusia memerlukan proses panjang untuk belajar. Malahan menurut Rasulullah SAW, belajar itu dari ayunan sampai ke liang kubur. Tujuan berjilbab bukan hanya agar perempuan menutup auratnya, akan tetapi supaya menjadi lebih baik. Dalam perspektif ini lah hendaknya kita membaca pernyataan Pak Natsir: “Orang yang pakai jilbab itu adalah sebaik-baiknya muslimah. Tapi yang tidak pakai jilbab jangan dibilang enggak baik”
Presiden Mursi, memberi perempuan-perempuan Mesir hak memilih pakaian mereka secara bebas, tentu bukan tidak paham kewajiban perempuan untuk berjilbab, tetapi tidak ingin menegakkannya melalui undang-undang negara yang bersifat memaksa, tetapi melalui edukasi dan advokasi melalui sekolah-sekolah dan organisasi-organisasi masyarakat sipil, seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir dan NU/Muhammadiyah di Indonesia. Dan itu butuh proses panjang, sebuah proses yang bahkan tidak pernah berhenti.
Akhirul kalam, salam untuk menantu, dan peluk cium untuk cucu-cucu mamak di Batam, termasuk Ayeesa yang tentu sedang lucu-lucunya.
Wallahualam bissawab
Mamak,
St Bandaro Kayo
===
--- In Rant...@yahoogroups.com, "Rina Permadi" <rinapermadi@...> wrote:
Mamak Darwin jo adidunsanak palanta nan ambo hormati,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
Maaf ambo bbrp hari ko sekilas ado mamparatian topic panjang ko. anyo sajo alun sempat ikuik sato diskusi. Ambo berjilbab awalnyo karena orangtua mewajibkan mode tu, walaupun waktu ambo bajilbab dulu alun ado kewajibab jatuah ka diri ambo artinyo sabalun ambo baligh. Waktu ketek2 katiko nenek masih iduik, ambo nan lumayan nyinyia ko acok mempertentangkan sesuatu sebab mode itulah kami di keluarga diajaan dek Papa, yaitu demokratis sadonyo punyo hak basuaro jo tantunyo dengan adab-adab kesopanan yang pantas manuruik norma lingkungan keluarga.
> MERDEKA.!!!
Wassalam
Rina, 34, Batam
|
Message #161187 of 161256 < Prev | Next > |
Nald, terima kasih atas tanggapan balik, terharu saya membacanya.
Kalau ada perbedaan sudut pandang antara kita, saya kira saya kira wajar-wajar saja, antara lain, karena kita memang datang generasi yang berbeda.
Saya lahir dan dibesarkan ketika di Padangpanjang amai-amai yang menutup rambut di ruang publik jauh lebih sedikit ketimbang yang tidak, sedangkan sekarang, saya berani “mengadu” Padangpanjang dengan kota manapun di Aceh :). Bedanya kalau di Aceh dengan qanun, di Padangpanjang secara kultural. Selebihnya Kota Padangpanjang dari dulu sampai sekarang tetap sangat nyaman didiami. Malah saya tidak ragu mengatakan bahwa Padangpanjang sekarang merupakan “Solo” kecil, “kecil” di sini hanya masalah skala, bukan yang lainnya. Malah dalam pembinaan koperasi, saya rasa kami lebih maju.
Tentang Presiden Mursi, saya sudah menjelaskan pada email saya menjawab email nakan Rina Permadi.
Kalau dikotomi “sempit”-“longgar” terasa menganggu, saya mohon maaf, dan tidak saya akan gunakan lagi di waktu yang akan datang.
Selebihnya saya sangat menghormati tekad Ronald untuk tetap mengadvoksi pemakaian jilbab bagi perempuan di ranah masyarakat sipil, karena melalui legislasi nampaknya akan semakin sulit.
Sangenek :), pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan permintaan maaf saya kepada nakan Anwar yang dua hari belakang ini agak jarang mencogap, saya ingin mencabut kalimat “kalau kail panjang sejengkal, jangan laut hendak diduga” yang saya tujukan kepada nakan, dengan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, karena kalimat tersebut sebenarnya jauh lebih tepat ditujukan pada diri saya sendiri.
Wabillahi Taufiq wal Hidayah
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Mamak,
St Bandaro Kayo
=====
Re: Bls: [R@ntau-Net] (OOT) Jilbab
Wed Aug 8, 2012 1:55 am (PDT) . Posted by:
"ronald...@gmail.com"
Mamanda Darwin,
Terima kasih atas nasehatnya, sebenarnya nakan ingin lanjutkan diskusi ini, apalagi mengenai pendapat Presiden Mursi dan bagaimana cara berpakaian para wanita di dalam lingkungan keluarganya. Apakah ada diantara para wanita dari keluarga besar Presiden Mursi ini yang berpakaian terbuka aurat ? Kalau ternyata tidak ada, apakah bisa kita katakan bahwa dia telah berpikiran "sempit" ? sementara dia juga "longgar" karena telah membebaskan cara para wanita berpakaian di negaranya ? wanita mana yang dia tuju ? mengingat di Mesir ada juga kaum minoritas Koptik, dll. Dalam konteks apa dia menyampaikan statement tersebut ? sebagai Presiden dari negara yang majemuk kah ? perlu kita kaji lebih lanjut sebelum kita pakai statement dia.
Ajo di Leiden jo dunsanak palanta,
Maaf lamo baru ambo baleh email Ajo ko.
Manuruik ambo labiah manih pulo laih kalo salendang nan biaso dipakai jatuah ka bahu ko dikombinasikan jo jilbab. Di dalam jilbab di sabalah luanyo salendang. Kalo ado baralek kawin di Bukik salamo ambo caliak akhir2 ko. Iyo endah-endah nampak dek ambo Jo. Baju kebaya atau kuruang babordir panuah gaya dek karancang hasil karya rang pambordir batambah baragam.
Dalam acara ko kalualah model-model baju bordiran terbaru langkok jo tarompa plus jilbab nan maronoinyo. Ambo mancaliaknyo sungguh modis-modis dan tak kalah anggunnyo dari mode bapakaian caro saisuak tu.
Tahun 1967 waktu tu di Bukik kambang jaik kapalo samek nan indah2 jaitan urang. Kini ko model pulo baliak jahitan tu hanyo sajo ragam jadi batambah dan indah-indah. Kalo dulu hanyo jo sanggua sajo. Kini batambah jo jilbab dan salendang panjang tu. Bukankah hal itu perkembangan nan indah Ajo?
Wassalam
Rina, 34, batam