TEMPO.CO,
Yogyakarta- Ahli metafisika
rupanya ikut berpartisipasi meramaikan pemilihan Gubernur DKI Jakarta melalui
"gotak-gatik" kode rahasia yang dipelajari secara ilmiah. Hasilnya, nama Joko
Widodo lebih selaras dengan alam dan memungkinkan dia menjadi pemimpin yang
berhasil ketimbang Fauzi Bowo.
Doktor dalam ilmu pengetahuan metafisika,
Arkand Bodhana Zeshaprajna, menjelaskan, melalui indeks name dan
index
coherence antara keduanya, nilai Jokowi lebih tinggi ketimbang Fauzi Bowo,
yakni 1.0, sementara Fauzi Bowo 0.3. Adapun
index coherence keduanya
sama-sama memiliki angka 0.8. "Pendek kata, semesta mendukung karena
index
name Jokowi memiliki sinkronitas waktu keberuntungan yang tepat di waktu
yang tepat," ujar doktor lulusan University of Metaphysics di Amerika Serikat
ini kepada
Tempo di Yogyakarta, Kamis, 19 Juli 2012.
Dengan
sinkronitas waktu yang dimiliki Jokowi dan alam semesta mendukungnya, maka
berbagai keberuntungan akan bersama Jokowi saat memimpin. Keberuntungan dalam
memimpin ini lantaran Jokowi memiliki kemampuan dalam memanfaatkan waktu.
"Jokowi orang yang tepat, pada waktu yang tepat karena memiliki sinkronitas
dengan alam menurut angka
index name itu,"
katanya.
Index name adalah parameter yang menunjukkan
tingkat kesesuaian antara kesempatan alamiah dan keberadaan diri. Rentang
index name adalah 0.05 hingga 1.0. Semakin tinggi nilai
index
name, maka semakin besar pula peluang yang terdapat di dalam nama
tersebut untuk mencapai sukses bagi seorang pemimpin. Rentang nilai seorang
pemimpin untuk index name adalah 0.8-1.0.
Index
coherence adalah parameter utama yang menunjukkan tingkat kematangan
dalam satu atau beberapa bidang, keberanian dalam mengambil keputusan, daya
juang, keteguhan, dan karisma. Rentang nilai
index
coherence adalah 0.1 hingga 1.0. Semakin tinggi nilai
index
coherence, maka semakin besar pula daya yang terdapat di dalam nama
tersebut untuk memimpin. Kesuksesan untuk seorang pemimpin mampu menjadi
pemimpin jika angka
index coherence adalah 0.7-1.0.
Dengan
keselarasan alam inilah, Arkand berpendapat, kemunculan Jokowi untuk Jakarta
memang dibutuhkan orang karena berada pada titik kejenuhan. Maka dia tak heran
ketika pada putaran pertama pasangan Jokowi-Ahok telah memenangkan suara hingga
43 persen. "Karena orang sudah berada pada titik jenuh," katanya. "Nah, Jokowi
muncul pada
timing yang tepat."
Sementara Foke, yang memiliki
struktur rendah, yakni 0.3, tak memiliki sinkronitas waktu dengan alam. Padahal,
menurut
index coherence, Foke dan Jokowi orang-orang yang dinilai
memiliki kemampuan dengan
index name 0.8. Foke, kata Arkand, jelas
punya kemampuan yang baik, tetapi apa yang dibutuhkan orang tidak tepat dengan
keputusannya. "Misalnya butuh A, yang ada F. Butuh F yang ada Z. Sementara pada
Jokowi, dia memberi A ada A, ini karena Jokowi punya
timing yang pas,"
kata Arkand.
Arkand menyarankan, "Jangan memilih pemimpin yang memiliki
struktur indeks rendah karena dia tidak akan mampu merealisasikan hal-hal
baik."
Dalam kode rahasia, Arkand juga memaparkan soal gaya kepemimpinan
Jokowi dan Foke yang cocok dengan kepemimpinan mereka saat ini. Kode mayor dari
struktur itu, Jokowi mendapatkan angka 4, sementara Foke angka 1. Artinya, gaya
kemimpinan Jokowi lebih merakyat ketimbang Foke. Menurut kode itu, Foke bukan
berarti tak memiliki kemampuan sebagai pemimpin. “Tapi dia lebih cocok menjadi
kepemimpinan di atas seperti militer, bukan memimpin rakyat,” kata Arkand. Tak
mengherankan, kata Arkand, Foke kurang dekat dengan rakyat dan
berjarak.
Arkand mengaku tak mendukung salah satu calon mana pun. Dia
terpanggil karena ilmu metafisika sudah dia geluti berpuluh tahun. "Ini bukan
ilmu klenik, tapi ilmiah," ujarnya. Menurut dia, segala sesuatu dalam alam
semesta ini berlangsung dalam satu keteraturan. Keteraturan ini yang
memungkinkan manusia menemukan berbagai pola dalam kehidupan sehari-harinya.
Pengamatan menghasilkan kumpulan data yang diolah menghasilkan teori, hukum,
rumus, dan konstanta.