Urang Sumando
Sumando, dalam bahasa minang artinya menantu. Dalam adat minang yang mengenal
garis matrilineal yang mengambil garis keturunan dari ibu, urang sumando menjadi
tamu dalam “rumah gadang”. Sebagai seorang tamu, tentu saja tindak tanduknya
menjadi pertaruhan nama baiknya. Tuan rumah akan bersikap sensitif dalam
berinteraksi dengan tamunya.
Perangai seorang sumando dikategorikan dalam 4 tipe. Tipe-tipe tersebut perlu
juga kita ketahui sebagai bahan introspeksi bagi diri kita.
1. Urang sumando lapiak buruak.
Lapiak buruak artinya adalah tikar yang jelek. Tipe ini diberikan pada seorang
sumando yang tidak pandai bergaul dengan lingkungannya.
Atau istilahnya, orang rumahan. Mungkin kewajibannya terhadap keluarga
terpenuhi, tapi sikap individualismenya, yang tertutup dan tidak peduli
terhadap lingkungan, tidak bisa diterima di dalam suatu nagari (kampung).
Sifat tersebut diistilahkan dengan “gilo mauli anak bini”, atau kalau
diterjemahkan secara kasar, gila bergaul dengan anak dan istri. Mungkin kalau
saya terjemahkan mengapa disebut lapiak buruak, karena lapiak, atau tikar, itu
menjadi alas bagi keluarga untuk bercengkrama. Zaman dulu di rumah gadang tentu
saja tidak ada sofa. Dan embel-embel buruak, karena tidak diterimanya sifat
tersebut.
Sebenarnya ada kewajiban lelaki sebagai mamak (paman), yaitu membimbing
kemanakannya. Sudah terkenal jargon “anak dipangku kemenakan dibimbiang” dalam
adat minang. Ketika hal ini diabaikan, maka gelar lapiak buruak akan melekat
pada urang sumando tersebut.
2. Urang sumando kacang miang.
Kacang miang adalah sebuah tanaman yang apabila tersentuh, akan menyebabkan
rasa gatal. Julukan tipe ini adalah “gilo mangieh jo mangisia”, yang artinya
pekerjaan orang sumando tersebut sering membuat orang lain tersinggung karena
selalu menyindir dan menggunjingkan orang lain.
Sifat ini tampak dalam pergaulan. Mana kala kaum kerabat, atau teman sedang
berkumpul dan ia berada di dalamnya, maka tipe ini akan terlihat.
3. Urang sumando langau ijau
Sifat ini sangat dibenci orang minang. Langau ijau (lalat hijau) adalah
binatang yang menebar penyakit. Maka orang sumando yang diberi gelar seperti
ini adalah orang sumando yang menjadi “pangka bala urang kampuang”, atau
pangkal masalah orang kampung.
Tipe ini suka mengadu domba, atau menjadi pangkal masalah yang terjadi dalam
kampung. Misalnya petinggi kampung yang selingkuh sehingga sangat memalukan
masyarakat. Atau sifat lain yang menjadi pangkal masalah.
4. Urang sumando niniak mamak.
Karakter yang terakhir ini berbeda dengan karakter sebelumnya. Ini adalah
contoh karakter yang mulia bagi orang kampung.
Niniak mamak adalah sebutan untuk orang yang terpandang dalam adat atau rumah
gadang. Ia merupakan tempat “lawan baiyo” atau tempat bermusyawarah. Orang
sumando yang memiliki karakter seperti niniak mamak ini adalah orang sumando
yang memiliki ilmu yang tinggi, tidak sombong, berwibawa, dan menjadi trouble
solver. Sehingga dijuluki dengan karakter seperti karakter niniak mamak.
Keberadaannya menjadi pemecah masalah, bukan pembuat masalah.
Demikianlah tipe-tipe urang sumando dalam masyarakat minang. Dari situ, bisa
kita jadikan cermin kira-kira tipe seperti apakah kita?
Referensi : Buku Minangkabau dalam perubahan, artikel Urang Sumando di
Minangkabau karya Ade Chandra.
mako untuak "kutu sapua" jo "apak paja" ambo sarahkan ka Dunsanak lain untuak manjalehkannyo.
Karano kini dunia modereang, dan..... "adaik minang itu bukan kaku tapi bisa dinamis', alah patuik Inyiak Datuak nan bakumpua dala LKAM Sumbar mamikiakan apokoh paralu dipaganok manjadi nan ka tujuah? Soalnyo di bumi parantauan kiniko ---misalnyo di lingkuangan klan kami--- alah kalua pulo cek gala nan cukuik padek alasannyo, yaitu Rang Sumando Multi Media.
Dalam kasempatan lain kito otakan fenomena rang sumando nangko.
Baa gak ti?
He he he......
Salam........................,
mm***
--