Kalimah ALLAH adalah Hak Eksklusif Umat Islam.

77 views
Skip to first unread message

HM Dt.Marah Bangso (56+)

unread,
Jan 19, 2014, 10:23:17 PM1/19/14
to rant...@googlegroups.com, rgm...@yahoogroups.com, so...@yahoogroups.com, suli...@yahoogroups.com
Kalimah ALLAH adalah Hak Eksklusif Umat Islam, itu yang menjadi Head Line koran pagi Sinar Harian Edisi Selangor & KL pagi ko. Sultan Kedah, Tuanku Abdul Halim Mu'adzam Shah bertitah : Kalimah ALLAH perlu dihormati dan dilarang penggunaannya oleh penganut agama lain.

Baginda mahu rakyat pelbagai kaum menghormati hak eksklusif umat Islam agar kestabilan dan keharmonian yang dikecapi sekian lama, terus terpelihara.
Itu sepenggal kalimat yg termuat dikoran Sinar Harian halaman 9 hari ini yg terbit di Kuala Lumpur.

Presiden Pertubuhan Muafakat Sejahtera Malaysia (Muafakat), Ismail Mina Ahmad berkata, tindakan undang-undang perlu dilakukan pihak berkuasa agar konsep negara Malaysia yang mengamalkan keharmonian dalam beragama tidak tercemar.
"Sultan telah bertitah mengenai hak eksklusif penggunaan kalimah ALLAH ini, jadi mengapa sesetengah golongan ini masih mahu terus berdegil? Apabila Sultan telah bertitah membetulkan keadaan ini, bermakna isu ini telah menimbulkan kebimbangan di peringkat Nasional, Orang-orang sebegini wajar ditangkap karena mereka seakan-akan menimbulkan provokasi terhadap perintah Sultan"katanya, semalam. Menurutnya, rakyat perlu mendengar dan menghormati titah Sultan sebagai ketua negeri dan ketua agama serta berharap kerajaan bertindak awal membendung masalah ini daripada menjadi barah dalam masyarakat.

Itulah sekilas isi koran Sinar Harian nan ambo copy paste. Kini baa di negara kito apo pucuk pimpinan negara kito melalui menterinyo mau berbuat seperti Sultan Kedah ini ?
Wallahualam.

Wassalam,
HM Dt.MB (57-)
Tingga sahari lai baliak ka tanah aie dari Damansara Selangor Malaysia.
Sent from my BlackBerry® smartphone from DiGi. Kota Damansara Kuala Lumpur Malaysia

Zorion Anas

unread,
Jan 20, 2014, 1:08:23 AM1/20/14
to rant...@googlegroups.com

Ass. Dt MB,
Seharusnya memang demikian, karena ummat kristiani pun menyebut Allah dengan sebutan "Alah", jadi memang bukan Tuhan mereka. Mereka mengan sebutan nama Tuhan adalah YHW disebut "yahweh" spt orang yahudi menyebut nama tuhan. Itu pendeta kristen sendiri yg menyatakan. Jadi laranganSultan Malaysia benar adanya, krn sudah tentu setelah berkonsultasi dgn ahli agama Islam. Bukan larangan sembarangan. Kita terlalu toleran atau tidak paham ttg makna "aqidah". Padahal MUI isinya prof Dr. Ahli agama semua, pakar di banyak bidang agama. Seharusnya yg lurus harus disebut lurus, tidak melengkung.

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Fitrianto

unread,
Jan 22, 2014, 3:54:35 PM1/22/14
to rant...@googlegroups.com
AslmWrWb
 
Pertanyaannyo,
-apo namo Tuhan nan dipakai dek Kristen Arab (contoh:paman Khadijah, bani Najran Yaman, dll) sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW? Allah atau bukan?
-apo adoh larangan dari Nabi ka umat Kristen wakatu itu untuak indak mamakai kato Allah setelah beliau jadi Nabi?
-apo namo nan dipakai dek umat kristen Arab zaman kini di Libanon atau Mesir misalnyo? Allah atau bukan?
 
Kato Qur'an ka ahli kitab, "Qul atuhaajjunana filLahi wa huwa rabbuna wa rabbukum. Lana a'maluna wa lakum a'malukum. wa nahnu lahu mukhlishun"
 
Wassalam
fitr
lk/39/albany NY

2014/1/20 Zorion Anas <zor...@gmail.com>

Zorion Anas

unread,
Jan 22, 2014, 6:33:19 PM1/22/14
to rant...@googlegroups.com

Alkm salam ww,
Sanak Fitrianto bisa,mandapek kan penjelasan pertanyaan sanak dgn search di youtube, ketik "diskusi agama islam dan kristen"  oleh para ulama dan pendeta. Tegas si pendeta mengatakan Tuhan agama Kristen dan Tuhan agama Islam berbeda dan zatnya pun berbeda. Utk tahu lebih dalam silahkan hubungi pendeta ybs. Kalau ambo indak ahli dlm bidang perbandingan ugamo. Mungkin ado yg lain bisa manjalehkan disiko.

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

--

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 22, 2014, 6:58:22 PM1/22/14
to rant...@googlegroups.com
Wa'alaikumsalam Wr. Wb.

Dinda Fitr Tanjuang apakah sudah pindah tugas dari Kumamoto ke Albany?
Untuk update data ambo sajo. 

Wass,

ANB
45, Cibubur


2014/1/23 Fitrianto <fitr.t...@gmail.com>
--

Zorion Anas

unread,
Jan 22, 2014, 7:12:18 PM1/22/14
to rant...@googlegroups.com

Bagus utk dibaca, guna memantapkan aqidah Islami kita.
http://forum.muslim-menjawab.com/2011/07/21/asal-mula-nama-yahweh-yang-mulai-terungkap/

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 22, 2014, 9:10:01 PM1/22/14
to rant...@googlegroups.com
Untuk kemantapan aqidah, kita harus yakin pada rukun Iman. Salah satu rukun Iman adalah yakin kepada kitab-kitab Allah (rukun iman keempat), artinya selain mengimani Al Qur'an juga mengimani kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelum Al Qur'an.

Dengan mengenyampingkan sementara topik keaslian Injil dan Taurat yang ada sekarang (karena ini merupakan topik lain yang bisa dibahas panjang lebar tersendiri), salah satu cara mengecek isi Injil/Taurat adalah dengan melihat versi bahasa Arabnya. Dalam hal ini apakah versi bahasa Arab dari Injil (New Testament) khususnya, menggunakan kata "Allah" atau tidak.  Jadi, penekanannya bukan pada debat teologis penggunaan "YHWH/Yahweh", "Allah", atau "Eloihim" (yang juga merupakan topik tersendiri yang tak kalah pelik).

Apakah Injil versi bahasa Arab, yang digunakan oleh sekitar 15-20 juta Kristen Arab di kawasan Timur Tengah, ada menggunakan kata "Allah"?

Ini hasil penelitian Abu Iman Abd ar Rahman Robert Squires yang dipublikasikan dalam situsnya Islamic Awareness.org:


Dengan melihat tulisan-tulisan lain Abu Iman yang sangat kritis -- sehingga karena itu dia sering didebat sampai dikecam para pendeta/pastur/teolog Kristen/Katolik -- hasil penelitiannya tentang penggunaan kata "Allah" dalam Bible (versi Arab) bisa memberikan gambaran yang lebih realistis.

Allahu a'lam

Wass,

ANB
45, Cibubur 

PS: Bagi yang sulit membuka situs Islamic Awareness, ambo copaskan sbb:

The Word Allah In The Arabic Bible

Abu Imân cAbd ar-Rahmân Robert Squires

© Muslim Answers - Orlando, Florida, All Rights Reserved.


In the Name of God, the All-Merciful, the Compassionate

Just a few examples for those who are still in doubt . . .

The images below, with the exception of the first image, were taken directly from The Holy Bible in Arabic. Referred to in Arabic as al-Kitâb al-Muqadis (i.e. ,The Holy Book), this is the scripture which is used by Arabic-speaking Christians (of which there are still about 15 to 20 million in the Middle East). So that those unfamiliar with Arabic script have something to compare these images with, the first image below is a verse from the Qur'ân - which is the Muslim scripture. In the images, the Arabic word Allah is underlined in red so that it can be easily identified. Upon comparing the images, one should be able to clearly see that the word Allah appears in both the Qur'ânic and Arabic Bible images. Indeed, the word Allah appears throughout Arabic translations of the Bible, since it is simply the Arabic name for Almighty God. Insha'llah, the examples below will help quell the doubts of those who have been duped into believing that Muslims worship a different god - either by the hostile media or by Christian missionary propaganda. We hope that this serves as enough documentation for those who still have doubts about this. We could think of no other way to prove this point, except to encourage everyone to do further critical and open-minded research on their own. Please, don't forget to compare the images . . .


 [Qu'ran 1:1 - English translation]

"In the Name of God, the Compassionate, the Merciful."

[Qur'ân 1:1 - Arabic transliteration]

"Bismi-Allahi ar-Rahmani, ar-Raheem"

[Qur'ân 1:1 - Arabic]




[Genesis 1:1 - English Bible - King James Version]

"In the beginning God created the Heaven and the Earth . . . "

[Genesis 1:1 - Arabic transliteration]

"Fee al-badi' khalaqa Allahu as-Samaawaat wa al-Ard . . . "

[Genesis 1:1 - Arabic Bible]



 [John 3:16 - English Bible - King James Version]

"For God so loved the world, that . . . "

[John 3:16 - Arabic transliteration]

"Li-annhu haakadha ahabba Allahu al-'Aalama hataa badhala . . . "

[John 3:16 - Arabic Bible]



 [Luke 1:30 - English Bible - King James Version]

" . . . Fear not, Mary: for thou hast found favor with God."

[Luke 1:30 - Arabic transliteration]

" . . . Laa takhaafee, yaa Maryam, li-annaki qad wajadti ni'amat(an) i'nda Allahi."

[Luke 1:30 - Arabic Bible]



 [Luke 3:38 - English Bible - New King James Version]

"the son of Enos, the son of Seth, the son of Adam, the son of God."

[Luke 3:38 - Arabic transliteration]

"bini Anoosha, bini Sheeti, bini Aaadama, abni Allahi."

[Luke 3:38 - Arabic Bible]





Zorion Anas

unread,
Jan 22, 2014, 9:46:01 PM1/22/14
to rant...@googlegroups.com

Semakin menarik. Bagi ambo persepsi percaya kepada kitab2 zabur, taurat dan injil tidak perlu dibuktikan secara fisik, karena semua ajaran yg ada pada kitab yg asli sebelumnya sudah diwakili oleh ayat2 dalam al-quran. Apalagi kitab taurat zabur injil keasliannya sudah diragukan karena modifikasi tangan manusia. Percaya kpd kitab2 terdahulu cukup sebagai "faith" bahwa kitab itu pernah ada. 
Seperti kita percaya ada rasa sakit, rasa cinta, tapi tidak bisa digambarkan secara fisik.
Tidak ada yg bisa membuktikan keaslian taurat zabur dan injil (apalagi kitab perjanjian baru).
Percaya kepada yg "tidak asli" atau "palsu" juga merupakan kepercayaan yg palsu. Kalau al quran, Allah sendiri yg menyatakan menjaga al quran dan keasliannya. Oleh sebab itu banyak tangan2 yg mencemari al quran, tapi tidak berhasil atau gagal. Jadi rukun iman harus dijalankan dgn keaslian iman dan aqidah.

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 22, 2014, 11:41:44 PM1/22/14
to rant...@googlegroups.com
Percaya itu tidak sama dengan iman. Percaya hanyalah anak tangga pertama sebelum mencapai anak tangga iman. 
Karena itu perbandingan "kita percaya ada rasa sakit, tapi tidak bisa digambarkan secara fisik" untuk menjelaskan "kita beriman pada kitab-kitab Allah" dengan sendirinya perbandingan yang tidak valid, tersebab satu hal sederhana: kita percaya ada rasa sakit, tapi kita tidak beriman pada rasa sakit. 
Bandingkan dengan rukun "beriman kepada kitab-kitab Allah yang bukan saja percaya adanya kitab-kitab tersebut tetapi juga mengimani kitab-kitab tersebut."

Contoh lain, kita bisa percaya pada adanya listrik, yang juga tak terlihat mata. Tapi kita tak bisa mengimani (beriman kepada) listrik hanya karena listrik itu ada. Yang kita imani adalah Zat Maha Suci  yang membuat listrik itu menjadi maujud. Persis seperti kita mengimani Zat Suci Maha Penyembuh yang menyebab rasa sakit itu ada

Apakah jelas bedanya bagi Pak Zorion sekarang perbedaan antara "percaya" dan "beriman"?

Ketika kita menyatakan beriman kepada kitab-kitab Allah, bagaimana menunjukkan dalam praxis, jika hanya pada level "percaya" dan mengambil jalan mudah bahwa semuanya sudah "diwakili oleh ayat-ayat dalam Al Qur'an"? 

Kalau logikanya begitu, mengapa dalam hadis-hadis Nabi yang diriwayatkan Muttafaq 'Alaihi disebutkan rukun iman adalah "beriman kepada kitab-kitab Allah" dan bukan hanya cukup dengan "beriman kepada Al Qur'an?" Apakah Nabi Saw yang lahir, besar, dan wafat di Arab, sampai tidak paham bahasa Arab sendiri menyangkut perbedaan "kitab-kitab" dan "kitab"? Itu mustahil.

Jadi, dalam rukun "beriman pada kitab-kitab Allah" itu terdapat anjuran, bahkan dorongan bagi muslim, untuk tetap mencari apa yang sudah diturunkan Allah kepada Isa putra Maryam a.s. dalam versi kata-kata yang disampaikan Isa sendiri. Salah satunya adalah melalui penjelasan Nabi Muhammad Saw sendiri yang dikutip para sahabat (hadits) yang kemudian dibukukan dalam kitab-kitab klasik, seperti misalnya dilakukan Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya ("Kisah Para Nabi"). 

Beberapa contoh pesan Isa a.s. dalam kitab Ibnu Katsir:

1.  Abdullah bin Mubarak menuturkan, "Sufyan Ats Tsauri memberitakan kepada kami, dari Manshur, dari Salim bin Abu Ja'ad, ia berkata, "Isa berkata,  'Bekerjalah untuk Allah (note; efek tebal dari ambo -- ANB) dan jangan bekerja untuk perut. Lihatlah burung itu, pergi pagi pulang sore tanpa membajak sawah dan tanpa mengetam, Allah tetap memberinya rezeki. Jika kalian berkata, "Perut kami lebih besar dari perut burung, maka lihatlah sapi-sapi dan keledai-keledai liar itu, mereka pergi pagi pulang sore tanpa membajak sawah dan tanpa mengetam, Allah tetap memberi mereka rezeki." (hal. 934).

2. Ibnu Wahab meriwayatkan dari Sulaiman bin Bilal, dari Yahya bin Sa'id, ia menuturkan, "Isa mengatakan,"Lintasilah dunia, jangan kau makmurkan." Ia juga berkata, "Cinta dunia adalah inti semua kesalahan, dan pandangan itu menanamkan syahwat di dalam hati." 

Diriwayatkan dari Isa, "Wahai anak Adam yang lemah! Bertakwalah kepada Allah (note: efek tebal dari ambo - ANB) di mana pun engkau berada, jadilah tamu di dunia, jadikan masjid-masjid sebagai rumah, ajarkan kedua matamu menangis, ajarkan tubuhmu bersabar, ajarkan hatimu berpikir, dan jangan merisaukan rezeki esok hari, karena itu adalah suatu kesalahan." (hal. 932).

Ini dua contoh saja dari banyak pesan Isa putra Maryam a.s. yang dinukil dari hadis-hadis Nabi dalam kitab Ibnu Katsir di atas.

Relevansinya dengan topik awal penulisan kata "Allah" apakah merupakan "hak eksklusif umat Islam", kalau menurut ambo adalah "bukan hak eksklusif umat Islam."
Sebab bisa dibayangkan ketika Isa a.s. mengucapkan pesan-pesannya itu kepada para muridnya (hawariyyun), kita percaya dan mengimani bahwa yang dinukil Ibnu Katsir adalah benar bahwa Isa a.s. mengucapkan seperti apa yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. Yakni, lafaz "Allah" diucapkan sendiri oleh lisan Isa putra Maryam a.s. Terkait sifat Nabi yang ummiy, tentu Rasulullah mengetahui pesan-pesan ini bukan dari orang-orang Kristen pada jamannya, melainkan langsung dari Allah Swt, seperti Dia jualah yang mengajarkan Isa a.s.

Dan ini bersesuaian dengan firman Allah dalam QS 5: 110

"Dan ingatlah ketika Allah berfirman, "Wahai Isa putra Maryam, ingatlah  nikmatKu kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Ruhul Qudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu (juga) Hikmah, Taurat, dan Injil ..."  (note: efek tebal dari ambo - ANB).

Pesan-pesan Isa a.s. sebagaimana termaktub dalam karya Ibnu Katsir itu dengan demikian adalah ajaran langsung dari Allah, yang disampaikan Isa kepada para muridnya kaum hawariyyun.  Sepeninggal Isa, para muridnyalah yang menyampaikan kepada orang-orang beriman dari kalangan pengikut Isa di awal, dan terus disampaikan turun temurun sampai sebagian, kalau tidak seluruh ucapan Isa, terdengar dan dicatat pula oleh para penulis Gospel (yang belakangan diakui Gereja hanya ada empat kanon besar). 

Betul bahwa ada bagian-bagian dari Gospel itu (Perjanjian Baru) yang kemudian banyak ditambah-tambahi seiring perjalanan jaman, tetapi apakah tidak ada kemungkinan sedikit pun bahwa masih ada ajaran (asli) dari Isa putra Maryam a.s. yang terdapat di PB/Injil? 
Sebab, kalau memang sudah tidak ada sama sekali ajaran asli dari Isa a.s., bagaimana caranya menjelaskan contoh dua contoh ini:

1. Matius 4:8-10.

“Dan Iblis membawanya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memper­lihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada­Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku. ” Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”  

2. Markus 12:28-29

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"

Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa."

Dengan dua contoh ayat (dari dua penulis Gospel berbeda) itu yang jelas menunjukkan pesan Isa putra Maryam a.s. tentang ketauhidan-- yang selaras dengan pesan-pesan Isa a.s. yang dinukil Ibnu Katsir -- apakah kedua contoh ayat itu juga merupakan contoh ayat palsu yang sudah dikutak-katik para penulis Injil? 

 Dan jika menurut Pak Zorion "iya, itu juga ayat palsu", mengapa mereka justru menyisipkan ayat penunjuk tauhid itu dengan begitu gamblang dan terang benderang dalam terjemahan bahasa apa pun? Bukankah itu merugikan mereka sendiri?

Di sini, kita akan masuk pada sejarah perpecahan umat kristen kubu Unitarian (yang percaya Isa adalah manusia biasa dan hanya Allah yang patut disembah) dengan kubu Trinitarian (yang percaya pada Isa adalah putra Allah). Konflik ini memuncak pada Konsili Nicea (c.a. 325 M) ketika kubu Trinitarian yang didukung Kaisar Konstantin mengatasi pengaruh kubu Unitarian, bahkan melakukan perburuan dan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh penganjur Unitarian. Tetapi untuk ini sudah merupakan topik berbeda yang tidak relevan dengan maksud awal thread.

Allahu a'lam.

Wass,

ANB
45, Cibubur

 


 

Zorion Anas

unread,
Jan 23, 2014, 12:39:25 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com

Sanak ANB, ini kata pendeta2 gereja nasrani di Indonesia, kepada LAI (Lembaga Al Kitab), supaya kata Allah diganti dgn kata YAhweh, Elohim atau Edonai
. Dan yang sdh dilakukan oleh Malaysia
http://indonesiaindonesia.com/f/52698-pilih-yahweh-allah/
Pengertian percaya dan iman dlm agama adalah 2 sisi matauang. Percaya dan beriman, percaya tapi tidak beriman. Kita percaya setan itu ada, tapi tidak beriman kepada setan.
Percaya ada kitab terdahulu, tapi tidak beriman kpd kitab2 itu, karena sdh ada al quran.
Jadi kalau sanak NAB menggagap Allah=Yahweh spt dlm injil, silahkan saja.
Bagi Kristiani  mereka sdh tidak menganggap Allah tidak sama dgn Yahweh sbg tuhan merekaspt link di atas.
Jadi kata2 Allah dlm injil skrg memang harus ditiadakan, krn bukan lagi termasuk kitab2 terdahulu yg harus diimani oleh kaum muslim. Jelas dlm.injil mrk yg dianggap tuhan Yahweh, Jesus dan Roh Kudus. Biarkan saja mereka meyakini itu. Karena injil sbg salah kitab yg kita imani adalah kitab pada zamannya Nabi Isa, bukan yg sekarang.

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

Pada 2014 1 23 11:41, "Akmal Nasery Basral" <ak...@rantaunet.org> menulis:

Zorion Anas

unread,
Jan 23, 2014, 12:55:51 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com

Saya ulang posting krn ada salah ketik
Sanak ANB, ini kata pendeta2 gereja nasrani di Indonesia, kepada LAI (Lembaga Al Kitab), supaya kata Allah diganti dgn kata YAhweh, Elohim atau Edonai . Dan yang seperti dilakukan oleh Malaysia.


http://indonesiaindonesia.com/f/52698-pilih-yahweh-allah/ Pengertian percaya dan iman dlm agama adalah 2 sisi matauang. Percaya dan beriman, percaya tapi tidak beriman. Kita percaya setan itu ada, tapi tidak beriman kepada setan. Percaya ada kitab terdahulu, tapi tidak beriman kpd kitab2 itu, karena sdh ada al quran. Jadi kalau sanak NAB menggagap Allah=Yahweh spt dlm injil, silahkan saja.

Bagi Kristiani mereka sdh  menganggap Allah tidak sama dgn Yahweh sbg tuhan mereka spt link di atas. Jadi kata2 Allah dlm injil skrg memang harus ditiadakan, krn bukan lagi termasuk kitab2 terdahulu yg harus diimani oleh kaum muslim. Jelas dlm injil mrk yg dianggap tuhan Yahweh, Jesus dan Roh Kudus. Biarkan saja mereka meyakini itu. Karena injil sbg salah satu kitab yg kita imani adalah kitab pada zamannya Nabi Isa, bukan yg sekarang.

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 23, 2014, 2:17:46 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com
Nah, sudah jelas dengan sendirinya kan Pak Zorion?

1/
Ambo kutip ulang pendapat bapak, "Pendeta2 gereja Nasrani di Indonesia, kepada LAI (Lembaga Al Kitab) supaya kata Allah diganti ... dst..."
Pertanyaannya: siapa yang ada di LAI itu? Orang Islam? Atau para pendeta juga? 
Apa iya draf Alkitab Indonesia itu tidak dibaca, disahkan, oleh (Majelis) Pendeta/Pastur atau apapun namanya sebelum ini?

Jadi poinnya adalah: kalau itu perbedaan di antara mereka, biarkan saja. Sekiranya pun mereka sepakat menghilangkan kata "Allah" dalam Injil (Indonesia) mulai edisi 2014 dst, itukan kesepakatan mereka sendiri. Urusan rumah tangga mereka sendiri, bukan umat Islam yang melarang-larang tidak boleh ada kata "Allah" dalam Injil.

Dan lagi kenapa hanya dalam Injil edisi Melayu (Malaysia) dan Indonesia tidak dibolehkan kata "Allah"? Mengapa tidak sekaligus dilobi Rabithah Alam Al Islami atau otoritas global lain agar kata "Allah" juga dihapus dari Injil bahasa Arab yang kini digunakan 15-20 penganut Kristen di Timur Tengah? 

2/
"Percaya ada kitab terdahulu, tapi tidak beriman kpd kitab2 itu, karena sdh ada al quran." tulis Pak Zorion.

Ini dalilnya apa? Setahu ambo masalah nasikh-mansukh hanya ado dalam ayat Qur'an, bukan terhadap kitab-kitab Allah terdahulu (sebelum Qur'an). 
Karena kalau ada nasikh-mansukh terhadap kitab Allah, untuk apa redaksi hadist Nabi pada rukun iman adalah "beriman kepada kitab-kitab Allah"?

Mohon Pak Zorion tunjukkan hadist Nabi atau ayat Qur'an yang melarang umat Islam untuk beriman kepada Injil, Taurat, Zabur, dengan sudah turunnya Al Qur'an?

 3/
Bapak juga menulis: "Jadi kalau sanak NAB menggagap Allah=Yahweh spt dlm injil, silahkan saja."

Di bagian posting ambo nan ma ambo manulih "Allah = Yahweh spt dalam Injil"?

Ini ambo tampilkan lagi kalimat ambo sebelumnya:

-----
Jadi, penekanannya bukan pada debat teologis penggunaan "YHWH/Yahweh", "Allah", atau "Eloihim" (yang juga merupakan topik tersendiri yang tak kalah pelik).
-----

Mohon tunjukkan di bagian mana dari kalimat ambo itu ado tatulih ambo "menganggap Allah = Yahweh spt dalam Injil" selain itu kesimpulan Pak Zorion sajo?  
Kalau itu kesimpulan bapak surang, manga harus dinisbatkan sebagai pandapek ambo?

Kalau ambo tulih "penggunaan "YHWH/Yahweh", "Allah", atau "Eloihim" (yang juga merupakan topik tersendiri yang tak pelik)" itu adolah dek karano, ambo ambiak satu contoh sajo, Prof. Abdul Ahad Dawud (lahir 1895, mantan pendeta sekte Uniate Chaldean, nan namonyo sabalun Islam adolah Prof. Reverend David Benjamin Keldani) menulis satu bukti penuh data berjudul Muhammad in the Bible nan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia Menguak Misteri Muhammad Dalam Kitab Suci Injil (Penerbit Sahara, 2011).

Kalau Prof. Dawud nan paham bahasa Aramaik dan fasih memahami terjemahan PB dalam bahasa Latin (Vulgate) dan bahasa Yunani sajo butuh satu buku untuk menjelaskan tema ko, bukankah itu menunjukkan tema yang pelik? Tetapi justru karena pengetahuan dan penelitiannyo nan mandalam tahadok kitab-kitab sabalun Qur'an itu nan manyabok kan inyo masuk Islam. Dalam testimoninyo, Prof Dawud menyatakan,  "Kepindahan saya ke Islam tak lain karena hidayah Allah Yang Maha Kuasa. Tanpa bimbingan-Nya, semua pengetahuan, penelitian, dan usaha-usaha lain untuk menemukan kebenaran ini mungkin membawa kepada kesesatan. Begitu saya mengakui keesaan mutlak Tuhan, maka Nabi Muhammad Saw pun menjadi pola sikap dan perilaku saya."

Subhanallah. Itu baru salah satu contoh sajo, bagaimana kalau urang berpengetahuan seperti Prof. Dawud/Keldani mempelajari dengan serius kitab-kitab Allah sebelum Qur'an, hasilnya malah mambueknyo mandapek hidayah. Bayangkan aa nan akan tajadi kalau (saat inyo masih Prof. Keldani) justru alergi untuk membaca kitab-kitab itu secara kritis. Apokah inyo akan sampai pada kesimpulan bahwa "kepindahan saya ke Islam tak lain karena hidayah Allah Yang Maha Kuasa."

Nan awak, mayoritas muslim di Indonesia juga Malaysia, acok lupo adolah dek awak lahir dari "zona nyaman", induak ayah alah muslim, bahkan inyiak ka ateh. Lahia dalam "zona nyaman" ko acok mambuek urang malah mancari, mambaco kritis, men-tadabbur-kan, indak sarupo kelompok mualaf nan harus bajuang kareh, tarutamo nan sabalunnyo alah berstatus sebagai Reverend atau Minister, saroman Syaikh Yusuf Estes kini ko. 

4/ 
Terakhir, Pak ZA manulih "Karena injil sbg salah kitab yg kita imani adalah kitab pada zamannya Nabi Isa, bukan yg sekarang."

Nah, kan, lagi-lagi kesimpulan apak pulo nan dinisbatkan ka ambo. 
Cubo baco ulang pandapek ambo dan tunjuak an bagian di ma ambo manulih "beriman kepada Injil yang sekarang", adokah?

Kalau ambo mangutip ayat Matius 4;8-10 dan Markus 12:28-29 nan menyatakan Yesus menyatakan kepada Bani Israel agar meyakini  bahwa "Hukum terutama (yang paling pokok) adalah Tuhan Allah kita itu Tuhan Yang Esa", bukankah itu nan ambo tanyokan pada Pak Zorion sacara retoris  melalui kalimek sabalunnyo,  "Bagaimana caranya menjelaskan dua contoh ini?"

Sebab, bukankah dua ayat itu selaras dengan ajaran sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, terus sampai kepada Isa putra Maryam a.s., dan kemudian Nabi Muhammad Saw, bahwa "Allah itu Ahad."

Artinyo, kalau kasadonyo Injil (sekarang) yang dimiliki umat Kristen adolah palsu, berarti dua ayat di atas tu palsu pulo? Kalau ayat itu palsu, berarti Isa a.s. indak paranah manyampaikan tazkiroh ka umatnyo bahwa "Allah itu Esa"? Kan baitu logikanyo. 

Kalau itu nan tajadi, bararti alah dilantak pulo rukun iman "beriman kepada Rasul-rasul Allah".

Wassalam,

ANB
45, Cibubur

 


Zorion Anas

unread,
Jan 23, 2014, 2:43:20 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com

Sanak NAB, suatu keimanan lahir dari proses pengenalan. Yusuf este selalu menyitir al-quran dlm diskusinya. Bisa diliek di website2 beliau. Artinya beliau tidak lagi membandingkan dgn kitab2 suci terdahulu, karena keiman kpd al - quran dan hadist.
Jadi buek ambo taraso lucu kalau ummat Islam masih mengimani kitab suci terdahulu. Tolong tunjukkan ayat al quran dmn Allah menyuruh ummat utk mengikuti perintah2 kitab terdahulu. Rukun Iman ke 4,spt yg sanak kemukakan  seharusnya cuma beriman kepada al-quran bukan semua kitab. Apa bedanya dgn ABS-SBK, apa kitabullah di sini termasuk taurat, zabur dan injil? Kebablasan nanti.
Bagi ambo pribadi kitab Allah yg harus diimani hanya Al Quran. Kito punyo keyakinan iman masing2. Silahkan kalau mau beriman kepada kitab2 terdahulu. Bagi ambo kitab terakhir dari Rasul terakhir adalah kesempurnaan ajaran yg memang harus diimani. Kitab yang lain hanya utk tahu saajo. Kito bukan seperti kaum Syiah yg berbeda dgn keimanan Sunni. Percaya kpd Rasul itu memang dijelaskan oleh al quran, bukan berarti kepercayaan kpd rasul2 terdahulu selalu dikaitkan dgn iman ke kitab2 mereka selain al quran. Rasulullah dan Al Quran sdh jaleh sbg penerang iman, kitab lain tdk diperlukan lagi, cuma utk knowledge saja.

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 23, 2014, 3:36:29 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com
Iyo unik caro diskusi Pak Zorion ko mah yo. 
Ambo batanyo mohon dijalehkan dalil nan apak pakai untuk menyatakan bahwa beriman kepada kitab-kitab Allah adolah hanya "beriman kepada Al Qur'an" seperti apak tulih, tapi bukannyo dijawek malah ditanyo baliak ka ambo: "Tolong tunjukkan ayat al quran dmn Allah menyuruh ummat utk mengikuti perintah2 kitab terdahulu. Rukun Iman ke 4,spt yg sanak kemukakan."

Baiaklah ambo jawek partanyaan Pak Zorion:

1.  Dari Ibnu Umar,  ayah saya Umar bin Khattab r.a. berkata: 
 
"Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah Saw, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi Saw ...dst ...  kemudian berkata: "Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam." 

Kemudian Rasulullah menjawab Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dst ... Orang itu berkata, "Engkau benar." Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkan. Orang itu bertanya lagi, "Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman?" Rasulullah Saw menjawab: "Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasulnya, hari akhir, dan kepada takdir yang baik dan yang buruk." Orang tadi berkata, "Engkau benar." Lalu orang itu bertanya lagi... dst ttg ihsan... lalu Nabi menjawab tentang ihsan ... dst... lalu orang itu bertanya lagi tentang kiamat, lalu Nabi menjawab ttg tanda-tanda kiamat ...dst... Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi bersabda, "Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu?" Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Lalu beliau bersabda, "Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian." (HR Muslim, Nasa'i, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).


Perhatikanlah matan (isi) hadits itu, Nabi indak manjawab pertanyaan malaikat Jibril,  "Iman adalah percaya kepada Allah, para malaikat-Nya, Al-Qur'an ... dst ..."
Ini menunjukkan bahwa iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para rasul sebelum turunnya Al Qur'an adalah mutlak adanya. 

2.  Dalil dalam Al Qur'an untuk beriman kepada kitab-kitab Allah:

2.1.  QS Al Baqarah (2) ayat 136

“Katakanlah (wahai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan kitab yang diturunkan kepada kami, dan kitab yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan kitab yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kitab yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”  

2.2. QS Al Maidah (5) ayat 8

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai muhaimin terhadap Kitab-Kitab yang lain itu.”  

Muhaimin yakni sebagai hakim terhadap kitab-kitab terdahulu. Para mufassirin berpendapat makna ayat ini adalah tidak boleh mengamalkan hukum apapun yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu kecuali jika dibenarkan dalam Al-Qur`an. 

Jadi, jelas sekali bahwa kitab-kitab Allah sebelumnya tidak boleh diamalkan lagi, melainkan sepanjang ajarannya tidak bertentangan dengan Al Qur'an maka ajaran itu masih valid (misalnya dalam 10 Perintah Tuhan yang terkenal itu, ajaran tidak boleh mencuri, membunuh, berzina, harus berbuat baik kepada orang tua, dst, tetap berlaku karena yang demikian pun yang diajarkan Qur'an).

Nah, dek karano ambo alah manjawek tanyo Pak Zorion jo 3 (tigo) dalil, tolong Pak Zorion sampaikan dalil apak (cukuik ciek sajo) bahwa maksud "beriman kepada kitab-kitab Allah" itu adolah saroman pengertian bapak, yakni hanya "beriman kepada Al Qur'an" saja?

3. Tentang ABS-SBK, apa kitabullah di sini termasuk Taurat, Zabur, Injil? "Kebablasan nanti," tulis Pak Zorion. 

Kalau kini Pak Zorion alah mencermati QS 5: 8, tantu sajo secaro epistemologis konsep "K" dalam SBK adolah termasuk kitab-kitab Allah lainnya, SEPANJANG TIDAK BERTENTANGAN dengan Al Qur'an. 

Namun dalam pengertian praktis, "K" di siko memang mengacu pada Al Qur'an. Tapi antaro pengertian praktis dan epistemologis berdasarkan QS 5: 8 itu indak ado nan balawanan doh. Apolai sampai kablabasan, karena konsep Islam adolah konsep nan integral, indak sapotong-sapotong. 

Al Qur'an adolah ajaran nan samporono (5:3), tetapi dalam kesempurnaan itu Al Qur'an mengakui kebenaran kitab-kitab sebelumnya (masih banyak lagi ayat di dalam Qur'an nan manyatokan itu selain duo nan ambo tulih di ateh). 


Lha, kalau Qur'an/Allah sendiri sudah menyatakan saroman dalam QS 2:136, apa bukan pak Zorion nan malah "kebablasan" menafsirkan sendiri (karena hanya mengandalkan tafsir birra'yu yang hanya mengandalkan logika) rukun iman kepada kitab Allah hanya berarti percaya kepada Al Qur'an, tanpa Pak Zorion melihat lagi penjelasan Qur'an sendiri? 

Allahu a'lam.

 Wass,

ANB










 

 

ZulTan

unread,
Jan 23, 2014, 3:52:04 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com


Kama nan lain?
Samo manyimak se awak yo...
Salam,
ZulTan, L, 53, Bogor

From: Akmal Nasery Basral <ak...@rantaunet.org>
Date: Thu, 23 Jan 2014 15:36:29 +0700
Subject: Re: [R@ntau-Net] Kalimah ALLAH adalah Hak Eksklusif Umat Islam.

Muchwardi Muchtar

unread,
Jan 22, 2014, 11:57:15 PM1/22/14
to rant...@googlegroups.com
Numpang lewaik ciek

"....Percaya itu tidak sama dengan iman. Percaya hanyalah anak tangga pertama sebelum mencapai anak tangga iman......"
***

Undangan Pengajian Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) KOTA BEKASI :        

AHAD, 26 JANUARI 2014    
PEMBICARA : DR. ADIAN HUSAINI, MA 
TEMA: TANTANGAN DAKWAH GLOBAL
PUKUL 08.30    s/d selesai
TEMPAT : Jln Ki Mangusarkoro No.45 Bekasi.

Wassalam      Ketua Majelis Tabligh  ABU DEEDAT SYIHAB


Zorion Anas

unread,
Jan 23, 2014, 4:18:16 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com

Hehe... cubo baco surek 98 al bayyinah, apo masih paralu awak bariman ka kitab2 nan lain? Hadist nan disabuik tadi hanyo utk panduan zaman nabi sajo, sebagai pengujian Jibril thd keimanan Rasulullah.
Kini zaman nyo alah beda, ujian thd manusia dlm bentuk bencana dan macam2. Al quran disebut sebagai sdh mengandung isi kitab2 terdahulu, tapi yg lurus2 sajo. Apo masih paralu bariman ka kitab nan lain?

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

fashrid...@gmail.com

unread,
Jan 23, 2014, 4:25:26 AM1/23/14
to Rantaunet
Sanak2 sa palanta yth.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Berikut salah satu referensi perbedaan antara iman dengan percaya

Salam
Fashridjal M. Noor Sidin/L/65/bdg

Antara Iman dan Percaya

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum

Apakah arti dari kata iman itu sama dengan percaya? Karena saya jadi sedikit ragu untuk berkata ‘saya percaya sama fulan’, karena takut disama artikan dengan iman?

Terima kasih

wassalamu’alaikum

Dari: Rahadianto

Jawaban:
Wa’alaikumussalam

Percaya adalah salah satu bagian dari iman. Karena iman mencakup percaya dan mengamalkan, baik di lisan maupun perbuatan.

Berikut beberapa keterangan ulama tentang iman:

1. Keterangan Imam Malik:
Dari Abdullah bin Nafi’ bahwa Imam Malik pernah mengatakan:

الايمان قول وعمل
“Iman adalah ucapan dan perbuatan.” (Al-Hilyah, 6:327, dinukil dari I’tiqad Al-Aimmah Al-Arbaah, Hal. 25)

2. Keterangan Imam As-Syafii:
Ar-Rabi’ bin Sulaiman bahwa beliau mendengar Imam As-Syafi’i mengatakan:

الايمان قول وعمل واعتقاد بالقلب
“Iman adalah ucapan, perbuatan, dan keyakinan hati…” (Al-Intiqa’, 81, dinukil dari I’tiqad Al-Aimmah Al-Arbaah, Hal. 39)

Diriwayatkan Al-baihaqi bahwa Imam As-Syafi’i juga mengatakan:

الايمان قول وعمل يزيد وينقص
“Iman adalah ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.” (Manaqib As-Syafi’i, 1:387)

3. Keterangan Imam Ahmad:
Dari Abdullah bin Ahmad, bahwa ayahnya Imam Ahmad pernah berkata:

الايمان قول وعمل يزيد وينقص إذا زنى وشرب الخمر نقص ايمانه
“Iman adalah ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang, dan apabila orang itu berzina atau mencuri maka imannya berkurang.” (As-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, 1:307)

4. Para ulama kontemporer mendefinisikan iman sebagai:

الإيمان اعتقاد بالجنان وإقرار باللسان وعمل بالجوارح والأركان
Iman adalah keyakinan hati, ikrar di lisan, dan amal anggota badan dan perbuatan.

Inilah tiga unsur iman: Keyakinan di hati, ikrar di lisan, dan praktek dalam perbuatan.

Semata-mata yakin, belum disebut mukmin.

Sebagaimana kita tahu bahwa Iblis percaya bahwa Allah itu ada, iblis yakin Allah itu tuhan, iblis juga yakin Allah itu Esa, karena dulu iblis adalah jin yang taat beribadah kepada Allah dan pernah berdialog dengan Allah. Namun Iblis tidak disebut mukmin, bahkan dia adalah gembong orang kafir. Karena Iblis, tidak mau tunduk dan taat pada aturan Allah.

Semata-mata mengaku saya mukmin, belum disebut mukmin.

Mengaku mukmin, KTP Islam, namun belum meyakini dalam hati, dan tidak mau menjalankan tugas dan kewajiban sebagai seorang mukmin, belum dianggap beriman. Sebagaimana kita tahu orang munafik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengikrarkan dirinya sebagai mukmin. Bahkan mereka ikut shalat berjamaah di Masjid Nabawi. Meskipun demikian, mereka tidak dianggap mukmin.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

From: Zorion Anas <zor...@gmail.com>
Date: Thu, 23 Jan 2014 16:18:16 +0700
Subject: Re: [R@ntau-Net] Kalimah ALLAH adalah Hak Eksklusif Umat Islam.

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 23, 2014, 4:36:34 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com
Zorion Anas:

"Hadist nan disabuik tadi hanyo utk panduan zaman nabi sajo, sebagai pengujian Jibril thd keimanan Rasulullah.
Kini zaman nyo alah beda, ujian thd manusia dlm bentuk bencana dan macam2."

ANB:

- Jadi mukasuik apak hadist dari Ibnu Umar r.a. tu alah indak balaku kini? Indak kontekstual? Indak relevan?

ZA:
"... sebagai pengujian Jibril thd keimanan Rasulullah."

ANB:

Pengujian terhadap keimanan Rasulullah? Bukankah di akhir matan hadits itu sendiri, seperti diceritakan Ibnu Umar r.a., lalu beliau bersabda, "Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian." (HR Muslim, Nasa'i, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad). 

Kalau kata-kata Nabi sudah sejelas itu "... untuk mengajarkan agama kalian" yang bermakna itu adalah salah satu metode pengajaran (tarbiyyah) yang dicontohkan Jibril, dari mana Pak Zorion bisa yakin itu "pengujian Jibril thd keimanan Rasulullah?" Loncatan kesimpulan lagi? Hehehe....

 ZA:

"Al quran disebut sebagai sdh mengandung isi kitab2 terdahulu, tapi yg lurus2 sajo. Apo masih paralu bariman ka kitab nan lain?"

ANB:

Ya, tergantung. Kalau menurut apak hadist Nabi dari Ibnu Umar r.a. dianggap alah indak sasuai jo "zaman nan alah beda" dan itu hanyo "panduan zaman Nabi sajo", logika lanjutannya kan alah jaleh pulo.

Mungkin Pak Zorion bisa pulo mencerahkan palanta ko, sia muhadditsin acuan apak nan manyatokan bahwa hadits Ibnu Umar nan diriwayatkan banyak imam tu "hanya sebagai panduan nabi sajo" dan indak relevan lai kini karena "zaman nan alah beda."

Allahu a'lam.

Wass,

ANB
45, Cibubur

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 23, 2014, 4:41:28 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com
Tarimo kasih Mak FMN n.a.h.

itu nan ambo mukasuik an dalam komentar tadahulu, 
indak valid caro Pak Zorion membandingkan "beriman kepada kitab-kitab Allah", dengan contoh "percaya pada rasa sakit, yang tak terlihat, tapi ada."

Wass,

ANB
45, Cibubur

Zorion Anas

unread,
Jan 23, 2014, 4:43:30 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com

Hanyo utk rukun iman no. 4 sajo. Rukun iman 1,2,3,5,6 ala sangek jaleh.

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

Zorion Anas

unread,
Jan 23, 2014, 4:49:44 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com

Jadi rukun iman no. 4 beriman kpd kitab Allah yang lurus (Al-Quran).
Banyak permurtadan terjadi karena menyamaratakan semua kitab yg dipakai sebagai jalan bujuk rayu oleh missionaris agama lain. Oleh sebab itu kalau dlm injil kata Allah dibuang akan membantu pencegahan upaya pemurtadan.

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 23, 2014, 5:37:48 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com
Nah, kini alah jaleh bana bahwa tanyato masalahnyo Pak Zorion manyamokan:

1. Konsep "beriman kepada kitab-kitab Allah" dengan 
2. "Banyak pemurtadan terjadi karena menyamaratakan semua kitab yang dipakai sebagai jalan bujuk rayu oleh missionaris agama lain". 

Iko dua hal nan beda, Pak. Beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah, semua kitab yang diturunkan Allah, adalah wajib hukumnyo berdasarkan hadits Nabi dan ayat-ayat Qur'an nan alah disabuik. Beriman dengan keyakinan penuh, bahwa semua adalah Kalam Allah yang Suci. 

Bahwa konsekuensi penerapan kitab-kitab itu berbeda-beda, misalnya Taurat hanya untuk pengikut Musa dari Bani Israel, Injil hanya untuk pengikut Isa yang juga dari Bani Israel, itu yang membedakan dengan universalitas pesan Al Qur'an. Bukan berarti ado ajaran Taurat atau Injil nan "indak luruih" seperti (ingin) apak tabrakan dengan Surat Al Bayyinah (98). Tidak ada ajaran Taurat atau Injil yang "bengkok" kalau kita beriman bahwa itu adolah kitab-kitab Allah pulo. Tapi dek karano sifat Taurat dan Injil yang tidak universal seperti Al Qur'an, maka hanya prinsip-prinsip dasar Taurat dan Injil saja yang tetap bisa dipakai sampai sekarang. Dan prinsip utama itu adalah pengajaran bahwa Allah itu ahad, inti ajaran semua Nabi.

Adapun soal penyamarataan semua kitab sebagai jalan bujuk rayu, itu yang harus diajarkan terus menerus oleh para mubaligh kepada umat, untuk dilawan. Itu pun dilakukan dengan menggunakan cara-cara Qur'ani (QS 16:125), dan contoh-contoh yang dilakukan Nabi Saw.

Inilah yang sebenarnya menjadi inti pertanyaan dinda Fitr Tanjuang yang menjadi pemantik diskusi topik ini. Pertanyaan Fitr adalah, ambo tampilkan ulang agar indak susah scroll up ka ateh:

1. Apo namo Tuhan nan dipakai dek Kristen Arab (contoh: paman Khadijah, bani Najran Yaman, dll) sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw? Allah atau bukan?

(Ambo tambahkan kolom jawaban:  A. Nama tuhan yang digunakan Kristen Arab sebelum kedatangan Nabi adalah Allah.
                                                                         B. Nama tuhan yang digunakan Kristen Arab sebelum kedatangan Nabi adalah BUKAN Allah.
  
2. Apo adoh larangan dari Nabi ka umat Kristen wakatu itu untuak indak mamakai kato Allah setelah beliau jadi Nabi?

(Tambahan kolom jawaban: A. Tidak ada larangan dari Nabi ka umat Kristen untuak mamakai kato Allah setelah beliau jadi Nabi.
                                                          B. Ada larangan dari Nabi ka umat Kristen untuak mamakai kato Allah setelah beliau jadi Nabi).

3. Apo namo nan dipakai dek umat Kristen Arab zaman kini di Libanon atau Mesir misalnyo? Allah atau bukan?
(Tambahan kolom jawaban: A. Namo nan kini dipakai Kristen Arab tatok Allah saroman urang Kristen sebelum kedatangan Nabi.
                                                          B. Namo nan kini dipakai Kristen Arab BUKAN Allah, tetapi nama yang berbeda.

Dari tigo pertanyaan sederhana Fitr nan jadi variabel kontrol itu sajo sabananyo alah jaleh baa sabaiknyo awak umat Islam basikap. Kalau jawaban untuk tigo pertanyaan adolah "A", manga awak jadi merasa hak menggunakan nama Allah merupakan hak eksklusif umat Islam? 

Tapi kalau katigo jawaban adolah "B", maka seluruh umat Islam harus bersatu untuk mengusahakan agar kata "Allah" tidak dipakai umat Kristen. Dan itu bukan hanya di Malaysia atau Indonesia saja, tapi juga harus dihapus dari Injil bahasa Arab.

Itu kan inti nan hendak disampaikan Fitr, tapi menjadi distorsi bakapanjangan dek Pak Zorion malah mananggapi "Untuk memperkuat aqidah Islam, dst, dengan memberikan link perbedaan Allah dan Yahweh".

Apolai kalau Pak Zorion memperhatikan dengan cermat (mau mengambil terjemahan Qur'an) dari ayat yang disampaikan Fitr Tanjuang sebagai panutuik postingnya:

"Qul atuhajjunana fillahi wa huwa rabbuna wa rabbukum (note: efek bold dari Fitr Tanjuang -- ANB). Lana a'maluna wa laku a'malukum, wa nahnu lahu mukhlisun."
                                                                        
Memang Fitr indak manyabuik sumber ayat, nan sabananyo barasa dari QS 2: 139 dengan terjemahan sbb:

Artinya:
Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati."


Jadi kalau "Allah adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu" untuak apo muslim merasa eksklusif memiliki kata "Allah" padahal Allah sendiri menyatakan "Tuhan kami (muslim) dan Tuhan kamu (non-muslim)"? Yang membedakan adalah "bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu." 

Bukan pada eksklusifitas sebutan. 

Demikian komentar terakhir, panungkek, dari ambo untuak thread ko. 
Kalau manuruik Pak Zorion tatok "hanyo muslim nan berhak memakai kato Allah, dan indak buliah dipakai non-muslim/Kristen", ya indak baa pulo. Everyone's entitled to his/her opinion. Awak bisa "agree to disagree".  Tapi pandapek saroman itu, seperti nan kini diterapkan Malaysia pulo, justru pandapek ahistoris nan indak basanda pado sirah Nabawiyyah yang berakhlak luhur. 

Wallahu a'lam.

Zorion Anas

unread,
Jan 23, 2014, 6:33:13 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com

Tarimokasih sanak ANB, kini bisa disarahkan sajo ke DepAg nan mengatur masalah agamo di Indonesia. Tuntutan gereja utk tidak menggunakan kata Allah di Injil bisa terakomodasi, malah baik utk kaum muslimin. Supayo jaleh "agamu mu, agamamu, agamaku agamaku". Kita tunggu sajo perkembangan selanjutnyo. Tks

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 23, 2014, 6:56:35 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com
Samo-samo Pak Zorion. Tarimo kasih pulo ateh diskusi ko.

Wass,

ANB
45, Cibubur

Zorion Anas

unread,
Jan 23, 2014, 7:28:01 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com

Yo, ambo banyak baraja dari diskusiko. Smg kito selalu dilindungi Allah SWT. Amiin yra

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

hyv...@yahoo.com

unread,
Jan 23, 2014, 8:26:20 AM1/23/14
to milis rang minang
Alhamdulillah.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Zorion Anas <zor...@gmail.com>
Date: Thu, 23 Jan 2014 19:28:01 +0700

Muchwardi Muchtar

unread,
Jan 23, 2014, 9:34:48 AM1/23/14
to rant...@googlegroups.com


---------- Pesan terusan ----------
Dari: Zorion Anas <zor...@gmail.com>
Tanggal: 23 Januari 2014 19.28

Yo, ambo banyak baraja dari diskusiko. Smg kito selalu dilindungi Allah SWT. Amiin yra

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

***


Pada 2014 1 23 18:56, "Akmal Nasery Basral" <ak...@rantaunet.org> menulis:

Samo-samo Pak Zorion. Tarimo kasih pulo ateh diskusi ko.

Wass,

ANB
45, Cibubur

He he he....
Sanak anggota grup milis r@ntaunet n.a.h dan (mudah-mudahan) dirakhmati Allah SWT.

Hikmah buek komunitas r@ntaunet nan ---mungkin--- manonton diskusi nan tajadi samanjak kari kapatang, dan baakhia habih mugarik tadi adoah jo caro mambaco batanang-tanang tulisan nan ---sangajo--- ambo ambiak dari milis tetangga sabalah rumah, saroman nan ado di bawah ko.

Salam................................,
mm***

HADITS PERBEDAAN PENDAPAT ADALAH RAHMAT?

 

Salah satu Hadisth Nabi SAW yang dikenal luas dikalangan  umat Islam adalah sabda Nabi SAW :  “Ikhtilaf umati rahma” atau perbedaan pendapat (dikalangan) umatku adalah rahmat (dari Allah SWT).

 

Berdasarkan hadisth ini maka beragamnya pendapat dikalangan umat Islam sehubungan dengan berbagai urusan/masalah keagamaan justru dinilai sebagai rahmat dari Allah SWT. Padahal dilain pihak seorang awam sekalipun paham bahwa perbedaan pendapat adalah merupakan awal atau sebab terjadinya perpecahan (bercerai-berai), perselisihan dan pertentangan. Apalagi jika perbedaan pendapat itu berkaitan dengan masalah-2 keagamaan, sejarah umat manusia seringkali menunjukan ujungnya berakhir dengan pertumpahan darah.    

 

Padahal jika perbedaan pendapat adalah merupakan rahmat Allah SWT, maka secara a contrario atau sebaliknya tentunya “persesuaian/kesatuan pendapat” adalah merupakan azab atau musibah dari Allah SWT, meskipun persesuaian pendapat merupakan pondasi persatuan dikalangan umat.

 

 Dilihat secara sepintas hadisth “ikhtilaf umati rahma” ini nampaknya sejalan benar semangatnya dengan situasi modern yang mendorong prinsip kebebasan berpikir dan kebebasan berpendapat. Bukankah demokrasi pada hakekatnya adalah juga manifestasi dari proses perbedaan pendapat yang ditentukan secara kuantitatif? Dimana perbedaan pendapat itu di representasikan dalam bentuk pendapat yang banyak/mayoritas dan yang sedikit/minoritas. Menurut paham demokrasi pendapat yang banyaklah yang benar, bahkan dianggap setara dengan pendapat Tuhan (vox populi vox dei), sedangkan pendapat yang sedikit/minoritas adalah pendapat yang salah atau pendapat syaitan.

 

Ketentuan Kitabullah

 Masalahnya apakah prinsip “perbedaan pendapat” ini dapat diberlakukan berkenaan dengan urusan agama (Islam)?.

Untuk mencari jawabannya marilah kita lihat apakah yang di Firmankan oleh Allah SWT didalam Al Quran.

 Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh.

(QS. Al Baqarah [2] : 176)

 

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.

Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

(QS. Al Baqarah [2] : 213)

 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; …”

(QS. Ali Imran [3]: 103)

 

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,

(QS. Ali Imran [3]: 105)

 

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.

(QS. Ali Imran [3]: 152)

 

Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

(QS. Yunus [10] : 19)

 

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.

(QS. Huud [11] : 118)

 

Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.

(QS. Asy Syuura [42] : 10)

 

 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul, …”

(QS.  An-Nisa [4]: 59)

 

 “dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. …”

(QS. Al An’am [6]: 153)

 

 “Dan kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya”.

(QS. Al Jasiyah [45]: 17)

 

Berdasarkan beberapa ayat yang memuat Firman Allah SWT di dalam Al Quran tersebut diatas (hanya sebahagian kecil saja ayat yg dikutip, masih banyak lagi ayat senada pada Al Quran), jelas bahwa Allah SWT tidak menghendaki umat Islam bercerai-berai karena saling berbeda pendapat. Sebaliknya justru Allah SWT menghendaki agar umat Islam bersatu padu layaknya saling bersaudara. Bahkan pada QS. Ali Imran [3] : 105, Allah SWT mengancam akan memberikan siksa yang berat kepada orang-2 yang berselisih.

 

Pertanyaannya adalah, mengapa justru Hadisth Nabi SAW justru mengatakan perbedaan pendapat itu adalah rahmat dari Allah SWT? Bukankah jelas sekali terlihat adanya perbedaan maknanya dengan Firman Allah pada Al Quran?.

 

Sekilas Tentang Hadist Rasulullah SAW

 

Sebelum membahas secara lebih mendalam tentang hadist “ikhtilaf umati rahma”, ada baiknya jika dijelaskan secara ringkas tentang apa yang dimaksudkan dengan hadist itu sendiri.

 

Hadist menurut Bahasa Arab adalah “ucapan” , tetapi dalam perkembangannya menurut kontek Islam, hadist kemudian mengandung arti sebagai catatan tertulis tentang segala ucapan (atau diamnya) dan tindakan (baik aktif maupun pasif) yang berasal dari Nabi Muhammad SAW, atau disebut juga sebagai Hadist Nabi SAW.

Karena Hadist Nabi SAW mengandung segala sesuatu yang berkaitan dengan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW yang harus diikuti, dipatuhi dan ditaati oleh umat Islam, maka “Hadist Nabi SAW” juga dikatakan sebagai “Sunnah Nabi SAW”.

 

Sunnah Nabi SAW menempati urutan kedua setelah Al Qur’an sebagai sumber dari segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran Agama Islam, berdasarkan firman Allah SWT :

 

Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.        

(QS. Al Anfal [8] : 46

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

(QS. Al Ahzab [33] : 36)

 

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkan-nya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.

(QS. An Nisa [4] : 14)

 

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.

(QS. An Nuur [24] : 52)

 

Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barangsiapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih.

(QS. Al Fath [48] : 17)

 

 

 

PENJELASAN TENTANG HADITS “PERBEDAAN DIANTARA UMMATKU ADALAH RAHMAT”         

Segala puji bagi Allah –subhanahu wa ta’ala- atas anugerah yang senantiasa tercurah, shalawat dan salam semoga terhatur bagi Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat dan seluruh umatnya hingga hari kiamat.

            Redaksi hadits di atas sangatlah masyhur di tengah kaum muslimin dewasa ini, hampir seluruh lapisan masyarakat menghafalnya, mimbar-mimbar jum’at terguncang olehnya, lisan-lisan begitu fasih mengumbarnya, namun satu hal yang perlu kita pertanyakan, bagaimanakah derajat hadits diatas menurut para pakar hadits?, untuk menjawab pertanyaan diatas, kami suguhkan dalam artikel ini hasil kajian Fadhilatus Syaikh Muhadditsul ‘Ashr Muhammad bin Nashiruddin al-Albani –rahimahullah- terhadap hadits ini, semoga artikel sederhana ini bisa mengobati kegusaran kita atas pertanyaan di atas, wallahu waliyyut taufiq.

 

Redaksi Hadits:

اختلاف أمتي رحمة

Artinya: Perbedaan di antara ummatku adalah rahmat

Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Nashirudin al-Albani mengatakan: ”hadits ini tidak ada asal usulnya.

            Sungguh para ulama pakar hadits telah berupaya untuk mendapatkan sanad[1] hadits ini, namun mereka tidak mendapatkannya, sampai as-Suyuthi –rahimahullah- mengatakan: ”Mungkin hadits ini diriwayatkan dalam kitab para ulama yang [kitab tersebut] hilang sehingga tidak sampai ke tangan kita”.

            Menurut pendapatku [Fadhilatus Syaikh Albani], pernyataan ini jauh dari kebenaran, karena konsekwensi dari ucapan ini adalah justifikasi atas lenyapnya hadits-hadits Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam-, tentunya sangat tidak layak bagi seorang muslim untuk meyakini pernyataan ini.

            Al-Munawi –rahimahullah- menukil pernyataan Tajuddin as-Subki –rahimahullah-, bahwa beliau mengatakan: ”hadits ini tidak dikenal di kalangan para ahli hadits, dan saya belum mendapatkan sanadnya, baik yang derajatnya shahih, hasan, maupun yang derajatnya palsu”. Fadhilatus Syaikh Zakariya al-Anshari –rahimahullah- menyepakati pernyataan tersebut dalam komentarnya atas tafsir al-Baidhawi.

            Adapun kritikan dari sisi makna hadits, maka sesungguhnya makna yang terkandung dalam hadits ini telah diingkari oleh para ulama peneliti, Ibnu Hazm ad-Dhahiri –rahimahullah- mengatakan dalam kitabnya “al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam”, setelah beliau mentarjih bahwa riwayat diatas [perbedaan diantara umatku adalah rahmat] bukanlah hadits Nabi: ”pernyataan ini sangat rusak, sebab jika kita terima bahwa perselisihan diantara umatku adalah rahmat maka konsekwensinya adalah kesepakatan umat adalah kebencian [Allah], dan seorang muslim tentu tidak akan mengucapkan perkataan ini, karena hanya ada dua opsi, kesepakatan atau perselisihan, maka hasilnya-pun salah satu diantara dua hal, rahmat atau kebencian [Allah]. Dan di halaman lain dari kitabnya beliau mengatakan:”hadits ini batil dan palsu”.

            Diantara dampak negatif dari hadits ini adalah tenggelamnya para penganut empat madzhab dalam perselisihan dan perpecahan, dan nampaknya tidak ada upaya untuk merujuk kepada al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih [untuk mentarjih perselisihan tersebut], sebagaimana yang dianjurkan oleh para imam mereka –radhiyallahu ‘anhum-, bahkan mereka mengumpamakan madzhab-madzhab yang beragam bak syariat yang beragam, mereka mengatakan pernyataan ini, padahal mereka mengetahui bahwa sebagian perselisihan dan kontradiksi tidak bisa ditarjih kecuali setelah merujuk kepada dalil, dan menolak pendapat yang menyelisihi dalil serta menerima pendapat yang lebih dekat kepada dalil, namun mereka tidak melaksanakan hal tersebut, maka dengan ini seakan mereka menisbatkan kepada agama ini kontradiksi, dan hal ini merupakan bukti kuat bahwa perselisihan tersebut bukan datang dari Allah –subhanahu wa ta’ala- jika mereka benar-benar merenungi firman Allah:

ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا

Artinya: Dan seandainya [al-Qur’an] datang dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di dalamnya perselisihan yang banyak.

            Ayat di atas dengan gamblang menyatakan bahwa perselisihan bukan datang dari Allah, maka sangat keliru apabila menjadikannya [perselisihan] sebagai bagian syariat, dan amat besar salahnya apabila menjadikannya [perselisihan] sebuah rahmat.

 

            Dan disebabkan hadits ini pula, mayoritas kaum muslimin -pasca berakhirnya masa imam empat madzhab-  terjerembab dalam jurang perselisihan dalam masalah ilmiah [aqidah] maupun amaliyah [ibadah], alangkah indahnya apabila mereka mengetahui bahwa perselisihan adalah sebuah keburukan –sebagaimana yang dikatakan Ibnu Mas’ud- yang ditaqrir  di dalam al-Qur’an dan hadits yang shahih, niscaya mereka akan berbondong-bondong untuk bersepakat dalam banyak permasalahan yang telah Allah tegakkan dalil tentangnya, dan kemudian berupaya membuka pintu udzur bagi beberapa masalah yang mungkin masih terbuka pintu perbedaan di dalamnya, namun bagaimana mereka akan melaksanakan hal ini jika menurut anggapan mereka bahwa perselisihan adalah Rahmat dan keberagaman madzhab bagaikan  keanekaragaman syariat. Dan jika anda ingin mengetahui betapa besar perselisihan dalam tubuh umat ini, maka tiliklah beberapa masjid di tengah kaum muslimin, niscaya anda akan mendapatkan beberapa diantaranya memiliki empat buah mihrab, yang kemudian masing-masing mihrab menjadi tempat shalat madzhab-madzhab tersebut.

 

            Bahkan lebih dari itu, sebagian penganut madzhab rela mengakhirkan shalat demi melaksanakannya bersama sang imam madzhab, seakan-akan madzhab adalah agama yang berbeda-beda,  dan hal ini tentunya tidaklah aneh, sebab para ulama madzhab tersebut membisikan kepada mereka:”bahwa madzhab-madzhab tersebut bak syariat yang beragam”, lupakah gerangan mereka dengan sabda Nabi - shallallahu ‘alaihi wa sallam-:”Apabila iqamat telah terdengar, maka tidak ada shalat selain shalat wajib [dengan berjamaah]”[2]. Namun ternyata mereka berani menyelisihi hadits tersebut demi menjaga fanatisme terhadap madzhab, seakan keagungan madzhab lebih besar dibanding  keagungan hadits-hadits Rasulullah - shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

 

            Ringkasnya, perselisihan merupakan hal tercela dalam syariat islam, olehnya kewajiban kita adalah menjauhinya sesuai kemampuan, sebab hal itu merupakan faktor pelemah umat, sebagaimana firman Allah:

ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم

Artinya: Janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian menjadi lenyap.[3]

 

            Adapun sikap ridha terhadap perselisihan, bahkan menyifatinya dengan rahmat, maka hal ini menyelisihi ayat-ayat al-qur’an yang mencelanya, dan ungkapan tersebut tidak berpijak pada dalil kecuali hadits  yang tidak memiliki asal usul ini.

            Setelah pembahasan ini, mungkin akan terbetik dalam sanubari kita sebuah pertanyaan besar, sesungguhnya para sahabat berselisih dengan sahabat yang lain, apakah mereka tercakup pula dalam celaan yang kita bahas tadi?.

 

            Jawaban dari pertanyaan ini datang dari Ibnu Hazm –rahimahullah-, beliau berkata: ”sekali-kali tidak, sesungguhnya para sahabat tidak tercakup dalam celaan diatas, sebab setiap dari mereka berupaya untuk menapaki jalan Allah, apabila mereka terjatuh pada kesalahan maka satu pahala tercatat untuk mereka atas niat terpuji dalam hati mereka berupa upaya untuk mendapatkan kebaikan, dan tidak tercatat atas kesalahan tersebut sebagai dosa karena terjatuhnya mereka ke dalam kesalahan bukan disebabkan unsur kesengajaan dan kelalaian dalam menuntut kebenaran, dan apabila pendapat mereka benar maka dua pahala tercatat untuk mereka, hal ini berlaku pula bagi seluruh kaum muslimin yang samar bagi mereka kebenaran dan belum sampai kepada mereka dalil. Adapun celaan yang tercantum dalam nash-nash al-qur’an dan sunnah, berlaku bagi orang yang meninggalkan dalil al-qur’an dan assunnah setelah sampainya dalil dan hujjah kepadanya, dan bergantung kepada pendapat si fulan dan si fulan, lebih mengutamakan taklid buta dan bermaksud untuk berselisih, mengajak pada fanatisme golongan dan seruan jahiliyah, sengaja untuk berpecah belah, menolak dalil dari al-qur’an dan assunnah, apabila dalil sesuai dengan nafsunya maka dia akan mengambilnya, namun jika dalil tersebut berkontradiksi dengan nafsunya, maka dalilpun akan dicampakkan[4], Wallahu Musta’an.

 

            Berakhirlah kajian kita tentang hadits “perselisihan diantara umatku adalah rahmat”, semoga artikel sederhana ini bisa memberikan faedah bagi segenap kaum muslimin tentang titik lemah dari hadits tersebut, dan bisa membangkitkan semangat untuk mentarjih pendapat yang memiliki pijakan dalil dari al-qur’an maupun assunnah. Dan akhirnya, serangkaian doa kami hadiahkan untuk Fadhilatus Syaikh, semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan menerima amalan beliau serta menempatkan beliau di surga-Nya, akhirul kalam, Shalawat dan Salam semoga tercurahkan untuk Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat, kerabat, dan seluruh pengikutnya sampai datangnya hari kiamat.        

           

  


[1]. Mata rantai perawi hadits yang meriwayatkan hadits ini.

[2]. HR. Muslim dan yang lainnya.

[3]. Surat al-Anfal 46

[4]. Sumber dari artikel ini adalah kitab “ Silsilah Ahadits ad-Dhaifah wal Maudhu’ah Wa Atsaruha as-Sayyi’ Fil Ummah, karya Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –rahimahullah-

 


Fitrianto

unread,
Jan 23, 2014, 12:57:45 PM1/23/14
to rant...@googlegroups.com
AslmWrWb
 
Iyo Uda ANB.
Ambo lah di Albany NY baliak. Mungkin 2-3 tahun pulo di siko.
Sadang dihantam salju jo dingin kini ko./
 
Wassalam
fitr

2014/1/22 Akmal Nasery Basral <ak...@rantaunet.org>

Frida Hussein

unread,
Jan 23, 2014, 1:25:57 PM1/23/14
to rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum dinda Fitr dan kel. 
Selamat datang lagi di Albany. Bilo tibo, jalan2 la ka DC.
Salam buat istri n anak2. 
Wassalam,
uni Ida 
Washingkn DC.

Sent from my iPhone
--

Fitrianto

unread,
Jan 23, 2014, 4:11:09 PM1/23/14
to rant...@googlegroups.com
AslmWrWb
 
Diskusinyo alah closing statement katiko ambo sadang lalok yo...:)
 
Tambahan dek ambo, nan datang dari ahli kitab indak buru2 kito iyokan atau kito indakkan, kecuali nan lah dikonfirmasi dek AlQur'an dan Hadits.
 
Wassalam
fitr
2014/1/23 Zorion Anas <zor...@gmail.com>

Fitrianto

unread,
Jan 23, 2014, 4:17:42 PM1/23/14
to rant...@googlegroups.com
Uni Ida,
Alaikumussalam wr wb
 
Iyo, kami lah disiko sajak bulan patang dan baru dapek apartemen minggu lalu.
Kalau lah mulai angek nagari paman Sam ko, insya Allah kami kunjungilah ciek2 baliak.
Utang nan alun tabayia adolah mengunjungi Ten Ben Tennessee nan lah pernah ka Albany.
 
Melati lah punyo adiak padusi, namonyo Hiqari (nur dlm bahaso Japang) baumua 1.5th.
Beda jo kakaknyo, Hiqari suko mangamuak kalau dikabek di pesawat atau di car seat...:)
 
Salam pulo untuak keluarga.
 
Wassalam
fitr 

2014/1/23 Frida Hussein <idah...@hotmail.com>

Andre Suchitra

unread,
Jan 23, 2014, 8:40:18 PM1/23/14
to rant...@googlegroups.com
Semoga bermanfaat:
http://abuabdurrohmanmanado.wordpress.com/tag/hukum-mempelajari-injil/

=============================================================================================

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang seorang muslim yang membuka-buka kitab Taurat dan Injil serta membacanya hanya sekadar ingin tahu saja, tidak ada tujuan yang lainnya. Haruskah kita mengimani keduanya?

Dijawab oleh syaikh kurang lebihnya demikian:

Wajib bagi setiap muslim untuk beriman kepada kitab-kitab tersebut; Tauratnya, Injilnya maupun Zaburnya. Maka kita wajib mengimaninya bahwa kitab-kitab tersebut telah diturunkan Allah kepada para nabi-Nya. Dan Allah juga telah menurunkan lembaran-lembaran yang berisikan perintah dan larangan, ancaman dan peringatan, berita-berita yang telah terjadi di masa lalu, berita tentang surga dan neraka, juga yang semisal dengan itu.

Akan tetapi bukan berarti boleh dipakai, karena kitab-kitab tersebut telah mengalami penyelewengan, pergantian maupun perubahan. Dan bukan juga berarti boleh melihat-lihat kitab Zabur, Taurat dan Injil atau membacanya. karena yang demikian amatlah berbahaya, karena terkadang isinya mendustakan kebenaran atau membenarkan kebathilan. Karena kitab-kitab ini telah diselewengkan dan telah diubah, juga telah disusupkan ke dalamnya oleh mereka-mereka dari kalangan kaum Yahudi maupun Nasrani maupun selain mereka baik dengan perubahan, penyelewengan, pendahuluan maupun penundaan. Dan cukuplah bagi kita kitab suci kita sebagai pedoman; yaitu Al-Qur’an.

Dan telah diriwayatkan dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bahwasanya:

 رأى في يد عمر شيئا من التوراة فغضب وقال: أفي شك أنت يا ابن الخطاب ؟ لقد جئتكم بها بيضاء نقية لو كان موسى حيا ما وسعه إلا اتباعي

Beliau pernah melihat di tangan Umar sebagian dari lembaran kitab Taurat, maka marahlah Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: “Apakah engkau dalam keraguan wahai Ibnal Khoththob? Sungguh aku telah membawakan kepadamu cahaya putih yang bersih. Kalaulah sekiranya Musa masih hidup, maka tidak ada keringanan baginya melainkan harus mengikuti aku.” (Musnad Imam Ahmad 3/387, Sunan Ad-Darimi di dalam mukadimahnya 435)

Yang kami maksud: Kami nasehatkan anda dan orang-orang selain anda untuk tidak mengambil dari kitab-kitab tersebut sedikitpun, tidak dari Taurat, dari Zabur dan tidak pula dari Injil. Dan jangan anda melihat-lihatnya, dan jangan membacanya sedikitpun. Bahkan apabila anda memiliki sebagiannya saja dari kitab-kitab tersebut maka tanamlah atau bakarlah. Karena kebenaran yang ada padanya telah dicukupkan oleh Kitabulloh Al-Qur’an, dan perubahan maupun penggantian yang ada di dalamnya merupakan kebatilan dan kemungkaran.

Maka yang wajib bagi setiap mukmin untuk mawas diri yang demikian, dan memperingatkan dari membuka-buka kitab-kitab tersebut. Terkadang isinya membenarkan kebatilan dan mendustakan kebenaran, sehingga jalan selamatnya ialah dengan menimbunnya atau membakarnya.

Kendati demikian, terkadang dibolehkan bagi seorang alim yang memiliki pandangan yang luas melihat kitab-kitab tersebut, demi membantah musuh-musuh islam baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh nabi untuk menghadirkan kitab Taurat manakala Yahudi mengingkari hukum rajam agar melihatnya kembali kepada kitab Taurat, hingga mereka pun mengakuinya.

Maksudnya: Bahwa para ulama yang luas pengetahuannya terkadang mereka butuh untuk mengkaji kitab Taurat, Injil atau Zabur untuk tujuan yang Islami; seperti membantah musuh-musuh Islam atau menjelaskan keutamaan Al-Qur’an dan kebenaran serta petunjuk yang ada di dalamnya. Adapun orang yang awam atau yang serupa dengannya, maka mereka tidak berhak melakukan yang demikian. Bahkan kapanpun mereka mendapati sebagian dari Taurat atau Injil maupun Zabur, maka yang wajib baginya ialah menimbunnya atau membakarnya agar jangan ada satupun yang menjadi tersesat karenanya.

(Nur ‘alad Darb, Ibnu Baz 1/11)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Abduh hafidzhahullahu Ta’ala

Disalin dari artikel blog Rizky Abu Salman untuk blog Abu Abdurrohman


===================================================================================

Andre
25/Singapur


2014/1/24 Fitrianto <fitr.t...@gmail.com>
--

muhammad syahreza

unread,
Jan 23, 2014, 8:51:37 PM1/23/14
to rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum wr.wb.

Untuak masalah agamo elok dibahas di biliak nan lain, dulu ado biliak Surau. Karano dulu RN difokus kan untuak silaturahim jo membangun komunikasi ranah jo rantau. Mambahas masalah perbedaan pandapek dalam pemahaman islam tu ndak ka salasai sampai kiamaik do. Labiah elok mancari persamaan daripado mambahas perbedaan.

salam
Reza 
37, Sikumbang, Bekasi

Zorion Anas

unread,
Jan 23, 2014, 9:16:57 PM1/23/14
to rant...@googlegroups.com

Uraian yg sangat menarik sanak Andre, isinya bagus utk diteladani

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 25, 2014, 2:48:56 AM1/25/14
to rant...@googlegroups.com
Semoga tabligh dengan Ust. Adian Husaini besok berjalan lancar, Mak MM***

Ambo kalau mandanga tausiyah baliau, acok taringek Ust. Mawardi Noor (di tahun 80-an) nan juo salalu tajam pilihan kato-katonyo.

Wass,

ANB
45, Cibubur   

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 25, 2014, 3:21:03 AM1/25/14
to rant...@googlegroups.com
Dinda Fitr al-Albaniyyah :)

Iko indak bakaik langsung jo thread awal, tapi Subuh tadi ado peristiwa yang menggetarkan ambo dan rasonyo ado baiaknyo dibagi di palanta.

Subuah tadi ambo jo duo anak gadih ambo shalat di Musajik Darussalam, Kota Wisata Cibubur. Induak bareh indak pai dek karano sadang berhalangan.
Usai salam ka kida, di posisi jam 8 (pado shaf kaduo di belakang ambo) ambo mancaliak wajah kawan lamo ambo, Ferry, nan alah indak basuo sekitar 20 tahun. 
Iko akan manjadi kisah biaso sajo saandainyo kawan ambo tu adolah muslim sajak dulu. Mungkin awak hanyo takujuik saketek batamu jo kawan lamo indak sangajo.

Nan mambuek peristiwa manjadi spesial adolah dek kawan ambo tu dulunyo non-muslim (Katolik), Cino Surabaya. Ambo kenal juo jo ayah dan adiak-adiaknyo (induaknyo alah wafat wakatu ambo mulai bakawan jo mereka). Bahkan paranah satu kutiko saat kawan ambo ko memulai usaha ketek rumahan (mambuek box di belakang motor untuk jasa delivery dari perusahaan semacam Pizza Hut, KFC, dll) nan saat itu alun dilirik oleh bisnis besar (Ferry mangumpulkan beberapa tukang, dan mendesain sendiri box motor sambil eksperimen mencari bahan apa yang cocok), satu kali inyo talibek masalah hukum jo perusahaan gadang.

Wakatu itu ambo mancarian pengacara pro-bono untuak kasusnyo, dan dek awak masih usia kuliah, basamo-samo naiak bis dari rumah "kantua/bengkel"-nyo ka rumah sang pengacara nan wakatu itu cukup tanamo. Usai pertemuan dengan sang pengacara, sabalun pulang ado ucapan sang pengacara nan takana taruih oleh ambo sampai kini, "Kawanmu ini Cina ya?" keceknyo sambia manunjuak Ferry nan agak jauah tagak dek karano awak memang alah handak pulang. "Agak susah masalah ini jadinya," sambuangnyo. Ambo indak tau bana apo mukasuik perkataan sang advokat saat itu, tapi itulah pertemuan pertama dan terakhir kami dengan beliau. Satu-satunya pertemuan.

Satalah itu, ambo agak lupo pulo bagaimana kelanjutan kasus nan melanda Ferry (terkait soal design dan hak cipta box di belakang motor tu), sampai intensitas pertemuan awak juo bakurang tasabak kasibukan masing-masing. Nan tarakhia ambo danga, masalah teratasi. Dan Ferry masih menjadi kakak nan aktif ke Gereja mengajak katigo adiaknyo sebab sang ayah masih acok di Surabaya dengan kesibukan lain dan hanyo sasakali ke Jakarta, ka rumah nan saat itu mereka kontrak.

Baliak ka peristiwa Subuah tadi, dek karano alah 20 tahuan indak batamu, agak ragu ambo mamanggia namonyo. Tanyato inyo manoleh dan menjawab panggilan ambo. Alhamdulillah. Tanyato memang inyo urangnyo. Namun awak alun sampek maota panjang dek karano Ust. Dr. Erwandi Tarmizi, MA, pakar ekonomi syariah, nan maisi kuliah Subuah, alah manuju tampeknyo dan mulai membuka ceramah.

Kalau ambo manganang bagaimana Ferry dulu nan cukup agamis, sebagai surang Katolik, dan malieknyo tadi pagi barado di barisan jamaah Subuh ("shalat yang paling berat bagi kaum munafik," kecek Nabi Saw), betapa benarnya Firman Allah dalam QS 2:26, "betapa banyak orang yang disesatkanNya, sebagaimana banyak pula yang diberiNya hidayah."

Ruponyo apo nan ambo caliak usai shalat Iedul Adha lampau adalah bana pulo. Wakatu itu usai shalat di tanah lapang nan panuah, dalam perjalanan manuju oto, ambo maraso pulo maliek Ferry dengan istri (bajilbab) dan anak-anak nan alah remaja di sekitar kaduonyo. Cuma wakatu itu ambo bapakia mungkin sajo itu urang nan mirip, bukan Ferry (dek takanang bagaimana hidupnyo di awal 90-an). 

Surang ahli Kitab alah mandapek celupan (shibghah) Allah. Dan dek karano itu manyangkuik surang kawan lamo, lain pulo rasonyo raso haru hati mancaliek sapinteh perjalanan spiritual seseorang. 

Wass,

ANB
45, Cibubur

Fitrianto

unread,
Jan 28, 2014, 9:39:56 PM1/28/14
to rant...@googlegroups.com
Uda ANB,
 
kalau pakai ta marbuthah albany-nyo, padusi ambo jadinyo mah...:)
Alhamdulillah kawan uda ANB dapek hidayah dan bantuaknyo kuek mamaciknyo.
 
Kalau ambo punyo carito sabaliaknyo.
Kenalan sasamo alumni Japang (baru sakali tamu darek, jadi indak akrab bana, kecuali di email), mulai dari aktifis kampus musajik Salman --> jadi liberal --> mengumumkan diri jadi murtad.
 
Dan itu bukan dek bodohnyo. Inyo dosen awalnyo, kemudian maambiak master di Japang sampai PhD (bidang fisika), ditawari jadi direktur pabrik Japang di Karawang dan kini jadi eksekutif di perusahaan na labiah gadang.
 
Dan bininyo rang awak dan katonyo mintuanyo aktifis SAS (sulik aia ?).
 
Ilmu dan kekayaannyo malah maantakan jadi murtadin.
Wakatu basobok thn 2010, inyo jaleh2 mangatokan indak picayo lai ka AlQur'an (dan ju agamo2 saluruahnyo), tapi masiah sumbahyang.
Mudah2an adoh jalan baliak. kalau indak baa kolah nasib anak bininyo.... 
 
Selain kristenisasi, manuruik ambo nan marak adolah murtadin atheis macam iko...
 
Btw, saat jadi liberal (alun murtad), tokoh pujaannyo adolah Syafii Ma'arif nan kato inyo mirip jalan hiduiknyo jo inyo (dari pejuang syariah jadi anti syariah).
 
Wassalam
fitr

2014-01-25 Akmal Nasery Basral <ak...@rantaunet.org>

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 28, 2014, 11:10:39 PM1/28/14
to rant...@googlegroups.com
Dinda FT,

Sasamo alumni Japang nan dicaritoan di bawah ko apokah nan berinisial HA alias Kang H alias  "Sutan PG"?
 Satahu ambo inyo pernah jadi visiting researcher di Kumamoto pulo -- mungkin kutiko itulah batamu jo dinda Fitr -- meski sabananyo inyo alumni Tohoku (kalau ndak salah).

Semoga bukan inyo urangnyo.

Wass,

ANB
45, Cibubur

Fitrianto

unread,
Jan 29, 2014, 12:39:51 PM1/29/14
to rant...@googlegroups.com
Uda ANB,
 
iyo, urang nan samo.
Tapi ambo indak basobok jo inyo di Kumamoto doh, tp thn 2010 di Karawang pabrik Japang tampek inyo jadi direkturnyo.
 
Samaso di Kumamoto inyo adolah ustadz nan acok manjadi khatib sumbayang Jum'at (alun adoh musajik wakatu tu), dan pernah jadi penghulu nikah nan manikahkan TKI jo rang Japang (masuk Islam).
 
Mudah2an kinipun masiah sumbayang walaupun mangaku murtad...
Lah 2 tahun kok indah adoh kontak ambo jo inyo.
 
Wassalam
fitr


 
2014-01-28 Akmal Nasery Basral <ak...@rantaunet.org>

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 29, 2014, 9:50:28 PM1/29/14
to rant...@googlegroups.com

Dinda FT, 
kok iyo inyo urang nan samo, berarti iko carito kaduo nan ambo danga dalam 4 bulan terakhir.

Nan patamo saat ambo ikuik sebuah pengajian oleh ust. alumni Gontor dan Al Azhar Kairo. Usai pengajian, sekitar 5-6 orang (tamasuak ambo jo sang ust.) masih maota. Tiba-tiba salah surang mananyokan baa caro mengingatkan/menghadapi surang senior nan "dulunya sangat ahli mengutip ayat-ayat Qur'an dan hadits, tapi belakangan ini pendapatnya sangat bertolak belakang, bahkan saya dengar orang ini juga sudah mengatakan bahwa dia keluar dari Islam, meski saya tidak dengar langsung," kecek jamaah ko. Lalu inyo menjelaskan lebih jauh bahwa  sang senior ko adolah alumni Jepang, salah surang doktor fisika terbaik yang dimiliki Indonesia sekarang, dll, keterangan nan sarupo dinda Fitr jalehan. (Tanyato si pananyo alumni Jepang pulo).

Pertanyaan itu lalu dijawab sang Ustadz agak panjang. Sasudah salasai, ambo manyalo saketek ka pananyo. "Maaf, orang yang bapak sebutkan tadi itu HA, bukan?" 
Takajuik si bapak pananyo. "Betul, Pak. Bapak kenal juga dengan beliau?"
"Kenal langsung belum," jawab ambo. "Tapi beliau aktif di salah satu milis jurnalis yang juga saya ikuti. Jadi saya cukup tahu latar belakang pendidikannya, selain membaca beberapa tulisan di blognya."

Satalah itu inyo (HA) acok bakomentar di wall FB ambo. Tadi pagi ambo caliek di wall FB-nyo, profile foto masih inyo jo anak padusinyo nan bajilbab. Dan untuak cover foto adolah bukunyo nan baru tabik "Minoritas Muslim di Jepang" bulan Januari ko. Di sampul buku ado endorsement panjang dari Anies Baswedan nan kalimek patamo sbb: "Sebuah catatan menarik tentang Jepang dari sudut pandang seorang muslim ..."

Jika Anies Baswedan manulih co itu, ado duo kemungkinan:
1. AB iyo tahu bahwa HA ko (masih) muslim, atau
2. AB samo sekali indak tahu bahwa HA (alah) murtadin (jika dugaan dinda Fitr tapek). 

Allahu a'lam.

Wass,

ANB

Fitrianto

unread,
Jan 31, 2014, 2:04:48 PM1/31/14
to rant...@googlegroups.com
Uda ANB,
 
urangnya memang vokal dan canggih mambangun koneksi. makonyo jadi aset hilang...:(
 
dulu pernah disindia dek sasamo alumni Jpg, baa kok di blognyo (tamasuak cerpen) tulisannyo masiah saroman ustadz? jaweknyo, dek itu nan disukoi pasar (pangsa pasar gadang). bahaso inyo masiah maanta anaknyo pai mangaji, itu pun pernah disabuiknyo. tamasuak kakaknyo nan bausaho untuak manyadarkan inyo baliak (dan kemungkinan urang tuonyo indak tau).
Jadi dugann ambo, AB pun indak tau (tapi baa kok AB nan maagiah sambutan, apo inyo alumni japang pulo?..:))
 
intinyo dek ambo, kok urang nan lah tinggi ilmunyo dan naiak karir jo kekayaannyo, bisa tagalincia, baa pulo lah rang kampuang awak ka diadu jo evangelist raksasa samacam J Riady Lippo tu.....indak sampai ilmunyo di ambo doh (analogi ambo: mamasuakkan harimau lapa ka kandang kabau nan sadang lamah).
 
makin juah dari judul yo.....:)
 
Wassalam
fitr 

2014-01-29 Akmal Nasery Basral <ak...@rantaunet.org>:

Dinda FT, 

Dr. Saafroedin Bahar

unread,
Jan 31, 2014, 3:48:47 PM1/31/14
to rant...@googlegroups.com, rant...@googlegroups.com
Bung Akmal, luar biasa mutu tausiyah Bung Akmal iko. Alun panah ambo mambaco penjelasan sadalam iko. Tarimo kasih.
Wassalam,
SB, 77, Sby.

Sent from my iPad

On 23 Jan 2014, at 15.36, Akmal Nasery Basral <ak...@rantaunet.org> wrote:

Iyo unik caro diskusi Pak Zorion ko mah yo. 
Ambo batanyo mohon dijalehkan dalil nan apak pakai untuk menyatakan bahwa beriman kepada kitab-kitab Allah adolah hanya "beriman kepada Al Qur'an" seperti apak tulih, tapi bukannyo dijawek malah ditanyo baliak ka ambo: "Tolong tunjukkan ayat al quran dmn Allah menyuruh ummat utk mengikuti perintah2 kitab terdahulu. Rukun Iman ke 4,spt yg sanak kemukakan."

Baiaklah ambo jawek partanyaan Pak Zorion:

1.  Dari Ibnu Umar,  ayah saya Umar bin Khattab r.a. berkata: 
 
"Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah Saw, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi Saw ...dst ...  kemudian berkata: "Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam." 

Kemudian Rasulullah menjawab Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dst ... Orang itu berkata, "Engkau benar." Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkan. Orang itu bertanya lagi, "Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman?" Rasulullah Saw menjawab: "Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasulnya, hari akhir, dan kepada takdir yang baik dan yang buruk." Orang tadi berkata, "Engkau benar." Lalu orang itu bertanya lagi... dst ttg ihsan... lalu Nabi menjawab tentang ihsan ... dst... lalu orang itu bertanya lagi tentang kiamat, lalu Nabi menjawab ttg tanda-tanda kiamat ...dst... Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi bersabda, "Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu?" Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Lalu beliau bersabda, "Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian." (HR Muslim, Nasa'i, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).


Perhatikanlah matan (isi) hadits itu, Nabi indak manjawab pertanyaan malaikat Jibril,  "Iman adalah percaya kepada Allah, para malaikat-Nya, Al-Qur'an ... dst ..."
Ini menunjukkan bahwa iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para rasul sebelum turunnya Al Qur'an adalah mutlak adanya. 

2.  Dalil dalam Al Qur'an untuk beriman kepada kitab-kitab Allah:

2.1.  QS Al Baqarah (2) ayat 136

“Katakanlah (wahai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan kitab yang diturunkan kepada kami, dan kitab yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan kitab yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kitab yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”  

2.2. QS Al Maidah (5) ayat 8

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai muhaimin terhadap Kitab-Kitab yang lain itu.”  

Muhaimin yakni sebagai hakim terhadap kitab-kitab terdahulu. Para mufassirin berpendapat makna ayat ini adalah tidak boleh mengamalkan hukum apapun yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu kecuali jika dibenarkan dalam Al-Qur`an. 

Jadi, jelas sekali bahwa kitab-kitab Allah sebelumnya tidak boleh diamalkan lagi, melainkan sepanjang ajarannya tidak bertentangan dengan Al Qur'an maka ajaran itu masih valid (misalnya dalam 10 Perintah Tuhan yang terkenal itu, ajaran tidak boleh mencuri, membunuh, berzina, harus berbuat baik kepada orang tua, dst, tetap berlaku karena yang demikian pun yang diajarkan Qur'an).

Nah, dek karano ambo alah manjawek tanyo Pak Zorion jo 3 (tigo) dalil, tolong Pak Zorion sampaikan dalil apak (cukuik ciek sajo) bahwa maksud "beriman kepada kitab-kitab Allah" itu adolah saroman pengertian bapak, yakni hanya "beriman kepada Al Qur'an" saja?

3. Tentang ABS-SBK, apa kitabullah di sini termasuk Taurat, Zabur, Injil? "Kebablasan nanti," tulis Pak Zorion. 

Kalau kini Pak Zorion alah mencermati QS 5: 8, tantu sajo secaro epistemologis konsep "K" dalam SBK adolah termasuk kitab-kitab Allah lainnya, SEPANJANG TIDAK BERTENTANGAN dengan Al Qur'an. 

Namun dalam pengertian praktis, "K" di siko memang mengacu pada Al Qur'an. Tapi antaro pengertian praktis dan epistemologis berdasarkan QS 5: 8 itu indak ado nan balawanan doh. Apolai sampai kablabasan, karena konsep Islam adolah konsep nan integral, indak sapotong-sapotong. 

Al Qur'an adolah ajaran nan samporono (5:3), tetapi dalam kesempurnaan itu Al Qur'an mengakui kebenaran kitab-kitab sebelumnya (masih banyak lagi ayat di dalam Qur'an nan manyatokan itu selain duo nan ambo tulih di ateh). 


Lha, kalau Qur'an/Allah sendiri sudah menyatakan saroman dalam QS 2:136, apa bukan pak Zorion nan malah "kebablasan" menafsirkan sendiri (karena hanya mengandalkan tafsir birra'yu yang hanya mengandalkan logika) rukun iman kepada kitab Allah hanya berarti percaya kepada Al Qur'an, tanpa Pak Zorion melihat lagi penjelasan Qur'an sendiri? 

Allahu a'lam.

 Wass,

ANB










 

 


Pada 23 Januari 2014 14.43, Zorion Anas <zor...@gmail.com> menulis:

Sanak NAB, suatu keimanan lahir dari proses pengenalan. Yusuf este selalu menyitir al-quran dlm diskusinya. Bisa diliek di website2 beliau. Artinya beliau tidak lagi membandingkan dgn kitab2 suci terdahulu, karena keiman kpd al - quran dan hadist.
Jadi buek ambo taraso lucu kalau ummat Islam masih mengimani kitab suci terdahulu. Tolong tunjukkan ayat al quran dmn Allah menyuruh ummat utk mengikuti perintah2 kitab terdahulu. Rukun Iman ke 4,spt yg sanak kemukakan  seharusnya cuma beriman kepada al-quran bukan semua kitab. Apa bedanya dgn ABS-SBK, apa kitabullah di sini termasuk taurat, zabur dan injil? Kebablasan nanti.
Bagi ambo pribadi kitab Allah yg harus diimani hanya Al Quran. Kito punyo keyakinan iman masing2. Silahkan kalau mau beriman kepada kitab2 terdahulu. Bagi ambo kitab terakhir dari Rasul terakhir adalah kesempurnaan ajaran yg memang harus diimani. Kitab yang lain hanya utk tahu saajo. Kito bukan seperti kaum Syiah yg berbeda dgn keimanan Sunni. Percaya kpd Rasul itu memang dijelaskan oleh al quran, bukan berarti kepercayaan kpd rasul2 terdahulu selalu dikaitkan dgn iman ke kitab2 mereka selain al quran. Rasulullah dan Al Quran sdh jaleh sbg penerang iman, kitab lain tdk diperlukan lagi, cuma utk knowledge saja.

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

Pada 2014 1 23 14:17, "Akmal Nasery Basral" <ak...@rantaunet.org> menulis:

ANB
45, Cibubur

 


Pada 23 Januari 2014 12.39, Zorion Anas <zor...@gmail.com> menulis:

Sanak ANB, ini kata pendeta2 gereja nasrani di Indonesia, kepada LAI (Lembaga Al Kitab), supaya kata Allah diganti dgn kata YAhweh, Elohim atau Edonai
. Dan yang sdh dilakukan oleh Malaysia
http://indonesiaindonesia.com/f/52698-pilih-yahweh-allah/
Pengertian percaya dan iman dlm agama adalah 2 sisi matauang. Percaya dan beriman, percaya tapi tidak beriman. Kita percaya setan itu ada, tapi tidak beriman kepada setan.
Percaya ada kitab terdahulu, tapi tidak beriman kpd kitab2 itu, karena sdh ada al quran.
Jadi kalau sanak NAB menggagap Allah=Yahweh spt dlm injil, silahkan saja.
Bagi Kristiani  mereka sdh tidak menganggap Allah tidak sama dgn Yahweh sbg tuhan merekaspt link di atas.
Jadi kata2 Allah dlm injil skrg memang harus ditiadakan, krn bukan lagi termasuk kitab2 terdahulu yg harus diimani oleh kaum muslim. Jelas dlm.injil mrk yg dianggap tuhan Yahweh, Jesus dan Roh Kudus. Biarkan saja mereka meyakini itu. Karena injil sbg salah kitab yg kita imani adalah kitab pada zamannya Nabi Isa, bukan yg sekarang.

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 31, 2014, 10:14:12 PM1/31/14
to rant...@googlegroups.com
Dinda Fitr, 
urang beriman nan tagalincia itu alah dikatokan Allah Azza wa Jalla akan tajadi. 
Ado limo tingkek kemungkinan perjalanan iman seseorang manuruik QS 4:137.

1. Beriman
2. (kemudian) Kafir.
3. Beriman (lagi).
4. Kafir (baliak).
5. (Batambah-tambah) kekafiran.

Posisi no. 5 ko nan "skak mat", nan indak ka diampuni Allah dan indak ditunjuaki hidayah salamonyo.

Semoga senior dinda Fitr nan alumni Japang itu tangah di posisi 2, atau saburuak-buruaknyo di posisi 4, sahinggo masih ado kemungkinan menjadi beriman baliak.
In syaa Allah.

Wass,

ANB

Akmal Nasery Basral

unread,
Jan 31, 2014, 10:20:00 PM1/31/14
to rant...@googlegroups.com
Alhamdulillah kalau penjelasan sederhana itu bermanfaat, Pak Saaf. Semoga bapak sekeluarga (nan sedang) di Surabaya selalu dirahmati Allah Swt.

Wass,

ANB
45, Cibubur
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages