Ass. Dt MB,
Seharusnya memang demikian, karena ummat kristiani pun menyebut Allah dengan sebutan "Alah", jadi memang bukan Tuhan mereka. Mereka mengan sebutan nama Tuhan adalah YHW disebut "yahweh" spt orang yahudi menyebut nama tuhan. Itu pendeta kristen sendiri yg menyatakan. Jadi laranganSultan Malaysia benar adanya, krn sudah tentu setelah berkonsultasi dgn ahli agama Islam. Bukan larangan sembarangan. Kita terlalu toleran atau tidak paham ttg makna "aqidah". Padahal MUI isinya prof Dr. Ahli agama semua, pakar di banyak bidang agama. Seharusnya yg lurus harus disebut lurus, tidak melengkung.
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti berlan...@googlegroups.com .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
Alkm salam ww,
Sanak Fitrianto bisa,mandapek kan penjelasan pertanyaan sanak dgn search di youtube, ketik "diskusi agama islam dan kristen" oleh para ulama dan pendeta. Tegas si pendeta mengatakan Tuhan agama Kristen dan Tuhan agama Islam berbeda dan zatnya pun berbeda. Utk tahu lebih dalam silahkan hubungi pendeta ybs. Kalau ambo indak ahli dlm bidang perbandingan ugamo. Mungkin ado yg lain bisa manjalehkan disiko.
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
--
--
Bagus utk dibaca, guna memantapkan aqidah Islami kita.
http://forum.muslim-menjawab.com/2011/07/21/asal-mula-nama-yahweh-yang-mulai-terungkap/
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
The Word Allah In The Arabic Bible
Abu Imân cAbd ar-Rahmân Robert Squires
© Muslim Answers - Orlando, Florida, All Rights Reserved.
![]()
The images below, with the exception of the first image, were taken directly from The Holy Bible in Arabic. Referred to in Arabic as al-Kitâb al-Muqadis (i.e. ,The Holy Book), this is the scripture which is used by Arabic-speaking Christians (of which there are still about 15 to 20 million in the Middle East). So that those unfamiliar with Arabic script have something to compare these images with, the first image below is a verse from the Qur'ân - which is the Muslim scripture. In the images, the Arabic word Allah is underlined in red so that it can be easily identified. Upon comparing the images, one should be able to clearly see that the word Allah appears in both the Qur'ânic and Arabic Bible images. Indeed, the word Allah appears throughout Arabic translations of the Bible, since it is simply the Arabic name for Almighty God. Insha'llah, the examples below will help quell the doubts of those who have been duped into believing that Muslims worship a different god - either by the hostile media or by Christian missionary propaganda. We hope that this serves as enough documentation for those who still have doubts about this. We could think of no other way to prove this point, except to encourage everyone to do further critical and open-minded research on their own. Please, don't forget to compare the images . . .
"In the Name of God, the Compassionate, the Merciful."
[Qur'ân 1:1 - Arabic transliteration]
"Bismi-Allahi ar-Rahmani, ar-Raheem"
[Qur'ân 1:1 - Arabic]

"In the beginning God created the Heaven and the Earth . . . "
[Genesis 1:1 - Arabic transliteration]
"Fee al-badi' khalaqa Allahu as-Samaawaat wa al-Ard . . . "
[Genesis 1:1 - Arabic Bible]
"For God so loved the world, that . . . "
[John 3:16 - Arabic transliteration]
"Li-annhu haakadha ahabba Allahu al-'Aalama hataa badhala . . . "
[John 3:16 - Arabic Bible]
" . . . Fear not, Mary: for thou hast found favor with God."
[Luke 1:30 - Arabic transliteration]
" . . . Laa takhaafee, yaa Maryam, li-annaki qad wajadti ni'amat(an) i'nda Allahi."
[Luke 1:30 - Arabic Bible]
"the son of Enos, the son of Seth, the son of Adam, the son of God."
[Luke 3:38 - Arabic transliteration]
"bini Anoosha, bini Sheeti, bini Aaadama, abni Allahi."
[Luke 3:38 - Arabic Bible]

Semakin menarik. Bagi ambo persepsi percaya kepada kitab2 zabur, taurat dan injil tidak perlu dibuktikan secara fisik, karena semua ajaran yg ada pada kitab yg asli sebelumnya sudah diwakili oleh ayat2 dalam al-quran. Apalagi kitab taurat zabur injil keasliannya sudah diragukan karena modifikasi tangan manusia. Percaya kpd kitab2 terdahulu cukup sebagai "faith" bahwa kitab itu pernah ada.
Seperti kita percaya ada rasa sakit, rasa cinta, tapi tidak bisa digambarkan secara fisik.
Tidak ada yg bisa membuktikan keaslian taurat zabur dan injil (apalagi kitab perjanjian baru).
Percaya kepada yg "tidak asli" atau "palsu" juga merupakan kepercayaan yg palsu. Kalau al quran, Allah sendiri yg menyatakan menjaga al quran dan keasliannya. Oleh sebab itu banyak tangan2 yg mencemari al quran, tapi tidak berhasil atau gagal. Jadi rukun iman harus dijalankan dgn keaslian iman dan aqidah.
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
“Dan Iblis membawanya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepadaNya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku. ” Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”
2. Markus 12:28-29
| Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa." Dengan dua contoh ayat (dari dua penulis Gospel berbeda) itu yang jelas menunjukkan pesan Isa putra Maryam a.s. tentang ketauhidan-- yang selaras dengan pesan-pesan Isa a.s. yang dinukil Ibnu Katsir -- apakah kedua contoh ayat itu juga merupakan contoh ayat palsu yang sudah dikutak-katik para penulis Injil? Dan jika menurut Pak Zorion "iya, itu juga ayat palsu", mengapa mereka justru menyisipkan ayat penunjuk tauhid itu dengan begitu gamblang dan terang benderang dalam terjemahan bahasa apa pun? Bukankah itu merugikan mereka sendiri? Di sini, kita akan masuk pada sejarah perpecahan umat kristen kubu Unitarian (yang percaya Isa adalah manusia biasa dan hanya Allah yang patut disembah) dengan kubu Trinitarian (yang percaya pada Isa adalah putra Allah). Konflik ini memuncak pada Konsili Nicea (c.a. 325 M) ketika kubu Trinitarian yang didukung Kaisar Konstantin mengatasi pengaruh kubu Unitarian, bahkan melakukan perburuan dan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh penganjur Unitarian. Tetapi untuk ini sudah merupakan topik berbeda yang tidak relevan dengan maksud awal thread. Allahu a'lam. Wass, ANB 45, Cibubur |
|
Sanak ANB, ini kata pendeta2 gereja nasrani di Indonesia, kepada LAI (Lembaga Al Kitab), supaya kata Allah diganti dgn kata YAhweh, Elohim atau Edonai
. Dan yang sdh dilakukan oleh Malaysia
http://indonesiaindonesia.com/f/52698-pilih-yahweh-allah/
Pengertian percaya dan iman dlm agama adalah 2 sisi matauang. Percaya dan beriman, percaya tapi tidak beriman. Kita percaya setan itu ada, tapi tidak beriman kepada setan.
Percaya ada kitab terdahulu, tapi tidak beriman kpd kitab2 itu, karena sdh ada al quran.
Jadi kalau sanak NAB menggagap Allah=Yahweh spt dlm injil, silahkan saja.
Bagi Kristiani mereka sdh tidak menganggap Allah tidak sama dgn Yahweh sbg tuhan merekaspt link di atas.
Jadi kata2 Allah dlm injil skrg memang harus ditiadakan, krn bukan lagi termasuk kitab2 terdahulu yg harus diimani oleh kaum muslim. Jelas dlm.injil mrk yg dianggap tuhan Yahweh, Jesus dan Roh Kudus. Biarkan saja mereka meyakini itu. Karena injil sbg salah kitab yg kita imani adalah kitab pada zamannya Nabi Isa, bukan yg sekarang.
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
Saya ulang posting krn ada salah ketik
Sanak ANB, ini kata pendeta2 gereja nasrani di Indonesia, kepada LAI (Lembaga Al Kitab), supaya kata Allah diganti dgn kata YAhweh, Elohim atau Edonai . Dan yang seperti dilakukan oleh Malaysia.
http://indonesiaindonesia.com/f/52698-pilih-yahweh-allah/ Pengertian percaya dan iman dlm agama adalah 2 sisi matauang. Percaya dan beriman, percaya tapi tidak beriman. Kita percaya setan itu ada, tapi tidak beriman kepada setan. Percaya ada kitab terdahulu, tapi tidak beriman kpd kitab2 itu, karena sdh ada al quran. Jadi kalau sanak NAB menggagap Allah=Yahweh spt dlm injil, silahkan saja.
Bagi Kristiani mereka sdh menganggap Allah tidak sama dgn Yahweh sbg tuhan mereka spt link di atas. Jadi kata2 Allah dlm injil skrg memang harus ditiadakan, krn bukan lagi termasuk kitab2 terdahulu yg harus diimani oleh kaum muslim. Jelas dlm injil mrk yg dianggap tuhan Yahweh, Jesus dan Roh Kudus. Biarkan saja mereka meyakini itu. Karena injil sbg salah satu kitab yg kita imani adalah kitab pada zamannya Nabi Isa, bukan yg sekarang.
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
Sanak NAB, suatu keimanan lahir dari proses pengenalan. Yusuf este selalu menyitir al-quran dlm diskusinya. Bisa diliek di website2 beliau. Artinya beliau tidak lagi membandingkan dgn kitab2 suci terdahulu, karena keiman kpd al - quran dan hadist.
Jadi buek ambo taraso lucu kalau ummat Islam masih mengimani kitab suci terdahulu. Tolong tunjukkan ayat al quran dmn Allah menyuruh ummat utk mengikuti perintah2 kitab terdahulu. Rukun Iman ke 4,spt yg sanak kemukakan seharusnya cuma beriman kepada al-quran bukan semua kitab. Apa bedanya dgn ABS-SBK, apa kitabullah di sini termasuk taurat, zabur dan injil? Kebablasan nanti.
Bagi ambo pribadi kitab Allah yg harus diimani hanya Al Quran. Kito punyo keyakinan iman masing2. Silahkan kalau mau beriman kepada kitab2 terdahulu. Bagi ambo kitab terakhir dari Rasul terakhir adalah kesempurnaan ajaran yg memang harus diimani. Kitab yang lain hanya utk tahu saajo. Kito bukan seperti kaum Syiah yg berbeda dgn keimanan Sunni. Percaya kpd Rasul itu memang dijelaskan oleh al quran, bukan berarti kepercayaan kpd rasul2 terdahulu selalu dikaitkan dgn iman ke kitab2 mereka selain al quran. Rasulullah dan Al Quran sdh jaleh sbg penerang iman, kitab lain tdk diperlukan lagi, cuma utk knowledge saja.
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai muhaimin terhadap Kitab-Kitab yang lain itu.”
Muhaimin yakni sebagai hakim terhadap kitab-kitab terdahulu. Para mufassirin berpendapat makna ayat ini adalah tidak boleh mengamalkan hukum apapun yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu kecuali jika dibenarkan dalam Al-Qur`an.
Jadi, jelas sekali bahwa kitab-kitab Allah sebelumnya tidak boleh diamalkan lagi, melainkan sepanjang ajarannya tidak bertentangan dengan Al Qur'an maka ajaran itu masih valid (misalnya dalam 10 Perintah Tuhan yang terkenal itu, ajaran tidak boleh mencuri, membunuh, berzina, harus berbuat baik kepada orang tua, dst, tetap berlaku karena yang demikian pun yang diajarkan Qur'an).
Nah, dek karano ambo alah manjawek tanyo Pak Zorion jo 3 (tigo) dalil, tolong Pak Zorion sampaikan dalil apak (cukuik ciek sajo) bahwa maksud "beriman kepada kitab-kitab Allah" itu adolah saroman pengertian bapak, yakni hanya "beriman kepada Al Qur'an" saja?
3. Tentang ABS-SBK, apa kitabullah di sini termasuk Taurat, Zabur, Injil? "Kebablasan nanti," tulis Pak Zorion.
Kalau kini Pak Zorion alah mencermati QS 5: 8, tantu sajo secaro epistemologis konsep "K" dalam SBK adolah termasuk kitab-kitab Allah lainnya, SEPANJANG TIDAK BERTENTANGAN dengan Al Qur'an.
Namun dalam pengertian praktis, "K" di siko memang mengacu pada Al Qur'an. Tapi antaro pengertian praktis dan epistemologis berdasarkan QS 5: 8 itu indak ado nan balawanan doh. Apolai sampai kablabasan, karena konsep Islam adolah konsep nan integral, indak sapotong-sapotong.
Al Qur'an adolah ajaran nan samporono (5:3), tetapi dalam kesempurnaan itu Al Qur'an mengakui kebenaran kitab-kitab sebelumnya (masih banyak lagi ayat di dalam Qur'an nan manyatokan itu selain duo nan ambo tulih di ateh).
Lha, kalau Qur'an/Allah sendiri sudah menyatakan saroman dalam QS 2:136, apa bukan pak Zorion nan malah "kebablasan" menafsirkan sendiri (karena hanya mengandalkan tafsir birra'yu yang hanya mengandalkan logika) rukun iman kepada kitab Allah hanya berarti percaya kepada Al Qur'an, tanpa Pak Zorion melihat lagi penjelasan Qur'an sendiri?
Allahu a'lam.
Wass,
ANB
Hehe... cubo baco surek 98 al bayyinah, apo masih paralu awak bariman ka kitab2 nan lain? Hadist nan disabuik tadi hanyo utk panduan zaman nabi sajo, sebagai pengujian Jibril thd keimanan Rasulullah.
Kini zaman nyo alah beda, ujian thd manusia dlm bentuk bencana dan macam2. Al quran disebut sebagai sdh mengandung isi kitab2 terdahulu, tapi yg lurus2 sajo. Apo masih paralu bariman ka kitab nan lain?
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
Hanyo utk rukun iman no. 4 sajo. Rukun iman 1,2,3,5,6 ala sangek jaleh.
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
Jadi rukun iman no. 4 beriman kpd kitab Allah yang lurus (Al-Quran).
Banyak permurtadan terjadi karena menyamaratakan semua kitab yg dipakai sebagai jalan bujuk rayu oleh missionaris agama lain. Oleh sebab itu kalau dlm injil kata Allah dibuang akan membantu pencegahan upaya pemurtadan.
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
Tarimokasih sanak ANB, kini bisa disarahkan sajo ke DepAg nan mengatur masalah agamo di Indonesia. Tuntutan gereja utk tidak menggunakan kata Allah di Injil bisa terakomodasi, malah baik utk kaum muslimin. Supayo jaleh "agamu mu, agamamu, agamaku agamaku". Kita tunggu sajo perkembangan selanjutnyo. Tks
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
Yo, ambo banyak baraja dari diskusiko. Smg kito selalu dilindungi Allah SWT. Amiin yra
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
Yo, ambo banyak baraja dari diskusiko. Smg kito selalu dilindungi Allah SWT. Amiin yra
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
Samo-samo Pak Zorion. Tarimo kasih pulo ateh diskusi ko.
Wass,
ANB45, Cibubur
HADITS PERBEDAAN PENDAPAT ADALAH RAHMAT?
Salah satu Hadisth Nabi SAW yang dikenal luas dikalangan umat Islam adalah sabda Nabi SAW : “Ikhtilaf umati rahma” atau perbedaan pendapat (dikalangan) umatku adalah rahmat (dari Allah SWT).
Berdasarkan hadisth ini maka beragamnya pendapat dikalangan umat Islam sehubungan dengan berbagai urusan/masalah keagamaan justru dinilai sebagai rahmat dari Allah SWT. Padahal dilain pihak seorang awam sekalipun paham bahwa perbedaan pendapat adalah merupakan awal atau sebab terjadinya perpecahan (bercerai-berai), perselisihan dan pertentangan. Apalagi jika perbedaan pendapat itu berkaitan dengan masalah-2 keagamaan, sejarah umat manusia seringkali menunjukan ujungnya berakhir dengan pertumpahan darah.
Padahal jika perbedaan pendapat adalah merupakan rahmat Allah SWT, maka secara a contrario atau sebaliknya tentunya “persesuaian/kesatuan pendapat” adalah merupakan azab atau musibah dari Allah SWT, meskipun persesuaian pendapat merupakan pondasi persatuan dikalangan umat.
Dilihat secara sepintas hadisth “ikhtilaf umati rahma” ini nampaknya sejalan benar semangatnya dengan situasi modern yang mendorong prinsip kebebasan berpikir dan kebebasan berpendapat. Bukankah demokrasi pada hakekatnya adalah juga manifestasi dari proses perbedaan pendapat yang ditentukan secara kuantitatif? Dimana perbedaan pendapat itu di representasikan dalam bentuk pendapat yang banyak/mayoritas dan yang sedikit/minoritas. Menurut paham demokrasi pendapat yang banyaklah yang benar, bahkan dianggap setara dengan pendapat Tuhan (vox populi vox dei), sedangkan pendapat yang sedikit/minoritas adalah pendapat yang salah atau pendapat syaitan.
Ketentuan Kitabullah
Masalahnya apakah prinsip “perbedaan pendapat” ini dapat diberlakukan berkenaan dengan urusan agama (Islam)?.
Untuk mencari jawabannya marilah kita lihat apakah yang di Firmankan oleh Allah SWT didalam Al Quran.
Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh.
(QS. Al Baqarah [2] : 176)
Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.
Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
(QS. Al Baqarah [2] : 213)
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; …”
(QS. Ali Imran [3]: 103)
Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,
(QS. Ali Imran [3]: 105)
Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.
(QS. Ali Imran [3]: 152)
Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.
(QS. Yunus [10] : 19)
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.
(QS. Huud [11] : 118)
Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.
(QS. Asy Syuura [42] : 10)
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul, …”
(QS. An-Nisa [4]: 59)
“dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. …”
(QS. Al An’am [6]: 153)
“Dan kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya”.
(QS. Al Jasiyah [45]: 17)
Berdasarkan beberapa ayat yang memuat Firman Allah SWT di dalam Al Quran tersebut diatas (hanya sebahagian kecil saja ayat yg dikutip, masih banyak lagi ayat senada pada Al Quran), jelas bahwa Allah SWT tidak menghendaki umat Islam bercerai-berai karena saling berbeda pendapat. Sebaliknya justru Allah SWT menghendaki agar umat Islam bersatu padu layaknya saling bersaudara. Bahkan pada QS. Ali Imran [3] : 105, Allah SWT mengancam akan memberikan siksa yang berat kepada orang-2 yang berselisih.
Pertanyaannya adalah, mengapa justru Hadisth Nabi SAW justru mengatakan perbedaan pendapat itu adalah rahmat dari Allah SWT? Bukankah jelas sekali terlihat adanya perbedaan maknanya dengan Firman Allah pada Al Quran?.
Sekilas Tentang Hadist Rasulullah SAW
Sebelum membahas secara lebih mendalam tentang hadist “ikhtilaf umati rahma”, ada baiknya jika dijelaskan secara ringkas tentang apa yang dimaksudkan dengan hadist itu sendiri.
Hadist menurut Bahasa Arab adalah “ucapan” , tetapi dalam perkembangannya menurut kontek Islam, hadist kemudian mengandung arti sebagai catatan tertulis tentang segala ucapan (atau diamnya) dan tindakan (baik aktif maupun pasif) yang berasal dari Nabi Muhammad SAW, atau disebut juga sebagai Hadist Nabi SAW.
Karena Hadist Nabi SAW mengandung segala sesuatu yang berkaitan dengan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW yang harus diikuti, dipatuhi dan ditaati oleh umat Islam, maka “Hadist Nabi SAW” juga dikatakan sebagai “Sunnah Nabi SAW”.
Sunnah Nabi SAW menempati urutan kedua setelah Al Qur’an sebagai sumber dari segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran Agama Islam, berdasarkan firman Allah SWT :
Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(QS. Al Anfal [8] : 46
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
(QS. Al Ahzab [33] : 36)
Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkan-nya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.
(QS. An Nisa [4] : 14)
Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.
(QS. An Nuur [24] : 52)
Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barangsiapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih.
(QS. Al Fath [48] : 17)
Segala puji bagi Allah –subhanahu wa ta’ala- atas anugerah yang senantiasa tercurah, shalawat dan salam semoga terhatur bagi Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat dan seluruh umatnya hingga hari kiamat.
Redaksi hadits di atas sangatlah masyhur di tengah kaum muslimin dewasa ini, hampir seluruh lapisan masyarakat menghafalnya, mimbar-mimbar jum’at terguncang olehnya, lisan-lisan begitu fasih mengumbarnya, namun satu hal yang perlu kita pertanyakan, bagaimanakah derajat hadits diatas menurut para pakar hadits?, untuk menjawab pertanyaan diatas, kami suguhkan dalam artikel ini hasil kajian Fadhilatus Syaikh Muhadditsul ‘Ashr Muhammad bin Nashiruddin al-Albani –rahimahullah- terhadap hadits ini, semoga artikel sederhana ini bisa mengobati kegusaran kita atas pertanyaan di atas, wallahu waliyyut taufiq.
Redaksi Hadits:
اختلاف أمتي رحمة
Artinya: Perbedaan di antara ummatku adalah rahmat
Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Nashirudin al-Albani mengatakan: ”hadits ini tidak ada asal usulnya.
Sungguh para ulama pakar hadits telah berupaya untuk mendapatkan sanad[1] hadits ini, namun mereka tidak mendapatkannya, sampai as-Suyuthi –rahimahullah- mengatakan: ”Mungkin hadits ini diriwayatkan dalam kitab para ulama yang [kitab tersebut] hilang sehingga tidak sampai ke tangan kita”.
Menurut pendapatku [Fadhilatus Syaikh Albani], pernyataan ini jauh dari kebenaran, karena konsekwensi dari ucapan ini adalah justifikasi atas lenyapnya hadits-hadits Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam-, tentunya sangat tidak layak bagi seorang muslim untuk meyakini pernyataan ini.
Al-Munawi –rahimahullah- menukil pernyataan Tajuddin as-Subki –rahimahullah-, bahwa beliau mengatakan: ”hadits ini tidak dikenal di kalangan para ahli hadits, dan saya belum mendapatkan sanadnya, baik yang derajatnya shahih, hasan, maupun yang derajatnya palsu”. Fadhilatus Syaikh Zakariya al-Anshari –rahimahullah- menyepakati pernyataan tersebut dalam komentarnya atas tafsir al-Baidhawi.
Adapun kritikan dari sisi makna hadits, maka sesungguhnya makna yang terkandung dalam hadits ini telah diingkari oleh para ulama peneliti, Ibnu Hazm ad-Dhahiri –rahimahullah- mengatakan dalam kitabnya “al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam”, setelah beliau mentarjih bahwa riwayat diatas [perbedaan diantara umatku adalah rahmat] bukanlah hadits Nabi: ”pernyataan ini sangat rusak, sebab jika kita terima bahwa perselisihan diantara umatku adalah rahmat maka konsekwensinya adalah kesepakatan umat adalah kebencian [Allah], dan seorang muslim tentu tidak akan mengucapkan perkataan ini, karena hanya ada dua opsi, kesepakatan atau perselisihan, maka hasilnya-pun salah satu diantara dua hal, rahmat atau kebencian [Allah]. Dan di halaman lain dari kitabnya beliau mengatakan:”hadits ini batil dan palsu”.
Diantara dampak negatif dari hadits ini adalah tenggelamnya para penganut empat madzhab dalam perselisihan dan perpecahan, dan nampaknya tidak ada upaya untuk merujuk kepada al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih [untuk mentarjih perselisihan tersebut], sebagaimana yang dianjurkan oleh para imam mereka –radhiyallahu ‘anhum-, bahkan mereka mengumpamakan madzhab-madzhab yang beragam bak syariat yang beragam, mereka mengatakan pernyataan ini, padahal mereka mengetahui bahwa sebagian perselisihan dan kontradiksi tidak bisa ditarjih kecuali setelah merujuk kepada dalil, dan menolak pendapat yang menyelisihi dalil serta menerima pendapat yang lebih dekat kepada dalil, namun mereka tidak melaksanakan hal tersebut, maka dengan ini seakan mereka menisbatkan kepada agama ini kontradiksi, dan hal ini merupakan bukti kuat bahwa perselisihan tersebut bukan datang dari Allah –subhanahu wa ta’ala- jika mereka benar-benar merenungi firman Allah:
ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا
Artinya: Dan seandainya [al-Qur’an] datang dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di dalamnya perselisihan yang banyak.
Ayat di atas dengan gamblang menyatakan bahwa perselisihan bukan datang dari Allah, maka sangat keliru apabila menjadikannya [perselisihan] sebagai bagian syariat, dan amat besar salahnya apabila menjadikannya [perselisihan] sebuah rahmat.
Dan disebabkan hadits ini pula, mayoritas kaum muslimin -pasca berakhirnya masa imam empat madzhab- terjerembab dalam jurang perselisihan dalam masalah ilmiah [aqidah] maupun amaliyah [ibadah], alangkah indahnya apabila mereka mengetahui bahwa perselisihan adalah sebuah keburukan –sebagaimana yang dikatakan Ibnu Mas’ud- yang ditaqrir di dalam al-Qur’an dan hadits yang shahih, niscaya mereka akan berbondong-bondong untuk bersepakat dalam banyak permasalahan yang telah Allah tegakkan dalil tentangnya, dan kemudian berupaya membuka pintu udzur bagi beberapa masalah yang mungkin masih terbuka pintu perbedaan di dalamnya, namun bagaimana mereka akan melaksanakan hal ini jika menurut anggapan mereka bahwa perselisihan adalah Rahmat dan keberagaman madzhab bagaikan keanekaragaman syariat. Dan jika anda ingin mengetahui betapa besar perselisihan dalam tubuh umat ini, maka tiliklah beberapa masjid di tengah kaum muslimin, niscaya anda akan mendapatkan beberapa diantaranya memiliki empat buah mihrab, yang kemudian masing-masing mihrab menjadi tempat shalat madzhab-madzhab tersebut.
Bahkan lebih dari itu, sebagian penganut madzhab rela mengakhirkan shalat demi melaksanakannya bersama sang imam madzhab, seakan-akan madzhab adalah agama yang berbeda-beda, dan hal ini tentunya tidaklah aneh, sebab para ulama madzhab tersebut membisikan kepada mereka:”bahwa madzhab-madzhab tersebut bak syariat yang beragam”, lupakah gerangan mereka dengan sabda Nabi - shallallahu ‘alaihi wa sallam-:”Apabila iqamat telah terdengar, maka tidak ada shalat selain shalat wajib [dengan berjamaah]”[2]. Namun ternyata mereka berani menyelisihi hadits tersebut demi menjaga fanatisme terhadap madzhab, seakan keagungan madzhab lebih besar dibanding keagungan hadits-hadits Rasulullah - shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Ringkasnya, perselisihan merupakan hal tercela dalam syariat islam, olehnya kewajiban kita adalah menjauhinya sesuai kemampuan, sebab hal itu merupakan faktor pelemah umat, sebagaimana firman Allah:
ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم
Artinya: Janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian menjadi lenyap.[3]
Adapun sikap ridha terhadap perselisihan, bahkan menyifatinya dengan rahmat, maka hal ini menyelisihi ayat-ayat al-qur’an yang mencelanya, dan ungkapan tersebut tidak berpijak pada dalil kecuali hadits yang tidak memiliki asal usul ini.
Setelah pembahasan ini, mungkin akan terbetik dalam sanubari kita sebuah pertanyaan besar, sesungguhnya para sahabat berselisih dengan sahabat yang lain, apakah mereka tercakup pula dalam celaan yang kita bahas tadi?.
Jawaban dari pertanyaan ini datang dari Ibnu Hazm –rahimahullah-, beliau berkata: ”sekali-kali tidak, sesungguhnya para sahabat tidak tercakup dalam celaan diatas, sebab setiap dari mereka berupaya untuk menapaki jalan Allah, apabila mereka terjatuh pada kesalahan maka satu pahala tercatat untuk mereka atas niat terpuji dalam hati mereka berupa upaya untuk mendapatkan kebaikan, dan tidak tercatat atas kesalahan tersebut sebagai dosa karena terjatuhnya mereka ke dalam kesalahan bukan disebabkan unsur kesengajaan dan kelalaian dalam menuntut kebenaran, dan apabila pendapat mereka benar maka dua pahala tercatat untuk mereka, hal ini berlaku pula bagi seluruh kaum muslimin yang samar bagi mereka kebenaran dan belum sampai kepada mereka dalil. Adapun celaan yang tercantum dalam nash-nash al-qur’an dan sunnah, berlaku bagi orang yang meninggalkan dalil al-qur’an dan assunnah setelah sampainya dalil dan hujjah kepadanya, dan bergantung kepada pendapat si fulan dan si fulan, lebih mengutamakan taklid buta dan bermaksud untuk berselisih, mengajak pada fanatisme golongan dan seruan jahiliyah, sengaja untuk berpecah belah, menolak dalil dari al-qur’an dan assunnah, apabila dalil sesuai dengan nafsunya maka dia akan mengambilnya, namun jika dalil tersebut berkontradiksi dengan nafsunya, maka dalilpun akan dicampakkan[4], Wallahu Musta’an.
Berakhirlah kajian kita tentang hadits “perselisihan diantara umatku adalah rahmat”, semoga artikel sederhana ini bisa memberikan faedah bagi segenap kaum muslimin tentang titik lemah dari hadits tersebut, dan bisa membangkitkan semangat untuk mentarjih pendapat yang memiliki pijakan dalil dari al-qur’an maupun assunnah. Dan akhirnya, serangkaian doa kami hadiahkan untuk Fadhilatus Syaikh, semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan menerima amalan beliau serta menempatkan beliau di surga-Nya, akhirul kalam, Shalawat dan Salam semoga tercurahkan untuk Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat, kerabat, dan seluruh pengikutnya sampai datangnya hari kiamat.
[1]. Mata rantai perawi hadits yang meriwayatkan hadits ini.
[2]. HR. Muslim dan yang lainnya.
[3]. Surat al-Anfal 46
[4]. Sumber dari artikel ini adalah kitab “ Silsilah Ahadits ad-Dhaifah wal Maudhu’ah Wa Atsaruha as-Sayyi’ Fil Ummah, karya Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –rahimahullah-.
--
Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang seorang muslim yang membuka-buka kitab Taurat dan Injil serta membacanya hanya sekadar ingin tahu saja, tidak ada tujuan yang lainnya. Haruskah kita mengimani keduanya?
Dijawab oleh syaikh kurang lebihnya demikian:
Wajib bagi setiap muslim untuk beriman kepada kitab-kitab tersebut; Tauratnya, Injilnya maupun Zaburnya. Maka kita wajib mengimaninya bahwa kitab-kitab tersebut telah diturunkan Allah kepada para nabi-Nya. Dan Allah juga telah menurunkan lembaran-lembaran yang berisikan perintah dan larangan, ancaman dan peringatan, berita-berita yang telah terjadi di masa lalu, berita tentang surga dan neraka, juga yang semisal dengan itu.
Akan tetapi bukan berarti boleh dipakai, karena kitab-kitab tersebut telah mengalami penyelewengan, pergantian maupun perubahan. Dan bukan juga berarti boleh melihat-lihat kitab Zabur, Taurat dan Injil atau membacanya. karena yang demikian amatlah berbahaya, karena terkadang isinya mendustakan kebenaran atau membenarkan kebathilan. Karena kitab-kitab ini telah diselewengkan dan telah diubah, juga telah disusupkan ke dalamnya oleh mereka-mereka dari kalangan kaum Yahudi maupun Nasrani maupun selain mereka baik dengan perubahan, penyelewengan, pendahuluan maupun penundaan. Dan cukuplah bagi kita kitab suci kita sebagai pedoman; yaitu Al-Qur’an.
Dan telah diriwayatkan dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bahwasanya:
Beliau pernah melihat di tangan Umar sebagian dari lembaran kitab Taurat, maka marahlah Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: “Apakah engkau dalam keraguan wahai Ibnal Khoththob? Sungguh aku telah membawakan kepadamu cahaya putih yang bersih. Kalaulah sekiranya Musa masih hidup, maka tidak ada keringanan baginya melainkan harus mengikuti aku.” (Musnad Imam Ahmad 3/387, Sunan Ad-Darimi di dalam mukadimahnya 435)
Yang kami maksud: Kami nasehatkan anda dan orang-orang selain anda untuk tidak mengambil dari kitab-kitab tersebut sedikitpun, tidak dari Taurat, dari Zabur dan tidak pula dari Injil. Dan jangan anda melihat-lihatnya, dan jangan membacanya sedikitpun. Bahkan apabila anda memiliki sebagiannya saja dari kitab-kitab tersebut maka tanamlah atau bakarlah. Karena kebenaran yang ada padanya telah dicukupkan oleh Kitabulloh Al-Qur’an, dan perubahan maupun penggantian yang ada di dalamnya merupakan kebatilan dan kemungkaran.
Maka yang wajib bagi setiap mukmin untuk mawas diri yang demikian, dan memperingatkan dari membuka-buka kitab-kitab tersebut. Terkadang isinya membenarkan kebatilan dan mendustakan kebenaran, sehingga jalan selamatnya ialah dengan menimbunnya atau membakarnya.
Kendati demikian, terkadang dibolehkan bagi seorang alim yang memiliki pandangan yang luas melihat kitab-kitab tersebut, demi membantah musuh-musuh islam baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh nabi untuk menghadirkan kitab Taurat manakala Yahudi mengingkari hukum rajam agar melihatnya kembali kepada kitab Taurat, hingga mereka pun mengakuinya.
Maksudnya: Bahwa para ulama yang luas pengetahuannya terkadang mereka butuh untuk mengkaji kitab Taurat, Injil atau Zabur untuk tujuan yang Islami; seperti membantah musuh-musuh Islam atau menjelaskan keutamaan Al-Qur’an dan kebenaran serta petunjuk yang ada di dalamnya. Adapun orang yang awam atau yang serupa dengannya, maka mereka tidak berhak melakukan yang demikian. Bahkan kapanpun mereka mendapati sebagian dari Taurat atau Injil maupun Zabur, maka yang wajib baginya ialah menimbunnya atau membakarnya agar jangan ada satupun yang menjadi tersesat karenanya.
(Nur ‘alad Darb, Ibnu Baz 1/11)
Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Abduh hafidzhahullahu Ta’ala
Disalin dari artikel blog Rizky Abu Salman untuk blog Abu Abdurrohman
--
Uraian yg sangat menarik sanak Andre, isinya bagus utk diteladani
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang
Iyo unik caro diskusi Pak Zorion ko mah yo.
Ambo batanyo mohon dijalehkan dalil nan apak pakai untuk menyatakan bahwa beriman kepada kitab-kitab Allah adolah hanya "beriman kepada Al Qur'an" seperti apak tulih, tapi bukannyo dijawek malah ditanyo baliak ka ambo: "Tolong tunjukkan ayat al quran dmn Allah menyuruh ummat utk mengikuti perintah2 kitab terdahulu. Rukun Iman ke 4,spt yg sanak kemukakan."Baiaklah ambo jawek partanyaan Pak Zorion:
1. Dari Ibnu Umar, ayah saya Umar bin Khattab r.a. berkata:"Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah Saw, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi Saw ...dst ... kemudian berkata: "Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam."Kemudian Rasulullah menjawab Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dst ... Orang itu berkata, "Engkau benar." Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkan. Orang itu bertanya lagi, "Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman?" Rasulullah Saw menjawab: "Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasulnya, hari akhir, dan kepada takdir yang baik dan yang buruk." Orang tadi berkata, "Engkau benar." Lalu orang itu bertanya lagi... dst ttg ihsan... lalu Nabi menjawab tentang ihsan ... dst... lalu orang itu bertanya lagi tentang kiamat, lalu Nabi menjawab ttg tanda-tanda kiamat ...dst... Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi bersabda, "Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu?" Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Lalu beliau bersabda, "Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian." (HR Muslim, Nasa'i, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).Perhatikanlah matan (isi) hadits itu, Nabi indak manjawab pertanyaan malaikat Jibril, "Iman adalah percaya kepada Allah, para malaikat-Nya, Al-Qur'an ... dst ..."Ini menunjukkan bahwa iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para rasul sebelum turunnya Al Qur'an adalah mutlak adanya.
2. Dalil dalam Al Qur'an untuk beriman kepada kitab-kitab Allah:2.1. QS Al Baqarah (2) ayat 136“Katakanlah (wahai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan kitab yang diturunkan kepada kami, dan kitab yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan kitab yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kitab yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”2.2. QS Al Maidah (5) ayat 8
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai muhaimin terhadap Kitab-Kitab yang lain itu.”
Muhaimin yakni sebagai hakim terhadap kitab-kitab terdahulu. Para mufassirin berpendapat makna ayat ini adalah tidak boleh mengamalkan hukum apapun yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu kecuali jika dibenarkan dalam Al-Qur`an.
Jadi, jelas sekali bahwa kitab-kitab Allah sebelumnya tidak boleh diamalkan lagi, melainkan sepanjang ajarannya tidak bertentangan dengan Al Qur'an maka ajaran itu masih valid (misalnya dalam 10 Perintah Tuhan yang terkenal itu, ajaran tidak boleh mencuri, membunuh, berzina, harus berbuat baik kepada orang tua, dst, tetap berlaku karena yang demikian pun yang diajarkan Qur'an).
Nah, dek karano ambo alah manjawek tanyo Pak Zorion jo 3 (tigo) dalil, tolong Pak Zorion sampaikan dalil apak (cukuik ciek sajo) bahwa maksud "beriman kepada kitab-kitab Allah" itu adolah saroman pengertian bapak, yakni hanya "beriman kepada Al Qur'an" saja?
3. Tentang ABS-SBK, apa kitabullah di sini termasuk Taurat, Zabur, Injil? "Kebablasan nanti," tulis Pak Zorion.
Kalau kini Pak Zorion alah mencermati QS 5: 8, tantu sajo secaro epistemologis konsep "K" dalam SBK adolah termasuk kitab-kitab Allah lainnya, SEPANJANG TIDAK BERTENTANGAN dengan Al Qur'an.
Namun dalam pengertian praktis, "K" di siko memang mengacu pada Al Qur'an. Tapi antaro pengertian praktis dan epistemologis berdasarkan QS 5: 8 itu indak ado nan balawanan doh. Apolai sampai kablabasan, karena konsep Islam adolah konsep nan integral, indak sapotong-sapotong.
Al Qur'an adolah ajaran nan samporono (5:3), tetapi dalam kesempurnaan itu Al Qur'an mengakui kebenaran kitab-kitab sebelumnya (masih banyak lagi ayat di dalam Qur'an nan manyatokan itu selain duo nan ambo tulih di ateh).
Lha, kalau Qur'an/Allah sendiri sudah menyatakan saroman dalam QS 2:136, apa bukan pak Zorion nan malah "kebablasan" menafsirkan sendiri (karena hanya mengandalkan tafsir birra'yu yang hanya mengandalkan logika) rukun iman kepada kitab Allah hanya berarti percaya kepada Al Qur'an, tanpa Pak Zorion melihat lagi penjelasan Qur'an sendiri?
Allahu a'lam.
Wass,
ANB
Pada 23 Januari 2014 14.43, Zorion Anas <zor...@gmail.com> menulis:
Sanak NAB, suatu keimanan lahir dari proses pengenalan. Yusuf este selalu menyitir al-quran dlm diskusinya. Bisa diliek di website2 beliau. Artinya beliau tidak lagi membandingkan dgn kitab2 suci terdahulu, karena keiman kpd al - quran dan hadist.
Jadi buek ambo taraso lucu kalau ummat Islam masih mengimani kitab suci terdahulu. Tolong tunjukkan ayat al quran dmn Allah menyuruh ummat utk mengikuti perintah2 kitab terdahulu. Rukun Iman ke 4,spt yg sanak kemukakan seharusnya cuma beriman kepada al-quran bukan semua kitab. Apa bedanya dgn ABS-SBK, apa kitabullah di sini termasuk taurat, zabur dan injil? Kebablasan nanti.
Bagi ambo pribadi kitab Allah yg harus diimani hanya Al Quran. Kito punyo keyakinan iman masing2. Silahkan kalau mau beriman kepada kitab2 terdahulu. Bagi ambo kitab terakhir dari Rasul terakhir adalah kesempurnaan ajaran yg memang harus diimani. Kitab yang lain hanya utk tahu saajo. Kito bukan seperti kaum Syiah yg berbeda dgn keimanan Sunni. Percaya kpd Rasul itu memang dijelaskan oleh al quran, bukan berarti kepercayaan kpd rasul2 terdahulu selalu dikaitkan dgn iman ke kitab2 mereka selain al quran. Rasulullah dan Al Quran sdh jaleh sbg penerang iman, kitab lain tdk diperlukan lagi, cuma utk knowledge saja.
Salam,
Zorion Anas, 58, PadangPada 2014 1 23 14:17, "Akmal Nasery Basral" <ak...@rantaunet.org> menulis:
ANB45, Cibubur
Pada 23 Januari 2014 12.39, Zorion Anas <zor...@gmail.com> menulis:
Sanak ANB, ini kata pendeta2 gereja nasrani di Indonesia, kepada LAI (Lembaga Al Kitab), supaya kata Allah diganti dgn kata YAhweh, Elohim atau Edonai
. Dan yang sdh dilakukan oleh Malaysia
http://indonesiaindonesia.com/f/52698-pilih-yahweh-allah/
Pengertian percaya dan iman dlm agama adalah 2 sisi matauang. Percaya dan beriman, percaya tapi tidak beriman. Kita percaya setan itu ada, tapi tidak beriman kepada setan.
Percaya ada kitab terdahulu, tapi tidak beriman kpd kitab2 itu, karena sdh ada al quran.
Jadi kalau sanak NAB menggagap Allah=Yahweh spt dlm injil, silahkan saja.
Bagi Kristiani mereka sdh tidak menganggap Allah tidak sama dgn Yahweh sbg tuhan merekaspt link di atas.
Jadi kata2 Allah dlm injil skrg memang harus ditiadakan, krn bukan lagi termasuk kitab2 terdahulu yg harus diimani oleh kaum muslim. Jelas dlm.injil mrk yg dianggap tuhan Yahweh, Jesus dan Roh Kudus. Biarkan saja mereka meyakini itu. Karena injil sbg salah kitab yg kita imani adalah kitab pada zamannya Nabi Isa, bukan yg sekarang.
Salam,
Zorion Anas, 58, Padang