Terlebih dahulu ambo mengucapkan ikut berduka cita atas meninggalnya kakak dari Ajo Duta, semoga amal kebaikan almarhum diterima Allah dan dihapuskan segala dosanya, amiin ya raobbilalamin
Yth. Mak Ngah.
Kira-kira 15 tahun yl. ambo batanyo ka kawan ambo kepala museum Adityawarman di Padang, Drs. Erman tentang keberadaan prasasti Banda Bapahek di dekat bukik Gombak. Ketika itu beliau, menjawab bahwa prasasti tsb telah hilang tertimbun saat perbaikan saluran air.
Sangat disayangkan masyarakat kita tidak menghargai sejarah.
Sebelum pergolakan tahun 1956 atau tahun 1957 ambo pernah mondok beberapa hari di pesantren Bunduang (dekat Batu Bapahek) diajak ibu. Ketika itu pesantren Bunduang (mungkin asal katanya Bendung) sangat terkenal dan dikunjungi banyak orang dari pelosok Sumatrea Barat dan kami anak-anak bermain-main di bandar bapahek tersebut. Kami tak
tahu bahwa lokasi tersebut merupakan saksi sejarah peradaban masyarakat kita tempo dulu. Lalu saat pergolakan, terdengar berita bahwa buya Bunduang, ulama kharismatik tersebut dibunuh secara kejam oleh tentara Pusat di jembatan buai Bunduang.
Beberapa tahun yang lalu saya mengajak anak-anak saya melihat lokasi daerah Bunduang dari seberang sungai (di lapangan pacu kuda Bukit Gombak.)
Dari seberang sungai teringat oleh saya pesantren Bunduang yang damai dihancurkan oleh kaum komunis dan terbayang dalam khayalan saya lk 700 tahun yl. Adityawarman pada usia lanjut dalam tempo beberapa tahun meninggalkan karya besarnya (menurut ukuran saat itu) berupa Banda Bapahek.
Wassalam
Abraham Ilyas