Assalamualaikum wr wbMak Dutamardin sarato angku, mamak, bundo jo adi dunsanak sapalanta RN nan ambo hormati, satantang rencana nan ko, untuak pai bakuliliang Nagari insya Allah ambo bisa sebagai panunjuak jalan. Untuak itu paralu ambo batanyo kiro-kiro bara hari nan diparalukan untuk bajalan ka nagari-nagari nan ko, supayo bisa ambo buek beberapa list nagari-nagari nan mungkin bisa dikunjungi sekalian mengumpulkan informasi menarik seputar nagari-nagari nan ka dikunjungi, tampek makan, sarato penginapannyo.Mengenai keputusan nagari-nagari nan ka dikunjungi tantu sajo terpulang pado nan ka pai juo. Pabilo alah fix jumlah nagari nan ka dikunjungi akan ambo usahakan mengontak Wali Nagari setempat nan mungkin bisa membantu beberapa hal yang diperlukan nantinya.Kok dapek ambo minta izin wakatu jo tampek kapado Mak Doto Suheimi sebagai nan punyo tampek "Meeting Poin" untuk memaparkan & pendataan website nagari. Mungkin itu sajo nan bisa ambo bantu, insya Allah diberi waktu & kelapangan, amin ya Rabbal alamin.wasalamAZ - 32 thPadang
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
On 12/22/10, mulya...@yahoo.com <mulya...@yahoo.com> wrote:
> Bagi dunsanak nan ka Bakuliliang Nagori sasudah acara ka Sikuai, dan salah
> satu usulannyo tabaco di ambo dibawah adolah Nagori kami Sulik Aie. Untuak
> itu, silahkan baco info nan tatulih di website kami http://www.sulita.net ,
> disinan ado "Peta Jaring Jalan Dari dan Ke Sulit Air" nan bisa dijadikan
> penuntun dalam perjalanan menuju dan baputa-puta kalua dari Nagori kami
> tersebut (bagaikan jaring laba2). Terdapat banyak foto2 keindahan panorama
> Sulik Aie dan nan indak kalah pentingnyo dunsanak bisa sakalian mandanga
> lagu dengan syair2 keindahan alam Sulik Aie nan dinyanyikan Uni Yul Rainal
> Rais melalui ROS (Radio Online Sulita).
> Silahkan dicigok.
> Wassalam,
> HM Dt.Marah Bangso (53+)
> Pengelola ROS dan Sulitanet
> http://mulyadisulita.wordpres.com
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
> Teruuusss...!
>
>> supayo bisa ambo buek beberapa *list* nagari-nagari nan mungkin bisa
--
Sent from my mobile device
Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
gelar Bagindo, suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau: Deli, Jakarta,
sekarang Sterling, Virginia-USA
------------------------------------------------------------
"menjadi bagian dari sapu lidi, akan lebih bermanfaat dari pada
menjadi sebatang lidi"


Powered by Telkomsel BlackBerry®
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Painan (7.7 MB - 5000 x 4219 pixel)
Zulkarnain Kahar
Assalamu Alaikum W. W.
Armen carito ciek kampuang bundo nan dulu indak ditampuah roda. Sangajo alm ayah nio dimakamkan dikampuang halamannyo supayo anak2 dan cucu2nyo salalu menyempatkan diri ziarah kemakamnya.
Dulu desaku desa tertinggal mudah2an berkat generasi penerus keadaan yang tertinggal dan minus menjadi baik.
Hayatun Nismah Rumzy --- On Sat, 12/25/10, Zulkarnain Kahar <zxk...@maninjau.net> wrote: |
|
mamak, bundo kanduang, sarato uda-uda dan uni-uni di palanta.. numpang nitip artikel di siko ciek..:) “Anda ini kaum intelektual. Seharusnya anda mengerti dan bisa menghargai sebuah karya intelektual. Berapa sih harga buku yang asli? Bahkan saya sudah memberikan harga yang jauh dari harga toko. Kenapa anda masih memilih memfotokopi? Saya menjual buku ini bukan untuk nyari untung. Tapi agar anda bisa belajar dengan baik lewat apa yang telas tuliskan di buku ini… Yah, saya binggung, ngak tahu harus ngomong apalagi. Berapa sih harga buku saya yang cuma Rp. 35.000 dengan uang yang anda keluarkan untuk beli pulsa hanya untuk menelpon pacar anda??? Mungkin ratusan ribu, tak semahal buku saya… Ya, sebagai intelektual kampus, saya benar-benar kecewa dengan anda.” Beliau adalah Bapak Joko Wicoyo, dosen Bahasa Inggris Filsafat yang diminta mengajar di fakultas Filsafat. Hanya karena kedekatan beliau dengan salah seorang dosen tetap di filsafat dan hubungan emosional karena dulu pernah juga kuliah di Filsafat UGM, beliau mau mengajar dengan insentif yang sama sekali tidak memadai. Kemarahan Pak Joko karena mendapatkan seorang mahasiswi memfotokopi buku karya memang terlihat berlebihan di tengah massifnya budaya fotokopi buku di kalangan mahasiswa. Tapi, bagi teman-teman yang pernah berurusan dengan penerbitan dan membuat sebuah buku, rasanya reaksi Pak Joko adalah sesuatu yang sangat wajar. Betapa tidak, dengan buku setebal yang ditulis Pak Joko itu mungkin biaya produksi saja mencapai Rp. 30.000. Tinggal Rp. 5.000 saja keuntungan yang ia dapatkan. Tapi apakah pantas menghargai sebuah karya yang dibuat berbulan-bulan, dengan bantuan berbagai literatur yang juga harus dibeli, serta proses seleksi di penerbitan yang makan hati, kemudian dihargai hanya dengan uang Rp. 5.000??? Kalau mau jujur, kata yang mungkin layak kita ucapkan adalah BENAR-BENAR KETERLALUAN. Kita memang tak bisa menyalahkan mahasiswa yang cendrung berpikir ekonomis, memilih mengopi buku karena minimnya uang saku. Tapi terkadang sebagian mahasiswa rela menghabiskan uang jutaan untuk hura-hura di cafe, beli baju ini dan itu, beli pulsa buat nelpon pacar, tapi pelit untuk membeli sebuah buku asli. Sebuah kondisi yang miris, sehingga para penulis buku-buku ilmiah janganlah pernah bermimpi menjadi kaya jika kondisi masyarakat intelektual seperti ini. Pengorbanan materi, waktu, dan pikirkan yang dihabiskan untuk menjadi sebuah buku, sama sekali tak sebanding dengan penghargaan yang diberikan. Tak salah jika kebanyakan para ilmuwan kita akhirnya lebih betah berkarier di luar negeri. Tidak hanya mendapatkan pengakuan intelektual, tapi kebutuhan materi mereka juga tercukupi. Buat apa tinggal di negeri yang sama sekali tidak punya kepeduliaan terhadap kaum intelektual? Sudahlahlah masyarakat hobi fotokopi, tambah lagi minat baca sangat rendah. Semakin lengkap dengan mahalnya harga kertas, padahal ratusan hektar hutan yang tumbuh di tanahnya. Pejabatnya banyak yang professor doktor lulusan luar negeri, tapi tak pernah mampu memecahkan persoalan yang sebenarnya simpel. Tak usah jauh-jauh berkaca sama Eropa dan Amerika. Cobalah belajar dari India, yang membuat regulasi menekan harga kertas sehingga buku-buku bisa dijual murah. Sehingga mahasiswa tak perlu lagi memilih jalan fotokopi, karena bisa jadi biaya fotokopi lebih mahal daripada buku yang asli. Dan lihatlah, apa yang diraih oleh India dengan kebijakan sederhana ini? Mahasiswa menjadi kutu buku, kualitas pendidikan meningkat, lulusan universitas mereka mendapat pengakuan secara internasional serta banyak produk-produk inovatif yang dihasilkan. So, kalau memang negeri ini ingin maju, maka berikan penghargaan yang pantas buat para ilmuwan, buat para penulis. Bikin regulasi yang memungkinkan bangsa ini menjadi “bangsa yang gila baca”. Tidak hanya sekedar terlena dengan euforia nasionalisme tribal sepakbola. ttd anggun gunawan alumni filsafat ugm - 26 th |
Sent by DiGi from my BlackBerry® Smartphone
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT




Anggun,
Anggun pakai komputer pribadi kan ya. Pakai Windows berapa? Windowsnya pakai lisensi?
Kalau iya – Windowsnya dibeli terpisah, atau PreInstalled Resmi – bagus sekali.
Mengetik artikelnya pakai Office berapa? Pakai Lisensi?
Atau pakai Linux dan aplikasi yang open source?
Kalau iya, bagus.
Tapi kalau tidak?
Nah, ini suatu poin penting juga untuk dibahas.
Bagaimana kita bisa berharap mahasiswa menghargai hak cipta buku (atau software) kalau “senior2”nya pun tidak?
Riri
From: rant...@googlegroups.com
[mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of anggun gunawan
Sent: Saturday, December 25, 2010 7:04 AM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] fotokopi buku = haram ???
|
mamak, bundo kanduang, sarato uda-uda dan uni-uni di palanta.. numpang nitip artikel di siko ciek..:) |
--
Salam,
Kalo bukunya ‘copyright’ diphoto copy itu lah jaleh salah.
Tapi, apokah dosen tsb lai ado mambuek diktat [kalau manuruik KBBI; buku pelajaran yg disusun oleh guru berupa stensilan (bukan cetakan)] nan saroman kualitas e jo buku e nan diphotocopy tu? Untuak dibagi-bagikan gratis ka mahasiswa e.
---
Wempi
From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of anggun gunawan
Sent: 25 Desember 2010 7:04
To: rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] fotokopi buku = haram ???
mamak, bundo kanduang, sarato uda-uda dan uni-uni di palanta.. numpang nitip artikel di siko ciek..:) |
--
salam
andiko
----- Original Message -----
From: ryanfi...@yahoo.com
To: "Rantaunet" <rant...@googlegroups.com>
Sent: Saturday, December 25, 2010 7:13:27 AM GMT +07:00 Bangkok, Hanoi, Jakarta
Subject: Re: [R@ntau-Net] fotokopi buku = haram ???
Pak Anggun...bebaskan negara dari amalan korupsi, bukan hanya mahasiswa, seluruh rakyat akan dpt brg dan service dg murah...
Ryan ipoh 43
Sent by DiGi from my BlackBerry® Smartphone
From: anggun gunawan <anggun_...@yahoo.com>