Fwd: [R@ntau-Net] Islamkan Adat Minang

213 views
Skip to first unread message

dutamardin umar

unread,
Jun 7, 2007, 2:55:11 PM6/7/07
to rant...@googlegroups.com


Zulfikri <zulf...@telkom.net> wrote:
From: "Zulfikri" <zulf...@telkom.net>
To: <pakgur...@yahoogroups.com>,
"Rantau Net Minang Net" <pal...@minang.rantaunet.org>
Date: Sat, 15 Jan 2005 17:04:38 +0700
CC:
Subject: [R@ntau-Net] Islamkan Adat Minang

Kolom Sabili Edisi 13 :
Oleh: Aswin Jusar, Wartawan Senior

Islamkan Adat Minang

Leonardi, Samual, John atau Johanes, David dan Adrian, itulah beberapa nama
yang disandang sejumlah kaum pria Nagari Minang generasi sekarang.
Dimengerti atau tidak, pemberian nama yang bukan islami tersebut
mengindikasikan kegalauan orang Minang dalam mengimplementasikan adat yang
berbunyi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Syarak mangato,
Adat Mamakai".

Ia merupakan rumusan kesepakatan yang dicapai di Bukit Marapalam setelah
berakhirnya Perang Paderi 1830-1838. Seratus tujuh puluh tahun kemudian,
rumusan tetap tinggal rumusan tanpa dijabarkan, sehingga menimbulkan
ketidak-jelasan tatanan sosial masyarakat Minang. Karenanya terdapat
ambivalensi terhadap formula adat ciptaan manusia dengan firman Allah SWT
yang diadopsi dalam adat, tetapi tidak dalam implementasinya.

Dalam hal pewarisan harta pusaka, misalnya orang Minang tak sepenuhnya
melaksanakan ajaran Islam. Sebagai contoh dalam Tambo Minangkabau
disebutkan, dua datuk yang dipandang sebagai legislator adat-Datuk
Katumanggungan dan Datuk Parpatih Sabatang-menyimpulkan dari pengalaman
mereka dalam suatu ujian bahwa yang bersedia menolong para Datuk yang
kesulitan, adalah kemenakannya, sedang anak-anaknya tidak.

Karena itu, harta warisan diturunkan kepada kemenakannya, dan tidak kepada
anak-anak, walau alasan tersebut sangat dangkal. Begitu pula tentang
keturunan, adat Minangkabau tidak mengakui keturunan bapak.
Hal tersebut jelas bertentangan dengan Kitabullah, karena ajaran Islam hanya
mengakui silsilah berdasarkan keturunan bapak. Inipun sejalan dengan ilmu
pengetahuan di bidang kedokteran yang dapat memastikan siapa bapak seorang
anak dengan memeriksa gen anak dan pria bersangkutan. Sedang mengenai
pewarisan harta pusaka, jelas diterangkan dalam al-Qur'an, surat an-Nisa'
ayat 11. Islam tidak mengenal harta pusaka tinggi yang diperoleh secara
turun temurun atau harta pusaka rendah yang diperoleh sebagai hasil setelah
berumah tangga.

Kemiskinan pun, kemudian melanda Ranah Minangkabau. Kompas (24 Maret 1999),
memberitakan, "Balita meninggal akibat kasus kurang gizi menjadi 20 orang,"
ujar kepada Dinas Kesehatan Tingkat I Sumatera Barat. Dikabarkan sedikitnya
87.878 (11 persen) anak-anak usia 7 sampai 19 tahun tidak bersekolah. Hal
ini disebabkan faktor ekonomi keluarga, di samping minat anak yang sangat
rendah untuk mengenyam pendidikan (Media Indonesia, 1 Oktober 2002).
Padahal, ajaran Islam mengingatkan penganutnya bahwa kefakiran menyebabkan
kekufuran.

Dalam keadaan demikian The Bethany Prayer Center, pada 1997 membuat profil
Minangkabau dengan data yang relatif lengkap berdasar statistik perkiraan
The World Evangelization Research Center sebagai referensi dalam upaya
mereka menjadikan etnik ini sebagai sasaran Kristenisasi terencana.
Disebutkannya, kemerosotan adat lama dan meningkatnya perantauan ke
kota-kota merupakan jalan masuk bagi Injil kepada kelompok yang amat ketat
ini. Diperlukan pekerja-pekerja Kristen yang peka terhadap budaya Islam,
yang bersedia untuk tinggal dan bekerja di antara orang Minangkabau yang
hidup dalam kegelapan kerohanian.

The Bethany Prayer Center menyebutkan ada delapan lembaga misi yang bekerja
untuk menjadikan etnik Minangkabau sebagai sasaran terencana. Jemaat Kristen
lokal mencoba merayu 150.000 orang, sedang pendekatan dari luar Ranah
Minangkabau yang dilakukan, sudah mencapai 1.693.500 orang dan jumlah orang
Minangkabau yang sudah pernah mendengar pekabaran Injil mencapai 1.843.900
orang atau sekitar 37 persen. Ada sekitar 1.000 orang Minangkabau yang sudah
berhasil dikristenkan.

Etnik Minangkabau adalah salah satu etnik dalam suku Melayu yang menjadi
sasaran utama untuk dikristenkan. The Bethany Prayer Center menyiapkan film
Jesus, Siaran Radio dan Injil dalam Bahasa Minangkabau. Dalam butir-butir
doa mereka disebutkan, "Mintalah pada Tuhan agar ada orang yang mau datang
ke Indonesia dan berbagi Kristus dengan Etnik Minangkabau".

Adalah hak konstitusional etnik Minangkabau berdasar pasal 18B, 28 I, dan 32
UUD 45 dan pasal 6 UU No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia untuk
menyatakan bahwa adat Minangkabau dan Islam sebagai identitas kultural
Minangkabau. Apa yang dilakukan terhadap etnik Minangkabau tersebut, bisa
dikatakan sebagai upaya terencana, terorganisasi serta berkelanjutan untuk
menyebarkan agama lain ke kalangan warga etnik Minangkabau yang dapat
ditafsirkan sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia.

Kegalauan dan kerancuan tatanan sosio cultural etnik Minangkabau memerlukan
perbaikan untuk mewujudkan masyarakat baru Minangkabau. Berbagai aspek
kehidupan yang multikompleks, memerlukan pembaruan. Sistem kekerabatan
matrilineal perlu disesuaikan dengan ajaran Islam dan dengan norma hukum
nasional, sehingga berkembang menjadi satu sistem kekerabatan parental plus,
yaitu sistem kekerabatan yang selain mengakui seluruh mereka yang mempunyai
pertalian darah, juga melindungi hak serta privillage (istimewa) kaum
perempuan Minangkabau.
-------------------------------------------------------
Arsip posting/massages "pakguruonline' terbuka untuk umum lihat/baca klik
url berikut :
http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline/messages


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________



dutamardin umar

unread,
Jun 7, 2007, 3:12:16 PM6/7/07
to rant...@googlegroups.com

Rasyid, Taufiq (taufiqr)

unread,
Jun 8, 2007, 12:33:37 AM6/8/07
to Rant...@googlegroups.com
 
Datuk   Katumanggungan dan Datuk Parpatih Sabatang-menyimpulkan dari pengalaman

mereka dalam suatu ujian bahwa yang bersedia menolong para Datuk yang
kesulitan, adalah kemenakannya, sedang anak-anaknya tidak. 
Kok bisa dianggap begini. Kemana ajaran anak dipangku-kemanakan dibimbing , orang kampung dipatenggangkan ??? 


Kemiskinan pun, kemudian melanda Ranah Minangkabau. Kompas (24 Maret 1999),
memberitakan, "Balita meninggal akibat kasus kurang gizi menjadi 20 orang,"
ujar kepada Dinas Kesehatan Tingkat I Sumatera Barat. Dikabarkan sedikitnya
87.878 (11 persen) anak-anak usia 7 sampai 19 tahun tidak bersekolah. Hal
ini disebabkan faktor ekonomi keluarga, di samping minat anak yang sangat
rendah untuk mengenyam pendidikan (Media Indonesia, 1 Oktober 2002).
Padahal, ajaran Islam mengingatkan penganutnya bahwa kefakiran menyebabkan
kekufuran. 
 
Apo hubungannyo antaro pusako tinggi jo kemiskinan  ????
 Nan ambo liek untuak Luhak Nan Tigo, luas lahan nan jadi perdebatan ko tidak begitu luas begitu juo nilai ekonomis nyo maupun hasil pertanian nan ado kini.


Disebutkannya, kemerosotan adat lama dan meningkatnya perantauan ke
kota-kota merupakan jalan masuk bagi Injil kepada kelompok yang amat ketat
ini.  
 Untuk generasi pertama perantau maupun mereka yang sehari-hari masih berinteraksi dan mengaplikasikan adat dan agamanya. Ambo indak cameh jo Kristenisasi ko.
Tapi kalau dek lah terpana dengan segala issu modernisasi sahinggo inyo lupo jo asa. Mungkin bisa ditaklukkan para penginjil.
 
Seperti nan acok ambo liek, walaupun inyo pareman gadang/parewa, pemabuk, penjudi dan lain penyakit masyarakat. Pareman Pasa Ikan itu jan sampai disbuik indak baradat atau ba-agamo. Bisa ditojehnyo atau kanai sakin pinggang awak beko. 


Ada sekitar 1.000 orang Minangkabau yang sudah   berhasil dikristenkan. 
Jumlah 1000 itu apakah yang tinggal di Ranah Minang ???
Saya rasa tidak, kecuali yang  penduduk Sumbar yang berasal dari Transmigran atau orang Nias yang tinggal dipesisir pantai.  
Kalau yang Minang asli umumnya adalah akibat pernikahan atau terpaksa nikah karena kecelakaan ( Ini termasuk pola mereka untuk mengkristenkan kita). Walupun baitu awan jan sampai lengah dan menganggap awak cukup tangguh .
  Berikan selalu rambu-rambu pada anak-kemenakan supaya jangan terpedaya untuk hal ini.

 
  sistem kekerabatan parental plus,
yaitu sistem kekerabatan yang selain mengakui seluruh mereka yang mempunyai
pertalian darah, juga melindungi hak serta privillage (istimewa) kaum
perempuan Minangkabau. 
Dalam praktek sehari-hari  kini terutama diperantauan : "Parental Plus" itu lah jalan, walau dalam pertemuan/acara resmi peran mamak masih dominan
-------------------------------------------------------

iwan soekri

unread,
Jun 9, 2007, 2:07:35 PM6/9/07
to Rant...@googlegroups.com
salam
saya setuju akan tulisan ini.
 
saya tak setuju suara rakyat suara tuhan
suara rakyat ya suara rakyat. suara Tuhan ya suara Tuhan.
 
saya tak setuju : adat basandi syara, syara basandi kitabullah
pasalya, banyak hal dalam adat tak bersandi ke syara. syara bersandi ke kitab Allah, itu benar.
jadi, saya setuju, adat bersandi pada kebiasaan orang banyak pemakai adat. syara bersandi ke kitab Allah.
 
apakah orang minang itu Islam? secara adat, saya sulit mengatakan minang. di piaman laweh, misalnya, laki-laki dijemput (dibeli), padahal seyogianya mahar datangnya dari laki-laki. proses jemput ini mirip orang india yang membeli laki-laki.
 
salam
iwan

dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote:
href="http://www.flamingtext.com/ymail.html" >Image by FlamingText.com
Image by FlamingText.com


Pinpoint customers who are looking for what you sell.

dutamardin umar

unread,
Jun 9, 2007, 4:20:05 PM6/9/07
to Rant...@googlegroups.com, piaman...@googlegroups.com
Alaikumsalam sanak Iwan.,
 
Nan satahu ambo uang jemputan di Piaman bukanlah mahar.
Sewaktu ijab kabul marapulai masih menyerahkan mahar.
Uang jemputan yang biasanya dalam satuan "ameh-pound"
Itu menjadi hak kedua penganten, sebagai modal awal
barumahtangga.
 
Nan mambuek kacau adonyo "uang hilang". Iko akibat
dari banyak saingan untuk memperebutkan "jawi" saikua.
Akhirnya ada tim lobby yang mendekati mamaks marapulai.
Akibatnya terjadi money-politics.
 
Maoh maulang kaji. Dulu di RN pernah pulo jadi topik soalko.
 
Baa ajo Saaf, bantu ambo manjalehkan atau mangoreksi.
Ajo Doto Suhaemi, pernahkah manulih soal ko?
 
Salam dari jauaah,
 
ajoduta/60 (17 agustus yad) 

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jun 9, 2007, 9:41:08 PM6/9/07
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam w.w. Adinda Ajoduta,

Dalam patamuan di rumah Bundo Hayatun, Sanak Zubir
Amin alah manjalehkan soal uang jemputan dan soal
urang hilang ko. Bialah baliau nan manjalehkannyo
baliak sacaro langsuang ka kito sadonyo.

Tipak di ambo, nan dapek ambo jalehkan adolah bahaso
Anduang ambo, Siti Fatimah, sabana berang jo masalah
uang jemputan ko, sahinggo sawaktu gadih -- di awal
abad ka 20 -- baliau maninggalkan kampuang asa kami di
Kajai, Kampuang Dalam, manjadi pembantu, samacam TKW
maso kini, di rumah urang di Pasa Usang Padang
Panjang.

Sasudah baliau dapek jodoh dan barumah tangga sarato
baranak pinak, baliau bapitaruh supayo indak surang
juo anak cucu baliau nan buliah manarimo uang jemputan
atau uang hilang itu. Amanah baliau tu kami laksanakan
sacaro taguah. [Jadi wakatu ambo jo adiak-adiak ambo
kawin, pihak nan padusi yo sanang bana, dapek urang
sumando perai, gratis, sajo. Padohal wakatu ambo
menikah tahun 1962 ambo alah letnan satu dan sarjana,
dalam daerah operasi militer Kodam III/Agustus. Kok ka
mintak dijapuik, rasonyo mintak sedan ciek masuak aka
juo, he he].

Baitulah curitonyo Adinda.

Wassalam,
Saafroedin Bahar.


____________________________________________________________________________________
Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing.
http://new.toolbar.yahoo.com/toolbar/features/mail/index.php

iwan soekri

unread,
Jun 10, 2007, 10:09:39 AM6/10/07
to Rant...@googlegroups.com
salam
inilah kerancuan islam dan minang, khudsusnya di piaman.
tak mau disebut mahar, uang jemputan dihaluskan dengan uang hilang dan apalah.
terus, kan tetap ada mahar.
banyak kejadian, gagal kawinnya sepasang pengantin, karena uang jemputan tak terpenuhi. banyak perempuan india miskin yang sulit kawin karena keluarganya tak bisa 'membeli' laki-laki.
jawi? ah, ayahku dari jawi-jawi, tapi dia bukan jawi. walau dia Sutan, namun tak ada 'dibeli' ibuku. ayah dan ibu kawin karena dia islam dan karena mereka saling cinta. walau urang piaman membikin mereka berdua terlantar dengan segala cimeeh dan dengan segala gunjingan.
saya setuju pernyataan angku dutamardin umar, hanya jawi dan punya ikua yang bisa diperjual belikan. tentu sulit dari jawi ini diminta keislamannya secara manusia. (walau saya yakin, jawi itu juga islam dengan cara kejawiannya). hahaha.
tapi, piaman menaik untuk dikaji dan dibuat tulisan.
saya ke piaman, pulkam, senang. tapi paling lama tiga hari, hari keempat dan selanjutnya, kuping akan semakin merah. dan, balik lagi ke rantau.
Image by FlamingText.com


Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

Muhammad Dafiq Saib

unread,
Jun 10, 2007, 10:52:00 AM6/10/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu
 
Urusan adaik jo kabiasoan ko memang iyo ado nan paralu diluruihan. Maluruihanno tantu indak bisa sarupo mambaliak-an tapak tangan do. Musti jo kasabaran dan ka berhati-hatian. Dan nan saelokno dimuloi jo diri awak masiang-masiang. 'Ibdak bi nafsika' kecek urang Surau. Nan maa- nan maa nan yakin awak baraso kurang patuik, muloi jo diri awak sandiri mampaelok-ino. Mungkin baitu carono.
 
Wassalamu'alaikum
 
Lembang Alam

iwan soekri <iwan_...@yahoo.com> wrote:
salam
inilah kerancuan islam dan minang, khudsusnya di piaman.
tak mau disebut mahar, uang jemputan dihaluskan dengan uang hilang dan apalah.
terus, kan tetap ada mahar.
banyak kejadian, gagal kawinnya sepasang pengantin, karena uang jemputan tak terpenuhi. banyak perempuan india miskin yang sulit kawin karena keluarganya tak bisa 'membeli' laki-laki.
jawi? ah, ayahku dari jawi-jawi, tapi dia bukan jawi. walau dia Sutan, namun tak ada 'dibeli' ibuku. ayah dan ibu kawin karena dia islam dan karena mereka saling cinta. walau urang piaman membikin mereka berdua terlantar dengan segala cimeeh dan dengan segala gunjingan.
saya setuju pernyataan angku dutamardin umar, hanya jawi dan punya ikua yang bisa diperjual belikan. tentu sulit dari jawi ini diminta keislamannya secara manusia. (walau saya yakin, jawi itu juga islam dengan cara kejawiannya). hahaha.
tapi, piaman menaik untuk dikaji dan dibuat tulisan.
saya ke piaman, pulkam, senang. tapi paling lama tiga hari, hari keempat dan selanjutnya, kuping akan semakin merah. dan, balik lagi ke rantau.
salam
iwan




Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.

Syafrinal Syarien

unread,
Jun 10, 2007, 1:36:12 PM6/10/07
to Rant...@googlegroups.com
Dalam kerangka perkawinan, tak perlu memandang
pemberian dari satu pihak ke pihak lain sebagai
transaksi "jual-beli".
Kalau begitu semua perempuan muslim berarti "dibeli"
dengan uang mahar.
Konon, di Saudi standard maharnya sekitar USD 50,000.
Wah! Pantas banyak pria Saudi yang membujang, nggak
sanggup membeli perempuan,upsss sorry... maksudnya
membayar mahar.

> ---------------------------------


> Don't pick lemons.
> See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.
>
>
>


____________________________________________________________________________________
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story. Play Sims Stories at Yahoo! Games.
http://sims.yahoo.com/

muhammad syahreza

unread,
Jun 10, 2007, 9:52:44 PM6/10/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum wr.wb.Niniak Mamak salingka Piaman Laweh
 
Kalau ado yang ingin maratifikasi atau marevisi adat salingka nagari di Piaman laweh tu, ambo nan partamo mandukuang. Ambo labiah rela tabuang dari adat daripado tabuang dari agamo. Karano dalam agamo Islam yang namonyo nikah kawin adolah karajo elek yang harus dipacapek. Dulu ambo pernah punyo hubungan jo kawan urang X Jeruk juo dan sepakat kami untuak manikah, waktu inyo manyampaiakan ka keluarganyo nan tajadi adolah keluarganyo indak merestui hubungan kami, hanyo neneknyo sajo yang mandukuang hubungan kami, karano dimato keluarganyo status keluarga ambo indak samulia keluarganyo do. Demi "MENYENANGKAN HATI URANG TUANYO SUPAYA INDAK DIKATOKAN ANAK DURHAKO" inyo nikah jo calon urang tuonyo. Selain dari itu banyak pulo kasus dari kawan ambo yang alah manyebar undangan, 3 hari kanikah batal acaranyo dek karano kesepakatan niniak mamaknyo "mantah" baliak.
Sacaro psikologis jo moril bara barek baban malu yang ditangguang pihak keluarga anak daro dan marapulai, karano ego niniak mamak..bara gadang doso yang akan ditangguang niniak mamak nyo tu...padahal nan maagiah makan jo manggadangkan kamanakannyo tu abak jo amaknyo bukan mamak-mamaknyo..Kebetulan induak bareh ambo urang Sumani Solok, lahia gadang di Padang. Waktu nikah akhir Maret patang ko untuak mahindakan pagesekan budaya jo adat antaro Piaman jo Solok, ambo malangga adat Piaman tanpa mangabakan jo maajak niniak mamak dari Piaman, ambo turun dari rumah bako ambo di Jati di padang, sebagai niniak mamak ambo minta tolong se ka urang gaek kawan karib ambo di Padang, kebetulan inyo juo dari Gasan X Jeruk. Alhamdulillah acara lancar..nan paralu urang gaek lai restu jo redho...karano kami karajo di swasta yang tabateh waktunyo..banyak prosesi kami potong se..misalnyo manjalang keluarga marapulai dalam adat Piaman indak diadokan.
Ambo pribadi indak pernah sadiah atau kecewa indak mamakai adaik Piaman...malah ambo bangga bisa mahindari pergesekan budaya waktu pernikahan ambo.
 
wassalam
Reza
 

 

dutamardin umar

unread,
Jun 10, 2007, 10:26:11 PM6/10/07
to Rant...@googlegroups.com, piaman...@googlegroups.com
Alaikumsalam nakan Reza dan sanak kasado alahe.
 
Pemberontakan soal adaik Piaman ko memang alah berlansung
taruih. Waktu bupati zaman Orba, Anas Malik, kalau indak salah
pernah mengeluarkan perda mengatur soal japuik manjapuik ko.
Ambo sendiri nan nikah jo gadih Toboh, lahia di Siantar, basuo
dan nikah di Jakarta, samo sekali indak memakai adaik tu.
Kebetulan kedua pihak kami sepakaik pulo. Ambo mambayia
mahar sebuah Alqur'an. Hanyo itu.
 
Rasonyo secara perlahan dan pasti, telah tajadi banyak
perobahan. Kadangkala kalaupun dilakukan hanya sekedar
formalitas simbolik sajo.
 
Baa komentar sanak di lapau "piaman-laweh"?
 
Wassalam
ajoduta

Rasyid, Taufiq (taufiqr)

unread,
Jun 11, 2007, 1:14:29 AM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com, piaman...@googlegroups.com
 


From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of dutamardin umar
Sent: Monday, June 11, 2007 9:26 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Cc: piaman...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Re: Islamkan Adat Minang: Laki2 Piaman dibeli?

Rasonyo secara perlahan dan pasti, telah tajadi banyak
perobahan. Kadangkala kalaupun dilakukan hanya sekedar
formalitas simbolik sajo.
 
===========================================================================================================================================
 
Kabatulan ambo sendiri nan mengalaminyo :
Walau lah ambo jalehkan. Kalau di Agam  pihak lelaki yang memberi pada wanita. Ado berupa rupiah mas atau ma-isi sa suduik (mengiisi kamar penganten).
Karano di rantau mungkin kito menutupi masing-masing saja.
 
Pihak Bapak/Ibu dari silelaki tatap menghendaki dilakukan prosesi itu. Supaya mereka tidak kehilangan muka dimasyarakatnya terutama kaum Ninik-Mamak.
 
Ini hanya  uang jemputan bukan uang hilang yang akan dikembalikan pada pihak wanita sebagai tanda lamaran waktu mereka menyampaikan lamarannya nanti .
Untuk komprominya. Bahkan ada pihak lelaki yang menyiapkan uang itu terlebih dahulu supaya diserahkan secara formil oleh pihak wanita pada pihak lelaki nanti sebagai uang jemputan  dari wanita .
 
Jadi adonyo juo sandiwaranyo saketek.--
 
Wassalam
 
 
 

 

Nuraini B Prapdanu

unread,
Jun 11, 2007, 2:25:23 AM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com, piaman...@googlegroups.com
Dunsanak kasadonyo,
 
Mengutip nan ambo baco, Orang Minang termasuk penganut kultur langka di dunia.Masyarakat MInang menganut sistem Matriakhat, garis keturunan dan pembagian harta pusaka berpedoman pada garis silsilah turunan ibu , di Dunia konon hanya ada tiga etnis bangasa penganut sistem ini. Buku Les Champa terbitan universitas Sorbonne , Perancis, mengungkapkan selain di Minang , sistem matriakhat ini terdapat di Champa , Vietnam dan kepulauan Madagaskar.
 
Sekilas pengawinan adat dan agama sangat gampang , tetapi jika diselami secara mendalam benturan dashyat di temui sebagai contoh : Adat minang menentukan warisan diturunkan sesuai garis silsilah pihak Ibu , anak prempuan lalu ke cucu perempuan dstnya, sedangkan warisan menurut ajaran islam dari ayah turun ke anak lelaki lalu cucu lelaki dstnya .
 
Orang Minang pemegang adat yang kuat sekaligus menganut agama yang taat , Jika seorang pria dikatakan tidak beragama dia masih bisa senyum dan jawab " Hanya allah yang tahu " tapi coba katakan dia tidak beradat ....dia pasti akan mengamuk kalau ada golok didekatnya bisa - bisa langsung di " dabiah "yang ngomong.
 
Urang piaman sangat terkenal teguh kalau memegang adat istiadatnya , Manuruik ambo dalam perkawinan, hukum jual beli tidak berlaku , mestinya lelaki yang melamar calon isrtri ,bukan sebaliknya , tradisi yang berlaku ini sangat memalukan menempatkan lelaki seperti diperjual belikan kira - kira mirip " ayam" lah ya , apalagi pakai uang jemputan dan uang hilang segala macem ....hiks ,yang lebih parah lagi saking mau pake tuh tradisi si lelaki nyediain duit dikasih ke si perempuan karena si perempuan nggak sanggup beli , demi biar ninik mamak nggak berang diam - diam ' under the table "pake duit si cowok buat beli dia sendiri..belum lagi yang memanfaatkan sesaat adat " Beli Mantu " ini ...ada kejadian yang kena tipu udah dapet uang hilang dapet perawan eh dia kabur ....pssst diem - diem rupanya dia udah punya istri ....ih kacian deh ,
 
Berarti kalau punya banyak uang enak dong, tinggal pilih mau yang ganteng , yang muda, yang sarjana bertitel and soon... and soon.... masalah cocok belakangan , khan kasihan tuh untuk mereka yang sudah saling mencintai tapi batal nikah gara - gara pihak perempuan tidak bisa memenuhi uang jemputan dan uang hilang.
 
Salam ci uniang,
Nuraini
 

From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of dutamardin umar
Sent: Monday, June 11, 2007 9:26 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Cc: piaman...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Re: Islamkan Adat Minang: Laki2 Piaman dibeli?

Bandaro Labiah

unread,
Jun 11, 2007, 3:15:41 AM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaykum w.w.
 
sayang dan sangat diayangkan, aklau lah saja sabtu tgl 9 kapatang tu lai sato maota di tampaik buno, rasono, pandapek atau komentar nan bak nangko mungkin indak ka kalua lai doh
 
iyo juo kasimpulan kapatang tu,  "tulih dan tulihkan", supayo nan indak  atau alun tyau bisa manjadi tau (sungguahpun sabanano lah banyak juo tulisan nan lah ado). Kini tingga diawak nan manantukan, ka tau atau ka indak, atau ka bantuak-bantuak indak tau (pura tidak tahu)
 
marilah kito cubo manggali, memahami sedalam-dalamnyo, kok manggali sampai ka urek tunggang, manggagai sampai ka pucuak bulek. Dibaliak nan tasurek ado nan tasirek, dibaliak nantun adopulo nan tasuruak
 
batua lalukan, ukan tukai
 
wassalamu'alaykum w.w.
 
Bandaro Labiah

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Yulnofrins Napilus

unread,
Jun 11, 2007, 3:31:39 AM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com, piaman...@googlegroups.com
Assalamualaikum ww
 
Mungkin baiknya dipahami juga sedikit knp adat bajapuik ini dulu muncul. Kalau gak salah, konon nih, krn jaman dulu kito hiduiknyo di kampuang susah... Sampai kini pun masih susah, makonyo pd marantau... Sehingga bagi yg punya anak lelaki, disarankan utk merantau dan berjuang hidup sampai sukses dan bao PITIH pulang... Kok indak jaan pulang...:D
 
Ttp utk ongkos pai marantau inipun, terpaksalah keluarga menjual harato pusako, menggadai tanah ulayat, pinjam kiri kanan, dlsbgnya. Ketika si anak akhirnya sukses dan akan babini, masak keluarga indak dapek apo2...? "kami alah merana menunggu anak kami agar maju dan berhasil... Kini ka diambiak baitu sajo dan pindah karumah bininyo...". Bagi keluarga wanita yg mampu saat itu, indak paduli do, agiah sajo kabau sikua, atau agiah sawah, dllsjnya... "Yg penting anaknyo dapek diawak utk ka mantu...". Akhirnya ini berkembang terus...
 
Tapi utk jaman skrg, dasar ini sudah tidak tepat lagi. Krn yg manggadangkan dan membiayai anaknyo, terutamo nan alah dilua Sumbar, bukan keluarga besar dari suku lagi. Bukan Mamak nyo. Tetapi orang tuanya masing-masing. Di Sumbar pun kebanyakan juga sudah seperti ini....
 
Nah, manuruik ambo nan indak mangarati banyak ttg adat istiadat, mungkin isu ini bisa membantu membukakan LOGIKA urang piaman supayo jaan lah mambarekan calon mempelai wanita lagi kalau ka baralek...
 
Sekian, semoga berkenan. Kalau ado nan indak tapek dan sasuai, mohon maaf.
 
Wassalam,
Nofrins
 

dutamardin umar <doe...@yahoo.com> wrote:
Alaikumsalam nakan Reza dan sanak kasado alahe.
 
Pemberontakan soal adaik Piaman ko memang alah berlansung
taruih. Waktu bupati zaman Orba, Anas Malik, kalau indak salah
pernah mengeluarkan perda mengatur soal japuik manjapuik ko.
Ambo sendiri nan nikah jo gadih Toboh, lahia di Siantar, basuo
dan nikah di Jakarta, samo sekali indak memakai adaik tu.
Kebetulan kedua pihak kami sepakaik pulo. Ambo mambayia
mahar sebuah Alqur'an. Hanyo itu.
 
Rasonyo secara perlahan dan pasti, telah tajadi banyak
perobahan. Kadangkala kalaupun dilakukan hanya sekedar
formalitas simbolik sajo.
 
Baa komentar sanak di lapau "piaman-laweh"?
 
Wassalam
ajoduta

 


Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and
always stay connected to friends.

iwan soekri

unread,
Jun 11, 2007, 4:10:15 AM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
salam
ini berita baru, kalau standardnya begitu.
namun kerangka perkawinan adalah benar transaksi (akad) antara penganten lelaki dengan wali penganten perempuan, bisa saja bapak penganten perempuan atau kakak-adik laki-laki, atau adik-kakak bapak, atau bapaknya bapak dstnya. atau juga dengan wali hakim. jadi pandangan akad ya fokus pada transaksi jual-beli. pembelinya adalah mahar, kesepakatan antara penganten lakilaki dan pihak keluarga perempuan yang diwakili walinya tadi.
jemputan atau uang hilang pun merpakan transaksi jual beli, apalagi ada anggapan keluarga lelaki sudah payah membesarkan calon penganten lelaki, sehingga sang penganten lelaki yang 'jawi saikua' kata angku duta mardin umar, peerlu diberi nilai tertentu dalam uang jemputan.
inilah salah satu contoh, adat jemputan tidak bersandi ke syariat Islam. namun jelas syariat Islam akan bersandi ke kitab Allah.
belum lagi, garis suku turun dari ibu, bukan dari bapak. suatu hari, seorang kawan bertanya, fam bapakmu Koto, ya Wan? saya jawab, bukan. Fam bapakku Jambak, famku koto. dia bingung. saya juga bingung. Minangkabau itu kawasan islam kuat, kok bisa begitu, Wan? bukankah dalam Islam garis keturunan itu dari bapak? saya jawab: Mboten ngertos, Mas. Embuuuuh.
Jadi? antahlahhhhhh.....
salam
sutan iwan soekri munaf

Syafrinal Syarien <ssya...@yahoo.com> wrote:

Dalam kerangka perkawinan, tak perlu memandang
pemberian dari satu pihak ke pihak lain sebagai
transaksi "jual-beli".
Kalau begitu semua perempuan muslim berarti "dibeli"
dengan uang mahar.
Konon, di Saudi standard maharnya sekitar USD 50,000.
Wah! Pantas banyak pria Saudi yang membujang, nggak
sanggup membeli perempuan,upsss sorry... maksudnya
membayar mahar.

Image by FlamingText.com


Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.

iwan soekri

unread,
Jun 11, 2007, 4:10:22 AM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
salam
ini berita baru, kalau standardnya begitu.
namun kerangka perkawinan adalah benar transaksi (akad) antara penganten lelaki dengan wali penganten perempuan, bisa saja bapak penganten perempuan atau kakak-adik laki-laki, atau adik-kakak bapak, atau bapaknya bapak dstnya. atau juga dengan wali hakim. jadi pandangan akad ya fokus pada transaksi jual-beli. pembelinya adalah mahar, kesepakatan antara penganten lakilaki dan pihak keluarga perempuan yang diwakili walinya tadi.
jemputan atau uang hilang pun merpakan transaksi jual beli, apalagi ada anggapan keluarga lelaki sudah payah membesarkan calon penganten lelaki, sehingga sang penganten lelaki yang 'jawi saikua' kata angku duta mardin umar, peerlu diberi nilai tertentu dalam uang jemputan.
inilah salah satu contoh, adat jemputan tidak bersandi ke syariat Islam. namun jelas syariat Islam akan bersandi ke kitab Allah.
belum lagi, garis suku turun dari ibu, bukan dari bapak. suatu hari, seorang kawan bertanya, fam bapakmu Koto, ya Wan? saya jawab, bukan. Fam bapakku Jambak, famku koto. dia bingung. saya juga bingung. Minangkabau itu kawasan islam kuat, kok bisa begitu, Wan? bukankah dalam Islam garis keturunan itu dari bapak? saya jawab: Mboten ngertos, Mas. Embuuuuh.
Jadi? antahlahhhhhh.....
salam
sutan iwan soekri munaf

Syafrinal Syarien <ssya...@yahoo.com> wrote:

Dalam kerangka perkawinan, tak perlu memandang
pemberian dari satu pihak ke pihak lain sebagai
transaksi "jual-beli".
Kalau begitu semua perempuan muslim berarti "dibeli"
dengan uang mahar.
Konon, di Saudi standard maharnya sekitar USD 50,000.
Wah! Pantas banyak pria Saudi yang membujang, nggak
sanggup membeli perempuan,upsss sorry... maksudnya
membayar mahar.

Image by FlamingText.com


Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel and lay it on us.

iwan soekri

unread,
Jun 11, 2007, 3:44:37 AM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
salam
hahaha.
ambo nan pasti indak ka berang jikok ado nan manyabuik ambo (Sutan Iwan Soekri Munaf) indak beradat. namun, ladiang ka ambo ambia ladiang jikok ado nan mangatokan ambo indak beragama. mungkin baitu ci uniang.
bagi ambo, adat hanya kesepakatan sesama manusia. kesepakatan bisa diubah-ubah oleh manusia. dulu manusia indonesia sepakat mengatakan Pak De Soeharto itu Pahlawan Pembangunan atau bapak Pembangunan. Kemudian secara serempak manusia indonesia sepakat mengatakan, reformasi berarti menggulingkan Soeharto dari tahtanya.
namun,apo nan tatulis di Qur'an yang menjadi statement Allah, tidak akan berubah.
Syariat atau hukum-hukum dari Allah tentulah tak akan berubah.
ambo sepakat jika ada yang akan memperbaharui adat, dengan tidak mengaitkan dengan agama. jika ingin mengaitkan dengan agama, segala macam yang ada dalam adat, haruslah mencerminkan dalam jalur agama.
seorang kawan orang sunda prnah mengatakan,semula dia tertarik dengan perempuan minang yang pakai selendang menutupi rambutnya. khas minang, bukan ke-arab-araban berjilbab! namun dia kecewa, gads minang yang pakai selendang itu, saat pesta nikah, membuka selendangnya. dan menggantinya dengan hiasan di kepala (suntiang). menurut dia, ada ketidak-konsistenan dalam menutup aurat selaras perintah Allah.
apalagi laki-laki yang ingin dianggap beradat, dengan mengirimkan uang di bawah tangan kepada pihak mempelai perempuan, ini menunjukkan laki-laki minang itu tidak punya percaya diri dan munafik sudah dipelihara saat menikah, bagaimana pula jadinya hasil pernikahan yang penuh kemunafikan itu?
jawabnya: antahlah...... inyo nan ka badoso!
salam
sutan iwan soekri munaf

Nuraini B Prapdanu <p...@mercureconvention.com> wrote:
Image by FlamingText.com


The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.

benni inayatullah

unread,
Jun 11, 2007, 5:47:19 AM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
Yang namanya Adat atau budaya apapun adalah kebiasaan/aturan/norma yang disepakati oleh komunitas atau masyarakat dalam lingkungan tertentu.Jadi Adat hanya berlaku jika disepakati oleh keseluruhan atau mayoritas masyarakat. Bagitu juga hukum positif yang ada dinegara kita setelah disepakati bersama maka harus dilaksanakan tapi kalau dilanggar ya ada sangsi yang berlaku.

Mengenai Sanak Sukri kalu misalnya tidak menerima adat yang berlaku atau tidak cocok dengan kebiasaan masyarakat setempat ya boleh saja tidak beradat dan tentu saja ada sangsinya misalnya sangsi moral dari masyarakat setempat. jadi..boleh boleh saja..

yang tidak boleh adalah mengeneralisir sikap dan penilaian pribadi seolah olah angota masyarakat lainnya berperangi buruk dengan menjalankan adat tersebut. kita tidak bisa mengharamkan uang japuik jo uang anta misalnya kalau ternyata masyarakat yang menjalani tersebut ikhlas dengan kebiasaan tersebut. Karena kalau ikhlas itu ibarat pemberian seumpama sebagai modakl untuk berumah tangga nanti.

jadi jangan terlalu cepat menggeneralisir seseorang itu munafik atau tidak percaya diri. hormatilah sikap dan pendirian orang lain. kalau orang itu ikhlas dan senang kita mau apa ? kalau kita tidak suka ya tinggalkan..

gitu aja kok repot..

salam

Ben

iwan soekri <iwan_...@yahoo.com> wrote:

Ahmad Ridha

unread,
Jun 11, 2007, 5:58:10 AM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
On 6/11/07, benni inayatullah <proto_...@yahoo.com> wrote:

> yang tidak boleh adalah mengeneralisir sikap dan penilaian pribadi seolah
> olah angota masyarakat lainnya berperangi buruk dengan menjalankan adat
> tersebut. kita tidak bisa mengharamkan uang japuik jo uang anta misalnya
> kalau ternyata masyarakat yang menjalani tersebut ikhlas dengan kebiasaan
> tersebut. Karena kalau ikhlas itu ibarat pemberian seumpama sebagai modakl
> untuk berumah tangga nanti.
>

Saya setuju bahwa tidak setiap perbuatan individu dapat digeneralisir.

Pertanyaannya, bagaimanakah kedudukan uang japuik/anta itu dalam adat?
Jika tidak diberikan, apakah membatalkan pernikahan? Apakah memang
uang itu ditujukan untuk modal berumah tangga?

--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

veby doank

unread,
Jun 11, 2007, 4:14:56 AM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
Ass...
Saya jg mau nanya, berarti uang jemputan itu diminta oleh mamakkan???
tp kenyataannya yg saya liat dan saya alami kok uang jemputan diminta oleh calon itu sendiri????....mknya jujur saya ga ngerti kayaknya laki2 pariaman menetapkan tarif
akan diri mereka sendiri, klo dokter ciek oto japuiknyo, notaris 50 juta, klrg sidi 100 gram emas....sbnrnya crt uang jemputan itu secara lengkapnya gmn ya????
 
Sblmnya saya mnt maaf klo ada salah kata, sy mnt kejelasannya...n saya jg mnt maaf bukan tidak mau berbahasa minang tp mangetiknyo n berbhsnyo saya bingung...
 
Wsslm,
 
Veby

Yulnofrins Napilus <ynap...@yahoo.com> wrote:

It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.

Ahmad Ridha

unread,
Jun 11, 2007, 7:37:08 AM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
On 6/11/07, veby doank <uni...@yahoo.com> wrote:

> akan diri mereka sendiri, klo dokter ciek oto japuiknyo, notaris 50 juta,
> klrg sidi 100 gram emas....sbnrnya crt uang jemputan itu secara lengkapnya
> gmn ya????
>

Kalau dosen berapa ya? He he he. Tambahan pertanyaan: di daerah mana
sajakah uang japuik ini diterapkan? Yang populer kan di Pariaman;
apakah ada daerah lain?

razali nazir

unread,
Jun 11, 2007, 10:50:34 AM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com, Dr.Saafroedin BAHAR
Ass WW
 
Ambo maikuti Rantau Net, Cukuik rami urunan pandapek manganai laki laki dibali. Ambo ikuik pulo ciek, sato sakaki. Sebetulnya sistim  BAJAPUIK dulu- dulunya adolah rancak, dengan maksud memberi bekal kepada kedua mempelai untuk melajukan bahtera rumah tangganya.
 
Dulu sistim bajapuik biasanya dengan uang mas dan pada waktu acara manjalang (ngunduh mantu) pihak mempelai laki-laki mengembalikan japutan itu  dan ditambahkan sampai berlipat ganda. Jadi kedua belah pihak keluarga mempelai memberi bekal kepada mereka berdua. Makin besar japutannya, maka makin besar pula tambahan dari pihak mempelai laki-laki dan makin besar pulalah bekal mereka berdua di belakang hari..
 
Nanti kalau mereka kekurangan modal dagang, maka bekal tadi
dapat digadaikan untuk menambah buat sementara (bagi yang punya usaha dagang). Bagi yang jadi pegawai, kalau kekurangan uang pada akhir bulan, maka bekal ini dapat digadaikan untuk sementara. Begitu pula kalau ada keperluan-keperluan mendadak yang tidak terduga.
 
 Bekal ini dapat digunakan untuk membantu mereka dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi mereka berdua. Makanya japutan selalu berupa uang mas yang mudah diuangkan seketika.
 
Tetapi belakangan, japutan ini diganti oleh oknum dengan uang hilang. Uang hilang inilah yang tidak baik. Kemudian keluarlah kata-kata orang banyak, bahwa laki-laki dibeli, dan seterusnya berkembang seperti apa yang kita dengar sekarang yang dinegatifkan oleh orang banyak dan positif sistem bajapuik ini dihilangkan.
 
Menurut saya, ini tidak adil dengan menghilangkan tujuan baik dari sistem yang telah dibuat oleh ninik-ninik kita dahulu. Saya sendiri tidak setuju dengan sistem uang hilang ini yang banyak efek negatifnya. Dengan kata lain bahwa sistem bajapuik ini telah dipelintirkan oleh oknum.
 
Demikian urunan pendapat dari saya dan salah janggalnya mohon maaf.
 
Wass WW.
 
Razali Nazir
 


veby doank <uni...@yahoo.com> wrote:

Syafrinal Syarien

unread,
Jun 11, 2007, 12:43:36 PM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
Definisi pasarannya tentang jual-beli adalah: ada
barang ada uang!
Mari kita lihat dalam konteks perkawinan. Ada uang di
situ (mahar, uang jemputan, uang hilang, apa pun
namanya). Namun apakah Anda melihat ada barang di
situ? Apa (atau siapa) yang mau jadi "barang"? Anda
mau menganggap mempelai perempuan atau mempelai
laki-laki sebagai "barang" bukan "manusia"?

Siapa bilang Islam menganut garis keturunan bapak
(patrilineal)? Mana ayat Quran-nya? Mana hadits-nya?
Tapi kalau orang Arab memang menganut garis keturunan
bapak.

Islam memang bermula dari tanah Arab, namun bukan
berarti semua yang berbau Arab bisa dikategorikan
sebagai Islami.


____________________________________________________________________________________
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545367

dutamardin umar

unread,
Jun 11, 2007, 5:19:06 PM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com, piaman...@googlegroups.com
Alaikumsalam sanak.,
 
Alah mancaliek sinetron "Jangan Panggil Aku Cina"? Tuncik sajo
di www. youtube.com. Ondeh banyak nan misleading disinan. si doto
urang Piaman "ditawarkan" 40juta oleh mandehnyo. Malah mamak
nyo nan mabayiakan pitih tu ka calon bini doto tu nan urang Cino.
 
Cukuik menarik sinetron tu.
 
Wassalam
ajoduta
(indak bajapuik, indak dijua)

Arnoldison

unread,
Jun 12, 2007, 11:54:30 AM6/12/07
to dutamardin umar

Banyak terjadi kesalahfahaman orang non minang terhadap orang
minang dikarenakan mendapat informasi yang salah, image orang
minang yang buruk mereka dapatkan dari cerita atau tontonan yang
sebetulnya bukan merepresentasikan adat minang sebenarnya.

Ketika orang-orang membaca novel Siti Nurbaya mengesankan bahwa
Siti Nurbaya merupakan korban adat minang, tetapi yang
sebetulnya bukanlah demikian tetapi hanyalah akibat oknum-oknum
yang berkedok/bertamengkan adat minang.

Kawin paksa bukanlah produk adat minang apapun alasannya, dalam lakon
cerita Siti Nurbaya menceritakan kehidupan sebuah keluarga yang
ditimpa musibah kekurangan harta dan terlilit hutang sehingga ia
menjual anak gadisnya, cerita ini dilatar belakangi kehidupan
minang, dan melibatkan seorang pemuka adat yang menyalahgunakan
kekuasaanya.

Setiap tragedi ini bisa terjadi menimpa keluarga siapa saja,
baik orang Jawa, suku Sunda, Batak, Bugis dll., dan akhirnya
ceritanya juga bisa diubat tragis.
Sekarang ini saja banyak terjadi perkawinan antara anak seorang
pengusaha dengan pengusaha lainnya untuk memperkuat jaringan
business.

Demikian pula hal lainnya yang dicoba didramatisir sehingga
menjadi tontonan yang menarik, cerita laki-laki Pariaman yang
'dibeli' juga merupakan tema menarik untuk ditampilkan dilayar
lebar, tanpa mempedulikan kebenaran dan keabsahannya.

Saya tidak menonton sinetron ini, bagi yang menyimak tontonan
ini dan bila terkesan menyudutkan minangkabau, dan seolah-olah
memang merupakan produk adat minang maka berhak melakukan somasi
terhadap hal ini.
Tapi bila hanyalah sebuah cerita yang sekedar memakai setting
sebuah keluarga minang, dan hanya menampilkan kharakter negatif
individu keluarga tersebut, tanpa bermaksud untuk menyudutkan adat minang,
dan tidak bermaksud menyatakan inilah budaya minang, yang
demikian itu merupakan persoalan lain.


Arnoldison

Monday, June 11, 2007, 2:19:06 PM, you wrote:

du> Alaikumsalam sanak.,

du> Alah mancaliek sinetron "Jangan Panggil Aku Cina"? Tuncik sajo
du> di www. youtube.com. Ondeh banyak nan misleading disinan. si doto
du> urang Piaman "ditawarkan" 40juta oleh mandehnyo. Malah mamak
du> nyo nan mabayiakan pitih tu ka calon bini doto tu nan urang Cino.

du> Cukuik menarik sinetron tu.

du> Wassalam
du> ajoduta
du> (indak bajapuik, indak dijua)

benni inayatullah

unread,
Jun 11, 2007, 11:09:04 PM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
Ambo bukan ahli adat tapi dicubo juolah manjawek tanyo Ridha ko. Uang japuk dan uang anta iko adolah istiadat atau budaya atau kebiasaan nan tajadi khusus di nagari Piaman (mgk juo ado daerah lainnyo ?). Kalau uang japuik dari pihak padusi mako uang anta adolah dari pihak laki2 dan biasonyo indak buliah kurang dari jumlah uang japuik tadi.

uang japuik iko sabananyo indak mampangaruhi kelangsungan pernikahan. uang japuik iko adolah kebiasaan sajo di nagari dan sesungguhnyo memang terkait dg harga diri atau gengsi semata. "siapo nak manjalo harus berani tajun" dalam kata lain dengan uang japuik itu sebagai wujud penghargaan salah satu pihak kepada pihak lainya. Dan upaya saling menghargai serta menjalin kekeluargaan itulah makanya juga ada uang anta yang tidak bleh kurang dr uang japuik sebagai wujud tanggung jawab dan harga diri pihak laki laki. Tentunya semampu masing2 keluarga itu. Segi positifnya uang japuik dan uang anta ini bisa dijadikan modal bagi kedua mempelai untuk berumah tangga nanti.
Meskipun idealnya begitu beberapa waktu ini kita sering melihat bahwa kebiasaan ini telah berkembang ke arah yang tidak baik. Dimana uang japuik dan anta ini seakan akan hal yang wajib dalam adat, padahal kita tahu segmen ini adalah adat istiadat yang tergantung kesepakatan. Kalau sepakat silahkan kalau tidak juga tidak apa apa dan pernikahan tidak seharusnya batal.
Sayangnya hal hal jelek penyimpangan adat inilah yang lebih sering diekspos ....
 


Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote:



Saya setuju bahwa tidak setiap perbuatan individu dapat digeneralisir.

Pertanyaannya, bagaimanakah kedudukan uang japuik/anta itu dalam adat?
Jika tidak diberikan, apakah membatalkan pernikahan? Apakah memang
uang itu ditujukan untuk modal berumah tangga?

--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)


Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, photos & more.

Ahmad Ridha

unread,
Jun 11, 2007, 11:21:16 PM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
On 6/12/07, benni inayatullah <proto_...@yahoo.com> wrote:

> Meskipun idealnya begitu beberapa waktu ini kita sering melihat bahwa
> kebiasaan ini telah berkembang ke arah yang tidak baik. Dimana uang japuik
> dan anta ini seakan akan hal yang wajib dalam adat, padahal kita tahu segmen
> ini adalah adat istiadat yang tergantung kesepakatan. Kalau sepakat silahkan
> kalau tidak juga tidak apa apa dan pernikahan tidak seharusnya batal.
> Sayangnya hal hal jelek penyimpangan adat inilah yang lebih sering diekspos
> ....
>

Nah, sanak Benni, masalahnya apa iya pandangan sanak mengenai adat itu
adalah pandangan yang "benar" dalam adat Minang?

benni inayatullah

unread,
Jun 11, 2007, 11:36:03 PM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
Saya pikir sesuai dengan adat, karena "adat itu bakarilahan"...dima nan kasasuai dima nan kasanang dek basamo "kalamak diawak katuju dek urang"...kalau ado nan "mamaso" tanpa ado kesepakatan itu  adalah penyimpangan adat, karano adat mangutamokan musyawarah "bulek ayia dek pambuluah bulek kato dek mufakaik", bulek lah dapek digolekkan picak lah dapek dilayangkan"..

kalau kito di rantau ko mancaliak kebiasaan uang japuik jo uang anta iko indak batua atau sarancaknyo dihapuihkan sajo alun tantu urang di ranah ka sapandangan jo kito...mereka akan tetap melakukakan kebiasaan nan samo..dan itulah nan dinamokan kebiasaan/adat/budaya tadi...kalau kito inginkan perubahan caronyo yo marubah dari dalam masyarakat itu sendiri, ndak dapek basorak dari lua sajo doh harus melalui musyawarah adat di nagari..kalau lah keinginan masyarakat basamo mangko adat istiadat iko bisa barubah..karano adaik juo manarimo perubahan "sakali ayia lalu, sakali tapian barubah"...alah banyak perubahan nan alah kito liek takaik adat istiadat ko...


Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote:

8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time
with theYahoo! Search movie showtime shortcut.

azmi abu kasim azmi abu kasim

unread,
Jun 11, 2007, 11:37:04 PM6/11/07
to Rant...@googlegroups.com
Kelapa gading  12  Juni 2007
Assalamualaikum w.w.
 
Angku Arnoldison Nan Ambo hormati.
 
          Ambo sangat setuju dengan pandangan Angku Arnoldison, memang kito harus berhati-hati dalam menyikapi serta menaggapi apa yang berkembang dalam kehidupan masyarakat, dan janganlah terlalu cepat  mengambil kesimpulan bahwa apa yang ada dan  berkembang dalam masyarakat itu,  mangatokan bahwa itu adolah prodak adat Minang, mungkin itu hanya prilaku oknum sajo. Bukan mewakili  masyarakat Minang secara keseluruhan. Seperti yang pernah ambo katokan sebelumnyo, kok karuah aia dimuaro alun tantu asanyo dari hulu, antah kok ado tabingan nan runtuah atau ado gajah nan manyubarang , mako dari itu supayo jaleh tantu hulunyo dimudiaki. Dikaruak sa abih saung diawai saabih raso, barulah disitu tau hitam putiahnyo. Sakitu sajo dari ambo tarimo kasih
Wassalam,
 
Azmi Dt.Bagindo

Arnoldison <arn...@spij.co.id> wrote:

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
Jun 12, 2007, 12:47:43 AM6/12/07
to Rant...@googlegroups.com
Syafrinal Syarien <ssya...@yahoo.com> wrote:

>>> Definisi pasarannya tentang jual-beli adalah: ada barang ada uang!
 
Saya kira, yang dibahas disini tidak sesempit definisi itu. Kalau buat saya, yang perlu didiskusikan, bagaimana adat sebenarnya, bagaimana prakteknya, dan bagaimana image orang (baik yang mempraktekkan maupun yang tidak). Kalau itu ternyata tidak bersesuaian, perlu dicari bagaimana jalan keluarnya.  
 
Kalau definisi sih, banyak pengertian jual-beli yang tidak menyangkut "barang" dan atau "uang". Di pelajaran ekonomi jilid 1 saja sudah ada istilah barang dan jasa. Jaman uang belum ada juga sudah ada yang namanya barter.
 
Saya melihat tulisan di pojokan gang: "ente jual, ane beli". Di sini sama sekali tidak ada barang dan uang.

>>> Siapa bilang Islam menganut garis keturunan bapak (patrilineal)? Mana ayat Quran-nya? Mana hadits-nya?
Tentu saja tidak eksplisit menyebut kata "patrilineal". (Saya yakin, karena tulisan di Quran menggunakan bahasa tulisan Arab yang tidak ada huruf "e"nya).
 
Cuma, kalau saya tidak salah tangkap, hukum perkawinan dan hukum warisan, bukannya menggambarkan ini?
 
 
 


TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
Jun 12, 2007, 1:29:02 AM6/12/07
to Rant...@googlegroups.com
Sanak Arnold,
 
Saya sebenarnya dari dulu bingung kalau ada yang mengkaitkan Siti Nurbaya yang "kawin pakasa" itu dengan adat Minangkabau.
 
Dan juga, rasanya novel itu juga tidak bercerita tentang "kehidupan sebuah keluarga yang
ditimpa musibah kekurangan harta dan terlilit hutang sehingga ia menjual anak gadisnya".
 
Saya menduga, image tersebut timbul dan beredar di masyarakat luar yang tidak mengerti adat Minang dan sekaligus belum pernah membaca novel tersebut.
 
Mungkin orang luar itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena ternyata tidak satupun dari mahasiswa di 3 kelas Program Bahasa dan Sastra Indonesia UNP (UNP = Universitas Nasional Padang) pun tidak membaca itu. Tidak satupun !!! http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/10/seni/3506232.htm.
 
Jadi, kala mahasiswa bahasa dan sastera Indonesia di Padang saja tidak membaca, ya kalau begitu "sah2" saja kalau orang luar punya image yang tidak tepat. 
 
Riri


Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!

jamaludin mohyiddin

unread,
Jun 12, 2007, 8:21:38 AM6/12/07
to Rant...@googlegroups.com
Walaupun berketurunan Negri Sembilan saya belum mengerti dengan baik tentang adat Perpatihnya, juga belum betul betul memahami adat Minang.

Sikap saya ialah niat mana mana adat tentulah untuk kemaslahatan masyarakatnya. Kadangkala keseluruhan adat atau sebahagiannya boleh membantutkan atau menafikan niat asal adat ini. Dalam pandangan saya ta'rif kemajuan dan taraf kemajuan adat ialah senantiasa mampu membawa masyarakatnya ke satu tahap yang lebeh baik dari sebelumnya. Usaha yang berterusan ini, memparbaiki atau pengislahan bahagian adat yang membantut atau menafikan kemaslahatan dan kemajuan masyarakatnya, adalah satu ciri keistimewaan adat Minang ini. 

Walaupun belum memahami dengan baik tentang adat Perpatih/Minang, saya mempunyai keyakinan bahwa adat Perpatih/Minangkabau mempunyai kaedah, peraturan atau mekanisme dalaman yang ever green mampu memberi kekuatan masyarakat Minang untuk senantiasa memperbaiki mutu adatnya dan mutu adat ini membantu masyarakatnya. Mampu mengandungi ta'rif, taraf dan bingkai kemajuan. Juga, saya berkeyakinan tentang kemampuan dalaman ini bergantung rapat atau berkait rapat dengan menjadikan Islam sebagai teman rujukan/co-reference. Partnership ini lah yang membuat adat Minang kukuh dan senantiasa maju kedepan. Hubungan timbal balik ini begitu unik sekali dilaksanakan.

Adakah memperbaiki partnership dan hubungan timbal balik ini patut di ulangkaji/review dari masa kesemasa? Pertanyaan ini di lontarkan kerana masyarakat Minang dan adatnya kini berhadapan dengan berbagai bagai cabaran yang meminta mengkemaskinikan adat Minang itu sendiri agar dapat maju kedepan dalam ta'rif, taraf dan bingkai kemajuan yang dikehendaki oleh adat tadi.

Partnership dan hubungan timbal bailik ini, dalam jangkauan saya, mungkin salah satu penentu utama dalam membawa kemajuan atau kemodenan/ modernity masyarakat dan adat Minangkabau. Kita juga ingin mengetahui bagaimana hendak memperbaiki dan memperkukuhkan lagi partnership dan hubungan timbal balik ini.

Riri - Mairizal Chaidir <mair...@yahoo.com> wrote:
Sanak Arnold,
 


Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.

Syafrinal Syarien

unread,
Jun 12, 2007, 12:01:25 PM6/12/07
to Rant...@googlegroups.com
- Karena masalah perkawinan tidak pernah disinggung di
buku Pelajaran Ekonomi Jilid 1, dengan demikian
pemberian mahar bukan berarti membeli perempuan. Dan
pemberian uang jemputan bukan berarti membeli
laki-laki. Sepakat?

- Siapa bilang tidak ada huruf 'e' dalam bahasa Arab.
Sudah pernah ke Arab Saudi belum? Di sana, di pinggir
laut merah ada kota dengan nama resmi "Jeddah". Pakai
huruf 'e' lho! Seorang kolega saya orang Saudi bernama
Ahmed, kartu namanya ditulis pakai huruf latin dengan
'e' dan juga dilafazkan dengan 'e'. Bukan "Ahmad"! Dia
malah ketawa ketika saya memanggilnya dengan Ahmad.
"Sounds funny, it's supposed to be Ahmed," katanya.
Pelajaran mengaji saya semasa kecil di kampung dulu
jadi nggak berlaku lagi.

Namun demikian, kalau kita kaji lagi, Al-Quran
beberapa kali menyebut Nabi Isa a.s dengan sebutan
"Isa ibn Maryam". Tapi tidak pernah sama sekali
menyebut Muhammad saw sebagai "Muhammad ibn Abdullah".
Jadi apakah Al-Quran itu pro-matrilineal? Wallahualam.

--- Riri - Mairizal Chaidir <mair...@yahoo.com>
wrote:

> Syafrinal Syarien <ssya...@yahoo.com> wrote:

> ---------------------------------


> TV dinner still cooling?
> Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
>
>
>

____________________________________________________________________________________
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz

Ahmad Ridha

unread,
Jun 12, 2007, 12:46:16 PM6/12/07
to Rant...@googlegroups.com
On 6/12/07, Syafrinal Syarien <ssya...@yahoo.com> wrote:

> - Siapa bilang tidak ada huruf 'e' dalam bahasa Arab.
> Sudah pernah ke Arab Saudi belum? Di sana, di pinggir
> laut merah ada kota dengan nama resmi "Jeddah". Pakai
> huruf 'e' lho!
>

Itulah yang namanya dialek. Tidak semua orang di Arab Saudi itu Bahasa
Arabnya sesuai dengan tata bahasa yang baik dan benar.

> Namun demikian, kalau kita kaji lagi, Al-Quran
> beberapa kali menyebut Nabi Isa a.s dengan sebutan
> "Isa ibn Maryam". Tapi tidak pernah sama sekali
> menyebut Muhammad saw sebagai "Muhammad ibn Abdullah".
> Jadi apakah Al-Quran itu pro-matrilineal? Wallahualam.
>

Hikmah penyebutan 'Isa bin Maryam 'alayhis salaam adalah penegasan
bahwa beliau bukanlah anak Allah Ta'ala. Beliau tidak memiliki seorang
bapak sehingga dinisbatkan kepada ibunya.

Ingat dalam Al-Qur'an juga ada banyak penyebutan Bani Adam (anak
keturunan Nabi Adam 'alayhis salaam, bukan disebut Bani Hawa) dan Bani
Israil (anak keturunan Nabi Ya'qub 'alayhis salaam).

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
Jun 12, 2007, 8:13:25 PM6/12/07
to Rant...@googlegroups.com


Syafrinal Syarien <ssya...@yahoo.com> wrote:

>>> - Karena masalah perkawinan tidak pernah disinggung di buku Pelajaran
>>> Ekonomi Jilid 1, dengan demikian pemberian mahar bukan berarti membeli >>> perempuan. Dan pemberian uang jemputan bukan berarti membeli
>>> laki-laki. Sepakat?
 
Maaf, saya tidak terlalu tertarik dengan terminologi. Seperti yang saya tulis sebeumnya, yang ingin saya dengar dari diskusi ini adalah bagaimana adat sebenarnya, bagaimana prakteknya, dan bagaimana image orang (baik yang

mempraktekkan maupun yang tidak). Kalau itu ternyata tidak bersesuaian, perlu dicari bagaimana jalan keluarnya.
- Siapa bilang tidak ada huruf 'e' dalam bahasa Arab.

Sudah pernah ke Arab Saudi belum?
 
Ha ha, makanya saya tidak terlalu tertarik dengan terminologi, kata per kata
 
Tadinya dipertanyakan tentang adanya matrilineal di Quran, saya jawab, di Quran tidak ada huruf "e". Sekarang dilarikan lagi ke nama kota ...
 
Kalau mau kata per kata, makin lari dari konteks yang didiskusikan (seperti yang tertulis di subject posting ini).
 
 
 
 
 
 
Di sana, di pinggir
laut merah ada kota dengan nama resmi "Jeddah". Pakai
huruf 'e' lho! Seorang kolega saya orang Saudi bernama
Ahmed, kartu namanya ditulis pakai huruf latin dengan
'e' dan juga dilafazkan dengan 'e'. Bukan "Ahmad"! Dia
malah ketawa ketika saya memanggilnya dengan Ahmad.
"Sounds funny, it's supposed to be Ahmed," katanya.
Pelajaran mengaji saya semasa kecil di kampung dulu
jadi nggak berlaku lagi.

Namun demikian, kalau kita kaji lagi, Al-Quran
beberapa kali menyebut Nabi Isa a.s dengan sebutan
"Isa ibn Maryam". Tapi tidak pernah sama sekali
menyebut Muhammad saw sebagai "Muhammad ibn Abdullah".
Jadi apakah Al-Quran itu pro-matrilineal? Wallahualam.



--- Riri - Mairizal Chaidir
wrote:

Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV.

Rahima

unread,
Jun 13, 2007, 7:17:15 AM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Saya hanya ingin menanggapi dikit, maaf saya ngak
ikuti semuanya.

Islam memang menganut sistem Patrilineal terutama
dalam hal perkawinan dan warisan. Dalilnya jelas ada
dalam AlQuran.Juga dalam hadits Rasulullah menyuruh
ummat Islam agar lebih mengutamakan lelaki dalam hal
warisan ini.Kalau mau dalil semua ini, silahkan nantik
datang atau kalau bisa pak Saaf menyebarkan tulisan
saya tersebut bila telah diseminarkan 19 Juni.

Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang dalam
lafaznya dibuat dr jenis lelaki, tetapi umum untuk
perempuan dan lelaki. Contoh kata "Rajulun", "Ibnu"

Wassalamu'alaikum.Rahima.


--- Riri - Mairizal Chaidir <mair...@yahoo.com>
wrote:


>
> Namun demikian, kalau kita kaji lagi, Al-Quran
> beberapa kali menyebut Nabi Isa a.s dengan sebutan
> "Isa ibn Maryam". Tapi tidak pernah sama sekali
> menyebut Muhammad saw sebagai "Muhammad ibn
> Abdullah".
> Jadi apakah Al-Quran itu pro-matrilineal?
> Wallahualam.
>
>
>
> --- Riri - Mairizal Chaidir
>

> > >>> Siapa bilang Islam menganut garis keturunan
> > bapak (patrilineal)? Mana ayat Quran-nya? Mana
> > hadits-nya?
> >
> > Tentu saja tidak eksplisit menyebut kata
> > "patrilineal". (Saya yakin, karena tulisan di
> Quran
> > menggunakan bahasa tulisan Arab yang tidak ada
> huruf
> > "e"nya).
> >
> > Cuma, kalau saya tidak salah tangkap, hukum
> > perkawinan dan hukum warisan, bukannya
> menggambarkan
> > ini?
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > ---------------------------------
> > TV dinner still cooling?
> > Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
> >
> >
> >
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________
> Luggage? GPS? Comic books?
> Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search
>
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz
>
>
>
>
>
>

> ---------------------------------


> Ready for the edge of your seat? Check out tonight's
> top picks on Yahoo! TV.
>
>
>


____________________________________________________________________________________
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives.
http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/

Rahima

unread,
Jun 13, 2007, 7:30:19 AM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Maaf, agar tidak salah prasangka, sistem Patrilineal
disini bukan dimaksudkan bahwa lelaki saja yang boleh
menerima harta warisan, tetapi lebih diperbanyak untuk
kaum lelaki. Kalau hanya kaum lelaki atau garis
keturunan lelaki saja yang menerima, maka ini adalah
adat istiadat kaum jahiliyyah sebelum Islam datang.

Kaum perempuan, anak-anak, apalagi pihak keluarga
istri, zaman jahilyyah ngak dapat warisan sama
sekali.Islam datang untuk menghapuskan adat istiadat
yang salah itu.Kaum perempuan, atau keluarga pihak
sang istripun dapat warisan juga, dan kalau harta
masih berlebih, maka lebih diutamakan diberi pada kaum
lelaki.Itulah sistem pembagian harta warisan dalam
Islam.

--- Rahima <rahim...@yahoo.com> wrote:


____________________________________________________________________________________
Don't get soaked. Take a quick peak at the forecast
with the Yahoo! Search weather shortcut.
http://tools.search.yahoo.com/shortcuts/#loc_weather

Datuk Endang

unread,
Jun 13, 2007, 8:00:38 AM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Saya juga ingin menanggapi sedikit, hanya pertanyaan saja:
- Apakah hal-hal yang menurut "Islam/AlQuran/Arab" itu dapat disebut sebagai patrilineal?
- Apakah sistem yang berlaku di Minangkabau itu dapat disebut matrilineal?
 
Terima kasih.

Rahima <rahim...@yahoo.com> wrote:
Saya hanya ingin menanggapi dikit, maaf saya ngak
ikuti semuanya.

Islam memang menganut sistem Patrilineal terutama
dalam hal perkawinan dan warisan. Dalilnya jelas ada
dalam AlQuran.Juga dalam hadits Rasulullah menyuruh
ummat Islam agar lebih mengutamakan lelaki dalam hal
warisan ini.Kalau mau dalil semua ini, silahkan nantik
datang atau kalau bisa pak Saaf menyebarkan tulisan
saya tersebut bila telah diseminarkan 19 Juni.

Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang dalam
lafaznya dibuat dr jenis lelaki, tetapi umum untuk
perempuan dan lelaki. Contoh kata "Rajulun", "Ibnu"

Wassalamu'alaikum.Rahima.


Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

Muhammad Dafiq Saib

unread,
Jun 13, 2007, 10:05:00 AM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
 
Menurut cerita dan data yang kita terima, beberapa generasi yang lalu, mamak laki-lakilah yang bertanggung jawab terhadap pengurusan ekonomi rumah gadang. Mamak yang mengurus sawah sampai padi terbawa pulang untuk dimakan oleh kemenakan. Sesampai padi di rumah, mamak tidak lagi berkuasa, pengurusan dan penguasaan padi hasil sawah di pegang oleh nek tuo. Mamak mendapat uang untuk pembeli rokok dari nek tuo. Ketika dia pergi ke rumah istrinya, disana dia tidak punya tanggung jawab apa-apa yang menyangkut urusan ekonomi. Karena di tempat istrinya, ada pula mamak rumah yang mengurus segala-galanya itu. Kelemahan dari tata cara seperti ini secara Islam adalah minim atau tidak adanya tanggung jawab materil ayah kepada anak-anak. Seorang laki-laki yang adalah mamak itu pada dasarnya tidak mempunyai harta, selama dia bekerja mengurus sawah ladang saja. Kerbaupun termasuk harta inventaris dari sistim adat berpusaka tinggi. Maka ketika dia meninggal, dia tidak meninggalkan harta waris apapun untuk anak-anaknya yang seharusnya diturunkannya secara syarak. Maka semua harta turunlah secara melereng, melaui aturan turunnya harta pusaka tinggi.
 
Hanya saja ketika anak gadis akan dikawinkan, karena menurut aturan Islam wali nikah adalah ayah kandung, orang Minang mematuhinya. Ayahlah yang jadi wali nikah, bukan mamak yang menikahkan kemenakan. Sesudah berlangsung pernikahan, orang sumando, yang juga mamak di rumah dunsanak perempuannya, melanjutkan kesibukan di rumah dunsanaknya itu.
 
Lalu sedikit demi sedikit berubah kesibukan laki-laki Minang. Mulai mereka menggalas. Mulai mereka jadi pegawai. Mulai mereka melihat ke kiri dan ke kanan dimana orang lain hidup berkeluarga dengan istri dan anak-anaknya. bertanggung jawab mengurus rumah tangganya itu, bukan lagi mengurus sawah di rumah dunsanak perempuannya. Ketika mereka mula-mula pergi merantau sendiri, pergi babelok, pulang sekali setahun, menurut cerita pula, masih belum seratus persen mereka mengurus anak dan istri. Masih banyak yang terlibat dalam mengurus urusan adik perempuan. Menebuskan sawah pusako. memperbaiki rumah gadang yang ketirisan,  tapi tanggung jawab kepada istri mulai pula timbul pelan-pelan. Balik pula ke rantau, terlihat lagi orang lain hidup berkeluarga dengan anak dan istri, akhirnya timbul pula keinginan untuk membawa istri ke rantau, boleh 'sama pula kita dengan orang lain'. Kalau demikian halnya, tanggung jawab kepada istri tentu tidak bisa main-main lagi. Mulai dibangun rumah tangga. Mula-mula mungkin menyewa rumah dulu. Lama-lama timbul pula keinginan untuk memiliki rumah sendiri.
 
Pengaturan harta pusaka menjadi pusaka tinggi dan pusaka rendah semakin jelas jadinya. Pusaka rendah adalah harta pencarian (bukan harta dari hasil sawah) apakah itu harta yang didapat dari hasil berdagang ataupun dari gaji sebagai pegawai. Tanggung jawab lebih terarah kepada anak kandung. Anak sekarang dipangku digedangkan. Diuruskan urusannya dari a sampai z. Tanggung jawab tidak lagi sekedar menjadi wali nikah ketika mengawinkan anak perempuan, tapi termasuk membiayai 'alek' anak gadis tersebut.
 
Namun kemenakan tentulah di ingat juga. Kemenakan dibimbing, ditunjuk - diajari. Diuruskan dimana perlu. Betul bahwa orang sumando, atau ipar kita juga sudah mengambil alih tanggung jawab pula mengurusi kemenakan. Namun hubungan kekeluargaan dengan adik dan kemenakan tentu harus tetap terpelihara. Tetap santun menyantuni.
 
Karena laki-laki sekarang berharta, sebab dia berhasil dengan perdagangannya, atau berhasil dengan pekerjaannya, maka ada yang akan diwariskan. Pewarisan ini dilakukan dengan cara 'pusako randah', sesuai dengan syarak. Harta itu diturunkan kepada anak, bukan kepada kemenakan. Begitu sekarang. Jadi sudah berubah dari cara-cara lama, ketika laki-laki tidak berharta, ke cara sekarang dimana laki-laki berpunya. Orang laki-laki seperti ini sekarang tidak mengusik-usik lagi harta tua di rumah dunsanak perempuannya.
 
Tapi ada lagi kendala baru, yang sedang agak marak saat ini di kampung, yang perlu pula dipikirkan penanganannya agar jelas. Pertama, seperti dibawah thread lain, mulai populernya sekarang orang perempuan mensertifikatkan harta tua pusako tinggi yaitu sawah, tanah perumahan berikut parak. Ketika disertifikatkannya tanah ini, sepertinya makin kuat cengkeraman 'pribadi-pribadi', makin longgar cengkeraman 'adat'. Setelah itu nanti bagaimana dia akan diwariskan?
 
Bertanbah rancu sedikit lagi, ketika orang sumando membuatkan rumah di tanah pusako anak-anaknya (yang adalah kemenakan-kemenakan awak). Tegaknya di tanah pusako, rumahnya biaya rang sumando. Bagaimana kepemilikannya nanti, ketika rumah itu akan diwariskan oleh urang sumando? Tentu tidak akan mungkin sebagai harta pusaka rendah, karena tegaknya di tanah adat, pusako tinggi.
 
Dari uraian di atas, mudah-mudah-an terlihat bahwa dulu sistim matrilineal itu sangat kental, ketika tanggung jawab ekonomi di pikul sepenuhnya oleh mamak. Dia hanya tidak cukup pekat sehingga masih menyisakan ruang bagi ayah untuk menjadi wali nikah anak gadisnya. Namun dengan perkembangan zaman sekarang ini, rasanya hampir mustahil menemukan mamak yang masih memegang pola lama dalam mengurus harta sawah ladang dunsanak perempuan seperti dulu itu. Sekarang ayahlah yang bertanggung jawab penuh dalam hal kepentingan urusan keluarga. Artinya sistim matrilineal itu sudah bergeser ke arah sistim patrilineal, khusus dalam urusan mengurus keluarga.
 
Dalam sistim kekerabatan, dimana ayah mempunyai suku dalam tatanan keminangkabauannya, yang tidak sama dengan anak dan istrinya tetap bertahan. Seorang mamak tetap masih diangkat dan diperlukan untuk jadi kapalo warih atau penghulu adat, sebagai seorang yang adalah 'pergi tempat bertanya - pulang tempat berberita' bagi kemenakan. Dia harus menjalankan kehidupannya sebagai seorang laki-laki yang memangku anak dan membimbing kemenakan.
 
Wallahu a'lam
 
Wassalamu'alaikum

Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:
Saya juga ingin menanggapi sedikit, hanya pertanyaan saja:
- Apakah hal-hal yang menurut "Islam/AlQuran/Arab" itu dapat disebut sebagai patrilineal?
- Apakah sistem yang berlaku di Minangkabau itu dapat disebut matrilineal?
 
Terima kasih.



Building a website is a piece of cake.
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
Jun 13, 2007, 10:30:06 AM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com


Rahima <rahim...@yahoo.com> wrote:

Islam memang menganut sistem Patrilineal terutama
dalam hal perkawinan dan warisan. Dalilnya jelas ada
dalam AlQuran.Juga dalam hadits Rasulullah menyuruh
ummat Islam agar lebih mengutamakan lelaki dalam hal
warisan ini.Kalau mau dalil semua ini, silahkan nantik
datang atau kalau bisa pak Saaf menyebarkan tulisan
saya tersebut bila telah diseminarkan 19 Juni.

Terimakasih, kebetulan saya termasuk yang yakin bahwa Islam menganut sistem patrilineal.
 
Sebenarnya saya menunggu pandapek yang alah agak fokus tentang subject nan tertulis posting di atas.
 
Waktu pertemuan di rumah bundo Nizmah, setidaknya 2 topik yang mungkin bisa dianggap kontroversi antara Minang vs Islam (garis keturunan dan perkawinan, khususnya di Pariaman dan sekitarnya) dibicarakan.
 
Untuk yang kedua ini pak Zubir menjelaskan hal ini ke bundo, sayangnya saya duduknya agak jauh, jadi tidak mendengar secara lengkap.
 
Yang saya tangkap waktu itu adalah, bahwa waktu itu tidak kelihatannya pak Saaf dan mak Bandaro OK OK dengan penjelasan pak Zubir tu.
 
Mudahan ado dunsanak nan bersedia menuliskan penjelasan tentang itu di palanta ko
 
Riri
 
 
 
 
Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang dalam
lafaznya dibuat dr jenis lelaki, tetapi umum untuk
perempuan dan lelaki. Contoh kata "Rajulun", "Ibnu"

Wassalamu'alaikum.Rahima.


--- Riri - Mairizal Chaidir

Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
Jun 13, 2007, 10:37:43 AM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Maaf, ada ralat, tadi ambo salah. Kato "tidak" di kalimat dibawah ko itu seharusnyo ndak ado.
 
Yang saya tangkap waktu itu adalah, bahwa waktu itu tidak kelihatannya pak Saaf dan mak Bandaro OK OK dengan penjelasan pak Zubir tu.

Riri - Mairizal Chaidir <mair...@yahoo.com> wrote:


Rahima <rahim...@yahoo.com> wrote:

Darul M

unread,
Jun 13, 2007, 10:51:41 AM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com

Walaikumussalam WW

 

Mak Lembang Alam dan sanak sapalanta.

 

Manuruik nan dijalani dalam kehidupan sehari benar seperti yang diuraikan oleh mamak ini. Dan dilain pihak menurut teori, adat adalah kebiasaan yang dianut dan dipatuhi oleh masyarakatnya.

 

Sekarang timbul dua kubu mengenai adapt ini diranah Minangkabau.

 

Pertama, orang yang menganggap hukum adat adalah seperti adat yang dulu semasa beberapa generasi lalu dalam cerita mak Lembang dibawah. Dan malah mengklaim “ indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh” alias tidak boleh dirubah.

 

Kedua, adalah orang yang menjalani kehidupan dengan tatatan (adat) yang mereka pakai dan patuhi saat ini. Yaitu yang menganggap bapak adalah kepala keluarga dan bertanggungjawab terhadap keluarganya. Ini yang betul menurut teori adat.

 

Jika ditarik ilmu lurus, mana yang tidak beradat kini jadinya, apa yang pertama atau yang kedua? Kalau dalam rapat2 keminangkabauan maka petinggi adat masih kokoh memakai yang pertama, seolah tidak melihat kepada kenyataan hidup yang terpakai kini. Apa memang yang begini yang dibilang beradat?

 

Kalau boleh berpendapat, sebaiknya yang disebut adat Minangkabau, ini sesuai juga dengan “dima bumi dipijak disinan langik dijunjuang”, “Sakali aia gadang sakali tapian barubah”, adalah yang kedua, paling tidak ya pintar2 menggabungkan yang pertama dan kedua. Kalau tidak maka yang adat itu akan selalu hanya hidup di-awang2 saja jadinya.

 

Wassalam WW

St. Parapatiah 54 Jkt.

 

 Catatan: autu correct msword sering menukar adat jadi adapt, mohon dimengerti.

 


Datuk Endang

unread,
Jun 13, 2007, 11:38:43 AM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Cukup bijaksana uraian Mamanda St. Lembang, namun ada beberapa hal yang perlu saya luruskan :
Tidak ada keharusan bagi urang sumando untuk bekerja di ulayat kaum istrinya, bila dia telah memiliki modal untuk memulai kehidupan. Hikmah adat dalam hal ini adalah : bila pasangan itu memang belum berkemampuan, alah ado ganggam nak bauntuak, hiduik nak bapangadok.
Di atas tanah pusako/pangkatuo, urang sumando bekerja secara “profesional”, sesuai dengan jerih upaya yang dilakukannya. Sebagian dapat disisakan untuk kaum, itupun kalau bersisa. Hasil usaha itu dapat menjadi kekayaan dan dapat jatuh hukum zakat dan faraidl, namun tanah pangkatuo tentunya tidak. Kerbau tidak termasuk pusako tinggi, dan bisa menjadi kekayaan. Urang sumando tetap menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga.
Pertanyaannya : dimanakah aturan syarak yang dilanggar ?
 
Dari dulu sampai sekarang saya kurang sepaham dengan istilah “pusako rendah”, sehingga tidak pernah menggunakan istilah itu dalam praktek hukum adat, dan terbukti telah menimbulkan banyak kerancuan.
 
Sertifikat tanah ulayat karenanya harus dilaksanakan oleh KAN, dan diatasnamakan pada penghulu andiko masing-masing. Pemecahan sertifikat karena pangkatuo dapat dilakukan untuk kelompok kaum di bawah penghulu andiko tersebut. Jadi salah bila langsung diatasnamakan pribadi-pribadi. Penyerahan pangkatuo biasanya dan seharusnya dilakukan melalui upacara adat, sehingga dapat disaksikan banyak orang secara bakarilahan.
 
Kewajiban urang sumando mendirikan rumah di tanah pangkatuo semata-mata untuk kepentingan anak-anaknya, yang nantinya akan menjadi mamak dan bundo kanduang di tanah tersebut. Biasanya rumah ini tidak perlu dibuat “bermegah-megah” yang dapat melambangkan kekayaan dan kejayaan. Pada umumnya urang sumando cenderung membangun atau merenovasi rumah “ibu kandungnya” dulu sebelum “mengembangkan” rumah anak-anaknya.
 
Bilamana hal seperti ini mamanda anggap sebagai matrilineal, sungguh jauh panggang dari api. Mohon maaf sebelumnya. Wassalam.

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jun 13, 2007, 11:53:48 AM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w. Nanda Riri,

Kebetulan Sanak Zubir duduk dekat saya sewaktu
menjelaskan beda antara 'uang jemputan' dan 'uang
hilang'di Pariaman. Saya tidak begitu memperhatikan
soal matrilineal dan patrilineal ini, yang dalam
pembicaraan waktu itu juga dikaitkan dengan masalah
pusako, khususnya pusako tinggi [mungkin karena selama
ini saya lebih memperhatikan kejernihan masalah
hubungan darah -- genealogis -- daripada hubungannya
dengan masalah harta-meharta ini].

Waktu itu saya benar-benar gembira dengan kesepakatan
informal kita yang hadir untuk mulai menuliskan adat
Minangkabau yang tidak tertulis itu, sampai Sanak
Bandaro Labiah nan piawai berpepatah petitih itu
langsung saya salami [ Ini kebiasaan pribadi saya
kalau saya merasa senang dan setuju, kalau di nagari
orang biasanya diikuti dengan ucapan "it's a deal' ].

Saya mengharapkan Sanak Bandaro Labiah benar-benar mau
bermurah hati menuliskan hukum adat Minangkabau
tersebut dalam bentuk lugas bagi demikian banyak orang
Minang yang memerlukan kelugasan ini [yang berbentuk
pepatah petitih tentu bisa atau tetap perlu
dilanjutkan dan dipelihara, terutama oleh
beliau-beliau yang menyenangi dan atau menguasainya].

Kalau tidak ada halangan, seluruh makalah dalam
semiloka di Padang tanggal 19 Juni nanti -- tentunya
termasuk makalah Nanda Rahimah -- akan dbukukan,
sehingga dapat dibaca seluruh warga Minangkabau
dimanapun juga.

Wassalam,
Saafroedin Bahar.


--- Riri - Mairizal Chaidir <mair...@yahoo.com>
wrote:

> ---------------------------------


> Got a little couch potato?
> Check out fun summer activities for kids.
>
>
>
>
>

> ---------------------------------


> Bored stiff? Loosen up...
> Download and play hundreds of games for free on
> Yahoo! Games.
>
>
>


____________________________________________________________________________________
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! FareChase.
http://farechase.yahoo.com/

iwan soekri

unread,
Jun 13, 2007, 12:32:41 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
salam
saya sepakat. transaksi jual-beli adalah akad.
dalam transaksi jual-beli tidak selalu uang, bisa saja jasa (bekerja sekian masa sebagai pengganti mahar) atau memberikan sesuatu benda, tidak melulu uang. bisa saja rumah, bisa saja mercy, atau apa saja yang disepakati ('deal') dalam transaksi itu.
apakah dalam transaksi harus barang? saya rasa tak selalu barang yang ditransaksikan.
namun, jika maksudnya ada 'sesuatu' yang ditransaksikan  dengan alat 'penukarnya' bisa uang atau benda lain, ya. dan mahar adalah 'alat penukar' tersebut.
saya setuju, tidak semua yang berbau arab adalah islami. justru saya tak tertarik lihat cewek berjilbab.  namun gadis minang yang berkerudung atau selendang, lebih menawan dan ada greget! selendang itu adalah bagian penutup aurat (rambut) yang khas minangkabau, saya rasa.
thx.
salam
sutan iwan soekri munaf

Syafrinal Syarien <ssya...@yahoo.com> wrote:

Definisi pasarannya tentang jual-beli adalah: ada
barang ada uang!
Mari kita lihat dalam konteks perkawinan. Ada uang di
situ (mahar, uang jemputan, uang hilang, apa pun
namanya). Namun apakah Anda melihat ada barang di
situ? Apa (atau siapa) yang mau jadi "barang"? Anda
mau menganggap mempelai perempuan atau mempelai
laki-laki sebagai "barang" bukan "manusia"?

Siapa bilang Islam menganut garis keturunan bapak
(patrilineal)? Mana ayat Quran-nya? Mana hadits-nya?
Tapi kalau orang Arab memang menganut garis keturunan
bapak.

Islam memang bermula dari tanah Arab, namun bukan
berarti semua yang berbau Arab bisa dikategorikan
sebagai Islami.

Image by FlamingText.com


Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.

iwan soekri

unread,
Jun 13, 2007, 1:50:08 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
 
maaf, awal saya memasuki permasalahan dalam diskusi ini, karena saya tidak sepakat atas adat bersandi syara, syara bersandi kitabullah.
karena adat hanya kesepakatan manusia, sedangkan syara adalah peraturan Allah yang tercantum di KITABULLAH. jadi, syara sudah pasti bersandi kepada KITABULLAH.
sebagai contoh, hanya sebagai contoh, sebagaimana yang dicontohkan ciuniang nur, bahwa ada calon mempelai laki-laki memberikan uang di bawah meja kepada calon mempelai perempuan, agar calon mempelai perempuan bisa 'manjapuik' mempelai laki-laki.
di sini, menurut saya, calon mempelai laki-laki munafik, dia dijapuik oleh duitnya sendiri. bagaimana jika pernikahan dimulai dari kemunafikan? apa kata dunia?
jika sepakat, tidak menyebut adat bersandi syara, dan syara bersandi KITABULLAH, atau adat bersandi atas kesepakatan masyarakat semata, maka saya tidak membantah, sah-sah saja orang yang mengadatkan japuik tadi dalam perkawinan. namun jika mengatakan, begitulah adat yantg islami, saya bantah. karena dalam islam, hanya lelaki yang memberi mahar kepada calon mempelai perempuan. tidak ada dalam, islam calon mempelai perempuan memberi mahar kepada calon mempelai laki-laki.
tentang generalisir? saya tidak men-generalisasikan.
tentang sanksi, saya paham. dalam kelompok 10 orang, sembilan orang telanjang, dan saya pakai baju len gkap, maka saya akan mendapat sanksi dari 9 orang telanjang itu. bagi saya lebih baik mendapat sanksi dari 9 orang telanjang, daripada dapat sanksi dari Allah.
tapi jelas, saya tidak sangsi akan adanya Allah, karena saya takut akan sanksi Allah kepada saya manakala saya sangsi adanya Allah.
salam.
sutan iwan soekri munaf
prabumulih-sumatera selatan


benni inayatullah <proto_...@yahoo.com> wrote:
Yang namanya Adat atau budaya apapun adalah kebiasaan/aturan/norma yang disepakati oleh komunitas atau masyarakat dalam lingkungan tertentu.Jadi Adat hanya berlaku jika disepakati oleh keseluruhan atau mayoritas masyarakat. Bagitu juga hukum positif yang ada dinegara kita setelah disepakati bersama maka harus dilaksanakan tapi kalau dilanggar ya ada sangsi yang berlaku.

Mengenai Sanak Sukri kalu misalnya tidak menerima adat yang berlaku atau tidak cocok dengan kebiasaan masyarakat setempat ya boleh saja tidak beradat dan tentu saja ada sangsinya misalnya sangsi moral dari masyarakat setempat. jadi..boleh boleh saja..

yang tidak boleh adalah mengeneralisir sikap dan penilaian pribadi seolah olah angota masyarakat lainnya berperangi buruk dengan menjalankan adat tersebut. kita tidak bisa mengharamkan uang japuik jo uang anta misalnya kalau ternyata masyarakat yang menjalani tersebut ikhlas dengan kebiasaan tersebut. Karena kalau ikhlas itu ibarat pemberian seumpama sebagai modakl untuk berumah tangga nanti.

jadi jangan terlalu cepat menggeneralisir seseorang itu munafik atau tidak percaya diri. hormatilah sikap dan pendirian orang lain. kalau orang itu ikhlas dan senang kita mau apa ? kalau kita tidak suka ya tinggalkan..

gitu aja kok repot..

salam

Ben

iwan soekri <iwan_...@yahoo.com> wrote:
salam
hahaha.
ambo nan pasti indak ka berang jikok ado nan manyabuik ambo (Sutan Iwan Soekri Munaf) indak beradat. namun, ladiang ka ambo ambia ladiang jikok ado nan mangatokan ambo indak beragama. mungkin baitu ci uniang.
bagi ambo, adat hanya kesepakatan sesama manusia. kesepakatan bisa diubah-ubah oleh manusia. dulu manusia indonesia sepakat mengatakan Pak De Soeharto itu Pahlawan Pembangunan atau bapak Pembangunan. Kemudian secara serempak manusia indonesia sepakat mengatakan, reformasi berarti menggulingkan Soeharto dari tahtanya.
namun,apo nan tatulis di Qur'an yang menjadi statement Allah, tidak akan berubah.
Syariat atau hukum-hukum dari Allah tentulah tak akan berubah.
ambo sepakat jika ada yang akan memperbaharui adat, dengan tidak mengaitkan dengan agama. jika ingin mengaitkan dengan agama, segala macam yang ada dalam adat, haruslah mencerminkan dalam jalur agama.
seorang kawan orang sunda prnah mengatakan,semula dia tertarik dengan perempuan minang yang pakai selendang menutupi rambutnya. khas minang, bukan ke-arab-araban berjilbab! namun dia kecewa, gads minang yang pakai selendang itu, saat pesta nikah, membuka selendangnya. dan menggantinya dengan hiasan di kepala (suntiang). menurut dia, ada ketidak-konsistenan dalam menutup aurat selaras perintah Allah.
apalagi laki-laki yang ingin dianggap beradat, dengan mengirimkan uang di bawah tangan kepada pihak mempelai perempuan, ini menunjukkan laki-laki minang itu tidak punya percaya diri dan munafik sudah dipelihara saat menikah, bagaimana pula jadinya hasil pernikahan yang penuh kemunafikan itu?
jawabnya: antahlah...... inyo nan ka badoso!
salam
sutan iwan soekri munaf

Nuraini B Prapdanu <p...@mercureconvention.com> wrote:
Dunsanak kasadonyo,
 
Mengutip nan ambo baco, Orang Minang termasuk penganut kultur langka di dunia.Masyarakat MInang menganut sistem Matriakhat, garis keturunan dan pembagian harta pusaka berpedoman pada garis silsilah turunan ibu , di Dunia konon hanya ada tiga etnis bangasa penganut sistem ini. Buku Les Champa terbitan universitas Sorbonne , Perancis, mengungkapkan selain di Minang , sistem matriakhat ini terdapat di Champa , Vietnam dan kepulauan Madagaskar.
 
Sekilas pengawinan adat dan agama sangat gampang , tetapi jika diselami secara mendalam benturan dashyat di temui sebagai contoh : Adat minang menentukan warisan diturunkan sesuai garis silsilah pihak Ibu , anak prempuan lalu ke cucu perempuan dstnya, sedangkan warisan menurut ajaran islam dari ayah turun ke anak lelaki lalu cucu lelaki dstnya .
 
Orang Minang pemegang adat yang kuat sekaligus menganut agama yang taat , Jika seorang pria dikatakan tidak beragama dia masih bisa senyum dan jawab " Hanya allah yang tahu " tapi coba katakan dia tidak beradat ....dia pasti akan mengamuk kalau ada golok didekatnya bisa - bisa langsung di " dabiah "yang ngomong.
 
Urang piaman sangat terkenal teguh kalau memegang adat istiadatnya , Manuruik ambo dalam perkawinan, hukum jual beli tidak berlaku , mestinya lelaki yang melamar calon isrtri ,bukan sebaliknya , tradisi yang berlaku ini sangat memalukan menempatkan lelaki seperti diperjual belikan kira - kira mirip " ayam" lah ya , apalagi pakai uang jemputan dan uang hilang segala macem ....hiks ,yang lebih parah lagi saking mau pake tuh tradisi si lelaki nyediain duit dikasih ke si perempuan karena si perempuan nggak sanggup beli , demi biar ninik mamak nggak berang diam - diam ' under the table "pake duit si cowok buat beli dia sendiri..belum lagi yang memanfaatkan sesaat adat " Beli Mantu " ini ...ada kejadian yang kena tipu udah dapet uang hilang dapet perawan eh dia kabur ....pssst diem - diem rupanya dia udah punya istri ....ih kacian deh ,
 
Berarti kalau punya banyak uang enak dong, tinggal pilih mau yang ganteng , yang muda, yang sarjana bertitel and soon... and soon.... masalah cocok belakangan , khan kasihan tuh untuk mereka yang sudah saling mencintai tapi batal nikah gara - gara pihak perempuan tidak bisa memenuhi uang jemputan dan uang hilang.
 
Salam ci uniang,
Nuraini
 
Image by FlamingText.com

Pinpoint customers who are looking for what you sell.

Image by FlamingText.com


Hayatun Nismah Rumzy

unread,
Jun 13, 2007, 3:07:57 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Bundo kanduang, limpapeh rumah nan gadang
Umbun puro pegangan kunci
Hiasan didalam kampuang
Sumarak dalam nagari
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banasa
Kok lah mati tampek baniat
Ka unduang-unduang ka Madinah
Ka payuang panji ka sarugo
 
Pepatah diatas hanya sebagai hiasan negeri, tempat membayarkan nazar, menjadi puro penyimpan harta benda,  tapi dia tidak mempunyai fungsi untuk dibawa bermufakat sama sekali.
 
Juga didalam tungku 3 sajarangan yang maksudnya ialah pemerintahan, adat, dan agama jadi berdiri tegak untuk menumpu periuk atau kancah.  Jadi dimanakah letaknya perempuan bundo kanduang itu?
 
Didalam buku "Masih Ada Harapan" karangan pak Saaf dikatakan bahwa studi dari Lusi Herlina mengatakan bahwa Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan Minangkabau sesungguhnya tidak memiliki kontrol terhadap sumber daya, tanah dan harta pusaka tingi lainnya. Dari penelitian dan analisis Lusi Herlina dkk., Bundo Kanduang tidak dapat lagi berfungsi sebagai perlindungan dan pemberdayaan bagi jutaan kaum perempuan dan anak-anak anggota suku di Minangkabau. Makin lama dalam sistem pengambilan keputusan semakin melemah dan lama kelamaan akan kehilangan kekuatan politiknya dan akan menjadi hiasan belaaaaka dalam sistem adat Minangkabau".
 
Buku "Minangkabau Yang Gelisah" sudah mengrekomendasikan yang berkaitan dengan peranan bundo kanduang itu:
  • Melestarikan peranan Bundo Kanduang dalam budaya matrilineal.
  • Fungsi laki-laki dan perempuan dalam adat Minang, secara filosofisnya, masing-masing memiliki fungsi masing-masing pula.
  • Dalam hal gender, Minangkabau mengakui persamaan gender sejak dulu dan masalah feminim lebih dulu muncul daripada dalam tataran global.
  • Dalam Konsep Islam dikatakan manusia adalah khalifah (pemimpin) dimuka bumi . Jadi baik perempuan dan/laki-laki adalah sama-sama pemimpin.
  • Gender memang diperjuangkan dalam tatanan global.
Keadaan ditanah Arab yang menjalankan syariah Islam tidak lebih baik keadaannya. Contohnya:
  • Perempuan di Makah dan Madinah hanya keluar pada hari Jumat saja dan kalau keluar mukanya ditutup dan yang kelihatan hanya matanya saja.
  • Ruang tunggu di Rumah Sakit tempatnya terpisah laki-laki sesama laki-laki dan perempuan sesama perempuan.
  • Jarang adanya perempuan yang berkarir, berdagang, dan bersekolah tinggi bahkan membawa mobil saja tidak ada orang perempuan.
Kemerdekaan dan kesempatan yang selama ini diperdapat oleh perempuan apakah akan hilang kalau kita menjalankan ABSSBK?  Seperti pak Saaf mengatakan dalam pembagian warisan beliau tak mau membedakan anak-anaknya begitu juga perempuan yang berjalan malam hari tanpa muhrim apakah juga akan ditangkap seperti yang terjadi di Tangerang?
 
Apakah kita akan kembali lagi keawal abad ke 20 yang diterima di Sekolah Raja hanya laki-laki saja?
 
Apakah sudah ada bupati atau walikota perempuan di Minangkabau?
 
Sekianlah dulu pendapat saya yang telah bertahun-tahun merasakan kemerdekaan akan membiarkan anak cucu dan kemenakan perempuan saya akan menjadi hiasan belaka.
Wassalam bil maaf
Hayatun Nismah Rumzy (68+)


Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel.

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jun 13, 2007, 8:40:48 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com, rus...@yahoo.co.id, amidh...@yahoo.com
Assalamualaikum w.w. Bundo,

Itu juo nan salamo ko manggalisahkan ambo, Bundo,yaitu
apo nan kito katokan jo pepatah petitih, rasonyo indak
samo jo nan ado dalam hati, dan babeda jauah pulo jo
kenyataan sahari-hari.

Ambo mamuliakan kaum Ibu, bukan sajo karano ambo
sangat mamuliakan Mak jo Anduang ambo nan -- tantu
basamo jo Ayah ambo -- jo susah payah manggadangkan
ambo, tapi juo karano anak ambo banyak anak padusi,
dan insya Allah lai indak kalah jo dunsanaknyo nan
laki-laki. Bahkan dalam umua ambo nan samakin uzur ko,
anak padusi nan labiah gadang paratiannyo ka ambo jo
urang rumah ambo, dibandiangkan jo sanak-sanaknyo nan
lakli-laki. [Nan laki-laki alah sibuk jo rumah
tanggonyo surang, he he].

Salain itu, ambo sabana tapana mamparatikan kanyataan
bahaso dari 12 sarjana nan luluih jo predikat 'cum
laude' di UI sawakatu ambo hadir dalam acara wisuda
anak ambo, tanyato sapuluah -- ulangi sapuluah --
adolah padusi ! Sabana heran ambo, baa mako padusi nan
labiah santiang dari laki-laki ko indak dibao baretong
sacaro layak, tamasuak dalam masyarakat kito nan
matrrilineal tu. Bundo bacolah disertasi Prof Dr
Keebet von Benda-Beckmann tantang sangketo tanah di
Minangkabau: indak sakali juo padusi ["Bundo
Kanduang"] tu diajak barundiang !`Masyaalah.

Syukurnyo Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang
Hak Asasi Manusia manjamin hak wanita (baca: hak
perempuan) sederajat jo laki-laki, dan hal itu ikut
diperjuangkan dek Komnas HAM basamo jo Komnas
Perempuan. Sekitar tahun 2003-2004 di Padang alah
diadakan rangkaian pertemuan tantang soal iko. Cuma,
saparati dapek kito duga, sabana kareh resistensi
taradok soal padusi iko, sampai-sampai ambo sabana
heran, sambia batanyo dalam hati: jadi baa sabananyo
posisi padusi ko dalam masyarakat hukum adat kito nan
rasminyo badasar sistem kekerabatan matrilineal
(=keibuan) ko?

Untuak mancari jawaban taradok masalah iko, Insya
Allah, kalau indak ado halangan, masalah ko manjadi
salah satu topik dalam Semiloka nan diadokan Komnas
HAM jo Fakultas Hukum Universitas`Andalas di Padang
dari tanggal 19-21 Juni bisuak. Ado tigo pembicara nan
kami undang untuak tampil: Dra Sri Setyawati, M.A.;
Dra Lusi Herlina dan Dra Zuleka Hg. Duo pembicara nan
terakhir ko adolah anggota Perwakilan Komnas HAM
Sumbar. Mudah-mudahan kito dapek kajaniahan dalam soal
ko.

Ikolah nan ambo minta dalam patamuan kito di rumah
Bundo babarapo hari nan lalu, yaitu parmintaan nan
sungguah-sungguah supayo ditulihkan jo kalimat nan
lugas apo bana isinyo hukum adat Minangkabau nan
batumpu kapado ABS SBK tu. Sahinggo bisa dipacik.

Dalam panglihatan ambo, masalah ko labiah marupokan
masalah Ranah daripado masalah Rantau, tapi rasonyo
paralu juo kaum ibu di Rantau solider jo kaum ibu nan
di Ranah. Baa kok Bundo adokan bana partamuan para
kaum ibu Minang di Rantau -- satidak-tidaknyo di
Jakarta -- untuak membahas masalah ko ?

Bundo bisa maundang Komisioner Hak Perempuan, nan
sampai tanggal 30 Agustus nanti masih dijabat dek
Prof. Dr Ruswiati Suryasaputra, MS nan alah basuo jo
Bundo di Komnas HAM. Baliau ado panalitian tantang
perbandingan posisi perempuan dalam tigo sistem
kekeratabatan: matrilineal, patrilineal, dan
parental.Tampeknyo bisa di Komnas HAM. Ruang rapek
lumayan, tampek parkir cukuik. Lokasi sentral.

Posting ko ambo cc ka baliau jo pak
Amidhan.[Mudah-mudahan baliau baduo dapek mamahami
bahaso Minang. Kok indak, bia baliau baduo mananyokan
kabakeh ambo, he he]


Wassalam
Saafroedin Bahar

> ---------------------------------


> Need a vacation? Get great deals to amazing places
> on Yahoo! Travel.
>
>
>

Datuk Endang

unread,
Jun 13, 2007, 9:41:02 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Pepatah itu bukan hiasan Bunda, senantiasa diacu dalam perjalanan hidup ini oleh anak nagari. Apakah Bunda tidak pernah diundang untuk berunding dalam berbagai persoalan? Saya tidak akan pernah memutuskan suatu persoalan bila belum ada keikhlasan dari kaum ibu. Bilamana perlu kapan waktu Bunda pulang, ikut dalam barisan arak-arakan, manjunjuang botieh atau bungo sirieh, dan merasakan betapa kaum ibu itu sumarak dalam nagari dan sangat diagungkan dalam budaya kita. Untuk merasakan harus dilakukan, jangan hanya dipandang saja.
 
Tungku 3 sajarangan dalam mufakat kaum terletak pada : ninik mamak, bundo kanduang, dan urang sumando.
 
Pendapat Lusi Herlina dalam “Masih Ada Harapan” tentu saja salah, dan tidak bisa dijadikan rujukan. Lusi belum bisa memahami maksud “panjawek pusako di rumah nan gadang”.
 
Suatu sistem nilai bila dibanding-bandingkan dengan sistem nilai lain ya hasilnya seperti itu. Sama seperti kaidah HAM dan demokratisasi dari barat yang mau diterapkan di Indonesia, hasilnya ya seperti yang kita rasakan hari ini.
 
Mohon keampunan Bunda. Wassalam.


Hayatun Nismah Rumzy <hni...@yahoo.com> wrote:


Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel and lay it on us.

benni inayatullah

unread,
Jun 13, 2007, 9:46:20 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
ya..bagi saya argumen anda untuk tidak bisa menempatkan adat basandi kepada syarak tidak bisa dicerna akal sehat , masak kebiasaan dan cara hidup tidak boleh disandarkan kepada syarak, lalu buat apa ada ustad yang mati2an mengajak kepada kebaikan itu ? bukankah Muhammad diutus untuk menempurnakan akhlak dan budi pekerti manusia ?

ya susah kalau begini, kita berdiskusi beranjak dari titik tolak yang berbeda, kalau titik tolak sudah berbeda maka tidak akan bisa dipertemukan...

sepintas saya lihat istilah munafik dalam konteks persoalan yang kita bicarakan agak kurang tepat juga, kalau boleh tahu definisi munafik buat anda apa ? lalu apakah uang japuik dan uang anta menurut anda sama dengan mahar ?

thanks




iwan soekri <iwan_...@yahoo.com> wrote:
 
maaf, awal saya memasuki permasalahan dalam diskusi ini, karena saya tidak sepakat atas adat bersandi syara, syara bersandi kitabullah.
karena adat hanya kesepakatan manusia, sedangkan syara adalah peraturan Allah yang tercantum di KITABULLAH. jadi, syara sudah pasti bersandi kepada KITABULLAH.
sebagai contoh, hanya sebagai contoh, sebagaimana yang dicontohkan ciuniang nur, bahwa ada calon mempelai laki-laki memberikan uang di bawah meja kepada calon mempelai perempuan, agar calon mempelai perempuan bisa 'manjapuik' mempelai laki-laki.
di sini, menurut saya, calon mempelai laki-laki munafik, dia dijapuik oleh duitnya sendiri. bagaimana jika pernikahan dimulai dari kemunafikan? apa kata dunia?
jika sepakat, tidak menyebut adat bersandi syara, dan syara bersandi KITABULLAH, atau adat bersandi atas kesepakatan masyarakat semata, maka saya tidak membantah, sah-sah saja orang yang mengadatkan japuik tadi dalam perkawinan. namun jika mengatakan, begitulah adat yantg islami, saya bantah. karena dalam islam, hanya lelaki yang memberi mahar kepada calon mempelai perempuan. tidak ada dalam, islam calon mempelai perempuan memberi mahar kepada calon mempelai laki-laki.
tentang generalisir? saya tidak men-generalisasikan.
tentang sanksi, saya paham. dalam kelompok 10 orang, sembilan orang telanjang, dan saya pakai baju len gkap, maka saya akan mendapat sanksi dari 9 orang telanjang itu. bagi saya lebih baik mendapat sanksi dari 9 orang telanjang, daripada dapat sanksi dari Allah.
tapi jelas, saya tidak sangsi akan adanya Allah, karena saya takut akan sanksi Allah kepada saya manakala saya sangsi adanya Allah.
salam.
sutan iwan soekri munaf
prabumulih-sumatera selatan


benni inayatullah

unread,
Jun 13, 2007, 9:48:03 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum,

datuk Endang...mohon diijinkan bertanya, siapakah yang dimaksud dengan BUndo Kanduang itu ? apakah setiap perempuan MInang ?

Tarimo kasih..

Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:

Sucker-punch spam with award-winning protection.
Try the free Yahoo! Mail Beta.

Bandaro Labiah

unread,
Jun 13, 2007, 9:52:05 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaykum w.w.
 
Pak Riri !!
batua bana tu, sarupo ambo katokan kapatang tu, masalah nan dikatangahkan dalam prtemuan kapatang tu, ambo raso alah tuntas 9hasiano boneh) dan emamng OK-OK sajo, karano memang baitu
 
maaf ambo copykan ciek lai kalimat Pak RIri di postingan nan lain >>
"Sistemnya perlu direvisi atau perlu diperjelas, sehingga bisa memberikan kepastian buat seluuruh kaum; atau malah sistemnya OK tapi pelaksana nya yang ga benar?
 
Saya rasa, sertifikat merupakan hal yang berbeda. Itu kan bukti pemilikan, atau kuasa penggunaan saja; tidak mengatur urusan internal para anggota kaum." <<
 
ambo sangaik satuju jo nan pak riri sampaikan tu
satu hal nan ambo sampaikan,  kalau ambo iyo indak pandai bana manulihkan sesuatu sacaro terstruktur, disinan kekurangan ambo
ambo yakin kalau apo nan kito bicarakan, lalu ditulihkan dek nan pandai manulih, rasono tajawek sadono
 
Wassalamu'alaykum w.w.
 
Bandaro Labiah
* sebagai gambaran dari hasia patamuan ari satu nan lampau tu, ado salah saurang nan hadir , nan (maaf) manuruik pandangan ambo, salamoko iyo agak kurang respek jo segala sesuatu yang berhubungan dengan adat Mnangkabau (bahkan baliau sendiri mangaku indak ado ketertarikan) tanyato sampai ambo di rumah, baliau mangirim sms dan berdialog sampai pukua satangah duo baleh malam dan dilanjutkan baliak pado hari sinayan, Bahkan dengan tekad bulat beliau akan pulang ka kampuang untuak mendalami adat. ambo  berharap nan sarupo iko akan tumbuh dan berkembang dalam generasi urang mudo awak 
 
 
 


Riri - Mairizal Chaidir <mair...@yahoo.com> wrote:
Maaf, ada ralat, tadi ambo salah. Kato "tidak" di kalimat dibawah ko itu seharusnyo ndak ado.
 
Yang saya tangkap waktu itu adalah, bahwa waktu itu tidak kelihatannya pak Saaf dan mak Bandaro OK OK dengan penjelasan pak Zubir tu.


Riri - Mairizal Chaidir <mair...@yahoo.com> wrote:


 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
Jun 13, 2007, 9:58:18 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam wr.wb.
 
Mohon maaf, pak Saaf.
 
Saya salah tangkap. Tel-mi kato anak ambo. Ambo ndak "ngeh" kalau waktu tu 2 topik nan sedang dibahas: antaro pak Zubir dan bundo Nizmah; dan pak Saaf dengan mak Bandaro.
 
Saya kira kesepakatan pak Saaf itu menyangkut penjelasan pak Zubir. Memang sebelumnya saya ingat pak Saaf berbicara tentang "urang sumando", direspon oleh mak Bandaro. Bundo Nizmah juga membeikan comment, dst dst.
 
Riri
 

"Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote:
wrote:

> Maaf, ada ralat, tadi ambo salah. Kato "tidak" di
> kalimat dibawah ko itu seharusnyo ndak ado.
>
> Yang saya tangkap waktu itu adalah, bahwa waktu
> itu tidak kelihatannya pak Saaf dan mak Bandaro OK
> OK dengan penjelasan pak Zubir tu.
>
>
> Riri - Mairizal Chaidir wrote:

Ronal Chandra

unread,
Jun 13, 2007, 10:23:49 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum Wr..Wb
Jak kapatang ambo menimbang nimbang nio sato diskusi tapi bingung nio masuak dari maa dek pemahaman ambo tentang adat iyo stek bana.

Ambo iyo datang talambek wakatu pertemuan dirumah bundo tapi inti dan point point pembicaraan insya allah sadonyo bisa ambo serap dengan baik karena direview dengan sangat lugas dengan Mamanda Bandaro Labiah.

Ado usua ciek dari ambo, interaksi diskusi tentang adat ini sangat tinggi sekali sayang kalau kesempatan ini dilewatkan begitu saja jadi palamak otak lapau sajo. Ambo ma usua bentuklah team lalu tulih dan bukukan apo nan alah menjadi kesepakatan dengan sugiro.

Insya allah buku nangko bisa jadi pedoman bagi para perantau dan manual bagi generasi mudo nan kurang paham masalah nangko. Tapi tolong dikarajokan batua batua sehingga memang betul menghasilkan kesepakatan bersama dan indak malenceng dari apo nan alah ado.

Ambo pikir team nan ahli alah banyak tampak ditambah dengan kemampuan berpikir nan mudo2 dalam melakukan kajian ambo yakin banyak beko mamfaatnyo.

Kito mulai dari mengumpulkan data nan ado dulu, disini awak bisa minta tolong dunsanak wak nan alun karajo untuk mangumpuakan data data tu taruih diolah. Tentu dunsanak awak tu wak agiah pitih lelahnyo (iko bisa juo dari mahasiswa).

Deh ambo kalau ado wakatu iyo nio bana merumuskan nangko tapi wakatu itu nan alah jauh bana dari ambo, tapi kalau sato marogoh kocek insya allah ambo nio bana sato.

itu dulu dari ambo. Ucapan mukasih dulu untuk Bundo Nismah dek sate dirumah beliau ambo nan menghabihkan he he he.

Salam Hormat
ROnal Chandra

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
Jun 13, 2007, 10:31:32 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com


Bandaro Labiah <zhen...@yahoo.com> wrote:
>>> Assalamu'alaykum w.w.
 
Waalaikumsalam wr.wb.
 
>>> satu hal nan ambo sampaikan,  kalau ambo iyo indak pandai bana
>>> manulihkan sesuatu sacaro terstruktur, disinan kekurangan ambo
>>> ambo yakin kalau apo nan kito bicarakan, lalu ditulihkan dek nan pandai
>>> manulih, rasono tajawek sadono
 
 
Kalau soal adaik, jujur ambo katokan, pengetahuan ambo nyaris nol.
Kini ambo baru mulai, masih di play group, bahkan masih mendaftar baru. Dek lah talambek, yo ambo cubo baraja melalui apo sajo, mandanga, mambaco buku, internet, pokoknyo apo sajo.
 
Kalau soal manulih, ambo pun indak pandai do, tapi dek karano ambo bana2 nio baraja adaik, ambo namuah jadi notulis kalau ado pertemuan2 bantuak di rumah bundo Nizmah, atau bahkan kalau mak Bandaro ka diskusi di lapaupun, ambo namuah lo sato mandanga, dan mencatat. Mohon ambo diagiah tau, InsyaAllah kalau masih di Jabotabek ambo usahokan.
 
Taruih tarang, ambo ndak begitu minat dengan namanya seminar ilmiah dsb. Mungkin salah penilaian ambo, tapi ambo bandiang2kan isi tulisan urang2 nan bukan "pakar" (dalam arti akademisi, ataupun institusi adat) ...
 
Wassalam
 
RIri
 
 
 
 
 


hanifah daman

unread,
Jun 13, 2007, 10:58:50 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalammualaikum Wr Wb bapak Saaf
 
Manurut hanifah, kita tidak perlu terlalu terpaku ke petatah petitih.
Saat petatah dan petitih tersebut dibuat, situasinya kan tidak sama dengan sekarang. Petatah dan petitih tersebut buatan manusia yang tentunya punya keterbatasan, mungkin dari sisi waktu dll.
 
Jadi petatah dan petitihnya barangkali yang perlu disesuaikan. Kan bukan petatah dan petitih tersebut yang jadi acuan hidup kita, tapi Al Quran.
 
Hanifah pribadi termasuk wanita yang beruntung, karena tidak pernah merasa terhambat dalam hal apapun baik ketika di ranah maupun di rantau. Laki-laki mendaki gunung, ifah juga  Laki-laki merenagi tabek gadang, ifah juga dll.
 
Maaaf ifah harus nguji dulu yah, telat nih
 
Wass
 
Hanifah Damnhuri


"Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote:

Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jun 13, 2007, 10:30:13 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w. Ananda Dt Endang,

Boleh saya ikut menyela ? Instrumen hukum
internasional HAM itu bukan berasal dari Barat,
Ananda, tapi tercantum dalam Piagam PBB, dan
dikembangkan oleh seluruh negara-negara di dunia,
termasuk oleh Republik Indonesia. Sebagian besar
anggota PBB itu malah bukan dari Barat. Sekedar
informasi, dua kovenan PBB tentang hak sipil dan
politik dan hak ekonomi, sosial, dan budaya, telah
diratifikasi jadi Undang-undang Nomor 11 dan 12 Tahun
2005.

Mohon jangan disisihkan masyarakat hukum adat
Minangkabau itu dari keseluruhan Negara kesatuan
Republik Indonesia, Ananda. Kita orang Minangkabau
ikut lho menegakkan dan membela Republik Indonesia ini
[Ingat peran PDRI, 1948-1949). Hak masyarakat hukum
adat termasuk yang dilindungi oleh instrumen hukum
internasional dan hukum nasional hak asasi manusia
ini.

Untuk lebih menjernihkan masalah ini, kalau Ananda
ada`waktu, datanglah ke Semiloka tanggal 18-21 Juni
mendatang di Fakultas Hukum Universitas Andalas,
Kampus Limau Manih, Padang. Dalam semiloka itu akan
kita bahas 20 masalah masyarakat hukum adat
Minangkabau dari perspektif hak asasi manusia, antara
lain tentang hak anak, hak perempuan, dan hak lansia.
Ananda dapat memberi masukan yang Ananda rasa`perlu
bagi semua peserta. Kalau boleh saya meminta, tolong
sampaikan makalah sumbangan Ananda, sehingga menjadi
dokumen yang dapat dimanfaatkan semua orang untuk
masa`datang.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

> ---------------------------------


> Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect.
> Join Yahoo!'s user panel and lay it on us.
>
>
>
>
>

> ---------------------------------


> Sucker-punch spam with award-winning protection.
> Try the free Yahoo! Mail Beta.
>
>
>


____________________________________________________________________________________


Need a vacation? Get great deals
to amazing places on Yahoo! Travel.

http://travel.yahoo.com/

Bandaro Labiah

unread,
Jun 13, 2007, 11:03:20 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaykum w.w.
 
insyallah
pintak samo a buliah
kandak samo ka balaku
kok lai takurang jo balabiah
bakarilahan kito tantang itu
 
Wassalamu'alaykum w.w.
 
Bandaro Labiah

Riri - Mairizal Chaidir <mair...@yahoo.com> wrote:


 
Waalaikumsalam wr.wb.
 
 
 
 
Kalau soal manulih, ambo pun indak pandai do, tapi dek karano ambo bana2 nio baraja adaik, ambo namuah jadi notulis kalau ado pertemuan2 bantuak di rumah bundo Nizmah, atau bahkan kalau mak Bandaro ka diskusi di lapaupun, ambo namuah lo sato mandanga, dan mencatat. Mohon ambo diagiah tau, InsyaAllah kalau masih di Jabotabek ambo usahokan.
 
 
Wassalam
 
RIri
 
 
 
 
 

TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV


Datuk Endang

unread,
Jun 13, 2007, 11:06:22 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Bundo kanduang dalam pengertian umum adalah perempuan Minang yang telah menikah.
Kalau dalam pengertian kaum adalah salah seorang bundo kanduang yang mewakili kaum ibu dalam suatu andiko, demikian seterusnya hingga suku dan nagari. Wassalam.

benni inayatullah <proto_...@yahoo.com> wrote:
Assalamualaikum,

datuk Endang...mohon diijinkan bertanya, siapakah yang dimaksud dengan BUndo Kanduang itu ? apakah setiap perempuan MInang ?

Tarimo kasih..


Finding fabulous fares is fun.
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel bargains.

benni inayatullah

unread,
Jun 13, 2007, 11:22:51 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Tarimo kasih Datuak..

berarti nan dibao baretong indak kasado BUndo Kanduang doh melainkan Bundo Kanduang dalam suatu Andiko, sama seperti halnya laki-laki hanya penghulu/cadiak pandai/ulama sarato pernagkat lain sajo. eh ciek lai..cadiak pandai ko kan ndak laki2 sajo doh kan tamasuak padusi ? ulama baitu pulo ?

Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:

No need to miss a message. Get email on-the-go
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

Yulizir Baharoeddin

unread,
Jun 13, 2007, 11:23:19 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com

 

 

Buat semua nya,

Untuak rekan-rekan kasadonyo,

 

 

 

Minta tolong dan Butuh sedikit informasi, ada nggak diantara rekan - rekan disini, AM/Sales , yang pegang Account untuk Indosat Tbk.

 

 

Bisa saya hubungi?

Atau saya email japri?

 

Thanks ya, sebelumnya.

Tarimo kasih sabalun nyo

 

 

 

 

 

Yulizir Baharoeddin

0818-406050

 

 

 


 [#######################   RELACOM CORPORATE EMAIL FOOTER   #######################]
  1. This communication is confidential and is only intended for use of the 
     individual or entity to which it is directed. If you are not the intended
     recipient of this email, please delete it without forwarding any of its 
     contents. 
  2. Opinions and thoughts expressed in this email may be the personal opinions 
     of the sender and do not necessarily represent the corporate values of Relacom.
  3. For further information please visit: http://security.relacom.com/email/ 
 [##################################################################################]

benni inayatullah

unread,
Jun 13, 2007, 11:29:03 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Uni Hanifah..batua..tapi saeloknyo di pilah pilah dulu pepatah mana yang sudah tidak sesuai dan mana yang masih sesuai karena saya rasa kebanyakan pepatah ini bermain di tataran filsafat yang dinamis dan bisa disesuaikan kapan saja. satu lagi mungkin menurut saya acuan hidup lebih baik kepada hukum Alloh Swt termasuk AL Quran karena Al Quran bukanlah satu2nya hukum Tuhan...salah salah kita nanti mempertuhankan AL Quran..



hanifah daman <iff...@yahoo.com> wrote:

Tasril Moeis

unread,
Jun 14, 2007, 1:37:49 PM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Wa'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
Kalau awak jujur jo apo nan di kecek kan Mak Dave, iko lah kondisi keluarga Minang kini, memang lah tajadi pergeseran fungsi Mamak manjadi Bapak nan batangguang jawab panuah ka anak no masiang2.
Dalam pernikahan pun fungsi Mamak sering bersifat seremonial sen dek karano sagalo etongan alah putuh di antaro duo keluarga nan ka baralek baru di baok ka niniak mamak untuak di jalankan.
 
Wassalam
Tan Ameh

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jun 13, 2007, 11:05:03 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w. Sanak Bandaro Labiah jo Ananda
Riri,

Kalau sakadar soal manulihkan kaidah hukum adat,
barangkali kito bisa bisa mintak bantuan sanak-sanak
kito dari kampus, khususnyo dari Fakultas Hukum nan
bakutat jo 'legal drafting'.

Ambo kabatulan kenal jo pakar 'legal drafting' ko,
Prof Dr Maria Farida Indrati, SH. Juo jo dosen hukum
adat dari UI, Sanak Afdol, SH, MH. Paliang indak ambo
bisa minta bantuan baliau-baliau untuak mancarikan sia
nan jagoan soal manulihkan hukum ko. Kito tambah malah
jo anak-anak mudo kito. Kan alah ado babarapo urang
nan alah manyadiokan diri. {Ananda Ronal malah basadio
iuran dana. Alhamdulillah].

Ambo sabana harok salasainyo Kompilasi Hukum ABS SBK
ko dalam duo tahun ko, sahinggo anak cucu kito di maso
datang indak ka basiarak taaruih tantang soal nan
sangat mandasar ko.

Dari Bandario Labiah [bisa ditambah jo Pak Amir MS Dt
Mangguang nan sati, Angku Azmi Dt Bagindo, Ananda Dt
Endang Pahlawan, dan para pamangku adat lain]
disumbangkan kajaniahan tantang intisari hukum adat
Minangkabau ko. Dari nan lain manuangkannyo ka
kalimat-kalimat hukum nan lugas, tegas, janiah.

Lai satuju Bandaro ?

Wassalam,
Saafroedin Bahar

--- Riri - Mairizal Chaidir <mair...@yahoo.com>
wrote:
>

> ---------------------------------


> TV dinner still cooling?
> Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
>
>
>

Arnoldison

unread,
Jun 14, 2007, 2:33:43 PM6/14/07
to Datuk Endang

Ambo cubo bapandapek,

Ketika terminologi yang berasal dari luar dinisbahkan kepada
sesuatu yang bukan habitatnya (islam dan minangkabau), maka
sulit untuk menjawabnya.

Karena istilah merupakan suatu definisi yang dikeluarkan
berkenanan dengan sesuatu hal berdasarkan konsensus dan berlaku
secara lokal.

Istilah patrilineal dan matrilineal bukanlah berasal dari islam
atau minangkabu tapi berasal dari luar, maka apakah Islam itu
patrilineal dan Minangkabau itu matrilineal tidak bisa
dilekatkan begitu saja tergantung apa yang dimaksudkan dengan
kedua istilah tersebut.

Kalau pemahaman istilah tersebut disandarkan penentuan garis
keturunan (descent) , maka Islam itu tidak sepenuhnya
patrilineal, memang dalam hal nasab maka keturunan memakai nasab
laki-laki tetapi dalam ajaran islam itu seorang ibu memilik hak
derajat prioritas penghormatan tiga kali dari bapaknya, bila
diukur dengan hak waris perempuan juga tidak ditinggalkan karena
dalam Islam perempuan mendapat hak waris.


Pencarian nasab dari garis ibu dalam minangkabau berfungsi
sebagai penentu dalam pendelegasian pusaka tinggi dan tidak
bermaksud untuk menghilangkan nasab laki-laki, saya kira tidak
ada orang minang yang menambahkan nama ibunya dibelakang nama
dirinya sendiri. Lagipula untuk harta pencaharian sendiri
dibagikan sesuai hukum agama.

Seandainya patrilineal itu menentukan identitas suku seseorang
maka Islam juga bukan patrilineal karena tidak ikut serta untuk
menentukan bagaimana kesukuan seseorang diakui.

Saya melihat bahwa hal-hal yang diperankan dalam peraturan adat
merupakan hal-hal yang mubah dalam agama Islam.


Arnoldison

Wednesday, June 13, 2007, 5:00:38 AM, you wrote:

DE> Saya juga ingin menanggapi sedikit, hanya pertanyaan saja:
DE> - Apakah hal-hal yang menurut "Islam/AlQuran/Arab" itu dapat disebut sebagai patrilineal?
DE> - Apakah sistem yang berlaku di Minangkabau itu dapat disebut matrilineal?

DE> Terima kasih.

DE> Rahima <rahim...@yahoo.com> wrote:
DE> Saya hanya ingin menanggapi dikit, maaf saya ngak
DE> ikuti semuanya.

DE> Islam memang menganut sistem Patrilineal terutama
DE> dalam hal perkawinan dan warisan. Dalilnya jelas ada
DE> dalam AlQuran.Juga dalam hadits Rasulullah menyuruh
DE> ummat Islam agar lebih mengutamakan lelaki dalam hal
DE> warisan ini.Kalau mau dalil semua ini, silahkan nantik
DE> datang atau kalau bisa pak Saaf menyebarkan tulisan
DE> saya tersebut bila telah diseminarkan 19 Juni.

DE> Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang dalam
DE> lafaznya dibuat dr jenis lelaki, tetapi umum untuk
DE> perempuan dan lelaki. Contoh kata "Rajulun", "Ibnu"

DE> Wassalamu'alaikum.Rahima.


DE> ---------------------------------
DE> Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
DE> Yahoo! Answers - Check it out.
DE>

--
Best regards,
Arnoldison mailto:arn...@spij.co.id

Ade Zur

unread,
Jun 14, 2007, 12:34:27 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com



Apakah semua orang laki-laki Minang bisa menjadi Datuk? Tentu tidak. Begitu pula apakah semua perempuan Minang bisa menjadi bundo kanduong? Juga tidak. Tidak semua perempuan Minang yang sudah menikah menjadi bundo kanduong tetapi bundo ia, yang berarti Ibu.

Bundo kanduog adalah kemenakan  Datuk, bukan isteri Datuk. Bundo kanduong adalah limpapeh rumah gadang... apa itu maksudnya... sama dengan apa itu rumh gadang... Rumah gadangpun dalam arti sesungguhnya berbeda2 juga bila dilahat tanduknya... ???.

Jadi bila bicara atau belajar adat Minang, jangan kita belajar sepotong-sepotong... pengaturan adat Minang itu luar biasa, sangat sempurna dan dituangkan dalm petatah petitih... dan teruji semuanya, karena orang Miang itu malu kalau tidak pandai.. tahu dengan heriang jo gendiang... halus perasaannya, pandai menempatkan diri .....sangat menghargai bahwa semua yang diciptakanNya dalah fungsinya. Di Minang nan ranahnyo indah, indak ado urang nan indk baguno. Semua ada fungsinya sesuai dengan kempuan dan kompetensinya... urang buto paambuih lasuong, urang pakak palapeh badie, urang pandai untuok barundiong, urang bodoh diabaok baiyo, urang lumpuoh .. untuk pausie ayam ato panungguih rumah gadang...?? Semua berguna

Dalam rangka membangkitkan jatidiri bangsa, marilah kita belajar sejarah dengan benar dan baik, termasuk belajar adat Minang secara menyeluruh, jangan sepotong-sepotong.. yang asli ya, jangan yang sudah dimodifikasi... naahhh baru kito marasakan dan mangakui betapa hebatnya urang Minang tuh...  dan bangga menajdi urang Mianang.

Contoh:  Beberapa tahun yang lalu terjadi berbunuhan antar orang dayak dengan orang Madura pendatng yang sudah sangat lama tinggal di Kalimantan. Secara spontan muncullah pujian terhadap orang Minang dengan filosofinya: "dimana bumi dipijak disitu langik dijunjuong", muncul disemua media dn TV.  Sebentar lagi saya juga yakin salam keadaan lingkungan hidup yang sudah rusak ini akan muncul lagi pujian pada orang Minang dengan filosofi" Alam takambang manjadi guru."

Banyak buku2 tentang adat Minang, dan kemaren saya juda mendapatkan buku tentang Sumatera Barat hingga Plakat Panjang. Saya merasa sangat beruntung, berkesempatan baca miliung list waktu itu, langsung saya pesan.. dan sudah dikirimi serta sudah saya terima. Tarimo kasih yo ananda Zorion Anas...

Wassalam

Zoer'aini Djamal


From:  Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>
Reply-To:  Rant...@googlegroups.com
To:  Rant...@googlegroups.com
Subject:  [R@ntau-Net] Re: Perempuan Minang
Date:  Wed, 13 Jun 2007 20:06:22 -0700 (PDT)


Windows Live Spaces is here! It's easy to create your own personal Web site.

Hayatun Nismah Rumzy

unread,
Jun 14, 2007, 12:41:02 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu Alaikum W. W.
Nanda Datuk Endang dan sidang RN nan bunda hormati,
Kasus bunda pribadi berbeda dengan perempuan Minang yang tinggal di Minang karena bunda meninggalkan kampung halaman semenjak umur 12 tahun. Bunda berkiprah dirantau, berkarir tanpa dikungkung oleh adat. Bunda merasa benar-benar bersyukur dapat menggunakan segala kemampuan bunda dan kebolehan bunda ditempat kerja dan dimasyarakat. Bunda mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Bunda berjuang untuk mendapatkan persamaan hak (bukan emansipasi ini ada bedanya). Jadilah bunda ini perantau yang yang pulang dari rantau yang 2 kali setahun.  Bunda tak punya mamak (adik atau kakak laki-laki dari mak bunda) jadi jadi laki-laki yang ada ditipak bunda itu umurnya dibawah bunda semua.
Dikampuang diwaktu mupakaik diadakan, para perempuan didapur hanya untuk menyiapkan makanan. Setelah para alim ulama, niniak mamak dan cadiak pandai tu ka "manyungkah" (ini kata kasar sekali yang tak pernah ada sekarang lagi) mereka menanyakan apo alah siap nan dibalakang? Mako sibuklah para perempuan itu untuk menghidang.
Didalam buku "Adat Minangkabau Pola dan tujuan hidup orang Minang ado nan disabuik 4 jinih unsurnya terdiri dari niniak mamak, cadiak pandai, alim ulama, dan bundo kanduang baru disertakan didalam KAN ada unsur bundo kanduang. Tetapi kalau KAN rapat maka para bundo kanduang tidak hadir menjadi desision maker.
Baiak dirumah gadang atau di balai adat tidak ado perempuan Minang nan duduak tagak samo randah dan duduak samo tinggi samo alim ulama, cadiak pandai, dan niniak mamak tadi.
Nanda Hanifah kita bukan membicarakan kasus tapi peranan bundo kanduang secara keseluruhan. Sekarang ditiap nagari, kecamatan, kabupaten dan propinsi ada bundo kanduangnya. Peranan sekarang yang hanya menjadi penghias nagari, manjunjuang jamba harus lebih ditingkatkan menjadi para decision maker.
Bunda mempunyai beberapa buku tt Adat Minang dan bunda tak menemukan distu bukupun pemberdayaan perempuan Minang hanya lebih banyak wanita Minang tsb. diperdayakan kaum laki-laki Minang.
Buku ADAT MINAGKABAU Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang karangan Amir M. S. bagus sekali untuk referensi kita orang Minang. Jadi sebelum kita berdebat dan berdiskusi diharapkan kita semua mempunyai buku2 yang dibawah ini:
  1. Islam dan Adat Minangkabau karangan buya Hamka.
  2. Masih ada Harapan karangan DR. Saafroedin Bahar. (Buku No. 1 dan No. 2 hampir sama isinya yaitu mengatakan kekurangan adat Minang secara keseluruhan).
  3. Alam Takambang Jadi Guru A. A. Navis
  4. Minangkabau yang Gelisah Rangkuman dari Mupakai Bandung oleh bp. Chaidir N, Latief
  5. Dari Pemberontakan ke Inetgrasi oleh Audrey Kahin
  6. Tambo Alam Minagkabau H. Datoek Toeah
Jadi ambo ingin manambah koleksi ambo jo buku karangan Amir MS iko dimano bisa ambo dapekkan.
 
Pertemuan (kopi darat) yang lah tajadi kapatangko iyo sabana manuntaskan sagalo permasalahan yang lah awak bicarakan diforum RN.
Sayang sakali angku Azmi indak basuo dan kalau basuo mungkin duo garis sejajar tu indak sejajar lai tapi akan batamu disatu titiak persamaan.
Juga sayang Dt Endang tak bisa hadir karena pertemuan tersebut telah merumuskan beberapa hal yang menjadi silang selisih.
Wassalam
Hayatun Nismah Rumzy (68+)
Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:
Pepatah itu bukan hiasan Bunda, senantiasa diacu dalam perjalanan hidup ini oleh anak nagari. Apakah Bunda tidak pernah diundang untuk berunding dalam berbagai persoalan? Saya tidak akan pernah memutuskan suatu persoalan bila belum ada keikhlasan dari kaum ibu. Bilamana perlu kapan waktu Bunda pulang, ikut dalam barisan arak-arakan, manjunjuang botieh atau bungo sirieh, dan merasakan betapa kaum ibu itu sumarak dalam nagari dan sangat diagungkan dalam budaya kita. Untuk merasakan harus dilakukan, jangan hanya dipandang saja.
 


Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.

Ahmad Ridha

unread,
Jun 14, 2007, 12:45:25 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Ada satu pertanyaan yang saya kira terkait. Jika seseorang memiliki
ayah orang Minang dan ibu non-Minang, apakah ia dianggap sebagai
bagian suku ayahnya? Apakah ia teranggap sebagai orang Minang? Apakah
kedua pertanyaan itu ekivalen atau tidak?

--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

Rasyid, Taufiq (taufiqr)

unread,
Jun 14, 2007, 12:47:48 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
 


From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Datuk Endang
Sent: Thursday, June 14, 2007 8:41 AM

To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Re: Perempuan Minang
Pepatah itu bukan hiasan Bunda, senantiasa diacu dalam perjalanan hidup ini oleh anak nagari. Apakah Bunda tidak pernah diundang untuk berunding dalam berbagai persoalan? Saya tidak akan pernah memutuskan suatu persoalan bila belum ada keikhlasan dari kaum ibu. Bilamana perlu kapan waktu Bunda pulang, ikut dalam barisan arak-arakan, manjunjuang botieh atau bungo sirieh, dan merasakan betapa kaum ibu itu sumarak dalam nagari dan sangat diagungkan dalam budaya kita. Untuk merasakan harus dilakukan, jangan hanya dipandang saja.
 
==========================================================================================================================================================
 
Dikampuang ambo selain adonyo kapling untuak Bundo Kanduang dalam berbagai pertemuan ado pulo kapling untuak Pemuda/ Paga Nagari. Jadi mereka tetap diminta untuak bersuara dalam pengambilan keputusan di forum itu. Cuma ambo alun mangarati bana job-desc dari Paga Nagari itu.

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jun 13, 2007, 11:08:44 PM6/13/07
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam w.w. Ananda Habifah,

Setuju seratus persen. Bagaimana wujudnya nanti kita
rundingkan bersama-sama, baik melalui RN maupun --
atau lebih baik lagi -- dalam pertemuan tatap muka.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

=== message truncated ===


____________________________________________________________________________________


No need to miss a message. Get email on-the-go
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

http://mobile.yahoo.com/mail

Ade Zur

unread,
Jun 14, 2007, 12:53:51 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com

Hallo bundo Nismah.....  saya sangat setuju membahas tentang BUndo Kandong dalam suatu Lokakrya  khusu Bundo Kanduong. Sangat menarik pembicaraan tentang Bundo Kanduong ini... dan kelihatannya banyak masalah tentang bundo kanduong dan pemberdayaan perempuan yang kita hadapi.... padahal perempuan > lebih banyak dari laki-laki... bayangkan kalau dikatakan di UI dari 10 CL, 8 adalah perempuan, begitu juga di Universitas Trisakti dari 18 yang CL, 12adalah perempuan, rata2 setiap wisuda 80% adalh perempun yang CL. Waaahh... coba bayangkan kalau bundo kanduong dn perempuan hampir selalu "diperdayakan" bukan diberdayakan ??..Kita akan selalu dalam keterpurukan... krisis..

Wass

Zoer'aini Djamal


From:  Hayatun Nismah Rumzy <hni...@yahoo.com>
Reply-To:  Rant...@googlegroups.com

To:  Rant...@googlegroups.com
Subject:  [R@ntau-Net] Re: Perempuan Minang
Date:  Wed, 13 Jun 2007 21:41:02 -0700 (PDT)


Try it now! Live Search: Better results, fast

Nuraini B Prapdanu

unread,
Jun 14, 2007, 1:23:07 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Dunsanak,
 
Mungkin file iko dapek bermanfaat sebagai tambahan informasi
 
Salam ,
Nuraini
Ketua I Forum Bundo Kanduang
IKM - Bekasi
 

From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Ade Zur
Sent: Thursday, June 14, 2007 11:54 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] "Lokakry6a Bundo kanduong"

Perempuan Minangkabau c.ppt

Rasyid, Taufiq (taufiqr)

unread,
Jun 14, 2007, 1:45:37 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Maso kini salain seniority dalam kaumnyo. Ibu Guru atau Bidan dan para pensiunan nan tingga dikampuang tamasuak nan diunggulkan untuak manjadi Bundo Kanduang iko. Jadi indak paralu nan alah jadi Pegawai Tinggi atau Pengusaha sukses bana doh untuak jadi Bundo Kanduang iko.
 
Yang penting baliau tu lai manatap di Kampuang dan bisa mengikuti gerak pergaulan kaumnyo sehari-hari.
Itu mungkin yang agak babeda jo penghulu yang bisa sajo dibarikan kaumnyo kapado yang mudo matah bahkan kurang memahami/peduli  jo kaumnyo. Bahkan indak saketek pulo penghulu itu yang menetap/ tingga diperantauan.


From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of benni inayatullah
Sent: Thursday, June 14, 2007 10:23 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Re: Perempuan Minang

benni inayatullah

unread,
Jun 14, 2007, 1:53:51 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Jadi Mak..kalau mode itu berarti dalam system adaik ndak ado diksriminasi perempuan doh. kini masalahnyo baa perempuan MInangkabau ko bisa muncul katangah sahinggo bisa dibao sato baretong. Kalaupun anyo bukan bundo kanduang tapi bisa muncua dari cadiak pandai ataupun alim ulama. sabananyo iko hampir sarupo jo masalah perempuan di indonesia ko. dalam keanggotaan DPR misalnya sudah di beri kuota 30 % tapi toh indak tapanuhi juo..jadi kalau bukan system bisa jadi kapasitas perempuan untuak menguasai persoalan nagari/ kepemimpinan nan musti ditingkekkan..

Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, photos & more.

hanifah daman

unread,
Jun 14, 2007, 1:54:54 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Uni setuju jo sanak Benni.
 
Mungkin petatah petitih tantang bundo kanduang dibawah gon, pada saat ditulis, ditujukan untuk memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada kaum perempuan , terutama yang berstatus bundo kanduang, saat itu. (Sebenarnya arti perbarisnya uni alun tau, sanak benni bisa bantu ndak menterjemahkanno?, bantu dong, atau mamak nan lain bisa bantu?). Nan uni tau cuman sabaris sen " Hiasan didalam kampuang ". Itupun uni terjemahkan kayak perempuan panyambuik tamu. Antahlah apo ado pulo arati tasirekno atau nan tasuruak no du. Jadi mamak-mamak nan mangarati arati utuahno jangan marah ya, labiah elok jalehkansen kakami bia nak tarang bak siang lo ari dek kami. .
 
Kalau hanyo untuak hiasan sen tantu ndak cocok lagi jo jaman kini. Buktino kini uni sato pulo bacarumiah jo urang dipalanta nan mayoritas laki-laki. Baa kok uni bisa karano uni  maraso punyo kesempatan dan kamampuan nan samo jo laki-laki dalam manulih. Nantilah babobot atau indak no tulisan uni, nan pantiang uni masuak 10 besar kapatang gon he he he.
 
Bundo kanduang, limpapeh rumah nan gadang
Umbun puro pegangan kunci
Hiasan didalam kampuang
Sumarak dalam nagari
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banasa
Kok lah mati tampek baniat
Ka unduang-unduang ka Madinah
Ka payuang panji ka sarugo
 
Salam
 
Hanifah Damanhuri

benni inayatullah <proto_...@yahoo.com> wrote:
Uni Hanifah..batua..tapi saeloknyo di pilah pilah dulu pepatah mana yang sudah tidak sesuai dan mana yang masih sesuai karena saya rasa kebanyakan pepatah ini bermain di tataran filsafat yang dinamis dan bisa disesuaikan kapan saja. satu lagi mungkin menurut saya acuan hidup lebih baik kepada hukum Alloh Swt termasuk AL Quran karena Al Quran bukanlah satu2nya hukum Tuhan...salah salah kita nanti mempertuhankan AL Quran..



hanifah daman <iff...@yahoo.com> wrote:
Assalammualaikum Wr Wb bapak Saaf
 
Manurut hanifah, kita tidak perlu terlalu terpaku ke petatah petitih.
Saat petatah dan petitih tersebut dibuat, situasinya kan tidak sama dengan sekarang. Petatah dan petitih tersebut buatan manusia yang tentunya punya keterbatasan, mungkin dari sisi waktu dll.
 
Jadi petatah dan petitihnya barangkali yang perlu disesuaikan. Kan bukan petatah dan petitih tersebut yang jadi acuan hidup kita, tapi Al Quran.
 
Hanifah pribadi termasuk wanita yang beruntung, karena tidak pernah merasa terhambat dalam hal apapun baik ketika di ranah maupun di rantau. Laki-laki mendaki gunung, ifah juga  Laki-laki merenagi tabek gadang, ifah juga dll.
 
Maaaf ifah harus nguji dulu yah, telat nih
 
Wass
 
Hanifah Damnhuri

 


Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!

benni inayatullah

unread,
Jun 14, 2007, 2:04:00 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Kalau manuruik terjemahan Ambo ni..hiasan dalam nagari tu adolah perempuan nan elok laku, rancak budi, tau jo ereng jo gendeng, baparangai elok bapakaian sopan alias ndak suko pakai tank top atau sarawa sampik samacam agnes sahinggo tampak nan didalam, hormat ka nantuo,  suko bagaua jo ba organisasi, taat baibadah. kalau ado perempuan mode iko..ondeh mak..cando payuang tangah padang jadi kebanggaan urang nagari..kalau di piaman mungkin uang japuiknyo gadang ko..hehe

hanifah daman <iff...@yahoo.com> wrote:

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
Jun 14, 2007, 2:05:49 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com


Arnoldison <arn...@spij.co.id> wrote:
...[deleted]
>>> Karena istilah merupakan suatu definisi yang dikeluarkan
>>. berkenanan dengan sesuatu hal berdasarkan konsensus dan berlaku
>>> secara lokal ... [deleted]

Setuju, sanak Arnold.
 
Kebetulan ambo dari dulu di"brainwashed" dengan konsep "substance over form".
Jadi terminologi untuak ambo tu nomor sekian. Nan jauah lebih penting contentnyo. Macam2 buku teks bisa saja memberikan perbedaan definisi terhadap satu term yang sama.
 
Riri
 

Wednesday, June 13, 2007, 5:00:38 AM, you wrote:

DE> Saya juga ingin menanggapi sedikit, hanya pertanyaan saja:
DE> - Apakah hal-hal yang menurut "Islam/AlQuran/Arab" itu dapat disebut sebagai patrilineal?
DE> - Apakah sistem yang berlaku di Minangkabau itu dapat disebut matrilineal?

DE> Terima kasih.

DE> Rahima wrote:
DE> Saya hanya ingin menanggapi dikit, maaf saya ngak
DE> ikuti semuanya.

DE> Islam memang menganut sistem Patrilineal terutama
DE> dalam hal perkawinan dan warisan. Dalilnya jelas ada
DE> dalam AlQuran.Juga dalam hadits Rasulullah menyuruh
DE> ummat Islam agar lebih mengutamakan lelaki dalam hal
DE> warisan ini.Kalau mau dalil semua ini, silahkan nantik
DE> datang atau kalau bisa pak Saaf menyebarkan tulisan
DE> saya tersebut bila telah diseminarkan 19 Juni.

DE> Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang dalam
DE> lafaznya dibuat dr jenis lelaki, tetapi umum untuk
DE> perempuan dan lelaki. Contoh kata "Rajulun", "Ibnu"

DE> Wassalamu'alaikum.Rahima.


DE> ---------------------------------
DE> Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
DE> Yahoo! Answers - Check it out.
DE>



--
Best regards,
Arnoldison mailto:arn...@spij.co.id





It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.

Erwin Z

unread,
Jun 14, 2007, 2:06:41 AM6/14/07
to RantauNet
Wa'alaikum salam sanak Ronal,

sekedar masukan,
mungkin bisa digunakan point of view dari Mak Darul, yaitu ada dua
sistem adat yang digunakan urang minang kini, adat yang dulu dan adat
nan kini.
buku tersebut dimaksudkan untuk mencari benang merah dari kedua model
adat
itu, atau jika tidak ketemu benang merahnya, ya dijelaskan bagaimana
urang
minang sebaiknya memposisikan dua hal yang berbeda itu.
soal judul, mungkin yang lebih soft dikit, indak menggugat, mungkin
igauan,
macam dulu ada buku igauan dari salemba, tapi tantu ado kato nan labiah
rancak lai dari itu.

wassalam
erwin z

Rasyid, Taufiq (taufiqr)

unread,
Jun 14, 2007, 2:13:13 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
 




hanifah daman <iff...@yahoo.com> wrote:
Manurut hanifah, kita tidak perlu terlalu terpaku ke petatah petitih.
Saat petatah dan petitih tersebut dibuat, situasinya kan tidak sama dengan sekarang. Petatah dan petitih tersebut buatan manusia yang tentunya punya keterbatasan, mungkin dari sisi waktu dll.
 
Jadi petatah dan petitihnya barangkali yang perlu disesuaikan. Kan bukan petatah dan petitih tersebut yang jadi acuan hidup kita, tapi Al Quran.
 
= =============================================================================================================================================
 
Betul sekali acuan hidup kita adalah Al Quran bukan petatah-petitih.
Sekarang zaman instan, sesuatu yang bertele-tele  dianggap in-effisen .
 
Kalau untuk diperantauan mungkin bisa : Bakarilahan atau tst sajo. Tapi jangan coba diaplikasikan dikampuang ( maksudnyo dikampuang ambo, kalau yang lain antahlah). Mungkin lah modern pulo sajak adonyo Orgen-Tunggal masuk kampung, system makan indak ba jamba lai tapi alah duduak dikurisi dibawah tenda jo caro Parancih keceknyo. Tata cara nan modern iko termasuk yang diperhatikan oleh KAN dan lah ado pulo SOPnyo. Jadi indak bisa diterapkan untuk semua tamu dikampuang ambo 
 
Protokoler/ pasambahan itu manjadi salah satu Identitas Urang Minang. Bagaimana kalau salah satu  tata-aturan  belum terpenuhi baik dalam suka-maupun duka  ,misalnya kalau kita mengantar  Marapulai  kerumah anak  daro atau kalau induak-bako kita meninggal.
 
Kalau semua prosesi yang sudah baku itu tidak kita ikuti. Kita sendirinya yang akan mendapat malu nanti karena mayoritas forum belum bisa menerima hal-hal yang menurut kita lebih praktis itu.
Akan hal prosesi dan pasambahan atau hal lain yang awak anggap kurang efektif itu sabananyo ado juo pado suku lain. Rang Batak yang awak anggap cukup progresif memiliki tata-upacara adat yang kadang lebih pelik dari urang Minang, selain mengatur tata duduk, kesempatan berbicara. Sia nan dapek kaki , kapalo atau bagian lain dari hidangan Babi sajo harus diperhatikan dengan cermat, jangan sampai salah pembagiannya sesuai menurut status mereka masing-masing. Bisa heboh pesta itu nanti.
 Caliaklah   Rang Cino kalau kematian barapo lamo prosesinyo, Rang Jawa sajak mulai hamil, melahirkan, perkawinan mulai dari pinangan  , mati ( menujuh , empat puluh bahkan seribu hari ). Bahkan di Bali dan Toraja acara adat banyak dijadikan untuk jualan bagi para Turis.
 
Kalau diawak lai bisa mendatangkan Turis pas acara batagak -Penghulu di Medan nan Bapaneh itu......
Ambo memang indak fasih malakukan pasambahan iko, tapi kalau iko akan dianggap akan membatasi kito  nan serba taburu-buru. Maaf ambo alun sapandapek lai, karano ambo masih menikmati dan menganggap itu sebagai salah satu identitas sebagai urang Minang..
Wassalam
St. RA 

Hayatun Nismah Rumzy

unread,
Jun 14, 2007, 2:14:54 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Nanda Nuraini,
Presentasi yang memakai power point ko iyo sabana rancak tapi isinyo indak labiah dari apo nan bundo lah sampaikan malalui patatah petitih nan tadi.  Jadi hanyo sabagai hiasan nagari sajo tambah jo panyimpanan harato.  Kalau awak nan marantau indak marasokan beda fungsi iko.  Sarupo nan dikecekkan pak Saaf tentangan nan indak tatulih harus awak tuliskan.  Jadi sarupo 4 jinih nan lah ado unsur bundo kandung didalamnyo kadang-kadang lai dimanfaatkan deka nagari tagantuang nagari masiang-masiang. Misalkan dulu katiko marak-maraknyo organ tunggal nan sering diadolan dialek gadang sampai tangah malam iyo kini lah bakurang tapi setahu bundo distopnya acara ini bukan karena permintaan dari bundo kanduang. Mungkin fungsi bundo kanduang dikampuang ko nan harus awak tingkatkan dan kalau paralu awak buek Job Descriptionnyo.
Wassalam
Hayatun Nismah (68+)
 
Note: Pp yang Nur lampirkan spelling Tangible dan Intangible salah tolong dikoerksi kalau akan dipresentasikan lagi. Maaf.


Nuraini B Prapdanu <p...@mercureconvention.com> wrote:
Dunsanak,
 
Mungkin file iko dapek bermanfaat sebagai tambahan informasi
 
Salam ,
Nuraini
Ketua I Forum Bundo Kanduang
IKM - Bekasi
 

From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Ade Zur
Sent: Thursday, June 14, 2007 11:54 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] "Lokakry6a Bundo kanduong"

Hallo bundo Nismah.....  saya sangat setuju membahas tentang BUndo Kandong dalam suatu Lokakrya  khusu Bundo Kanduong. Sangat menarik pembicaraan tentang Bundo Kanduong ini... dan kelihatannya banyak masalah tentang bundo kanduong dan pemberdayaan perempuan yang kita hadapi.... padahal perempuan > lebih banyak dari laki-laki... bayangkan kalau dikatakan di UI dari 10 CL, 8 adalah perempuan, begitu juga di Universitas Trisakti dari 18 yang CL, 12adalah perempuan, rata2 setiap wisuda 80% adalh perempun yang CL. Waaahh... coba bayangkan kalau bundo kanduong dn perempuan hampir selalu "diperdayakan" bukan diberdayakan ??..Kita akan selalu dalam keterpurukan... krisis..
Wass
Zoer'aini Djamal
  


Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.

Syafrinal Syarien

unread,
Jun 14, 2007, 2:27:47 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Saya setuju Bung Arnold. Argumen yang bagus!

Minangkabau memang menganut asas matrilineal.
Orang Arab memang menganut asas patrilineal.

Namun Islam netral dalam hal ini.

Jadi kesimpulannya, garis keturunan apa pun yang
dipakai tidak bertentangan dengan Islam.

--- Arnoldison <arn...@spij.co.id> wrote:

>> Kalau pemahaman istilah tersebut
> disandarkan penentuan garis
> keturunan (descent) , maka Islam itu
> tidak sepenuhnya
> patrilineal, memang dalam hal nasab maka
> keturunan memakai nasab
> laki-laki tetapi dalam ajaran islam itu
> seorang ibu memilik hak
> derajat prioritas penghormatan tiga kali
> dari bapaknya, bila
> diukur dengan hak waris perempuan juga tidak
> ditinggalkan karena
> dalam Islam perempuan mendapat hak waris.


____________________________________________________________________________________


Need a vacation? Get great deals
to amazing places on Yahoo! Travel.

http://travel.yahoo.com/

Syafrinal Syarien

unread,
Jun 14, 2007, 2:43:17 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Rantaunet tidak perlu gugat-menggugat, apalagi melalui
buku.

Kalau mau menggugat, silakan ke pengadilan.

Setuju atau tidak, Anda akan tetap menyaksikan
perubahan di ranah minang. Semuanya akan mengalami
perubahan termasuk adat dan istiadat minang. Tak ada
yang bisa membendung perubahan.

> Waktu itu saya benar-benar gembira dengan
> kesepakatan
> informal kita yang hadir untuk mulai menuliskan adat
> Minangkabau yang tidak tertulis itu, sampai Sanak
> Bandaro Labiah nan piawai berpepatah petitih itu
> langsung saya salami [ Ini kebiasaan pribadi saya
> kalau saya merasa senang dan setuju, kalau di nagari
> orang biasanya diikuti dengan ucapan "it's a deal'
> ].
>
> Saya mengharapkan Sanak Bandaro Labiah benar-benar
> mau
> bermurah hati menuliskan hukum adat Minangkabau
> tersebut dalam bentuk lugas bagi demikian banyak
> orang
> Minang yang memerlukan kelugasan ini [yang berbentuk
> pepatah petitih tentu bisa atau tetap perlu
> dilanjutkan dan dipelihara, terutama oleh
> beliau-beliau yang menyenangi dan atau
> menguasainya].
>
> Kalau tidak ada halangan, seluruh makalah dalam
> semiloka di Padang tanggal 19 Juni nanti -- tentunya
> termasuk makalah Nanda Rahimah -- akan dbukukan,
> sehingga dapat dibaca seluruh warga Minangkabau
> dimanapun juga.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar.


>
>
> --- Riri - Mairizal Chaidir

> wrote:
>
> > Maaf, ada ralat, tadi ambo salah. Kato "tidak" di
> > kalimat dibawah ko itu seharusnyo ndak ado.
> >
> > Yang saya tangkap waktu itu adalah, bahwa waktu
> > itu tidak kelihatannya pak Saaf dan mak Bandaro OK
> > OK dengan penjelasan pak Zubir tu.
> >
> >
> > Riri - Mairizal Chaidir wrote:


> >
> >
> > Rahima wrote:
> > Islam memang menganut sistem Patrilineal terutama

> > dalam hal perkawinan dan warisan. Dalilnya jelas
> ada

> > dalam AlQuran.Juga dalam hadits Rasulullah
> menyuruh

> > ummat Islam agar lebih mengutamakan lelaki dalam
> hal

> > warisan ini.Kalau mau dalil semua ini, silahkan

> > nantik datang atau kalau bisa pak Saaf menyebarkan
> tulisan saya tersebut bila telah diseminarkan 19
> Juni.
> >
> > Terimakasih, kebetulan saya termasuk yang yakin
> > bahwa Islam menganut sistem patrilineal.
> >
> > Sebenarnya saya menunggu pandapek yang alah agak
> > fokus tentang subject nan tertulis posting di
> atas.
> >
> > Waktu pertemuan di rumah bundo Nizmah, setidaknya
> > 2 topik yang mungkin bisa dianggap kontroversi
> > antara Minang vs Islam (garis keturunan dan
> > perkawinan, khususnya di Pariaman dan sekitarnya)
> > dibicarakan.
> >
> > Untuk yang kedua ini pak Zubir menjelaskan hal ini
> > ke bundo, sayangnya saya duduknya agak jauh, jadi
> > tidak mendengar secara lengkap.
> >
> > Yang saya tangkap waktu itu adalah, bahwa waktu
> > itu tidak kelihatannya pak Saaf dan mak Bandaro OK
> > OK dengan penjelasan pak Zubir tu.
> >
> > Mudahan ado dunsanak nan bersedia menuliskan
> > penjelasan tentang itu di palanta ko
> >
> > Riri


> >
> >
> > Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang dalam

> > lafaznya dibuat dr jenis lelaki, tetapi umum untuk

> > perempuan dan lelaki. Contoh kata "Rajulun",
> "Ibnu"
> >

> > Wassalamu'alaikum.Rahima.


> >
> >
> > --- Riri - Mairizal Chaidir

> > wrote:
> >
> >
> > >
> > > Namun demikian, kalau kita kaji lagi, Al-Quran
> > > beberapa kali menyebut Nabi Isa a.s dengan
> sebutan
> > > "Isa ibn Maryam". Tapi tidak pernah sama sekali
> > > menyebut Muhammad saw sebagai "Muhammad ibn
> > > Abdullah".
> > > Jadi apakah Al-Quran itu pro-matrilineal?
> > > Wallahualam.


> > >
> > >
> > >
> > > --- Riri - Mairizal Chaidir
> > >

> > > > >>> Siapa bilang Islam menganut garis
> keturunan
> > > > bapak (patrilineal)? Mana ayat Quran-nya? Mana
> > > > hadits-nya?
> > > >
> > > > Tentu saja tidak eksplisit menyebut kata
> > > > "patrilineal". (Saya yakin, karena tulisan di
> > > Quran
> > > > menggunakan bahasa tulisan Arab yang tidak ada
> > > huruf
> > > > "e"nya).
> > > >
> > > > Cuma, kalau saya tidak salah tangkap, hukum
> > > > perkawinan dan hukum warisan, bukannya
> > > menggambarkan
> > > > ini?
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > ---------------------------------


> > > > TV dinner still cooling?
> > > > Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
> > > >
> > > >
> > > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
>

____________________________________________________________________________________
> > > Luggage? GPS? Comic books?
> > > Check out fitting gifts for grads at Yahoo!
> Search
> > >
> >
>
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz
> > >
>
=== message truncated ===


____________________________________________________________________________________
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! FareChase.
http://farechase.yahoo.com/

Rasyid, Taufiq (taufiqr)

unread,
Jun 14, 2007, 2:44:43 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com

Suku Quraisy yang suko bersyair dan amat menghargai para penyair bukan
merupakan pekerjaan yang dilarang dek urang Islam.
Jadi indak paralu pulo banyak komentar soal pasambahan. Bagi yang ingin
melestarikannyo silakan, kok ka dilanyau apo boleh buat

-----Original Message-----
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On

Behalf Of Syafrinal Syarien
Sent: Thursday, June 14, 2007 1:28 PM
To: Rant...@googlegroups.com

Riri - Mairizal Chaidir

unread,
Jun 14, 2007, 2:47:04 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam wr.wb
 
Kalau memang bisa minta bantuan dari para pakar hukum tentu akan menjadi sangat2 bagus. Apalagi dengan digabung dengan urang2 mudo awak. Ronal jadi sponsor.
 
Cuma sambil menunggu itu, Pak.
Saya bukan pesimis; cuma kebetulan saja sudah sering melihat (dan sebagian diantaranya ikut terlibat) dalam suatu kelompok yang dimulai dari ide yang bagus, bentuk tim, panitia, ada yang jadi ketua, ada dewan penasihat dst dst.
 
Ide saya untuk menjadi notulisnya mak Bandaro sederhana saja. 
 
Seperti saya katakan, saya baru mau daftar di playgroup untuk masalah adat. Karena tahu sudah sangat2 terlambat, saya coba cari referensi kemana2.
 
Referensi tertulis? Saya lihat terbatas, dan ini mengherankan buat saya. Matrileneal ini jarang di dunia, langka. Tapi kok tidak banyak tulisan tentang itu. Bandingkan dengan adat jawa atau sunda. Padahal adatnya "biasa2" saja (setidaknya kalau dilihat bahwa sistem patrilineal toh ada dimana2 di dunia).
 
Diskusi dimilinglist, saya ikuti. Walaupun lebih sering saya bingung karena berpikir, sebetulnya tadi kita diskusi apa yah ...
 
Referensi lain - mendengarkan orang diskusi (dengan catatan yang berdiskusi ini punya pemahaman terhadap topik yang didiskusikan). Nah ini sebetulnya paling saya suka. Contohnya seperti di rumah bundo kemaren - walaupun saya datang sangat terlambat.
 
Buat saya, rasanya sayang kalau ada pengetahuan tersebut tidak terdokumentasikan dan tersosialisasikan.
 
Itu saja, pak. Sederhana.
 
Wassalam
 
RIri
 
 


"Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote:
wrote:

Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and
always stay connected to friends.

hanifah daman

unread,
Jun 14, 2007, 3:18:01 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Bapak Rasyid.
 
Kalau untuk budaya makan bajamba, pasambahan dll, hanifah juo sangaik suko. Hanifah maraso baruntuang sakali kalau kebetulan pulang kampuang bisa mahadiri alek bajamba dun. Makan sambia maota, tau-tau nasi abih sapinggan he he he. Seni makanno tinggi, tapi balakangan agak garik sato bajamba, takuk nasi jatuah ka tampek kawan disabalah, kacuali nan jadi kawan sajamba dunsanak sendiri.
 
Budaya bajambapun masih dipertahankan di Sungai Tanang, kecuali besan bukan orang Sungai Tanang nan indak bisa makan bajamba. Makan bajamba baganti jo makan bahidangkan pakai sprah makan (lupo apo namonodu?), samab di tata sapanjang sprah makan, piriang nasi sakaliliang sprah makan.
Bagi rang kampuang nan nio acara yang praktis ... abih nikah lalu resepsi ala parancih, biasono mamiliah kota lain untuak tampek baralek, misalno kota Bengkulu. 
 
Manuruik hanifah bisa sajo patatah patitiah nan ado saat kini alah  dibuek sabalun agamo Islam masuak ranah. Antah kalau tulisan samo tapi diterjemahkan sasuai jaman. Untuak nan mantun tantu patatah patitiah dun jadi abadi sapanjang maso. Nan barubah adolah terjemahanno, tagantuang sia dan pabilo diterjemahkan.
 
Salam
 
Hanifah Damanhuri


"Rasyid, Taufiq (taufiqr)" <tau...@chevron.com> wrote:


Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jun 14, 2007, 3:36:45 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam w.w. Ananda Riri,

Kalau soal bingung, rasanya saya yang pertama bingung,
ketika saya berumur 11 tahun, Ayah saya memberi tahu
saya -- anaknya yang tertua -- bahwa beliau termasuk
kaum yang punah. Bagaimana saya sebagai bocah cilik
bisa mengerti ?

Hebatnya, sampai sekarangpun saya tidak bisa mengerti,
khususnya jika saya kait-kaitkan dengan ajaran Islam.
Puyeeeeng.

Itulah antara lain yang mendorong saya -- sebagai
komisioner Komnas HAM -- memprakarsai semiloka
tanggal 19-21 Juni yang akan datang, dimana saya
terutama akan berperan sebagai 'pengamat'.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

--- Riri - Mairizal Chaidir <mair...@yahoo.com>
wrote:

> ---------------------------------


> Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and
> always stay connected to friends.
>
>
>


____________________________________________________________________________________
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545367

Datuk Endang

unread,
Jun 14, 2007, 9:05:42 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Bundo kanduang ada dalam setiap hirarki kemasyarakatan di Minangkabau. Di dalam suatu keluarga, seorang ibu adalah bundo kanduang dalam keluarga tersebut. Dalam kumpulan persaudaraan, para bundo kanduang akan memilih salah seorang di antaranya untuk menjadi "pemuka" bundo kanduang. Pengertian "pemuka" adalah orang yang dituakan secara pengetahuan dan pengalaman, sebagai "pintu" untuk menghadapi perundingan.
Bila sampai suatu pertimbangan kepada kaum bundo kanduang, maka pemuka bundo kanduang tersebut akan baiyo batido pula dengan bundo kanduang yang lain untuk mengambil keputusan. Harap dicermati berbagai perundingan adat yang pernah diikuti.
Hal yang sama juga berlaku untuk ninik mamak dan kelompok-kelompok lainnya. Tidak ada pendapat pribadi yang diketengahkan, karena sejatinya orang Minang memiliki raso pareso yang tinggi.
Buku-buku sejarah tidak sepenuhnya mengungkapkan adab bermasyarakat ini. Karenanya harus dipelajari dengan mengikuti secara langsung, sehingga dapat menghayati dengan benar. Seminar dan sejenisnya juga tidak bisa mengajarkan adab bermasyarakat ini, kecuali mungkin adab untuk kalangan intelektual.
Demikian dan wassalam.


Ade Zur <zur...@hotmail.com> wrote:


Apakah semua orang laki-laki Minang bisa menjadi Datuk? Tentu tidak. Begitu pula apakah semua perempuan Minang bisa menjadi bundo kanduong? Juga tidak. Tidak semua perempuan Minang yang sudah menikah menjadi bundo kanduong tetapi bundo ia, yang berarti Ibu.
Dalam rangka membangkitkan jatidiri bangsa, marilah kita belajar sejarah dengan benar dan baik, termasuk belajar adat Minang secara menyeluruh, jangan sepotong-sepotong.. yang asli ya, jangan yang sudah dimodifikasi... naahhh baru kito marasakan dan mangakui betapa hebatnya urang Minang tuh...  dan bangga menajdi urang Mianang.
Banyak buku2 tentang adat Minang, dan kemaren saya juda mendapatkan buku tentang Sumatera Barat hingga Plakat Panjang. Saya merasa sangat beruntung, berkesempatan baca miliung list waktu itu, langsung saya pesan.. dan sudah dikirimi serta sudah saya terima. Tarimo kasih yo ananda Zorion Anas...
Wassalam
Zoer'aini Djamal


From:  Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>
Reply-To:  Rant...@googlegroups.com
To:  Rant...@googlegroups.com
Subject:  [R@ntau-Net] Re: Perempuan Minang
Date:  Wed, 13 Jun 2007 20:06:22 -0700 (PDT)

Bundo kanduang dalam pengertian umum adalah perempuan Minang yang telah menikah.
  
Kalau dalam pengertian kaum adalah salah seorang bundo kanduang yang mewakili kaum ibu dalam suatu andiko, demikian seterusnya hingga suku dan nagari. Wassalam.


Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.

Muhammad Dafiq Saib

unread,
Jun 14, 2007, 10:08:50 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
 
Maa angku Datuak Endang,
 
 
----- Original Message ----
From: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>
To: Rant...@googlegroups.com
Sent: Wednesday, June 13, 2007 10:38:43 PM
Subject: [R@ntau-Net] Re: Patrilineal dan matrilineal

Cukup bijaksana uraian Mamanda St. Lembang, namun ada beberapa hal yang perlu saya luruskan :
Tidak ada keharusan bagi urang sumando untuk bekerja di ulayat kaum istrinya, bila dia telah memiliki modal untuk memulai kehidupan. Hikmah adat dalam hal ini adalah : bila pasangan itu memang belum berkemampuan, alah ado ganggam nak bauntuak, hiduik nak bapangadok.
 
Bukan saja tidak ada keharusan, 'dulu' biasanya mereka memang tidak mau bekerja di tanah ulayat istrinya. Mereka bekerja di tanah ulayat saudara perempuannya, seperti saya contohkan, sampai membawa padi pulang masuk rangkiang. Di jaman saya kecil di awal tahun enam puluhan, saya masih menyaksikan orang laki-laki yang pulang ke rumah istrinya menjelang maghrib dan besok pagi-pagi dia sudah kembali berada di rumah ibunya (dunsanak perempuannya).
 
Di atas tanah pusako/pangkatuo, urang sumando bekerja secara "profesional", sesuai dengan jerih upaya yang dilakukannya. Sebagian dapat disisakan untuk kaum, itupun kalau bersisa. Hasil usaha itu dapat menjadi kekayaan dan dapat jatuh hukum zakat dan faraidl, namun tanah pangkatuo tentunya tidak. Kerbau tidak termasuk pusako tinggi, dan bisa menjadi kekayaan. Urang sumando tetap menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga.
Pertanyaannya : dimanakah aturan syarak yang dilanggar ?
 
Ini mungkin kondisi sekarang yang angku Datuak katakan. Contoh saya tadi adalah contoh klasik, yang memang sekarang, alhamdulillah sudah hampir tidak ada lagi. Sekarang, di kampung saya memang sudah ada petani yang mengerjakan sawah dunsanaknya berbagi hasil. Sesudah panen, yang separo dibawanya pulang untuk anak istrinya, untuk pembayar uang spp sekolah anaknya. Dan ini sudah diterima masyarakat pula. Tentu ini yang angku Datuak katakan secara profesional. Kerbau sekarangpun milik orang laki-lakilah. Dia yang memelihara, dia yang mencarikan rumput, sehingga memang bolehlah nanti jatuh kedalam kawasan harta secara syarak / faraidh. Tapi sekali lagi, menurut cerita yang saya dengar dulu, sekali lagi dulu, kerbau yang dibeli oleh nek tuo, dengan penjualan hasil sawah, adalah milik rumah gadang. Mamak memang yang menggunakan untuk keperluan membajak, mamak pula yang mencarikan rumput untuk makanan kerbau, mamak pula yang memerah susunya untuak jadi dadiah. Tapi kerbau bukanlah kepunyaan mamak, dan itu yang saya sebut sebagai inventaris adat. Oh ya, anak pisang, bukanlah tidak dapat apa-apa dari rumah gadang. Ketika ada perlu-perlunya, bertabur pula pemberian bako kepada anak pisang. Namun ini adalah pemberian karena kebijaksanaan 'bako' bukan karena tanggung jawab mamak sebagai ayah di rumah istrinya. Nah, untuk contoh klasik itu, jelas syarak di nomor duakan, karena mamak tidak mengurus keperluan anak-anaknya secara bertanggung jawab penuh. Padahal seharusnya dia mempertanggungjawabkan pengurusan anak-anaknya itu. Quu anfusakum wa ahlikum... Pelihara dirimu dan keluargamu.... Begitu perintah Allah.
 
Dari dulu sampai sekarang saya kurang sepaham dengan istilah "pusako rendah", sehingga tidak pernah menggunakan istilah itu dalam praktek hukum adat, dan terbukti telah menimbulkan banyak kerancuan.
 
Kalau ini kan masalah istilah saja. Terpaksa ditambah embel-embel 'rendah' untuk membedakannya dengan yang 'tinggi'. Dan itu adalah fakta yang masih bertahan sampai sekarang.
 
Sertifikat tanah ulayat karenanya harus dilaksanakan oleh KAN , dan diatasnamakan pada penghulu andiko masing-masing. Pemecahan sertifikat karena pangkatuo dapat dilakukan untuk kelompok kaum di bawah penghulu andiko tersebut. Jadi salah bila langsung diatasnamakan pribadi-pribadi. Penyerahan pangkatuo biasanya dan seharusnya dilakukan melalui upacara adat, sehingga dapat disaksikan banyak orang secara bakarilahan.
 
Saya sangat setuju dengan yang ini. Namun apalah daya, dunsanak-dunsanak perempuan di pesukuan saya sudah berlomba-lomba mensertifikatkan tanah ulayat pusaka tinggi itu. Kalau menurut saya harta pusaka tinggi atau tanah ulayat itu mestinya tidak dirubah statusnya. Harus tetap sebagai pusaka tinggi, milik kaum secara bersama-sama, yang pengurusannya turun dari nenek ke biyai, ke dunsanak perempuan, terus kekemenakan perempuan.
 
Kewajiban urang sumando mendirikan rumah di tanah pangkatuo semata-mata untuk kepentingan anak-anaknya, yang nantinya akan menjadi mamak dan bundo kanduang di tanah tersebut. Biasanya rumah ini tidak perlu dibuat "bermegah-megah" yang dapat melambangkan kekayaan dan kejayaan. Pada umumnya urang sumando cenderung membangun atau merenovasi rumah "ibu kandungnya" dulu sebelum "mengembangkan" rumah anak-anaknya.
 
Ini bisa merancukan. Karena mencampurkan harta ulayat dengan harta pencaharian. Di beberpa kasus saya perhatikan sudah mulai timbul sengketa kecil-kecil. Tidak sama kemampuan tiap sumando. Sumando yang kaya iyalah, mampu mungkin dia membuatkan rumah untuk anaknya. Sumando yang kurang mampu? Tergigit jari saja. Apalagi kalau biyai terlanjur sayang pula kepada menantu yang lebih berduit.
 
Untuk diri saya sendiri, saya bersama-sama adik-adik membangunkan rumah untuk ibu kami di perumahan lama yang rumahnya terbakar. Rumah itu, biarlah jadi pemberian untuk 'pusako' tinggi lagi saja. Dia tetap milik ibu saya almarhum, sekarang jadi tempat kami datang sekali-sekali ketika pulang kampung. Rumah yang saya ikut membiayainya itu, sudah jelas tidak mungkin akan saya wariskan kepada anak-anak saya. 
 
Bilamana hal seperti ini mamanda anggap sebagai matrilineal, sungguh jauh panggang dari api. Mohon maaf sebelumnya. Wassalam.
 
Disadari atau tidak, 'kita' orang Minang yang ingin menegakkan Adat Basandi Syarak - Syarak Basandi Kitabullah, memang sedang bergeser dari pola kekerabatan matrileneal konvensional kepada sistim yang lebih moderat, yang orang laki-lakinya mendendangkan
 
Kaluak paku kacang balimbiang
Di tampuruang lenggang-lenggangkan
Anak dipangku kamanakan dibimbiang
Urang kampuang dipatenggangkan.
 
Dan saya bangga sebagai bagian dari orang laki-laki itu.
 
Wassalamu'alaikum 




Looking for earth-friendly autos?
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.

iwan soekri

unread,
Jun 14, 2007, 10:36:40 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
anak saya yang ibunya bukan orang minang, begitu  tahu tentang garis keturunan ibu yang meneruskan suku. langsung komentarnya: Ah, Alfatihah bukan orang Minang. Juga bukan orang Sunda. Tapi Alfa orang Indonesia!
hehe.
salam
sutan iwan soekri munaf

Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote:
Image by FlamingText.com


8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time
with theYahoo! Search movie showtime shortcut.

Datuk Endang

unread,
Jun 14, 2007, 10:45:39 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Bunda yang ambo hormati,
Sebenarnya tinggi penghormatan saya terhadap Bunda yang telah memberikan banyak perhatian dan pengorbanan untuk masyarakat selama ini. Hanya beberapa pemikiran yang mengusik perhatian saya, sehingga tentunya saya coba ingatkan, begitu perhatian dan penghormatan saya kepada Bunda.
Kasus Bunda sama dengan Umi saya, sebagai wanita karier, sehingga saya memahami juga. Sedikit kita bahas kisah Bunda itu. Saya kurang tahu posisi Bunda dalam perundingan / perhelatan tersebut, apakah sebagai bundo kanduang ataukah sebagai sumandan. Bila sebagai bundo kanduang, tidak pada tempatnya saat itu Bunda berada di dapur, dan itu sepenuhnya tugas para sumandan. Satu-dua bundo kanduang yang lain dapat menjadi pengawas ataupun penghubung dan sekali-kali dapat membantu.
Dalam perhelatan yang besar, tugas di dapur malah menjadi tugas urang sumando; dan alamat tidak akan makan orang seperundingan bila tidak berbaik-baik dengan urang sumando. Setelah itu jatah kepala kambing pun menjadi hak mereka pula.
Dalam suatu acara adat kita harus mengetahui posisi kita pada saat itu, sehingga dapat pula bersikap dengan benar. Tidak boleh bersikap mentang-mentang dalam posisi itu, sesuatu yang sering saya lihat dari orang-orang rantau.
Pernah seorang pengusaha sukses dari rantau datang dalam suatu perundingan di rumah gadang. Tanpa segan-segan dia mengambil posisi duduk di pangkal, padahal dia urang sumando berdasarkan posisi suku. Pada waktu penghidangan tidak pula mau dia berdiri tegak. Rasa-rasanya semua hadirin adalah orang-orang bawahannya. Jadilah selama perundingan dia habis disindir dalam berbalas kato.
Saya pernah menceritakan tentang Buya saya almarhum di milis ini, walaupun pada masa itu beliau berpangkat tinggi dan berpengetahuan yang luas, tidak segan beliau berprilaku seharusnya dalam suatu perundingan. Segala pangkat, jabatan, gelar, dll beliau simpan dulu di kaki anak tangga sebelum masuk ke ruang perundingan. Penghormatan beliau terhadap sistem adat ini justru menimbulkan rasa segan dari para ninik mamak, sehingga selalu beliau disambut oleh ninik mamak untuk didudukkan di samping mereka. "Buya itu bukan sekedar sumando ninik mamak, tapi tamu kehormatan juga bagi kami". Begitupun Buya masih menolak dengan halus dan menempatkan diri untuk duduk di jajaran urang sumando. Ketika tugas sumando sudah sampai, tidak segan juga beliau turun tangan, walaupun tidak sepenuhnya sekedar sampai pada batas ukuran.
Mungkin ini catatan saya untuk orang rantau, banyak yang telah memperoleh keberhasilan sehingga memandang rendah norma dan aturan yang ada di kampung. Gadangnyo nak mintak dianjuang. Nafsu nan pantang bakarandahan. Pernah seorang wakil penghulu yang melapor kepada saya, bila beliau baru dimarahi sewaktu mengantarkan undangan kepada seorang rantau yang baru pulang ke kampung, gara-gara nama beliau tidak dicantumkan secara lengkap dalam undangan. "Tahu tidak kamu, nama saya itu ada doktorandus dan em es ce-nya. Kamu pikir gampang dapetin itu, dan berapa biayanya."
Dengan demikian dalam bermasyarakat di Minangkabau memang kita harus mengetahui posisi kita terlebih dahulu. Aturan adat ini telah mengatur sedemikian rupa adab kita dalam bermasyarakat. Inilah yang disebut hubungan persemendaan.
Posisi bundo kanduang itu ada dalam setiap hirarki kemasyarakatan, mulai dari rumah tangga hingga ke balairungsari. Jadi telah ada strukturnya. Saya mempertanyakan bila benar cerita tentang KAN itu, sudah pada tempatnya dipertanyakan salingkah nagari.
Kalau memang Bunda ingin meningkatkan lagi peran perempuan ini, banyak peran lain dalam kemasyarakatan dan ekonomi yang dapat ditekuni. Silahkan saja Bunda menghimbau kepada yang muda-muda, mudah-mudahan dapat mencontoh ketauladanan Bunda dalam mengharungi kehidupan ini.
Saya memiliki catatan tersendiri terhadap orang maupun tokoh yang berbahasa negatif dalam menilai suatu kondisi atau suatu sistem nilai kemasyarakatan.
Saya memang memiliki agenda pada hari itu, sehingga berhalangan hadir. Saya kira itu pertemuan silaturrahmi. Tapi kalau itu pertemuan untuk menyelesaikan permasalahan, kok ya tidak kelihatan ya? Lain waktu diusahakan hadir, termasuk saya ingin juga mengundang ke dangau saya.
Wassalam.
 

Hayatun Nismah Rumzy <hni...@yahoo.com> wrote:
Assalamu Alaikum W. W.
Nanda Datuk Endang dan sidang RN nan bunda hormati,
Kasus bunda pribadi berbeda dengan perempuan Minang yang tinggal di Minang karena bunda meninggalkan kampung halaman semenjak umur 12 tahun. Bunda berkiprah dirantau, berkarir tanpa dikungkung oleh adat. Bunda merasa benar-benar bersyukur dapat menggunakan segala kemampuan bunda dan kebolehan bunda ditempat kerja dan dimasyarakat. Bunda mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Bunda berjuang untuk mendapatkan persamaan hak (bukan emansipasi ini ada bedanya). Jadilah bunda ini perantau yang yang pulang dari rantau yang 2 kali setahun.  Bunda tak punya mamak (adik atau kakak laki-laki dari mak bunda) jadi jadi laki-laki yang ada ditipak bunda itu umurnya dibawah bunda semua.
Dikampuang diwaktu mupakaik diadakan, para perempuan didapur hanya untuk menyiapkan makanan. Setelah para alim ulama, niniak mamak dan cadiak pandai tu ka "manyungkah" (ini kata kasar sekali yang tak pernah ada sekarang lagi) mereka menanyakan apo alah siap nan dibalakang? Mako sibuklah para perempuan itu untuk menghidang.
Didalam buku "Adat Minangkabau Pola dan tujuan hidup orang Minang ado nan disabuik 4 jinih unsurnya terdiri dari niniak mamak, cadiak pandai, alim ulama, dan bundo kanduang baru disertakan didalam KAN ada unsur bundo kanduang. Tetapi kalau KAN rapat maka para bundo kanduang tidak hadir menjadi desision maker.
Baiak dirumah gadang atau di balai adat tidak ado perempuan Minang nan duduak tagak samo randah dan duduak samo tinggi samo alim ulama, cadiak pandai, dan niniak mamak tadi.
Nanda Hanifah kita bukan membicarakan kasus tapi peranan bundo kanduang secara keseluruhan. Sekarang ditiap nagari, kecamatan, kabupaten dan propinsi ada bundo kanduangnya. Peranan sekarang yang hanya menjadi penghias nagari, manjunjuang jamba harus lebih ditingkatkan menjadi para decision maker.
Bunda mempunyai beberapa buku tt Adat Minang dan bunda tak menemukan distu bukupun pemberdayaan perempuan Minang hanya lebih banyak wanita Minang tsb. diperdayakan kaum laki-laki Minang.
Buku ADAT MINAGKABAU Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang karangan Amir M. S. bagus sekali untuk referensi kita orang Minang. Jadi sebelum kita berdebat dan berdiskusi diharapkan kita semua mempunyai buku2 yang dibawah ini:
  1. Islam dan Adat Minangkabau karangan buya Hamka.
  2. Masih ada Harapan karangan DR. Saafroedin Bahar. (Buku No. 1 dan No. 2 hampir sama isinya yaitu mengatakan kekurangan adat Minang secara keseluruhan).
  3. Alam Takambang Jadi Guru A. A. Navis
  4. Minangkabau yang Gelisah Rangkuman dari Mupakai Bandung oleh bp. Chaidir N, Latief
  5. Dari Pemberontakan ke Inetgrasi oleh Audrey Kahin
  6. Tambo Alam Minagkabau H. Datoek Toeah
Jadi ambo ingin manambah koleksi ambo jo buku karangan Amir MS iko dimano bisa ambo dapekkan.
 
Pertemuan (kopi darat) yang lah tajadi kapatangko iyo sabana manuntaskan sagalo permasalahan yang lah awak bicarakan diforum RN.
Sayang sakali angku Azmi indak basuo dan kalau basuo mungkin duo garis sejajar tu indak sejajar lai tapi akan batamu disatu titiak persamaan.
Juga sayang Dt Endang tak bisa hadir karena pertemuan tersebut telah merumuskan beberapa hal yang menjadi silang selisih.
Wassalam
Hayatun Nismah Rumzy (68+)

iwan soekri

unread,
Jun 14, 2007, 10:58:58 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
saya setuju jika ada adat bersandi syara, artinya kesepakatan manusianya beradat dengan sandi syara. namun konsisten.
ternyata tidak konsisten, dengan beberapa contoh nyata seperti garis keturunan (suku) dari ibu, mempelai lelaki dijapuik dlsbnya. berangkat dari sanalah yang saya katakan, adat yang kesepakatan manusia, seyogianya tak bersandi ke syara, karena tak ada konsistensinya.
tentang adat dipegang teguh dan dijadikan komoditi turis, sah saja. sebagaimana lontaran gagasan pada email lainnya di RN ini.
dan, kita memang berbeda!
terimakasih.
salam
sutan iwan soekri munaf


benni inayatullah <proto_...@yahoo.com> wrote:
ya..bagi saya argumen anda untuk tidak bisa menempatkan adat basandi kepada syarak tidak bisa dicerna akal sehat , masak kebiasaan dan cara hidup tidak boleh disandarkan kepada syarak, lalu buat apa ada ustad yang mati2an mengajak kepada kebaikan itu ? bukankah Muhammad diutus untuk menempurnakan akhlak dan budi pekerti manusia ?

ya susah kalau begini, kita berdiskusi beranjak dari titik tolak yang berbeda, kalau titik tolak sudah berbeda maka tidak akan bisa dipertemukan...

sepintas saya lihat istilah munafik dalam konteks persoalan yang kita bicarakan agak kurang tepat juga, kalau boleh tahu definisi munafik buat anda apa ? lalu apakah uang japuik dan uang anta menurut anda sama dengan mahar ?

thanks



iwan soekri <iwan_...@yahoo.com> wrote:
 
maaf, awal saya memasuki permasalahan dalam diskusi ini, karena saya tidak sepakat atas adat bersandi syara, syara bersandi kitabullah.
karena adat hanya kesepakatan manusia, sedangkan syara adalah peraturan Allah yang tercantum di KITABULLAH. jadi, syara sudah pasti bersandi kepada KITABULLAH.
sebagai contoh, hanya sebagai contoh, sebagaimana yang dicontohkan ciuniang nur, bahwa ada calon mempelai laki-laki memberikan uang di bawah meja kepada calon mempelai perempuan, agar calon mempelai perempuan bisa 'manjapuik' mempelai laki-laki.
di sini, menurut saya, calon mempelai laki-laki munafik, dia dijapuik oleh duitnya sendiri. bagaimana jika pernikahan dimulai dari kemunafikan? apa kata dunia?
jika sepakat, tidak menyebut adat bersandi syara, dan syara bersandi KITABULLAH, atau adat bersandi atas kesepakatan masyarakat semata, maka saya tidak membantah, sah-sah saja orang yang mengadatkan japuik tadi dalam perkawinan. namun jika mengatakan, begitulah adat yantg islami, saya bantah. karena dalam islam, hanya lelaki yang memberi mahar kepada calon mempelai perempuan. tidak ada dalam, islam calon mempelai perempuan memberi mahar kepada calon mempelai laki-laki.
tentang generalisir? saya tidak men-generalisasikan.
tentang sanksi, saya paham. dalam kelompok 10 orang, sembilan orang telanjang, dan saya pakai baju len gkap, maka saya akan mendapat sanksi dari 9 orang telanjang itu. bagi saya lebih baik mendapat sanksi dari 9 orang telanjang, daripada dapat sanksi dari Allah.
tapi jelas, saya tidak sangsi akan adanya Allah, karena saya takut akan sanksi Allah kepada saya manakala saya sangsi adanya Allah.
salam.
sutan iwan soekri munaf
prabumulih-sumatera selatan



TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV


Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.

Datuk Endang

unread,
Jun 14, 2007, 11:11:57 AM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Ambo mak,
Terima kasih atas klarifikasi yang diberikan, sungguh tidak ada hal yang perlu diragukan dari kearifan mamak. Bila demikian, memang sebenarnya telah ada penyesuaian dan penyelarasan selama ini kepada kondisi kemasyarakatan yang lebih baik.
Menanggapi sedikit mengenai masalah tanah itu, saya memiliki cerita bila petugas PBB dari desa selalu bingung mendata tanah-tanah pangkatuo keluarga kami, karena semua tanah itu diatasnamakan Inyiak Komih. Beliau itu nenek dari ibu saya dan sudah almarhum. Dari keturunan beliau sudah berkembang puluhan keluarga, baik menetap di kampung maupun di rantau. Hingga saat ini memang tanah pangkatuo yang demikian luas itu telah terbagi-bagi, namun belum ada keinginan dari anak keturunan untuk jelas-jelas membagi dalam persil yang lebih kecil. Karena itu ikatan kekeluargaan mudah-mudahan masih kuat.
Walaupun pangkatuo itu manjawek warih, namun peran mamak masih sangat besar, untuk menjaga dan membina kaum ibu dalam menggunakan ulayat itu.
Demikian. Wassalam.


Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.

Datuk Endang

unread,
Jun 14, 2007, 12:00:59 PM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Ysh Pak Saaf,
Terima kasih atas informasinya dan menambah pengetahuan baru. Saya kurang tahu proses pembentukan The Universal Declaration of Human Rights itu di tahun 1948 apakah juga melibatkan negara-negara jajahan atau bekas jajahan, dan tidak semata dipelopori oleh para negara penjajah dan imprealis yang tiba-tiba bertobat. Ternyata sampai sekarang masih ada kelas-kelas negara di PBB. Ternyata dengan alasan HAM, mereka neo-imprealis ini menduduki negara berdaulat dan membunuhi ribuan penduduknya. Dengan alasan HAM pula mereka mengutuk pemboman di Tel Aviv yang menewaskan 1-2 penduduknya. Teman saya yang tinggal di Gaza mempertanyakan HAM setiap hari ketika harus melewati 10 check-point dari rumah ke kantornya yang berjarak 10 km dan menghabiskan waktu 4 jam.
Setiap hari! Saya kurang tahu kondisi HAM di Indonesia, sebaiknya Pak Saaf bercerita. Namun lucu juga membaca deklarasi itu dalam bahasa Minang, rasa-rasanya kita sudah go international.
 
Terima kasih atas undangan Pak Saaf untuk acara di Padang. Kebetulan mulai Minggu besok hingga dua bulan ke depan saya akan banyak berada di Maluku dan Papua, sehingga tentunya tidak bisa hadir. Untuk makalah tidak bisa saya siapkan, hanya saya menitip saja falsafah HAM seperti yang disampaikan Ibu Zoer'aini : ... urang buto paambuih lasuong, urang pakak palapeh badie, urang pandai untuok barundiong, urang bodoh diabaok baiyo, urang lumpuoh .. untuk pausie ayam ato panungguih rumah gadang ...
 
Demikian Pak Saaf. Wassalam.


"Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com> wrote:
Assalamualaikum w.w. Ananda Dt Endang,

Boleh saya ikut menyela ? Instrumen hukum
internasional HAM itu bukan berasal dari Barat,
Ananda, tapi tercantum dalam Piagam PBB, dan
dikembangkan oleh seluruh negara-negara di dunia,
termasuk oleh Republik Indonesia. Sebagian besar
anggota PBB itu malah bukan dari Barat. Sekedar
informasi, dua kovenan PBB tentang hak sipil dan
politik dan hak ekonomi, sosial, dan budaya, telah
diratifikasi jadi Undang-undang Nomor 11 dan 12 Tahun
2005.

Mohon jangan disisihkan masyarakat hukum adat
Minangkabau itu dari keseluruhan Negara kesatuan
Republik Indonesia, Ananda. Kita orang Minangkabau
ikut lho menegakkan dan membela Republik Indonesia ini
[Ingat peran PDRI, 1948-1949). Hak masyarakat hukum
adat termasuk yang dilindungi oleh instrumen hukum
internasional dan hukum nasional hak asasi manusia
ini.

Untuk lebih menjernihkan masalah ini, kalau Ananda
ada`waktu, datanglah ke Semiloka tanggal 18-21 Juni
mendatang di Fakultas Hukum Universitas Andalas,
Kampus Limau Manih, Padang. Dalam semiloka itu akan
kita bahas 20 masalah masyarakat hukum adat
Minangkabau dari perspektif hak asasi manusia, antara
lain tentang hak anak, hak perempuan, dan hak lansia.
Ananda dapat memberi masukan yang Ananda rasa`perlu
bagi semua peserta. Kalau boleh saya meminta, tolong
sampaikan makalah sumbangan Ananda, sehingga menjadi
dokumen yang dapat dimanfaatkan semua orang untuk
masa`datang.

Wassalam,
Saafroedin Bahar


You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck
in the all-new Yahoo! Mail Beta.

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jun 14, 2007, 3:51:32 PM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w. Ananda Dt Endang,

Karena kita sudah beralih topik, maka judul 'Perempuan
Minang' tersebut di atas sebaiknya kita ganti jadi
'Hak Asasi Manusia'.

Saya bergembira Ananda berminat terhadap hak asasi
manusia ini dan merasa mendapat kehormatan dengan
permintaan Ananda untuk menerangkannya. Kebetulan saya
menggeluti bidang ini selama 12 tahun di Komnas HAM,
dan akan lengser akhir Agustus 2007 mendatang.

Pada tahun 2002 dahulu terdorong oleh kebutuhan untuk
mempunyai gambaran yang agak komprehensif tentang hak
asasi manusia dan yang sesuai dengan kebutuhan
Indonesia, saya menulis dan -- dengan bantuan rekan
saya Drs Bambang W Soeharto -- menerbitkan sebuah buku
lengkap mengenai tema ini, dengan judul: "Konteks
Kenegaraan Hak Asasi Manusia", 781 halaman pokok, dan
xli halaman tambahan. Kata Pengantar oleh Prof Miriam
Budiardjo. Penerbit Sinar Harapan, Jakarta. Sekiranya
Ananda benar-benar berminat, dengan senang hati akan
saya kirimkan satu copy. Tolong dikirim alamat Ananda.

Saya merasa berbahagia mendapat kesempatan menangani
hak asasi manusia ini, yang sejak tahun 2004 saya
fokuskan pada perlindungan hak masyarakat hukum adat.
Dengan menangani hak asasi manusia dalam lembaga
negara yang khusus dibentuk untuk itu, bukan saja saya
mendapat kesempatan manangani kasus-kasus khusus hak
asasi manusia, tetapi juga untuk memprakarsai
kebijakan negara yang terkait dengan itu. Dengan cara
itu, secara tidak langsung dan secara kecil-kecilan
sesuai dengan posisi saya, saya merasa ikut
mempersiapkan suatu Indonesia yang tidak lebih buruk
dari keadaan sekarang, kalaulah tidak akan lebih baik,
bagi anak cucu saya.

Dalam hubungan ini rasanya perlu kita persamakan
dahulu pemahaman kita tentang hak asasi manusia.
Secara yuridis formal, hak asasi manusia itu diakui
sebagai hak yang melekat dengan diri setiap orang,
yang perlindungan dan pemenuhannya
dipertanggungjawabkan kepada negara cq pemerintah.

Dengan kata lain, perwujudan hak asasi manusia itu
tidaklah secara serta merta, tetapi masih memerlukan
usaha dan tindak lanjut, sehingga Deklarasi Universal
Hak Asasi Manusia 1948 tersebut mensifatkan hak asasi
manusia sebagai 'common standards of achievements for
all peoples and all nations".

Sebagai konsekuensinya, sudah barang tentu wujud hak
asasi manusia akan berbeda antara suatu negara dengan
negara lainnya, antara negara yang sudah maju dengan
negara yang belum maju, antara negara yang menghornati
hak asasi manusia dengan yang tidak menghomati hak
asasi manusia, antara negara imperialis dengan negara
terjajah.

Oleh karena itu memang akan sangat menarik untuk
mengetahui bagaimana proses kelahiran instrumen-
instrumen hukum internasional hak asasi manusia ini,
baik pada taraan internasional maupun pada tataran
nasional. Hanya dibutuhkan tiga tahun [1945-1948]
untuk lahirnya Deklarasi Universsal tersebut, tetapi
dibutuhkan waktu 18 tahun sesudahnya (1948-1966) untuk
disahkannya Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial
dan Budaya, serta Kovenan Internasional Hak Sipil dan
Politik. Dibutuhkan waktu 40 tahun pula sesudahnya
oleh Republik Indonesia untuk meratifikasi kedua
kovenan ini menjadi Undang-undang Nomor 11 dan 12
Tahun 2005.

Sudah barang tentu tidak dapat dipungkiri bahwa
negara-negara besar mempunyai pengaruh besar dalam
penyusunan instrumen hukum internasional hak asasi
manusia, tetapi tidak berarti bahwa negara-negara
kecil tidak dapat menyuarakan dan membela
pendiriannya. Kecuali di Dewan Keamanan yang mengenal
adanya hak veto, umumnya pengambilan keputusan
dilakukan dengan voting, sehingga jumlah yang besar
dari negara-negara kecil akan dapat mengalahkan
segelintir negara-negara besar. Jadi tak usah terlalu
berkecil hati, Ananda.

Saya mengerti bahwa kesibukan Ananda menyulitkan
Ananda untuk menulis makalah untuk Semiloka tanggal
19-21 Juni mendatang. Tidak apa, karena kompleksitas
masalah yang akan dibahas tidak akan selesai dalam
waktu tiga hari tersebut. Masih cukup waktu untuk
menelaahnya lebih lanjut.

Namun, sekali lagi dan secara sungguh-sungguh saya
mengajak Ananda untuk menuliskan pandangan Ananda
secara utuh tentang adat dan masyarakat hukum adat
Minangkabau, sehingga para sanak sapalanta ini tidak
hanya mendapat gambaran sepotong-sepotong saja tentang
pandangan Ananda, seperti selama ini. Saya berterima
kasih kepada para penulis masalah adat yang telah
menulis buku-buku adat yang banyak sedikitnya bersifat
komprehensif, seperti Idrus Hakimi Dt Radjo Penghulu
yang saya kenal dekat sewaktu saya masih aktif di
LKAAM Sumbar, 1966-1972, atau Bp Amir M.S. Dt
Mangguang nan Sati sekarang ini.

Seperti pernah saya sampaikan tempohari, saya berharap
banyak pada Ananda untuk menulis tentang ABS SBK,
secara utuh dan tidak secara sepotong-sepotong.

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa akan banyak
bedanya jika kita mempunyai wawasan yang luas, dengan
jika mempunyai wawasan yang sebagian demi sebagian
saja. Ada contoh yang sudah kuno mengenai hal ini,
yaitu tentang beberapa orang buta yang ingin
mengetahui bagaimana wujud gajah. Bagi yang satu,
gajah itu seperti pohon, karena yang dirabanya adalah
kaki gajah. Bagi yang lain, gajah itu seperti cemeti,
karena yang dipegangnya ekor gajah. Yang lain lagi
membantah, gajah itu seperti goni besar, karena yang
dirabanya adalah perut gajah. Saya percaya banyak yang
mengharapkan pencerahan engkap Ananda tentang adat
Minangkabau dalam hubungannya dengan ABS SBK.

Wassalam,
Saafroedin Bahar.

Wassalam,
Saafroedin Bahar.

> ---------------------------------


> You snooze, you lose. Get messages ASAP with
> AutoCheck
> in the all-new Yahoo! Mail Beta.
>
>
>


____________________________________________________________________________________
Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing.
http://new.toolbar.yahoo.com/toolbar/features/mail/index.php

Madahar (madahar)

unread,
Jun 14, 2007, 8:40:00 PM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
angku Dt Endang, awak maimbau,
kalo di caliak sapanjang barih dari buah kato angku Dt dibawah io paralu nampaknyo ko kito di Palanta ko (nan mamaraluan) untuk dapek tunjuak aja dari Angku 
atau a.. lah namonyo untuak masalah posisi sarato tugaih sumando ko saindaknyo kalo ndak ka langkok bak caro adat utuh caro nan patuik sajo jadi juolah saroman nan angku tulih di bawah.
basaba malah kami mananti sakutiko.
 
Batuduang Ameh (40)


From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Datuk Endang
Sent: Thursday, June 14, 2007 9:46 PM

To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] Re: Perempuan Minang

Bunda yang ambo hormati,
 .........
 Dalam perhelatan yang besar, tugas di dapur malah menjadi tugas urang sumando; dan alamat tidak akan makan orang seperundingan bila tidak berbaik-baik dengan urang sumando. Setelah itu jatah kepala kambing pun menjadi hak mereka pula.
Dalam suatu acara adat kita harus mengetahui posisi kita pada saat itu, sehingga dapat pula bersikap dengan benar. Tidak boleh bersikap mentang-mentang dalam posisi itu, sesuatu yang sering saya lihat dari orang-orang rantau.
 ........... 

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jun 14, 2007, 10:21:41 PM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum w.w. Bundo Hayatun dan Ananda Dt
Endang,

Karena nama saya disebut-sebut, izinkan saya menyela.
Secara pelahan-lahan saya memang melihat ada gunanya
untuk bertemu muka seperti pada kesempatan di rumah
Bundo itu, tidak hanya berunding dalam jarak jauh
dalam dunia maya.

Saya mengharapkan dalam kesempatan tersebut bertemu
muka dengan Engku Azmi Dt Bagindo dan Ananda Dt
Endang, yang nama-nama beliau tercantum dalam cc
undangan, seperti saya juga ingin jumpa dengan Sanak
Bandaro Labiah. Sayang memang kedua beliau tidak
hadir.

Saya sama sekali tidak terganggu dengan perbedaan
pendirian, bahkan pertentangan pendirian. Adat kita
sendiri kan mengatakan :"basilang kayu dalam tungku,
di sinan makonyo api ka iduik". Nyatanya jika sudah
bertemu kan tidak terlalu sulit untuk menemukan titik
temu, asal niat dan kecintaan kepada kampung halaman
sudah sama.

Kepentingan pribadi saya dengan adat Minangkabau
tidaklah terlalu banyak, yaitu agar dirumuskannya
secara lugas kaidah dasar formal adat Minangkabau yang
selain mengakui juga mewadahi ajaran Islam tentang
hubungan darah ayah - anak, yang tidak dikait-kaitkan
begitu saja dengan sako dan pusako. Visualisasinya
juga tidak sulit. Buatlah ranji atau istilah atau
istilah apapun, yang menunjukkan hubungan darah itu.
Jangan seperti sekarang, dalam setiap ranji menurut
adat, pasti seluruh nama keturunan anak laki-laki
tidak tercantum, karena khawatir 'kok lapeh pusako ka
urang sumando beko'. Aneh sekali terasa `oleh saya,
seakan seluruh urang sumando urang Minang itu kawin
karena 'ngincer' harta isterinya. Cara seperti itu
juga berpotensi melanggar Pasal 277 ayat (1) Kitab
Undang-undang Hukum Pidana tentang penggelapan
silsilah. [Seperti pernah saya tulis pada Angku Azmi
Dt Bagindo, saya tidak mempersoalkan dan tidak
berkeberatan dengan sako dan pusako menurut adat ini.
Silakan saja. Bagi saya hal itu oke-oke saja. Yang
saya minta hanya tolong lengkapi sedikit hal itu
dengan ajaran Islam tentang nasab].

Saya masih merasa sangat tidak nyaman dengan ulasan
mengenai 'urang sumando' yang antara lain masih
dikaitkan -- sebagai contoh -- dengan soal tugas masak
mamasak di dapur yang menjadi tugas urang sumando. Itu
kan khusus untuk yang masih tinggal di nagari, dan
sama sekali tidak bisa dipakai bagi kita yang hidup di
Rantau. [Kalau saya misalnya ditugaskan memasak di
dapur keluarga isteri saya, wah, siapa yang akan mau
memakannya, karena rasanya pasti amburadul! ).

Ada satu lagi. Saya melihat suatu gejala yang menarik,
bahwa dalam memberi mengulas adat Minang, kita
cenderung memberi contoh pengalaman kita pribadi. Saya
juga begitu. Jadi kita menggeneralisasikan hal yang
khusus dan lokal untuk menggambarkan hal yang umum
untuk seluruh Minangkabau.

Masalahnya apakah belum saatnya wacana kita menganai
adat Minang ini didasarkan pada kajian yang sudah
dipersiapkan dengan baik dan mencakup seluruh warga
Minangkabau, baik yang berdiam di Ranah maupun di
Rantau ? Sebagai usaha rintisan, itulah yang sudah
saya coba bersama Sanak Ir Mohammad Zulfan Tadjoeddin
M.A. untuk menulisnya tahun 2004 yang lalu. Saya
mengharap tokoh-tokoh adat seperti pak Amir M.S. Dt
Mangguang nan sati, Angku Azmi Dt Bagindo dan Ananda
Dt Endang Pahlawan juga dapat membuat tuliasn yang
sejenis, agar bisa dibanding secara 'apple to apple'.

Wassalam,
Saafroedin Bahar


--- Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:

> ---------------------------------


> Be a better Heartthrob. Get better relationship
> answers from someone who knows.
> Yahoo! Answers - Check it out.
>
>
>


____________________________________________________________________________________


Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.

http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz

chaidir latief

unread,
Jun 14, 2007, 10:47:14 PM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
bu Nurraini dan para dunsanak yang baik
 
Ambo download artikel Ibi Banyak sekali artikel yang baik baik di melis ko seperti dari dunsanak kito suhaimi dll Ambo usul kok lai ado nan sepakat
 
Kami dul;u di Bandung alah membentuk Klub Buku Adat Minangkabau Untuk tahap awal manabikkan jenis buku saku Alah beredar samapi judli 8 Pak Prof Buchari motornyo kini kan Ketua DAMI  Ambo alah mengapproach Ketua Bidang Adat di GM agar diambil oper Dulu memang gawenya GM Jawa Barat Tapi GM jawa Barat kini kedalam alah bagabuang dengan PKM Jawa Barat karano urangnyo danm kegiatannyo itu ka itu juo Tapi dari GM nanpaknyo indak ado reaksi
 
Baa kok kito tarik ka Rantau Net Nan penting manuruik ambo anggota dari Klub Buku itu kito mantapkan Salamoko walaupun dijua 4000 rupiah uarang awak kan kok dapek perai perai juo. Kalau rakyat Rantau Net bersedia Katakanlah untuk tahap awal 500 sajo anggota Rantau Net Dan tahap awal pulo melanjutkan serial buku saku sajo dulu Hargo 5000 rupiah Sabulan satu atau dua buku saku  Disamping diinformasikan buku buku baru atau buku lami yang akan dicopykan  Kito cetak 1000  Jadi 500 diambil oleh rakyat Rantau Net dan 500 lainnyo kito edarkan dilua Kalau PASAR ini alah tajamin Pengasuhnya kito sempurnakan Ambo alah bicaro dengan Upi Sundari dan Firdaus Umar
 
Chaidir N Latief

----- Original Message ----
From: Nuraini B Prapdanu <p...@mercureconvention.com>
To: Rant...@googlegroups.com
Sent: Thursday, June 14, 2007 12:23:07 PM
Subject: [R@ntau-Net] Re: "Lokakry6a Bundo kanduong"

Dunsanak,
 
Mungkin file iko dapek bermanfaat sebagai tambahan informasi
 
Salam ,
Nuraini
Ketua I Forum Bundo Kanduang
IKM - Bekasi
 
From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Ade Zur
Sent: Thursday, June 14, 2007 11:54 AM
To: Rant...@googlegroups.com
Subject: [R@ntau-Net] "Lokakry6a Bundo kanduong"

Hallo bundo Nismah.....  saya sangat setuju membahas tentang BUndo Kandong dalam suatu Lokakrya  khusu Bundo Kanduong. Sangat menarik pembicaraan tentang Bundo Kanduong ini... dan kelihatannya banyak masalah tentang bundo kanduong dan pemberdayaan perempuan yang kita hadapi.... padahal perempuan > lebih banyak dari laki-laki... bayangkan kalau dikatakan di UI dari 10 CL, 8 adalah perempuan, begitu juga di Universitas Trisakti dari 18 yang CL, 12adalah perempuan, rata2 setiap wisuda 80% adalh perempun yang CL. Waaahh... coba bayangkan kalau bundo kanduong dn perempuan hampir selalu "diperdayakan" bukan diberdayakan ??..Kita akan selalu dalam keterpurukan... krisis..

Wass

Zoer'aini Djamal


From:  Hayatun Nismah Rumzy <hni...@yahoo.com>
Reply-To:  Rant...@googlegroups.com
To:  Rant...@googlegroups.com
Subject:  [R@ntau-Net] Re: Perempuan Minang
Date:  Wed, 13 Jun 2007 21:41:02 -0700 (PDT)

Assalamu Alaikum W. W.
  
Nanda Datuk Endang dan sidang RN nan bunda hormati,
  
Kasus bunda pribadi berbeda dengan perempuan Minang yang tinggal di Minang karena bunda meninggalkan kampung halaman semenjak umur 12 tahun. Bunda berkiprah dirantau, berkarir tanpa dikungkung oleh adat. Bunda merasa benar-benar bersyukur dapat menggunakan segala kemampuan bunda dan kebolehan bunda ditempat kerja dan dimasyarakat. Bunda mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Bunda berjuang untuk mendapatkan persamaan hak (bukan emansipasi ini ada bedanya). Jadilah bunda ini perantau yang yang pulang dari rantau yang 2 kali setahun.  Bunda tak punya mamak (adik atau kakak laki-laki dari mak bunda) jadi jadi laki-laki yang ada ditipak bunda itu umurnya dibawah bunda semua.
  
Dikampuang diwaktu mupakaik diadakan, para perempuan didapur hanya untuk menyiapkan makanan. Setelah para alim ulama, niniak mamak dan cadiak pandai tu ka "manyungkah" (ini kata kasar sekali yang tak pernah ada sekarang lagi) mereka menanyakan apo alah siap nan dibalakang? Mako sibuklah para perempuan itu untuk menghidang.
  
Didalam buku "Adat Minangkabau Pola dan tujuan hidup orang Minang ado nan disabuik 4 jinih unsurnya terdiri dari niniak mamak, cadiak pandai, alim ulama, dan bundo kanduang baru disertakan didalam KAN ada unsur bundo kanduang. Tetapi kalau KAN rapat maka para bundo kanduang tidak hadir menjadi desision maker.
  
Baiak dirumah gadang atau di balai adat tidak ado perempuan Minang nan duduak tagak samo randah dan duduak samo tinggi samo alim ulama, cadiak pandai, dan niniak mamak tadi.
  
Nanda Hanifah kita bukan membicarakan kasus tapi peranan bundo kanduang secara keseluruhan. Sekarang ditiap nagari, kecamatan, kabupaten dan propinsi ada bundo kanduangnya. Peranan sekarang yang hanya menjadi penghias nagari, manjunjuang jamba harus lebih ditingkatkan menjadi para decision maker.
  
Bunda mempunyai beberapa buku tt Adat Minang dan bunda tak menemukan distu bukupun pemberdayaan perempuan Minang hanya lebih banyak wanita Minang tsb. diperdayakan kaum laki-laki Minang.
  
  
  
Buku ADAT MINAGKABAU Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang karangan Amir M. S. bagus sekali untuk referensi kita orang Minang. Jadi sebelum kita berdebat dan berdiskusi diharapkan kita semua mempunyai buku2 yang dibawah ini:
  
      
  1. Islam dan Adat Minangkabau karangan buya Hamka.  
  2. Masih ada Harapan karangan DR. Saafroedin Bahar. (Buku No. 1 dan No. 2 hampir sama isinya yaitu mengatakan kekurangan adat Minang secara keseluruhan).  
  3. Alam Takambang Jadi Guru A. A. Navis  
  4. Minangkabau yang Gelisah Rangkuman dari Mupakai Bandung oleh bp. Chaidir N, Latief  
  5. Dari Pemberontakan ke Inetgrasi oleh Audrey Kahin  
  6. Tambo Alam Minagkabau H. Datoek Toeah
  
Jadi ambo ingin manambah koleksi ambo jo buku karangan Amir MS iko dimano bisa ambo dapekkan.
  
 
  
Pertemuan (kopi darat) yang lah tajadi kapatangko iyo sabana manuntaskan sagalo permasalahan yang lah awak
bicarakan diforum RN.
  
Sayang sakali angku Azmi indak basuo dan kalau basuo mungkin duo garis sejajar tu indak sejajar lai tapi akan batamu disatu titiak persamaan.
  
Juga sayang Dt Endang tak bisa hadir karena pertemuan tersebut telah merumuskan beberapa hal yang menjadi silang selisih.
  
Wassalam
  
Hayatun Nismah Rumzy (68+)
  
Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:
  
  
Pepatah itu bukan hiasan Bunda, senantiasa diacu dalam perjalanan hidup ini oleh anak nagari. Apakah Bunda tidak pernah diundang untuk berunding dalam berbagai
persoalan? Saya tidak akan pernah memutuskan suatu persoalan bila belum ada keikhlasan dari kaum ibu. Bilamana perlu kapan waktu Bunda pulang, ikut dalam barisan arak-arakan, manjunjuang botieh atau bungo sirieh, dan merasakan betapa kaum ibu itu sumarak dalam nagari dan sangat diagungkan dalam budaya kita. Untuk merasakan harus dilakukan, jangan hanya dipandang saja.
  

Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.





Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.

chaidir latief

unread,
Jun 14, 2007, 10:59:05 PM6/14/07
to Rant...@googlegroups.com
Ronal yang baik
Barangkali sejalan dengan saran ambo ka bu Nuraini dan dunsanak dirantau Net tentang Klub Buku Adat Minangkabau
Chaodor N Latief

----- Original Message ----
From: Ronal Chandra <ronal_...@yahoo.com>
To: Rant...@googlegroups.com
--- Riri - Mairizal Chaidir
wrote:

> Maaf, ada ralat, tadi ambo salah. Kato "tidak" di
> kalimat dibawah ko itu seharusnyo ndak ado.
>
> Yang saya tangkap waktu itu adalah, bahwa waktu
> itu tidak kelihatannya pak Saaf dan mak Bandaro OK
> OK dengan penjelasan pak Zubir tu.
>
>
> Riri - Mairizal Chaidir wrote:
>
>
> --- Riri - Mairizal Chaidir
> wrote:
>
>
> >
> > Namun demikian, kalau kita kaji lagi, Al-Quran
> > beberapa kali menyebut Nabi Isa a.s dengan sebutan
> > "Isa ibn Maryam". Tapi tidak pernah sama sekali
> > menyebut Muhammad saw sebagai "Muhammad ibn
> > Abdullah".
> > Jadi apakah Al-Quran itu pro-matrilineal?
> > Wallahualam.
> >
> >
> >
> > --- Riri - Mairizal Chaidir
> >
> > > >>> Siapa bilang Islam menganut garis keturunan
> > > bapak (patrilineal)? Mana ayat Quran-nya? Mana
> > > hadits-nya?
> > >
> > > Tentu saja tidak eksplisit menyebut kata
> > > "patrilineal". (Saya yakin, karena tulisan di
> > Quran
> > > menggunakan bahasa tulisan Arab yang tidak ada
> > huruf
> > > "e"nya).
> > >
> > > Cuma, kalau saya tidak salah tangkap, hukum
> > > perkawinan dan hukum warisan, bukannya
> > menggambarkan
> > > ini?
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > ---------------------------------
> > > TV dinner still cooling?

> > > Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> >
> >
>
____________________________________________________________________________________
> > Luggage? GPS? Comic books?
> > Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search
> >
>
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Ready for the edge of your seat? Check out
> tonight's
> > top picks on Yahoo! TV.
> >
> >
> >
>
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________
> Never miss an email again!
> Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail
> arrives.
> http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/
>
>
> ---------------------------------

> Got a little couch potato?
> Check out fun summer activities for kids.
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Bored stiff? Loosen up...
> Download and play hundreds of games for free on
> Yahoo! Games.

>
>
>




____________________________________________________________________________________
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! FareChase.
http://farechase.yahoo.com/


Pinpoint customers who are looking for what you sell.

Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel.

Z Chaniago

unread,
Jun 15, 2007, 5:55:19 AM6/15/07
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum Ww.
 
Dt Ronal....maaf ambo baru tau kalau angku itu Datuak juo.......
ado babarapo buku nan paralu di buek :
1. Buku dengan tema " Ikolah Adat Minangkabau " : Nan isinyo adat Minangkabau dalam caro pandang /asumsi  'baraso adat Minangkabau itu sacaro normatif alah samparono ': iko dipakai untuak sabagai rel dalam pelaksanaan adat sehari-hari supayo bisa pelaksanaan-nyo menuju samparono
2. Buku dengan tema " Realita Adat Minangkabau mutakhir " nan isinyo Adat Minangkabau nan ado kini....sabagai suatu potret keadaan masyarakat nan mangaku beradat Minangkabau dengan adat Minangkabau nan terpakai...
3. Buku dengan tema " Perubahan adat Minangkabau dalam hal aturan dan penerapan " sabagai delta antaro buku pertamo dan kaduo
......
Buku dengan tema pertamo contohnyo adolah buku Tjupak Usali : NV Nusantara ;Bukiktiinggi....., dll lah..
 
Baitu Dt Ronal....., ....
 
Wassalam

Z Chaniago  - Palai Rinuak
 
 
 
 
 
Pada tanggal 14/06/07, Ronal Chandra <ronal_...@yahoo.com> menulis:
It is loading more messages.
0 new messages