Redenominasi dan Sanering

16 views
Skip to first unread message

muchwardi muchtar

unread,
Aug 2, 2010, 6:45:48 PM8/2/10
to Rant...@googlegroups.com
Redenominasi dan Sanering

 

OPINI Bocahndeso |  8 Mei 2010  |  13:15

 

Rupiah.jpgKonon katanya yang disebut dengan Redenominasi itu berbeda dengan yang disebut dengan Sanering.

 

Jika redenominasi itu adalah pemotongan nilai mata uang menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai tukarnya. Sedangkan sanering adalah pemotongan nilai mata uang suatu menjadi lebih kecil tanpa jaminan tidak berubahnya nilai tukarnya.

 

Dalam redenominasi, uang Rp 10.000 dipotong menjadi Rp 10, dengan harga barang yang semula Rp 10.000 juga berubah menjadi seharga Rp 10.

 

Fisik uangnya tak digunting sebagaimana yang dilakukan di program sanering. Pecahan lama sebelum redenominasi tetap berlaku, namun disertai dengan cara penulisan baru, dan penerbitan pecahan baru yang sudah disesuaikan dengan nilai redenominasinya.

 

Berbeda dengan sanering yang secara fisiknya uang dipotong atau digunting. Dimana uang Rp 10.000 dipotong menjadi Rp 10, sehingga dengan demikian harga barang yang semula Rp 10.000 belum tentu berubah menjadi seharga Rp 10.

 

Jadi, redenomanasi hanya semacam penyederhanaan penulisannya saja yang tak akan merugikan rakyat.

 

Sedangkan sanering itu merugikan rakyat, lantaran yang berubah adalah nilai uangnya.

 

Pendek kata, redenominasi itu jauh lebih baik daripada sanering.

 

Dan perlu dicatat, konon menurut kabar program sanering itu dilakukan karena ekonomi negara itu sangat buruk yang mendekati ambruk karena hiper inflasi.

 

Sedangkan program redenominasi itu dilakukan bukan karena ekonomi negara itu buruk serta bukan karena hiper inflasi. Namun semata-mata hanya karena tujuan efisien penulisan dan pembukuan saja.

 

Benarkah begitu ?.

 

Bisa jadi benar memang begitu, redenominasi berbeda dengan sanering, dan redenominasi tak akan merugikan rakyat.

 

Ya, apa mau dikata, jika pakar ekonomi sudah yang mengatakannya berdasarkan teori ekonominya yang diyakininya bagaikan kebenaran mutlaknya ayat-ayat kitab suci, maka rakyat ya nurut dan manut saja apa kata para pakar ekonomi.

 

Namun sesungguhnya, teori-teori ilmu ekonomi itu bukanlah wahyu Illahi yang mutlak kebenarannya, dan ilmu ekonomi itu tetaplah bukan ilmu matematika yang eksak dan pasti jumlah hasilnya sesuai dengan rumusnya.

 

Sehingga tetap saja yang namanya redenominasi itu ternyata juga tidak mutlak pasti benar begitu sesuai dengan teorinya.

 

Pemotongan sejumlah digit nominal mata uang pada program redenominasi itu ternyata juga ada potensi meleset, dalam arti kata tak serta merta pasti diikuti dengan penyesuaian harga berdasarkan nominal baru itu.

 

Contohnya adalah yang pernah terjadi di Zimbabwe, program redenominasi justru memicu inflasi ribuan persen.

 

Otoritas moneter Zimbabwe tak melakukan pemotongan atas fisik uangnya, tapi dengan mengeluarkan pecahan dalam nilai baru yang sudah disesuaikan dengan nilai redenominasi. Namun, kenyataannya perdagangan barang dan jasa serta nilai tukarnya tak patuh dengan nilai redenominasi itu.

 

Sehingga, dimana program yang ingin dijalankannya itu sebenarnya adalah redenominasi, tapi kenyataan yang terjadi di lapangan menjadi mirip tak ubahnya seperti dampak sanering.

 

Terlepas dari perdebatan soal definisi dan tetak bengek perbedaan antara redenominasi dengan sanering, sebenarnya ada apa kok Indonesia mulai mewacanakan akan melakukan redenominasi ?.

 

Konon menurut kabar, dari hasil riset Bank Dunia (World Bank) menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara pemilik pecahan mata uang terbesar kedua di dunia, dengan pecahan mata Rupiah sebesar 100.000.

 

Negara pemilik pecahan mata uang terbesar di dunia adalah Vietnam, dengan pecahan mata uang Dong Vietnam sebesar 500.000.

 

Sebenarnya tadinya itu Indonesia ada di urutan ketiga, dimana Zimbabwe di urutan pertama dengan pecahan sebesar 10 juta dolar Zimbabwe, lalu Vietnam dengan di rangking kedua dengan pecahan 500.000 Dong Vietnam, selanjutnya Indonesia di peringkat ketiga dengan pecahan 100.000 Rupiah.

 

Namun lantaran kemudian Zimbabwe melakukan redenominasi maka Vietnam naik rangking dari kedua menjadi pertama, dan Indonesia pun naik juga tingkatannya dari ketiga menjadi urutan kedua.

 

Nah, jika Indonesia kemudian mengikuti jejak langkah Zimbabwe dengan melakukan redenominasi, maka Indonesia mungkin akan terlepas dari daftar negara-negara dengan pecahan mata uang terbesar di dunia.

 

Lho, bukankah pecahan mata uang itu berkaitan dengan tingkat besar kebutuhan pecahan mata uang dalam transaksi yang secara tidak langsung juga mencerminkan tingkat inflasi juga ?. Berarti, selama ini menurut laporan resmi inflasi rendah tapi sesungguhnya inflasinya tinggi ?, berarti ekonomi indonesia jeblok ?.

 

Ya, tidak berarti begitu. Haruslah diingat, Indonesia itu pernah mempunyai Menteri Keuangan Terbaik di Asia dan di Dunia, jadi mosok jeblok begitu.

 

Tapi, memang jika dirasa-rasakan, setiap tahun selalu ada kenaikan harga.

 

Harga es cendol di tahun lalu tentu lebih murah daripada harga es cendol di tahun ini. Begitu juga biaya sekolah, biaya rumah sakit, dan biaya hidup lainnya, termasuk dan tak terkecuali harga mobil juga sepeda motor.

 

Tapi ya sudahlah, rakyat jelata manut dan nurut saja apa kata para pakar ekonomi bahwa ekonomi Indonesia kuat dan hebat serta spektakuler lantaran dikelola oleh Menteri Keuangan Terbaik di Asia dan di Dunia, sehingga inflasi di Indonesia pun itu rendah saja.

 

Walau ya itu tadi, kebanyakan rakyat kebanyakan itu merasakan bahwa pendapatannya itu semakin tahun semakin tak sebanding dengan biaya kehidupannya. Dimana kecepatan kenaikan pendapatannya kalah tinggi dibanding dengan kenaikan biaya kehidupannya.

 

Rakyat manut saja, bahwa yang dirasakannya itu bukanlah inflasi tinggi.

 

Ndak usah berdebat dan jalani hidup saja, toh Allah SWT tak akan mungkin membiarkan hamba-Nya eyang soleh dan solekah itu mengalami kesulitan dan mati kelaparan.

 

Toh, jika redenominasi gagal berbuah hasil sesuai teorinya, sang Menteri Keuangan Terbaik di Asia dan di Dunia pun tak akan bisa lagi ikutan disalahkan, lantaran sudah menjadi petinggi di jajaran pimpinan tertingginya Bank Dunia.

 

Oh ya, menurut kabar rumornya, kewenang mengetuk palu perihal keputusan kebijakan redenominasi itu, jika jadi dilaksanakan, ada pada pemerintah (lembaga eksekutif) bukan pada BI (Bank Indonesia).

 

Akhirulkalam, janganlah panik, ikuti petuahnya para pakar ekonom bahwa redenominasi itu bukan sanering. Dimana redenominasi itu hanyalah efesiensi dipenulisannya saja atau hanya merupakan bentuk penyederhanaan nominal saja, yang tak akan mengubah nilai barang.

 

Semoga begitu.

 

Wallahulambishshwab

 


image001.jpg

Augi Jusri Djalaluddin

unread,
Aug 3, 2010, 12:39:45 AM8/3/10
to rant...@googlegroups.com


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

>Konon menurut kabar, dari hasil riset Bank Dunia (World Bank) menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara pemilik >pecahan mata uang terbesar kedua di dunia, dengan pecahan mata Rupiah sebesar 100.000.

>Negara pemilik pecahan mata uang terbesar di dunia adalah Vietnam, dengan pecahan mata uang Dong Vietnam sebesar 500.000.

>Sebenarnya tadinya itu Indonesia ada di urutan ketiga, dimana Zimbabwe di urutan pertama dengan pecahan sebesar 10 juta >dolar Zimbabwe, lalu Vietnam dengan di rangking kedua dengan pecahan 500.000 Dong Vietnam, selanjutnya Indonesia di >peringkat ketiga dengan pecahan 100.000 Rupiah.


Menurut hemat saya akan lebih bijak, bila nominal besar yang ditarik dari peredaran nominal Rp 100.000 , Rp 50.000 dan Rp 20.000 dibandingan Redominasi yang agak membingungkan.

Uang tersebut dicetak oleh Pemerintah Pusat melalui PT Peruri dan didistribusikan oleh BI untuk pembiayaan APBN dan APBD. Bila kita perhatikan sebagian data Pendapatan dan Belanja Negara di APBN 2010

a .Pendapatan bukan Pajak: 

Penerimaan SDA, Laba BUMN, PNBP lainnya, Pendapatan BLU  Rp  180,9 Triliun

b.Pendapatan Pajak:

Pajak dalam negeri Rp 702 Triliun dan Pajak Internasional Rp 27 Triliun


Pengeluaran Negara di APBN 2010

a.Belanja pemerintah Pusat Rp 700 Triliun

b.Transfer ke daerah Rp 310 Triliun.

Pembayaran bunga hutang Rp 115,6 Triliun

Subsidi Energi dan non energi Rp 144 triliun

Defisit Anggaran Rp 98 Triliun


Penerimaan pajak jauh lebih besar dibandingkan Penerimaan SDA dan laba BUMN. 

Pembayaran bunga hutang dan defisit lebih besar dibandingkan Penerimaan SDA dan laba BUMN

Istilah sederhananya pendapatan tetap (bertambah sedikit), cicilan utang wajib dibayar, hutang bertambah dan pajak meningkat.

http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/download/datapokok-ind2010.pdf


Bila memperhatikan saat ini 020810 harga minyak dunia mencapai $ 80 per barrel sementara asumsi APBN 2010 $ 60 per barrel dan kurs dollar Rp.10.000. Akan lebih baik, bila nominal terbesar Rp. 10.000 yang dicetak dan didistribusikan oleh BI. Menjaga ketimpangan peredaran uang  dan harga barang antara Kapital Jakarta dengan Daerah. Untuk berjaga-jaga akan lebih baik menyimpan dalam bentuk emas yang nominalnya stabil selama 25 tahun.

Gadai BRI Syariah

Gadai Syariah

Jual Beli Emas di Bursa Mulia Pegadaian


Semoga bermanfaat.

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

AUGI JD

augispot.blogspot.com

taufiq...@gmail.com

unread,
Aug 3, 2010, 1:20:06 AM8/3/10
to rant...@googlegroups.com
Kalau uang 100.000/50.000/20.000 ditarik tentu dompet kita makin tebal untuk persiapan
Apalagi tempat yg bisa menggunakan Credit Card dan keberadaan ATM masih terbatas

Tapaso dompet Benyamin nan dipinggang atau dompet toke bantiang banyak peminatnya lagi

Ambo pernah mambaco Lira Italia sarato beberapa negara Amerika Latin labiah lai pado awak. Karano harago humberger bisa puluhan ribu Lira juo
Baitu juo Japang

Sahinggo dalam balanjo komoditas biaso awak paralu puluhan/ratusan ribu satuan uang mereka juo

Ado pandapek pakar yg penting haragonyo stabil walau tasabuik puluhan atau ratusan ribu pitih mereka

Antahlah...nan ma nan batua pandapek iko

Apo memang iko sekedar image sajo atau akan berbuntut dengan sanering nantinyo

Kalau sanering nan tajadi, memang akan tambah marasai awak
Sementara eksekutif jo legislatif taruih babagi kue

--TR

Jadi mirip juo jo awak
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Bot S Piliang

unread,
Aug 3, 2010, 3:01:12 AM8/3/10
to rant...@googlegroups.com
Kayaknya ga samapi begitu Mak..
Ini kan hanya pengaliahn kebiasaan saja. Artinya, uang yang ktia pegang masih dihargai, sama, tidak ada perubahan. Bedanya, pemerintah akan menerbitkan uang baru yang nilainya sesuai dengan kebijakan nanti. Misalnya, nanti akan ada uang Rp. 1 yang setara dengan Rp. 1000, sebagai contoh; untuk pembayaran busway Rp.3.500, dapat dilakukan dengan 2 lembar uang Rp.1 baru, satu lembarkan 1 lembar uang Rp. 1000, dan satu koin lima ratus, atau bisa dibayar dengan satu lembar uang kertas Rp.5 baru (setara Rp. 5.000) lama.
Memang perlu adaptasi, dan proses ini berlangsung mungkin sekitar 2-4 tahun sampai seluruh uang ditarik dari peredaran. Dari dialog tokoh tadi malam di Metro TV, disebutkan bahwa kunci keberhasilan Denominasi adalah sosialisasi dan kepatuhan seluruh pelaku pasar untuk menggunakan nilai yang baru tersebut.

Salam

Bot Sosani Piliang
Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream
www.botsosani.wordpress.com
Hp. 08123885300

--- On Tue, 8/3/10, taufiq...@gmail.com <taufiq...@gmail.com> wrote:
--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Augi Jusri Djalaluddin

unread,
Aug 3, 2010, 3:03:49 AM8/3/10
to rant...@googlegroups.com
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

>Kalau uang 100.000/50.000/20.000 ditarik tentu dompet kita makin tebal untuk persiapan
>Apalagi tempat yg bisa menggunakan Credit Card dan keberadaan ATM masih terbatas

Apa tidak lebih baik orang daerah dompetnya tebal-tebal ? ...
Apa masih mau dompetnya tipis ?

Untuk transaksi orang kota, bisa menggunakan kartu debit, kartu ATM, hindari penggunaan kartu kredit.
Orang daerah dan kota bisa menggunakan cheque, transaksi giro lebih aman untuk perdagangan komoditas. 
Untuk mengecek apakah cek kosong atau bersaldo bisa telepon ke bank atau pesan SMS ke Bank pencairan untuk validasi.

Ralat redenominasi dan sanering sebelumnya tertulis redominasi.
Perhatikan  perbandingan pajak dalam negeri dan pajak internasional. Dalam negeri rupiah, luar negeri valuta asing.
Lebih kurang saya mohonkan maaf

ZulTan

unread,
Aug 3, 2010, 3:32:54 AM8/3/10
to rant...@googlegroups.com
Ado usul Prof. Adler nan rancak. Tiok barang dalam maso transisi (sosialsasi) punyo duo harago. Harago pitih lamo jo pitih baru.
Kalau naik ojek bisa baia Rp 5.000 jo pitih lamo atau Rp. 5 jo pitih baru.
Pitih lamo sacaro bertahap dikurangi paredarannyo. Lamo-lamo harago barang otomatis manjadi harago baru karano pitih lamo ndak ado lae.

Bagi kelas menegah ka ateh ndak ado karugian nan ka dirasoi. Tapi bagi urang kampuang pitih Rp 50 bisa bali saka atau karupuak atau salak atau limau ketek bisa jadi tajadi inflasi. Mungkin barang-barang ko haragonyo barubah jadi 10 sen nan satara jo Rp 100 pitih lamo. Artinyo tajadi inflasi 100%.

Lain jo sanering Rp 1000 jadi ciek piah.
Baia ojek (dulu alun ado jaso ko lai) tatap Rp 5.000 jo pitih lamo (CMIIW). Jadi kalau sanering nan tajadi gaji Rp 5 juta abih sakali naiak ojek.

Sagitu se,
Wassalam,


Sent from my BlackBerry®Bold powered by ZulTan, L, 49+, Bogor


From: Bot S Piliang <bots...@yahoo.com>
Date: Tue, 3 Aug 2010 00:01:12 -0700 (PDT)
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages