Undang Undang Minangkabau di dalam Tambo ... Re: [R@ntau-Net] UU Simbur Cahaya dengan UU 20-8 Minangkabau

336 views
Skip to first unread message

Masoed Abidin ZA Jabbar

unread,
Apr 5, 2010, 3:55:25 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com, datuk_endang@yahoo.com, Dr.Saafroedin BAHAR, Lies Suryadi, Suryadi sunuri, azmi_libr...@yahoo.co.id
Andiko Yth,
Bagaimana kiranya dengan hukum Adat di Minangkabau yang menyatakan sebagai berikut ;

Hukum Orang yang Salah Melanggar  Undang-undang Nan Empat

Hukum orang melanggar undang-undang nan empat :

a. Salah kepada raja namanya.
b. Salah kepada penghulu namanya.

Salah kepada raja, hukumnya hukum bunuh (pancung/gantung). Adapun yang di maksud perkataan Beremas Hidup itu ialah : orang yang bersalah itu membayar hutang adat kesalahannya yang dihukumkan penghulu kepadanya. Yang di maksud Tidak Beremas Mati ialah : tidak kuasa mereka yang dihukum membayar hutang adat, tentangan kesalahan yang dihukumkan penghulu-penghulu kepadanya maka orang itu mati, mati pula nama hukumnya sepanjang adat, ialah dimatikan hak mereka itu sepanjang adat (dikeluarkan dari segala adat negeri). Tidak dibawa seadat selimbago lagi, tidak dibawa duduk sama rendah, tegak sama tinggi yakni keluar dia dari adat.


Hukum Dibuang Sepanjang Adat

1. Buang siriah namonyo
Yakni buang yang boleh diampuni kalau sudah sampai tempo lamonyo buangnya itu atau kalau ia suka (bisa) membayar hukumnya yang dihukum kepadanya

2. Buang Biduak namonyo
Yaitu orang yang dibuang sekaum (dari kaumnya). Bila ia telah mau bertobat kembali dan mau memenuhi hukuman yang telah dihukumkan kepadanya, maka boleh pula ia diterima kembali saadat salimbago seperti sedia kala.

3. Buang Hutang namonyo
Yaitu orang yang dibuang, sebab tidak membayar dia (bangunan) dan orang-orang yang salah tidak mau membayar hutang adat yang dihukumkan kepadanya sebab ia salah ngomong memaki, atau mencaci maki kepada raja atau penghulu atau orang patut yang memegang adat dan lain-lain seumpamanya maka orang itu boleh pula diterima kembali seadat selembaga kalau ia telah membayar kesalahannya. Tetapi ia harus membayar kesalahan utang baris namanya. Yaitu selain dari membayar kesalahan sebab ia dibuang tadi, mereka itu mesti membayar pula satu kesalahan lagi sebab ia engkar membayar hutang pertama tadi yakni sebab tidak menurut baris balabeh, adat yang terpakai dalam nagari, hutang balabeh (baris) itu setinggi tingginya tidak boleh lebih dari 20 mas (dua puluh rial) dan serendah-rendahnya hingga sepaha (4 mas).

4. Buang Pulus namonyo
Yaitu orang yang dibuang, diharamkan ke kampung buat selama-lamanya atau buat sementara waktu ia dijadikan menjadi hamba sahaja (hamba raja), kemudian kalau dia sudah menjalani hukuman itu dan sudah dipandang baik oleh timbangan raja, maka raja ada hak mengampuni kesalahan itu.

5. Buang Tingkarang ( Buang tembikar)
Atau buang saro namanya, yakni buang yang tidak boleh diampuni atau diterima kembali selama-lamanya, masuk di dalam adat. Ialah tantangan hutang yang tidak boleh dibayar, salah yang tidak boleh ditimbang dengan emas samalah hukumnannya dengan orang yang salah kepada raja tersebut di atas.


Pada Menyatakan Hukum dan Timbangan

Adapun hukum dan timbangan orang yang melanggar undang-undang adat itu dalam sebuah nagari adalah seperti di bawah ini:

1. Ada yang dihukum bermaaf-maaf saja, sesat surut terlangkah kembali, elok dipakai buruk dibuang.

2. Ada yang dihukum salah pagi ampun petang, salah petang ampun pagi namanya, yaitu hukum menyembah meminta ampun kepada tempatnya bersalah, hukum ini terpakai kepada adik salah kepada kakak, kemenakan, salah kepada mamak, anak salah kepada ibu dan bapanya, yaitu atas orang yang berkaib berbait yang berkaum berkeluarga ialah tentang salahnya yang berkecil-kecil, sesat surut salah tobat namanya, elok dipakai buruk dibuang.

3. Ada yang dihukum salah menjamu minum makan dengan sekedar apa yang ada saja, yaitu salah anak buah kepada tuannya, kepada ninik mamaknya, yang kecil-kecil salahnya sepanjang adat, elok dipakai buruk dibuang, di muka ninik mamak dan orang tua-tua di situ.

4. Ada yang dihukum salah menjamu minum makan dengan memotong ayam, serta dengan nasi kuning, atau nasi lemak dengan berdoa meminta ampun kepada tempat ia berbuat salah, diperbuat di rumah yang salah, dipanggil ke situ tempat ia bersalah, dan dirujukkan yang bersalah itu kepada tempat ia bersalah, elok dipakai buruk dibuang, di muka ninik mamak dan orang yang patut patut.

5. Ada yang dihukum menjamu minum makan dengan membawa singgang ayam serta nasi kuning, serta membawa sirih di cerana, menjelang ke rumah tempat ia berbuat salah, disitu berjamu-jamu minum makan dengan bermaaf-maaf dari kesalahan itu.

6. Ada yang dihukum salah mayambah dengan menating sirih secerana dibawa ke balai adat, dilalukan sirih itu di muka kerapatan adat penghulu, kepada tempat ia bersalah dengan meminta maaf pula kepada segala penghulu serta orang patut-patut yang hadir di situ.

7. Ada yang dihukum memotong kambing di rumah tangga yang bersalah dengan menjamu minum makan, dipanggil tempat ia bersalah ke situ, serta ninik mamak dalam kampung, dalam suku dan ninik mamak dalam nagari mana yang patut patut serta tua-tua cerdik pandai di situ dengan mendoakan elok dipakai buruk dibuang dengan bermaaf-maaf.

8. Ada yang dihukum jawi menjamu ninik mamak dalam suku dan ninik mamak seisi nagari dan orang tua-tua cerdik pandai dan yang patut-patut tahu elok dipakai buruk dibuang dengan bermaaf-maafan.

9. Ada yang dihukum memotong kerbau, menjamu ninik mamak seisi nagari serta ditambah pula dengan mengisi adat menuang lembaga membayar hutang baris, dijadikan di rumah tangga yang bersalah, elok dipakai buruk dibuang dengan bermaaf-maaf.

10. Ada yang dihukum membayar DIAT (bangun) atau mengisi adat menuang lembaga, sebab merusak adat, atau pangkat derajat orang, serta menjamu minum makan dengan memotong kambing atau jawi, atau kerbau, menurut patutnya timbangan kerapatan penghulu penghulu dan ada pula yang ditambah dengan membayar hutang baris, mengisi adat menuang lembaga, dijadikan di rumah tangga yang bersalah, ke situ dipanggil penghulu penghulu negari serta orang tua-tua cerdik pandai dan orang patut-patut serta berdoa dan bermaaf-maafan, elok dipakai buruak dibuang.

11. Dan lain-lain macam hukum itu, menurut yang diadatkan orang dalam sebuah –sebuah nagari.

12. Adapun hukum hukuman yang tersebut di nomor 7-8-9 dan 10 itu, ada yang dihukumkan dirumah tangga yang bersalah dan ada pula yang dihukumkan di medan majelis di tempat tempat yang berserikat: seperti di gelanggang atau di balai adat dan lain-lain sebagainya.

13. Segala orang-orang yang terhukum menurut sepanjang adat tersebut di atas, jikalau terhukum itu keras bak batu, tinggi bak langit namanya, dengan tidak sebab-sebab yang patut dan ia tidak menaikkan bandingan atas hukuman yang dijatuhkan kepadanya itu, kepada hakim yang tinggi, kerena menurut adat apabila hukum jatuh:

Pertama dibanding (1). Kedua diselasai ketiga diserikati. Ketiga, diserikati (3). Atau ia ada menaikkan banding, tetapi bandingannya tidak laku. Dalam pada itu mereka keras juga tidak mau menurut hukum yang telah ditetapkan kepanya itu, dan telah diberi nasehat oleh penghulu-penghulu, atau orang-orang cerdik pandai tidak juga mau menurut, maka mereka itu dipanggil sekali lagi kepada rapat nagari, dan rapat nagari setelah menanyainya, maukan ia menurut timbangan kerapatan nagari itu atau tidak. Jikalau mereka itu menjawab mau, maka ditentukan harinya oleh nagari ia melangsungkan pekerjaan menjalankan hukuman itu dan kalau tidak mau terima juga hukuman itu, ataupun tidak mau menemui panggilan itu, maka hari itulah dijatuhkan hukuman buang tersebut di atas kepada orang-orang yang terhukum itu, sebagai mana yang ditetapkan penghulu-penghulu, BUANGNYA ITU, serta diberitahukan kepada nagari (isi nagari) dengan dikumpulkan cenang supaya segala orang tahu: Bahwa sianu itu telah dikeluarkan dari sepanjang adat nagari itu. Tidak akan dibawa ia seadat selembaga, duduk sama rendah tegak sama tinggi, dalam segala hal yang bersangkut kepada adat istiada nagari itu dan lain-lain sebagainya. Begitulah orang mengeluarkan orang dari adat adat nagari.

14. Jikalau bandingan yang dinaikan orang itu kepada hakim yang lebih tinggi, ada laku: meski hukumannya ditambah atau dikurangi, atau ditetapkan, ataupun dilepaskan oleh hakim yang ia membanding itu, maka hukuman itulah pula yang wajib diturut mereka itu. Begitu pun hakim yang pertama tadi yang dihukumnya terbanding, wajiblah hakim itu menurut dan menguatkan pula hukuman hakim yang tempat orang itu menaikkan banding, sebab kata adat, kalau naik banding rebah hukuman dan kalau rebah bandiang naik hukuman. Maka jika apa-apa hukuman yang dijatuhkan hakim tempat ia membanding itu, tidak pula mau ia memakai tempat ia membanding itu, tidak pula mau ia memakai, sampai kepada tempat penghabisan ia boleh menaikkan banding tiap-tiap kali itu ia keras juga, tidak mau turut hukuman yang dijatuhkan oleh tempat ia membanding itu, karena lebih berat, melainkan ia mau memakai hukuman yang dahulu, sebab lebih ringan, maka itu tidak diterima lagi melainkan kalau ia tidak mau memakai hukuman hakim yang lebih tinggi tempat membanding itu disitulah baru boleh dijatuhkan kepada mereka itu yang paling besar kesalahan, tentangan hukuman buang membuang itu kepada yang tidak mau menurut alur patut itu.

15. Adapun yang berhak menjatuhkan hukuman buang membuang atau mengeluarkan orang dari pada adat adat nagari itu. Dalam sebuah nagari ialah kebulatan kerapatan penghulu-penghulu senagari itu. Yang satu adatnya. Kebulatan penghulu penghulu senagari itulah saja yang berhak menjatuhkan hukum buang membuang orang dari adat nagari itu, lain tidak. Tentangan kerapatan adat orang satu penghulu itu atau kerapatan orang sebuah perut, atau sebuah jurai atau sebuah payung atau sebuah suku saja tidaklah berhak menjatuhkan hukuman mengeluarkan orang dari dalam adat nagari itu melainkan mereka itu boleh menyatakan: Tidak membawa sehilir semudik (sepai sedatang), seberat seringan, seutang sepiutang, selarang sepantangan, seduduk setegak lagi karena orang-orang itu salah merusakkan adat pergaulan (perkauman) sebab membuat malu dalam kaum baik kaum serumah atau seperut, sejurai sepayung, sesuku atau sekampung, yaitu sengaja merusakan adat merendahkan adat kebangsaan kaumnya itu dan lain-lain, yang jalannya merusakkan adat berkaum dan memberikan malu sopan, bukan bersangkut kepada perkara harta benda, hutan tanah, sawah ladang dan lain-lain harta.


Pasal Menyatakan Hukuman Maling Curi


Hukum Orang Memaling Orang

Adapun hukuman orang memaling orang itu adalah:

1. Jikalau sudah dapat tanda baitinya orang memaling orang itu, maka hukuman orang yang bersalah itu: Kalau yang memalingnya itu telah menjualnya, maka lebih dahulu dihukum ia menebus orang uang dimalingnya itu dan dipulangkan kepada ahli waris orang yang dimalingnya itu. Sudah itu barulah mendenda penghulu penghulu dalam negeri (suku-suku) jikalau yang dimalingnya itu orang yang baik-baik (bangsawan). Maka dendanya itu adalah setahil sepaha, sepuluh emas-limakupang-lima busuk-sekupang-sepihak enam kundi (6 suku). Jikalau ada emas hidup tidak beremas mati.

2. Jikalau bukan orang baik-baik yang dimalingnya itu, maka hukumannya:

a. setelah ditebusinya orang yang dimalingnya itu maka disuruh cemuki orang yang memalingnya itu oleh orang yang dimalingnya berturut-turut tiga hari, atau tujuh hari lamanya, atau oleh ahli waris yang dimalingnya itu.

b. Sudah itu barulah mendenda penghulu penghulu yang keenam suku (kalau suku enam). Dendanya ialah: sepuluh emas-tengah tiga emas- lima kupang- lima busuk- sekupang- sepihak-empat kundi. Jikalau ada beremas hidup- tidak beremas mati.


Hukuman Orang Memaling Binatang Ternah Kerbau/Lembu

Jikalau telah dapat tanda baiti orang maling ternak itu:
1. Dihukum yang memaling ternak itu, memulangkan ternak atau harga ternak yang dimalingnya itu.
2. Sudah itu barulah mendenda penghulu penghulu (penghulu kepala) atau kepala penghulu. Dendanya itu sepuluh emas –lima busuk- sekopang- sepiak- empat kundi.



Hukum Orang Memaling Kambing, Ayam atau Itik (Burung)

Jikalau sudah dapat tanda baiti. Maka hukumannya itu didenda Yaitu-tengah tiga emas- Lima Kupang- Lima busuk- sekupang- sepihak empat kundi dan tiadalah boleh dihukum mati orang itu, melainkan kalau ia tidak beremas pembayar denda itu maka disuruh cambuki orang itu kepada yang empunya harta yang dimalingnya itu, atau kepada hulu balang adat dalam nagari: tujuh hari lamanya berturut-turut. Hukuman ini boleh dijalankan saja oleh sebuah suku, tidak perlu serapat nagari.


Hukuman Orang Memaling Padi atau Lain-lain Makanan yang Mengenyangkan

Maka hukumannya itu ialah didenda saja, yaitu denda setahil-sepaha- sepuluh emas- lima kupang- lima busuk- sekupang- sepiak- empat kundi atau disuruh cambuki orang itu berturut-turut selama tujuh hari, kepada yang empunya harta yang dimalingnya itu atau oleh hulu balang. Maka di sini terpakai juga hukuman: Beremas, hidup, tidak beremas mati ialah menilik besar kecil atau banyak harta orang itu yang dimalingnya.


Hukuman Memaling Cempedak (Nangka)

Adapun hukuman memaling nangka itu, jikalau telah dapat tanda baitinya, maka dendanya: tengah tiga emas, lima kupang, lima busuk, sekupang, sepiak, empat kundi. Jikalau orang itu tidak kuasa membayar denda tersebut maka digantungkan nangka itu pada lehernya dan dibawanya berjalan keliling nagari, tempat salahnya itu, tujuh hari berturut-turut.


Hukuman Orang Memaling Tebu atau Pisang

Adapun hukuman orang memaling tebu atau pisang itu, jika telah dapat tanda baitinya, maka dendanya itu ialah sekupang-empat kundi. Dan tidaklah disiksa orang itu.


Hukuman Orang Memaling Kelapa

Adapun orang memaling kelapa itu hukumannya ialah: Jika telah dapat tanda baitinya, dan dendanya itu ialah: Lima kupang-lima busuk, sekupang, sepiak, empat kundi: karena kelapa adalah kehormatan segala makanan.


Hukuman Orang Memaling Pagar atau Lahan atau Jerat

Adapun hukuman orang memaling pagar, atau alahan, atau jerat itu, jikalau telah dapat tanda baitinya, maka dendanya: Lima kupang, lima busuk, sekupang, sepiak, empat kundi.


Hukuman Orang Memaling Supedas atau Kunyit atau Tanaman yang Berisi dalam Tanah

Adapun hukuman orang memaling supedas atau kunyit atau tanaman yang berisi dalam tanah, jikalau telah dapat tanda baitinya, maka dendanya: Lima emas, Lima kupang, sepiak, empat kundi.


Hukuman Orang Memaling Sirih atau Pinang atau Buah-buahan yang Lain yang Sebangsanya

Adapun hukuman orang memaling sirih atau pinang atau buah-buahan yang lain yang sebangsanya, jikalau telah dapat tanda baitinya, maka dendanya: Lima busuk, Sekupang, Sepiak, Empat kundi.

Demikianlah tersebut dalam Tambo adat lama yang dipakai orang tentang hukuman maling curi masa dahulu. Dalam pada itu, adalah pula pancung perengnya yang tersebut masing-masing itu, yakni tinggi rendahnya, atau bersar kecilnya hukuman tersebut, dan setinggi-tingginya ialah sebanyak yang tersebut dalam masing-masing bagian itu.

Dan yang serendah-rendahnya tidak boleh kurang dari sekupang, Sepiak empat kundi. Maka sekarang segala hukum hukum yang tersebut di pasal 19. Ini sekali-kali tidak boleh dihukum lagi dalam sebuah nagari Minangkabau ini, karena ada undang-undang baru yang diperbuat pemerintah Belanda, buat pengganti hukuman itu, untuk penjaga keamanan dan keselamatan negeri negeri kita di Minangkabau ini.


Bagaimana kiranya hukum adat Minangkabau itu ...???
Mari kita teliti lebih jauh ....
Mohon ditanya lebih jauh kepa e. Syafnir Abu Na'im Datuak kando Marajo

Wassalam
Buya HMA

Pada 5 April 2010 13:11, andi ko <andi....@gmail.com> menulis:
Sanak Palanta nan tertarik jo sejarah, terutama sejarah hukum

Undang-undang simbur cahaya adalah undang-undang tertulis sejak Abad XVII di daerah kerajaan Palembang Darussalam. Aslinya UU ini ditulis dengan huruf arab yang diciptakan oleh Ratu Senuhun Seding kira-kira tahun 1630.

Contoh aturan

1. Jika orang berjual beli, menggadai, sewa menyewa atau meminjam sawah, kebun ladang atau barang-barang lain yang tetap, yang tidak dapat diangkat hendaklah dilakukan berterang-terang didepan pesirah (Pasal 26 ayat 1)
2. Jika seseorang menggadaikan sawah, kebun atau ladang dengan tidak mengadakan sesuatu perjanjian, maka sawah, kebun atau ladang itu tidak boleh ditebus oleh orang yang memegang gadai itu sebelum hasilnya dipungut (pasal 26 ayat 2).

1. Seorang laki-laki yang melingkas (mengintai) perempuan mandi (bekarung jenguk-jengal namanya) dikenakan denda 4 ringgit.
2. Jika bujang gadis berjalan bersama-sama dan bujang merebut kembang dari kepala gadis (lang menarap buaya namanya) maka bujang itu dikenakan denda 2 ringgit.

Cubo sanak bandiangkan jo undang-undang nan 20 jo nan 8 di Minangkabau, kiro-kiro sia nan daulu mambuek undang-undang ko, palembang atau kito di Minangkabau.

Salam

andiko sutan mancayo

--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe



--
Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min sakhati-ka wa an-naar
Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu Rabbana innaka ghafuurun rahiim.

Syafroni (Engineering)

unread,
Apr 5, 2010, 4:02:08 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com, Uli Kozok

Buya yth dan dunsanak di palanta

 

Bisa dijelaskan ttg macam2 jumlah denda di masa lampau spt yg tertulis dibawah, misalnya setahil sepaha itu berapa?

Sepertinya ada kemiripan istilah dg naskah UU Tanjung Tanah yg diungkap oleh Pak Kozok.

tengah tiga emas- Lima Kupang- Lima busuk- sekupang- sepihak empat kundi

setahil-sepaha- sepuluh emas- lima kupang- lima busuk- sekupang- sepiak- empat kundi

 

pertanyaan:

bagaimana hubungan : tahil, paha, emas, kupang, busuk, piak, kundi?

 

Makasih

 

Wassalam

mm





--

Masoed Abidin ZA Jabbar

unread,
Apr 5, 2010, 4:17:58 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com, Syafroni (Engineering)
Assalamu'alaikum Wr.Wb,

e. MM... Yth,

Perhitungan Uang Lama dan Uang Baru

Kesatu:
Adapun pada masa dahulu, sebelum kita dijajah oleh bangsa dari Barat, Nenek moyang kita mempergunakan emas sebagai uang (alat untuk tukar-menukar). Emas itulah yang dijadikan uang. Sampai kini menjadi sebutan juga. Kalau orang kaya dikatakan banyak emas, kalau orang miskin dikatakan tidak bermas.

Begitupun kalau hukum menghukum perkara, uang jurah dinamakan Thail emas.
Dan uang yang tidak kuasa membayar denda adat, dihukumkan tidak beremas, mati namanya, dan lain sebagai sebutan emas itu. Maka adalah menurut perhitungan orang dahulu. Emas itu yang dikata seuang “berat enam kundi” yaitu emas yang seperti serbuk halusnya, ditimbang denga neraca, seberat enam buah kundi. Dengan itulah orang menentukan berat se uang, sampai kepada berat sepiak- se emas- se paha – se tahil dan seterusnya sampai berapa banyaknya.

Emas itu ditimbang menjadi perhitungan uang buat penukar pembeli dan perhitungan yang sekecil kecilnya, ialah beras semiang namanya, yaitu berat sebuah kulit padi dan berat sebuah melukut ujung berat. Diatas itu berat sepadi dan berat seberas namanya.

Di atas itu setengah uang namanya yaitu berat tiga kundi.
Begitulah yang sekecil-kecilnya, dan kelipatannya keatas ialah: Yang setali tiga uang, yang sekupang enam uang, yang seemas empat kupang, yang setahil enam belas emas, yang sebusuk enam piak (sekupang) piak namanya, dan disebut orang juga tiang belas namanya kata orang dahulu, yang sekati dua puluh tahil, begitulah jalan perhitungan uang orang-orang masa dahulu, hingga berlipat-lipat sampai beberapa banyaknya.

Maka pada abad kelima belas (ke-15), masuklah orang Portugis dan orang Spanyol ke tanah kita ini, maka orang Spanyol itu membawa perhitungan RIAL kemari, yaitu rial seperti namanya. Itulah mulanya orang kita menyebut Rial. Yang serial itu sama dengan satu Mas.

Dan kira-kira dalam abad ke-17 masuk pula orang Inggris dan orang Belanda ke tanah kita ini, maka orang Belanda membawa yang terbuat dari tembaga, dua macamnya: dan orang Inggris pun membawa pula uang tembaga yang tipis, diantaranya ada yang bergambar ayam maka uang itu dinamakan oleh orang di sini Pitih Mipih (garih) yaitu kependekan dari pada penyebut pitih Anggarih (Inggris) dan pitih yang dibawa oleh Belanda dinamakan orang pitih sirah, maka kedua macam uang itu disebutkan jugan kepeng namanya: sebab terbuat berkeping keping.


Adapun pitih sirah itu bagi Belanda bernama VEREENICE DE OoST INDISCHE COMPAGNIE (VOC). Maka semenjak masuknya pitih sirah dan pitih garih itu, maka perhitungan uang itu yaitu:
a. Beruang enam
b. Beruang delapan
c. Beruang sepuluh

Adapun yang disebut beruang enam itu adalah= 6 pitih sirah 3 pitih segadang = 24 pitih garih.
Adapun yang disebut beruang delapan itu adalah= 8 pitih sirah 4 pitih segadang = 32 pitih segarih.
Adapun yang disebut beruang puluh itu adalah= 10 pitih sirah 5 pitih segadang = 40 pitih segarih.

Kemudian setelah beberapa lama, maka orang Belanda membawa lagi satu macam uang tembaga yang bernama cent dan benggol dan rimis. Maka uang cent dan benggol itu kalau dibawa kepada perhitungan uang yang tiga macam tersebut, adalah seperti di bawah ini perhitungannya:

Yang seuang enam= 5 uang cent = 2 benggol = 10 rimis
Yang seuang lapan= 5 uang cent + 2 keping sirah atau 8 garis = 2 benggol + keping sirah atau + 8 garis
Yang seuang puluh = 71/2 cent + i keping sirah atau + 4 garih = 3 benggol + 1 keping sirah atau 4 garih

Maka semenjak datang uang cent dan benggol itu, pitih sirah dan pitih garih tadi sudah bernama pitih lama namanya. Ialah sudah ada tukarannya yang baharu, yaitu cent dan benggol rimih tersebut. Adapun ketiga macam uang tersebut itu kalau dijadikan – kupang- emas (rial) dan paha atau kati, maka yang setalinya – yang sekupangnya – yang se emasnya, yang sepahanya ataupun sekatinya, ialah menurut kelipatan dari masing-masing uang itu (yang tiga macam itu)

Yang setali uang enam = tiga kali seuang enam, yaitu 18 pitih sirah
Yang setali uang lapan = tiga kali seuang lapan yaitu 24 pitih sirah
Yang setali uang puluh = tiga kali seuang puluh yaitu 30 pitih sirah
Yang setali uang garih = tiga kali seuang garih yaitu 18 pitih garih.

Itulah yang dikatakan setali tiga uang, yakni sama-sama tiga uang, tetapi perhitungannya tiadalah sama, melainkan berlainan. Sebagaimana tersebut di atas. Begitulah kelipatan masing-masing uang itu ialah menurut kelipatan masing-masing (bilangan) uang itu pula, kalau dibawa kepada kupang, emas, paha, tahil, kati, dan seterusnya sampai beberapa banyak


Kedua:
Adapun yang dikatakan sebusuk, atau tiang belah tersebut di atas tadi, kalau dibawa kepada perhitungan uang baru sekarang, ialah sama dengan 60 cent banyaknya/


Ketiga:
yang sepihak, ialah 12 pitih sirah = 10 cent = 48 garih harganya, perhitungan itu tidak berselisih, melainkan sama buat se-Alam Minangkabau


Keempat:
Kalau perhitungan uang lama itu dibawa kepada uang perak, boleh dipakai penimbang emas yaitu seperti di bawah ini:

Berat sebuah uang mimik, ialah setengah emas, atau 12 kundi
Berat sebuah uang tali ialah kira-kira se-emas empat buncis, atau 28 kundi
Berat sebuah uang suku, tetap dua dan berat sebuah rupiah tetap empat emas. Itulah uang perak yang dipakai orang penimbang emas di Minangkabau.


Kelima:
Yang dikatakan sepating setali banyak, ialah setali banjak,- ialah tiga uang emas = 18 keping sirah, yaitu kelipatan dari dua kali tengah dua uang enam (dua kali 9 pitih sirah), artinya sekali lipat: begitulah tali banjak. Sekali lipat pula kiri kanan, yang satu tali bajak itu, demikianlah perhitungan uang lama dan uang baru di masa itu.


Keenam:
Mulai Indonesia merdeka uang itu berubah lagi: yaitu: 1 cent, 5 cent, 10 cent, 25 cent (satu tali), 50 cent, 100 cent (satu rupiah).

http://www.facebook.com/note.php?note_id=274717363819&comments


Wassalam
Buya HMA

--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

andi ko

unread,
Apr 5, 2010, 4:39:13 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com
Buya jo Sanak Roni

Tarimo kasih atas penjelasannyo.

Sependek yang ambo pahami, prinsip-prinsip hukumnyo tantu tetap berlangsung dan harus di jago, misalnyo bahwa mencuri itu harus dihukum, itu harus tetap ada, kecuali ayia alah baliak ka mudiak, sabab itu adat nan sabana adat. Tapi kalau jenis hukumannyo, tantu harus disesuaikan jo perubahan zaman. Mungkin jenis jo hukuman jo hukum acara peradilannyo harus lebih canggih sahinggo betul-betul efektif untuk manjago ketentraman di nagari.

Ciek lai nan pantiang adolah baa manjago niek hukum adat sebagai alat untuak manjago keharmonisan kosmis alam masyarakat ko indak malompek ka metode hukum positif yang arah penghukumannyo adolah pembalasan, sahinggo rekonsiliasi antaro korban jo pelaku indak pernah terjadi dan menyisakan dendam yang berkepanjangan. Sebaliknya bagaimana pulo manjago hukum adat memang menimbulkan efek jera yang mendidik.

Kalaulah dalam konggureh kebudayaan nanti ado satu paper dan pemateri membahas masalah hukum adat ko dan baa mengkontekstualkannyo dalam situasi kini, tentu akan manjadi pangajangi nan lapuak dan panyisik nan jarang. mampatarang prinsip-prinsip hukum adat nan duduaknyo di adat nan sabana adat.

Salam

Andiko Sutan Mancayo

andi ko

unread,
Apr 5, 2010, 4:43:01 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com
Sanak Roni

Mungkin sajo pado suatu masa, kerinci iko ado dalam tarikan politik antaro Palembang jo Minangkabau. Tapi paralu di etong juo posisi politik Jambi (sepucuk jambi, sembilan lurah).

Salam

andiko

Pada 5 April 2010 15:02, Syafroni (Engineering) <syaf...@mkpi.panasonic.co.id> menulis:

Masoed Abidin ZA Jabbar

unread,
Apr 5, 2010, 4:49:15 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com
Tarimokasih Andiko ..
Andak no,
nan lai ba pangatahuan dalam tantang hukum adaik ko wajib tampil ka muko...
Kok salamo ko kibilaik hukum awak ka Ulando, Parancih, Inggirih,
atau Juruman sakalipun Arab bagai,
Cubo juo bandiengkan jo hukum lamo nan panah awak punyo ...
Ko no kajian rancak kok di bukak ...
Mudah mudahan sajo ado nan tabik pangana malanjuik an ...
Baitulah Andiko ..
Dek Buya nan sangaik manarik adolah ...
[ .... urang Minangkabau sabana no etnis nan sadar hukum ....]
mangko dek itu wak no maju sajak sa isuak ...
sabaliek no, kutiko hukum di pamainkan no ...
saroman kini ko lah nan tajadi ...
wallahu a'lamu bis-shawaab ...
Rila jo maaf di minta ka Andiko ...

Wassalam
Buya HMA

--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

andi ko

unread,
Apr 5, 2010, 4:55:26 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com
Buya HMA yang baik

Tarimo kasih atas penjelasannyo

Sapendek pemahaman ambo, prinsip-prinsip hukumnyo harus tetap terjaga karano itulah adat nan subana adat, misalnyo mencuri itu harus dihukum, itu prinsip yang ndak buliah hilang, salamo gagak masih hitam, salamo ayia alun babaliak kamudiak. Samantaro jenis hukuman, tantu harus disesuaikan jo perkembangan zaman agar hukum adat mencapai tujuannyo untuak manjago harmonisasi kosmi alam minangkabau tampek tumbuahnyo masyarakat adat nantun.

Agak babeda jo hukum positif nan mendasari hukumannyo pada pembalasan, sulik menemukan rekonsiliasi antaro korban jo pelaku, seperti yang dijembatani dek hukum adat melalui serangkaian prosesi adat. Katiko rekonsiliasi iko indak terlembaga di hukum positif selain soal pembalasan yang kadang pembalasan itu juga diwakili negara, cendrung menimbulkan dendam yang turun temurun.

Tapi disisi lain, hukum adat juga makin melemah karena masyarakat adatnyo alah sajak lamo melakukan pilihan hukum. Kalau hukum negara lebih menguntungkan, mako inyo pakai hukum negara. contoh kasusnyo adolah pangulu yang ditangkok polisi karena menegakkan hukum adat sumbang yang pernah dilewakan di palanta.

Ado baiknyo hal iko dibicarakan di konggureh yang akan dilakukan nanti.

Salam

Andiko Sutan Mancayo

Pada 5 April 2010 14:55, Masoed Abidin ZA Jabbar <buyamaso...@gmail.com> menulis:

Syafroni (Engineering)

unread,
Apr 5, 2010, 5:04:16 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com

Mokasih Da Andiko Sutan Mancayo

 

Menarik juo utk dikaji dan dipalajari baa system dan tatanan hokum di minangkabau/melayu di maso lampau.

Soal hokum ko sangat menentukan perkembangan suatu peradaban (suatu bangsa). Kalau hokum tegak, tantu negeri makmur, rakyat sejahtera. Mangko peradaban dari bangsa tsb akan balanjuik taruih…

 

Tp kalau sabaliaknyo, indak ado kepastian hokum. Mangko dipastikan peradaban (juo kebudayaan) dari bangsa tsb akan musnah dan punah dg sendirinyo.

 

 

Wassalam

mm


From: rant...@googlegroups.com [mailto:rant...@googlegroups.com] On Behalf Of andi ko
Sent: Monday, April 05, 2010 3:43 PM
To: rant...@googlegroups.com
Subject: Re: Undang Undang Minangkabau di dalam Tambo ... Re: [R@ntau-Net] UU Simbur Cahaya dengan UU 20-8 Minangkabau

andi ko

unread,
Apr 5, 2010, 5:08:04 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com
Buya yang baik

Ambo sangaik satuju jo apo nan buya sampaikan. Memang hukum indak berlaku diruangan nan hampa, baa hukum itu berjalan, tergantung pada manusianyo juo.

Ambo usul baa kalau dimintak DR. Kurniawarman dari FHUK UNAND menjadi pemakalah ciek di konggureh bisuak. Baliau kok banyak maneliti tentang topik hukum adat Minangkabau.

Banyak maaf pulo dari ambo

Salam

Andiko

Masoed Abidin ZA Jabbar

unread,
Apr 5, 2010, 5:23:31 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com
Andiko Yth,
Sasuai Andiko,
Suai bana.. cuma sajo di ingek kan bahaso nan sadang di bahas ko
adolah hukum nan aplikatif, indak samato teori hukum adaik sajo....
Sebaik no Konggureh tu adolah mambicarokan "nilai-nilai Minang nan aplikatif " tu...
bukan hanyo sekedar nostalgia sajo ...
soal limbago nan ka manjalankan ...???
awak kan alah punyo kerangka "bajanjang naiek, batanggo turun"..
aratino manuruik pemahaman Buya adolah "bottom up" ...
jadi indak paralu lo di diktekan baa bantuak limbago no ...
kalau nilai alah disapakati ...
ujuang no pastilah "adaik di isi limbago di tuang " ...
Kan baitu nan lazim no Andiko ...
Maaf jo Rila Buya minta...

Wassalam
Buya HMA

--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

azmi abu kasim azmi abu kasim

unread,
Apr 5, 2010, 7:00:02 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com, "Masoed Abidin ZA Ja...@gmail.com, "Suryadi sunu...@let.leidenuniv.nl, "Lies Suryad...@yahoo.co.id, Dr.Saafroedin BAHAR, Datuak Endang
Assalamualaikum w.w

Buya MAH , Bapak  Andiko sarato dunsanak dipalanta nan ambo hormati,

Sato ambo saketek Buya, mamang menarik nan Buya sampaikan tentang hukum adat Minangkabau, ado papatah nan takana diambo yaitu :

“Adat bapaneh, Syarak Balindung”  pengertiannyo kalau indak salah adolah bahwa kedua-duanya adolah aturan atau hukum. Setiap hukum atau aturan tentu ado sangsinyo, adapun sangsinyo adolah sbb :

  1. Sangsi hukum adat adolah menyangkuik moral dan  pelaksanaan hukumnyo  adolah didunia.
  2. Dan hukum syarak atau agamo sangsinyo adolah berdosa apabila dilanggar, dan pelaksaan hukumnyo adolah di akirat, yaitu masuak narako.

Kalau tidak salah dalam hukum adat ado yang namonyo, “ba abu bagantiak, bakuma basasah”. Mako jika seseorang melanggar hukum seperti,  Sumbang Salah” (1) Sumbang yalah perbuatan yang disebut “ buruak rupo salah cando, buruak pandangan mato cacek pandangan hati”, jika  ini yang terjadi, maka hukumannyo adolah “ba abu bagantiah”  (2)  Sedangkan,  salah yalah telah terjadi suatu kesalahan besar, yaitu lah marompak paga larangan, lah taserak malu ka bumi tabayang aib ka langik, yaitu seperti perbuatan Zina. Jika ini yang terjadi maka hukumannyo adolah , “bakuma basasah”

Untuak menjatuhkan hukuman, tentu harus ada pengadilan adat, yang mengaadili dengan dasar “ Sah dakwa berkelangkapan, batal dakwa berpalilat, jika dakwa akan di timbang, tanda dan bukti harus dilihat “  maksudnya adalah, sahnya suatu dakwaan atau tuntutan, harus dilengkapi dengan bukti dan sanksi-saksi. Dan dakwa dapat batal, jika berpalilat atau cacat hukum. Dikaruak saabih saung, diawai saabih raso, kok bahulu di mudiak-I, kok bamuaro di tajuni. Di timbang samo barek, diukua samo panjang, di uji samo merah. Jikok hal tersebut telah di lakukan, dan terbukti seseorang itu bersalah, dan didukung oleh bukti dan saksi-saksi, disitulah baru jatuah hukum, sesuai dengan bentuk pelanggaran. Dan yang bersangkutan terkucil dari masyarakat, indak di bao sahilia samudiak, kok tibo di elok indak di bao baimbauan, kok tibo di buruak indak bao baambauan, kok masuak indak ganok kok kalua indak ganjia, sampai yang bersangsukutan menyadari kesalahannya. Jika telah menyadari kesalahannya, dia dapat tobat, “ tutua tobat salah mempabaiki, salah pada munusia mintak maaf, salah kepada Allah mintak ampun” dengan membayar kesalahan menurut aturan adat, di isi Adat di lingka Carano, tanasi kuning tasinggang ayam, dan di tentukan denda seperti yang buya terangkan dibawah ini.

Namun, pada saat ini hak mengngadili bagi masyarakat Adat, itu kan sudah  di cabut kalau indak salah pada UU no. 14 tahun 1970, yang ada sekarang hanyalah sepat Mediasi atau mendamaikan. 

Demikianlah nan dapek ambo sampaikan sesuai dengan yang ambo ketahui, dan ini hanyalah sebagai pedoman sajo, tidaklah berarti begitu seluruh Minangkabau, tentu juga ada perbedaan dari setiap nagari, sesuai dengan aturan Adat nan salingka nagari. Bak ibarat padi salibu, jikok ado nan bonek nak samo kito naikkan ka rangkiang, tapi koknyo ambo, bialah nak tingga di pamatang ka luluak banto jadi juo. Mohon maaf jikok ado nan salah, dan terima kasih ateh perhatian.

Wassalam,

Azmi Dt.Bagindo

--- Pada Sen, 5/4/10, Masoed Abidin ZA Jabbar <buyamaso...@gmail.com> menulis:

"
Apakah saya bisa menurunkan berat badan?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! "

Ahmad Ridha

unread,
Apr 5, 2010, 7:05:03 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com
2010/4/5 azmi abu kasim azmi abu kasim <azmi_libr...@yahoo.co.id>
>
> Assalamualaikum w.w

Wa'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,

Dt. Bagindo,

...


> Dan hukum syarak atau agamo sangsinyo adolah berdosa apabila dilanggar, dan pelaksaan hukumnyo adolah di akirat,
> yaitu masuak narako.
>

Bagian nan iko memunculkan pertanyaan dek dalam syara' ado pulo
hukuman-hukuman nan dilaksanakan di dunia misalnyo aturan hudud.

--
Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

andi ko

unread,
Apr 5, 2010, 7:11:02 AM4/5/10
to rant...@googlegroups.com
Manolah mamak datuak, mamak kanduang dan gadang basa batuah.

Apo nan mamak sampaikan memang batua. Kini ko peradilan adat hanyo bersifat mediasi jo mandamaikan sajo. Setelah berlangsung lamo, ternyata peradilan negara yang sentralistik banyak menimbulkan masalah baik mengenai perasaan keadilan masyarakat yang acok terabaikan, sampai ka tunggakan pakaro nan indak beres-beres. Menyikapi itu, sajak beberapa tahun lalu, World Bank mancubo mengembangkan program penguatan peradilan lokal iko dengan judul program Justice For The Poor. Intinyo baa mempermudah akses terhadap keadilan bagi masyarakat. Setahu ambo program iko juo di ujicoba di Afrika. Untuak di Indonesia salah satu wilayah penelitiannyo adolah Minangkabau, ambo lai simpan hasil panelitian baliau-baliau ko.

Kedepan ambo duga, peradilan negara iko akan semakin kecil perannyo karano indak efisien jo jauah dari perasaan keadilan. Inisiatif-inisiatif lokal akan semakin menguat. Kini tingga di kito mampajuangkan tagaknyo kumbali payuang panji di balai adat, tagak baliak si Dubalang, kok japuik yo tabao.

Salam

andiko sutan mancayo

Datuk Endang

unread,
Apr 9, 2010, 1:43:19 PM4/9/10
to rant...@googlegroups.com, suli...@yahoogroups.com, minan...@yahoogroups.com
Dt. Bagindo dan Buya HMA yth.
Iyo alah banyak curaian adat nan disampaikan, malah tibo dari buya sendiri. Untuak undang-undang 20 alah banyak versi, tagantuang langgam masiang-masiang daerah, nan bararti peraturan itu hidup dan berkembang dalam masyarakat. Babarapo tahun nan lalu kami dari KAN-SA alah pernah mancubo mamodifikasi UU20 sasuai jo katantuan syarak dan sistem hukum nasional, dan tantu mamparatikan HAM. Kok dapek memang bahan-bahan iko dapek dirumuskan baliak supayo manjadi 'standar' dalam hukum adat kito kini. Kok dapek memang paralu musyawarah khusus mambicarokan hal itu.
Baitu disampaikan.
 
Wassalam,
-datuk endang


--- On Mon, 4/5/10, azmi abu kasim azmi abu kasim <azmi_libr...@yahoo.co.id> wrote:
Assalamualaikum w.w

Buya MAH , Bapak  Andiko sarato dunsanak dipalanta nan ambo hormati,

Sato ambo saketek Buya, mamang menarik nan Buya sampaikan tentang hukum adat Minangkabau, ado papatah nan takana diambo yaitu :

“Adat bapaneh, Syarak Balindung”  pengertiannyo kalau indak salah adolah bahwa kedua-duanya adolah aturan atau hukum. Setiap hukum atau aturan tentu ado sangsinyo, adapun sangsinyo adolah sbb :

  1. Sangsi hukum adat adolah menyangkuik moral dan  pelaksanaan hukumnyo  adolah didunia.
  2. Dan hukum syarak atau agamo sangsinyo adolah berdosa apabila dilanggar, dan pelaksaan hukumnyo adolah di akirat, yaitu masuak narako.

Kalau tidak salah dalam hukum adat ado yang namonyo, “ba abu bagantiak, bakuma basasah”. Mako jika seseorang melanggar hukum seperti,  Sumbang Salah” (1) Sumbang yalah perbuatan yang disebut “ buruak rupo salah cando, buruak pandangan mato cacek pandangan hati”, jika  ini yang terjadi, maka hukumannyo adolah “ba abu bagantiah”  (2)  Sedangkan,  salah yalah telah terjadi suatu kesalahan besar, yaitu lah marompak paga larangan, lah taserak malu ka bumi tabayang aib ka langik, yaitu seperti perbuatan Zina. Jika ini yang terjadi maka hukumannyo adolah , “bakuma basasah”

Untuak menjatuhkan hukuman, tentu harus ada pengadilan adat, yang mengaadili dengan dasar “ Sah dakwa berkelangkapan, batal dakwa berpalilat, jika dakwa akan di timbang, tanda dan bukti harus dilihat “  maksudnya adalah, sahnya suatu dakwaan atau tuntutan, harus dilengkapi dengan bukti dan sanksi-saksi. Dan dakwa dapat batal, jika berpalilat atau cacat hukum. Dikaruak saabih saung, diawai saabih raso, kok bahulu di mudiak-I, kok bamuaro di tajuni. Di timbang samo barek, diukua samo panjang, di uji samo merah. Jikok hal tersebut telah di lakukan, dan terbukti seseorang itu bersalah, dan didukung oleh bukti dan saksi-saksi, disitulah baru jatuah hukum, sesuai dengan bentuk pelanggaran. Dan yang bersangkutan terkucil dari masyarakat, indak di bao sahilia samudiak, kok tibo di elok indak di bao baimbauan, kok tibo di buruak indak bao baambauan, kok masuak indak ganok kok kalua indak ganjia, sampai yang bersangsukutan menyadari kesalahannya. Jika telah menyadari kesalahannya, dia dapat tobat, “ tutua tobat salah mempabaiki, salah pada munusia mintak maaf, salah kepada Allah mintak ampun” dengan membayar kesalahan menurut aturan adat, di isi Adat di lingka Carano, tanasi kuning tasinggang ayam, dan di tentukan denda seperti yang buya terangkan dibawah ini.

Namun, pada saat ini hak mengngadili bagi masyarakat Adat, itu kan sudah  di cabut kalau indak salah pada UU no. 14 tahun 1970, yang ada sekarang hanyalah sepat Mediasi atau mendamaikan. 

Demikianlah nan dapek ambo sampaikan sesuai dengan yang ambo ketahui, dan ini hanyalah sebagai pedoman sajo, tidaklah berarti begitu seluruh Minangkabau, tentu juga ada perbedaan dari setiap nagari, sesuai dengan aturan Adat nan salingka nagari. Bak ibarat padi salibu, jikok ado nan bonek nak samo kito naikkan ka rangkiang, tapi koknyo ambo, bialah nak tingga di pamatang ka luluak banto jadi juo. Mohon maaf jikok ado nan salah, dan terima kasih ateh perhatian.

Wassalam,

Azmi Dt.Bagindo--- Pada Sen, 5/4/10, Masoed Abidin ZA Jabbar <buyamaso...@gmail.com> menulis:

Masoed Abidin ZA Jabbar

unread,
Apr 9, 2010, 9:12:47 PM4/9/10
to rant...@googlegroups.com, datuk_endang@yahoo.com, Dr.Saafroedin BAHAR, Lies Suryadi, Suryadi sunuri, azmi_libr...@yahoo.co.id
Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Manolah e Datuak Endang ...
Itu bana nan dimukasuik ...
Menyusunkan baliek nilai nilai utama nan alah kito punyo ...
kemudian merumuskannya sesuai jo kehendak zaman jo maso ...
sahinggo "adaik bapakai baru, baju bapakai usang" ....
iko nan labieh paralu daripado awak basitegang manantukan limbago no ...
Alah Buya sampaikan juo tantangan peran Tungku Tigo Sajarangan ...
supayo langkok kekuatan awak nan di nagari ...
Buya indak ka mamuji nan batarang-tarang doh Pak datuak,
karano takuik dek pitua rang tuo tuo awak juo ...
 "puji kok ka mambunuah, upek kok lai ka ma iduik i ..."
Tapi nan jaleh KAN SA salamo ko alah berhasil
mengundangkan baliek UU nan 20 tu ...
ka dea no kito maniru kan nan alah bahasil ...???
Iko nan tabayang dek Buya ...
Maaf jo rila nan Buya pinto ...
Wassalam
Buya HMA



--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages