Nan maratok padi salibu
Tumbuah sarumpun jo nan boneh
Kmd. Andiko sarato Dunsanak di Palanta
Ambo nak minta tahu satantangan nan dimukasuik padi Salibu
Kok kecek kawan ambo (Drs. Noor Indones anggota palanta juo, tapi kini indak muncul lai !)
padi salibu itu indak tumbuah basamo samo jo padi nan ditanam urang, tapi tumbuah dari biji padi nan tasiso di jarami sesudah musim panen.
Padi nan tumbuah sendiri, indak sangajo ditanam ka jadi makanan Kabau jo Jawi.
Dulu wakatu jaman
bumi sanang, padi manjadi, sasudah urang manyabik, jarami dibiakan mambusuak/hancur tingga di tangah sawah manjalang musim tanam berikutnyo, mako di situlah tumbuah salibu alias padi nan indak dibutuhkan petani.
Iko perumpamaan padi salibu.
Telah dibaca oleh: 904 orang.
Jaan dibiakan manjadi padi salibu
Yth. Pak Sjaafroedin Bahar (ketua Panitia Pengarah Mubes Gebu Minang),
sbaha...@yahoo.com
Bersama ini saya ingin mengirim email ke Gubernur sebagai tanggapan terhadap kata sambutan Gubernur pada pembukaan Mubes Gebu Minang ke IV yl.
Ada attach scaning tentang program
One laptop per one child rekomendasi WSIS November 2005 di Tunisia yang perlu segera ditanggapi pula oleh Pemda.
Minta pertimbangan Bapak apakah email ini dikirim ke seluruh alamat pengampu atau hanya ke Gubernur saja.
Terma kasih
Wassalam
Abraham Ilyas
Ringkasan:
1. Hasil penelitian --->
kontribusi sektor pendidikan dan pendidikan tenaga kerja bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia masing-masing sebesar 17 dan 19 persen.
Angka ini jauh di atas kontribusi investasi di bidang industri yang hanya sebesar 4 persen. (terlampir scanning).
2. Pembangunan Sumbar lebih mempromosikan industri menjadi pelayan (otot) daripada industri menjadi tuan (otak). Industri menjadi tuan atau industri otak untuk masa kini adalah bidang Tehnologi informasi yang dapat dikerjakan oleh orang-orang yang terdidik, terlatih dan tidak membutuhkan kawasan industri khusus.
3. Untuk membangun industri ini (otak), pemda membutuhkan ahli-ahli TI. Oleh sebab itu sebagai langkah awal Gubernur hendaknya membentuk dan memperbantukan tim asistensi multimedia dibawah koordinasi Wagub (Professor Doktor).
Ahli-ahlinya direkrut dari PT-PT dari Jawa atau LN yang akan merekayasa masyarakat Sumbar menjadi daerah industri TI (software).
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
24 Desember 2005
Kepada yth
Gubernur Sumatera Barat
Di PadangAssalamualaikum W.W
Izinkanlah saya memperkenalkan diri kepada Gubernur. Nama saya Abraham Ilyas, pensiunan PNS th 2000. Asal nagari Tanjuang Sungayang, Suku Malayu Mandailiang.
Saat ini mengelola situs
www.nagari.org.
Tidak hendak mengajari itiak baranang atau menggurui seluruh urang-urang di ranah, tapi surat-electronik ini ditulis semata-mata karena kecintaan saya kepada tanah tumpah darah di ranah.
Oleh sebab itu bila ada yang kurang berkenan khususnya untuk Bapak, anggaplah itu hanya sebagai surat electronik (email) seorang mamak kepada anggota kaum atau suku ambo sajo di kampuang melalui Pemda yang mengatur orang Minang Kabau di Sumbar.
Tg. 16 17 Desember yl. saya mengikuti Mubes ke IV Gebu Minang di Sawahlunto.
Maksud semula mengikuti mubes di Sawahlunto ialah mempresentasikan situs
nagari.org sekaligus menerima pendaftaran para promotor pembangunan nagari-nagari saiber secara offline (sesuai dengan Surat Wagub Sumbar tg. 15 September 2004) serta menyerahkan proposal pembangunan Sekolah Programer Tehnologi Informasi kepada Gebu Minang.
Seperti kita ketahui bersama, masalah TI atau multimedia menurut para pakar merupakan kunci keberhasilan pembangunan peradaban masyarakat saat ini dan di masa depan.
Mau tak mau pemda Sumbar yang mengurusi sebagian besar masyarakat Minang Kabau akan bersinggungan dengan ini pula.
Dari sambutan tertulis Gubernur yang membahas tentang core pembangunan di Sumbar hal 20 sd 27 semuanya membahas masalah kemiskinan dan ekonomi pembangunan, terutama pariwisata.
Masalah kesehatan balita dan pendidikan hanya disebutkan sepintas lalu saja.
Kalau kita telusuri semua itu (kemiskinan) yang terjadi berfokus dari sumber aslinya yaitu
penataan gizi balita serta mutu pendidikan serta pembentukan keluarga yang tidak berencana.
Ahli gizi Unand beberapa kali mempublikasikan di Sk nasional, saat ini terdapat 54.000 balita yang rawan gizi ().
Bila hal itu benar, maka apapun program ekonomi, pendidikan yang akan dihadiahkan kepada anak-kemenakan kita tsb tak akan bisa lagi mengangkat taraf hidup mereka di masa depan, karena sel-sel otaknya saat ini tidak berkembang sebagaimana mestinya.
Yang bisa dikembangkan kelak, hanya otot-ototnya untuk berkarya sebagai pekerja fisik.
Dari penelitian para ahli, ditemukan penderita schizoprenia (gila, berkepribadian ganda) di Belanda dan Anhui China, dua kali lipat jumlahnya pada anak-anak yang pada masa balita atau saat dikandung ibunya menderita kelaparan.
Hasil UAN 2005 membuktikan, persentase pelajar Sumbar yang tak lulus 2 kali Sumsel dan 4 kali Sulut.
Dulunya, mutu pendidikan di Sumsel jauh di bawah Sumbar sedangkan Sulut boleh dikatakan sama dengan Sumbar.
Begitu pula dengan prestasi kemampuan olah-fisik yang dipresentasikan pada ranking PON yang sudah sama-sama kita lihat hasilnya.
Produk perguruan tinggi di Sumbar juga tidak menggembirakan, lk. 20.000 sarjana saat ini menjadi pencari kerja di Kantor Tenaga Kerja. Angka-angka yang saya tuliskan tersebut berasal dari kutipan koran nasional, disamping angka-angka penderita kemiskinan sekitar 25 sd. 35 persen yang dipublikasikan pemda.
Secara budaya, tak ada orang Minang Kabau yang miskin, tapi kita sudah menjadi bangsa Indonesia
yang tak malu mengaku miskin, dan saya memandangnya itu hanya sebagai akibat kebijaksanaan saja!
Namun lebih dari itu semua, perubahan budaya yang tidak atau katakanlah kurang kita sadari.
Kondisi kita saat ini tak ubahnya dengan apa yang dialami oleh inyiek-datuak kita memasuki penggantian abad ke 19 menuju abad ke 20 (ketika Belanda memperkenalkan ilmu pengetahuan modern dengan menggunakan huruf latin di sekolah-sekolah pemerintah ataupun di sekolah swasta yang dibangun masyarakat).
Belanda tidak menggunakan huruf arab-melayu untuk mengubah masyarakat kala itu.
Satu-satu sukubangsa yang
cepat tanggap pada perubahan media tersebut ialah orang Minangkabau disamping orang Minahasa dan Ambon yang memang telah dikenalkan huruf latin terlebih dahulu.
Hasilnya tidaklah mengherankan pada saat bangsa Indonesia mendapat kemerdekaannya, orang Minang banyak menjadi sastrawan, pemikir dan berperan dalam kehidupan bernegara.
Penggantian abad ke 20 menjadi abad ke 21 umat manusia mengalami revolusi komunikasi generasi ke empat yaitu multimedia atau internet.
Publikasi data (ilmu pengetahuan) begitu luas, murah dan terbuka, belum sepenuhnya kita manfaatkan.
Kita lebih asyik menjadi konsumen barang dari industri tersebut seperti penggunaan HP, Foto, Mesin ketik, ATM, mesin kedokteran, mesin tehnik, chatting, friedster, beremail, dsb. tanpa ikut proses bagaimana barang-barang tersebut sampai bisa dimanfaatkan oleh manusia.
Pada hal ada peluang besar bagi anak-nagari untuk sato sakaki dalam mengembangkan peradaban baru ini.
Disinilah peran industri bidang software (sebagai programer multimedia).
Jangan dibiarkan anak-kamanakan tumbuh menjadi padi salibu, awak tumbuah, musim talampau, urek manumpang ka jarami, batangnyo ka makanan kabau pulo.
Memajukan industri padat modal di kampuang atau menjadikan ranah sebagai tujuan orang asing berinvestasi untuk menanggulangi kemiskinan !
Hal tersebut kalau di
pareso dengan U.U negara kita adalah sah, bahkan dianjurkan oleh pemerintah serta pemilik modal, tapi kalau di
rasokan mungkin akan membawa dampak yang bisa lihat di tempat lain.
Demikianlah dari saya, sekali lagi minta maaf bila tidak berkenan.
Wassalam
Abraham Ilyas
Admin:
www.nagari.orgmin...@yahoo.com
dicopy dari:
http://nagari.or.id/?moda=palanta&no=80