Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.

352 views
Skip to first unread message

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 15, 2009, 9:23:08 AM1/15/09
to Rantau Net
Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
 

Saya percaya bahwa para sanak sekalian telah membaca di media massa bahwa pada hari Sabtu tanggal 10 Januari 2009 yang lalu bahwa Pemangku Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung mewakili seluruh Pucuak Adat Alam Minangkabau yang tergabung dalam Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau,  telah menganugerahkan gelar Sangsako Adat kepada sembilan orang tokoh nasional, baik yang berasal dari daerah Sumatera Barat maupun yang bukan.  Dua orang memperoleh gelar Yang Dipertuan Temenggung Diraja,yaitu Prof Drs H. Soetan Al Rasyid Zein Datuk Sinaro dan Prof Dr. Emil Salim; enam orang mendapat gelar Tuanku Pujangga Diraja, yaitu Mr.. H. Des Alwi, Prof Dr. H Hasjim Djalal, M.A; DR (h.c) Taufiq Ismail; Prof Dr. H. Taufik Abdullah; Ir. H Januar Muin; dan Brigjen Pur Dr H. Saafroedin Bahar;  dan satu orang mendapat gelar Tuanku Muda Pujangga Diraja, yaitu H. Fadli Zon, SS,M.Sc. Oleh karena Prof Drs Harun Al Rasyid Zein Dt Sinaro berhalangan hadir karena gangguan kesehatan, maka destar tanda penghargaan kepada beliau akan diantarkan panitia ke kediaman beliau di Jakarta.

Acara ini selain dihadiri oleh para anggota Limbago Pucuak Adat Alam Minangkabau tersebut, juga dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI Drs A.M Fatwa, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat mewakili Gubernur Gamawan Fauzi, pengurus LKAAM dan Bundo Kanduang Sumatera Barat, Bupati Tanah Datar, dan Bupati Padang Pariaman.

Alasan pemberian gelar -- disertai riwayat hidup masing-masing penerima gelar -- tercantum dalam sebuah booklet berjudul “ Penganugerahan Gelar Sangsako Adat di  Rumah Gadang Yang Dipertuan Gadih Istano Di Linduang Bulan, Pagaruyung, Batu Sangkar, Sumatera Barat, 10 Januari 2009.”. [Sekedar catatan: keterbukaan seperti itu amat bagus, karena seingat saya belum pernah terjadi dalam pemberian tanda penghargaan oleh Pemerintah Pusat sendiri.].

Satu penjelasan penting dalam booklet ini – yang kemudian diulas secara lisan oleh H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH sebagai Tuanku Muda Mahkota Alam --  adalah sebagai berikut: “ Penganugerahan gelar sangsako adat kepada sembilan orang tokoh tersebut bukanlah mengurangi penghargaan kita kepada jasa-jasa dan pengabdian tokoh-tokoh nasional lainnya, yang pada waktunya nanti, Insya Allah akan kita anugerahi pula gelar sangsako adat secara bertahap”.(cursief dari penulis).

Anak kalimat terakhir tersebut merupakan sinyal bahwa penganugerahan ini adalah merupakan ‘kloter pertama’ dari rangkaian penganugerahan gelar sangsako adat kepada tokoh-tokoh nasional lainnya.

Sudah barang tentu saya sangat senang sekali membaca pernyataan ini, bukan saja oleh karena pernyataan tersebut merupakan ‘lampu hijau’ terhadap gagasan saya agar Pagaruyuang mengambil prakarsa dalam mempersatukan seluruh orang Minangkabau pada tataran lintas-nagari di Sumatera Barat, tetapi ternyata juga berani merintis suatu pendekatan baru bagi kegiatan nation-building, tidak saja berupa pemberian bintang dan tanda jasa oleh Negara seperti selama ini, tetapi justru oleh masyarakat sendiri. Tidak top-down, tapi bottom-up.Tidak vertikal, tapi horizontal.  Ini jelas merupakan suatu terobosan baru.

Ada dua pokok penting dalam kata sambutan Prof Dr Emil Salim – anggota Dewan Pertimbangan Presiden – yang mewakili para penerima gelar sangsako adat dari Pemangku Daulat Raja Alam Pagaruyung dalam upacara adat tersebut, sebagai berikut.

Pertama, beliau  menyatakan, antara lain,  bahwa: “ kami sama sekali tidak menduga akan menerima penghargaan setinggii itu, khususnya oleh karena kami sebagian besar berkiprah di luar Sumatera Barat, dan tidak banyak memahami adat Minangkabau”.  Kedua, dalam kemajemukan Bangsa Indonesia setiap suku bangsa selain memelihara baik-baik identitas kebudayaannya,  juga perlu membuka hubungan dengan suku-suku bangsa lainnya.

Dalam suasana informal pasca upacara penganugerahan gelar sangsako tersebut saya membisikkan kepada Sanak H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH dan Dr Ir Puti Raudhah Thaib, agar pada suatu saat harus ada tokoh nasional yang berasal dari Papua yang memperoleh kehormatan tersebut. Secara spontan Sanak H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH merespons bahwa beliau mempunyai seorang calon, yaitu Gubernur Papua Bas Suebu, dahulu sesama aktivis pemuda di KNPI. Saya manggut-manggut setuju.

Dalam wacana di RantauNet sebelum ini telah timbul wacana agar Pagaruyung memberikan gelar-gelar sangsako kepada tokoh-tokoh alim ulama, para cendekiawan, tokoh-tokoh perempuan  Minangkabau, antara lain kepada Buya Mas’oed Abidin, Prof Dr K Suheimi, Suryadi, dan tentunya kepada tokoh-tokoh lain yang tak kurang perannya bagi pembangunan Minangkabau dan Sumatera Barat. Dalam pertemuan di Fakultas Sastra Universitas Andalas beberapa hari kemudian saya mendengar beberapa nama guru besar dan peneliti yang telah menghasilkan karya-karya besar, yang layak diberi penghargaan, baik oleh Negara maupun oleh Masyarakat, dalam hal ini termasuk oleh Pagaruyung.  Saya sangat mendukung gagasan ini, oleh karena baik langsung maupun tak langsung hal itu akan mempererat persatuan sesama orang Minangkabau.

Namun, ada empat  pertanyaan yang menggelitik mengenai pemberian gelar sangsako adat oleh kerabat Pagaruyung ini, yaitu : 1)  apakah sesungguhnya gelar sangsako adat  itu, dan apa yang membedakannya dengan gelar sako ? 2)  untuk apakah gelar bagi para tokoh ini ?, 3)  apakah kerajaan Pagaruyung itu dan 4)  apa posisinya dalam keminangkabauan masa kini dan masa depan ?. Berikut ini adalah pemahaman saya secara pribadi.

Gelar sangsako adat adalah suatu gelar kehormatan adat untuk seseorang, dan tidak ada kaitannya dengan gelar sako, dan pusako. Gelar sako menunjukkan posisi formal dan struktural seseorang dengan suatu kekerabatan matrilineal serta dengan harta pusaka yang dimiliki oleh kaum atau suku di nagari-nagari. Demikianlah, tidak ada gelar sako kehormatan. Sebaliknya, sifat gelar sangsako adat  lebih pribadi, lebih terbuka, dan bisa bersifat lintas nagari, seperti ternyata dalam proses pembahasan yang berlangsung sebelum upacara pemberian gelar ini.

Dengan kata lain, seseorang yang sudah mempunyai gelar sako – seperti yang dipunyai oleh hampir setiap orang laki-laki Minangkabau dan para urang sumando – juga dapat diberi gelar sangsako adat sebagai kehormatan, seperti halnya dengan Prof Drs Harun al Rasyid Zein yang sudah mempunyai gelar sako Datuk Sinaro. [Saya sendiri menyandang gelar sako Soetan Madjolelo dari suku Tanjuang, Kampung Dalam, Pariaman..] Kelihatannya tradisi pemberian gelar kehormatan ini juga dikenal oleh suku-suku lainnya di Indonesia. Kalau saya tidak salah, seorang tokoh pengusaha dari Batak yang bermarga Sinambela pernah diberi gelar kehormatan Kanjeng Ratu Tumenggung dari keraton Solo.

Pemberian gelar kehormatan seperti ini juga terdapat  dalam bidang-bidang kehidupan lain. Dalam dunia akademik, tradisi pemberian gelar kehormatan seperti ini dikenal dengan pemberian gelar doctor honoris causa. Dalam dunia militer, pemberian gelar kehormatan seperti ini dikenal dengan pemberian pangkat titulair. Tidak persis sama, namun pemberian tanda penghargaan Bintang Mahaputra, Hadiah Nobel, Hadiah Magsaysay, atau pemberian Piala Oscar – misalnya – bisa dimasukkan dalam kategori ini.

Saya percaya bahwa para penerima gelar sangsako adat ini, yang sebagian besar sudah menyelesaikan karirnya di tingkat nasional dengan baik dan sudah hidup nyaman di Rantau, secara pribadi tidak  memerlukannya. Beberapa di antara beliau-beliau bahkan sudah menerima tanda penghargaan Negara yang cukup tinggi, seperti Bintang Mahaputra. Prof Dr Emil Salim bahkan menyatakan sama sekali tidak menduga akan mendapat gelar sangsako tersebut.  Namun sudah barang tentu mereka senang dengan penghargaan dan penghormatan masyarakat terhadap kinerja mereka sebelum itu. Hal itu sungguh manusiawi.

Kalau saya tidak salah ingat, rasanya gejala kebangkitan perhatian pada institusi tradisional seperti ini juga terdapat pada banyak negara-negara baru di dunia, yang disebut oleh Ann-Ruth Willner sebagai post-independence neo-traditional accommodation.

Namun, apakah kerajaan Pagaruyung itu dan apakah posisinya dalam keminangkabauan masa lampau dan keminangkabauan masa kini ? Sayang, sampai saat ini belum ada suatu buku baku yang menerangkan sejarahnya. Oleh karena itu, dengan tidak bosan-bosannya secara pribadi saya mendorong berbagai fihak untuk menuliskan sejarah kerajaan ini, yang bagaimanapun juga telah memegang peranan dalam sejarah Minangkabau dan daerah-daerah sekitarnya selama tujuh abad, antara abad ke 14 sampai dengan abad 21 ini. Syukur Alhamdulillah himbauan ini didukung oleh Prof Dr Taufik Abdullah dan telah direspons oleh Prof Dr Gusti Asnan -- guru besar sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas – yang akan mengerahkan para mahasiswa beliau untuk melakukan penelitian. Saya percaya bahwa buku sejarah kerajaan Pagaruyung ini akan selesai dalam dua atau tiga tahun lagi, mengingat bahwa Prof Gusti Asnan sudah banyak menulis buku sejarah Minangkabau ini.

Lebih dari itu, pada tanggal 14 Januari  2009 telah diadakan pertemuan informal di Fakultas Sastra Universitas Andalas di Limau Manih untuk menyusun sebuah buku sejarah Minangkabau yang lebih komprehensif, yang meliputi baik sejarah nagari-nagari yang dipimpin oleh para penghulu, maupun sejarah kerajaan-kerajaan di Minangkabau, yang menurut pemahaman saya bersifat ekstra struktural terhadap nagari-nagari, dan terutama berpengaruh di daerah rantau dan pesisir. Dengan semangat intelektual yang tinggi, telah disetujui terbentuknya sebuah tim penulisan, yang terdiri dari Nopriyasman selaku koordinator yang sekaligus akan menulis sejarah kerajaan-kerajaan di Minangkabau, dengan anggota Zuriatin yang akan menulis tentang nagari-nagari, didukung oleh Prof Gusti Asnan, Ph D, Drs M.Yusuf, M.Hum, Dr. Anatona, M.Hum, Fitra Alida, dan Prof Dr.Nadra,M.A.

Sudah barang tentu setelah manuskrip bisa disusun, masalah berikutnya adalah mencari dana untuk menerbitkannya. Dalam hubungan ini saya pernah diberi informasi oleh Dr Fasli Jalal, Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas, bahwa Depdiknas mempunyai anggaran untuk penerbitan buku-buku, yang kiranya bisa dimanfaatkan. Syukur Alhamdulillah.

Mendahului selesainya buku tersebut, secara pribadi saya melihat ada tiga gelombang kerajaan Pagaruyung, yaitu Pagaruyung/1 yang Hindu Budha; Pararuyung/2 yang Islam; dan Pagaruyung/3 – sekarang ini – yang lebih bersifat kultural. Seperti saya tulis di atas, seluruhnya berada di luar struktur nagari-nagari yang merupakan desa-desa pertanian dan [dahulu] dikelola oleh para penghulu. Bersama dengan berbagai kerajaan dan keraton lainnya di Indonesia, Pagaruyung/3 masih dapat berperan sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2007, yaitu dalam pelestarian  identitas kultural masyarakat hukum adat dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti yang sudah dilakukannya pada tanggal 10 Januari 2009 yang lalu. Dalam hubungan ini utusan berbagai asosiasi keraton dan kerajaan di Indonesia telah ikut aktif dalam Sarasehan Nasional Masyarakat Hukum Adat yang diselenggarakan di Jakarta tanggal 13-14 Desember 2008 yang lalu.

Walaupun peran kultural dari kerajaan Pagaruyung ini juga bisa diemban oleh para pemangku adat – khususnya yang sudah bergabung dalam LKAAM dan Bundo Kanduang – namun karena struktur yang sangat terfragmentasi -- sesuai dengan kaidah ‘adat salingka nagari’ -- peran tersebut sampai saat ini belum dapat dilaksanakan oleh beliau-beliau. Kalaupun ada yang melaksanakan peran tersebut, kegiatan tersebut sifatnya sangat pribadi dan bukan bersifat kelembagaan, seperti yang dilakukan oleh Idrus Hakimy Dt Rajo Penghulu (almarhum), Amir M.S. Dt Manggung nan Sati, atau  Yus Dt Parpatiah Guguak.

Menurut penglihatan saya, kerabat Pagaruyung/3  ini cukup tanggap dengan semangat zaman, yang terlihat dalam prakarsanya memberikan gelar sangsako adat tersebut, baik yang telah diberikan kepada sembilan orang tokoh nasional tersebut, maupun rencananya lebih lanjut untuk memberikan gelar yang sama kepada tokoh-tokoh nasional lainnya, baik yang berasal dari Minangkabau maupun yang bukan. Dengan demikian, kerabat Pararuyung ini telah menempatkan dirinya sebagai salah satu kekuatan kebangsaan yang bertekad untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan dari bangsa yang bermasyarakat majemuk ini. Dapat diduga bahwa pengalaman pribadi Sanak H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH, yang selain cukup lama berkiprah di organisasi kepemudaan KNPI dan berpengalaman selama dua periode sebagai anggota DPR RI, cukup berperan dalam kebijaksanaan ini.

Suatu pertanyaan yang cukup menggelitik untuk dibahas lebih lanjut adalah: apakah peran kelembagaan – dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan -- yang akan diemban oleh para pemangku adat yang menyandang gelar sako dan menjadi pengelola pusako, baik yang bermukim di nagari-nagari maupun yang lumayan banyak bermukim di Rantau ?

Saya tidak mempunyai bahan yang cukup untuk menjawab pertanyaan ini dan senang sekali sewaktu mengetahui – dalam kesempatan sosialisasi Tim Perumus ABS SBK di Jakarta  beberapa waktu yang lalu-- bahwa masalah ini sedang diteliti oleh seorang mahasiswa S2 Universitas Andalas.. Jadi, dalam dua tiga tahun lagi kita akan mendapat gambaran yang agak komprehensif dan aktual mengenai sistem nilai dan struktur sosial Minangkabau serta perannya dalam Minangkabau masa kini, yang selama ini hanya bersandar pada rangkaian asumsi belaka. Sekali lagi, syukur Alhamdulillah.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;

Elthaf (elthaf)

unread,
Jan 15, 2009, 7:12:13 PM1/15/09
to Rant...@googlegroups.com, RGM...@yahoogroups.com, milis-s...@yahoogroups.com, sma...@yahoogroups.com, biaro_t...@egroups.com, tanjun...@googlegroups.com, Imam Suyudi, Yudhi (ISUYUDI), Indrayani, Saanti (sindra)
Bapak Brigjen TNI (Purn) DR. H. Syaafroedin Bahar, SH. Yth,
Ambo ikut mengucapkan tahniah dan selamat atas penghargaan dan penganugerahan gelar ko tarhadok pak Syaaf, kito tahu bagaimana usaho dan kiprah bapak selama bapak di TNI, Sekneg, Komnas HAM dan di milis Rantau Net selalu memberikan yang terbaik buat Minangkabau.
Saya pernah bertemu dan berbincang-bincang dengan bapak, dan saya melihat bapak pantas menerima penghargaan ini.
Sekali lagi selamat dan semoga Allah SWT menganegarahkan limpahan rahmad dan kurnia kepada bapak sekeluarga,
Wassalam,
Elthaf


From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR
Sent: Thursday, January 15, 2009 9:23 PM
To: Rantau Net
Subject: [R@ntau-Net] Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.

Rainal Rais

unread,
Jan 15, 2009, 7:54:32 PM1/15/09
to Rant...@googlegroups.com
Uda Syaf.....Selamat atas pemberian gelar "Tuanku Pujangga Diraja"...semoga memecut yang muda muda untuk berbakti ke tanah air... khususnya ke Ranah Minang yang tercinta...wass Rainal Rais ( L,65,Jkt )


Dari: Elthaf (elthaf) <elt...@chevron.com>
Kepada: Rant...@googlegroups.com; RGM...@yahoogroups.com; milis-s...@yahoogroups.com; Rant...@googlegroups.com; sma...@yahoogroups.com; biaro_t...@egroups.com; tanjun...@googlegroups.com
Cc: "Imam Suyudi, Yudhi (ISUYUDI)" <ISU...@chevron.com>; "Indrayani, Saanti (sindra)" <Sandr...@chevron.com>
Terkirim: Jumat, 16 Januari, 2009 07:12:13
Topik: [R@ntau-Net] Re: Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.

Menurut penglihatan saya, kerabat Pagaruyung/3  ini cukup tanggap dengan semangat zaman, yang terlihat dalam prakarsanya memberikan gelar sangsako adat tersebut, baik yang telah diberikan kepada sembilan orang tokoh nasional tersebut, maupun rencananya lebih lanjut untuk memberikan gelar yang sama kepada tokoh-tokoh nasional lainnya, baik yang berasal dari Minangkabau maupun yang bukan. Dengan demikian, kerabat Pararuyung ini telah menempatkan dirinya sebagai salah satu kekuatan kebangsaan yang bertekad untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan dari bangsa yang bermasyarakat majemuk ini. Dapat diduga bahwa pengalaman pribadi Sanak H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH, yang selain cukup lama berkiprah di organisasi kepemudaan KNPI dan berpengalaman selama dua periode sebagai anggota DPR RI , cukup berperan dalam kebijaksanaan ini.

Suatu pertanyaan yang cukup menggelitik untuk dibahas lebih lanjut adalah: apakah peran kelembagaan – dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan -- yang akan diemban oleh para pemangku adat yang menyandang gelar sako dan menjadi pengelola pusako, baik yang bermukim di nagari-nagari maupun yang lumayan banyak bermukim di Rantau ?

Saya tidak mempunyai bahan yang cukup untuk menjawab pertanyaan ini dan senang sekali sewaktu mengetahui – dalam kesempatan sosialisasi Tim Perumus ABS SBK di Jakarta  beberapa waktu yang lalu-- bahwa masalah ini sedang diteliti oleh seorang mahasiswa S2 Universitas Andalas.. Jadi, dalam dua tiga tahun lagi kita akan mendapat gambaran yang agak komprehensif dan aktual mengenai sistem nilai dan struktur sosial Minangkabau serta perannya dalam Minangkabau masa kini, yang selama ini hanya bersandar pada rangkaian asumsi belaka. Sekali lagi, syukur Alhamdulillah.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;





Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!

Nofiardi

unread,
Jan 15, 2009, 9:09:15 PM1/15/09
to Rant...@googlegroups.com

Selamat dan sukses utk Bapak Saafroedin Bahar atas penganugerahan gelar sangsako adat  “ Tuanku Pujangga Diraja”

Walau semakin panjangnya embel2 dinama bapak, akan tetap meringankan bapak utk tetap mengabdi utk ranah & bangsa tercinta.

Semoga Bapak tetap sehat selalu

 

Selamat & Salam

Nofiardi RM 41    

 


From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com] On Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR
Sent: Thursday, January 15, 2009 9:23 PM
To: Rantau Net
Subject: [R@ntau-Net] Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.

 

Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,

 

Saya percaya bahwa para sanak sekalian telah membaca di media massa bahwa pada hari Sabtu tanggal 10 Januari 2009 yang lalu bahwa Pemangku Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung mewakili seluruh Pucuak Adat Alam Minangkabau yang tergabung dalam Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau,  telah menganugerahkan gelar Sangsako Adat kepada sembilan orang tokoh nasional, baik yang berasal dari daerah Sumatera Barat maupun yang bukan.  Dua orang memperoleh gelar Yang Dipertuan Temenggung Diraja,yaitu Prof Drs H. Soetan Al Rasyid Zein Datuk Sinaro dan Prof Dr. Emil Salim; enam orang mendapat gelar Tuanku Pujangga Diraja, yaitu Mr.. H. Des Alwi, Prof Dr. H Hasjim Djalal, M.A; DR (h.c) Taufiq Ismail; Prof Dr. H. Taufik Abdullah; Ir. H Januar Muin; dan Brigjen Pur Dr H. Saafroedin Bahar;  dan satu orang mendapat gelar Tuanku Muda Pujangga Diraja, yaitu H. Fadli Zon, SS,M.Sc. Oleh karena Prof Drs Harun Al Rasyid Zein Dt Sinaro berhalangan hadir karena gangguan kesehatan, maka destar tanda penghargaan kepada beliau akan diantarkan panitia ke kediaman beliau di Jakarta.

……………………….

……………

Wassalam,
Saafroedin Bahar

(L, masuk 72 th, Jakarta)

Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;

</table


 

The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you.

Boediman Moeslim

unread,
Jan 15, 2009, 9:14:37 PM1/15/09
to Dr.Saafroedin BAHAR, Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi wa barrakatuh.

Nan Mulie Tuanku Pujangga Diraja Dr. Saafroedin Bahar nan kami hormati.
Sabalunnyo kami mohon sambah ka Tuanku sarato salam hormat ka sado rang tuo kami nan mandapek kapicayoan sabagai pamangku sangsako adat dari Nan Mulie
Pemangku Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung.
Kami cukuik bagga bahaso "Urang tuo-Urang tuo" kami mandapek panghargaan gala tasabuik. Walaupun sakileh tacaliek panghargaanko agak talambek dilatakkan ka baliau-baliauko bak kecek uni
Dr Ir Puti Raudhah Thaib sabagai pamangku karajaan, tapi satu langkah lah bahasia dipabuek dek "Kerajaan Minangkabau". Kerajaan nan lah tasohor ka babagai balahan dunie sajak daulunyo. Apo nan di uleh dek Tuanku sangaik bakasan ka diri kami. Nan tadi kami alun tau baa itam putiahnyo, kini lah agak ramang-ramang isi dari kulik nan tasuruak salamoko.
Samantangpun baitu, supayo jaleh sirahnyo isi buah samangko ko, supayo indak banyak manduga-duga apokah sirahtu sirah manyalo nan manih, sirahtu agak mudo, atau samangkoko tanyato samangko kuniang nan maha haragonyo, kamipun bakainginan batanyo nan mungkin patuik kami mangatahuinyo....
Di Minangkabau kalau indak salah, takana kakuatan adat, agama jo nan cadiak pandai. Satantangan jo limbago adat mungkin  disiko ado hubungannyo jo gala-manggala adat atau karajaan awakko. Baa hubungan struktural atau fungsional antaro gala nan tapakai atau panghulu adat/suku jo gala nan talakek sabagai kahormatan dek adonyo baleh budi ka nan mamakai? Baleh budi nan dimakasuik adolah dek adonyo suatu perbuatan nan ka manjadi motivasi bagi urang banyak agar urang banyak bisa balaku jo babuek sarupo nan dibuek dek "urang tuo-urang tuo" awakko. Mudah-mudahan urang tuo kami nan balaku sabagai motivator, inisiator, sekaligus sabagai pejuang dapek manjadi contoh tauladan bagi anak-kamanakan di maso-maso kini dan nan akan datang.  Kalau buliah kami mangatahui, apokah ado perbedaan antaro gala nan balaku (tamasuak hubungan fungsionalnyo) katiko pado wakatu saisuak  jo maso kini? Dan apokah "bisa balaku" bilo tajadi parubahan di maso mandatang? Cuma itu, kalau salah kami manyampaikannyo, mohon maaf sabanyak-banyaknyo. Ituang-ituang pertanyaan-pertanyaanko sabagai pertanyaan anak ka apaknyo, atau kalau di ranah awak dari kamanakan ka mamaknyo. Sakali lagi kami sampaikan salamaik buek "urang tuo-urang tuo" kami nan  lah  di tambah gala dipundaknyo, samoga indak manjadi baban. Dan untuak karajaan Minangkabau, kami ucapkan tarimo kasih atas panghargaan nan dibarikan ka "urang tuo-urang tuo" kami tu.
Akhia kato, dek kami bukan dari urang nan tau sakali lagi kami mohon atas sagalo kakhilafan.

Wassalam,
Tan Lembang (52+ LL) basuku Piliang
Lembang-Bandung

--- On Thu, 1/15/09, Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com> wrote:
From: Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.
To: "Rantau Net" <rant...@googlegroups.com>
Date: Thursday, January 15, 2009, 2:23 PM

Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
 

Saya percaya bahwa para sanak sekalian telah membaca di media massa bahwa pada hari Sabtu tanggal 10 Januari 2009 yang lalu bahwa Pemangku Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung mewakili seluruh Pucuak Adat Alam Minangkabau yang tergabung dalam Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau,  telah menganugerahkan gelar Sangsako Adat kepada sembilan orang tokoh nasional, baik yang berasal dari daerah Sumatera Barat maupun yang bukan.  Dua orang memperoleh gelar Yang Dipertuan Temenggung Diraja,yaitu Prof Drs H. Soetan Al Rasyid Zein Datuk Sinaro dan Prof Dr. Emil Salim; enam orang mendapat gelar Tuanku Pujangga Diraja, yaitu Mr.. H. Des Alwi, Prof Dr. H Hasjim Djalal, M.A; DR (h.c) Taufiq Ismail; Prof Dr. H. Taufik Abdullah; Ir. H Januar Muin; dan Brigjen Pur Dr H. Saafroedin Bahar;  dan satu orang mendapat gelar Tuanku Muda Pujangga Diraja, yaitu H. Fadli Zon, SS,M.Sc. Oleh karena Prof Drs Harun Al Rasyid Zein Dt Sinaro berhalangan hadir karena gangguan kesehatan, maka destar tanda penghargaan kepada beliau akan diantarkan panitia ke kediaman beliau di Jakarta.

Acara ini selain dihadiri oleh para anggota Limbago Pucuak Adat Alam Minangkabau tersebut, juga dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI Drs A.M Fatwa, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat mewakili Gubernur Gamawan Fauzi, pengurus LKAAM dan Bundo Kanduang Sumatera Barat, Bupati Tanah Datar, dan Bupati Padang Pariaman.

Alasan pemberian gelar -- disertai riwayat hidup masing-masing penerima gelar -- tercantum dalam sebuah booklet berjudul “ Penganugerahan Gelar Sangsako Adat di  Rumah Gadang Yang Dipertuan Gadih Istano Di Linduang Bulan, Pagaruyung, Batu Sangkar, Sumatera Barat, 10 Januari 2009.”. [Sekedar catatan: keterbukaan seperti itu amat bagus, karena seingat saya belum pernah terjadi dalam pemberian tanda penghargaan oleh Pemerintah Pusat sendiri.].

Satu penjelasan penting dalam booklet ini – yang kemudian diulas secara lisan oleh H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH sebagai Tuanku Muda Mahkota Alam --  adalah sebagai berikut: “ Penganugerahan gelar sangsako adat kepada sembilan orang tokoh tersebut bukanlah mengurangi penghargaan kita kepada jasa-jasa dan pengabdian tokoh-tokoh nasional lainnya, yang pada waktunya nanti, Insya Allah akan kita anugerahi pula gelar sangsako adat secara bertahap”.(cursief dari penulis).

Anak kalimat terakhir tersebut merupakan sinyal bahwa penganugerahan ini adalah merupakan ‘kloter pertama’ dari rangkaian penganugerahan gelar sangsako adat kepada tokoh-tokoh nasional lainnya.

Sudah barang tentu saya sangat senang sekali membaca pernyataan ini, bukan saja oleh karena pernyataan tersebut merupakan ‘lampu hijau’ terhadap gagasan saya agar Pagaruyuang mengambil prakarsa dalam mempersatukan seluruh orang Minangkabau pada tataran lintas-nagari di Sumatera Barat, tetapi ternyata juga berani merintis suatu pendekatan baru bagi kegiatan nation-building, tidak saja berupa pemberian bintang dan tanda jasa oleh Negara seperti selama ini, tetapi justru oleh masyarakat sendiri. Tidak top-down, tapi bottom-up.Tidak vertikal, tapi horizontal.  Ini jelas merupakan suatu terobosan baru.

Ada dua pokok penting dalam kata sambutan Prof Dr Emil Salim – anggota Dewan Pertimbangan Presiden – yang mewakili para penerima gelar sangsako adat dari Pemangku Daulat Raja Alam Pagaruyung dalam upacara adat tersebut, sebagai berikut.

Pertama, beliau  menyatakan, antara lain,  bahwa: “ kami sama sekali tidak menduga akan menerima penghargaan setinggii itu, khususnya oleh karena kami sebagian besar berkiprah di luar Sumatera Barat, dan tidak banyak memahami adat Minangkabau”.  Kedua, dalam kemajemukan Bangsa Indonesia setiap suku bangsa selain memelihara baik-baik identitas kebudayaannya,  juga perlu membuka hubungan dengan suku-suku bangsa lainnya.

Dalam suasana informal pasca upacara penganugerahan gelar sangsako tersebut saya membisikkan kepada Sanak H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH dan Dr Ir Puti Raudhah Thaib, agar pada suatu saat harus ada tokoh nasional yang berasal dari Papua yang memperoleh kehormatan tersebut. Secara spontan Sanak H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH merespons bahwa beliau mempunyai seorang calon, yaitu Gubernur Papua Bas Suebu, dahulu sesama aktivis pemuda di KNPI. Saya manggut-manggut setuju.

Dalam wacana di RantauNet sebelum ini telah timbul wacana agar Pagaruyung memberikan gelar-gelar sangsako kepada tokoh-tokoh alim ulama, para cendekiawan, tokoh-tokoh perempuan  Minangkabau, antara lain kepada Buya Mas’oed Abidin, Prof Dr K Suheimi, Suryadi, dan tentunya kepada tokoh-tokoh lain yang tak kurang perannya bagi pembangunan Minangkabau dan Sumatera Barat. Dalam pertemuan di Fakultas Sastra Universitas Andalas beberapa hari kemudian saya mendengar beberapa nama guru besar dan peneliti yang telah menghasilkan karya-karya besar, yang layak diberi penghargaan, baik oleh Negara maupun oleh Masyarakat, dalam hal ini termasuk oleh Pagaruyung.  Saya sangat mendukung gagasan ini, oleh karena baik langsung maupun tak langsung hal itu akan mempererat persatuan sesama orang Minangkabau.

Namun, ada empat  pertanyaan yang menggelitik mengenai pemberian gelar sangsako adat oleh kerabat Pagaruyung ini, yaitu : 1)  apakah sesungguhnya gelar sangsako adat  itu, dan apa yang membedakannya dengan gelar sako ? 2)  untuk apakah gelar bagi para tokoh ini ?, 3)  apakah kerajaan Pagaruyung itu dan 4)  apa posisinya dalam keminangkabauan masa kini dan masa depan ?. Berikut ini adalah pemahaman saya secara pribadi.

Gelar sangsako adat adalah suatu gelar kehormatan adat untuk seseorang, dan tidak ada kaitannya dengan gelar sako, dan pusako. Gelar sako menunjukkan posisi formal dan struktural seseorang dengan suatu kekerabatan matrilineal serta dengan harta pusaka yang dimiliki oleh kaum atau suku di nagari-nagari.. Demikianlah, tidak ada gelar sako kehormatan. Sebaliknya, sifat gelar sangsako adat  lebih pribadi, lebih terbuka, dan bisa bersifat lintas nagari, seperti ternyata dalam proses pembahasan yang berlangsung sebelum upacara pemberian gelar ini.

Dengan kata lain, seseorang yang sudah mempunyai gelar sako – seperti yang dipunyai oleh hampir setiap orang laki-laki Minangkabau dan para urang sumando – juga dapat diberi gelar sangsako adat sebagai kehormatan, seperti halnya dengan Prof Drs Harun al Rasyid Zein yang sudah mempunyai gelar sako Datuk Sinaro. [Saya sendiri menyandang gelar sako Soetan Madjolelo dari suku Tanjuang, Kampung Dalam, Pariaman..] Kelihatannya tradisi pemberian gelar kehormatan ini juga dikenal oleh suku-suku lainnya di Indonesia. Kalau saya tidak salah, seorang tokoh pengusaha dari Batak yang bermarga Sinambela pernah diberi gelar kehormatan Kanjeng Ratu Tumenggung dari keraton Solo.

Pemberian gelar kehormatan seperti ini juga terdapat  dalam bidang-bidang kehidupan lain. Dalam dunia akademik, tradisi pemberian gelar kehormatan seperti ini dikenal dengan pemberian gelar doctor honoris causa. Dalam dunia militer, pemberian gelar kehormatan seperti ini dikenal dengan pemberian pangkat titulair. Tidak persis sama, namun pemberian tanda penghargaan Bintang Mahaputra, Hadiah Nobel, Hadiah Magsaysay, atau pemberian Piala Oscar – misalnya – bisa dimasukkan dalam kategori ini.

Saya percaya bahwa para penerima gelar sangsako adat ini, yang sebagian besar sudah menyelesaikan karirnya di tingkat nasional dengan baik dan sudah hidup nyaman di Rantau, secara pribadi tidak  memerlukannya. Beberapa di antara beliau-beliau bahkan sudah menerima tanda penghargaan Negara yang cukup tinggi, seperti Bintang Mahaputra. Prof Dr Emil Salim bahkan menyatakan sama sekali tidak menduga akan mendapat gelar sangsako tersebut.  Namun sudah barang tentu mereka senang dengan penghargaan dan penghormatan masyarakat terhadap kinerja mereka sebelum itu. Hal itu sungguh manusiawi.

Kalau saya tidak salah ingat, rasanya gejala kebangkitan perhatian pada institusi tradisional seperti ini juga terdapat pada banyak negara-negara baru di dunia, yang disebut oleh Ann-Ruth Willner sebagai post-independence neo-traditional accommodation.

Namun, apakah kerajaan Pagaruyung itu dan apakah posisinya dalam keminangkabauan masa lampau dan keminangkabauan masa kini ? Sayang, sampai saat ini belum ada suatu buku baku yang menerangkan sejarahnya. Oleh karena itu, dengan tidak bosan-bosannya secara pribadi saya mendorong berbagai fihak untuk menuliskan sejarah kerajaan ini, yang bagaimanapun juga telah memegang peranan dalam sejarah Minangkabau dan daerah-daerah sekitarnya selama tujuh abad, antara abad ke 14 sampai dengan abad 21 ini. Syukur Alhamdulillah himbauan ini didukung oleh Prof Dr Taufik Abdullah dan telah direspons oleh Prof Dr Gusti Asnan -- guru besar sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas – yang akan mengerahkan para mahasiswa beliau untuk melakukan penelitian. Saya percaya bahwa buku sejarah kerajaan Pagaruyung ini akan selesai dalam dua atau tiga tahun lagi, mengingat bahwa Prof Gusti Asnan sudah banyak menulis buku sejarah Minangkabau ini.

Lebih dari itu, pada tanggal 14 Januari  2009 telah diadakan pertemuan informal di Fakultas Sastra Universitas Andalas di Limau Manih untuk menyusun sebuah buku sejarah Minangkabau yang lebih komprehensif, yang meliputi baik sejarah nagari-nagari yang dipimpin oleh para penghulu, maupun sejarah kerajaan-kerajaan di Minangkabau, yang menurut pemahaman saya bersifat ekstra struktural terhadap nagari-nagari, dan terutama berpengaruh di daerah rantau dan pesisir. Dengan semangat intelektual yang tinggi, telah disetujui terbentuknya sebuah tim penulisan, yang terdiri dari Nopriyasman selaku koordinator yang sekaligus akan menulis sejarah kerajaan-kerajaan di Minangkabau, dengan anggota Zuriatin yang akan menulis tentang nagari-nagari, didukung oleh Prof Gusti Asnan, Ph D, Drs M.Yusuf, M.Hum, Dr. Anatona, M.Hum, Fitra Alida, dan Prof Dr.Nadra,M.A.

Sudah barang tentu setelah manuskrip bisa disusun, masalah berikutnya adalah mencari dana untuk menerbitkannya. Dalam hubungan ini saya pernah diberi informasi oleh Dr Fasli Jalal, Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas, bahwa Depdiknas mempunyai anggaran untuk penerbitan buku-buku, yang kiranya bisa dimanfaatkan. Syukur Alhamdulillah.

Mendahului selesainya buku tersebut, secara pribadi saya melihat ada tiga gelombang kerajaan Pagaruyung, yaitu Pagaruyung/1 yang Hindu Budha; Pararuyung/2 yang Islam; dan Pagaruyung/3 – sekarang ini – yang lebih bersifat kultural. Seperti saya tulis di atas, seluruhnya berada di luar struktur nagari-nagari yang merupakan desa-desa pertanian dan [dahulu] dikelola oleh para penghulu. Bersama dengan berbagai kerajaan dan keraton lainnya di Indonesia, Pagaruyung/3 masih dapat berperan sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2007, yaitu dalam pelestarian  identitas kultural masyarakat hukum adat dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti yang sudah dilakukannya pada tanggal 10 Januari 2009 yang lalu. Dalam hubungan ini utusan berbagai asosiasi keraton dan kerajaan di Indonesia telah ikut aktif dalam Sarasehan Nasional Masyarakat Hukum Adat yang diselenggarakan di Jakarta tanggal 13-14 Desember 2008 yang lalu.

Walaupun peran kultural dari kerajaan Pagaruyung ini juga bisa diemban oleh para pemangku adat – khususnya yang sudah bergabung dalam LKAAM dan Bundo Kanduang – namun karena struktur yang sangat terfragmentasi -- sesuai dengan kaidah ‘adat salingka nagari’ -- peran tersebut sampai saat ini belum dapat dilaksanakan oleh beliau-beliau. Kalaupun ada yang melaksanakan peran tersebut, kegiatan tersebut sifatnya sangat pribadi dan bukan bersifat kelembagaan, seperti yang dilakukan oleh Idrus Hakimy Dt Rajo Penghulu (almarhum), Amir M.S. Dt Manggung nan Sati, atau  Yus Dt Parpatiah Guguak.

Menurut penglihatan saya, kerabat Pagaruyung/3  ini cukup tanggap dengan semangat zaman, yang terlihat dalam prakarsanya memberikan gelar sangsako adat tersebut, baik yang telah diberikan kepada sembilan orang tokoh nasional tersebut, maupun rencananya lebih lanjut untuk memberikan gelar yang sama kepada tokoh-tokoh nasional lainnya, baik yang berasal dari Minangkabau maupun yang bukan. Dengan demikian, kerabat Pararuyung ini telah menempatkan dirinya sebagai salah satu kekuatan kebangsaan yang bertekad untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan dari bangsa yang bermasyarakat majemuk ini. Dapat diduga bahwa pengalaman pribadi Sanak H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH, yang selain cukup lama berkiprah di organisasi kepemudaan KNPI dan berpengalaman selama dua periode sebagai anggota DPR RI , cukup berperan dalam kebijaksanaan ini.

bandaro kayo

unread,
Jan 15, 2009, 9:33:46 PM1/15/09
to Rant...@googlegroups.com, ranah...@geoglegroups.com
Ass wr wb.
Kami atas nama IKKTS (Ikatan Keluarga Kenagarian Tanjung Sani) Mengundang Angku/Bp/Ibu/Sdr.Tokoh Masyarakat Salingka Danau Maninjau Nan Barado di Jakarta dan Sekitarnya,Mengharapkan kehadirannya Pada Hari Sabtu,17 Jan-09,Pukul 10.00 wib.Tempat Pc.Muhammadiyah Jl.Limau III Blok B Kebayoran Baru Jaksel.Agenda Acara:Evaluasi Musibah Yang terjadi di Salingka Danau Maninjau dan Konfrensi Pers dari 4 Media Cetak.
 
Bersama ini Kami Lampirkan Undangannya.
Wass wr wb
 
St.Bandaro Kayo

 

IKATAN KELUARGA KENAGARIAN TANJUNG SANI  

 ( I K K T S )

Sekretariat : GRAHA KIPAS PUTIH

Jl.Hankam No.1 Kebayoran Lama Jakarta Selatan

Telp : (021)7256255 . Fax : (021)7221378

                                                                                     

UNDANGAN

                                                                                         15 Muharram 1430 H

                                                                                           12 Oktober 2009 M

Nomor  :11/IKKTS/2009

                                               

                                                          Kepada Yth.

                                                          Angku/Bpk/Ibu/Sdr/Tokoh Masyarakat

                                                          Salingka Danau Maninjau

                                                          di

                                                          Jakarta dan sekitarnya.

 

Assalamu’alaikum wr. wb.

 

Ba’da Salam semoga kita semua dalam keadaan sehat wal’afiat dan di bawah lindungan Allah SWT. dalam menjalankan tugas sehari-hari. Amin.

Selanjutnya dalam rangka mengevaluasi atas musibah yang terjadi di sekeliling Danau Maninjau,Kami atas nama Ikatan Keluarga Kenagarian Tanjung Sani (IKKTS),mengharapkan kehadiran Pada:

 

       Hari/Tgl     : Sabtu,17 Januari 2009

       Pukul                   : 10.00 WIB

       Acara          :  1. Eveluasi musibah yang terjadi di Salingka Danau                                                                 Maninjau.

                                  2. Akan dihadiri oleh wartawan media cetak untuk

                                      Meliput berita tersebut.

                                  3. Akan dihadiri pula oleh tokoh-tokoh dari salingka

                                       Danau dari kampung.

                                  4. Dll yang dianggap perlu.

       Tempat           :   PC Muhammadiyah Kebayoran Baru

                                  Jl.Limau III  Blok B Kebayoran Baru Jakarta Selatan..

 

Diharapkan Bapak/Ibu dapat hadir tepat pada waktunya.

 

Demikian undangan ini kami sampaikan atas kedatangan dan kehadiran Angku/Bapak/Ibu/Saudara kami ucapkan terima kasih.

 

Wabillahi Taufiq Wal Hidayah.Wassalam’mualaikum wr. wb.

 

        Ketua,                                                                   Sekretaris,

   

                             ttd                                                                                            ttd

        

            

      (H Mustaib Abdul Muis SE .St Pangeran)                    (H Umar Aris SH MM MH)

 

 




Warnai pesan status dengan Emoticon.
Sekarang bisa dengan Yahoo! Messenger baru.

Defiyan Cori

unread,
Jan 15, 2009, 10:28:06 PM1/15/09
to Rant...@googlegroups.com
Maaf Mak Bandaro, kalau nan di lua salingka lai buliah datang...he..he..kok lai sanggang pulo awak..
 
Salam kenal dari ambo, Defiyan Cori,Laki-laki lahia di Solok 27 Mei 1969, Suku Melayu,kampuang Muara Labuah Kanagarian Koto Kaciak, Kab Solok Selatan
 
Segitu dulu dan sukses
 
Wassalam 'Defiyan Cori L/40

--- On Thu, 1/15/09, bandaro kayo <bandar...@yahoo.com> wrote:

aidinil zetra

unread,
Jan 15, 2009, 10:36:26 PM1/15/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamu'alaikum
Yth. Tuanku Pujangga Diraja Brigjen TNI (Purn) DR H. Saafroeddin Bahar, SH
Alhamdulillah, Ambopun ikuik mangucapkan selamat atas penghargaan dianugerahkan kapado Bapak. Ambo sapandapek jo dunsanak nan lain bahaso pemberian penghargaan iko tagolong talambek untuak Bapak. Walaupun ambo baru kenal dan berdialog langsuang jo Bapak pado tahun 1991, tapi malalui buku-buku dan referensi baiak yang Bapak tulih maupun dari panulih lain ambo banyak juo mambaco pemikiran dan kiprah Bapak. Satu pengalaman nan indak pernah kami lupokan sabagai mahasiswa dahulu di Yogya adolah pemikiran boneh Pak Saaf nan disampaikan dalam sebuah seminar yang diadokan Ikatan Mahasiswa Minang Baringin Mudo Ygk tentang Minangkabau dan Perubahan Sosial Budaya tahun 1992, Wakatu itu Pak saaf panel basamo pak Tuangku Pujangga Diraja Prof Dr. Taufik Abdullah. Bahkan untuak hadir pado seminar nan tun Bapak bersedia dengan biaya pesawat sendiri demi mahasiswa Minang wakatu itu. Kami sangaik bersyukur.
Sakali lai selamat Pak Saaf, semoga Allah SWT santiaso malimpahkan rahmat  dan hidayah sarato kekuatan dan kesehatan kapado Pak Saaf sahinggo samakin banyak kiprah dan pemikiran pak Saaf nan boneh nan bisa disumbangkan untuak kampuang halaman kito.
 
Wassalam
 
 
Aidinil Zetra Intan Batuah (saketek hari lai 39/KL)

 


Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger
Tambahkan mereka dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!

bandaro kayo

unread,
Jan 15, 2009, 10:36:42 PM1/15/09
to Rant...@googlegroups.com
Buliah,kami salalu tabuka

 


Dari: Defiyan Cori <defi_...@yahoo.com>
Kepada: Rant...@googlegroups.com
Terkirim: Kamis, 15 Januari, 2009 19:28:06
Topik: [R@ntau-Net] Re: Undangan

Maaf Mak Bandaro, kalau nan di lua salingka lai buliah datang...he..he..kok lai sanggang pulo awak..
 
Salam kenal dari ambo, Defiyan Cori,Laki-laki lahia di Solok 27 Mei 1969, Suku Melayu,kampuang Muara Labuah Kanagarian Koto Kaciak, Kab Solok Selatan
 
Segitu dulu dan sukses
 
Wassalam 'Defiyan Cori L/40

--- On Thu, 1/15/09, bandaro kayo <bandar...@yahoo.com> wrote:
From: bandaro kayo <bandar...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Undangan
To: Rant...@googlegroups.com
Cc: ranah...@geoglegroups.com
Date: Thursday, January 15, 2009, 9:33 PM

Ass wr wb.
Kami atas nama IKKTS (Ikatan Keluarga Kenagarian Tanjung Sani) Mengundang Angku/Bp/Ibu/Sdr.Tokoh Masyarakat Salingka Danau Maninjau Nan Barado di Jakarta dan Sekitarnya,Mengharapkan kehadirannya Pada Hari Sabtu,17 Jan-09,Pukul 10.00 wib.Tempat Pc..Muhammadiyah Jl.Limau III Blok B Kebayoran Baru Jaksel.Agenda Acara:Evaluasi Musibah Yang terjadi di Salingka Danau Maninjau dan Konfrensi Pers dari 4 Media Cetak.

                                                                                     

UNDANGAN

                                                                                         15 Muharram 1430 H

                                                                                           12 Oktober 2009 M

Nomor  :11/IKKTS/2009

                                               

                                                          Kepada Yth.

                                                          Angku/Bpk/Ibu/Sdr/Tokoh Masyarakat

                                                          Salingka Danau Maninjau

                                                          di

                                                          Jakarta dan sekitarnya.

 

Assalamu’alaikum wr. wb.

 

 

       Hari/Tgl     : Sabtu,17 Januari 2009

       Pukul                   : 10.00 WIB

                                      Meliput berita tersebut.

                                  3.. Akan dihadiri pula oleh tokoh-tokoh dari salingka

                                       Danau dari kampung.

                                  4. Dll yang dianggap perlu.

       Tempat           :   PC Muhammadiyah Kebayoran Baru

                                  Jl.Limau III  Blok B Kebayoran Baru Jakarta Selatan..

 

Diharapkan Bapak/Ibu dapat hadir tepat pada waktunya..

 

Demikian undangan ini kami sampaikan atas kedatangan dan kehadiran Angku/Bapak/Ibu/Saudara kami ucapkan terima kasih.

Wabillahi Taufiq Wal Hidayah.Wassalam’mualaikum wr. wb.

 

        Ketua,                                                                   Sekretaris,

                                ttd                                                                                            ttd

        

            

      (H Mustaib Abdul Muis SE .St Pangeran)                    (H Umar Aris SH MM MH)

 




Warnai pesan status dengan Emoticon.
Sekarang bisa dengan Yahoo! Messenger baru.


Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi!
Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!

Hifni H.Nizhamul

unread,
Jan 15, 2009, 11:47:04 PM1/15/09
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam, wr, wb

Mamanda Saafrudin Bahan yang saya muliakan,

Terlebih dahulu saya mengucapkan kepada Mamanda yang telah diberikan gelar sasangko adat oleh pihak Pagaruyung. Melalui forum ini, Saya menghaturkan rasa terima kasih atas laporan yang Mamak sampaikan kepada sanak sapalanta di awang-awang ini. Saya menanggapi sangat postif atas pemberian gelar sasangko adat kepada tokoh minang yang telah berkiprah untuk masyarakat minang dan bangsa Indonesia. Dari lalporan itu Saya menyimpulkan dan menanggapi kondisi yang tengah berlanngsung yang berguna bagi masa depan adat dan budaya minangkabau, sebagai berikut :

1. Laporan Mamak ini sesungguhnya berisikan pencerahan kepada yang muda - muda dan setengah baya semisal saya, yang masih belum memahami kedudukan kerajaan Pagaruyung di alam minangkabau.

2. Sepanjang yang saya alami - kerajaan Pagaruyung3 - adalah kerajaan yang terbuka yang menerima siapa saja sesuai tata cara yang berlaku. Seperti yang mereka tunjukkan ketika menerima para tamu yang berkunjung ke Ustano si Linduang Bulan. Demi mengangkat arus wisatawan dan memperkenalkan budaya ke Ranah Minang - tidak kurang pula keterbukaan yang diberikan pihak pewaris kerajaan ini kepada  perantau  -  yang menerima secara adat kebesaran - bagaikan kita berkunjung kerumah " Bako ". (kunjungan wisata Dharmawanita KBRI Singapore Februari tahun 2007 ke Ustano Silinduang Bulan).

3. Kerajaan Pagaruyung adalah satu-satunya kerajaan melayu yang ada di Propinsi Sumatera Barat saat ini, yang kita harapkan mampu mempertahankan identitas kultural masyarakat hukum adat Minang.

4. Yang masih menjadi kabut bagi saya adalah hubungan tambo - Datuk Maharajo - Datuk Ketemanggungan - Datuk Perpatih nan Sabatang - Adityawarman - Darmasraya hingga kerajaan Pagaruyung/1.
Sungguh banyak yang harus digali oleh sejarawan kita - sehingga saya benar-benar terusik bila tambo yang spektakuler dianggap bersumber dari sebuah mitos oleh pihak non minang dan minang perantauan.

5. Didalam situs Melayu Online : http://melayuonline.com/kerajaan-pagaruyung, disebutkan bahwa kerajaan ini didirikan oleh Adityawarman - seorang penguasa majapahit dan akhirnya mendirikan kerajaan Pagaruyung/1.
Nah... bagi saya inilah yang perlu diklarifikasi baik oleh pihak Pagaruyung/3 sendiri yang kemudian akan diemban oleh
oleh para pemangku adat – khususnya yang sudah bergabung dalam LKAAM dan Bundo Kanduang.

Bagaimana kedudukan Nagari-nagari bila dikatakan sebagai kesatuan otonomi dengan kerajaan pagaruyung, yang merupakan dasar kerajaan.

6. Apakah benar kerajaan ini mencakup seluruh alam minangkabau yang wilayah kekuasaannya adalah :
dari sikilang aie bangih hingga taratak aie hitam.
dari durian ditakuak rajo hingga sialang balantak basi.

Dalam hubungan dengan " adat salingka nagari" - maka ini menimbulkan pertanyaan kita sejauh mana peran kerajaan Pagaruyung1/2/3 in,  dalam pengembangan adat di wilayah-wilayah ranah minangkabau ini dimana dinyatakan bahwa :

" Dahulu Kerajaan Pagaruyung membawahi lebih dari 500 nagari yang merupakan satuan wilayah otonom. Nagari-nagari ini merupakan dasar kerajaan, dan mempunyai kewenangan yang luas dalam memerintah. Misalnya nagari punya kekayaan sendiri dan memiliki pengadilan adat sendiri. Bagaimana dengan Nagari di daerah darek umumnya nagari-nagari ini diperintah oleh para penghulu, yang mengepalai masing-masing suku yang berdiam dalam nagari tersebut. Penghulu dipilih oleh anggota suku, dan warga nagari mengendalikan pemerintahan melalui para penghulu mereka. Keputusan pemerintahan diambil melalui kesepakatan para penghulu, setelah dimusyawarahkan terlebih dahulu.

Di daerah rantau seperti di Pasaman kekuasaan penghulu ini sering berpindah kepada raja-raja kecil, yang memerintah turun temurun. Di Inderapura raja mengambil gelar sultan.(http://melayuonline.com)


Sementara di wilayah Sumbar itu sendiri, masih banyak kerajaan kerajaan kecil yang masih harus ditelusuri oleh kaum sejarawan minangkabau atau pemerhati sejarah.

Demikianlah apresiasi saya terhadap kerajaan Pagaruyung dan tanggapan saya berdasarkan laporan Mamak Saaf kepada kami. Hal ini untuk membuka wawasan kita semua yang berada diperantauan - sementara Pagaruyung diharapkan dapat tetap berkiprah dalam mempertahan esksistensi budaya minangkabau.


Wassalam,



 


--- On Thu, 1/15/09, Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com> wrote:
From: Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.
To: "Rantau Net" <rant...@googlegroups.com>

Menurut penglihatan saya, kerabat Pagaruyung/3  ini cukup tanggap dengan semangat zaman, yang terlihat dalam prakarsanya memberikan gelar sangsako adat tersebut, baik yang telah diberikan kepada sembilan orang tokoh nasional tersebut, maupun rencananya lebih lanjut untuk memberikan gelar yang sama kepada tokoh-tokoh nasional lainnya, baik yang berasal dari Minangkabau maupun yang bukan. Dengan demikian, kerabat Pararuyung ini telah menempatkan dirinya sebagai salah satu kekuatan kebangsaan yang bertekad untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan dari bangsa yang bermasyarakat majemuk ini. Dapat diduga bahwa pengalaman pribadi Sanak H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH, yang selain cukup lama berkiprah di organisasi kepemudaan KNPI dan berpengalaman selama dua periode sebagai anggota DPR RI , cukup berperan dalam kebijaksanaan ini.

Abraham Ilyas

unread,
Jan 15, 2009, 11:53:00 PM1/15/09
to Rant...@googlegroups.com, Abraham Ilyas
"Dalam suasana informal pasca upacara penganugerahan gelar sangsako tersebut saya membisikkan kepada Sanak H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH dan Dr Ir Puti Raudhah Thaib, agar pada suatu saat harus ada tokoh nasional yang berasal dari .. yang memperoleh kehormatan tersebut"
Pak Sjaaf yth.
 
Ambo mengucapkan selamat atas pemberian gelar kepada Bapak  oleh Pemangku Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung mewakili seluruh Pucuak Adat Alam Minangkabau yang tergabung dalam Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau,  telah menganugerahkan gelar Sangsako Adat.
Tentunya peristiwa ini akan menjadi acuan bagi perjalanan kehidupan orang Minang Kabau ke depan. Nah di sinilah masalahnya (hubungannyo) dengan kalimat nan ambo kutipkan di ateh.
Tentang hal tsb., ambo pribadi berpedoman kepada tulisan tentang Minang Kabau nan ambo upload di :
 
http://nagari.or.id/?moda=minangkabau (Telah dibaca oleh 746 orang.)
http://nagari.org/karangan.php (Artikel ini telah dibaca oleh: 9530 orang)
 
Untuk tanggapan yang dianggap sensitif, tolong didiskusikan melalui japri saja.
Wassalam
 
Abraham Ilyas 63th.
 
 
 
 

nof...@rantaunet.org

unread,
Jan 16, 2009, 12:07:51 AM1/16/09
to RantauNet
Assalamualaikum Mamanda Abraham Ilyas.

Beberapo minggu yang lewat, ambo pernah juo batanyo di palanta, tapi
mungkin dek mamanda terlewati.
Mancalaik mamanda yang tetap eksis dengan topik adat kito, mako ingin
batanyo baliak dr mamamk

Apakah kata Minangkabau tu "Minang Kabau" apa "Minangkabau" indak
pakai spasi/terpisah, karano yang
ambo tau salamo ko nan bana adalah Minangkabau, 1 kata, bukan 2 kata.

Untuak pak Syaf, salamaik dapek penghargaan, semoga dengan adanya
penghargaan secara adat ini
mambuek paksyaf tetap peduli dengan rananh minang, sama sepertihalnya
Alm. Pak Chaidir NL.


Talabiahnyo mohon maaf dan Salam.

Nofend.

On Jan 16, 11:53 am, "Abraham Ilyas" <abrahamil...@gmail.com> wrote:

> Pak Sjaaf yth.
>
> Tentunya peristiwa ini akan menjadi *acuan* bagi perjalanan kehidupan *orang
> * Minang Kabau ke depan. Nah di sinilah masalahnya (hubungannyo) dengan

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 16, 2009, 6:34:34 AM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com
Sanak Nofend, rasonyo labiah rancak ditulih 'Minangkabau' daripado 'Minang Kabau', karano pangaratiannyo kan tunggal, bukan duo.


Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Fri, 1/16/09, nof...@rantaunet.org <nof...@rantaunet.org> wrote:

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 16, 2009, 6:48:51 AM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikuksalam w.w. Rangkayo Hifny dan para sanak sa palanta,
 
Saya juga tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan terhadap pertanyaan Rangkayo nomor 4,5, dan 6 di bawah ini, karena memang tidak banyak penjelasan yang benar-benar jelas mengenai hal itu.
 
Oleh karena itulah, tanggal 14 Januari yang lalu saya sengaja menemui Ibu Dra Adriyetty SU Dekan FS Universitas Andalas beserta para sejarawan seperti Prof Dr Gusti Asnan dan filolog seperti Drs M Yusuf, agar segera menuliskan sebuah buku sejarah standar Minangkabau. Syukur Alhamdulillah rupanya kami sudah sama-sama merasakan urgensinya buku tersebut, dan diharapkan dalam waktu dua tahun mendatang sudah dapat diterbitkan buku Sejarah Minangkabau yang demikian.
 
Mengingat simpang siurnya bahan-bahan, saya menyarankan agar tim penulis yang akan dikoordinatori oleh Sanak Nopriyasman dan didukung oleh Ibu Zuryatin dan Prof Dr Gusti Asnan tersebut mempergunakan segala bahan yang ada, baik dokumentasi sejarah maupun legende yang didapat dalam tambo-tambo, dan membuat sebuah rekonstruksi dari bahan-bahan tersebut.
 
Mari kita doakan bersama agar kiprah besar ini bisa kita selesaikan pada waktunya sesuai dengan rencana.

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 16, 2009, 6:58:14 AM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com
Tarimo kasih pak Abraham. Rasonyo konsep 'bangso' Indonesia --  nan bamasyarakat majemuk ko -- iyo paralu kito tambahkan ka dalam wawasan budaya kito..
 
Nampak dek ambo kito salamo ko iyo agak banyak baputa-puta di sakaliliang nagari jo Ranah sajo, walaupun kito manganuik ajaran 'alam takambang jadi guru'.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Fri, 1/16/09, Abraham Ilyas <abraha...@gmail.com> wrote:

From: Abraham Ilyas <abraha...@gmail.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.
To: Rant...@googlegroups.com
Cc: "Abraham Ilyas" <abraha...@gmail.com>
Date: Friday, January 16, 2009, 11:53 AM

"Dalam suasana informal pasca upacara penganugerahan gelar sangsako tersebut saya membisikkan kepada Sanak H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH dan Dr Ir Puti Raudhah Thaib, agar pada suatu saat harus ada tokoh nasional yang berasal dari .. yang memperoleh kehormatan tersebut"
Pak Sjaaf yth.
 
Ambo mengucapkan selamat atas pemberian gelar kepada Bapak  oleh Pemangku Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung mewakili seluruh Pucuak Adat Alam Minangkabau yang tergabung dalam Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau,  telah menganugerahkan gelar Sangsako Adat.
Tentunya peristiwa ini akan menjadi acuan bagi perjalanan kehidupan orang Minang Kabau ke depan. Nah di sinilah masalahnya (hubungannyo) dengan kalimat nan ambo kutipkan di ateh.
Tentang hal tsb., ambo pribadi berpedoman kepada tulisan tentang Minang Kabau nan ambo upload di :
 

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 16, 2009, 7:08:54 AM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam w.w. Sanak Aidinil,
 
Tarimo kasih. Iyo lai takana dek ambo acara di Yogya tahun 1992 tu. Sanang juo mangatahui bahaso sumbangan pikiran ambo tu ado manfaatnyo. Alhamdulillah.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Fri, 1/16/09, aidinil zetra <aid...@yahoo.co.id> wrote:

From: aidinil zetra <aid...@yahoo.co.id>
Subject: Bls: [R@ntau-Net] Re: Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.
To: Rant...@googlegroups.com

Datuk Endang

unread,
Jan 16, 2009, 8:39:45 AM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com, suli...@yahoogroups.com, gas...@yahoo.com
Pak Abraham Ilyas dan Ibu Hifny yth.
Apa yang Pak Abraham sampaikan menimbulkan perenungan yang panjang bagi saya. Terdapat kata-kata yang tidak pada patutnya, sehingga perlu dicek dan kroscek sehingga tidak menimbulkan masalah dan mengaburkan sejarah.
 
Pertama, istilah gelar sangsako 'adat', perlu dipertanyakan adat apa dan adat dimana. Sehingga seharusnya frasa itu berbentuk: sangsako adat ... [apa] ... [dimana]. Sangsakonya apa, sakonya apa, pusakonya apa. Kemudian lebih lanjut perlu dikenali sistem adatnya bagaimana. Apakah mengenal hukum nan ampek, apa cupak usalinya (saya kira ini bisa dijawab) dan apa saja cupak buatannya. Di dalam beberapa versi tambo, saya belum menemukan adat model begini.
 
Kedua, Pemangku 'Daulat' Yang Dipertuan, ini juga perlu diperjelas makna 'daulat'. Daulat terhadap orang-orang yang mana, juga daulat terhadap wilayah apa. Karena 'daulat' adalah salah satu unsur dalam Konvensi Montevidio. Yang jelas dari sejarah yang pernah saya kembangkan, daulat itu sudah habis pada masa Perang Paderi. Kalau terbentuk 'daulat' pada era generasi ke-3, kiranya perlu diperjelas mengenai siapa dan dimana itu.
 
Ketiga, istilah 'mewakili seluruh Pucuak Adat Alam Minangkabau' perlu diperjelas, karena saya baru kali ini mendengar istilah ini. Raja terakhir Pagaruyung tidak pernah menggunakan istilah ini. Kemudian diperjelas apa itu Pucuak Adat, siapa-siapa saja orangnya. Klaim ini sangat berbahaya. Yang terpenting adalah kata-kata 'mewakili', ini mengingatkan saya dengan perjanjian penyerahan Minangkabau kepada Belanda; jaan sampai tuneh tumbuah di nan salah.
 
Keempat, istilah 'Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau', belum pernah saya dengar, termasuk LKAAM sepertinya tidak pernah menggunakan istilah ini. Apakah kemarin acaranya berlangsung di Bukit Marapalam?, kalau iya, 'sedikit' agak relevan. Namun tabuah larangan di tampek ambo indak babuni.
 
Untuk Ibu Hifny, perlu juga kita perdalam pengaturan adat di dalam tambo, supaya tahu jelas posisi 'kerajaan' dalam Adat Minangkabau. Sebentar saya coba teruskan.
 
Demikian saya sampaikan, sekedar kewajiban untuk saling ingat-mengingatkan. Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan suatu lembaga atau perorangan. Saya kira bila ingin mereposisi kejayaan secara apologik, perlu dilakukan secara tepat dan benar, dan banyak cara yang pantas dapat dilakukan untuk itu, tanpa harus melakukan pengaburan sejarah. Mohon maaf terhadap kurang pantas dan kurang patut, mudah-mudahan tidak salah mengerti.
 
Wassalam,
-datuk endang
 

--- On Fri, 1/16/09, Abraham Ilyas <abraha...@gmail.com> wrote:
From: Abraham Ilyas <abraha...@gmail.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.
To: Rant...@googlegroups.com
Cc: "Abraham Ilyas" <abraha...@gmail.com>
Date: Friday, January 16, 2009, 11:53 AM

"Dalam suasana informal pasca upacara penganugerahan gelar sangsako tersebut saya membisikkan kepada Sanak H.Sutan Muhammad Taufiq Thaib SH dan Dr Ir Puti Raudhah Thaib, agar pada suatu saat harus ada tokoh nasional yang berasal dari .. yang memperoleh kehormatan tersebut"
 
 

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 16, 2009, 10:02:09 AM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com
Buliah ambo manyalo ? Masalah-masalah nan disampaikan Datuak Endang itu memang layak dikaji sacaro mandalam, khususnyo dek tim penulisan Sejarah Minangkabau dari Fakultas Sastra Universitas Andalas, nan dipimpin dek Sanak Nopriyasman, dibantu Prof Dr Gusti Asnan.
 
Kalau ado bahan-bahan nan kito miliki, rancak diinformasikan kapado tim tasabuik.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Fri, 1/16/09, Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 16, 2009, 10:51:04 AM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam w.w. Sanak Boediman Moeslim dan para sanak sa palanta,
 
Pertanyaan Sanak sabana padek dan paralu dijawab sacaro janiah. Namun disiko pulo justru lataknyo masalah, yaitu baa manjalehkan dan menata sacaro rapi dualisme sistem nilai dan struktur sosial masyarakat Minangkabau, nan pado dasarnyo tadiri dari duo jalur nan nampaknyo indak ado kaitan satu samo lain , saparati nampak pado ungkapan 'luhak bapanghulu, rantau barajo'.
 
Apolagi kalau masalah dasar ko kito hubuangkan jo akibat rangkaian parubahan sosial nan alah bakali-kali malendo Minangkabau dan alun paranah dikonsolidasikan sacaro mantap. Dalam pandangan ambo, alah balapih-lapih dan alah batumpuk-tumpuk akibat parubahan sosial tu dalam masyarakat Minangkabau, dan alun paranah dikaji dan disalasaikan sacaro mandasar. Patuik kito syukuri bahaso akhir-akhir ko pak Gubernur Gamawan Fauzi alah maambiak prakarsa -- antaro lain -- untuak manjaniahkan apo bana nan kito mukasuik jo ABS SBK.
 
Dalam hubuangan ko, paralu kito paratikan kanyataan bahaso para panghulu kito tu sandiri juo banyak nan mangaluah tantang baa eloknyo hubungan baliau-baliau jo anak kamanakan maso kini, nan salain alah bakambang biak juo alah banyak nan cadiak, sahinggo indak mudah baitu sajo manarimo 'parentah' para panghulu. Karano itu, ambo yakin bahaso indak --atau alun -- banyak paratian para penghulu kito ka masalah rajo-rajo Minangkabau ko. [Sekedar catatan : masalah rajo-rajo dari karajaan tradisional ko indak hanyo ado di Minangkabau sajo, tapi tadapek dis eluruh Indonesia.].
 
Sabagai langkah paratamo untuak manduduakkan masalahnyo, ambo alah maajak para sejarawan dari Fakultas Sastra Universitas Andalas untuak mancurahkan paratian ka masalah ko, supayo jan kabinguangan juo kito, baiak nan tuo maupun -- atau apolagi -- nan mudo-mudo. Alhamdulillah alah ado kesediaan dari baliau-baliau nan ahli dalam soal ko.
Untuak mambulekkan pandapek kito manganai sistem nilai dan sistem sosial Minangkabau maso kini, ambo mandukuang panuah gagasan Bp Drs Farhan Muin Dt Bagindo dalam partamuan jo Tim Perumus ABS SBK di Restoran dakek Patuang Tani di Jakarta babarapo wakatu nan lalu, yaitu paralu kito adokan suatu Kongres Minangkabau untuak maambiak kaputusan.[Kito kan indak ka namuah 'manarimo pisang bakubak' doh].
 
Samantaro alun ado kasapakatan lai, sagalo pandapek kito tampuang, baiak nan pro maupun nan kontra, untuak salanjutnyo dikaji sacaro mandalam dek ahli-ahlinyo.
 
Untuak samantaro ko, dalam pandangan ambo pribadi gala kehormatan sangsako adat tu -- apopun arti dan maknanyo -- ado manfaatnyo dalam mampaarek persatuan, baiak sasamo kito urang Minang maupun untuk sasamo bangso Indonesia. Namun, tantu sajo ambo indak bakabaratan kalau ado di antaro kito nan indak satuju, sasuai jo kato pepatah juo: " rambuik nan samo hitam, pandapek balain-lain".
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Fri, 1/16/09, Boediman Moeslim <boed...@yahoo.com> wrote:

From: Boediman Moeslim <boed...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.
To: "Dr.Saafroedin BAHAR" <saaf...@yahoo.com>
Cc: Rant...@googlegroups.com
Date: Friday, January 16, 2009, 9:14 AM

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi wa barrakatuh.

Nan Mulie Tuanku Pujangga Diraja Dr. Saafroedin Bahar nan kami hormati.
Sabalunnyo kami mohon sambah ka Tuanku sarato salam hormat ka sado rang tuo kami nan mandapek kapicayoan sabagai pamangku sangsako adat dari Nan Mulie Pemangku Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung.
Kami cukuik bangga bahaso "Urang tuo-Urang tuo" kami mandapek panghargaan gala tasabuik. Walaupun sakileh tacaliek panghargaanko agak talambek dilatakkan ka baliau-baliauko bak kecek uni
Dr Ir Puti Raudhah Thaib sabagai pamangku karajaan, tapi satu langkah lah bahasia dipabuek dek "Kerajaan Minangkabau". Kerajaan nan lah tasohor ka babagai balahan dunie sajak daulunyo. Apo nan di uleh dek Tuanku sangaik bakasan ka diri kami. Nan tadi kami alun tau baa itam putiahnyo, kini lah agak ramang-ramang isi dari kulik nan tasuruak salamoko.

Samantangpun baitu, supayo jaleh sirahnyo isi buah samangko ko, supayo indak banyak manduga-duga apokah sirahtu sirah manyalo nan manih, sirahtu agak mudo, atau samangkoko tanyato samangko kuniang nan maha haragonyo, kamipun bakainginan batanyo nan mungkin patuik kami mangatahuinyo....
Di Minangkabau kalau indak salah, takana kakuatan adat, agama jo nan cadiak pandai. Satantangan jo limbago adat mungkin  disiko ado hubungannyo jo gala-manggala adat atau karajaan awakko. Baa hubungan struktural atau fungsional antaro gala nan tapakai atau panghulu adat/suku jo gala nan talakek sabagai kahormatan dek adonyo baleh budi ka nan mamakai? Baleh budi nan dimakasuik adolah dek adonyo suatu perbuatan nan ka manjadi motivasi bagi urang banyak agar urang banyak bisa balaku jo babuek sarupo nan dibuek dek "urang tuo-urang tuo" awakko. Mudah-mudahan urang tuo kami nan balaku sabagai motivator, inisiator, sekaligus sabagai pejuang dapek manjadi contoh tauladan bagi anak-kamanakan di maso-maso kini dan nan akan datang.  Kalau buliah kami mangatahui, apokah ado perbedaan antaro gala nan balaku (tamasuak hubungan fungsionalnyo) katiko pado wakatu saisuak  jo maso kini? Dan apokah "bisa balaku" bilo tajadi parubahan di maso mandatang? Cuma itu, kalau salah kami manyampaikannyo, mohon maaf sabanyak-banyaknyo. Ituang-ituang pertanyaan-pertanyaanko sabagai pertanyaan anak ka apaknyo, atau kalau di ranah awak dari kamanakan ka mamaknyo. Sakali lagi kami sampaikan salamaik buek "urang tuo-urang tuo" kami nan  lah  di tambah gala dipundaknyo, samoga indak manjadi baban. Dan untuak karajaan Minangkabau, kami ucapkan tarimo kasih atas panghargaan nan dibarikan ka "urang tuo-urang tuo" kami tu.
Akhia kato, dek kami bukan dari urang nan tau sakali lagi kami mohon atas sagalo kakhilafan.

Wassalam,
Tan Lembang (52+ LL) basuku Piliang
Lembang-Bandung

Muhammad Dafiq Saib

unread,
Jan 16, 2009, 10:52:05 AM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
 
Talapeh dari sumarak pambagian gala, nan raso-rasono lai pado tampaikno pulo, dek mancaliak jaso baliau-baliau nan manarimo gala, iyo tatanyo-tanyo dihati ambo dek baru sakaliko upacara sarupo iko ambo dangaan. Sarupo ado  nuansa nan agak balain pado nan biaso rasono.
 
Tarimo kasih Datuak. Samo tatanyo-tanyo di hati ambo sabagian dari nan Datuak sampaian. Tapi indak takecek-an, sampai ambo mambaco uraian Datuak.
 
Wassalamu'alaikum
 
Lembang Alam

2009/1/16 Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>

azmi abu kasim azmi abu kasim

unread,
Jan 16, 2009, 12:06:42 PM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com
 

Assalamualaikum w.w.

 

Angku2 Sarato Dunsanak sapalanta nan hambo hormati,

 

Sato ambo saketek tentang pemberian gelar Sangsoko yang telah diberikan oleh pewaris kerajaan Pagaruyung. Bukan bararti mengurangi hormat ambo kepado beliau-beliau  tersebut, tetapi hanyolah  nak manyampaikan nan taguri di hati nan takilan di mato, kok disimpan apolah ka gunonyo.:

 

Bahwa pemberian gelar tersebut berdasarkan kesepakatan para pucuak-pucuak Adat Minangkabau. Sehubungan dengan itu ado beberapa pertanyaan yang menggelitik ingin di sampaikan :

  1. Sejak pabilo ado Istilah pucuak  Adat, pada tatanan Masyarakat Adat Minangkabau ?
  2. Dan kama baureknyo  pucuak tu ?
  3. Dan bagaimana kaitan pucuak Adat  tu, dengan  pepatah Adat, “Luak Bapanghulu, Rantau Barajo” ?
  4. Dan baa pulo dengan “Adat Salingka Nagari’?
  5. Apakah pucuak-pucuak Adat ko, punyo wewenang penuh memberikan gelar dengan mengatas namakan Minangkabau, yang terdiri dari “Luak dan Rantau”

 

Sakitu sajolah dulu pertanyaan ambo ko dari makatumbuah jawabannyo, dan ambo mohon maaf kok ado nan talantung sabab dek kanaik, kok talantak sabab dek katurun.

 

Kelapa Gading 16 Januari 2009

Wasalam,

 

Azmi Dt.Bagindo

 

--- Pada Jum, 16/1/09, Muhammad Dafiq Saib <stlemba...@gmail.com> menulis:

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~



Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 16, 2009, 8:18:27 PM1/16/09
to Rant...@googlegroups.com, SUDra. Adriyetti AMIR, Dr. Gusti ASNAN
Waalaikumsalam w.w. Angku Azmi Dt Bagindo dan para sanak sa palanta,
 
Pertanyaan-pertanyaan Angku rancak, dan paralu dijaniahkan dalam rangka marumuskan adat [dan kebudayaan ]   Minangkabau, khususnya dalam kaitan jo aspek kelembagaan dari ABS SBK.
 
Mungkin baiak dimuloi jo pembahasan dalam LAKM dan LKAAM.
 
Sacaro pribadi ambo bapandapek masalah ko paralu dikaji dalam rangka panyusunan Sejarah Minangkabau, nan alah mulai ditangani dek Fakultas Sastra Universitas Andalas.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Sat, 1/17/09, azmi abu kasim azmi abu kasim <azmi_libr...@yahoo.co.id> wrote:

Datuk Endang

unread,
Jan 17, 2009, 7:58:24 AM1/17/09
to Rant...@googlegroups.com, suli...@yahoogroups.com
Wa'alaikum salam,
Iyo pak, memang indak sado kebenaran dapek awak tarimo baitu sajo, walaupun itu kalua dari institusi resmi, intelektual, dst. Perlu cek, ricek, jo kroscek. Dicari bana landasannyo. Kadang tasolek mukasuik tertentu, nan pandai bana mambungkusnyo. Atau ado mukasuik urang tertentu nan memanfaatkan kelemahan awak.
Sebagai contoh tibo di diri kito basamo, adolah urang awak itu sanang dianjuang-anjuang. Nafsu nan pantang bakarandahan, mukasuik nan pantang bakasudahan. Kok tibo di babarapo urang nan cadiak iko alah menjadi obyek bisnis, atau kini ko mungkin obyek politik. Dicari bana padanannyo, sia bana nan sasuai. Kok alah basuo, aa koh galeh alah tajua, baa ko lai. Daulu pernah ambo sampaikan, nan bantuak iko ado mafia-nyo.
Masalah terbesar dari hal iko adolah rusaknyo tatanan adat, karano jalan alah diasak urang panggaleh.
Keprihatinan ambo adolah bilo masalah iko melibatkan urang-urang tuo awak, nan mungkin indak mangarati dan indak paham walaupun pakar. Jadi alah tabaok se ka skenario itu. Sahinggo kehormatan menjadi pitaruahnyo. Kok alah baitu, tantu susah tibo ka awak basamo.
Baitu pak talabiah takurang mohon dimaafkan.
 
Wassalam,
-datuk endang


--- On Fri, 1/16/09, Muhammad Dafiq Saib <stlemba...@gmail.com> wrote:
From: Muhammad Dafiq Saib <stlemba...@gmail.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.
To: Rant...@googlegroups.com

Darul M

unread,
Jan 17, 2009, 8:47:18 AM1/17/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamulaikum WW

Dek alah banyak nan bakomentar, baa mangko malah ambo tambah binguang,
nan ambo binguangkan adolah pewaris kerajaan Minangkabau. Baa latak
pewarisno tu, manuruik keturunan tau manuruik pemilihan. Tadanga
diambo dulu, dek ambo iyo indak pernah baraja adat, salain mandanga jo
mamparatian ka ota urang sabalik sajo.

Di Minagkabau ado duo adat, adat Dt Parapatiah nan Sabatang, nan
barajo ka kato mufakat dan adat Dt Ketemangguangan nan Barajo ka Rajo.

Apo ado dari kaduo sistim nangko nan mamapunyoi rajo berdasarkan
keturunan? Jiko iyo bararti baa sisitim pamiliahnno. Kalau nan
Panghulu, nan nampak diambo sajono yo, iyo berdasarkan keturunan dari
mamak turun kakabanakan, tapi indak langsuang kabanakan nan pailang
tuo nan dapek doh, tapi dirapekan diurang nan saparuik atau sasuku tu.
Malah ado nan disapakati langsuang turun kacucu alias kamanakan dari
kamanakan.

Iyo paralu bana kajian dan penjernihan sejarah Minangkabau ko, saroman
nan diajukan pak Saaf, bia awak indak binguang, bia generasi
seterusnyo tambah binguang, apo lai nan gadang dirantau. Kecuali
rantau Nagari Sembilan di Malaysia tantu.

Mudahan Minangkabau indak jadi Minang Kabau (Minang is Kabau) hahaha hmmmm

Mohon maaf salah jo jangga. Urang biaso dibalai


Wassalam WW
St. Parapatiah 55 jkt

--
Thanks & Best Regards
http://www.indonesianseafarer.com
http://west-sumatra.com
http://www.dr-net.biz
http://darulmakmur.wordpress.com http://darultda.blogspot.com
http://parapatiah.multiply.com http://candaung.wordpress.com
http://mcvida-construction.blogspot.com

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 17, 2009, 5:30:12 PM1/17/09
to Rant...@googlegroups.com, Dr. Gusti ASNAN
Waalaikumsalam w.w. Pak Darul dan para sanak sa palanta,
 
Ambo raso parasaan pak Darul samo jo ambo. Dek karano indak ado rujukan baku nan tatulih mengenai Minangkabau, mau indak mau kito jadi binguang, apolagi lain sumber lain pulo penjelasannyo.
 
Syukur Alhamdulillah, para sejarawan kito di Fakultas Sastra Universitas Andalas alah basadio turun tangan manjaniahkan masalah kito nan cukup ruwet ko. Dalam dio tigo tahun ko rasonyo akan ado hasil penelitian ilmiah tantang nagari kito, langkok jo sejarah kerajaan-kerajaan Minangkabau nan manuruik bung Drs Nurmatias dari Balai Konsevasi Sejarah dan Nilai Tradisional jumlahnyo ado 34 buah.
 
Kok ado sanak nan punyo bahan, silakan dikirim sebagai masukan ka Prof Gusti Asnan, alamat email baliau ado cc di ateh.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Sat, 1/17/09, Darul M <dar...@gmail.com> wrote:

From: Darul M <dar...@gmail.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.
To: Rant...@googlegroups.com

datuk_endang

unread,
Jan 17, 2009, 8:15:01 PM1/17/09
to rant...@googlegroups.com

Wa'alaikum salam.

Dek banyak urang di balai, kato nan katibo biasonyo kato bagalau. Tapi
itu bana nan acok balaku di Minangkabau, lamak dikatokan lamak dikunyah.
Baa kok tambah binguang, saroman manyaruak ka dalam rimbo, indak tantu
isi kabanaran di dalamnyo.

Kito indak salamonyo manyarahkan kabanaran kapado ahli, karono kok pun
ado itupun berlaku sebagai opini, karono liang indak katabuak gantiang
indak kaputui. Jadi memang tagantuang sia nan mahelo informasi, nan
dapek mahawai sahabih raso marosok sahabih gawuoang,

Saketek carito, daulu sasudah terbit buku 'Tuanku Rao' oleh MOP,
bakumpua sado nan pakar sejarah dipimpin M.D. Mansoer untuak mambuek
buku pengimbang, namonyo 'Sedjarah Minangkabau'. Namun hinggo kini nan
banyak ditimbang urang manghado'i MOP iyolah buku Buya Hamka itu,
walaupun beliau bukan ahli sejarah. Jadi opini harus lawan opini,
walaupun dikaluakan institusi resmi. Itu nan kandak urang di balai.

Daulu kutiko kami menghadapi masalah nan samo, diundang Buya HMA dari
MUI dan Ketua LKAAM untuak bacarito di Jakarta. Karono kami tahu masalah
nan dihado'i adolah kato bagalau, jadi memang harus dihadapi oleh opini.
Salabiahnyo dilapehkan ka urang nan banyak.

Kok iyo ikolah nan sabananyo masalah sekaligus potensi urang awak. Kalau
dapek paralu dilakukan penelitian mengenai manajemen kato bagalau itu
handaknyo.

Wassalam,

-datuk endang

Abraham Ilyas

unread,
Jan 18, 2009, 7:58:47 AM1/18/09
to Rant...@googlegroups.com
"Apa yang Pak Abraham sampaikan menimbulkan perenungan yang panjang bagi saya. Terdapat kata-kata yang tidak pada patutnya, sehingga perlu dicek dan kroscek sehingga tidak menimbulkan masalah dan mengaburkan sejarah"
 
Wassalam angku Datuk Endang,
Ambo setuju sekali pandapek tsb. Sedangkan istilah: "Pemangku Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung mewakili seluruh Pucuak Adat Alam Minangkabau yang tergabung dalam Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau,  telah menganugerahkan gelar Sangsako Adat."
ambo kutip lansung dari postingan milis iko, tanpa mencari sumber asli, apakah dari yang memberikan gelar (panitia).
 
Wassalam
 
Abraham Ilyas

Abraham Ilyas

unread,
Jan 18, 2009, 8:50:11 AM1/18/09
to Rant...@googlegroups.com
Kmd. Nofend yth.
Ambo akui, memang ambo tidak konsisten menggunakan istilah "Minang Kabau" dan "Minangkabau". Karena menurut ambo, iko adalah masalah budaya, bukan istilah hukum. 
Kata "Minang Kabau" lebih dahulu dikenal daripada kata "Minangkabau".
Nah disinilah letaknya, kalau bicara "kerajaan" kita akan mamakai sesuatu yang pasti (baku).
Sampai sekarang ambo belum percaya adanya suatu kerajaan nan banamo Minangkabau.
Minangkabau adalah "budaya" dari nagari-nagari. Kata Minangkabau (saat ini) bersal dari kata "Minang" dan "Kabau" sarupo karangan ambo itu di situs nagari.org.
Dari istilah Minang Kabau kita bisa menjelaskan seluruh aspek "kemanusiaan orang"
Minang Kabau adalah suatu nilai budaya manusia (serba tidak tunggal).
Hanya Tuhanlah atau orang-orang mengakui manunggal ing kawulo lan gusti yang memiliki nilai tunggal di dalam kehidupannya sehari-hari.
Maaf pandapek ambo iko, bagi nan tidak sepandapek.
 
Wassalam
 
Abraham Ilyas

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 18, 2009, 10:04:16 AM1/18/09
to Rant...@googlegroups.com, SUDra. Adriyetti AMIR, Dr. Gusti ASNAN
Pak Abraham dan Kemenakanda Nofend,
 
Kelihatannya kajian dan solusi masalah ini memang sebaiknya kita serahkan kepada suatu tim kecil, yang terdiri dari tokoh-tokoh yang selain benar-benar berpeduli, berwawasan luas, dan mampu bersifat obyektif, juga benar-benar menguasai persoalannya. Bagaimanapun juga diotak-atik, sudah saatnya kita mengakui secara lugas bahwa masalahnya memang cukup ruwet, dan tak bisa diselesaikan secara selincam-selincam saja..
 
Dalam hubungan itulah pada tanggal 14 Januari 2009 yang lalu saya mengajak para sejarawan dan filolog dari Fakultas Sastra Universitas Andalas untuk meneliti, membahas, dan akhirnya menyusun sebuah buku Sejarah Minangkabau yang bersifat komprehensif, yang Alhamdulillah diterima dengan baik.
 
Secara pribadi saya memang melihat bahwa baik dari sudut adat dalam artian sempit maupun dari sudut budaya yang lebih luas, Minangkabau tidaklah satu, dan terdiri dari dua tataran, yaitu tataran nagari yang bersifat autochton [bersifat asli], yang jumlahnya sekarang sekitar 600 buah, yang berbeda-beda pula adatnya satu sama lain ['adat salingka nagari'], dan tataran kerajaan yang datang kemudian, yang menurut catatan ada 34 buah, mungkin lebih, yang semuanya berputar sekitar kerajaan Pagaruyung..
 
Akar masalah -- yang sekaligus merupakan tantangan -- Minangkabau memang menjawab pertanyaan bagaimana caranya menciptakan efek sinergi dari sekitar 634 kesatuan masyarakat hukum adat ini, yang hak-hak tradisionalnya diakui oleh Pasal 18 A dan Pasal 18 B Undang-Undang Dasar 1946 juncto Pasal 6 Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999. Saya yakin akan besar manfaatnya jika efek sinergi ini bisa diwujudkan melalui persatuan ['tuah sakato'] dan akan banyak mudharatnya jika efek sinergi tersebut tidak bisa diwujudkan ['cilako basilang'].
 
Baik kita sadari atau tidak, sarana yang efektif untuk mewujudkan efek sinergi itu adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan seluruh jajarannya sampai tingkat kecamatan, yang ikut kita dirikan dan kita bela. [Sayangnya -- dan cukup mengherankan -- peran NKRI ini cenderung kita lupakan jika kita berbicara mengenai adat dan kebudayaan Minangkabau.]
 
Adalah menarik untuk memperhatikan bahwa tokoh-tokoh adat pada tataran nagari  cenderung untuk tidak mengakui eksistensi dan tokoh-tokoh pada tataran kerajaan, walaupun eksistensi sejarah dan peran tokoh-tokoh kerajaan ini ada dalam kenyataan dan juga diakui oleh daerah-daerah tetangga, yang raja-rajanya pernah berasal dari kerajaan-kerajaan Minangkabau ini. [Baik suka maupun tidak suka, raja-raja Pagaruyung ini masih eksis dan berperan pada saat Perang Paderi, 1821-1838.]
 
Eksistensi kerajaan-kerajaan tradisional di daerah lainnya di Indonesia dewasa ini juga masih ada dalam kenyataan riil, walau hanya mempunyai fungsi kebudayaan, dan tidak lagi mempunyai fungsi politik dan pemerintahan seperti dahulu kala. Sekarang mereka tergabung dalam beberapa organisasi.
 
Untuk Minangkabau, secara pribadi saya berpendapat bahwa eksistensi dan kegiatan Pagaruyung ini ada manfaatnya sebagai wahana untuk mempersatukan Bangsa Indonesia melalui penganugerakan [ atau 'pemberian'] gelar-gelar sangsako adat kepada mereka yang bersedia menerimanya. Lagi pula ada dasar hukum nasional yang bisa digunakan sebagai landasannya, yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2007. Gelar sako kan tidak bisa diberikan sebagai kehormatan. Tentu saja saya tidak berkeberatan dengan pendapat yang berlainan dengan pandangan saya ini.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Sun, 1/18/09, Abraham Ilyas <abraha...@gmail.com> wrote:

From: Abraham Ilyas <abraha...@gmail.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.
To: Rant...@googlegroups.com

Asmardi Arbi

unread,
Jan 18, 2009, 10:36:15 AM1/18/09
to Rant...@googlegroups.com, SUDra. Adriyetti AMIR, Dr. Gusti ASNAN
Assalamu'alaikum wr.wb.
 
 
Ambo sapandapek da Saaf, mudah-mudahan Penyusunan Sejarah Minangkabau indak diplesetkan jadi Pelurusan Sejarah Minangkabau nan salamoko diistilahkan  jadi " canggu " urang Minangkabau.
 
Wassalam,
 
Asmardi Arbi ( L 67+ Jkt )
 
 

Sent: Saturday, January 17, 2009 8:18 AM
Subject: [R@ntau-Net] Re: Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.

Waalaikumsalam w.w. Angku Azmi Dt Bagindo dan para sanak sa palanta,
 
Pertanyaan-pertanyaan Angku rancak, dan paralu dijaniahkan dalam rangka marumuskan adat [dan kebudayaan ]   Minangkabau, khususnya dalam kaitan jo aspek kelembagaan dari ABS SBK.
 
Mungkin baiak dimuloi jo pembahasan dalam LAKM dan LKAAM.
 
Sacaro pribadi ambo bapandapek masalah ko paralu dikaji dalam rangka panyusunan Sejarah Minangkabau, nan alah mulai ditangani dek Fakultas Sastra Universitas Andalas.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Sat, 1/17/09, azmi abu kasim azmi abu kasim <azmi_libr...@yahoo.co.id> wrote:

From: azmi abu kasim azmi abu kasim <azmi_libr...@yahoo.co.id>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Saturday, January 17, 2009, 12:06 AM

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 18, 2009, 5:34:23 PM1/18/09
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam w.w. Sanak Asmardi Arbi,
 
Tarimo kasih. Memang sangajo ambo pakai istilah 'panyusunan' Sejarah Minangkabau, karano buku 'Sejarah Minangkabau' nan ditabikkan dek Drs M.A.Mansoer dkk tahun 1970 dipersiapkan tagageh-gageh sajo, sahinggo mungkin dirasokan kini banyak kakurangannyo.
 
Tambahan lai, salamo 38 tahun sasudah tabiknyo buku tu alah banyak bahan baru -- atau masalah baru -- nan dapek sarato paralu ditampuang, supayo nan mudo-mudo punyo pamahaman nan langkok tentang Sejarah Minangkabau.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Sun, 1/18/09, Asmardi Arbi <asmard...@rantaunet.org> wrote:

Boediman Moeslim

unread,
Jan 18, 2009, 9:27:10 PM1/18/09
to Rant...@googlegroups.com
Sambah babaliak ka Nan Mulie Tuanku Pujangga Diraja Bapak Dr. Saafroedin Bahar nan kami hormati jo karib karabaik nan di palata,
Assalamu'alaikum warrahmatullahi wa barrakatuh,

Tulisanko sabananyo indak sajo ditujukan ka Nan Mulie Tuanku Pujangga, tapi ka sado Para Ahli Limbago Adaik Minangkabau jo Karajaan  Pagarruyuang.
Sabalunnyo kami maucapkan tarimo kasih atas jawaban nan dibarikan ka kami dek
Nan Mulie Tuanku Pujangga Diraja Bapak Dr. Saafroedin Bahar. Taraso nasi nan dimakan lah agak manganyangkan, jo auih nan tadinyo sabana auih lah agak mamuehkan. Ikolah nan paralu dijaniehkan, jaan sampai sifulan mangatokan "a", awak lah ikuik-ikuik manyontek "a" tu. Maklumlah zaman kiniko, kalau awak manantang aruih mako makin talendo awak dibueknyo. Untuanglah kamiko masih "urang minang", nan takana indak namuah mancontoh-contoh, itupun kalau bana nan dicontohtu. Urang minang harus bisa manganalisa baiek buruaknyo suatu perbuatan, baitu pulo bisa menganalisa salah bananyo perbuatantu. Satantangan kato Tuanku bahaso 'luhak bapanghulu, rantau barajo' lah cukuik dimangarati dek diri kami. Mungkin  hal ikolah nan paralu dipilah, jaan sampai baeko manjadi banang nan kusuik, saling bapilin antaro  babagai limbago. Luhak bapanghulu kama mudiak hilienyo (maaf indak mamakai hilie jo mudiek, sabab awak mamulai dari mudiek ka hilie indak dari hilie ka mudiek), baitu pulo rantau barajo kama pangka-ujuangnyo (baitu pulo indak mamakai ujuang jo pangka, sabab awak mamulai dari pangka ka ujuang indak dari ujang ka pangka), alah patuik dipajalehkan ka urang banyak. Rajo ado di Pagaruyuang jo Adaik ado di Minangkabau tantunyo. Mungkin paralu pulo dipajaleh bateh-bateh wilayah rajo dan bateh-bateh wilayah adat. Dan antaro kerajaan jo adat di maa simpue takaiknyo nan saling tasangkuik. Di adat kami raso ado pucuak adat, baitu pulo di bagian karajaan tantu nan mangausai adolah rajo. Kalaulah dipajaleh itam putiehnyo tantu urang banyak indak ka batanyo-tanyo, karano satu samo lain mampunyai HIRARKHI jo KABIJAKAN nan dianuik. Misalnyo di luhak nan tigo baa bantuak kakuasaan rajo, apokah ado samacam perwakilan, sia nan manyandang  "region" tu jo apo gala nan dipakai. Baitu pulo di ranah "rantau", apokah ado perwakilannyo jo sia nan bakuaso. Kalaulah bisa dibagi-bagi saromantu, tantu nan itam ka tacaliek itamnyo, nan putieh ka tacaliek putiehnyo. Atau saumpamo bisa "berdinamika"
mungkin sajo wilayah rantau bisa dipaleba, di babagai provinsi punyo wakie-wakienyo (sarupo duta) wah............... sangaik dinamis kerajaan ataupun adaik awak. Anak kamanakan nan barado di ujuang duniepun akan "Takemot" (bak kato urang Sunda). 
Awak indak ka ba andai-andai, tapi kajalehan sarupoko nan paralu awak "clear"kan.
Hanyo itu, tapi ........ado ciek nan masih bagalau.....apokah "adaik basandi syara' "masih balaku? Syara' kadang-kadang tatutuik dek babagai sabab jo babagai kapantingan.  Kabatulan kami  diagieh dek salah saurang pajabat daerah sakapieng CD tantang pamancangan tiang istano Pagaruyuang, rancak yo rancak pagalaran acara tu, tapi di baliek itu ado satitiek noda, yaitu KAPALO KABAU nan BATANAM (apo iyo?) jo mamakai PAYUANG di ateh tiang. Memang ado makna-makna nan tasuruak dibaliek itu, tapi kalau awak babaliek ka hukum syara', baa iyo? Kadang-kadang pado acara-acara adaik masih tasalubuang WARISAN AGAMO LAIN PANINGGALAN AGAMO SABALUN ISLAM TAKAMBANG di ranah awak. Baa caro mailangkannyo agar ADAIK BASANDI SYARA' bisa dipalakukan nan sabana-bananyo. Jawaban sangaik ditunggu, mudah-mudahan lah banyak nan mangatahui nan manyababkan hal iko indak paralu dikaji lai. Atau sabalaieknyo SANGAIK-SANGAIK PARALU DIKAJI sainggo ADO SUATU KAPUTUSAN agar nan "a" indak paralu dipabuek atau nan "b" patuik ditaruihkan.
Mohon maaf bilo ado kasalahan. Ikoko hanyo samato-mato untuak kabaikan awak basamo.
Wassalam,

BOEDIMAN MOESLIM PILIANG (LL, 52+)
Lembang, Bandung.

e_mail: boed...@yahoo.com


--- On Fri, 1/16/09, Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com> wrote:

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 18, 2009, 11:35:50 PM1/18/09
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam w.w. Sanak Boediman Moeslim dan para sanak sa palanta,
 
Rasonyo indak ado lai nan paralu ambo tambahkan taradok apo nan Sanak sampaikan di bawah ko. Alah cukuik langkok.
 
Nan paralu kito karajokan dalam wakatu nan indak talalu lamo adolah manulihkan sacaro obyektif, sistematik, komprehensif,  konsisten, -- kalau bisa padek -- sagalo nan takaik jo kaminangkabauan kito, dahulu, kini, dan kalau bisa juo perspektif maso datang. Supaya indak bagalau juo pangaratian kito taradok kaminangkabauan nan manjadi payuang kito basamo.
 
Sakadar untuak pambukak wacana, patuik kito batarimo kasih ka Fakultas Sastra Unand nan alah basadio maambiak langkah paratamo ka arah itu. Kok nanti taraso kurang, kito tambah malah. Kok balabiah, kito karek malah.
 
Sangaik ambo haragoi saran Sanak supayo jaleh bateh-bateh wilayah rajo dan wilayah adat, baiak dalam artian fisik maupun dalam artian norma dan kaidah. Gagasan ko juo ambo sampaikan kapado jajaran masyarakat hukum adat dima-dima, takaik jo proses inventarisasi masyarakat hukum adat dan pambantuakan dasar hukum jo peraturan daerah kabupaten. [Jan lupo baru-baru ko ado cakak banyak di nagari Saningbaka karano indak jaleh bateh-bateh wilayah ko sacaro fisik].
 
[PS: ambo alun tabiaso mandanga dan manarimo pasambahan adat, saparati nan juo disampaikan dek Prof Emil Salim di Batu Sangka ateh namo kami-kami nan diagiah gala sangsako tu. Kalau bisa Sanak sabuik sajolah namo ambo, saparati biaso].

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 18, 2009, 11:36:03 PM1/18/09
to Rant...@googlegroups.com
e_mail%3

Dr.Saafroedin BAHAR

unread,
Jan 18, 2009, 11:36:09 PM1/18/09
to Rant...@googlegroups.com
e_mail: boed...@yahoo.com

--- On Fri, 1/16/09, Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com> wrote:
From: Dr.Saafroedin BAHAR <saaf...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Friday, January 16, 2009, 3:51 PM

Waalaikumsalam w.w. Sanak Boediman Moeslim dan para sanak sa palanta,
 
Pertanyaan Sanak sabana padek dan paralu dijawab sacaro janiah. Namun disiko pulo justru lataknyo masalah, yaitu baa manjalehkan dan menata sacaro rapi dualisme sistem nilai dan struktur sosial masyarakat Minangkabau, nan pado dasarnyo tadiri dari duo jalur nan nampaknyo indak ado kaitan satu samo lain , saparati nampak pado ungkapan 'luhak bapanghulu, rantau barajo'.
 
Apolagi kalau masalah dasar ko kito hubuangkan jo akibat rangkaian parubahan sosial nan alah bakali-kali malendo Minangkabau dan alun paranah dikonsolidasikan sacaro mantap. Dalam pandangan ambo, alah balapih-lapih dan alah batumpuk-tumpuk akibat parubahan sosial tu dalam masyarakat Minangkabau, dan alun paranah dikaji dan disalasaikan sacaro mandasar. Patuik kito syukuri bahaso akhir-akhir ko pak Gubernur Gamawan Fauzi alah maambiak prakarsa -- antaro lain -- untuak manjaniahkan apo bana nan kito mukasuik jo ABS SBK.
 
Dalam hubuangan ko, paralu kito paratikan kanyataan bahaso para panghulu kito tu sandiri juo banyak nan mangaluah tantang baa eloknyo hubungan baliau-baliau jo anak kamanakan maso kini, nan salain alah bakambang biak juo alah banyak nan cadiak, sahinggo indak mudah baitu sajo manarimo 'parentah' para panghulu. Karano itu, ambo yakin bahaso indak --atau alun -- banyak paratian para penghulu kito ka masalah rajo-rajo Minangkabau ko. [Sekedar catatan : masalah rajo-rajo dari karajaan tradisional ko indak hanyo ado di Minangkabau sajo, tapi tadapek dis eluruh Indonesia.].
 
Sabagai langkah paratamo untuak manduduakkan masalahnyo, ambo alah maajak para sejarawan dari Fakultas Sastra Universitas Andalas untuak mancurahkan paratian ka masalah ko, supayo jan kabinguangan juo kito, baiak nan tuo maupun -- atau apolagi -- nan mudo-mudo. Alhamdulillah alah ado kesediaan dari baliau-baliau nan ahli dalam soal ko.
Untuak mambulekkan pandapek kito manganai sistem nilai dan sistem sosial Minangkabau maso kini, ambo mandukuang panuah gagasan Bp Drs Farhan Muin Dt Bagindo dalam partamuan jo Tim Perumus ABS SBK di Restoran dakek Patuang Tani di Jakarta babarapo wakatu nan lalu, yaitu paralu kito adokan suatu Kongres Minangkabau untuak maambiak kaputusan.[Kito kan indak ka namuah 'manarimo pisang bakubak' doh].
 
Samantaro alun ado kasapakatan lai, sagalo pandapek kito tampuang, baiak nan pro maupun nan kontra, untuak salanjutnyo dikaji sacaro mandalam dek ahli-ahlinyo.
 
Untuak samantaro ko, dalam pandangan ambo pribadi gala kehormatan sangsako adat tu -- apopun arti dan maknanyo -- ado manfaatnyo dalam mampaarek persatuan, baiak sasamo kito urang Minang maupun untuk sasamo bangso Indonesia. Namun, tantu sajo ambo indak bakabaratan kalau ado di antaro kito nan indak satuju, sasuai jo kato pepatah juo: " rambuik nan samo hitam, pandapek balain-lain".
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: saaf...@gmail.com;



--- On Fri, 1/16/09, Boediman Moeslim <boed...@yahoo.com> wrote:

From: Boediman Moeslim <boed...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Gelar Sangsako Adat untuk Persatuan Bangsa.

Nofend Marola

unread,
Jan 19, 2009, 3:45:24 AM1/19/09
to Rant...@googlegroups.com
Tarimokasih Mamanda Abraham, atas tanggapannyo..
 
Salam.


On Behalf Of Abraham Ilyas
Sent: 18 Januari 2009 20:50
Kmd. Nofend yth.
Ambo akui, memang ambo tidak konsisten menggunakan istilah "Minang Kabau" dan "Minangkabau". Karena menurut ambo, iko adalah masalah budaya, bukan istilah hukum. 
Kata "Minang Kabau" lebih dahulu dikenal daripada kata "Minangkabau".
Nah disinilah letaknya, kalau bicara "kerajaan" kita akan mamakai sesuatu yang pasti (baku).
Sampai sekarang ambo belum percaya adanya suatu kerajaan nan banamo Minangkabau.
Minangkabau adalah "budaya" dari nagari-nagari. Kata Minangkabau (saat ini) bersal dari kata "Minang" dan "Kabau" sarupo karangan ambo itu di situs nagari.org.
Dari istilah Minang Kabau kita bisa menjelaskan seluruh aspek "kemanusiaan orang"
Minang Kabau adalah suatu nilai budaya manusia (serba tidak tunggal).
Hanya Tuhanlah atau orang-orang mengakui manunggal ing kawulo lan gusti yang memiliki nilai tunggal di dalam kehidupannya sehari-hari.
Maaf pandapek ambo iko, bagi nan tidak sepandapek.
 
Wassalam
 
Abraham Ilyas ---------------------- CUT----- 

Hifni H.Nizhamul

unread,
Jan 19, 2009, 4:05:44 AM1/19/09
to Rant...@googlegroups.com

Assalamualaikum Warrahamatullahi wa barakatuh,


Sanak sudaro se alam minangkabau,


Setelah menyimak topik yang menarik yang tengah berlangsung dalam beberapa minggu ini, marilah kita menarik suatu kesimpulan yang saya beri judul " Tambo - Silsilah kerajaan si S
umbar - Gelar Sangsako Adat - ABS -SBK ", sebagai berikut :

1. Tambo
 dan alam minangkabau:


Tambo
merupakan kisah yang meriwayatkan tentang asal usul dan kejadian masa lalu yang terjadi di Minangkabau. Tambo bukan catatan sejarah yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta yang akurat, tahun kejadian serta siapakah yang melakukan penemuan. Namun bila dikaitkan dengan suatu bukti keberadaan, maka bukti itu ada dan nyata. Tambo tidak memerlukan sistematika tertentu, sebagaimana halnya sejarah.

     Terdapat dua jenis tambo yang menjadi tonggak adat dan budaya minangkabau yang hidup hingga masa kini, yaitu :

i.        Tambo alam, yang mengisahkan asal usul nenek moyang, serta mengolah alam sebagai pilar dalam membangun sistem kemasyarakatan ,

 

ii.      Tambo adat, pengajaran akal dan budi, yang dikisahkan bahwa segala sesuatu yang harus dipatuhi dalam pola prikelakuan yang normative, mencakup segala cara-cara atau pola berfikir, cara bertindak yang akhirnya membentuk struktur social masyarakat atau sistem kekuasaan minangkabau pada masa lalu dan berlaku sebagai adat yang tidak lekang karena panas dan tidak basa karena hujan..

 

     Untuk ukuran masa sekarang, maka Tambo dapat dikatakan sebagai informasi budaya yang spektakuler. Bagi masyakakat minang, kisah asal usul suku bangsa minang yang dinukilkan dalam kaba maupun tambo, realitas dalam pertumbuhan adat dan budaya minangkabau kuno. Walaupun, sumber informasi yang ada tentang keminangkabauan itu, merupakan ornamen mitologi, yaitu mengkisahkan asal usul dan migrasi suku bangsa minang kabau secara fiksi (dongeng), namun ia tetap hidup hingga sekarang. Sebut saja pantun yang berbunyi, seperti ini :

    

     Dimana mulanya terbit pelita
Dibalik tanglun nan berapi
Dimana mulanya ninik kita
Ialah di puncak gunung Merapi

 

2. Silsilah Kerajaan di Sumatera Barat ( Minangkabau Kuno):

          Berdasarkan postingan yang masuk maka  :

1.    cakupan wilayah minangkabau sesuai dengan apa yang tertuang dalam Tambo, adalah :
     "Jauah nan buliah ditunjuakkan, dakek
 nan buliah dikakokkan, sabarih bapantang lupo satitiak bapantang ilang, kok ilang tulisan di Batu, di Limbago tingga juo, nan Salareh Batang Bangkaweh, Salilik Gunuang Marapi Saedaran Gunuang Pasaman Sajajaran Sago jo Singgalang sahinggo Talang jo Gunuang Kurinci,
 
2.  
 Didalam Wilayah Minangkabau terdapat Kelarasan - Luhak nan Tigo yang yang terbetuk sejak zaman Datuak Maharajo Dirajo yang menjadi asal usul manusia Minangkabau pada masa dahulunya. Kemudian selanjutnya oleh   Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang, membentuk fondasi bagi adat istadat di Minangkabau ; meliputi undang-undang dan Limbago  serta pembagian suku ; bodi - chanioago – koto – piliang, dst nya.
 
3.  Dalam kerangka ini, maka pembentukan kelompok masyarakat hukum adat  yang berpayung dibawah panji alam minangkabau - yang asal usulnya sebagaimana tertuang didalam Tambo itu , maka tidak dapat dipungkiri bahwa kelompok masyarakat itu - berkelompok dalam satu kepemimpinan /Penghulu.
 

 

4.    Nagari – Nagari yang memiliki adat dan lembaga yang kemudian berkembang dan berkelompok menjadi kesatuan masyarakat hukum adat yang dipimpin oleh penghulu pucuknya – maka tetap saja yang menjadi acuan dalam hukum adat mereka itu adalah  sesuai dengan duo adat di Minagkabau, yaitu : adat Dt Parapatiah nan Sabatang, nan barajo ka kato mufakat dan adat Dt Ketemangguangan nan Barajo ka Rajo.

 

5.   Di wilayah minangkabau tidak semata hanya ada kerajaan Pagaruyung, melainkan terdapat kerajaan lainnya seperti Darmasyraya, Indera Pura, Sungai Pagu, Taraguang (seperti yang dilotarkan oleh Datuk Endang). Lebih-lebih Sungai Tarab yang juga harus menggali secara histori, karena disinilah bermula adanya cerita yang ada di dalam Tambo yang kita kenal. 

 

6.   Silsilah kerajaan – kerajaan di Minangkabau perlu disusun dalam dua tataran, yaitu tataran nagari sebagai infrastruktur yang tumbuh dari dalam, dan tataran kerajaan-kerajaan sebagai suprastruktur yang datang dari luar. Selayaknya, hubungan antara kedua tataran ini harus diperjelas oleh ahli sejarah.  

Bagaimana pun, eksistensi kerajaan-kerajaan tersebut merupakan bagian menyeluruh dari keseluruhan sejarah Minangkabau.

III.  Gelar Sasangko Adat :

 

Pemberian gelar sasangko adat yang mengatas namakan pemangku adat alam minangkabau menimbulkan controversial bagi kalangan orang minangkabau sendiri.  Pemberian gelar sasangko adat dalam Struktur adat minangkabau, menimbulkan perenungan yang panjang bagi kita. Terdapat kata-kata yang tidak pada patutnya, sehingga perlu dicek dan kroscek sehingga tidak menimbulkan masalah dan mengaburkan sejarah, antara lain :

 

Pertama, istilah gelar sangsako 'adat', perlu dipertanyakan adat apa dan adat dimana. Sehingga seharusnya frasa itu berbentuk: sangsako adat ... [apa] ... [dimana]. Sangsakonya apa, sakonya apa, pusakonya apa. Kemudian lebih lanjut perlu dikenali sistem adatnya bagaimana. Apakah mengenal hukum nan ampek, apa cupak usalinya (saya kira ini bisa dijawab) dan apa saja cupak buatannya. Di dalam beberapa versi tambo belum ditemukan  adat model begini.

 

Kedua, Pemangku 'Daulat' Yang Dipertuan, ini juga perlu diperjelas makna 'daulat'. Daulat terhadap orang-orang yang mana, juga daulat terhadap wilayah apa. Karena 'daulat' adalah salah satu unsur dalam Konvensi Montevidio. Yang jelas dari sejarah yang pernah dikembangkan, daulat itu sudah habis pada masa Perang Paderi. Kalau terbentuk 'daulat' pada era generasi ke-3, kiranya perlu diperjelas mengenai siapa dan dimana itu.

 

Ketiga, istilah 'mewakili seluruh Pucuak Adat Alam Minangkabau' perlu diperjelas, karena saya baru kali ini mendengar istilah ini. Raja terakhir Pagaruyung tidak pernah menggunakan istilah ini. Kemudian diperjelas apa itu Pucuak Adat, siapa-siapa saja orangnya. Klaim ini sangat berbahaya. Yang terpenting adalah kata-kata 'mewakili', ini mengingatkan saya dengan perjanjian penyerahan Minangkabau kepada Belanda; jaan sampai tuneh tumbuah di nan salah.

 

Keempat, istilah 'Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau', belum pernah terdengar, termasuk LKAAM sepertinya tidak pernah menggunakan istilah ini. Apakah kemarin itu berlangsung di Bukit Marapalam?, kalau iya, 'sedikit' agak relevan.

 

Dengan adanya pertanyaan ini, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa perberlakuan “ Adat salingka Nagari “ benar – benar telah dipraktekkan oleh pemangku kerajaan Pagaruyung. Akan tetapi pihak Kerajaan Pagaruyung hendaknya tetap bersedia menerima koreksi bahwa Apa yang dilakukan oleh kerajaan Pagaruyung dalam pemberian gelar sasangko adat sesungguhnya tidak membawa implikasi terhadap alam minangkabau itu sendiri, karena pemangku 'Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau' saat ini adalah LKAAM

 

Demikian postingan yang masuk dapat saya simpulkan seperti yang diuraikan diatas seputar Tambo – Silsilah kerajaan di Minangkabau dan Gelar Sasangko Adat.

 

Lebih kurang dalam menangkap apa yang tersurat dan apa yang tersirat dari perbincangan sanak-sanak mohon dimaafkan.

 

Mengutip sebuah hadis - Rasulullah mengingatkan tentang penyelesaian masalah ini lewat sabdanya:  “Apabila suatu urusan itu tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” ...


sepotong kalimat ini bermakna luas dimana kita dapat menyimpulkan bahwa kompetensi keilmuan dalam menyelesaikan suatu masalah - diyakini dapat mengurangi mis informasi yang tengah berlangsung dan yang sejarah akan yang akan digarap.

Semoga kalangan sejarah yang akan menggarap seputar subyek ini tetap netral dalam menyajikan hasil penelitiannya.



Wassalam,



  Hifni H. Nizhamul

Kawasan Puspiptek - Serpong-Tangerang
http://bundokanduang.wordpress.com


 




--- On Sat, 1/17/09, datuk_endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:

Nofend Marola

unread,
Jan 19, 2009, 4:39:47 AM1/19/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum WrWb.
 
Bundo Evi dan Sanak di Palanta RantauNet
 
Ambo yakin, diskusi yang sangat bermamfaat seperti masalah/sejarah Minangkabau ini akan terus bergulir di Palanta dari tahun ketahun, namun sangat jarang kita/member yang ikut dalam diskusi ini menulis dan menyampaikan kesimpulan pandangan seperti yang bundo evi sampaikan ini.
 
Secara pribadi, saya sangat bangga dan senang degan hasil2 seperti ini, memang seperti ini hendaknya kita harapkan dapat dari milis ini, disamping silaturahmi dan menambah dunsanak dan lain sebagainya.
 
Atas nama Rang Dapua atau Admin di Palanta RantauNet, kami sangat berterimakasih terhadap uraian bundo ini, dan kami harapkan setiap diskusi yang sangat bermamfaat seperti ini, bisa selalu kita sampaikan dan kita teruskan untuk lebih banyak lagi.
 
Kami tunggu hasil-hasil pandangan dan kesimpulan Bundo Evi terhadap diskusi di Palanta selanjutnya.
 
Sekian dan Wassalam
Nofend St. Mudo
Atas nama si Pangka RN
On Behalf Of Hifni H.Nizhamul
Sent: 19 Januari 2009 16:06

Assalamualaikum Warrahamatullahi wa barakatuh,


Sanak sudaro se alam minangkabau,


Setelah menyimak topik yang menarik yang tengah berlangsung dalam beberapa minggu ini, marilah kita menarik suatu kesimpulan yang saya beri judul " Tambo - Silsilah kerajaan si S
umbar - Gelar Sangsako Adat - ABS -SBK ", sebagai berikut :

1. Tambo
 dan alam minangkabau:


Tambo
merupakan kisah yang meriwayatkan tentang asal usul dan kejadian masa lalu yang terjadi di Minangkabau. Tambo bukan catatan sejarah yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta yang akurat, tahun kejadian serta siapakah yang melakukan penemuan. Namun bila dikaitkan dengan suatu bukti keberadaan, maka bukti itu ada dan nyata. Tambo tidak memerlukan sistematika tertentu, sebagaimana halnya sejarah.

     Terdapat dua jenis tambo yang menjadi tonggak adat dan budaya minangkabau yang hidup hingga masa kini, yaitu :

i.        Tambo alam, yang mengisahkan asal usul nenek moyang, serta mengolah alam sebagai pilar dalam membangun sistem kemasyarakatan ,

ii.      Tambo adat, pengajaran akal dan budi, yang dikisahkan bahwa segala sesuatu yang harus dipatuhi dalam pola prikelakuan yang normative, mencakup segala cara-cara atau pola berfikir, cara bertindak yang akhirnya membentuk struktur social masyarakat atau sistem kekuasaan minangkabau pada masa lalu dan berlaku sebagai adat yang tidak lekang karena panas dan tidak basa karena hujan..


 


 -------------- KITO KAREK DISIKO --------------- DEK LAH DIKIRIM SABALUUNYO ---- SAYANG BANCHWITH TABUANG ----------------
:) 

Alzaber Alzaber Arif

unread,
Jan 19, 2009, 4:59:05 AM1/19/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum WrWb.
 
Bundo Evi dan Sanak di Palanta RantauNet
 
Samo jo apo nan dikeceaan Nofend St. Mudo, bahaso apo nan alah disimpulkan bundo tu sangai manolong awak kasadoannyo. Untuang2 kesimpulan nan alah dimulai bundo menyusul kapado kasimpulan2 berikutnyo.
 
Tarimo Kasi
Wassalam
Alzaber

--- Pada Sen, 19/1/09, Nofend Marola <nof...@rantaunet.org> menulis:

Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi!
Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!

Boediman Moeslim

unread,
Jan 19, 2009, 5:17:50 AM1/19/09
to Rant...@googlegroups.com, Abraham Ilyas, nof...@rantaunet.org
Assalamu'alaikum ww.
Ado budaya nan barasa dari adaik nan banamo MINANGKABAU (bisa sajo dipangga kalau awak ingin mamangga, tagantuang makna nan tasalubuang), ado pulo karajaan nan banamo Pagaruyuang. Kaduonyo manuruik ambo, indak samo. Masing-masing mampunyai hirarkhi dan kabijakan nan tapisah. Tapi apo iyo?
Kalau baitu,  baa nan sabananyo?
Gagasan mambuek buku ABS-SBK agar awak hargai. Kiro-kiro bara lamo awak manunggu.
Samoga manjalang awak manunggu, tolong dibantu manjaweknyo. Tarimokasih.

Wassalam,
BOEDIMAN MOESLIM PILIANG
Lembang, Bandung.

--- On Sun, 1/18/09, Abraham Ilyas <abraha...@gmail.com> wrote:

Datuk Endang

unread,
Jan 19, 2009, 6:08:31 AM1/19/09
to Rant...@googlegroups.com
Ibu Hifni yth.
 
Ambo maharagoi usaho ibu untuak mangkompilasi bahan-bahan nan ado. Kalau dapek iyo kambang sasuai harapan rang dapua, nantik dapek pulo terbit buku saroman nan alah disusun angku Dt. Bagindo itu.
 
Jadi nan kini dapek kito sabuik Resume Tahap I. Ambo maharok Tim Sejarawan itu ikuik sato pulo di siko, jadi gayuang lai basambuik kato lai bajawek.
 
Ado babarapo catatan dan komentar ambo dari resume ibu, nanti ambo susulkan.
 
Wassalam,
-datuk endang

--- On Mon, 1/19/09, Alzaber Alzaber Arif <zabe...@yahoo.co.id> wrote:
From: Alzaber Alzaber Arif <zabe...@yahoo.co.id>
Subject: Bls: [R@ntau-Net] Re: Resume : Tambo - Silsilah Kerajaan - Gelar Sangsako Adat
To: Rant...@googlegroups.com

Datuk Endang

unread,
Jan 19, 2009, 8:18:18 AM1/19/09
to Rant...@googlegroups.com, suli...@yahoogroups.com, minan...@yahoogroups.com

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Ibu Hifni yth.

Izinkan saya mengomentari dan memberikan catatan terhadap resume yang telah ibu susun, sbb:

 

 

Assalamualaikum Warrahamatullahi wa barakatuh,


Sanak sudaro se alam minangkabau,


Setelah menyimak topik yang menarik yang tengah berlangsung dalam beberapa minggu ini, marilah kita menarik suatu kesimpulan yang saya beri judul " Tambo - Silsilah kerajaan si Sumbar - Gelar Sangsako Adat - ABS -SBK ", sebagai berikut :

1. Tambo  dan alam minangkabau:


Tambo
merupakan kisah yang meriwayatkan tentang asal usul dan kejadian masa lalu yang terjadi di Minangkabau. Tambo bukan catatan sejarah yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta yang akurat, tahun kejadian serta siapakah yang melakukan penemuan. Namun bila dikaitkan dengan suatu bukti keberadaan, maka bukti itu ada dan nyata. Tambo tidak memerlukan sistematika tertentu, sebagaimana halnya sejarah.

     Terdapat dua jenis tambo yang menjadi tonggak adat dan budaya minangkabau yang hidup hingga masa kini, yaitu :

i.        Tambo alam, yang mengisahkan asal usul nenek moyang, serta mengolah alam sebagai pilar dalam membangun sistem kemasyarakatan ,

ii.      Tambo adat, pengajaran akal dan budi, yang dikisahkan bahwa segala sesuatu yang harus dipatuhi dalam pola prikelakuan yang normative, mencakup segala cara-cara atau pola berfikir, cara bertindak yang akhirnya membentuk struktur social masyarakat atau sistem kekuasaan minangkabau pada masa lalu dan berlaku sebagai adat yang tidak lekang karena panas dan tidak basa karena hujan..

 

DEP:

Sebenarnya ada sistematika lain yang lebih umum, yaitu Tambo Alam Minangkabau terdiri dari : cupak usali (kisah asal-usul masyarakat dan pembentukan negeri), dan cupak buatan (ketentuan dan hukum-hukum adat).

Memang tambo belum dikenali sebagai catatan ‘sejarah’. Saya pernah berdebat panjang dengan guru-guru besar sejarah FIB-UI mengenai hal ini. Dengan demikian era sebelum adanya catatan-catatan resmi di Minangkabau (akhir abad 18?), dapat dikatakan sebagai era pra-sejarah. Mungkin sanak Suryadi dapat menginisiasi lebih jauh lagi era ini. Pernah juga kita masuk era sejarah bila menggunakan rujukan batu basurek (abad 14-15?); kemudian tenggelam lagi dalam era pra-sejarah.

 

     Untuk ukuran masa sekarang, maka Tambo dapat dikatakan sebagai informasi budaya yang spektakuler. Bagi masyakakat minang, kisah asal usul suku bangsa minang yang dinukilkan dalam kaba maupun tambo, realitas dalam pertumbuhan adat dan budaya minangkabau kuno. Walaupun, sumber informasi yang ada tentang keminangkabauan itu, merupakan ornamen mitologi, yaitu mengkisahkan asal usul dan migrasi suku bangsa minang kabau secara fiksi (dongeng), namun ia tetap hidup hingga sekarang. Sebut saja pantun yang berbunyi, seperti ini :

     Dimana mulanya terbit pelita
Dibalik tanglun nan berapi
Dimana mulanya ninik kita
Ialah di puncak gunung Merapi

 

DEP:

Belum lama ini saya mendapatkan buku baru di Padang mengenai sejarah ini dengan versi yang berbeda, karya …. Disebutkan bila Gunung Merapi yang dimaksud adalah Gunung Pasaman yang juga berapi. Kalau disebutkan ‘kutiko Gunuang Marapi sagadang talua itiak’, memang Gunung Pasaman ini masih bisa dilihat dari laut.

 

2. Silsilah Kerajaan di Sumatera Barat ( Minangkabau Kuno):

          Berdasarkan postingan yang masuk maka  :

1.    cakupan wilayah minangkabau sesuai dengan apa yang tertuang dalam Tambo, adalah :

     "Jauah nan buliah ditunjuakkan, dakek

 nan buliah dikakokkan, sabarih bapantang lupo satitiak bapantang ilang, kok ilang tulisan di Batu, di Limbago tingga juo, nan Salareh Batang Bangkaweh, Salilik Gunuang Marapi Saedaran Gunuang Pasaman Sajajaran Sago jo Singgalang sahinggo Talang jo Gunuang Kurinci,

  

2.  

 Didalam Wilayah Minangkabau terdapat Kelarasan - Luhak nan Tigo yang yang terbetuk sejak zaman Datuak Maharajo Dirajo yang menjadi asal usul manusia Minangkabau pada masa dahulunya. Kemudian selanjutnya oleh   Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang, membentuk fondasi bagi adat istadat di Minangkabau ; meliputi undang-undang dan Limbago  serta pembagian suku ; bodi - chanioago – koto – piliang, dst nya.

3.  Dalam kerangka ini, maka pembentukan kelompok masyarakat hukum adat  yang berpayung dibawah panji alam minangkabau - yang asal usulnya sebagaimana tertuang didalam Tambo itu , maka tidak dapat dipungkiri bahwa kelompok masyarakat itu - berkelompok dalam satu kepemimpinan /Penghulu.

4.    Nagari – Nagari yang memiliki adat dan lembaga yang kemudian berkembang dan berkelompok menjadi kesatuan masyarakat hukum adat yang dipimpin oleh penghulu pucuknya – maka tetap saja yang menjadi acuan dalam hukum adat mereka itu adalah  sesuai dengan duo adat di Minagkabau, yaitu : adat Dt Parapatiah nan Sabatang, nan barajo ka kato mufakat dan adat Dt Ketemangguangan nan Barajo ka Rajo.

DEP:

Pituah ini sebaiknya dikonsultasikan juga ke Dt. Bagindo. Istilah ’barajo ka rajo’ rasanya tidak dikenal.

5.   Di wilayah minangkabau tidak semata hanya ada kerajaan Pagaruyung, melainkan terdapat kerajaan lainnya seperti Darmasyraya, Indera Pura, Sungai Pagu, Taraguang (seperti yang dilotarkan oleh Datuk Endang). Lebih-lebih Sungai Tarab yang juga harus menggali secara histori, karena disinilah bermula adanya cerita yang ada di dalam Tambo yang kita kenal. 

DEP:

Sebenarnya konsep negeri dimulai dari Pariangan Padang Panjang, dan lanjutannya ke Sungai Tarab. Atau mengikuti versi baru dari Pasaman itu.

6.   Silsilah kerajaan – kerajaan di Minangkabau perlu disusun dalam dua tataran, yaitu tataran nagari sebagai infrastruktur yang tumbuh dari dalam, dan tataran kerajaan-kerajaan sebagai suprastruktur yang datang dari luar. Selayaknya, hubungan antara kedua tataran ini harus diperjelas oleh ahli sejarah.  

DEP:

Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, kemungkinan para ahli sejarah akan ’menyerah’. Yang lebih dibutuhkan adalah ahli ’prasejarah’, termasuk juga arkeolog.

Bagaimana pun, eksistensi kerajaan-kerajaan tersebut merupakan bagian menyeluruh dari keseluruhan sejarah Minangkabau.

III.  Gelar Sasangko Adat :

 

Pemberian gelar sasangko adat yang mengatas namakan pemangku adat alam minangkabau menimbulkan controversial bagi kalangan orang minangkabau sendiri.  Pemberian gelar sasangko adat dalam Struktur adat minangkabau, menimbulkan perenungan yang panjang bagi kita. Terdapat kata-kata yang tidak pada patutnya, sehingga perlu dicek dan kroscek sehingga tidak menimbulkan masalah dan mengaburkan sejarah, antara lain :

Pertama, istilah gelar sangsako 'adat', perlu dipertanyakan adat apa dan adat dimana. Sehingga seharusnya frasa itu berbentuk: sangsako adat ... [apa] ... [dimana]. Sangsakonya apa, sakonya apa, pusakonya apa. Kemudian lebih lanjut perlu dikenali sistem adatnya bagaimana. Apakah mengenal hukum nan ampek, apa cupak usalinya (saya kira ini bisa dijawab) dan apa saja cupak buatannya. Di dalam beberapa versi tambo belum ditemukan  adat model begini.

Kedua, Pemangku 'Daulat' Yang Dipertuan, ini juga perlu diperjelas makna 'daulat'. Daulat terhadap orang-orang yang mana, juga daulat terhadap wilayah apa. Karena 'daulat' adalah salah satu unsur dalam Konvensi Montevidio. Yang jelas dari sejarah yang pernah dikembangkan, daulat itu sudah habis pada masa Perang Paderi. Kalau terbentuk 'daulat' pada era generasi ke-3, kiranya perlu diperjelas mengenai siapa dan dimana itu.

Ketiga, istilah 'mewakili seluruh Pucuak Adat Alam Minangkabau' perlu diperjelas, karena saya baru kali ini mendengar istilah ini. Raja terakhir Pagaruyung tidak pernah menggunakan istilah ini. Kemudian diperjelas apa itu Pucuak Adat, siapa-siapa saja orangnya. Klaim ini sangat berbahaya. Yang terpenting adalah kata-kata 'mewakili', ini mengingatkan saya dengan perjanjian penyerahan Minangkabau kepada Belanda; jaan sampai tuneh tumbuah di nan salah.

Keempat, istilah 'Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau', belum pernah terdengar, termasuk LKAAM sepertinya tidak pernah menggunakan istilah ini. Apakah kemarin itu berlangsung di Bukit Marapalam?, kalau iya, 'sedikit' agak relevan.

Dengan adanya pertanyaan ini, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa perberlakuan “ Adat salingka Nagari “ benar – benar telah dipraktekkan oleh pemangku kerajaan Pagaruyung. Akan tetapi pihak Kerajaan Pagaruyung hendaknya tetap bersedia menerima koreksi bahwa Apa yang dilakukan oleh kerajaan Pagaruyung dalam pemberian gelar sasangko adat sesungguhnya tidak membawa implikasi terhadap alam minangkabau itu sendiri, karena pemangku 'Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau' saat ini adalah LKAAM

 

DEP:

Secara legal formalnya perlu juga ditanyakan, mengingat ada penyerahan kedaulatan dari 3 orang Daulat Yang Dipertuan dari Saruaso kepada Kerajaan Belanda tertanggal 10 Pebruari 1820, walaupun sebenarnya pada awalnya Belanda enggan menerimanya. Kedaulatan itu belum diserahkan kembali kepada siapapun. Bila kemudian Belanda mengangkat Tuanku Saruaso sebagai Regen Tanah Datar sebagai wakil Belanda di tempat itu, namun tidak seluruh wilayah Minangkabau. Wilayah Tanah Datar pun akhirnya dibagi lagi dengan adanya Regen Batipuh. Perlu diperjelas wilayah kedaulatan generasi ke-3 selingkup apa, yang pasti tidak lebih luas dari successor terakhir.

 

Demikian postingan yang masuk dapat saya simpulkan seperti yang diuraikan diatas seputar Tambo – Silsilah kerajaan di Minangkabau dan Gelar Sasangko Adat.

Lebih kurang dalam menangkap apa yang tersurat dan apa yang tersirat dari perbincangan sanak-sanak mohon dimaafkan.

Mengutip sebuah hadis - Rasulullah mengingatkan tentang penyelesaian masalah ini lewat sabdanya:  “Apabila suatu urusan itu tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” ...


sepotong kalimat ini bermakna luas dimana kita dapat menyimpulkan bahwa kompetensi keilmuan dalam menyelesaikan suatu masalah - diyakini dapat mengurangi mis informasi yang tengah berlangsung dan yang sejarah akan yang akan digarap.

Semoga kalangan sejarah yang akan menggarap seputar subyek ini tetap netral dalam menyajikan hasil penelitiannya.

 

 

Wassalam,

 

  Hifni H. Nizhamul

Wassalam,
-datuk endang

Defiyan Cori

unread,
Jan 19, 2009, 8:51:47 PM1/19/09
to Rant...@googlegroups.com
Takah2 no uraian nan dari datuak labiah mampajaleh kedudukan no..tarimo kasih pak datuak.
Mudah2an iko lebih menjelaskan substansi adaik awak, nan antaro kerajaan Pagaruyuang dan suku bangsa Minangkabau jelas perbedaan no labiah bisa diformulasikan dengan latar sejarah no..
 
Salam
Defiyan Cori L/41


--- On Mon, 1/19/09, Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:
From: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Resume : Tambo - Silsilah Kerajaan - Gelar Sangsako Adat
To: Rant...@googlegroups.com

Hifni H.Nizhamul

unread,
Jan 20, 2009, 4:04:43 AM1/20/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalamualaikum, Wr.wb

Terlebih dahulu saya mengucapkan terima kasih kepada Sanak-sanak yang telah berdiskusi seputar topik yang tercantum dalam subyek milist ini. Tidak ada gading yang tak retak dan tidak ada pendapat yang tidak salah. Terkandung maksud agar diskusi kita tidak menjadi bagalau, maka saya berupaya menyimpulkan suatu topik ini.

Sesungguhnya kesimpulan saya jauh dari kadar ilmiah karena tidak dipresentasikan pada suatu audience remi - akan tetapi bagi saya sangat berguna karena saya menyimpulkan selain berdasarkan ireferensi yang saya baca - juga berasal dari masukan pada milist ini.

Khusus kepada Pak Datuk Endang serta Pak Arman, terima kasih informasi sejarah yang bapak-bapak sampaikan dalam milist ini.
Harapan kita kedepan - seputar topik ini benar-benar dilakukan kajian secara mendalam dan dalam forum ini saya meminta agar kajian dan penelitian yang dilakukan bersifat netral dan tidak menimbulkan friksi diantara sesasama kita. Apalagi Alam minangkabau yang sedemikian luas telah menciut oleh faktor georgrafi dan politis.

Sesungguhnya dalam tataran dunia melayu (sedunia), kita adalah bagian yang sangat kecil dari ras melayu lainnya. Silahkan berselancar di http://melayuonline.com.

Adapun koreksi dari Pak Datuk akan saya simpan dalam dokumentasi saya untuk saya telusuri. Apalagi muncul pembagian wilayah yang diciptakan oleh pihak Belanda yang menimbulkan strata baru dalam kehidupan masyarakat di  Minangkabau. Terima kasih.

Wassalam,




 




--- On Mon, 1/19/09, Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:
From: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Resume : Tambo - Silsilah Kerajaan - Gelar Sangsako Adat
To: Rant...@googlegroups.com
Cc: suli...@yahoogroups.com, minan...@yahoogroups.com
Date: Monday, January 19, 2009, 8:18 AM

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Ibu Hifni yth.

Izinkan saya mengomentari dan memberikan catatan terhadap resume yang telah ibu susun, sbb:

 

 

-------------cut -------------



1. Tambo  dan alam minangkabau:


-------------------

     Terdapat dua jenis tambo yang menjadi tonggak adat dan budaya minangkabau yang hidup hingga masa kini, yaitu :

i.        Tambo alam, yang mengisahkan asal usul nenek moyang, serta mengolah alam sebagai pilar dalam membangun sistem kemasyarakatan , 

ii.      Tambo adat, pengajaran akal dan budi, yang dikisahkan bahwa segala sesuatu yang harus dipatuhi dalam pola prikelakuan yang normative, mencakup segala cara-cara atau pola berfikir, cara bertindak yang akhirnya membentuk struktur social masyarakat atau sistem kekuasaan minangkabau pada masa lalu dan berlaku sebagai adat yang tidak lekang karena panas dan tidak basa karena hujan..

 

DEP:

Sebenarnya ada sistematika lain yang lebih umum, yaitu Tambo Alam Minangkabau terdiri dari : cupak usali (kisah asal-usul masyarakat dan pembentukan negeri), dan cupak buatan (ketentuan dan hukum-hukum adat).

Memang tambo belum dikenali sebagai catatan ‘sejarah’. Saya pernah berdebat panjang dengan guru-guru besar sejarah FIB-UI mengenai hal ini. Dengan demikian era sebelum adanya catatan-catatan resmi di Minangkabau (akhir abad 18?), dapat dikatakan sebagai era pra-sejarah. Mungkin sanak Suryadi dapat menginisiasi lebih jauh lagi era ini. Pernah juga kita masuk era sejarah bila menggunakan rujukan batu basurek (abad 14-15?); kemudian tenggelam lagi dalam era pra-sejarah.


-> akan saya perbaiki.

    

Dimana mulanya terbit pelita
Dibalik tanglun nan berapi
Dimana mulanya ninik kita
Ialah di puncak gunung Merapi

 

DEP:

Belum lama ini saya mendapatkan buku baru di Padang mengenai sejarah ini dengan versi yang berbeda, karya …. Disebutkan bila Gunung Merapi yang dimaksud adalah Gunung Pasaman yang juga berapi. Kalau disebutkan ‘kutiko Gunuang Marapi sagadang talua itiak’, memang Gunung Pasaman ini masih bisa dilihat dari laut.

-----> akan saya cari juga sumbernya  .. dimana ???


2. Silsilah Kerajaan di Sumatera Barat ( Minangkabau Kuno):

      ------------------------cut ---------.

 

4.    Nagari – Nagari yang memiliki adat dan lembaga yang kemudian berkembang dan berkelompok menjadi kesatuan masyarakat hukum adat yang dipimpin oleh penghulu pucuknya – maka tetap saja yang menjadi acuan dalam hukum adat mereka itu adalah  sesuai dengan duo adat di Minagkabau, yaitu : adat Dt Parapatiah nan Sabatang, nan barajo ka kato mufakat dan adat Dt Ketemangguangan nan Barajo ka Rajo.

DEP:

Pituah ini sebaiknya dikonsultasikan juga ke Dt. Bagindo. Istilah ’barajo ka rajo’ rasanya tidak dikenal.

-----------> akan saya konfirmasi - kalau tidak salah dari buku Alam takambang jadi guru.


5.   Di wilayah minangkabau tidak semata hanya ada kerajaan Pagaruyung, melainkan terdapat kerajaan lainnya seperti Darmasyraya, Indera Pura, Sungai Pagu, Taraguang (seperti yang dilotarkan oleh Datuk Endang). Lebih-lebih Sungai Tarab yang juga harus menggali secara histori, karena disinilah bermula adanya cerita yang ada di dalam Tambo yang kita kenal. 

DEP:

Sebenarnya konsep negeri dimulai dari Pariangan Padang Panjang, dan lanjutannya ke Sungai Tarab. Atau mengikuti versi baru dari Pasaman itu


---- ya memang betul.


6.   Silsilah kerajaan – kerajaan di Minangkabau perlu disusun dalam dua tataran, yaitu tataran nagari sebagai infrastruktur yang tumbuh dari dalam, dan tataran kerajaan-kerajaan sebagai suprastruktur yang datang dari luar. Selayaknya, hubungan antara kedua tataran ini harus diperjelas oleh ahli sejarah.  

DEP:

Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, kemungkinan para ahli sejarah akan ’menyerah’. Yang lebih dibutuhkan adalah ahli ’prasejarah’, termasuk juga arkeolog.

----- sangat betul sekali..

Bagaimana pun, eksistensi kerajaan-kerajaan tersebut merupakan bagian menyeluruh dari keseluruhan sejarah Minangkabau.


III.  Gelar Sasangko Adat :

 

Pemberian gelar sasangko adat yang mengatas namakan pemangku adat alam minangkabau menimbulkan controversial bagi kalangan orang minangkabau sendiri.  Pemberian gelar sasangko adat dalam Struktur adat minangkabau, menimbulkan perenungan yang panjang bagi kita. Terdapat kata-kata yang tidak pada patutnya, sehingga perlu dicek dan kroscek sehingga tidak menimbulkan masalah dan mengaburkan sejarah, antara lain :

 

Pertama, istilah gelar sangsako 'adat', perlu dipertanyakan adat apa dan adat dimana. Sehingga seharusnya frasa itu berbentuk: sangsako adat ... [apa] ... [dimana]. Sangsakonya apa, sakonya apa, pusakonya apa. Kemudian lebih lanjut perlu dikenali sistem adatnya bagaimana. Apakah mengenal hukum nan ampek, apa cupak usalinya (saya kira ini bisa dijawab) dan apa saja cupak buatannya. Di dalam beberapa versi tambo belum ditemukan  adat model begini.

 

Kedua, Pemangku 'Daulat' Yang Dipertuan, ini juga perlu diperjelas makna 'daulat'. Daulat terhadap orang-orang yang mana, juga daulat terhadap wilayah apa. Karena 'daulat' adalah salah satu unsur dalam Konvensi Montevidio. Yang jelas dari sejarah yang pernah dikembangkan, daulat itu sudah habis pada masa Perang Paderi. Kalau terbentuk 'daulat' pada era generasi ke-3, kiranya perlu diperjelas mengenai siapa dan dimana itu.

 

Ketiga, istilah 'mewakili seluruh Pucuak Adat Alam Minangkabau' perlu diperjelas, karena saya baru kali ini mendengar istilah ini. Raja terakhir Pagaruyung tidak pernah menggunakan istilah ini. Kemudian diperjelas apa itu Pucuak Adat, siapa-siapa saja orangnya. Klaim ini sangat berbahaya. Yang terpenting adalah kata-kata 'mewakili', ini mengingatkan saya dengan perjanjian penyerahan Minangkabau kepada Belanda; jaan sampai tuneh tumbuah di nan salah.

 

Keempat, istilah 'Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau', belum pernah terdengar, termasuk LKAAM sepertinya tidak pernah menggunakan istilah ini. Apakah kemarin itu berlangsung di Bukit Marapalam?, kalau iya, 'sedikit' agak relevan.

 

Dengan adanya pertanyaan ini, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa perberlakuan “ Adat salingka Nagari “ benar – benar telah dipraktekkan oleh pemangku kerajaan Pagaruyung. Akan tetapi pihak Kerajaan Pagaruyung hendaknya tetap bersedia menerima koreksi bahwa Apa yang dilakukan oleh kerajaan Pagaruyung dalam pemberian gelar sasangko adat sesungguhnya tidak membawa implikasi terhadap alam minangkabau itu sendiri, karena pemangku 'Limbago Tertinggi Pucuak Adat Alam Minangkabau' saat ini adalah LKAAM

 

DEP:

Secara legal formalnya perlu juga ditanyakan, mengingat ada penyerahan kedaulatan dari 3 orang Daulat Yang Dipertuan dari Saruaso kepada Kerajaan Belanda tertanggal 10 Pebruari 1820, walaupun sebenarnya pada awalnya Belanda enggan menerimanya. Kedaulatan itu belum diserahkan kembali kepada siapapun. Bila kemudian Belanda mengangkat Tuanku Saruaso sebagai Regen Tanah Datar sebagai wakil Belanda di tempat itu, namun tidak seluruh wilayah Minangkabau. Wilayah Tanah Datar pun akhirnya dibagi lagi dengan adanya Regen Batipuh. Perlu diperjelas wilayah kedaulatan generasi ke-3 selingkup apa, yang pasti tidak lebih luas dari successor terakhir.

 

----- Wah ini topik yang menarik untuk ditelusiri...

Wassalam,
-datuk endang




Arman Bahar

unread,
Jan 20, 2009, 8:28:14 AM1/20/09
to Rant...@googlegroups.com

Assalamualaikum ww

 

Ada yang luput dari pengamatan para penulis sejarah menelisik tentang Melayu Minangkabau selama ini akibatnya semakin ditelisik semakin terasa ada yang hilang

 

Rasanya gak adil kalau titik awal kita adalah Pamalayu dengan aktor utamanya Sri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa (1270-1297) sang ayahanda Dara Jingga dan Dara Petak dari kerajaan Darmasraya yang kemudian memunculkan Adhityawarman (1294-1375) dan anaknya Ananggawarman (1348-1417) tepatnya akhir zaman Singosari dan awal Mojopahit

 

Lantas pertanyaan-nya tidak adakah masa sebelum itu diseputar negeri ini yang menorehkan sejarah?

 

Bukankah kearah selatan ada Sriwijaya dan Melayu (kuno) Jambi dan kearah timur ada Candi Muara Takus di Tigobaleh Koto Kampar Riau?

 

Tidak yakinkah kita bahkan dinegeri ini jauh sebelum kurun waktu yang disebut dalam tambo tentang kedatangan Maharaja Diraja telah ada pula sebuah komunitas nenek moyang negeri ini yang boleh kita percayai sebagai komunitas tertua yang pernah ada tepatnya di Balubuih, Mahek, Ranah, Koto Tinggi dan Koto nan Godang Kabupaten 50 Kota dimana terdapat lebih 100an mehir berbagai bentuk dan posisi yang sampai sekarang belum ada keberanian para ahli mengutak-atiknya

 

Kalau ini bisa diungkapkan berarti asal nenek moyang kita dari puncak gunung Merapi bakalan tereleminasi dengan sendirinya sebagai yang disebut Ibu Hifni  

 

Dimano titiak palito
Dibalaik telong nan berapi
Dimano asa mulo niniak kito
Iolah dari puncak gunuang Marapi

 

Okelah kita terima saja sementara ini bahwa asal nenek moyang kita itu dari puncak gunung Merapi, tapi tentu ada proses gimana mereka bisa sampai kesana, turun dari langit rasanya enggak ah, turun dari kapal langsung merapat kepuncak gunung yang kala itu hanya laut luas tak bertepi lalu tampak dari jauh puncak Merapi segedang telur itik kayaknya ntar kita diketawa-in ahli geologi iya kan lantas gimana nih ???

 

Kalau kita langsung telisik ke menhir yang di Balubuih Payakumbuah itu mungkin jauh amat, gimana yang agak dekat2 dikit tapi lebih tua dikit dari Mojopahit dan Damarsraya, yaa kira2 sezaman Sriwijaya kira2 abad 5 sampai 7 lah gitu itung2 masih satu periode dengan zaman Rasulullah SAW di Jazirah Arab sono

 

Wasalam

armansamudra

--- On Tue, 20/1/09, Hifni H.Nizhamul <hy...@yahoo.com> wrote:

From: Hifni H.Nizhamul <hy...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Resume : Tambo - Silsilah Kerajaan - Gelar Sangsako Adat (penutup)
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Tuesday, 20 January, 2009, 9:04 AM

.............cut..... kan alah dibaaco duh ...........



New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

Datuk Endang

unread,
Jan 20, 2009, 12:51:45 PM1/20/09
to Rant...@googlegroups.com, suli...@yahoogroups.com, minan...@yahoogroups.com
Waalaikumsalam ww.
 
Lai batua sanak, ada banyak yang terlewat pada era-era sebelum itu, lebih tepatnya adalah era Budha yang melahirkan di antaranya Candi Muara Takus itu. Budha cenderung berkembang di dataran rendah. Pada waktu kunjungan ke Bonjol dulu, saya juga merasakan bila Budha dulu berkembang pesat di tempat ini, terutama di daerah cekungan Bukit Barisan, mulai dari lembah Alahan Panjang sampai ke Rao (rawa). Ada ditemukan beberapa batu basurek, dan katanya juga di Rao juga ada petilasan biara, yang batu-batunya kemudian digunakan untuk membangun benteng Amerongen.
 
Kalau era menhir, memang lebih jauh. Kalau era abad 5 s/d 7, bisa dirujuk Prasasti Kedukan Bukit sebagai prasasti tertua (683 M), yang terjemahannya: "bahagia pada tahun saka 605 hari kesebelas - bulan terang bulan waisaka dapunta hyang naik di - perahu mengadakan perjalanan. pada hari ke tujuh bulan terang - bulan jyestha dapunta hyang berangkat dari "minanga" - tambahan beliau membawa tentara dua laksa - tiga ratus dua belas banyaknya, datang di mukha upang - dengan senang hati pada hari kelima bulan terang bulan asada - dengan lega gembira datang membuat wanua - perjalanan jaya sriwijaya memberikan kepuasan". Istilah 'Minanga' ini menimbulkan perdebatan di antara ahli sejarah. Selanjutnya dapat dibaca buku "Periodisasi Sejarah Sriwijaya", karya Arfan Ismail, Unanti Press, 2003.
 
Apakah Minanga merupakan cikal bakal istilah Minangkabau? Namun belum ada sejarawan yang mengaitkan Minanga dengan Minangkabau. Bila ada pendapat yang kuat, maka Dapunta Hyang yang mendirikan dinasti Sriwijaya adalah berasal dari Minangkabau. Saat ini belum ada usaha yang serius untuk menggali bahan-bahan arkeologi yang ada, termasuk sekitar Muara Takus.
 
Dalam era yang sama memang telah tumbuh Kerajaan Melayu di Jambi yang tipikal Hindu. Para pengembara Cina menyebutkan, sebelum ke Sriwijaya mereka menyempatkan diri terlebih dahulu belajar bahasa Melayu di Melayu. Jadi memang ada 2 kerajaan besar pada era itu, yaitu Melayu (Hindu) dan Sriwijaya (Budha). Sementara Minangkabau begitu-begitu saja; tidak tersentuh oleh kedua kekuatan itu.
 
Dari sini mudah-mudahan sanak sudah dapat menalikan beberapa hubungan, di antaranya hakekat Ekspedisi Pamalayu, apakah penaklukan oleh Singhasari (Hindu), ataukah permintaan bantuan militer karena sudah ada ancaman dari Syailendra dan Cina (Budha)? Sampai disini Uli Kozok dalam bukunya juga sudah mulai ragu. Perlu patut dicatat bila posisi geografis kerajaan-kerajaan Sumatera masa itu jauh lebih strategis dibandingkan Jawa, sehingga lebih terbuka terhadap dunia luar yang berarti mengalami peradaban (dan teknologi) yang lebih maju.
 
Sementara demikian dulu sanak, untuk bahan pemikiran lebih lanjut.
 
Wassalam,
-datuk endang

--- On Tue, 1/20/09, Arman Bahar <arman...@ymail.com> wrote:

Datuk Endang

unread,
Jan 20, 2009, 1:09:42 PM1/20/09
to Rant...@googlegroups.com, suli...@yahoogroups.com
Ibu Hifni dan sanak Defiyan yth.
Terima kasih atas tanggapannya, mudah-mudahan diskusi ini bisa berlanjut. Berikut sedikit jawaban.
 
Wassalam,
-datuk endang


--- On Tue, 1/20/09, Hifni H.Nizhamul <hy...@yahoo.com> wrote:
From: Hifni H.Nizhamul <hy...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Resume : Tambo - Silsilah Kerajaan - Gelar Sangsako Adat (penutup)
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Tuesday, January 20, 2009, 4:04 PM

Assalamualaikum, Wr.wb

Terlebih dahulu saya mengucapkan terima kasih kepada Sanak-sanak yang telah berdiskusi seputar topik yang tercantum dalam subyek milist ini. Tidak ada gading yang tak retak dan tidak ada pendapat yang tidak salah. Terkandung maksud agar diskusi kita tidak menjadi bagalau, maka saya berupaya menyimpulkan suatu topik ini.

Sesungguhnya kesimpulan saya jauh dari kadar ilmiah karena tidak dipresentasikan pada suatu audience remi - akan tetapi bagi saya sangat berguna karena saya menyimpulkan selain berdasarkan ireferensi yang saya baca - juga berasal dari masukan pada milist ini.

Khusus kepada Pak Datuk Endang serta Pak Arman, terima kasih informasi sejarah yang bapak-bapak sampaikan dalam milist ini.
Harapan kita kedepan - seputar topik ini benar-benar dilakukan kajian secara mendalam dan dalam forum ini saya meminta agar kajian dan penelitian yang dilakukan bersifat netral dan tidak menimbulkan friksi diantara sesasama kita. Apalagi Alam minangkabau yang sedemikian luas telah menciut oleh faktor georgrafi dan politis.

Sesungguhnya dalam tataran dunia melayu (sedunia), kita adalah bagian yang sangat kecil dari ras melayu lainnya. Silahkan berselancar di http://melayuonline.com.

Adapun koreksi dari Pak Datuk akan saya simpan dalam dokumentasi saya untuk saya telusuri. Apalagi muncul pembagian wilayah yang diciptakan oleh pihak Belanda yang menimbulkan strata baru dalam kehidupan masyarakat di  Minangkabau. Terima kasih.

Wassalam,




 

DEP:

Belum lama ini saya mendapatkan buku baru di Padang mengenai sejarah ini dengan versi yang berbeda, karya …. Disebutkan bila Gunung Merapi yang dimaksud adalah Gunung Pasaman yang juga berapi. Kalau disebutkan ‘kutiko Gunuang Marapi sagadang talua itiak’, memang Gunung Pasaman ini masih bisa dilihat dari laut.

-----> akan saya cari juga sumbernya  .. dimana ???

 

Bukunya belum ketemu, judulnya kalau tidak salah 'Tuanku Imam Bonjol'. Waktu acara peresmian Lembaga Kajian Paderi di Padang itu dibagi-bagi secara gratis.
 
DEP:

Secara legal formalnya perlu juga ditanyakan, mengingat ada penyerahan kedaulatan dari 3 orang Daulat Yang Dipertuan dari Saruaso kepada Kerajaan Belanda tertanggal 10 Pebruari 1820, walaupun sebenarnya pada awalnya Belanda enggan menerimanya. Kedaulatan itu belum diserahkan kembali kepada siapapun. Bila kemudian Belanda mengangkat Tuanku Saruaso sebagai Regen Tanah Datar sebagai wakil Belanda di tempat itu, namun tidak seluruh wilayah Minangkabau. Wilayah Tanah Datar pun akhirnya dibagi lagi dengan adanya Regen Batipuh. Perlu diperjelas wilayah kedaulatan generasi ke-3 selingkup apa, yang pasti tidak lebih luas dari successor terakhir.

----- Wah ini topik yang menarik untuk ditelusiri...

Data dan catatan mengenai hal ini dapat dibaca di buku "Perang Paderi" karya Muhamad Radjab, dan "Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang" karya Rusli Amran



Defiyan Cori

unread,
Jan 20, 2009, 3:39:42 PM1/20/09
to Rant...@googlegroups.com
Assalaamuálaikum Wr.Wb.
Pak Datuak, Pak Arman, Ibu Hifni dan para sanak yang budiman,
 
Mengenai sejarah ko iyo "Saketek nan ambo baco, Banyak nan alah lupo", oleh karano itu izinkan ambo untuk maagiahkan beberapa hal,tarutamo terkait jo sejarah apolai sejarah suatu suku bangsa atau etnik dalam peta geografisnyo.
Ambo kiro ndak ado sejarah nan "talapeh" dari kepentingan politik, apolai nan bakaitan jo sejarah suku bangsa/etnik, masing-masing akan mengklaim kelompok suku bangsa/etnik inyo nan paliang tuo dan paling bapangaruah. Tantang Minangkabau, asal-usul suku bangso dan akar budayonyo juo ndak lapeh dari sejarah panjang umat manusia itu sendiri, dan konteks sosial politik nan mampangaruhinyo.
 
Oleh karano itu sejarah suku bangsa Minangkabau, memang harus dibagi periodesasinyo, supayo kito tahu bana garak-garik dari wakatu ka wakatu dan apo hubungan no jo suku bangsa dan kerajaan nan ado di Nusantara ko (Jawa,Sunda,Batak dll)...:
Partamo pado maso pra sejarah (zaman batu, dll...apo, siapo, dan dimano urang Minangkabau ko?
 
Kadua maso sejarah (zaman kerajaan-kerajaan nan panuah jo parang dan konflik, masing2 karajaan saling menaklukkan),masuaknyo agamo2 budayo sarupo Budha dan Hindu, nan pangaruah no masih dapek awak caliak dalam upacaro2 keagamaan (di Solok kalo rayo yo baka kamanyan..he..he..) juo harus dijalehkan apo, siapo, dan dimano urang Minangkabau ko....
 
Katigo maso kolonialisme (perubahan di Barat dengan adonyo Revolusi Industri) dan barat butuh pasar serta bahan baku, sahinggo manjajah bangsa2 nan masih bodoh2 dengan slogan gold,gospel,dan glory dan urang2 daerah diadu domba (divide et impera) sahinggo ado kaum adat di awak di satu pihak dan kaum paderi dilain pihak...apo,siapo dan dimano urang Minangkabau ko..?
 
Kaampek maso kemerdekaan, iko nan ado hubungan no jo kelanjutan ABS SBK nan harus direkon dan didekon sahinggo manjadi elan vital urang awak dalam babangso dan banagaro. apo, siapo dan dimano urang Minangkabau ko ditangah dominasi sistem kapitalisme dan liberalisme...dengan rajo nyo (firáun) Amerika nan indak ado bangsa2 lain badayo dibueknyo...sahinggo urang2 ISLAM inyo kecekkan terorist,padahal inyo sendiri terang2an manunjuakkan aksi2 teroris dan dehumanisasi...
 
Kalimo pasca kapitalisme dan liberalisme, disikolah latak strategis Indonesia, nagari awak nan gadang ko, indak hanyo sacaro geografis, tapi juo sacaro budayo dan urang awak sendiri dlm pentas nasional. Di tangah lamahnya kekuatan ekonomi kapitalisme (USA jo konco2nyo), dan image buruak tantang sikap jo perilaku inyo, mako awak punyo potensi dan peluang nan gadang mempengaruh dan berperan dalam tatanan dunia baru, labiah dari apo nan dimainkan oleh Yahudi di USA dan dunia...Asal awak bana2 tapek mamiliah pemimpin. Ikolah catatan penting dari sejarah (masa lalu), dan arah (masa depan) bagi awak sado no...
 
Mudah2an ALLAH SWT memberikan petunjuk kepada umat Islam dan rakyat Indonesia, bil khusus kapado urang Minang nan alah banyak baperan dalam nation building..
 
Mungkin sagitu dulu dari ambo, kok ado nan salah mohon ambo dimaafkan...
Tarimo kasih pado sanak nan ado wakatu untuak mambaco no..
 
Jazakumullahi khairan katsira...
 
Wassalam
Defiyan Cori L/41, Pejaten


--- On Tue, 1/20/09, Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:

Arman Bahar

unread,
Jan 20, 2009, 10:58:36 PM1/20/09
to Rant...@googlegroups.com

Assalamualaikum ww

 

Suai ambo Datuak Endang tidak hanya didaerah Bonjol hampir sebagian wilayah Sumatera Tengah ini sampai kedaerah Sumatera Utara dan Aceh adalah sebaran agamo urang saisuak namun yang lebih berkembang sebagaimana kita lihat tentu kearah Selatan pulau ini

 

Ambopun suai pulo jo sanak Defian Cori bahwa sejarah Ranah ini kita telisik perkurun atau periode masing2, kalau selama ini kita terarah sekitar abad 11 dan 12 tidak salah kalau kita coba pula ke sebelum itu sedikit

 

Kalau dihulu Sungai Kamwar (sekarang dieja Kampar) +/-2km tapal batas Kabupaten 50 Kota Sumbar terdapat Candi Budha Muara Takus maka kearah utara sedikit didesa Simagambat Mandailing Sumatera Utara terdapat pula situs candi yang diketemukan 1920 oleh Bosch dan Schinger (arkeolog Belanda) demikian pula di Padang Bolak, Padang Lawas, Barumun, Sosa dan banyak tempat lain-nya

 

Lebih ke utara lagi di Aceh ada banyak situs candi didaerah ini, namun yang terkenal adalah 2 buah candi Indera Purwa tempat beribadat kaum lelaki dan Indera Pur(w)i tempat beribadat kaum perempuan (+/- 25km arah timur Banda Aceh) kemudian diubah menjadi Mesjid dizaman Kesultanan Lamuri Aceh abad ke12 dan sekarang bernama Masjid Raya Indrapuri

 

Bagaimana dengan Ranah Bundo, selain candi Muara Takus dekat tapal batas Kabupaten 50 Kota ada lagi 2 situs komplek candi di Kabupaten Padang Pariaman yang disebut Candi Mahligai dan Candi Puti Sangka® Bulan (ado dunsanak nan tau dima posisi tapeknyo?)

 

Sebetulnya ada banyak situs candi di Sumatera Barat yang namun karena tidak ada yang ngurus maklum kan anak nagari lah masuak Islam sadonyo hinggo lenyap tinggal puing2 yang sulit dilacak kembali seperti di Pagaruyuang itu sendiri, Biaro, Lembah Bujang dll

 

Jadi tidak salah kalau Prof. Slamet Mulyono mengatakan bahwa pada awalnya telah ada penguasa2 atau kerajaan2 silih berganti sekitar gunung Merapi Sumatera Tengah sejak awal abad pertama masehi entah itu bernama kerajaan Pasumayam Koto Batu, Kerajaan Bungo Satangkai, Kerajaan Bukik Batu Patah dan Damarsraya yang dilanjutkan dengan Pagaruyuang dan kerajaan2 dibawah takluknya yang kemudian coba berdiri sendiri seperti Kerajaan Tiku, Pariaman Nan Tongga Magek Jabang, Indrapuro, Sungai Pagu, Gasib, Gunung Sahilan, Tambusai dan banyak lainnya

 

Kembali kezaman saisuak pada permulaan masehi disekitar Merapi ini sudah ada kerajaan yang disebut dengan Kerajaan Kuntala dan Kerajaan Melayupura (Melayu Kuno) sekitar perbatasan Sumbar Jambi sekarang yang eksis lebih kurang 3 abad lalu muncul kerajaan Swarnabhumi sekitar abad ke5

 

Kerajaan Sriwijaya yang belum bernama Sriwijaya juga berasal dari sekitar gunung Merapi yang kemudian pindah keselatan sebagai disampaikan mak Datuak Endang dengan Prasasti Kedukan Bukit (683M) itu “Bahagia pada tahun saka 605 hari kesebelas - bulan terang bulan waisaka dapunta hyang naik di - perahu mengadakan perjalanan. pada hari ke tujuh bulan terang - bulan jyestha dapunta hyang berangkat dari "minanga" - tambahan beliau membawa tentara dua laksa - tiga ratus dua belas banyaknya, datang di mukha upang - dengan senang hati pada hari kelima bulan terang bulan asada - dengan lega gembira datang membuat wanua - perjalanan jaya sriwijaya memberikan kepuasan"

 

Bisakah kita mulai starting point kita menelisik sejarah Ranah Bundo ini mulai dari “Dapuntahyang” saja dulu, mudah2an bisa yaa, kan ada Datuak Endang pakar kita

 

Wasalam

Armansamudra

--- On Tue, 20/1/09, Defiyan Cori <defi_...@yahoo.com> wrote:

From: Defiyan Cori <defi_...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Resume : Tambo - Silsilah Kerajaan - Gelar Sangsako Adat (penutup)
To: Rant...@googlegroups.com
Date: Tuesday, 20 January, 2009, 8:39 PM

Assalaamuálaikum Wr.Wb.
Pak Datuak, Pak Arman, Ibu Hifni dan para sanak yang budiman,
 
Mengenai sejarah ko iyo "Saketek nan ambo baco, Banyak nan alah lupo", oleh karano itu izinkan ambo untuk maagiahkan beberapa hal,tarutamo terkait jo sejarah apolai sejarah suatu suku bangsa atau etnik dalam peta geografisnyo.
Ambo kiro ndak ado sejarah nan "talapeh" dari kepentingan politik, apolai nan bakaitan jo sejarah suku bangsa/etnik, masing-masing akan mengklaim kelompok suku bangsa/etnik inyo nan paliang tuo dan paling bapangaruah. Tantang Minangkabau, asal-usul suku bangso dan akar budayonyo juo ndak lapeh dari sejarah panjang umat manusia itu sendiri, dan konteks sosial politik nan mampangaruhinyo.
 
Oleh karano itu sejarah suku bangsa Minangkabau, memang harus dibagi periodesasinyo, supayo kito tahu bana garak-garik dari wakatu ka wakatu dan apo hubungan no jo suku bangsa dan kerajaan nan ado di Nusantara ko (Jawa,Sunda,Batak dll)...:
Partamo pado maso pra sejarah (zaman batu, dll...apo, siapo, dan dimano urang Minangkabau ko?
 
Kadua maso sejarah (zaman kerajaan-kerajaan nan panuah jo parang dan konflik, masing2 karajaan saling menaklukkan),masuaknyo agamo2 budayo sarupo Budha dan Hindu, nan pangaruah no masih dapek awak caliak dalam upacaro2 keagamaan (di Solok kalo rayo yo baka kamanyan..he..he..) juo harus dijalehkan apo, siapo, dan dimano urang Minangkabau ko....
 
Katigo maso kolonialisme (perubahan di Barat dengan adonyo Revolusi Industri) dan barat butuh pasar serta bahan baku, sahinggo manjajah bangsa2 nan masih bodoh2 dengan slogan gold,gospel,dan glory dan urang2 daerah diadu domba (divide et impera) sahinggo ado kaum adat di awak di satu pihak dan kaum paderi dilain pihak...apo,siapo dan dimano urang Minangkabau ko..?
 
Kaampek maso kemerdekaan, iko nan ado hubungan no jo kelanjutan ABS SBK nan harus direkon dan didekon sahinggo manjadi elan vital urang awak dalam babangso dan banagaro. apo, siapo dan dimano urang Minangkabau ko ditangah dominasi sistem kapitalisme dan liberalisme...dengan rajo nyo (firáun) Amerika nan indak ado bangsa2 lain badayo dibueknyo...sahinggo urang2 ISLAM inyo kecekkan terorist,padahal inyo sendiri terang2an manunjuakkan aksi2 teroris dan dehumanisasi...
 
Kalimo pasca kapitalisme dan liberalisme, disikolah latak strategis Indonesia, nagari awak nan gadang ko, indak hanyo sacaro geografis, tapi juo sacaro budayo dan urang awak sendiri dlm pentas nasional. Di tangah lamahnya kekuatan ekonomi kapitalisme (USA jo konco2nyo), dan image buruak tantang sikap jo perilaku inyo, mako awak punyo potensi dan peluang nan gadang mempengaruh dan berperan dalam tatanan dunia baru, labiah dari apo nan dimainkan oleh Yahudi di USA dan dunia...Asal awak bana2 tapek mamiliah pemimpin. Ikolah catatan penting dari sejarah (masa lalu), dan arah (masa depan) bagi awak sado no...
 
Mudah2an ALLAH SWT memberikan petunjuk kepada umat Islam dan rakyat Indonesia, bil khusus kapado urang Minang nan alah banyak baperan dalam nation building..
 

Mungkin sagitu dulu dari ambo, kok ado nan salah mohon ambo dimaafkan....

Tarimo kasih pado sanak nan ado wakatu untuak mambaco no..
 
Jazakumullahi khairan katsira...
 
Wassalam
Defiyan Cori L/41, Pejaten

--- On Tue, 1/20/09, Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:
From: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Resume : Tambo - Silsilah Kerajaan - Gelar Sangsako Adat (penutup)
To: Rant...@googlegroups.com
Cc: suli...@yahoogroups.com
Date: Tuesday, January 20, 2009, 1:09 PM

Ibu Hifni dan sanak Defiyan yth.
Terima kasih atas tanggapannya, mudah-mudahan diskusi ini bisa berlanjut. Berikut sedikit jawaban.
 
Wassalam,
-datuk endang



New Email addresses available on Yahoo!

Hifni H.Nizhamul

unread,
Jan 21, 2009, 12:48:31 AM1/21/09
to Rant...@googlegroups.com
Alhamdulillah - semula diraso kato " bagalau" - ternyata berlanjut menjadi pemaparan yang sangat mengasyikkan. Oleh karenanya untuk mencari kebenaran dalam rangka menyusun " Sejarah Minangkabau, selayaknya nanti Tim yang akan menyusun naskah mau tidak mau harus melibatkan kalangan : arkeologi - antropologi dan ahli sejarah.

Ambo alah manyimak bahwa direncanakan nama - nama Tim penulisan sejarah Minangkabau telah melibatkan para ahli dibidangnya, seperti :

- Nopriyasman selaku koordinator yang sekaligus akan menulis sejarah kerajaan-kerajaan di Minangkabau,

-    anggota Zuriatin yang akan menulis tentang nagari-nagari,

-   didukung oleh Prof Gusti Asnan, Ph D, Drs M.Yusuf, M.Hum, Dr. Anatona, M.Hum, Fitra Alida, dan Prof Dr.Nadra,M.A.


Namun yang menjadi pertanyaan bagi ambo  adalah : bahwa sesuai dengan migrasi " melayu muda " yang berasal dari utara semenanjung Birma sekarang (mohon dikoreksi...??),
- apakah pusat peradaban baru pada masa itu benar benar berawal dan terletak di wilayah minangkabau , seperti yang diceritakan dalam Tambo dan
- apakah tidak sebaliknya bahwa kerajaan di Minangkabau adalah potongan /penggalan /serpihan kerajaan kerajaan di pantai timur Sumatera seperti : Kerajaan Siak, Kerajaan Kampar, dll.
Mengutip pendapat Datuk Endang : " Perlu patut dicatat bila posisi geografis kerajaan-kerajaan Sumatera masa itu jauh lebih strategis dibandingkan Jawa, sehingga lebih terbuka terhadap dunia luar yang berarti mengalami peradaban (dan teknologi) yang lebih maju.
Sehingga dalam penalaran saya akan dapat diketahui bahwa migrasi melayu muda itu berlangsung secara evolusi - mulai turun ke Muangthai kemudian Malaysia - masuk wilayah pesisir timur Sumatera dengan kerajaan yang ada disana - kemudian Darmasyraya -  dan lain - lain kerajaan sebagaimana yang disebut oleh Sanak Arman, yang menyatakan yaitu :
" Jadi tidak salah kalau Prof. Slamet Mulyono mengatakan bahwa pada awalnya telah ada penguasa2 atau kerajaan2 silih berganti sekitar gunung Merapi Sumatera Tengah sejak awal abad pertama masehi entah itu bernama kerajaan Pasumayam Koto Batu, Kerajaan Bungo Satangkai, Kerajaan Bukik Batu Patah dan Damarsraya yang dilanjutkan dengan Pagaruyuang dan kerajaan2 dibawah takluknya yang kemudian coba berdiri sendiri seperti Kerajaan Tiku, Pariaman Nan Tongga Magek Jabang, Indrapuro, Sungai Pagu, Gasib, Gunung Sahilan, Tambusai dan banyak lainnya.

Dengan demikian posting subyek email ini berstatus masih terbuka.

Apresiasi yang tinggi saya haturkan untuk Datuk Endang dan Pak Arman Bahar.
Mohon maaf pada Rang Dapua - postingnya indak dikuduang kuduang.....

Wassalam,



Tuesday, January 20, 2009 10:58 PM

Assalamualaikum ww

 

Suai ambo Datuak Endang tidak hanya didaerah Bonjol hampir sebagian wilayah Sumatera Tengah ini sampai kedaerah Sumatera Utara dan Aceh adalah sebaran agamo urang saisuak namun yang lebih berkembang sebagaimana kita lihat tentu kearah Selatan pulau ini

 

Ambopun suai pulo jo sanak Defian Cori bahwa sejarah Ranah ini kita telisik perkurun atau periode masing2, kalau selama ini kita terarah sekitar abad 11 dan 12 tidak salah kalau kita coba pula ke sebelum itu sedikit

 

Kalau dihulu Sungai Kamwar (sekarang dieja Kampar) +/-2km tapal batas Kabupaten 50 Kota Sumbar terdapat Candi Budha Muara Takus maka kearah utara sedikit didesa Simagambat Mandailing Sumatera Utara terdapat pula situs candi yang diketemukan 1920 oleh Bosch dan Schinger (arkeolog Belanda) demikian pula di Padang Bolak, Padang Lawas, Barumun, Sosa dan banyak tempat lain-nya

 

Lebih ke utara lagi di Aceh ada banyak situs candi didaerah ini, namun yang terkenal adalah 2 buah candi Indera Purwa tempat beribadat kaum lelaki dan Indera Pur(w)i tempat beribadat kaum perempuan (+/- 25km arah timur Banda Aceh) kemudian diubah menjadi Mesjid dizaman Kesultanan Lamuri Aceh abad ke12 dan sekarang bernama Masjid Raya Indrapuri

 

Bagaimana dengan Ranah Bundo, selain candi Muara Takus dekat tapal batas Kabupaten 50 Kota ada lagi 2 situs komplek candi di Kabupaten Padang Pariaman yang disebut Candi Mahligai dan Candi Puti Sangka® Bulan (ado dunsanak nan tau dima posisi tapeknyo?)

 

Sebetulnya ada banyak situs candi di Sumatera Barat yang namun karena tidak ada yang ngurus maklum kan anak nagari lah masuak Islam sadonyo hinggo lenyap tinggal puing2 yang sulit dilacak kembali seperti di Pagaruyuang itu sendiri, Biaro, Lembah Bujang dll

 

Jadi tidak salah kalau Prof. Slamet Mulyono mengatakan bahwa pada awalnya telah ada penguasa2 atau kerajaan2 silih berganti sekitar gunung Merapi Sumatera Tengah sejak awal abad pertama masehi entah itu bernama kerajaan Pasumayam Koto Batu, Kerajaan Bungo Satangkai, Kerajaan Bukik Batu Patah dan Damarsraya yang dilanjutkan dengan Pagaruyuang dan kerajaan2 dibawah takluknya yang kemudian coba berdiri sendiri seperti Kerajaan Tiku, Pariaman Nan Tongga Magek Jabang, Indrapuro, Sungai Pagu, Gasib, Gunung Sahilan, Tambusai dan banyak lainnya

 

Kembali kezaman saisuak pada permulaan masehi disekitar Merapi ini sudah ada kerajaan yang disebut dengan Kerajaan Kuntala dan Kerajaan Melayupura (Melayu Kuno) sekitar perbatasan Sumbar Jambi sekarang yang eksis lebih kurang 3 abad lalu muncul kerajaan Swarnabhumi sekitar abad ke5

 

Kerajaan Sriwijaya yang belum bernama Sriwijaya juga berasal dari sekitar gunung Merapi yang kemudian pindah keselatan sebagai disampaikan mak Datuak Endang dengan Prasasti Kedukan Bukit (683M) itu “Bahagia pada tahun saka 605 hari kesebelas - bulan terang bulan waisaka dapunta hyang naik di - perahu mengadakan perjalanan. pada hari ke tujuh bulan terang - bulan jyestha dapunta hyang berangkat dari "minanga" - tambahan beliau membawa tentara dua laksa - tiga ratus dua belas banyaknya, datang di mukha upang - dengan senang hati pada hari kelima bulan terang bulan asada - dengan lega gembira datang membuat wanua - perjalanan jaya sriwijaya memberikan kepuasan"

 

Bisakah kita mulai starting point kita menelisik sejarah Ranah Bundo ini mulai dari “Dapuntahyang” saja dulu, mudah2an bisa yaa, kan ada Datuak Endang pakar kita

 

Wasalam

Armansamudra


--- On Tue, 1/20/09, Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:

Datuk Endang

unread,
Jan 21, 2009, 11:38:01 AM1/21/09
to Rant...@googlegroups.com, suli...@yahoogroups.com
Sanak Arman yth, nampakno sanak alah banyak menggali bahan dan informasi sejarah. Kironyo sampai ka nan tapokok untuak memahami dinamika maso itu, dan baa pesan itu sampai ka kito kini.
Sabananyo ado banyak pendekatan nan dapek dilakukan untuak mengkaji masalah sejarah iko, nan alun banyak dicubo oleh sejarawan kito. Jadi indak sekedar bapadoman pado naskah/catatan, bukti arkeologi, kaba, dll; tamasuak di antaronyo memahami aspek lokasi atau geomorfologi sarato sistem kepercayaan maso itu. Nan Dobbin cucua-papakan contoh menggunakan pendekatan geomorfologi dan aktivitas ekonomi lokal, tanyato banyak sejarawan kito nan indak sampai ka situ kajiannyo.
Aspek geomorfologi dan sistem kepercayaan manuruik ambo relatif dapek menjadi dasar dalam penilaian sejarah, karano bukti itu indak banyak bergeser/berubah karono zaman. Dan nan lain hal itu merupakan motivasi urang saisuak untuak melakukan aktivitas kehidupan maso itu. Nan lain nan agak tetap adolah 'peta bintang' (ilmu falaq), nan biaso pulo dipidomani oleh urang dahulu. Kok sampai pendalaman sanak ka peta bintang itu, mangko basuolah sanak pado hubungan Melayu-Sriwijaya-Majapahit-Minangkabau.
Nan di ambo sendiri bukanlah pakar, indak ado dasar pendidikan sejarah dan profesi, jadi hanyo pengamat saja. Kabatulan di LAKM ambo ditugaskan untuak mengamati sejarah dan tambo. Tapi kalau basuo sanak jo ambo, mangko tagalak sengeang sanak, picayolah, babeda buni, bantuak, sarato isi.
Baitu dulu talabiah takurang.
 
Wassalam,
-datuk endang

--- On Wed, 1/21/09, Arman Bahar <arman...@ymail.com> wrote:

mul...@pusri.co.id

unread,
Jan 21, 2009, 11:16:22 PM1/21/09
to Suli...@yahoogroups.com, so...@yahoogroups.com, rgm...@yahoogroups.com, rant...@googlegroups.com, arman...@ymail.com, st.lemb...@yahoo.com, abraha...@gmail.com, wiraw...@ymail.com, hy...@yahoo.com
Assalamu'alaikum,wr,wb.

Dunsanak kasadonyonyo, utamo sakali angku Datuak Endang Pahlawan dan Apak
Arman Samudra (arman...@ymail.com) nan ambo hormati.

Ambo alah lamo indak masuak ka RN rant...@googlegroups.com dek karano
keterbatasan wakatu tapi samantangpun bak itu, angku Datuak Endang
Pahlawan selalu mambuek CC satiok postingannyo tentang "Tambo - Silsilah
Kerajaan - Gelar Sangsako Adat" ka milis nan ambo nakhodoi yaitu
Sulitanet.

Karano diskusi dan topik ko sangaik rancak untuak manambah pengetahuan
kito tentang sejarah dan adat Minangkabau, ambo punyo usul : baa nyo
diskusi antaro Datuak Endang jo Apak Arman Samudra (Arman Bahar), Apak
Doktor Gigi Abraham Ilyas (Webmaster Nagari.org), Apak Muhammad Dafiq Saib
(St.Lembang Alam), Adinda Wirawan Arief, Defiyan sarato Bundo Kanduang
Hifny H.Nizhamulatif (maaf kalau salah ma-eja namonyo) dan ahli2 sejarah
lainnyo, di buku kan saroman buku "Diskusi Adat di Internet" nan di buek
dek Angku Datuak Bandaro sabalunnyo. Sebab, diskusi tentang sejarah ko
sangaik tinggi nilainyo untuak manambah pengetahuan kito.

Wassalam,
HM Dt.MB (52 th)
Moderator Sulitanet & RGM-GM

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _________
Confidentiality Notice: The information in this document and attachments
is confidential and may also be legally privileged. It is intended only
for the use of the named recipient.
Internet communications are not secure and therefore PT. Pupuk
Sriwidjaja does not accept legal responsibility for the contents of this
message.
If you are not the intended recipient, please notify us immediately and
then delete this document. Do not disclose the contents of this document
to any other person, nor take any copies.
Violation of this notice may be unlawful.
____________ _________ _________ _________ _________ _________ _________

Nofend Marola

unread,
Jan 22, 2009, 4:02:45 AM1/22/09
to Rant...@googlegroups.com, arman...@ymail.com, datuk_...@yahoo.com, Hifni H.Nizhamul
Assalamualaikum WrWb.
 
Deklai tetap semangat mamak-mamak jo bundo evi mambahas sejarah Minangkabau, mako sekedar panambah2 info (mohon) maaf kalau lah ado nan mambaco Artikel dari Melayu Online ko http://melayuonline.com/history/?a=a053L29QTS9VenVwRnRCb20%3D=&l=kerajaan-melayu-jambi ambo copy untuak kito baco2.
 
Nan ingin ambo tanyokan ka mamak nan ado, terutama Mak Datuak Endang, Mak Arman Bahar, apokah Kerajaan Dharmasraya ko kerjaan Melayu Jambi, Melayu saja, atau Minangkabau, samo2 kito tahu juo, bahwa sebelunya juo ado ambo danga kerajaan Manan Kabwa (Minangkabau) cuman indak alun ado bukti dima persisnya.
 
Bagaimana menurut mamak2 Artikel Dibawah, nan bajudul "Kerajaan Melayu Jambi" ko?
 
Salam
 

SEJARAH MELAYU : Kerajaan Melayu Jambi

1. Sejarah

Jambi merupakan wilayah yang terkenal dalam literatur kuno. Nama negeri ini sering disebut dalam prasasti-prasasti dan juga berita-berita China. Ini merupakan bukti bahwa, orang Cina telah lama memiliki hubungan dengan Jambi, yang mereka sebut dengan nama Chan-pei. Diperkirakan, telah berdiri tiga kerajaan Melayu Kuno di Jambi, yaitu Koying (abad ke-3 M), Tupo (abad ke-3 M) dan Kantoli (abad ke-5). Seiring perkembangan sejarah, kerajaan-kerajan ini lenyap tanpa banyak meninggalkan jejak sejarah.

Dalam sejarahnya, negeri ini pernah dikuasai oleh beberapa kekuatan besar, mulai dari Sriwijaya, Singosari, Majapahit, Malaka hingga Johor-Riau. Terkenal dan selalu menjadi rebutan merupakan tanda bahwa Jambi sangat penting pada masa dulu. Bahkan, berdasarkan temuan beberapa benda purbakala, Jambi pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya.

Setelah Koying, Tupo dan Kantoli runtuh, kemudian berdiri Kerajaan Melayu Jambi. Berita tertua mengenai kerajaan ini berasal dari T’ang-hui-yao yang disusun oleh Wang-p’u pada tahun 961 M, di masa pemerintahan dinasti T’ang dan Hsin T’ang Shu yang disusun pada awal abad ke-7, M di masa pemerintahan dinasti Sung. Diperkirakan, Kerajaan Melayu Jambi telah berdiri sekitar tahun 644/645 M, lebih awal sekitar 25 tahun dari Sriwijaya yang berdiri tahun 670. Harus diakui bahwa, sejarah tentang Melayu kuno ini masih gelap. Sampai sekarang, data utamanya masih didasarkan pada berita-berita dari negeri Cina, yang terkadang sulit sekali ditafsirkan. Namun, dibandingkan daerah lainnya di Sumatera, data arkeologis yang ditemukan di Jambi merupakan yang terlengkap. Data-data arkeologis tersebut terutama berasal dari abad ke-9 hingga 14 M. Untuk keluar dari kegelapan sejarah tersebut, maka, sejarah mengenai Kerajaan Melayu Jambi berikut ini akan lebih terfokus pada fase pasca abad ke-9, terutama ketika Aditywarman mendirikan Kerajaan Swarnabhumi di daerah ini pada pertengahan abad ke-14 M.

Sebelum bercerita lebih banyak mengenai Aditywarman, ada baiknya tulisan ini diawali dengan pemaparan sejarah leluhur Adityawarman di tanah Melayu ini. Ketika Sriwijaya berdiri, Kerajaan Melayu Jambi menjadi daerah taklukannya. Kemudian, ketika Sriwijaya runtuh akibat serangan Kerajaan Cola dari India pada tahun 1025 M, para bangsawan Sriwijaya banyak yang melarikan diri ke hulu Sungai Batang Hari, dan bergabung dengan Kerajaan Melayu yang memang sudah lebih dulu berdiri, tapi saat itu menjadi daerah taklukannya. Lebih kurang setengah abad kemudian, sekitar tahun 1088 M, keadaan berbalik, Kerajaan Melayu Jambi menaklukkan Sriwijaya yang memang sudah di ambang kehancuran.

Kerajaan Melayu Jambi mulai berkembang lagi, saat itu, namanya adalah Dharmasraya. Sayang sekali, hanya sedikit catatan sejarah mengenai Dharmasraya ini. Rajanya yang bernama Shri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa (1270-1297) menikah dengan Puti Reno Mandi. Dari pernikahan ini, kemudian lahir dua orang putri: Dara Jingga dan Dara Petak

Menjelang akhir abad ke-13, Kartanegara mengirim dua kali ekspedisi, yang kemudian dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu I dan II. Dalam ekspedisi pertama, Kartanegara berhasil menaklukkan Kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang memang sudah lemah. Berdasarkan Babad Jawa versi Mangkunegaran disebutkan bahwa, Kartanegara menaklukkan Jambi pada tahun 1275 M.

Pada tahun 1286 M, Kartanegara mengirimkan sebuah arca Amogapacha ke Kerajaan Dharmasraya. Raja dan rakyat Dharmasraya sangat gembira menerima persembahan dari Kartanegara ini. Sebagai tanda terimakasih Raja Dharmasraya pada Prabu Kartanegara, ia kemudian mengirimkan dua orang putrinya, Dara Jingga dan Dara Petak untuk dibawa ke Singosari. Dara Jingga kemudian menikah dengan Mahesa Anabrang dan melahirkan Aditywarman. Ketika utusan Kartanegara ini kembali ke tanah Jawa, mereka mendapatkan Kerajaan Singosari telah hancur akibat serangan Jayakatwang dan pasukan Kubilai Khan. Sebagai penerus Singosari, muncul Kerajaan Majapahit dengan raja pertama Raden Wijaya. Dara Petak kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya untuk diperistri. Dari perkawinan ini, kemudian lahir Raden Kalagemet. Ketika Kalagemet menjadi Raja Majapahit menggantikan ayahnya, ia memakai gelar Sri Jayanegara.

Demikianlah, keturunan Dara Petak menjadi Raja, sementara keturunan Dara Jingga, yaitu Aditywarman, menjadi salah seorang pejabat di istana Majapahit. Hingga suatu ketika, tahun 1340 M, Adityawarman dikirim kembali ke Sumatera, negeri leluhurnya, untuk mengurus daerah taklukan Majapahit, Dharmasraya. Namun, sesampainya di Sumatera, ia bukannya menjaga keutuhan wilayah taklukan Majapahit, malah kemudian berusaha untuk melepaskan diri dan mendirikan Kerajaan Swarnabhumi. Wilayahnya adalah daerah warisan Dharmasraya, meliputi wilayah Kerajaan Melayu Kuno dan Sriwijaya. Dengan ini, berarti eksistensi Dharmasraya telah diteruskan oleh kerajaan baru: Swarnabhumi. Pusat kerajaan diperkirakan berada di wilayah Jambi saat ini. Dalam perkembangannya, pusat kerajaan yang dipimpin Aditywarman ini kemudian berpindah ke Pagaruyung, hingga nama kerajaannya kemudian berubah menjadi Kerajaan Pagaruyung, atau dikenal juga dengan Kerajaan Minangkabau. Akibat perpindahan pusat kerajaan ini, Jambi kemudian menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Pagaruyung (Minangkabau). Kejadian ini terjadi sekitar pertengahan abad ke-14.

Ketika Kerajaan Malaka muncul sebagai kekuatan baru di perairan Malaka pada awal abad ke-15, Jambi menjadi bagian wilayah kerajaan ini. Saat itu, Jambi merupakan salah satu bandar dagang yang ramai. Hingga keruntuhan Malaka pada tahun 1511 M di tangan Portugis, Jambi masih menjadi bagian dari Malaka. Tak lama kemudian, muncul Kerajaan Johor-Riau di perairan Malaka sebagai ahli waris Kerajaan Malaka. Lagi-lagi, Jambi menjadi bagian dari kerajaan yang baru berdiri ini.

Jambi memainkan peranan yang sangat penting dalam membantu Johor berperang melawan Portugis di Malaka. Kemudian, memanfaatkan situasi yang sedang tidak stabil di Johor akibat berperang dengan Portugis, Jambi mencoba untuk melepaskan diri. Dalam usaha untuk melepaskan diri ini, sejak tahun 1666 hingga 1673 M, telah terjadi beberapa kali peperangan antara Jambi melawan Johor. Dalam beberapa kali pertempuran tersebut, angkatan perang Jambi selalu mendapat kemenangan. Bahkan, Jambi berhasil menghancurkan ibukota Johor, Batu Sawar. Jambi terbebas dari kekuasaan Johor. Namun, ini ternyata tidak berlangsung lama. Johor kemudian meminta bantuan orang-orang Bugis untuk mengalahkan Jambi. Akhirnya, atas bantuan orang-orang Bugis, Jambi berhasil dikalahkan Johor.

2. Silsilah

Di masa Kerajaan Dharmasraya, raja yang dikenal hanyalah Shri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa (1270-1297). Sementara raja-raja yang lain, belum didapat data yang lengkap. Di masa Kerajaan Swarnabhumi, rajanya yang paling terkenal adalah Aditywarman. Namun, ketika bergabung dengan Minangkabau, maka silsilah raja yang ada merupakan silsilah raja-raja Minangkabau.

3. Periode Pemerintahan

Agak rumit memaparkan bagaimana periode pemerintahan berlangsung di Jambi, jika pemerintahan tersebut diandaikan sebuah kerajaan merdeka yang bebas dari pengaruh kekuasaan lain. Berdasarkan sedikit data sejarah yang tersedia, tampaknya Jambi menikmati masa bebas dari pengaruh kerajaan lain hanya di masa Kerajaan Melayu Kuno. Selanjutnya, ketika Sriwijaya berdiri, Jambi menjadi daerah taklukan Sriwijaya, bahkan, menurut beberapa sumber yang, tentu saja masih diperdebatkan, Jambi pernah menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya. Ketika Sriwijaya runtuh dan muncul kekuatan Singosari di Jawa, Jambi menjadi daerah taklukan Singosari. Ketika Singosari runtuh dan muncul kemudian Majapahit, Jambi menjadi wilayah taklukan Majapahit.

Dalam perkembangan selanjutnya, Jambi menjadi pusat Kerajaan Swarnabhumi yang didirikan Aditywarman. Ketika pusat kerajaan Adityawarman berpindah ke Pagaruyung, Jambi menjadi bagian dari Kerajaan Minangkabau di Pagaruyung. Ketika Malaka muncul sebagai sebuah kekuatan baru di Selat Malaka, Jambi menjadi bagian dari wilayah Malaka. Malaka runtuh, kemudian muncul Johor. Lagi-lagi, Jambi menjadi bagian dari Kerajaan Johor. Demikianlah, Jambi telah menjadi target ekspansi setiap kerajaan besar yang berdiri di Nusantara ini.

4. Wilayah Kekuasaan

Wilayah Kerajaan Jambi meliputi daerah sepanjang aliran Sungai Batang Hari yang sekarang menjadi wilayah Propinsi Jambi, yang berbatasan dengan wilayah Sumatera Barat, Riau dan Sumatera Selatan.

5. Struktur Pemerintahan

Di masa Jambi masih menjadi kerajaan merdeka, kerajaan dipimpin oleh seorang raja. Namun, belum ada kejelasan, apa status pemimpin daerah-daerah di Jambi, selama negeri ini menjadi bagian dari wilayah kerajaan lain.

6. Kehidupan Sosial Budaya

Beberapa benda arkeologis yang ditemukan di daerah Jambi menunjukkan bahwa, di daerah ini telah berlangsung suatu aktifitas ekonomi yang berpusat di daerah Sungai Batang Hari. Temuan benda-benda keramik juga membuktikan bahwa, di daerah ini, penduduknya telah hidup dengan tingkat budaya yang tinggi. Temuan arca-arca Budha dan candi juga menunjukkan bahwa, orang-orang Jambi merupakan masyarakat yang religius. Ini hanyalah sedikit gambaran mengenai kehidupan di Jambi. Bagaimana sisi sosial budaya masyarakat secara keseluruhan? Sangat sulit untuk menggambarkan secara detil, bagaimana kehidupan sosial budaya ini berlangsung, mengingat data arkeologis yang sangat minim.

Sumber:

1. Seminar Sejarah Melayu Kuno Jambi: 7-8 Desember 1992. Pemda Tingkat I Jambi. 1992.

2. Slamet Muljana. Sriwijaya, Yogyakarta: LKiS. 2006.

3. "http://ms.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Melayu_Jambi"

 

Artikel aslinya di http://melayuonline.com/history/?a=a053L29QTS9VenVwRnRCb20%3D=&l=kerajaan-melayu-jambi


On Behalf Of Hifni H.Nizhamul
Sent: 21 Januari 2009 12:49

Arman Bahar

unread,
Jan 29, 2009, 10:40:27 AM1/29/09
to Rant...@googlegroups.com

Assalamualaikum ww

Maaf mamak and dunsanak sado alahe, babarapo hariko ambo out of town kini baru bisa mancigap baliak

Betul sanak Nofend …….

Sejarah Melayu (kuno) Jambi jauh lebih lengkap dan jauh lebih tua ketimbang sejarah Melayu Minangkabau

Bahkan pada sejarah Melayu Jambi telah banyak diketemukan situs2 purbakala yang dapat meng-ungkapkan periode sejarahnya-nya dan ini diperkuat dengan adanya sumber2 dari luar terutama dari Cina

Situs2 yang ada di Sumbar terutama Pagaruyuang lingkup sejarahnya berada pada kurun Adityawarman sekitar tahun 1300an  

Memang ada juga sih yang diperkirakan lebih tua seperti Batu Batikam Dt. Perpatiah Nan Sabatang dan Kubu Rajo di Limo Kaum Batusangkar namun situs ini tidak memperlihatkan tarikh yang dapat mengungkap nilai sejarahnya, demikian pula dengan keberadaan Candi Muara Takus diperbatasan Sumbar Riau, belum lagi keberadaan ratusan batu Menhir di Balubuih Kabupaten 50Kota sama belum ada ahli sejarah yang sanggup mengungkapnya   

Kerajaan Melayu (kuno) Jambi adalah termasuk tiga kerajaan Hindu kuno dinusantara disamping kerajaan Kutai Kartanegara di Kalimantan dan Tarumanegara di Jawa Barat, ketiga kerajaan ini berada dibawah kurun abad ke5 masehi

Dipedalaman Sumatera ini kerajaan2 itu muncul silih berganti yang diawali dengan kerajaan Kantoli atau Kuntala hingga abad ke4 kemudian muncul kerajaan Melayu (kuno) Jambi hingga abad ke7 dilanjutkan dengan Sriwijaya hingga abad ke12 lalu Damarsraya dan Swarnabhumi Adityawarman abad ke13 yang kemudian memindahkan ibukotanya ke Pagaruyuang hingga kemudian kita sebut Kerajaan Pagaruyung yang belum bernama Minangkabau ketika itu

Menurut arkeolog 2ribuan tahun sebelum masehi ketika zaman megalitikum atau zaman batu besar angkatan pertama rombongan nenek moyang kita yang datang dari Tanah Basa (Asia Muka) memudiki Sungai Kampar hingga kehulu mendarat dinagari 13 Koto Kampar Riau sekarang lalu menyebar dan mendirikan komunitas disekitar Kabupaten 50 Kota tepatnya di nagari2 Koto Nan Godang, Mahek, Balubuih, Koto Tinggi, Ampang dan sekitarnya yang ditunjuk-kan dengan adanya Menhir atau Batu Tagak yang digunakan para nenek moyang kita dahulu sebagai tempat2 ritual atau pemujaan maupun musyawarah lainnya 

Rombongan nenek moyang ini tentu tidak sekali itu saja yang datang kesini tentu disusul rombongan2 lain di-abad2 berikutnya dengan budaya dan agama kepercayaan yang berbeda pula terlebih setelah daerah subur ini banyak menghasilkan komoditi yang sangat dibutuhkan dan dicari seperti rempah2 dan emas

Selanjutnya 500an tahun sebelum masehi mendarat lagi rombongan besar kehulu sungai Kampar ini mereka menyebar membentuk komunitas2 baru disekitar Gunuang Malelo, Gunuang Bungsu, Pongkai, Binamang, Sibinuang, Batu Basurek, Muaro Mahek, Muaro Takuih dan sekitarnya

Rombongan terbesar berikutnya abad ke6 adalah Dapunta Hyang yang beragama Budha mendarat dihulu sungai Kampar lalu mencari lokasi untuk pendirian sebuah candi sesuai dengan konsep air suci yang mereka yakini, pilihan kemudian jatuh disekitar daerah pertemuan 2 buah sungai yaitu sungai Kampar Kanan dan sungai Batang Mahek (Minanga Kamwar) yang dianggap paling suci dan bayangan Walacakra tidak panjang dan tidak pendek artinya ketika tepat tengah hari tidak ada bayang2 badan artinya lokasi yang dipilih Dapunta Hyang adalah tepat dilalui garis khatulistiwa lokasi Candi Muara Takus sekarang

Ber-tahun2 setelah ketenangan candi Muara Takus mulai terusik dengan kedatangan penganut Budha sekte lain hingga Dapunta Hyang yang cinta damai ini mengalah mencari lokasi lain

Dengan mengedarai berpuluh ekor gajah setelah mengarungi lembah dan jajaran Bukit Barisan selama ber-minggu2 akhir pilihan jatuh kesebuah puncak gunung yang terlihat dari kejauhan (sagadang talua itiak) sebuah puncak harapan yang diyakini paling dekat ke Nirwana yang sekarang kita kenal sebagai Gunuang Marapi

Dapunta Hyang memilih Puncak Gunuang Marapi sebagai tempat ritual pemujaan yang suci dan diyakini paling dekat ke Nirwana dan dilereng gunung inilah pengikut Dapunta Hyang mendirikan komunitas dan perkampungan yang aman dan nyaman

Dimano titiak palito
Dibalaik telong nan berapi
Dimano asa mulo niniak kito
Iolah dari puncak gunuang Marapi

Setelah komunitas Puncak dan lereng Gunuang Marapi tertata Dapunta Hyang dengan rombongan kecil kembali ke Minanga Kamwar Candi Muara Takus dan setelah konsolidasi dengan rombongan besarnya memulai perjalanan sebagaimana Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 M yang dikaitkan dengan keberangkatan Dapunta Hyang dengan balatentaranya dari gunung Merapi melalui Minanga Kamwar atau Minang Tamwan Candi Muara Takus  terus ke Pulau Punjung  Sungai Dareh dekat perbatasan Propinsi Jambi sekarang dalam rangka memenuhi niat perjalanan suci menyebarkan agama Budha yang kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya yang mulanya berkedudukan ditepi Sungai Batanghari yang kelak pindah dan berkembang pesat dimuara Sungai Musi Palembang sekarang

Wasalam

abp

--- On Thu, 22/1/09, Nofend Marola <nof...@rantaunet.org> wrote:

From: Nofend Marola <nof...@rantaunet.org>
Subject: [R@ntau-Net] Re: Resume : Tambo - Silsilah Kerajaan - Gelar Sangsako Adat (penutup)
To: Rant...@googlegroups.com

Cc: arman_bahar@ymail..com, datuk_...@yahoo.com, "'Hifni H.Nizhamul'" <hy...@yahoo.com>
Date: Thursday, 22 January, 2009, 9:02 AM

Assalamualaikum WrWb.
 
Deklai tetap semangat mamak-mamak jo bundo evi mambahas sejarah Minangkabau, mako sekedar panambah2 info (mohon) maaf kalau lah ado nan mambaco Artikel dari Melayu Online ko http://melayuonline.com/history/?a=a053L29QTS9VenVwRnRCb20%3D=&l=kerajaan-melayu-jambi ambo copy untuak kito baco2.
 
Nan ingin ambo tanyokan ka mamak nan ado, terutama Mak Datuak Endang, Mak Arman Bahar, apokah Kerajaan Dharmasraya ko kerjaan Melayu Jambi, Melayu saja, atau Minangkabau, samo2 kito tahu juo, bahwa sebelunya juo ado ambo danga kerajaan Manan Kabwa (Minangkabau) cuman indak alun ado bukti dima persisnya.
 
Bagaimana menurut mamak2 Artikel Dibawah, nan bajudul "Kerajaan Melayu Jambi" ko?
 
Salam

 ...............cut disiko yo ...........

Nofend Marola

unread,
Jan 30, 2009, 3:00:05 AM1/30/09
to Rant...@googlegroups.com
Waalaikumsalam Mak Arman Bahar...

Tarimokasih banyak atas tambahan penjelasan untuak pengetahuannyo, memang..
Diantara banyak prasasti2 Melayu yang ambo baco, 31 prasasti, buliah
dikatokan rato2 membicarakan/atau kejadian diranah minang, sebut sajo
prasasti pagaruyuang, ado 8 prasasti, saruoaso, ombilin, batu pahat,
dharmasraya, Kubu rajo, lubuak layang, Rambahan, prasasti parhiyangandan
lain sebagainyo...

Cuman sayang, hanyo itu yg ado tertulis kejayaan masa lalu, dan bahkan ado
nan indak bisa dibaco, apalagi nan tertulis nyata.

Salam
Nofend.

________________________________

From: Rant...@googlegroups.com [mailto:Rant...@googlegroups.com]
On Behalf Of Arman Bahar
Sent: 29 Januari 2009 22:40


Assalamualaikum ww

Maaf mamak and dunsanak sado alahe, babarapo hariko ambo out of town kini
baru bisa mancigap baliak

Betul sanak Nofend ...

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages