Pakgururuonline, 22 Oktober 2006.
Waalaikumsalam w.w. Dunsanak Zulifikri dan para netters,
Sambil mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1427, saya menyampaikan terima kasih atas pendapat Dunsanak, bahwa 'penyakit' tak mau bersatu itu bukan hanya terdapat pada urang Minang, tetapi juga pada bangsa Indonesia secara menyeluruh, dan faktor peyebabnya adalah metode mengajar yang mendorong anak-anak untuk bersifat nafsi-nafsi, saling 'ma-ikik-i'. Saya setuju dengan saran dunsanak agar anak-anak kita didik dengan metoda yang lebih mendorong kebersamaan.
Namun ada masalah yang belum terjawab, yaitu bagaimana kita menerangkan demikian kuatnya solidaritas etnik di antara dunsanak kita urang Aceh, urang Batak, urang Sunda, urang Dayak, urang Madura, atau urang Papua ? Solidaritas mereka ini bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam perbuatan ! Mereka kan juga dididik dengan didaktik dan metodik yang sama dengan orang Minang ? Jadi mungkin ada 'faktor x' pada urang Minang, yang menyebabkan ketidakmampuan untuk hidup bersama itu demikian menonjol, dan kebersamaan itu demikian musykil untuk terwujud sebelum 'faktor x' itu dirapikan terlebih dahulu. Saya telah mencoba membolak balik masalah ini, ujung-ujungnya kembali juga ke sistem nilai dan struktur sosial yang selain bukan saja memang tidak dirancang untuk bersatu tetapi juga demikian resisten untuk bersatu. Saya sedang memikir-memikir faktor apa yang menyebabkan hal itu. Sudah ada sih sekedar hipotesa, tapi biar saya simpan saja dulu. Sekedar sebagai perbandingan, saya menemukan hal yang sama pada suku Kerala di India (tentang mereka ini silakan lihat keterangannya di internet; saya mengutipnya dalam buku yang saya tulis bersama dengan Ir Mohammad Zulfan Tadjoeddin MA).
Apa mungkin 'faktor x' ini diatasi ? Jelas mungkin, dan sudah mulai dirintis sejak tahun 1945, yaitu dalam format negara kesatuan Republik Indonesia, dengan dasar negara Pancasila. Kita sukar bersatu sebagai urang Minang, karena kita lebih merasa sebagai urang Solok, urang Sulik Aia, urang Pariaman, atau urang Payakumbuh, namun mau tidak mau kita harus merasa menjadi orang Indonesia yang diikat dan terikat oleh hukum hukum positif nasional. Kita malah baru merasa menjadi urang Minangkabau di antara demikian banyak -- 1,072 pada Sensus tahun 2000 -- etnik-etnik lainnya di Indonesia. Ringkasnya, kita harus menepuh 'jalan berbelok' ('detour') untuk menjadi urang Minangkabau, yaitu dengan melalui jalan menjadi urang Indonesia terlebih dahulu. Ini yang belum banyak di-'explore' oleh tokoh-tokoh Minang, dan yang saya coba untuk mendayagunakannya, kalau mungkin. Sekedar catatan, itu juga yang mungkin menyebabkan kita menjadi pendukung negara kesatuan yang gigih.
Sekian dahulu.
Wassalam,
Saafroedin Bahar.
Pak Saaf dan sanak palanta nah.
Kenapa orang minang sulit bersatu? Karena orang minang adalah lebih bangga sbg single fighter, dibanding team fighter. Jadi sikap ego lebih menguasai diri dibanding common goal. Kebanggan orang minang bila pribadi sukses, walau orang kampuangnyo susah. Mungkin disitu leadership orang minang lemah. Tokoh2 lama spt hatta, syahrir, agus salim, m natsir lebih memikirkan public welfare dibanding kepentingan pribadi. Tapi kini nilai2 moral sdh berubah , "ambo dulu sampai kanyang, baru urang lain". Tks, salam.
Kd Saaf. Dd ZSA, nakan A DJ, ZSA pak Doto dan sanak-sanak dipalanta
Tulisan Kd Saaf ko menarik untuk diurai atau diusai, dikaruak saabih-abih bangka, dikallia sampai kaurek, dijuluak sampai kapucuak ibarat manengok pohon bisa dicaliak, nan maa nan urek, batang, dahan dan rantiang.
Mungkin beko abih pamilu kd Saaf, tapi mano tahu alah ado juo nan punyo wakatu kiniko, mudah-han nanti sato sadonyo tarutamo ilmuwan UNAND dan ahli adat satiok nagari, nan dakek dan selalu mainjakkan kaki di ranag Minangkabau.
Diarokkan sadonyo mambarikan pandapek/konstribusi mengenai nan di kamukokan kd itu.
Masalah nan kd kamukokanko kito usai sampai 100 kali atau labia batimbang pauak kato di RN ko indak masalah do.
Saakitu dulu, minggu ko mungkin pikiran kito tatumpah untuak 9 April dimuko.
Wass,
Maturidi (L/75) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau
tuo tuo RN nan ambo hormati,
Ambo maraso iko terlalu berlebihan....to say urang minangkabau sulit bersatu...
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+...@googlegroups.com.
salam Pak Syaf sarato apak apak dan dunsanak dipalantasalam satu minangkabau setelah saya membaca isi surat yg Pak Syaf tulis itu memang ada kebenaran nya ,kenapa orang minang tidak dapat bersatu dalam berapa perkara termasuk dalam ormas karena urang minang lebih suka bersaing sesama sendiri di dalam ormas oleh karena kita masih lagi ber puak2 bakampung kampung dan badaerah daerah.saya adalah salah satu pendiri (pengasas) ormas di luar Indonesia sudah 15 tahun ormas ini didirikan bahkan ketum juga sudah silih berganti namun untuk menyatukan orang minang sampai saat ini belum tercapai juga berbagai cara dan formula yg sudah dilakasanakan untuk agar orang minang bersatu ....yah mungkin juga dalam palanta ini dapat memberikan kecerahan apa langkah dan ramuan untuk manjadikan orang minang bersatu ye kalau bisa urang minang bersatu pasti kita ada satu kekuatan untuk mencapai minang yang lebih suksessaya salah satu pendiri pengasas saya tidak punya cita cita untukn jadi KETUM ,tapi saya lebih suka mencari peminpin yg boleh menyatukan orang minang,namun sudah ada 5 orang ketum silih berganti tidak dapat juga bersatu bahkan perpecahan terus berlaku diantara kita masyarakat minang ini, mula mula dia bergabung bersama dalam satu ormas hanya untuk mencari permula selepas dapat permula dia akan buat pula persatuan akhir nya persatuan yg sama punya konsep lahir macam cendawan tumbuh.